HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.4 Tanggapan Guru
Hasil angket tanggapan guru menunjukkan bahwa guru memberikan tanggapan baik terhadap model Environmental Learning. Guru memberikan tanggapan bahwa model Environmental Learning dengan media casebook sangat membantu siswa dan guru, membantu pemahaman siswa dan membuat siswa tertarik karena dilengkapi dengan gambar yang jelas, dan kasus yang disajikan bervariasi. Namun, menurut guru petunjuk penggunaan casebook masih tidak jelas.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa pembelajaran sudah berjalan dengan baik, siswa juga cukup antisuas dan tertarik serta aktif mengikuti pembelajaran. Kasus-kasus yang disajikan pada casebook merupakan kasus baru yang belum pernah disajikan pada pembelajaran sebelumnya. Selain itu, casebook juga membantu siswa memahami cara penularan dan pencegahan penyakit sehingga siswa diharapkan dapat mengaplikasikan pengetahuannya pada kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran materi virus menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Kebermaknaan pembelajaran yang telah dilakukan diukur dengan skala sikap peduli kesehatan lingkungan. Skala sikap tersebut dapat menjadi tolok ukur terhadap keberhasilan pembelajaran yang menggunakan casebook. Guru berpendapat bahwa konsep materi yang disajikan di casebook adalah konsep materi yang tidak disajikan dalam buku siswa, sehingga siswa mendapat pengetahuan yang baru.
46
4.2 Pembahasan
Data-data hasil penelitian yang telah disajikan, dibahas secara rinci sebagai berikut.
4.2.2 Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa berupa nilai akhir yang diperoleh dari nilai LDS, nilai tugas, dan nilai posttest. Hasil analisis deskriptif dan statistik menunjukkan bahwa data hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa pembelajaran model Environmental Learning dengan media casebook memberikan efek yang lebih baik terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan (Environmental Learning) efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Juairiah et al., 2014; Herman et al., 2012).
Hasil analisis statistik diperkuat dengan analisis lain meliputi analisis kemampuan berpikir dan ketercapaian indikator pembelajarannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas eksperimen lebih dominan untuk melakukan evaluasi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini terjadi karena pembelajaran kelas eksperimen melatih siswa untuk mengevaluasi sikapnya terhadap kesehatan lingkungan, misalnya cara pencegahan penyakit influenza, sedangkan pembelajaran kelas kontrol hanya dapat melatih siswa untuk mengingat ingatan yang telah lampau, misalnya penyebab seseorang terkena penyakit influenza. Menurut Anderson & Krathwohl (2001) siswa yang sudah sampai pada kategori
“mengevaluasi” berarti siswa tersebut mampu mengecek dan mengkritisi. Kemampuan mengecek mengarah pada kegiatan pengujian hal-hal yang tidak konsisten atau kegagalan dari suatu operasi atau produk, sedangkan kemampuan mengkritisi mengarah pada penilaian suatu produk atau operasi berdasarkan pada kriteria dan standar eksternal.
Persentase kemampuan berpikir terendah kelas eksperimen adalah kategori mengingat. Hal ini berbanding terbalik dengan kelas kontrol yaitu pada kategori mengingat memiliki persentase tertinggi. Hal ini terjadi karena pembelajaran kelas eksperimen tidak lagi melatih siswa mengingat ingatan masa lampau. Siswa kelas eksperimen dianggap sudah memiliki pengetahuan yang cukup terkait materi virus. Pembelajaran kelas eksperimen membantu siswa melakukan evaluasi terhadap sikap yang harus dilakukan agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh virus melalui media casebook. Siswa kelas eksperimen yang sudah sampai pada kategori evaluasi berarti siswa tersebut sudah mencapai kategori sebelumnya yaitu kategori menganalisis. Namun, kategori yang dicapai tidak dibatasi oleh tinggi rendahnya persentase yang diperoleh. Taksonomi kemampuan berpikir memerlukan adanya hierarki yang dimulai dari tujuan instruksional pada jenjang terendah sampai jenjang tertinggi. Dengan kata lain, tujuan pada jenjang yang lebih tinggi tidak dapat dicapai sebelum tercapai tujuan pada jenjang di bawahnya (Anderson & Krathwohl , 2001).
Kemampuan berpikir kelas eksperimen yang didominasi kategori
“mengevaluasi” tidak terlepas dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Proses pembelajaran kelas eksperimen yang menyajikan kasus-kasus penyakit akibat
48
virus dapat merangsang siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai LDS dan nilai tugas siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kelas eksperimen melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi, maka hasil belajarnya akan tinggi pula. Penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemampuan berpikir dengan hasil belajar siswa (Rosana, 2014; Nuriadin & Perbowo, 2013).
Ketercapaian indikator pembelajaran juga dapat memperkuat hasil analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator pembelajaran materi virus yang paling tinggi dicapai oleh siswa kelas eksperimen adalah mengkaji penyakit yang disebabkan oleh virus meliputi penyebaran dan pencegahannya, sedangkan kelas kontrol adalah mengelompokkan virus berdasarkan ciri-cirinya. Hal ini tidak terlepas dengan penggunaan media casebook. Media ini dapat memudahkan siswa memahami cara penularan dan pencegahan penyakit menular yang disebabkan oleh virus, sehingga diharapkan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya pada kehidupan sehari-hari. Penelitian lain menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dan perilaku siswa yang telah mengikuti pembelajaran dengan menyajikan kasus-kasus (Arum & Minangwati, 2014; Khairunnisa et al., 2013).
Penggunaan model Environmental Learning pada kelas eksperimen dapat merangsang minat dan motivasi yang tinggi karena siswa diminta untuk berpikir terkait sikap yang harus dilakukan terhadap kasus yang disajikan. Hal ini dapat
mengubah kebiasaan siswa dalam belajar, sehingga hasil belajar siswa meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Syamsudduha & Rapi (2012) bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pada siswa yang memiliki kemauan tinggi dalam belajar, serta adanya perubahan kebiasaan siswa dalam memecahkan masalah secara mandiri, sehingga aktivitas belajar berjalan dengan baik. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Ahmar (2012) bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis lingkungan menjadikan siswa antusias dalam aktivitas belajar, hal ini karena proses pembelajaran memberikan konsep yang nyata kepada siswa. Perubahan kebiasaan belajar dan aktivitas belajar yang baik pada kelas eksperimen akan mempengaruhi hasil belajar siswa pada kelas tersebut.
4.2.2 Sikap Peduli Kesehatan Lingkungan
Sikap peduli kesehatan lingkungan dalam penelitian ini diperoleh melalui angket yang diberikan kepada siswa diakhir pembelajaran. Hasil analisis deskriptif dan statistik menunjukkan bahwa sikap peduli kesehatan lingkungan siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata sikap peduli kesehatan lingkungan siswa kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa pembelajaran model Environmental Learning dengan media casebook memberikan efek yang lebih baik terhadap peningkatan sikap peduli kesehatan lingkungan. Model Environmental Learning dapat membuat siswa memahami diri sendiri dan lingkungannya serta dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap lingkungan melalui implementasi sikap peduli kesehatan lingkungan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pembelajaran
50
model Environmental Learning berpengaruh positif terhadap sikap peduli kesehatan lingkungan siswa (Herman et al., 2012; Andre, 2005).
Hasil analisis statistik diperkuat dengan analisis komponen sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase komponen kognitif, afektif, dan konatif siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal ini berarti siswa kelas eksperimen memiliki pengetahuan, sikap postif, dan kecenderungan berperilaku peduli kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh siswa tentang peduli kesehatan lingkungan, komponen afektif menyangkut reaksi emosional yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek termaksud, sedangkan komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Azwar, 2015).
Landasan pada penyimpulan sikap siswa yang dicerminkan melalui skala sikap dilihat dari konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif. Siswa kelas eksperimen dan kontrol memiliki konsistensi antara ketiga komponen sikap tersebut, terlihat pada persentase sikap yang cenderung meningkat dari komponen kognitif ke komponen konatif. Hal ini berarti kecenderungan berperilaku siswa selaras dengan komponen kognitif dan afektifnya. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Azwar (2015) bahwa kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan
perasaan yang membentuk sikap individu tersebut. Namun, kecenderungan berperilaku dalam hal ini tidak diartikan sebagai perilaku yang nyata, karena tidak ada jaminan bahwa kecenderungan berperilaku itu akan benar-benar ditampakkan dalam bentuk perilaku yang sesuai apabila individu berada pada situasi tertentu. Hal ini berarti tidak ada jaminan bahwa siswa yang memiliki sikap positif terhadap kesehatan lingkungan akan berperilaku nyata peduli kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang intensif dari orang-orang terdekat siswa, agar siswa senantiasa menjaga kesehatan lingkungan.
Persentase komponen sikap kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol menunjukkan bahwa siswa kelas eksperimen memiliki kesadaran peduli kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Kesadaran peduli kesehatan yang tinggi pada kelas eksperimen tidak terlepas dengan model pembelajaran Environmental Learning yang diterapkan. Model Environmental Learning dapat membantu menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan siswa sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Scott & Gough (2008) bahwa model Environmental Learning memiliki fase penyadaran yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran dan merangsang siswa untuk peka dan peduli terhadap lingkungan. Fase penyadaran merupakan fase yang hanya ada pada pembelajaran Environmental Learning. Munculnya sikap peduli terhadap lingkungan akan membuat siswa menghargai dan selalu menjaga lingkungan sekitarnya. Siswa yang menghargai dan menjaga lingkungan sekitarnya berarti telah memiliki pengetahuan yang lebih baik terhadap lingkungan. Pengetahuan
52
dalam hal ini dapat diartikan sebagai kepercayaan yang merupakan komponen kognitif.
Sikap peduli kesehatan lingkungan merupakan sikap yang senantiasa menjaga lingkungan sehingga tercipta suasana yang bersih, tenang, dan sehat. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Asmani (2012) bahwa nilai karakter peduli lingkungan berupa sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, selain itu mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Upaya untuk mengubah sikap seseorang akan lebih efektif melalui jalur pendidikan. Penelitian Elsa (2014) menunjukkan bahwa untuk mengubah sikap dan perilaku siswa agar sadar dan peduli lingkungan dapat dilakukan melalui jalur pendidikan. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Ballantyne et al. (2001) bahwa pendidikan lingkungan dapat mengubah sikap atau perilaku yang akan dilakukan siswa melalui pembahasan isu-isu di luar batas-batas kelas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penerapan model Environmental Learning efektif untuk merangsang siswa peduli kesehatan lingkungan.