TANDA-TANDA/ GEJALA PENYAKIT
6.1. Tanda-Tanda/ Gejala Penyakit “Kena Aji” (Racun)
Seseorang yang telah terpapar atau “kena aji” (racun), seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan yang pernah mengalaminya maka beberapa bagian tubuh akan terasa nyeri atau sakit. Seperti penjelasan beberapa orang informan mengenai pengalaman sakitnya (sosiofisiologis). Sebelas orang informan yang peneliti wawancarai dalam penelitian ini, ada 4 (empat) orang informan yang pernah menderita penyakit “kena aji” (racun), dan 1 (satu) orang informan yang sedang menderita penyakit tersebut. Berikut adalah gambaran informan yang dilihat berdasarkan sosiofisiologis (pengalaman sakit sebelumnya) yaitu sebagai berikut :
Tabel 6.1. Gambaran Sosiofisiologis Informan Desa Lipat Kajang Kecamatan
Dari gambaran pada tabel 6.1 tersebut diatas, hampir sebagian besar informan yang peneliti dapatkan berasal dari Etnis Jawa hanya ada satu Etnis Melayu dan satu Etnis Aceh. Pernah juga dari Etnis Batak Pak-pak menderita penyakit “kena aji”
(racun). Hasil wawancara peneliti dengan Bapak H.Imam Sarimo yang merupakan tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa :
. . . “kemaren ini dikampung seberang ada yang meninggal kena aji, orang Pak-pak Boang pun dia. Dah sampai batuk darah” . . .
Keterangan ini memberi arti kepada kita bahwa, semua Etnis tanpa terkecuali dapat terkena penyakit ini. Berikut ini merupakan rangkaian cerita pengalaman dari informan yang pernah maupun yang sedang menderita penyakit “kena aji” (racun) yang berhasil peneliti wawancarai, yaitu sebagai berikut :
a. Kasus Sakit; Kak Lina
Dalam kehidupannya sehari-hari bekerja sebagai seorang guru di SD Gunung Lagan. Bercerita tentang penyakit “kena aji” (racun), Kak Lina merupakan salah satu orang yang selama kurang lebih 4 tahun pernah mengalaminya. Pada saat Kak Lina
berumur 24 tahun, dan dulunya bekerja di pabrik pengolahan kayu “kilang kayu”, ia sudah mulai merasakan gejala atau tanda-tanda dari penyakit tersebut seperti :
Tabel 6.2. Gambaran Kesehatan Informan; Kak Lina Sehubungan dengan Penyakit “Kena Aji” (Racun) di Desa Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil
Bagian Tubuh Yang Dirasakan Dampak
Badan Lemas, panas dingin Malas, berat badan menurun cepat
Tulang Ngilu/ nyeri Susah bergerak
Dada Sesak Batuk terasa berdahak tapi tidak ada dahak, sesak napas
Bola mata Nyeri seperti mau keluar Ngantuk terus menerus, mata cekung Pada awalnya Kak Lina tidak mengetahui bahwa gejala yang dirasakannya tersebut adalah gejala dari penyakit “kena aji” (racun), untuk menghilangkan rasa sakit “tidak enak” ia hanya membeli obat di warung depan rumahnya. Memang pada dasarnya setiap orang akan mengambil keputusan dan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang berkaitan dengan kesehatannya. Pada tingkat permulaan setelah gejala yang menjadi pertanda adanya ketidakseimbangan dalam diri seseorang, maka pada saat itu ia akan mengira bahwa dirinya sakit. Dan selanjutnya ia akan mencoba mengurangi atau mengontrol gejala tersebut melalui pengobatan sendiri (Sudarma, 2008).
Selama hampir enam bulan Kak Lina hanya mengandalkan obat luar yang dijual di warung, akan tetapi sakitnya tidak sembuh. Selanjutnya Kak Lina berobat ke bidan desa, setiap kali datang ke tempat praktek bidan obatnya selalu berbeda tetapi hasilnya tetap sama. Ketika peneliti menanyakan “apakah kakak tidak mencoba berobat ke Puskesmas?”. Dari penjelasan Kak Lina, ternyata ia tidak berobat ke
Puskesmas dikarenakan sudah tidak percaya lagi akan sembuh dari pengobatan medis modern. Hal ini terlihat dari jawaban Kak Lina :
“ya . . . gak, ngapain lagi? Orang dah ke bidan gak sembuh juga, ngapain ke Puskesmas lagi? Toh bakalan sama juga nya, yang periksa disanakan kadang orang bidan tu juga”.
Hal ini sesuai dengan Model Suchman yang dikutip dalam Solita (2007) yang menyebutkan bahwa terdapat alternatif perilaku sehubungan dengan menentukan pencarian pengobatan, yang mana dari gejala yang dirasakan seseorang akan melakukan proses menangguhkan (procastination) atau mengundurkan upaya mencari pertolongan pengobatan sesuai dengan anjuran oranglain akan keadaan atau gejala yang dirasakan. Kemudian seterusnya penderita akan berupaya untuk melakukan pengobatan sendiri (self-medication), namun ketika upaya yang dilakukan tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan maka penderita akan membatalkan atau menghentikan pengobatan (discontinuity). Dengan kata lain, unsur kepercayaan terhadap upaya pengobatan yang dilakukan sendiri sudah tidak ada lagi.
Hampir satu setengah tahun Kak Lina berupaya untuk mencari pengobatan atas penyakitnya, mulai dari membeli obat di warung sampai berobat ke bidan desa.
Karena sudah hampir putus asa untuk berobat, Kak Lina yang pada awalnya menutupi penyakit yang dirasakannya ini kepada tetangga dan teman kerjanya akhirnya mencoba menceritakan apa yang dirasakannya. Ketika ia menceritakan rasa sakit
“tidak enak” nya ini kepada tetangga-tetangga dekat rumah, spontan hampir keseluruhan dari tetangganya menyarankan Kak Lina untuk berobat ke orang pintar atau dukun. Menurut penjelasan mereka, dari gejala-gejala yang dirasakan Kak Lina
sudah tidak salah lagi berarti Kak Lina sudah “kena aji” (racun), yang kadang ada juga yang menyebutkan bahwa Kak Lina “sudah termakan”.
Pada awalnya, Kak Lina tidak mempercayai penjelasan dari tetangga-tetangganya tersebut. Malahan ia terkadang tertawa sendiri bila teringat ucapan dari tentangganya yang menyebutkan kalau ia “sudah termakan”, karena bila dipikirkan secara logika penjelasan tersebut tidak mempunyai landasan dan bukti yang jelas.
Tidak cukup rasanya Kak Lina memperoleh penjelasan dari beberapa tetangga, selanjutnya Kak Lina juga menceritakan rasa sakitnya kepada teman kerja dan semua orang yang pernah dikenalnya di desa tersebut. Secara keseluruhan jawaban dan penjelasan yang didapatkan Kak Lina ternyata diluar dugaannya, semua orang menyarankan untuk berobat ke orang pintar atau dukun karena mereka juga beranggapan sama yaitu Kak Lina sudah “kena aji” (racun). Bahkan beberapa orang pintar dan dukun juga disarankan dan disebutkan alamat serta syarat-syarat untuk datang berobat.
Tindakan yang dilakukan oleh Kak Lina sehubungan dengan upayanya untuk mendapatkan informasi dan nasehat dari semua pihak keluarga, teman-teman bahkan semua orang yang dikenalnya disebut dengan sistem rujukan awam (lay-refferal system). Semua informasi yang diperoleh Kak Lina, banyak sedikitnya akan memberikan pengaruh terhadap pengetahuan, sikap bahkan tindakannya untuk menentukan tempat pengobatan yang akan digunakan. Sesuai dengan Model Fabrega (1973) yang menitikberatkan pada proses informasi yang diharapkan seseorang pada saat kejadian penyakit, yang mana semua informasi yang diperoleh dapat dipakai
sebagai perbandingan yang akan mendorong seseorang untuk memilih rencana pengobatan yang akan dilakukan. Karena pada dasarnya informasi yang diberikan oleh orang lain selain dapat digunakan untuk memperkirakan biaya,waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan bahwa setiap tindakan yang diambil akan mengurangi ancaman yang mungkin timbul karena penyakit, dan memperhitungkan segala keuntungan yang akan diperoleh yakni seberapa jauh setiap rencana pengobatan akan dapat mengurangi keluhan penyakit yang dirasakan (Sudarma, 2008).
Lama kelamaan Kak Lina yang merupakan seorang sarjana, akhirnya mencoba mengikuti saran untuk berobat ke orang pintar atau ke dukun yang ada di desa tersebut. Menurut penjelasan para tetangga, orang pintar atau dukun yang bisa mengobati penyakit “kena aji” (racun) ini cukup banyak, tidak ada pengobatannya yang sama semua menggunakan teknik dan obat yang berbeda.
Sesuai anjuran salah seorang tetangga Kak Lina yang bernama Kak Misni, yang menjadi tujuan Kak Lina berobat tertuju kepada orang pintar atau dukun di Desa Pandan Sari yang bernama Imam Zakir (akan tetapi biasa dikenal masyarakat dengan sebutan mbah Pandan Sari). Selama proses pengobatan, Kak Lina diminta untuk membawa jenis kelapa muda yang hijau, dan uang 105 ribu rupiah (seratus ribu untuk pembuka pengobatan, dan 5 ribu untuk penutup). Kelapa muda ini juga memiliki syarat ketika diambil dari batangnya yaitu tidak boleh mengenai tanah. Ketika peneliti menanyakan alasannya, Kak Lina juga tidak tahu alasan pastinya. Menurut penjelasan Kak Lina :
“. . . hmm, mungkin maksudnya supaya kelapa tetap dalam keadaan bersih, tidak terkena tanah yang barangkali dikhawatirkan ada najis”.
Kelapa muda tersebut setelah dibawa ke mbah Pandan Sari, kemudian disyarati dengan membaca mantra-mantra sambil diarahkan ke keris yang diasapi dengan kemenyan yang dibakar. Setelah itu Kak Lina diminta untuk meminum air kelapa tersebut, tidak beberapa lama kemudian Kak Lina muntah. Isi muntahan yg keluar yaitu nanas, rambut, dan paku berkarat yang masih utuh. Menurut penjelasan mbah Pandan Sari yang diceritakan kembali oleh Kak Lina bahwa :
. . . “kakak terkena racun melalui nanas yang kak makan, racunnya berisi rambut dan paku. Kata mbah, paku itulah yang membuat badan kakak selalu terasa sakit, dan rambut yang membuat tenggorakan kak gatal sampai batuk.
Menurut mbah racun ini memang sengaja diberikan, ntah karena sakit hati atau karena hal lainnya”.
Kemudian Kak Lina mencoba mengingat kapan ia makan nenas, apakah ia pernah menyakiti orang lain. Seingat Kak Lina terakhir kali ia makan nenas yaitu bersama teman kerjanya, tapi sudah dua tahun yang lalu. Memang pada saat itu nenas yang sudah diracik menjadi rujak diberikan langsung dari temannya kepada Kak Lina. Cuma Kak Lina tidak bisa memastikan benar atau tidaknya karena makan rujak nenas waktu itu.
Setelah racun berhasil dikeluarkan, Kak Lina diminta datang lagi satu minggu kedepan oleh mbah Pandan Sari untuk melihat apakah racunnya sudah benar-benar habis atau belum. Selama satu minggu itu Kak Lina juga diminta untuk menghindari makanan yang dianggap pantangan untuk dimakan seperti tidak boleh makan cabe, makanan yang berminyak-minyak, dan ikan asin. Serta ia juga mengharuskan Kak
Lina agar hanya memakan makanan yang direbus-rebus saja (alasannya Kak Lina juga tidak tahu dan ketika ditanya Kak Lina, waktu itu mbah hanya mencoba menekankan untuk mengikuti sarannya saja bila ingin sembuh).
Dalam Model Suchman yang dikutip dari Solita (2007) menyebutkan bahwa ketika seseorang berada pada tahap menjadi pasien, maka ada ketergantungan dari pasien tersebut terhadap seorang pemberi pengobatan. Pada diri pasien akan muncul kepercayaan bahwa pemberi pengobatan memiliki kemampuan untuk memberikan layanan dan tindakan sesuai dengan yang diharapkannya untuk mencapai kesembuhan. Begitu juga dengan Kak Lina, ketika ia menjadi pasien dari Mbah Pandan Sari, maka semua aturan atau syarat yang diberikan harus dilakukan oleh Kak Lina supaya proses pengobatan dapat berjalan dengan lancar dan penyakitnyapun dapat segera disembuhkan.
Kedatangan Kak Lina setelah satu minggu berikutnya, disambut mbah Pandan Sari dengan satu panci putih yang berisi air. Kemudian mbah membacakan mantra-mantra sambil meniup panci yang sudah berisi air tersebut. Seterusnya Kak Lina diminta untuk batuk terus menerus sampai sudah terasa mau muntah. Jika masih ada yang keluar berarti racun dalam tubuh masih ada, akan tetapi bila tidak ada yang keluar itu artinya Kak Lina sudah benar-benar sembuh. Dan menurut penuturan Kak Lina :
. . . “dan Alhamdulillah tidak keluar apa-apak dek, kata mbah itu artinya racun dalam tubuh kakak udah keluar semua waktu itu. Dan kakak sudah dinyatakan sembuh, sampai sekarang gak batuk-batuk lagi. Cuma kurusnya masih sih, he. . . he. . .”.
b. Kasus Sakit; Ahmad
Nama lengkap informan ini yaitu Ahmad Witasman. Panggilan akrab oleh teman-temannya yaitu Wiwid. Ahmad Witasman atau Wiwid ini seperti yang telah penulis ceritakan diatas, merupakan anak ke tujuh dari Bapak H.Imam Sarimo dan Ibu Hj.Saijem serta merupakan adik kandung dari Kak Lina. Sama halnya dengan Kak Lina, Wiwid juga pernah mengalami penyakit yang sama, sehingga disini Wiwid juga menjadi salah satu informan dalam penelitian.
Umurnya yang masih muda yaitu 26 tahun, Wiwid sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya penyakit yang diyakini masyarakat sebagai penyakit “kena aji”
(racun). Berdasarkan pengalaman kakaknya, Wiwid dikategorikan penderita yang tidak lama merasakan sakit, hanya selama 1 tahun dan kemudian cepat diobati kepada orang yang biasa mengobati penyakit tersebut. Dengan kata lain tidak berobat kesana kemari dulu.
Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengalaman sakit sebelumnya (sosiofisiologis) yaitu sakit yang didertia oleh Kak Lina, menjadikan orangtua Wiwid langsung menyarankan untuk berobat ke tempat Kak Lina disembuhkan waktu itu.
Agar penyakitnya tidak bertambah parah dan dapat langsung diobati dengan cepat.
Tidak sama dengan pengobatan kakaknya, Wiwid diobati oleh “Ibu Wirjah”
(nama keseharian) dari Subulussalam yang merupakan salah satu Kota Madya yang berada dekat dengan Singkil. Alasannya yaitu ketika Wiwid dibawa berobat ke Mbah Pandan Sari (dukun yang mengobati Kak Lina), beliau sedang tidak ada di rumah.
Menurut keterangan dari Kak Misni yang merupakan tetangga dari Kak Lina, Mbah
Pandan Sari pergi ke luar kota (ke Aceh Tamiang) untuk menjenguk anaknya yang baru melahirkan. Sehingga dengan begitu Wiwid dibawa ke kediaman Ibu Wirjah untuk diobati disana. Informasi mengenai pengobatan oleh Ibu Wirjah diperoleh berdasarkan saran atau anjuran dari teman ibunya Wiwid yang bernama Ibu Rosinah Bancin. Menurut Ibu Rosinah Bancin yang merupakan orang dari Etnis Batak (yaitu batak Pak-pak), Ibu Wirjah sangat pintar untuk mengobati penyakit tersebut karena pengobatannya tidak membutuhkan waktu yang lama.
Proses pengobatan yang dilaksanakan Wiwid memang sedikit berbeda dengan pengobatan Kak Lina. Menurut penjelasan Wiwid, ketika pertama kali ia datang untuk berobat, Wiwid langsung diperiksa dengan menggunakan daun sirih yang sudah disediakan oleh Ibu Wirjah. Daun sirih sebanyak tiga helai diletakkan di dada sebelah kanan dan kiri serta di tengah diantara dada kanan dan kiri. Kemudian Ibu Wirjah membacakan ayat-ayat (keterangan mengenai ayat-ayat apa saja, tidak dapat dijelaskan oleh Wiwid). Tidak beberapa lama kemudian, daun sirih yang sebelumnya berwarna hijau dan segar-segar berubah menjadi warna coklat dan rapuh seperti terbakar. Menurut Ibu Wirjah yang diceritakan kembali oleh Wiwid bahwa :
. . . “nah, ternyata benar dugaan saya. Kamu dah kena aji, liat aja daun sirihnya hangus. Begitulah keadaan paru-parumu saat ini, panas dan harus segera didinginkan” . . .
Paru-paru yang panas, merupakan perumpamaan yang diberikan oleh Ibu Wirjah atas apa yang dirasakan oleh Wiwid, gejala atau rasa sakit yang dirasakan oleh Wiwid seperti tergambar dalam tabel berikut ini :
Tabel 6.3. Gambaran Kesehatan Informan; Ahmad Sehubungan dengan Penyakit “Kena Aji” (Racun) di Desa Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil
Bagian Tubuh Yang Dirasakan Dampak
Badan Lemas, panas
dingin pada waktu maghrib
Malas
Tulang / persendian Ngilu/ nyeri Susah bergerak
Dada Sesak Batuk kering pada malam hari, siang
hari jarang batuk
Bola mata Nyeri Ngantuk terus menerus
Kepala Berat Emosian
Dari hasil pemeriksaan Ibu Wirjah kepada Wiwid maka Wiwid dinyatakan
“kena aji” (termakan racun), oleh sebab itu atas permintaan dan anjurannya Wiwid diminta untuk datang kembali esok hari (waktu/ jam tidak ditentukan) untuk melakukan pengobatan. Tapi kali ini Wiwid diminta untuk membawa air minum (satu botol), sirih beberapa helai, piring, kain putih untuk penutup piring, dan uang senilai 110 ribu rupiah.
Cara pengobatan yang dilakukan Ibu Wirjah sangat unik dan berbeda dengan Mbah Pandan Sari (yang mengobati Kak Lina). Sesampainya Wiwid dirumah Ibu Wirjah, ia diminta untuk meletakkan syarat tersebut diatas “tampah” yang telah disediakan Ibu Wirjah. Selanjutnya Wiwid diminta untuk berwudhu karena menurut Ibu Wirjah orang yang akan dibersihkan dari aji (racun) terlebih dahulu harus dalam keadaan suci atau bersih juga. Setelah berwudhu dan kembali duduk di samping Ibu Wirjah, kemudian Wirjah memulai proses pengobatannya. Pertama kali yang dilakukan Ibu Wirjah adalah mengambil uang senilai 110 ribu rupiah yang dibawa
Wiwid dan diletakkan dibawah piring sebagai syarat lancarnya pengobatan. Piring diisi dengan air minum dan ditutup kain putih, kemudian Wiwid serta piring tersebut ditutup dengan jubah putih yang telah disediakan Ibu Wirjah. Dari luar jubah tepatnya di belakang Wiwid, Ibu Wirjah meminta Wiwid untuk menghela nafas sedalam-dalamnya sampai muntah, sambil dibacakan ayat-ayat dan mantra-mantra oleh Ibu Wirjah.
Tidak lama kemudian sekitar 1 jam lebih, Wiwid muntah ke dalam piring yang telah ditutup tersebut. Akhirnya jubah dibuka oleh Ibu Wirjah dan mengambil piringnya. Dengan membaca “bismillahirohmanirrohim” Ibu Wirjah lalu membuka kain putih yang menjadi penutup piring tadi. Di dalam piring terlihat muntahan yang dikeluarkan Wiwid, tapi anehnya kain putih penutup piring tidak kotor sedikitpun.
Muntahan Wiwid yaitu mie instan dan nasi putih yang masih terlihat utuh. Menurut keterangan Ibu Wirjah dalam cerita Wiwid bahwa :
. . . “mie dan nasi putih itulah yang mengandung aji, yang waktu itu pasti pernah kau makan. Makanan yang udah ada itu tadi, sampai kapanpun gak akan hancur dalam tubuh.”
Selesai pengobatan hari itu, tiga hari kemudian wiwid diminta untuk datang kembali dengan maksud untuk mengecek dan memastikan tidak ada lagi aji/ racun dalam tubuh Wiwid. Seperti proses awalnya, sirih diletakkan di dada wiwid yang sedang berbaring dan kemudian dibacakan ayat-ayat. Tidak berapa lama sirih yang tadinya berwarna hijau dan segar, tidak terjadi perubahan apa-apa pada sirih tersebut.
Maka itu berarti sudah sembuh karena aji/ racun sudah habis dikeluarkan, dan
kemudian Ibu Wirjah kembali membacakan ayat-ayat yang menurut penjelasannya bacaan tersebut berguna untuk menutup jalan masuk aji ke tubuh.
Dari pengalaman dua anak Bapak H.Imam Sarimo dan Ibu Hj.Saijem ini yaitu Kak Lina dan Wiwid, semenjak saat itu semua anak mereka dilarang untuk makan atau jajan diluar dimanapun itu. Karena sangat berbahaya bila sudah terkena aji (racun), dapat/ masuknya mudah tapi keluarnya sangat susah. Meskipun umur anak-anak mereka sudah dewasa, bahkan sudah memiliki keluarga sendiri. Sehingga dengan begitu, pengalaman merupakan ilmu yang berharga untuk menjadikan seseorang tidak mengulangi kesalahan yang sama.
c. Kasus Sakit; Mesdi
Mesdi itulah nama dari informan ini, sapaan akrab yang peneliti berikan kepadanya yaitu Bang Mesdi karena usianya 1 tahun lebih tua dibandingkan usia peneliti. Sebelum almarhum bapaknya Bang Mesdi meninggal dunia, beliau sebenarnya telah terbaring sakit di rumah selama berbulan-bulan. Menurut keterangan yang peneliti dapatkan dari tetangganya, bapak Bang Mesdi sakit karena diguna-guna orang lain. Banyak pengobatan tradisional yang telah dilakukan, akan tetapi tidak dapat menyembuhkan beliau. Sakit yang beliau rasakan seperti tidak tampak dari luar, lama kelamaan tubuhnya melemas, tambah kurus (seperti ada yang menggerogoti dari dalam tubuh), hingga akhirnya beliau lumpuh dan meninggal.
Selama bapak Bang Mesdi sakit yang pada akhirnya meninggal dunia, sebenarnya Bang Mesdi juga mengalami hal yang sama. Apakah karena penyakit bapaknya menular ke Bang Mesdi atau tidak, peneliti juga tidak bisa memastikannya.
Cuma sakit yang dirasakan berbeda dengan bapaknya, Bang Mesdi merasakan gejala seperti penyakit “kena aji” (racun) yang mana menurut keterangan Bang Mesdi ia sering merasakan :
Tabel 6.4. Gambaran Kesehatan Informan; Mesdi Sehubungan dengan Penyakit “Kena Aji” (Racun) di Desa Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil
Bagian Tubuh Yang Dirasakan Dampak
Badan Lemas, panas dingin, tidak nafsu makan
Malas, berat badan turun, bertambah kurus
Tulang Ngilu/ nyeri Susah bergerak
Dada Saki, sesak Batuk kering, sesak napas, sampai pada akhirnya batuk berdarah
Mata Berat Ngantuk terus menerus
Hampir sekitar 3½ tahun Bang Mesdi merasakan sakit ini, sambil terus berupaya untuk berobat ke pengobatan tradisional yang dianjurkan banyak orang.
Sampai pada akhirnya peneliti mengenal Bang Mesdi sebagai salah satu teman dari Wiwid. Peneliti sering berkumpul dan bercerita dengan Bang Mesdi baik tentang perkuliahan maupun tentang kehidupan. Hingga pada akhirnya Bang Mesdi menceritakan bahwa saat ini ia sedang menderita penyakit yang menurut orang kampungnya disebut dengan penyakit “kena aji” (racun). Selain menceritakan bagaimana rasa sakit yang dirasakannya, Bang Mesdi juga menceritakan pengobatan yang sedang dilakukannya.
Bang Mesdi setiap beberapa bulan sekali harus pulang kampung untuk mengecek kondisinya, apakah sudah mendingan atau belum. Selain itu cara pengobatan yang dilakukan Bang Mesdi yaitu pengobatan jarak jauh karena
mengingat Bang Mesdi kuliah di Medan sementara pengobatannya di kampung (Aceh singkil), sehingga kadang badannya terasa aneh. Menurut Bang Mesdi :
. . . “abang diobati dari kampung makanya terkadang badannya terasa panas kali kadang menggigil, kata dukunnya (nama dukun tidak diketahui, hanya nama desa yaitu Desa Jontor) itu adalah reaksi dari obat yang dikirimkan dari kampung.”
Selain diobati dari jarak jauh oleh dukun yang mengobati Bang Mesdi di kampung, ia juga diminta untuk tiap hari makan daun sirih dan tiap pagi dan malam minum poding telur ayam kampung. Menurut dukunnya yang diceritakan kembali oleh Bang Mesdi, hal ini dilakukan untuk menjaga stamina Bang Mesdi agar jangan
Selain diobati dari jarak jauh oleh dukun yang mengobati Bang Mesdi di kampung, ia juga diminta untuk tiap hari makan daun sirih dan tiap pagi dan malam minum poding telur ayam kampung. Menurut dukunnya yang diceritakan kembali oleh Bang Mesdi, hal ini dilakukan untuk menjaga stamina Bang Mesdi agar jangan