• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL KEGIATAN MAGANG DAN PEMBAHASAN

4.3 Proyek Perancangan Lanskap

4.3.2 Review Management Plan Hutan Diklat Jampang Tengah,

4.3.2.3 Tahapan Perancangan Review Management Plan

Kegiatan perancangan yang dilakukan pada lokasi proyek di Rumpin memiliki alir proses sama dengan alur tahapan kegiatan perancangan lasnkap di Hutan Diklat Jampang Tengah seperti yang digambarkan pada Gambar 30.

Gambar 31 Tahapan Perancangan Lanskap dalam Pengerjaan Proyek Hutan Diklat Rumpin

a. Tahap Persiapan

Hutan Diklat Rumpin terletak di Desa Rumpin, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Secara geografis terletak antara 106º38’50” Bujur Timur dan 6º26’30” sampai dengan 6º26’50” Lintang Selatan dengan ketinggian ±80 m sampai 100 m dpl. Kawasan hutan diklat berbatasan sebelah Utara dengan Kampung Pagutan, sebelah Selatan dengan Kampung Lembur Sawah, sebelah barat dengan Kampung Janala dan sebelah Timur dengan Kampung Lio. Total luas kawasan hutan adalah 66,80 Ha terdiri dari :

x Blok I : seluas 10 ha dijadikan areal pemakaman rimbawan oleh Kementerian kehuanan dan sisanya digarap oleh masyarakat. Tanamannya didominasi tanaman singkong. Pada blok ini terdapat plot konservasi tanah dan air (teras

Persiapan Inventarisasi dan analisis Desain konseptual

Desain konsep Akhir

bangku 2 Ha) dan saat ini sudah tidak terpelihara. Pertimbangan dipilihnya lokasi ini sebagai demplot konservasi tanah dan air (KTA) karena akses jalan dekat, sudah ada penggarap dan kemiringan lahannya sesuai. Kondisi lahan saat memerlukan penanganan khusus, kemudian kepada penggarap dilakukan pembinaan atau perlu fasilitasi berupa Pemberdayaan masyarakat dengan contoh kegiatan antara lainnya : beternak dan budidaya rumput gajah. Karakteristik wilayah dengan topografi, sebagian bergelombang dengan kondisi awal bekas perkebunan karet yang tidak produktif, sebagain lahan digarap oleh masyarakat dan sebagian di dominasi oleh alang-alang.

Demplot Konservasi Tanah dan Air (KTA) dan demplot perlindungan merupakan potensi yang dimiliki blok ini. Alasan dijadikannya demplot perlindungan adalah sesuai dengan kondisi lapangannya yang curam dan bergelombang. Demplot KTA sebenarnya sudah ada tetapi tidak terpelihara sehingga untuk kedepannya ini dapat di lakukan rehabilitasi kembali.

x Blok II : seluas 2,90 Ha dengan kondisi saat ini masih didominasi oleh alang-alang dan sebagian kecil aeral ditanami dengan jenis tanaman Gmelina, johar, puspa manglid, shorea, sungkai, rasamala, mahoni, merbau, pulaim Hopea sp dengan diameter bervariasi antara 5 -15 cm., tanaman shorea dan Hopea sp lebih dominan.(20 % yang ad tanaman). perlu penananan pada aeral yang masih kosong (alang-alang ). Blok II memiliki potensi untuk dijadikan blok /zona pemanfaatan wisata alam, pendidikan konservasi/lingkungan karena sudah ada tanaman dengan jenis, akses ke jalan utama dekat, dan ada sumber air

x Blok III : seluas 42,90 Ha sudah ditanami dengan Acasia mangium, Eucalyptus, dan Acasia oocarpa dan sebagian lainnya ditanami buah-buahan. Tanaman ini dimulai tahun 1998 dan saat telah membentuk ekosistem baru yang ditandai dengan munculnya berbgai jenis burung, dan satwa lain seperti biawak, musang, monyet, dan terbentuk iklim mikro yang ditandai dengan udara yang segar. Jadi fungsi ekosistem di Blok III sebagai habitat flora dan fauna. Hal ini dapat difungsikan sebagai tempat kegiatan pendidikan lingkungan, wisata pendidikan dan sarana praktek bagi peserta diklat. tetap

Blok II Blok I

Blok III

Blok IV

dipertahankan peruntukannya, untuk kantor, perumahan pegawai, dan lain-lainnya.

x Blok IV : seluas 10,30 Ha memiliki kerjasama antara BDK dengan Dinas Kehutanan Kab Bogor tahun 2005 dimana lahan tsb dijadikan areal GERHAN. Jenis yang ditanam adalah mahoni, sengon, gmelina, dan buah-buahan seperti rambutan, sukun, papaya. Kondisi tanaman saat ini diameter antara 5 -10 cm, dan masih digarap oleh para penggerap. Permasalahan yang ada pada blok IV yaitu : pola kerja samanya harus ditinjau ulang sesuai dengan fungsi kawasan Hutan Diklat dijadikan demplot percontohan agroforestry karena ada lahan yang telah digarap masyarakat dengan sistem tumpang sari dan dengan jenis tanaman yang dapat ditentukan kemudian. Lahan yang masih ditumbuhi alang-alang dan dijadikan demplot sumber benih dengan jenis tanaman : akasia, sengon, jati dan jabon dan demplot hutan rakyat.

Gambar 32 Peta Kondisi Eksisting Hutan Diklat Rumpin Sumber : PT IdeA (2011)

Vegetasi dan Satwa

Jenis flora yang ada dihutan Diklat Rumpin antara lain adalah A. mangium, A. carpa, Eucalyptus, Albizia, karet, benuang, jati, meranti, mahoni, kenari, pulai, puspa, manglid, shorea, sungkai, rasamala, kayu merbau, gmelina, ketapang, beringin, ki putri, kemiri, ki hujan, salam, mindi, pinus, secang, tanaman buah-buahan, tanaman obat-obatan, dan bambu. Data flora di Blok III secara rinci sebagai berikut : 1) Blok Acasia Mangium tahun tanam 1998 dengan diameter pohon 90 cm, 90 cm, 110 cm, 68 cm, 88 cm, 88 cm, 55 cm, 88 cm, 97 cm dan 110 cm, 2) Areal Arboretum dengan jenis tanaman dan diameter sebagai berikut meranti 85 cm, gmelina 115 cm, mahoni 90 cm, kenari 21 cm, 3) Blok Eucalyptus, tahun tanam 1999 dengan diameter : 109 cm, 90 cm, 36 cm, 71 cm, 86 cm, 56 cm, 65 cm, 52 cm, 62cm, 100 cm, 4) Blok Acasia Aucarpa dengan diameter : 141 cm, 123 cm, 82 cm, 65 cm, 82 cm, 80 cm, 74 cm, 105 cm 80 cm dan 52 cm, 5) Blok Sengon (tanaman sudah mati dan diganti dengan rumput gajah, pisang) dan 6) Blok Sengon Buto dengan diameter 265 cm dan 170 cm.

Jenis fauna yang dapat ditemukan adalah : kelelawar, biawak, burung (3 jenis), kupu-kupu (12 jenis), kelinci hutan, puyuh, ular (4 jenis), trenggiling, musang, dan kera.

Gambar 33 Persebaran Satwa pada Kawasan Hutan Pendidikan Rumpin Sumber : PT IdeA (2011)

Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Fergusson, kawasan hutan Diklat Rumpin termasuk ke dalam tipe iklim A ( Q > 16 %), rata-rata bulan basah pertahun 10 bulan dengan curah hujan tahunan di atas 2.500 mm. suhu udara antara 25,4 ºC – 27,1ºC dengan rata-rata kelembaban udara 81,3%

Topografi

Topografi kawasan sebagian besar landai dengan kemiringan lereng antara 0 % sampai dengan 24 %. Areal Blok I di beberapa tempat terutama bagian Utara dan bagian Barat berbatasan langsung dengan tebing dan tebing sungai, sedangkan bagian Selatan terdapat tebing curam akibat penggalian pasir.

Gambar 34 Kontur pada Kawasan Hutan Pendidikan Rumpin Sumber : PT IdeA (2011)

Hidrologi

Hutan diklat di sebelah Timur dan Utara sungai Cisadane, sebelah selatan Barat sungai Cipinang dan sungarang Cikarang yang berbatasan langsung dengan blok IV dan sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar terutama pada musim kemarau. Selain itu ada 500 sumur pompa, 70 sumur galian dan 5 mata air. Pada saat musim hujan masyaakat menggunakan sumur pompa dan sumur galian

sedangkan pada musim kemarau sebagai besar masyarakat menggunakan sungai untuk kebutuhan MCK. Sedangkan kebutuhan air bersih/minum dipenuhi dari air sumur. Hutan Diklat Rumpin dalam perspektif pembangunan daerah berpotensi sebagai :

1. Hutan kota (ruang terbuka hijau) 2. Rekreasi/ wisata pendidikan

3. Pusat Pendidikan Konservasi/ Pendidikan Lingkungan 4. Pusat Penelitian dan pengembangan Teknologi Kehutanan 5. Tempat Olah raga

6. Peningkatan ekonomi masyarakat lokal, sektor jasa (transportasi, penginapan, makanan, dan lain-lainnya).

Permasalahan dan isu stategis terkait kawasan antara lain :

1. Belum sesuainya luas berdasarkan SK Menhut dengan hasil pengukuran 2. Masih ada lahan yang digarap masyarakat dan belum ada pembaharuan

kontrak

3. Masih banyak lahan kosong yang belum di kelola secara optimal 4. Masih ada lahan hutan diklat seluas 1,00 Ha ada bangunan Puskesmas 5. Sekitar 0,50 ha di Blok IV, ada bangunan Puskesmas dan sekolah 6. Masih ada masyarakat yang menggarap lahan di Blok I dan Blok IV

Berdasarkan potensi kawasan maka beberapa kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain membuat demplot-demplot sebagai berikut :

1. Demplot Persemaian

Demplot persemaian merupakan salah satu demplot yang berlokasi di blok III. Luas demplot adalah 0,50 Ha demplot ini akan tetap dipertahankan. Jenis-jenis tanaman persemaian yang ada adalah : mahoni, sengon, kemiri, ki hujan, nyamplung, myopsis, beringin, mindi, salam, kiputri, pinus, dan tanaman buah-buahan.

2. Demplot Tanaman Obat

Demplot tanaman obat terletak pada Blok III yang sudah ada, tetap dipertahankan dan lebih dikembangkan lagi. Luas demplot : 0,50 Ha. Jenis tanaman yang telah ada adalah kumis kucing, morinda, jahe. Demplot ini akan

dikembangkan menjadi model pemanfaatan tanaman obat. Pengembangan demplot ini kedepan diarahkan untuk menyiapkan sumber bahan baku obat yang dibutuhkan oleh masyarakat. Rencana jenis yang akan dikembangkan 10 jenis 3. Demplot Sumber Benih

Sumber benih adalah suatu tegakan hutan, baik berupa hutan alam maupun hutan tanaman yang ditunjuk atau dibangun khusus untuk dikelola guna memproduksi benih. Kelas sumber benih yang akan dikelola dan dikembangkan pada Hutan Diklat Rumpin disesuaikan dengan Standar Nasional Indonesia antara lain adalah : Tegakan Benih Teridentifikasi untuk bebeberapa jenis, Tegakan Benih Terseleksi dan Areal Produksi Benih. Demplot ini sudah ada di Blok III. Jenis yang dapat dijadikan sumber benih antara lain, Jabon, Auriculi carpa, akasia, melina, eucaliptus, dan kayu afrika.

4. Petak Contoh Hutan Rakyat

Demplot hutan rakyat akan dikembangkan di blok IV dengan alasan penggarap/kelompok tani di blok ini aktif , mudah di jangkau karena dekat dengan jalan kabupaten. Seluas 3 ha.

5. Model Silvopastural

Model silvopastural (berternak di kawasan hutan) dapat dikembangkan di Blok I. Pengembangan model ini sejalan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya dalam upaya peningkatan pendapatan dan pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar hutan. Jenis ternak yang akan dikembangkan adalah ternak domba atau kambing.

6. Demplot Bambu

Demplot tanaman bambu dapat dibangun di Blok IV karena disini tersedia banyak bambu dan merupakan batas dengan lahan penduduk. Luas demplot bambu yang dapat dibangun sekitar 1,00 Ha. Demplot tanaman bambu ini dikembangkan dengan tujuan melestarikan tanaman bambu yang semakin langka. Demplot ini kedepannya akan dikembangkan menjadi areal sumber benih bambu serta lokasi untuk penelitian dan pengembangan bambu.

7. Arboretum

Arboretum merupakan salah satu demplot yang berada di Blok III, dengan luas 0,50 Ha. Jenis-jenis tanaman yang sekarang terdapat pada arboretum antara

lain adalah 35 jenis antara lain jenis-jenis meranti, dahu, gmelina, buni, mahoni, kenari, hopea, cendana, jati, eboni, kayu putih, kiputri, bintaro, dan buah-buahan. Untuk kedepannya akan ditambahkan lagi seluas 1,00 ha dengan jenis eksotik. Lokasi Arboretum dikembangkan menjadi lokasi sarana pendidikan lingkungan. Pada lokasi ini nantinya dapat dibangun sarana out bound, koleksi tanaman langka dari jenis exotic species dan indiginous species dan sebagai tempat kegiatan pendidikan lingkungan atau pendidikan konservasi.

8. Pengembangan wisata alam/wisata pendidikan

Pengembangan model wisata alam /wisata pendidikan akan dikembangkan pada Blok II karena lokasi ini dengan luas 2,90 Ha mempunyai potensi untuk dibangun berbagai atraksi wisata. Selain lokasi dekat dengan jalan, juga mempunyai sumber air. Pengembangan model wisata alam /wisata pendidikan ini sejalan dengan pengembangan dan pengelolaan sarana prasarana lainnya seperti sarana dan fasilitas out bound dan camping ground dan fasilitas yang menunjang kegiatan wisata alam.

b. Tahap Desain konseptual

Pengembangan zona kawasan hutan Diklat Rumpin memfokuskan pada konsep rekreasi alam dan pendidikan pembelajaran mengenai ekosistem hutan dan tanaman-tanaman kehutanan, mulai dari keterkaitan ruang di dalam kawasan, vegetasi, sirkulasi bangunan dan alam, serta manusia sebagai penggunanya. Kawasan Hutan Diklat Rumpin yang terdiri dari beberapa area yang terpisah memerlukan kesatuan tema sehingga dapat memberikan karakter setiap area yang merupakan kawasan Hutan Diklat Rumpin. Oleh karena itu, potensi tanaman bambu-bambu yang tumbuh subur di sekitar kawasan dapat digunakan sebagai material utama untuk bangunan dan signage pada kawasan agar tercipta kesatuan tema dan karakter kawasan.

(1) Conceptual Landscape Plan

Ruang dalam kawasan Hutan Diklat Rumpin sebagai hutan pendidikan dan pelatihan akan dikembangkan berdasarkan prinsip pemanfaatan secara lestari dan ditentukan berdasarkan pendekatan integrated enviromental mapping. Pendekatan ini tertuang dalam desain tapak. Keseluruhan rencana tapak memiliki sistem

organization space yang kuat sehingga memiliki kesatuan tema dalam ruang yang ada dalam kawasan. Tema “Bambu” diangkat untuk pengembangan Hutan Diklat Rumpin sebagai ciri kawasan tersebut karena dominansi kawasan ditumbuhi ragam tanaman bambu. menjadi salah satu hutan berwawasan pendidikan hutan dan lingkungan di kawasan urban melalui kegiatan wisata edukasi berupa pelatihan dan pendidikan yang akan dikembangkan bagi pengunjung dan pengelola.

Konsep Ruang

Berdasarkan potensi yang terdapat pada kawasan serta konsep pengembangan kawasan sebagai area rekreasi alam dan pendidikan pembelajaran mengenai ekosistem hutan, maka masing-masing area dalam ruang terpisah pada kawasan ini akan ditetapkan sebagai simpul-simpul pelayanan antar area untuk mendapatkan struktur ruang.

Area-Area tersebut adalah : A. Area Konservasi Hutan B. Area Utama

C. Area Pemanfaatan Masyarakat lokal

Gambar 35 Konsep Ruang Hutan Diklat Rumpin Sumber : PT IdeA (2011)

x Area Konservasi Hutan

Area ini adalah area pada Blok I dan Blok II Hutan Diklat Rumpin yang merupakan area perlindungan serta area konservasi tanah dan air.

x Area Utama

Area utama kawasan Hutan Diklat Rumpin adalah Blok III yang merupakan area perkantoran, perumahan pegawai, area praktek pendidikan dan latihan

B A

kehutanan, serta area rekreasi alam, penangkapan kupu kupu, arboretum, kebun campuran, kawasan rehat, kebun mpts, kebun karet, kawasan pesemaian dan lain-lainnya. Pada area ini terdapat pintu masuk utama kawasan Hutan Diklat Rumpin.

x Area Pemanfaatan Masyarakat lokal

Area ini adalah area Blok IV merupakan kawasan Hutan Diklat Rumpin yang dapat dimanfaatkan masyarakat sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat. Untuk itu, area ini dialokasikan sebagai area model agrosilvopasture yaitu area hutan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan, sehingga masyarakat dapat beternak dan bertani pada kawasan ini.

Konsep Fasilitas

Fasilitas yang akan dikembangkan dalam kawasan akan mengusung material dari bambu yang mencerminkan tema yang diajukan. Material tersebut diusung karena memanfaatkan potensi kawasan yang memiliki dominansi vegetasi bambu. Salah satu aplikasi material bambu dalam fasilitas kawasan adalah pada rangka interpretation board dan hand railing sebagai pelengkap tangga di beberapa area yang curam sebagai pengaman untuk pejalan kaki. Aplikasi tersebut dapat terlihat pada gambar 35. Ruang, aktivitas, dan fasilitas akan dikembangkan dalam tapak memiliki konektivitas. Hubungan antara ruang, aktivitas, dan fasilitas dalam tapak disajikan pada tabel 12.

Gambar 36 Material Utama bambu untuk Fasilitas seperti Hand Rail dan Papan Informasi

Tabel 12 Hubungan Ruang, Aktivitas, dan Fasilitas Hutan Diklat Jampang Tengah

Sumber : PT IdeA (2011 Konsep Sirkulasi

Pintu gerbang atau akses masuk terletak pada Blok III yang berperan sebagai welcome area. Akses ini dibuat sehingga setiap pengunjung dapat diawasi dari ruang admministrasi dan pengawas pada Blok III. Jalan utama hanya dapat diakses oleh kendaraan bermotor, sedanngkan jalan setapak hanya dapat dilalui oleh manusia karena hanya memiliki lebar jalan 1,5 m.

Area

Pengembangan Lingkup Area

Kegiatan yang

Dikembangkan Fasilitas Area konservasi

hutan

Area pada Blok I dan Blok II

ƒ Penanaman tanaman bambu untuk demplot bambu pada blok I

ƒ Penggarapan tanah kembali pada area konservasi tanah dan air pada blok I dan II

ƒ Penambahan penanaman pohon jati pada blok II

ƒ Pengawasan dan pengelolaan untuk kawasan blok I dan blok II

ƒ Kantor pengelola kawasan

ƒ Gerbang dan pembatas kawasan

ƒ Jalan setapak dalam kawasan

ƒ Signage

Area utama Area pada Blok III ƒ Praktek pendidikan dan pelatihan kehutanan

ƒ Camping dan outbond

ƒ Penelitian untuk para peneliti

ƒ Pengawasan dan

pengelolaan Hutan Diklat

ƒ Penangkaran kupu-kupu

ƒ Persemaian

ƒ Pengelolaan dan produksi benih untuk tanaman tegakan hutan

ƒ Penanaman tanaman obat untuk pengembangan demplot tanaman obat

ƒ Rest area

ƒ Kantor pengelola kawasan

ƒ Gerbang masuk utama dan pembatas kawasan

ƒ Jalan setapak dalam kawasan

ƒ Guest house

ƒ Shelter dan gazebo

ƒ Rumah penangkaran kupu-kupu ƒ Signage ƒ Sarana outbond Area pemanfaatan masyarakat lokal

Area pada Blok IV ƒ Penggarapan lahan pertanian oleh masyarakat lokal ƒ Kegiatan peternakan ƒ Tempat tinggal masyarakat sekitar ƒ Kantor pengelola kawasan ƒ Gerbang dan pembatas kawasan

ƒ Jalan setapak dalam kawasan

ƒ Gudang alat pertanian dan peternakan

ƒ Guest house

ƒ Kandang unutk hewan ternak

Jalan Utama

Jalan Setapak

Gambar 37 Konsep Sirkulasi Hutan Diklat Rumpin Sumber : PT IdeA (2011)