• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Tanaman Sipatah-patah ( Cissus quadrangula Salisb)

Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb) ditemukan di Aceh. Tanaman ini umumnya ditemukan di kawasan hutan dan dapat tumbuh dengan cepat jika dipindahkan ke tempat lain. Herbarium Bogoriensis menyatakan bahwa spesies ini adalah Cissus quadrangula Salisb. Taksonomi tanaman tersebut adalah sebagai berikut. Divisi : Spermatophyta Class : Magnoliophyita Ordo : Sapindales Family : Vitaceae Genus : Cissus

Spesies : Cissus quadrangula Salisb

Penampang melintang batangnya berbentuk segi empat sehingga tanaman ini dinamakan quadrangula. Pada setiap sudutnya terdapat tonjolan yang tipis ke samping, dan di antara masing-masing tonjolan terletak terpisah. Bentuk batang berbuku-buku dan setiap satu meter batang terdapat 4-5 buku, batang berwarna hijau kemerahan. Buku pada batang terus bertambah, baik ke atas maupun ke samping. Di antara buku-buku yang telah ada muncul 1-2 daun penumpu, dan di bagian bawah daun penumpu ini muncul calon batang baru. Pada bagian ujung batang muncul 1-2 daun penumpu, dan di antara daun penumpu ini muncul batang baru ke atas. Menurut Versteegh-Kloppenburgh (2006) batangnya bertekuk dan daunnya jarang. Daun sipatah-patah berbentuk runcing, panjang daun sekitar 4-5 cm dan terdapat pada pertemuan diantara buku-buku serta cepat rontok.

33 Tanaman sipatah-patah di Aceh sering dipergunakan untuk pengobatan beberapa penyakit di antaranya adalah rematik dan patah tulang. Pengobatan rematik dilakukan dengan meminum rebusan daun tumbuhan tersebut, yang ditambahkan dengan unsur-unsur yang lain. Sementara itu untuk mengobati patah tulang, dilakukan dengan cara menggerus daun sipatah-patah lalu menempelkan pada tempat yang patah. Penulis melakukan wawancara dengan bapak Rustam, salah seorang ahli pengobatan tradisional yang ada di Desa Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala kotamadya Banda Aceh, beliau menyatakan bahwa tanaman ini juga sangat manjur untuk mengobati wanita lanjut usia yang menderita sakit sendi dan patah tulang. Tanaman sipatah-patah sejauh ini belum pernah diteliti baik dalam bentuk penggunaannya maupun analisis kandungan kimiawinya.

Cissus quadrangularis Linn, merupakan salah satu tanaman yang ditemukan di Afrika Barat, India, Sri Lanka, Malaya, dan Jawa (Jainu et al. 2006). Tanaman ini tumbuh baik pada tempat terbuka dan terkena cahaya matahari langsung. Spesies ini ditemukan di daerah panas dan dataran rendah sampai 600 m di atas permukaan laut (Shirwaikar et al. 2003). Swamy et al. (2006) menyatakan bahwa ada tanaman Cissus quadrangularis Linn. yang dipakai dalam pengobatan tradisional di India. Tanaman ini berbeda dengan sipatah- patah yang ada di Aceh yaitu mempunyai daun berbentuk bulat. Perbedaan morfologi antara sipatah-patah Aceh dengan Cissus quadrangularis Linn. dari India (Gambar 10).

Penelitian fitomedisin yang dilakukan oleh Nadkarni (1954) dan Warrier et al. (1994) menunjukkan bahwa bagian batang dari tanaman Cissus quadrangularis Linn. secara luas digunakan untuk pengobatan fraktur tulang, tumor, wasir, sariawan, dan tukak lambung. Tanaman ini juga mempunyai sifat antiosteoporotik (Shirwaikar 2003), analgesik, hipotensi, antibakterial, antifungal (Austin dan Jagdeesan 2004), obat anti kanker (Taylor 2002) dan peradangan (Dalimartha 2003). Di Afrika dan Asia ekstrak daun, batang, dan akar tanaman ini digunakan dalam penanganan berbagai penyakit (Murthy et al. 2003; Oben et al. 2008). Ekstrak batang dan akar dari tanaman ini diketahui juga memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba.

Getah batang tanaman Cissus quadrangularis Linn. digunakan untuk pengobatan patah tulang, penyakit telinga dan mata, sariawan, asma, menstruasi tidak teratur, wasir, tumor, danluka (Kritikar dan Basu 2000). Tanaman bagian

34

Cissus quadrangula Salisb

Cissus quadrangularis Linn.

Gambar 10. Morfologi tanaman sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb) dari Aceh dan Cissus quadrangularis Linn. (Shirwaikar et al. 2003) dari India, terlihat jelas adanya perbedaan warna batang dan bentuk daun.

akar, batang, dan daun digunakan khusus untuk patah tulang (Kumbhojkkar et al. 1991). Menurut Nadkarni (1954) akar Cissus quadrangularis Linn. sangat berguna untuk pengobatan fraktur tulang baik diminum maupun digunakan sebagai plester eksternal. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tanaman ini mempunyai sifat analgesik, antioksidan, dan penyembuhan fraktur pada tulang (Deka et al. 1994).

Cissus quadrangularis Linn. bersifat asam, mengandung senyawa

euforbin, taraksasterol, α-laktucerol, eufol, glikosida, sapogenin, dan asam elagat. Studi fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid seperti kuersetin dan vitamin C, resveratrol, piceatannol, palidol, ketosteroid, dan karoten (Swamy et al. 2006), senyawa fitoestrogen yaitu isoflavon, lignin,

35 coumestan, triterpen, glicosides, dan asiklik (Jainu dan Devi 2006). Di samping itu tanaman Cissus quadrangularis Linn. mengandung vitamin C, β-karoten, fitosterol, dan kalsium (Tiangburanatham 1996; Patarapanich et al. 2004).

Attawish et al. (2002) menyatakan bahwa batang Cissus quadrangularis

Linn. mengandung triterpen seperti α- dan β-amirin, β-sitosterol, ketosteroid, β- karoten dan vitamin C. Mehta et al. (2001) menyatakan adanya senyawa γ- amirin, δ-amiron. Senyawa ini mempunyai potensi efek metabolik dan fisiologik yang berbeda (Shirwaikar et al. 2003; Combaret et al. 2004) dan diketahui memberikan perlindungan terhadap kerusakan lambung pada hewan model (Nevarrete et al. 2002; Sairam et al. 2002). Dari hasil-hasil pernyataan para peneliti tersebut di atas, menunjukkan bahwa kandungan fitokimia tanaman ini sangat beragam.

Sanyal et al. (2005) menemukan kristal kalsit pada Cissusquadrangularis

Linn. Kristal kalsit ekstrak tanaman ini kaya akan sumber ion kalsium, dan apabila direaksikan dengan CO2

Batang Cissus quadrangularis Linn. mengandung triterpenoid dan polifenol yang diketahui menekan pembentukan sitokin (Jainu dan Devi et al. 2006). Sedang Leiro et al. 2004 dan Thuong et al. 2005 menyatakan bahwa triterpenoid dan polifenol menurunkan pembentukan TNFα dan IL1-β.

memicu terbentuknya kristal kalsit dengan morfologi yang tidak beraturan. Hal ini mengindikasikan adanya molekul bio- organik. Ekstrak segar batang Cissus quadrangularis Linn. mengandung kalsium 4 % dan fosfor.

37

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Riset Anatomi, Laboratorium Fisiologi, Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi; Bagian Patologi dan Bagian Farmasi, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB; Bagian Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan IPB; Laboratorium Fitokimia, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong; Laboratorium Biofarmaka IPB Taman Kencana, Bogor, serta Laboratorium Pemeriksaan Doping dan Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, dari bulan Agustus 2008 sampai dengan bulan Juni 2009.

3.2. Materi

3.2.1. Tanaman Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb)

Tanaman sipatah-patah yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Desa Lam Nga, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pengambilan sampel tanaman ini dilakukan pada bulan Maret 2007. Tanaman diidentifikasi oleh Herbarium Bogoriensis, LIPI Cibinong (Surat nomor: 177/IPH.1.02/IF.8/2007 tanggal 26 April 2007) dengan nama Cissus quadrangula Salisb (Lampiran 1). Dalam penelitian ini diperlukan 4,5 kg batang kering tanaman sipatah-patah.

3.2.2. Hewan Coba

Hewan coba yang digunakan pada penelitian ini adalah 40 ekor tikus betina (Rattus norvegicus) umur 20 hari berasal dari galur Sprague Dawley yang diperoleh dari Animal Lab. IPB Baranangsiang, Bogor. Sebelum dilakukan penelitian, semua kelompok tikus diadaptasikan di dalam kandang selama 10 hari. Selama masa adaptasi, dilakukan pemeriksaan klinis, pemberian antibiotika dan obat cacing (Kalbazen 0,2 ml/oral) untuk menghilangkan infeksi cacing yang kemungkinan dapat menganggu jalannya penelitian. Tikus dipelihara di kandang berukuran 36 x 28 x 12 cm yang diberi alas sekam padi agar lingkungan kandang tidak lembab, ruangan diberi ventilasi dan penyinaran yang cukup dengan lama terang 14 jam dan lama gelap 10 jam dan setiap kandang diisi dua ekor tikus. Pakan tikus adalah pakan burung super berkicau P-588 produksi Indonesia Formula Feed (komposisi dapat dilihat pada Lampiran 2.) dan air minum diberikan secara ad libitum.

38

Ovariektomi dilakukan melalui sayatan kulit daerah flank bagian kiri dan kanan. Tikus terlebih dahulu dibius mengunakan campuran Xylazine (Xylazine- 20, Troy Laboratories PTY Ltd, Australia) dosis 0,3 mg (0,03 ml) dan Ketamine (Ketamil, Troy Laboratories PTY Ltd, Australia) dosis 1,5 mg (0,03 ml) per ekor secara intraperitoneal (ip). Setelah tikus terbius, kulit daerah flank disayat dengan panjang sayatan lebih kurang 1-1,5 cm. Selanjutnya jaringan subkutan dikuakkan, lalu dinding abdomen disayat, kemudian bantalan lemak ditarik sehingga ovarium beserta saluran tuba Fallopii (tuba uterina) dan kornua uteri ikut terbawa keluar rongga abdomen. Selanjutnya ovarium beserta bursa diambil untuk menghindari adanya ovarium yang tersisa. Cornua uteri dan tuba Fallopii dikembalikan ke dalam rongga abdomen. Ovarium kanan diambil dengan cara serupa. Setelah itu kulit dijahit dan diberi antibiotik (Nebacetin, Pharos, Indonesia), untuk pemulihan dilakukan selama sepuluh hari dan selanjutnya tikus tersebut telah siap untuk perlakuan ekstrak sipatah-patah (ESP).

3.2.3. Bahan Penelitian

Untuk keperluan pembuatan preparat histologi digunakan 1). paraformaldehid 0,2 % dalam phosphate buffered saline (PBS) 0,1 M pH 7,4,

2). normal buffer formalin 10 %, 3). alkohol bertingkat, 4). silol dan 5). paraffin histoplast dengan titik leleh 55-570

Bahan untuk pewarnaan Hematoksilin-eosin (HE) adalah pewarna Hematoksilin Delafield, dan pewarna Eosin dalam alkohol. Untuk pewarnaan Masson trichrome (MT) modifikasi Goldner digunakan bahan pewarna ponceau 2R, orange G dan lightgreen.

C.

3.2.4. Alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan untuk fiksasi jaringan terdiri atas gelas objek,

cover glass, entelan, jarum kupu-kupu, scalpel, gunting, tang arteri, needle holder, pinset, spuit suntik, sonde (feeding tube), benang cat gut, tampon, gouce

dan wadah penyimpanan jaringan. Untuk proses parafinasi dan pemotongan jaringan digunakan gelas piala, inkubator, sliding microtome. Selanjutnya untuk pengamatan hasil penelitian digunakan mikroskop cahaya, dan untuk pemotretan digunakan alat mikrofotografi.

39

3.3. Metode

3.3.1. Pembuatan Ekstrak Batang Sipatah-patah (ESP)

Pembuatan ESP dilakukan di Laboratorium Biofarmaka IPB Taman Kencana, Bogor. Bagian batang tanaman sipatah-patah dipotong-potong dengan panjang sekitar 1 cm, lalu diangin-anginkan sehingga menjadi kering. Bagian tanaman yang sudah kering dimasukkan ke dalam oven pada suhu 60°C selama 48 jam. Setelah kering kemudian dihaluskan dengan penggilingan sehingga menjadi serbuk. Selanjutnya proses pembuatan ekstrak dari serbuk dilakukan di Laboratorium Farmasi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, FKH IPB. Proses pembuatan ESP secara rinci ada di Lampiran 3.

3.3.2. Analisis Kandungan Kalsium dan Fosfat, Bahan Aktif dan Analisis Senyawa Fitokimia Batang Sipatah-patah

Analisis kandungan mineral kalsium dan fosfor sipatah-patah dilakukan dengan uji proksimat berdasarkan metode AOAC (1980) (Lampiran 4). Analisis bahan aktif sipatah-patah menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry (GC-MS) FAMES1 M) dilakukan di Laboratorium Pemeriksaan Doping dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta (Lampiran 5).

3.3.3 Pembagian Kelompok Tikus

Penelitian ini dilakukan dengan membagi tikus percobaan menjadi dua kelompok yaitu: 1). Kelompok tikus nonovariektomi (NOV) untuk meneliti kemampuan ESP terhadap pencegahan osteoporosis pada masa prepubertas, 2). Kelompok tikus ovariektomi (OV) untuk meneliti aktivitas ESP terhadap pengobatan osteoporosis pada tikus betina yang diovariektomi. Masing-masing kelompok diberi ekstrak sipatah-patah dengan dosis 750 mg/kg bb/hari/per oral sesuai penelitian Shirwaikar et al. (2003).

3.3.4 Kelompok Tikus Nonovariektomi (NOV)

Penelitian pada kelompok tikus nonovariektomi ini bertujuan untuk meneliti kemampuan ESP untuk memperbaiki kondisi tulang sehingga dapat mencegah terjadinya osteoporosis di kemudian hari. Sebelum percobaan dimulai, semua tikus diadaptasikan di lingkungan kandang percobaan selama

40

10 hari untuk tiap-tiap kelompok perlakuan. Setelah masa adaptasi, hewan coba dibagi secara acak dalam lima grup perlakuan dan masing-masing diberi ekstrak sipatah-patah setiap hari selama penelitian. Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus betina (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley umur 20 hari dengan bobot badan 95-100 g sebagai hewan coba. Tikus diberi pakan standar dan air minum ad libitum. Hewan coba ditempatkan di dalam kandang individu dan diadaptasikan terhadap pakan dan lingkungan selama 10 hari.

Tikus-tikus pada grup kontrol diberi larutan karboksimetil selulosa (CMC) 1 % sebagai plasebo (NOV-0), sedangkan tikus grup perlakuan diberi ESP mulai umur 30 hari (NOV-1), 60 hari (NOV-2), 90 hari (NOV-3), dan 120 hari (NOV-4). Pada tikus-tikus grup perlakuan ESP diberikan per oral dengan feeding tube

sebanyak satu mililiter ESP satu hari sekali yaitu pagi hari (jam 08.00 wib) dengan dosis 750 mg/kgBB/hari selama masa penelitian. Penimbangan bobot badan dilakukan setiap 15 hari sekali. Pengambilan darah kurang lebih 2 ml dilakukan setiap 30 hari sekali melalui vena coccygeae. Darah dikoleksi pada tabung reaksi dan selanjutnya dianalisis kadar kalsium dan fosfor. Analisis kadar kalsium dan fosfor dilakukan di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, dengan mengunakan Atomic Absorbance Spectrophotometry (AAS) (Hitachi® 5000) untuk kalsium, sedangkan untuk analisis kadar fosfor menggunakan metode spectrophotometry dengan alat Spectronic Camspecs®

Pada akhir masa perlakuan (pada umur tikus 180 hari), semua tikus dikorbankan dengan cara dislokasi tulang leher. Kemudian dilakukan nekropsi untuk pengambilan kerangka tulang dan organ untuk diamati secara histologis . Pengamatan selanjutnya adalah pemeriksaan radiografi terhadap kondisi tulang yang dilakukan setelah organ visceral dikeluarkan. Semua organ termasuk tulang diambil dan difiksasi dengan larutan formalin 10 %. untuk proses pembuatan sediaan histologi. Selanjutnya ossa radius-ulna kiri serta ossa vertebrae lumbalis II-V diambil untuk dianalisis kadar kalsium dan fosfat. Ossa tibia-fibula kanan, ginjal, hati, dan kelenjar paratiroid diambil untuk pembuatan sediaan histologis. Sampel tulang tibia-fibula difiksasi dalam larutan pengawet paraformaldehid 4 % dan dilakukan dekalsifikasi dalam larutan asam nitrat 5 %, selanjutnya tulang diproses dengan metode histokimia standar (Humason 1967) dan ditanam dalam blok parafin. Sayatan jaringan ginjal, hati, dan kelenjar paratiroid serta ossa tibia-fibula diwarnai dengan pewarnaan HE (Humason 1967) dan pewarnaan MT (Kiernan 1990) (Lampiran 8).

41

3.3.5 Kelompok Tikus Ovariektomi (OV)

Penelitian pada kelompok tikus ovariektomi bertujuan untuk meneliti pengaruh ESP dalam pengobatan osteoporosis pada tikus yang diovariektomi. Ovariektomi adalah tindakan pembedahan pengambilan ovarium bilateral untuk menginduksi osteoporosis. Sebelum percobaan dimulai semua tikus diadaptasikan di lingkungan kandang percobaan selama 10 hari. Percobaan mengunakan 20 ekor tikus betina. Tikus-tikus tersebut dibagi ke dalam lima grup perlakuan masing-masing terdiri atas empat ekor tiap grup yaitu: tikus sham yang hanya dilakukan sayatan kulit lalu ditutup kembali (OV-0), tikus perlakuan ovariektomi tanpa diberikan ESP (OV-1), dan tikus perlakuan ovariektomi dengan pemberian ESP mulai umur 90 selama 120 hari (OV-2), umur 120 selama 90 hari (OV-3), dan umur 150 hari selama 60 hari (OV-4). Tahapan perlakuan dilakukan selama 180 hari (Gambar 11). Pemberian ESP diberikan per oral dengan

feeding tube sebanyak satu mililiter ESP satu hari sekali yaitu pagi hari (jam 08.00 wib). Selama perlakuan, 15 hari sekali tikus ditimbang dan diambil darahnya kurang lebih 2 ml setiap 30 hari sekali melalui vena coccygeae. Darah dikoleksi pada tabung reaksi dan didiamkan selama satu hari, selanjutnya dianalisis kalsium dan fosfor.

Pada akhir masa perlakuan (umur tikus 210 hari), semua tikus dikorbankan dengan cara dislokasi tulang leher. Kemudian dilakukan nekropsi untuk pengambilan kerangka tulang dan melihat perubahan patologi anatomi pada organ hati, ginjal, dan kelenjar paratiroid yang mungkin terjadi. Pengamatan selanjutnya adalah pemeriksaan radiografi terhadap kondisi tulang yang dilakukan setelah organ visceral dikeluarkan. Semua organ termasuk tulang diambil dan difiksasi dengan larutan formalin 10 %, untuk proses

pembuatan sediaan histologi. Selanjutnya ossa radius-ulna kiri dan serta

ossa vertebrae lumbales II-V diambil untuk dianalisis kadar kalsium dan fosfor.

Ossa tibia-fibula kanan, ginjal, hati, dan kelenjar paratiroid diambil untuk pembuatan sediaan histologis. Sampel ossa tibia-fibula difiksasi dalam larutan pengawet paraformaldehid 4 % dan dilakukan dekalsifikasi dalam larutan asam nitrat 5 %, selanjutnya tulang diproses dengan metode histokimia standar (Humason 1967) dan ditanam dalam blok parafin. Sayatan jaringan ginjal, hati, dan kelenjar paratiroid serta ossa tibia-fibula diwarnai dengan pewarnaan HE (Humason 1967), selanjutnya ossa tibia-fibula juga diwarnai dengan pewarnaan MT (Kiernan 1990) (Lampiran 8).

42

3.4. Parameter

Parameter yang diamati adalah bobot badan, panjang tulang femur, radiografi tulang, kadar kalsium dan fosfor darah, kadar kalsium dan fosfor tulang, gambaran mikroskopis tulang (ossa tibia-fibula) serta organ hati, ginjal, dan kelenjar paratiroid.

3.5. Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan bobot badan, panjang tulang femur, kadar kalsium dan fosfor darah, serta kadar kalsium dan fosfor tulang, dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Duncan Test. Gambaran radiografi dan mikroskopis jaringan tulang serta organ hati, ginjal, dan kelenjar paratiroid dianalisis secara deskriptif.

43

Gambar 11. Skema Alur Penelitian

Sipatah-patah

Ekstraksi

Kandungan mineral Ca /P)

Kandungan fitokimia

Identifikasi senyawa fitokimia

Pengujian

Hewan coba tikus betina

Nonovariektomi

Ovariektomi

Pengamatan

a. Bobot badan b. Radiografi tulang c. Kadar Ca dan P darah d. Kadar Ca dan P tulang

e. Gambaran histologi tulang, hati, ginjal, dan paratiroid

44

Gambar 12. Alur Penelitian Tikus Nonovariektomi

20 30 60 90 120 150 180

Adaptasi Perlakuan

Nekropsi

Keterangan:

= Masa adaptasi

= Masa sebelum perlakuan dimulai

= Masa pemberian ESP

= Pemeriksaan kadar kalsium dan fosfat darah NOV = Grup nonovariektomi

Umur NOV-0 NOV-1 NOV-2 NOV-3 NOV-4 NOV

45

Gambar 13. Alur Penelitian Tikus Ovariektomi

Gambar 13. Alur Penelitian Tikus Ovariektomi

Perlakuan Nekropsi Pemulihan Adaptasi Keterangan

:

= Masa adaptasi

= Masa pemulihan dari ovariektomi = Masa sebelum perlakuan dimulai = Masa pemberian ESP

= Pemeriksaan kadar kalsium dan fosfat darah = Grup ovariektomi, diovariektomi pada umur 50 hari

OV-2 OV-3 OV-4 NOV -0 (sham) OV-1 Umur (hari) Ovariektomi 40 50 60 90 120 150 180 210 OV

45

46

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Analisis Proksimat Batang Kering Sipatah-patah dan Penapisan Fitokimia Ekstrak Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb)

Dari hasil analisis proksimat batang kering tanaman sipatah-patah ditemukan kadar kalsium sebesar 4,33 % dan fosfor sebesar 0,37 % (Lampiran 20). Untuk penentuan adanya substansi alkaloid dari ESP digunakan pereaksi Mayer dan Dragendrof. Kedua pereaksi tersebut menunjukkan hasil yang positif adanya alkaloid. Melalui uji fitokimia ESP lainnya, juga ditemukan pula senyawa flavonoid, tanin (polifenolat) dan triterpenoid, sementara itu reaksi terhadap saponin negatif (Tabel 1 dan Lampiran 21).

Tabel 1. Komponen fitokimia ESP

No. Komponen fitokimia Hasil

1. Alkaloid a. Pereaksi Mayer b. Pereaksi Dragendrof + + 2. Flavonoid + 3. Tanin /polifenolat + 4. Triterpenoid + 5. Saponin -

Keterangan: + = Mengandung, - = Tidak mengandung

4.1.2. Identifikasi Kandungan ESP

Penentuan kadar komponen fitokimia dari ESP diperoleh dari analisis

Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Berdasarkan analisis GC-MS terhadap ESP, diperoleh 33 senyawa fitokimia (Tabel 2 dan Lampiran 22). Dari ke-33 senyawa fitokimia tersebut diperoleh lima kelompok utama, yaitu steroid, triterpenoid, asam karboksilat, hidrokarbon, dan kelompok lain (ester dan keton).

47 Tabel 2. Komposisi kimia ekstrak etanol batang sipatah-patah berdasarkan GC-MS.

No. Senyawa Fitokimia Golongan Area (%) Subtotal %

1 A-norcholestan-3-one,5-ethenyl Steroids 22,67

2 Stigmast-5-en-3-ol (3.beta) Steroids 15,52

3 Stigmast-4- en-3-one (CAS) Steroids 8,53

4 Lup-20(29)-en-3-ol (3.beta) Steroids 7,94

5 Ergost-22-en-3-ol (3 beta.5alpha) Steroids 5,74

6 Ergost-5-en-3-ol (3.beta) Steroids 4,69

7 Ergost-25-ene-3,5,6,12-tetrol Steroids 2,59 8 Stigmasta-5,23-dien-3.beta.-ol Steroids 2,55 9 Methyl (25RS)-3β-hydroxyl-5 cholesten Steroids 2,36 10 Gamma-Tocopherol Steroids 1,02 11 Cholestan-3-one,2-(1-methil) Steroids 0,81

12 Trans -stigmasta-5,22-dien-3 beta Steroids 0,58

13 Ergost-22-en-3-ol (3.beta) Steroids 0,41

14 Vitamin E Steroids 0,50

74,52

15 1,2-benzenedicarboxylic acid (asam phtalat)

Asam karboksilat 5,87 16 9-octadecenoic acid (z), methyl

(asam oleat)(C18:1)

Asam karboksilat 1,91 17 Octadecanoic acid (asam

stearat)(C18:0)

Asam karboksilat 1,10

18 1-phenenthrenecarboxylic Asam karboksilat 0,48

19 Hexadecanoic acid(asam palmitat) Asam karboksilat 0,45

9,81

20 2-Hexadecen-1-ol,3,7,11,15- tetramethyl atau phytol

Triterpenoid 4,54

21 2,6,10,14,18,22-tetracosahexaene Triterpenoid 1,59

22 Aristolone Triterpenoid 1,02

23 Oxacycloheptadeca-2-one (CAS) Triterpenoid 0,64

24 Muskolactone dan oxacyclotetradecane Triterpenoid 0,7 8,49 25 Phenanthrene,1-methyl-7-(1- methyl) Hidrokarbon aromatic 0,81

26 Cyclohexane Hidrokarbon siklik 0,45

27 Heptadecane Hidrokarbon 0,41 28 Neophytadiene Hidrokarbon alifatik 0,15 1,82 29 2,6-bis(methylthio)-4-(2-furyl) 0,54

30 Hexadecanoic acid methyl ester (asam palmitat)(C16:0) Ester 1,49 31 1,4a.beta.-dimethyl-7-isopropyl 1,28 32 2-pentadecanone Keton 0,39 33 3-(2',2'-dimethyl-6'- methyliden) 0,28 3,98 Total 98,62

48

Dari keseluruhan senyawa fitokimia ESP, kelompok steroid merupakan kelompok yang paling dominan, yang terdiri atas 14 senyawa fitokimia dan tujuh di antaranya adalah senyawa fitoestrogen, dengan kumpulan persen puncak area paling besar yaitu (74,52 %). Komposisi terbanyak senyawa steroid ini adalah A-norcholestan-3-one, 5-ethenyl (22,67 %), Stigmast-5-en-3-ol (3 beta) (15,52 %), Stigmast-4- en-3-one (CAS) (8,53 %), dan Lup-20(29)-en-3- ol (3.beta) (7,94 %), Senyawa fitokimia yang menempati urutan kedua terbanyak (9,81 %) adalah kelompok Asam karboksilat (9,81 %) dengan komponen yang paling dominan adalah 1,2-benzenedicarboxylic acid (5,87 %), 9-octadecenoic acid (z), Methyl (asam oleat) (1,91 %), dan Octadecanoic acid (asam stearat) (1.1 %). Kelompok triterpenoid juga banyak ditemukan pada ekstrak sipatah- patah (8,49 %), terdiri atas 2-hexadecen-1-ol,3,7,11,15-tetramethyl atau Phytol (4,54 %), 2,6,10,14,18,22-tetracosahexaene (1,59 %), Aristolone (1,02 %), dan beberapa komponen fitokimia lain yang kadarnya di bawah 1 %. Selain ketiga kelompok utama komponen fitokimia di atas, masih ditemukan pula kelompok hidrokarbon (1,82 %) dan kelompok ester dan keton (3,98 %).

4.2. Pengaruh Pemberian ESP pada Kelompok Tikus Nonovariektomi 4.2.1. Pertumbuhan Bobot Badan Tikus.

Pemberian ESP pada tikus betina dengan berbagai tingkatan umur menunjukkan adanya pengaruh pada pertumbuhan bobot badan antarperlakuan (Gambar 14). Secara umum, pemberian ESP menyebabkan pertumbuhan bobot badan lebih tinggi dibandingkan dengan tikus kontrol.

Berdasarkan hasil analisis statistik ditemukan bahwa bobot badan tikus kontrol lebih rendah dari tikus yang diberi ESP selama 150 hari maupun dengan tikus yang diberi ESP 120 hari, 90 hari, dan 60 hari (P<0,05). Pertumbuhan bobot badan tikus yang diberi ESP selama 150 hari adalah paling tinggi dibanding dengan grup yang lain. Tikus yang diberi ESP 120 hari juga lebih berat dibandingkan dengan tikus yang diberi ESP 90 hari, 60 hari maupun tikus kontrol. Dengan demikian maka pertumbuhan bobot badan semakin besar sejalan dengan lama durasi pemberian ESP.

Perbedaan tingkat pertumbuhan bobot badan antara tikus kontrol dan tikus perlakuan tampak setelah umur 105 hari. Pada umur 105 hari ini, tikus (NOV-1) mempunyai bobot badan 119,25 g, lebih tinggi dibandingkan tikus kontrol (106,78 g). Demikian juga dengan tikus (NOV-2, NOV-3, dan NOV-4)

49 Gambar 14. Gambaran pertumbuhan bobot badan tikus yang ditimbang setiap 15

hari sekali dari umur 30 hingga 180 hari pada grup NOV-0, NOV-1, NOV-2, NOV-3, dan NOV-4.

NOV-0 = Tikus kontrol; Tikus perlakuan diberi ESP selama 150 hari (NOV-1), 120 hari (NOV-2), 90 hari (NOV-3), dan 60 hari (NOV-4). Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil uji berbeda nyata (P<0,05).

pada umur 105 hari memiliki bobot badan masing-masing 116,40 g, 108,68 g, dan 109,95 g yang semuanya lebih tinggi dibandingkan tikus kontrol (P <0,05).

Pada akhir perlakuan (umur 180 hari), tikus NOV-1 memiliki bobot badan sebesar 173,20 g atau 26,84 % lebih berat dibandingkan tikus kontrol. Tikus (NOV-2 dan NOV-3) masing-masing 16,40 % dan 17,01 % lebih berat

dibandingkan dengan tikus kontrol, sedangkan tikus NOV-4 mempunyai bobot badan sebesar 149,88 g atau 9.76 % lebih berat dari kontrol. Pertambahan bobot (bobot akhir dikurang bobot awal dari pemberian ESP) grup perlakuan ESP selama 150 hari adalah sebesar 78,47 g dibandingkan dengan tikus kontrol yang hanya 42,7 g, diikuti tikus yang diberi ESP selama 120 hari, 90 hari, dan 60 hari masing-masing sebesar 65,2 g, 65,83 g, dan 56,5 g.

4.2.2. Pengukuran Panjang Tulang Femur

Dari hasil pengukuran panjang tulang femur di akhir perlakuan pada tikus NOV-1 sebesar 31,88 mm, yang diikuti NOV-2 29,64 mm, NOV-3 29.44 mm, dan NOV-4 29,26 lebih panjang dibandingkan dengan kontrol yang hanya 28.74 mm

70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 1 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 B o b o t b ad an (g r)

Umur tikus (hari)

NOV-0 NOV-1 NOV-2 NOV-3 NOV-4 173,20 20,75a 159,78 20,26ab

Dokumen terkait