• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Taman Wisata Alam Angke Kapuk merupakan kawasan pelestarian alam yang berpusat pada pengembangan ecotourism, yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam dan sarana edukasi, terletak di wilayah Kamal muara pantai indah kapuk Jakarta Utara dengan luas area Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk seluas 99.82 Ha.

Berikut ini sejarah singkat penetapan kawasan Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta:

1) Penetapan Kelompok Hutan Angke Kapuk sebagai kawasan hutan berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 5 Tanggal 11 Juli 1928, Directeur van Landbouw an Nijverheid tanggal 19 November 1931, Berita Acara Tata Batas Tanggal 10 Januari 1934 yang disyahkan tanggal 5 Maret 1934, dan Keputusan Menteri Pertanian No. 161/Kpts/Um/6/1977 tanggal 10 Juni 1977. 2) Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 097/Kpts-II/1988

tanggal 29 Februari 1988, telah dilepaskan sebagian kawasan hutan Angke Kapuk yang terletak di wilayah DKI Jakarta seluas 827,18 Ha kepada PT.Mandara Pemai, dan tetap mempertahankan kawasan hutan seluas 335,50 Ha.Penataan batas kawasan hutan Angke Kapuk dengan Berita Acara Tata Batas tanggal 25 Juli 1994 oleh Panitia Tata Batas Hutan Wilayah Jakarta Utara yang diangkat sesuai Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 924 tahun 1989, dengan luas 327,70 Ha.

3) Penetapan kembali kawasan hutan Angke Kapuk seluas 327,70 Ha sebagai kawasan hutan tetap dengan fungsi sebagai Hutan lindung (seluas 44,76 Ha), Hutan wisata (seluas 99,2 Ha), Cagar Alam (seluas 25,02 Ha) serta hutan dengan tujuan istimewa, sebagai : kebun pembibitan (seluas 10,51 Ha), transmisi PLN (seluas 23,70 Ha) Cengkareng Drain (seluas 28,39 Ha) serta Jalan tol dan jalur hijau (seluas 95, 50 Ha)4

3

Ibid.

4

Direktorat pemanfaatan jasa lingkungan hutan mangrove, Ditjen. Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015, (http://ekowisata.org/angke-kapuk-alternatif-wisata-alam-warga-jakarta-dan-sekitarnya).

10

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan kawasan pelestarian alam dengan tipe lahan basah yang dominasi vegetasi utama mangrove. Sebelum menjadi kawasan Taman Wisata Alam, dahulunya merupakan tambak kemudian direhabilitasi tanaman mangrove 40% tindakan, pelestarian dan penanaman kembali hutan mangrove.

Jakarta sangat membutuhkan adanya kawasan hutan mangrove, hal ini karena fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi pesisir pantai ibukota Indonesia, dalam mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan dan juga berperan dalam meredam bencana banjir. Hal ini dikarenakan kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi tanah yang tergenang dan kadar garam yang tinggi. Disamping berguna sebagai pelindung daerah pesisir, kawasan hutan mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk juga memiliki manfaat bagi kegiatan pembelajaran yakni sebagai pengenalan bagi ekosistem hutan mangrove kepada para siswa.

1. Hutan Mangrove

Terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul kata “Mangrove”.

Macnae menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa portugis mangue dan bahasa Inggis grove. Sementara Tomlinson dan Wightman mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.5

Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan, Jawa Barat (1.700 ha). Sekitar 1.000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan, Cilacap yaitu 8.957 hektar.

Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis

5

Yus Rusila Noor, dkk., Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia,

pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate mangrove).6

2. Flora Mangrove

Kawasan samudera India bagian Utara dan Pasifik barat daya, memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia merupakan tempat tumbuhnya beranekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Dari 50 jenis mangrove yang ada di kawasan Samudra Hindia bagian utara/Pasifik barat laut, setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. Dari banyaknya jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia.7

Berbagai jenis tumbuhan mangrove yang banyak tumbuh di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, antara lain: Api-Api (Avecennia marina), Bidara (Sonneratia caseolaris), dan Bakau (Rhizopora mucronata & Rhizopora stylosa).8

3. Fauna Mangrove

Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata, reptilia dan burung. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan, mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Bagi berbagai jenis ikan dan udang, perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak.

6

Ibid.,h.2. 7

Ibid.,h.9. 8

Direktorat pemanfaatan jasa lingkungan hutan mangrove, Ditjen. Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015, (http://ekowisata.org/angke-kapuk-alternatif-wisata-alam-warga-jakarta-dan-sekitarnya).

12

4. Manfaat Mangrove

Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secra langsung maupun tidak langsung, diantaranya : kayu bakar, bahan bangunan, keperluan rumah tangga, kertas, kulit, obat-obatan dan perikanan.9

5. Fungsi Mangrove

Hutan mangrove memiliki banyak fungsi bagi kehidupan sekitar, antara lain:

a. Fungsi Ekologis

Fungsi ekologis hutan mangrove adalah melindungi dari banjir, menjaga garis pantai agar tetap stabil dengan cara mengurangi erosi pantai dengan cara mengikat endapan yang dibawa oleh sungai kepantai. Seringkali endapan dari darat ini mengandung bahan berbahaya dalam jumlah besar seperti sisa-sisa pupuk dan pestisida dari pertanian atau logam berat dari kegiatan pertambangan dengan adanya hutan mangrove, dapat menghentikan kontaminasi ini sebelum masuk kelaut dan dapat mengubahnya menjadi zat yang tidak berbahaya melalui proses biologi, kimia dan fisika.10 Selain itu masih terdapat fungsi ekologis dari hutan mangrove yakni mampu mempertahankan pulau-pulau agar tidak tersapu ombak dan juga sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau masuknya air laut kedalam lapisan air tawar didaratan.

b. Fungsi Biologis

Hutan mangrove termasuk salah satu ekosistem paling produktif dibumi. Meskipun hutan mangrove hanya menyelimuti sekitar 6,4% permukaan bumi, namun mampu menyumbang 24% dari produktivitas global. Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove

9

Yus Rusila Noor, dkk.,op. cit., h.17. 10

Direktorat pemanfaatan jasa lingkungan hutan mangrove, Ditjen. Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Profil Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, 2015, (http://ekowisata.org/angke-kapuk-alternatif-wisata-alam-warga-jakarta-dan-sekitarnya).

menyerap karbon dalam jumlah besar, lalu mengubahnya menjadi makanan bagi tumbuhan dan hewan. Sehingga hutan mangrove menjadi tempat tinggal alami bagi berbagai jenis biota darat dan biota laut.11

c. Fungsi Ekonomis

Fungsi ekologis dari hutan mangrove berkaitan dengan pemanfaatan potensi hutan mangrove yang dapat memberikan nilai ekonomi. Fungsi ekonomis hutan mangrove antara lain: penghasil kayu dan penghasil bahan baku industri.

C. Definisi Sumber Belajar 1. Definisi Sumber

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sumber berarti “Tempat keluar

(air atau zat cair), Asal”12. Sumber merupakan suatu usaha dalam mencari dan menemukan sesuatu yang dapat dipercaya .

2. Definisi Belajar

Belajar adalah suatu proses yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Salah satu ciri bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan keterampilan atau sikapnya.13

Belajar menurut bahasa adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut istilah para pakar adalah sebagai berikut:

1. Slameto mengungkapkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

11

Martin A. Keeley, Hutan Mangrove yang Menakjubkan: Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Kurikulum, dari Marvelous mangrove in the cayman islands: a curicullum based teacher guide, Terj. T. Lukmanul Hakim, (Yogyakarta: Mangrove Action Project-Indonesia, 2007), h.23

12

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa,

(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), Edisi keempat, h.1353. 13

14

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya14

2. Robert M. Gagne, mengemukakan bahwa Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth. Menurutnya bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karea proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oelh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.15

3. Skinner mengartikan “belajar sebagai suatu proses adaptasi atau

penyesuaian tigkah laku yang berlangsung secara progresif”.16

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi didalam diri individu sebagai hasil dari adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Belajar bukanlah sekedar mencari dan mengumpulkan ilmu pengetahuan, tetapi sebuah proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan. Namun, tidak semua perubahan termasuk dalam kategori belajar, seperti perubahan fisik. Dalam proses belajar yang sering ditekankan adalah proses bukan hasil, sebesar apapun, sebaik apapun hasil belajar, jika bukan dari proses belajar dengan usaha sendiri maka belum bisa dikatakan belajar.

3. Ciriciri Belajar

Telah dikemukakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi di dalam diri individu sebagai hasil dari adanya interaksi individu dengan lingkungannya, secara garis besar belajar mempunyai ciri-ciri antara lain:

1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif) yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).

14

Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang mempegaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta), h.2 15

Nurochim, Perencanaan Pembelajaran Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h.6-7.

16

Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam,(Bandung: Refika Aditama, 2007), Cet.1, h.5.

2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.

3. Perubahan itu terjadi tidak begitu saja melainkan dengan usaha, oleh karenannya yang ditekankan dalam belajar adalah proses bukan hasil. 4. Perubahan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh

pertumbuhan fisik/kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.17

Terdapat empat pilar dalam kegiatan belajar, menurut UNESCO: 1. Learning to know, pada Learning to know ini terkandung makna

bagaimana belajar, dalam hal ini ada tiga aspek: apa yang dipelajari, bagaimana caranya dan siapa yang belajar.

2. Learning to do, membantu seseorang dalam mempersiapkan diri untuk bekerja atau mencari nafkah.

3. Learning to live together, belajar ini ditekankan seseorang/pihak yang belajar mampu hidup bersama, dengan memahami orang lain, sejarahnya, budayanya, dan mampu berinteraksi dengan orang lain secara harmonis.

4. Learning to be, pengembangan potensi insani secara maksimal.18 4. Definisi Sumber Belajar

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar sesorang.19

Dalam pendidikan di masa lalu, guru merupakan satu-satunya sumber belajar bagi anak didik. Sehingga kegiatan pendidikan cenderung masih tradisional. Perangkat teknologi penyebarannya masih sangat terbatas dan belum memasuki dunia pendidikan. tetapi lain halnya sekarang, perangkat tehnologi sudah ada dimana-mana.20

17

Nurochim,op.cit., h. 7-8. 18

Ibid., h. 17. 19

Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain,Srategi Belajar Mengajar,(Jakarta: Rineka Cipta,2010), cet.4, h. 122-123.

20

16

Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana, di sekolah, di halaman, di pusat kota, di perdesaan, dan sebagainya. Dengan adanya sumber belajar inilah proses belajar dapat berjalan sehingga kita mendapatkan pengaruh dari yang tidak tahu menjdai tahu, dari yang belum mengerti menjadi mengerti.

Mudhoffir menyebutkan bahwa sumber belajar pada hakekatnya merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, tehnik, dan lingkungan. Yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian sumber belajar dapat dipahami sebagai segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang.

Pemahaman di atas sejalan dengan pernyataan Edgar Dale bahwa sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar. Maksudnya ada perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai tujuan yang telah di tentukan.21

Berdasarkan pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa sumber belajar adalah segala macam sumber baik itu guru, dosen, orang tua, tokoh masyarakat, perpustakaan, laboraturium, buku, koran dan sebaginya yang dapat digunakan dan dijadikan tempat bertanya untuk mendapatkan atau mencari informasi tentang berbagai pengetahuan yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Sumber belajar dapat kita temui di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Di dalam lingkungan sekolah kita bisa temui sumber belajar dari guru, teman sekolah, alat pelajaran (buku pelajaran, peta, globe), perpustakaan, laboraturium. Sedangkan, di luar lingkungan sekolah kita dapat memanfaatkan wisata edukatif, museum, televisi, orang tua, tokoh masyarakat, lingkungan disekitar rumah sebagai sumber belajar.

21

Yudhi Munadi. Media pembelajaran sebuah pendekatan baru, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008 ), h 37-38.

5. Ciri-ciri Sumber Belajar

Seperti yang telah dikemukakan bahwa sumber belajar dapat kita temukan baik didalam maupun diluar lingkungan sekolah. Secara garis besar sumber belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar mengajar, sehingga tujuan instruksional dapat tercapai secara maksimal.

2. Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai instruktusional edukatif yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku yang sesuai dengan tujuan yang ada.

3. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. tidak terorganisasi dan tidak sistematis baik dalam bentuk maupun isi.

b. tidak mempunyai tujuan instruksional yang eksplisit.

c. hanya dipergunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu atau secara insidental.

d. dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan instruksional.

4. Sumber belajar dirancang (resources by designed), mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media.22

6. Macam-macam sumber belajar

AECT (Assosiation For Education Communication and Technology) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi enam, yaitu:

1. Pesan (messages), yaitu informasi yang ditransmisikan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data.

2. Orang (people), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Dalam kelompok ini misalnya guru, dosen, tokoh masyarakat dan sebagainya

3. Bahan (materials), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri. Misalnya transparansi, slide, film, film strip, audio, video, buku, mosul, majalah, bahan instruksional terpogram dan lain-lain.

4. Alat (decives), yaitu perangkat kelas yang digunakan untuk menyimpan pesan yang tersimpan dalam bahan. Seperti proyektor slide, overhead, video tape, pesawat radio, pesawat televisi dan lain-lain.

5. Teknik (techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan.

22

Ahmad Rohani,Media Instruktusional Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet.1, h.104.

18

6. Lingkungan (setting), yaitu situasi sekitar di mana pesan disampaikan, lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, kampus, perpustakaan, labotarium, studio, auditorium, maseum, taman) maupun lingkungan non fisik (suasana belajar dan lain-lain).23

Meskipun keenam sumber belajar itu dipisah-pisahkan, namun dalam kenyataannya sumber belajar tersebut satu sama lain saling berhubungan. Misalnya ketika seorang guru menjelaskan mengenai hutan mangrove, paling tidak ada lima jenis sumber yang digunakan. Yakni, Pesan: pengetahuan atau informasi yang akan di berikan kepada siswa, Orang: adanya guru sebagai sumber belajar yang memberikan penjelasan dan informasi mengenai hutan mangrove, Bahan: penggunaan buku yang relevan dan perangkat lunak misalnya ketika penyampaian informasi mengenai hutan mangrove memberikan buku bacaan atau gambar-gambar yang berkaitan tentang hutan mangrove. Alat: yakni perangkat keras yang digunakan untuk menampilkan lembaran-lembaran slide yang digunakan guru. Lingungan: tempat atau kawasan yang dapat membantu memberikan informasi atau pengetahuan mengenai hutan mangrove tersebut.

Selain macam-macam sumber belajar diatas, Sumber belajar menurut AECT (Assosiation For Education Communication and Technology) dibedakan menjadi dua,24yakni:

1. Sumber belajar yang dirancang

Sumber belajar yang memang sudah dirancang khusus untuk memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses pembelajaran, seperti laboraturium, perpustakaan.

2. Sumber belajar yang dimanfaatkan

Sumber belajar yang tidak dirancang, namun keberadaannya dapat dengan mudah ditemukan, seperti surat kabar, televisi, pasar, pabrik dan lain-lain.

23

Ibid., h.108-109. 24

Kedua macam sumber belajar tersebut sama-sama efektif dalam kegiatan pembelajaran, bergantung pada cara menanfaatkannya.

7. Manfaat Sumber Belajar

Manfaat yang bisa didapatkan dengan adanya sumber belajar, antara lain:

1. Dapat membantu guru dalam menyampaikan materi ajar yang tidak mungkin diadakan atau dilihat secara langsung.

2. Memberikan pengalaman yang konkrit dan langsung kepada siswa sehingga mempermudah siswa dalam memahami pengetahuan di bidang ilmu yang dipelajarinya (dengan membawa siswa ke objek wisata edukatif),

3. Membangkitkan minat belajar, motivasi dan merangsang siswa untuk aktif dalam mengembangkan pikirannya melalui pemahaman dari sumber belajar tersebut sehingga memicu timbulnya rasa ingin tahu siswa yang kuat.

4. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa

Dengan penggunaan media/sumber belajar selain membuat proses pembelajaran lebih efisien juga mambantu siswa menyerap materi pembelajaran. karena apabila hanya mendengarkan informasi dari guru siswa mungkin kurang memahami pelajaran dengan baik, namun bila diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan, atau mengalami sendiri melalui sumber belajar maka pemahaman siswa pasti akan meningkat.25

Terdapat dua cara memanfaatkan sumber belajar, pertama dengan membawa sumber belajar ke dalam kelas, kedua membawa kelas ke lapangan dimana sumber belajar itu berada, seperti dengan melakukan kunjungan atau karyawisata ke tempat yang dapat dijadikan sumber belajar sehingga dapat memberikan susasana belajar yang baru.26 Dengan

25

Etin Solihatin, Raharjo, Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS,

(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), Cet.3, h.25. 26

E. Mulyasa, Implementasi kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), Cet.4, h.20.

20

melakukan kunjungan atau karyawisata ini siswa diberikan pengalaman langsung. Pengalaman ini diperoleh dengan berhubungan secara langsung dengan benda, kejadian atau objek sebenarnya.27

Dengan sumber belajar, pengetahuan atau informasi yang tadinya tidak kita ketahui menjadi tahu, yang tadinya tidak di mengerti menjadi mengerti. Oleh karenannya, sumber belajar diharapkan dapat membawa dan mengubah tingkat laku siswa menjadi lebih baik lagi sehingga diharapkan siswa lebih terampil dan aktif dalam proses belajar mengajar.

D. Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Sebagai Sumber Belajar

Dokumen terkait