E. Pendidikan Kesehatan
6. Tahapan Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
Manurung (2009) membagi tahapan pelaksanaan pendidikan kesehatan menjadi beberapa tahapan, yaitu:
a. Mengidentifikasi karakteristik peserta didik yang terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman dan pengetahuan tentang kesehatan, bahasa dan budaya, masalah kesehatan, dan tingkat kemampuan untuk menerima serta kebutuhan peserta didik. Hal ini bertujuan untuk menentukan metode, materi dan media yang cocok yang akan di berikan (Nursalam, 2008).
b. Menentukan tujuan dari pendidikan kesehatan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.
c. Membuat perencanaan isi, metode, dan teknik pendidikan kesehatan agara dapat tercapai tujuan umum dan tujuan khusus yang telah direncanakan.
d. Membuat rencana metode evaluasi yang sesuai untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendidikan kesehatan.
e. Mengevaluasi proses dan hasil dari pendidikan kesehatan.
F. Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia adakalanya berasal dari pengalaman dan dari pikiran. Pengetahuan yang bersumber dari pengalaman meliputi semua hal yang dialami baik oleh panca indera, intuisi, atau kata hati. Sedangkan, pengetahuan yang berasal dari pikiran yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses penalaran (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP UPI, 2007).
Pengetahuan mempunyai 6 (enam) tingkatan. Pertama, tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, mengingat kembali termasuk (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan atau rangsangan yang telah diterima. Cara untuk mengetahui bahwa seseorang dianggap tahu tentang apa yang dipelajari adalah mampu menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan mendatakan materi yang telah dipelajari. Kedua, memahami (comprehension), yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Seseorang dapat dianggap telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap materi yang telah dipelajari.
Ketiga, aplikasi (application), adalah sebuah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata. Aplikasi yang dimaksud adalah sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip, prosedur, dan sebagainya dalam konteks lain.
Keempat, analisis (analysis), merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. Kelima, sintesis (synthesis), menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya, dapat menyusun, merencanakan dan dapat meringkas, dan menyesuaikan terhadap suatu teori yang telah ada. Keenam, evaluasi (evaluation), evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek (Fitriani, 2011; Mubarak, 2007; Notoatmodjo, 2007).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan antara lain (Notoatmodjo, 2005 dan Mubarak, 2007).
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Pendidikan formal maupun pendidikan non formal, sistema pendidikan berjenjang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan melalui pola tertentu (Notoatmodjo, 2005).
2. Usia
Usia individu berkaitan erat dengan pengetahuan individu. Semakin bertambah usia seseorang maka akan semakin berkembang pula daya tangkap
dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Notoatmodjo, 2007).
3. Minat dan kreativitas
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu objek atau dalam melakukan suatu kegiatan (perbuatan), yang didasari oleh rasa tertarik, senang, yang muncul dalam diri bukan tekanan dari luar (Notoatmodjo, 2005). Adanya perasaan tertarik dan perasaansenang menimbulkan adanya minat, maka minat ini merupakan kondisi psikologis yang dapat mendorong (memotivasi) munculnya kreativitas.
Hurlock (1978) dalam Mataro (2012) menyatakan bahwa ada delapan pengertian menurut para ahli yang populer. Pertama, menekankan kreativitas sebagai pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda. Kedua, kretaivitass dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal. Ketiga, kreativitas mempunyai anggapan bahwa apa saja yang diciptakan selalu baru dan berbeda dari yang telah ada dan oleh karenanya unik. Keempat, memandang kreativitas sebagai proses mental yang unik, yang dilakukan semata-mata untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal. Kelima,
kreativitas sering dianggap sama dengan kecerdasan yang tinggi. Keenam,
ada anggapan bahwa kreativitas adalah suatu yang diperoleh atau diwariskan.
Ketujuh, kreativitas selalu dianggap sinonim dengan imajinasi dan fantasi.
Kedelapan, kreativitas adalah pencipta, bukan penurut. 4. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Teori determinan menganalisa yang
menyebabkan seseorang berperilaku tertentu karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, seseorang terhadap objek tersebut, dimana seseorang mendapatkan pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain (Notoatmodjo, 2005).
Chandra (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tingkat pengetahuan seseorang mengenai SADARI tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh status perkawinan seseorang, namun lebih dipengaruhi oleh paparan informasi yang diperolehnya.
5. Kebudayaan lingkungan sekitar
Lingkungan sosial budaya yang mempengaruhi pengetahuan seseorang dapat bersumber dari pandangan agama, kelompok etnis yang mempengaruhi proses memperoleh informasi atau pengetahuan khususnya dalam penerapan nilai-nilai keagamaan. Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang (Notoatmodjo, 2005).
6. Informasi
Informasi yang didapatkan dari media massa mempengaruhi fungsi kognitif dan afektif. Fungsi kognitif diantaranya berfungsi untuk menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, perluasan sistem, keyakinan masyarakat dan penegasan atau penjelasan nilai-nilai tertentu (Notoatmodjo, 2005).
G. Ingatan (memory)
Ingatan (memory) merupakan penyimpanan informasi sepanjang waktu. Ingatan adalah pusat bagi kehidupan mental dan pemrosesan informasi. Remaja perlu menyimpan informasi dan mengeluarkan kemabli informasi yang disimpannya agar berhasil belajar dan menalar. Dua sistem ingatan ini ialah ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang (Santrock, 2004).
Ingatan jangka pendek (short-term memory) adalah sistem ingatan berkapasitas terbatas, tempat informasi disimpan selama 30 detik, kecuali bila informasi tersebut diulang lagi, sehingga dapat disimpan lebih lama (Santrock, 2003; Djiwandono, 2006). Ingatan jangka panjang (long-term memory) adalah sistem ingatan yang relatif menetap, tempat menyimpan sejumlah besar informasi untuk jangka waktu lama (Santrock, 2004). Cara yang biasa dilakukan untuk menilai ingatan jangka pendek adalah dengan memberi sederetan hal untuk diingat, yang sering disebut sebagai tugas rentang ingatan (Fitzgerald, 1991, dalam Santrock, 2004).
Ingatan jangka panjang meningkat amat tajam selama masa kanak-kanak tengah dan akhir, dan cenderung terus meningkan selama masa remaja, meskipun hal ini tidak tercatat dengan baik oleh para peneliti (Santrock, 2004). Hal yang paling diketahui mengenai ingatan jangka panjang ini adalah bahwa hal ini tergantung pada kegiatan belajar yang dilakukan ketika mempelajari dan mengingat informasi (Siegler, 1988 dalam Santrock, 2004).