BAB V DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL DALAM
C. Tanggung Jawab dan Kewenangan Direksi
Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi serta besar dan jenis penghasilannya ditetapkan oleh RUPS. Namun dalam Anggaran Dasar dapat ditetapkan bahwa wewenang RUPS dilakukan oleh komisaris atas nama RUPS.
1. Tanggung Jawab Direksi
Pada prinsipnya, Direksi bertanggungjawab secara pribadi tidak hanya terhadap tindakannya yang dilakukannya dalam
kapasitasnya sebagai pribadi, tetapi juga dalam hal-hal tertentu, terhadap perbuatan yang dilakukan dalam kedudukannya se- bagai direktur perusahaan. Bahkan dalam kedudukannya seba- gai direktur, dalam hal-hal tertentu, direksi bertanggungjawab tidak hanya atas tindakan yang dilakukannya sendiri, melain- kan juga atas tindakan direktur lainnya, atau bahkan sampai batas-batas tertentu direksi bertanggungjawab juga atas tinda- kan orang lain yang bukan direktur yang dilakukan untuk dan atas nama perseroan.89
Selanjutnya Munir Fuadi mengatakan “apabila oleh di- reksi dilakukan secara sah perbuatan tertentu dalam kedudu- kannya sebagai direksi perusahaan tersebut, dalam artian bu- kan dalam kapasitasnya selaku pribadi, maka dalam hal yang demikian direksi tersebut telah melakukan tindakan untuk dan atas nama perusahaan. Sehingga, tindakan yang demiki- an telah merupakan tindakan perusahaan”.90
Pada prinsipnya, setiap konsekuensi yuridis atas tindakan perseroan, baik atau buruk, akan dipikul sendiri oleh perse- roan tersebut. Namun demikian, undang-undang mengenal juga beberapa pengecualian. Walaupun tindakan tersebut merupakan tindakan perseroan, akan tetapi terdapat kemung- kinan bukan perusahaan yang bertanggungjawab, tetapi pi- hak lainnya. Misalnya direktur secara pribadi ataupun secara tanggung renteng.
Tanggung jawab dapat dibedakan dalam :91
- Tanggung jawab internal, yang meliputi tugas dan tang- gung jawab Direksi terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan; dan
- Tanggung jawab eksternal, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab Direksi kepada pihak ketiga yang berhubungan hukum langsung maupun tidak lang- sung dengan perseroan.
89 Ibid, hal. 72. 90 Ibid, hal. 73.
a. Tanggung jawab Direksi dalam Perseroan Terbatas
Direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar penga- dilan. Jadi selain bertanggungjawab penuh atas penguru- san, Direksi juga bertindak mewakili perseroan (persona standi in judicio). Dalam menjalankan tugas untuk kepent- ingan dan usaha perseroan, maka setiap anggota Direksi wajib dengan itikad baik (in good faith) dan penuh tang- gung jawab (full responsibility)92. Namun apabila tidak demikian, maka setiap anggota direksi bertanggungjawab penuh secara pribadi, apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang dibebankan dan diwajibkan kepadanya.
b. Tanggung Jawab Direksi Kepada Perseroan dan Peme- gang Saham Perseroan
Tugas dan pertanggungjawaban direksi kepada per- seroan dan pemegang saham perseroan dimulai sejak perseroan memperoleh status badan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (4) UUPT 2007. Setiap kesala- han atau kelalaian anggota direksi dalam melaksanakan kewajibannya terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan, memberikan hak kepada pemegang saham un- tuk:
1) Secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, yang me- wakili jumlah sepersepuluh pemegang saham perse- roan melakukan gugatan untuk dan atas nama perse- roan terhadap direksi perseroan, yang atas kesalahan dan kelalaiannya telah menyebabkan kerugian pada perseroan (derivative action);
2) Secara sendiri-sendiri melakukan gugatan langsung untuk dan atas nama pribadi pemegang saham terha- dap direksi perseroan atas setiap keputusan atau tin- dakan direksi perseroan yang merugikan pemegang saham.93
92 I.G. Ray Widjaja, Op-Cit, hal. 215. 93 Gunawan Widjaja, Op-Cit, hal. 70.
c. Tanggungjawab Kepada Pihak Ketiga
Tugas dan kewajiban Direksi perseroan terhadap pihak ketiga terwujud dalam kewajiban Direksi untuk melakukan keterbukaan (disclosure) terhadap pihak ketiga atas setiap kegiatan perseroan yang dianggap dapat mem- pengaruhi kekayaan perseroan. Kewajiban-kewajiban itu adalah:
1) Dalam hal perseroan ingin mengadakan pengurangan atas modal dasar, modal dikeluarkan, ataupun modal disetor dari perseroan;
2) Dalam hal perseroan bermaksud untuk melakukan penggabungan, peleburan dan pengambilalihan; 3) Dan bagi :
- Perseroan yang bidang usahanya berkaitan de- ngan pengerahan dana masyarakat;
- Perseroan yang mengeluarkan surat pengakuan hutang;
- Perseroan terbuka.
Direksi perseroan diwajibkan untuk menyerahkan hasil perhitungan tahunan perseroan untuk diperiksa oleh akuntan publik sebelum perhitungan tahunan terse- but disahkan oleh rapat umum pemegang saham tahu- nan. Dan segera setelah disahkan oleh rapat, diumumkan untuk kepentingan pihak ketiga. Khusus untuk perseroan terbatas terbuka, direksi perseroan juga diwajibkan untuk mengumumkan setiap maksud dan rencana penyeleng- garaan rapat umum pemegang saham (RUPS). Ketentuan tersebut di atas tidak menutup adanya kemungkinan per- mintaan pemberian data dan atau keterangan mengenai perseroan oleh pihak ketiga yang berkepentingan, ber- dasarkan pada perjanjian antara para pihak. Dalam hal- hal yang demikian tersebut di atas, direksi berkewajiban untuk memberikan data dan atau keterangan tersebut se- cara benar dan akurat.94
d. Tanggungjawab Renteng Antara Sesama Anggota Direksi Perseroan
Menurut sistem hukum di Indonesia demikian juga hukum di kebanyakan negara yang menganut sistem
Civil Law, hubungan antara direktur dengan perusahaan adalah bersifat kontraktual. Artinya, sungguhpun antara perusahaan dengan direkturnya tidak terdapat suatu kon-
trak tertentu, tetapi oleh hukum “dianggap” (fiksi) ada
kontrak pemberian kuasa. Karena itu, hubungan antara direktur dengan perusahaan tidak merupakan hubungan antara “trustee” dengan “beneficiary” seperti dalam sistem Anglo Saxon. Sebagai konsekuensi yuridisnya, direktur sebagai pemegang kuasa tidak boleh bertindak melebihi dari kekuasaan yang diberikan kepadanya. Seberapa jauh kekuasaan diberikan kepadanya, dapat dilihat dalam ang- garan dasar perusahaan yang bersangkutan.
Apabila direksi bertindak melampaui wewenang yang diberikan kepadanya tersebut, direktur tersebut ikut bertanggungjawab secara pribadi. Jika perusahaan yang bersangkutan kemudian jatuh pailit, beban tanggung ja- wab tidak cukup ditampung oleh harta perusahaan (harta pailit), maka direksipun ikut bertanggungjawab secara renteng.95
Pasal 14 ayat (1) UUPT 2007 dinyatakan bahwa : “Perbuatan hukum atas nama perseroan yang be- lum memperoleh status badan hukum, hanya boleh dilakukan oleh semua anggota direksi bersama- sama semua pendiri serta semua anggota dewan komisaris perseroan dan mereka semua bertang- gungjawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut”.
Terhitung sejak saat pengesahan, para pendiri perse- roan terbatas tidak lagi bertanggungjawab secara tidak terbatas atas tiap perikatan yang dibuat untuk dan atas nama perseroan, dan hanya akan menanggung kerugian 95 Munir Fuady, Op-Cit, hal 59
yang terbatas pada nilai seluruh saham yang dimiliki- nya. Selama pengesahan tersebut belum diperoleh, maka para pendiri (dan sekalian pengurusnya) bertanggung- jawab sepenuhnya secara tanggung renteng atas setiap perbuatan hukum yang dilakukan untuk dan atas nama perseroan. Ketiadaan pengesahan itu tidak meniadakan perseroan yang hendak dibentuk, hanya saja sifat per- tanggungjawabannya yang belum tidak terbatas.
Berdasarkan pada sifat pertanggungjawaban renteng tersebut,oleh kalangan ahli hukum, status hukum dari perseroan terbatas dalam pendirian diperlakukan sama dengan atau sebagaimana layaknya suatu persekutuan
dengan firma, dimana para pengurus bertindak selaku
kuasa dari para pendiri dalam menjalankan kegiatan atau usaha perseroan. Dengan ini berarti bahwa selama harta kekayaan perseroan tidak mencukupi untuk menutupi seluruh kewajiban perseroan (dalam pendirian) tersebut, maka para pendiri (dan pengurus) bertanggung jawah secara pribadi untuk memenuhi seluruh kewajiban yang belum terlunasi.96
2. Kewenangan Direksi
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, direksi harus bertolak dari landasan bahwa tugas dan kedudukan yang diperolehnya berdasarkan 2 (dua) prinsip dasar yaitu kepercayaan yang diberikan perseroan kepadanya (fiduciary
duty) dan prinsip yang merujuk pada kemampuan serta keha- ti-hatian tindakan direksi (duty ofskill and care).97Kedua prinsip ini menuntut direksi untuk bertindak secara hati-hati dan di- sertai itikad baik, semata-mata untuk kepentingan dan tujuan perseroan. Pelanggaran terhadap kedua prinsip ini membawa konsekuensi berat bagi direksi, karena ia dapat dimintai per- tanggungjawaban secara pribadi. Suatu perbuatan hukum sangat bergantung pada dipenuhi atau tidaknya kewenangan yang dimiliki oleh pihak yang melakukan perbuatan hukum tersebut.
96 Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Op-Cit, hal. 243. 97 Ais Chatamarrasjid, Op-Cit, hal. 71.
Kewenangan ini digolongkan ke dalam kewenangan yang berdasarkan pada:
a. Kapasitas diri sendiri sebagai individu pribadi;
b. Kapasitas sebagai pemegang kuasa yang bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa;
c. Kapasitas untuk bertindak dalam jabatan yang dalam hal ini bertindak selaku yang berwenang berdasarkan ja- batannya tersebut.
Konsep kewenangan bertindak tersebut menjadi penting, terutama apabila dihubungan dengan konsekuensi hukum dari tidak terpenuhinya syarat subjektif sahnya suatu perjan- jian. Hukum perjanjian dan lazimnya peraturan perundang- undangan yang berlaku mengancam setiap perbuatan hukum yang tidak memenuhi syarat subjektif ini, dengan ancaman kebatalan (dapat dibatalkan) setiap saat, selama masa daluar- sa masih belum terlewati dan atau dalam perjanjian ini tidak
diratifikasi lebih lanjut. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, hak untuk membatalkan perjanjian yang demikian diberikan kepada mereka yang syarat subjektifnya tidak ter- penuhi sebagaimana diatur dalam Pasal 1331 KUH Perdata.
Menurut Sutjipto sebagaimana dikutip oleh Rachmadi Usman bahwa:
“Pimpinan perseroan berikut usaha-usahanya berada di tangan Direksi.Kewenangan pengurusan meliputi semua perbuatan hukum yang tercakup dalam maksud dan tu- juan serta kegiatan usaha perseroan sebagaimana dimuat dalam anggaran dasarnya. Dengan demikian, Direksi adalah organ melalui mana perseroan mengambil bagian dalam lalu lintas hukum sesuai dengan maksud dan tu- juan perseroan. Ini pula yang menjadi sumber kewenan- gan Direksi untuk dan atas nama perseroan melakukan perbuatan-perbuatan hukum dengan pihak ketiga atau dengan kata lain, mewakili perseroan di dalam maupun di luar pengadilan. Kepengurusan oleh Direksi ini tidak terbatas pada memimpin dan menjalankan kegiatan ru-
tin sehari-hari. Direksi berwenang dan wajib mengambil inisiatif dan membuat rencana masa depan perseroan dalam rangka mewujudkan maksud dan tujuan perse- roan. Sebagaimana diketahui maksud dan tujuan perse- roan merupakan batas ruang lingkup kecakapan bertin- dak perseroan.Dalam kaitan ini perlu diperhatikan bahwa kewenangan Direksi untuk melakukan perbuatan hukum atas nama perseroan tidak terbatas pada perbuatan hukum yang secara tegas disebut dalam maksud dan tujuan perse- roan, melainkan juga meliputi perbuatan-perbuatan lain- nya, yakni perbuatan-perbuatan yang menurut kebiasaan, kewajaran dan kepatutan dapat disimpulkan dari maksud dan tujuan perseroan serta berhubungan dengannya seka- lipun perbuatan-perbuatan tersebut tidak secara tegas dise- butkan di dalam rumusan maksud dan tujuan perseroan.”98
3. Batas Kewenangan Direksi
Besarnya kewenangan yang diberikan kepada direksi ti- dak berarti kewenangan direksi tanpa batas. Kewenangan di- reksi dibatasi oleh kewenangan bertindak secara intern, baik yang bersumber pada doktrin hukum maupun yang bersum- ber pada peraturan yang berlaku, termasuk anggaran dasar perseroan. Batasan tersebut antara lain adalah adanya doktrin
ultravires, yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan di luar kewenangan dari direksi. Apabila direksi telah melanggar ketentuan kewenangannya sebagaimana telah dinyatakan dalam anggaran dasar, maka direksi telah melanggar asas ultravires dan dengan demikian harus ber- tanggungjawab sampai harta pribadinya.
Pihak ketiga yang berhubungan usaha dengan perseroan tersebut tetap sah dan dilindungi tanpa memperhatikan ul- travires. Misalnya, dalam anggaran dasar disebutkan bahwa dalam melakukan perjanjian kerja sama tertentu dengan pihak lain harus mendapatkan izin tertulis dari RUPS. Dalam ke- nyataannya, direksi tersebut membuat perjanjian kerja sama tertentu tanpa memperoleh izin dari RUPS, maka perjanjian 98 Rachmadi Usman, Op-Cit, hal. 166.
kerja sama dengan pihak lain tersebut tetap sah, tetapi secara intern, direksi berarti telah melanggar doktrin ultravires.99
Pembatasan-pembatasan kewenangan direksi ditegaskan dalam UUPT 2007
antara lain pada:
a. Pasal 2 UUPT 2007, bahwa harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan den- gan peraturan perundang-undangan,ketertiban umum dan atau kesusilaan;
b. Pasal 92 ayat (1) UUPT 2007, yaitu dalam mengurus perse- roan harus untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
c. Pasal 97 ayat (1) UUPT 2007, yang intinya harus ada itikad baik dan bertanggung jawab dalam pengurusan persero- an;
d. Direksi tidak berwenang mewakili perseroan dalam hal
terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest);
e. Pasal 102 UUPT 2007, yaitu adanya perbuatan-perbuatan hukum tertentu yang harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari komisaris dan atau RUPS yang diatur dalam anggaran dasar.
Perbuatan hukum perseroan terbatas yang tidak sesuai dengan cakupan kewenangan yang telah diuraikan di atas (perbuatan ultravires), maka tanggung jawab pemegang sa- ham, direksi, dan komisaris menjadi tidak terbatas karena telah melampaui kewenangannya. Bagi pemegang saham, menjadi tidak terbatas dalam hal yang dinyatakan pada Pasal 3 ayat (2) UUPT 2007. Namun demikian, atas perbuatan-per- buatan direksi tanpa persetujuan dari RUPS atau komisaris tetap sah dan mengikat dengan pihak ketiga, namun tanpa mengurangi tanggung jawab direksi atas potensi kerugian. Namun, untuk membuktikan adanya perbuatan ultravires
tersebut tidak mudah. Dalam hal terjadi perbuatan hukum
Direksi yang demikian dan pemberi persetujuan (komisaris dan atau RUPS) setuju atas tindakan direksi itu, maka yang
bersangkutan dapat melakukan ratifikasi. Di samping itu, ber- dasarkan asas piercing the corporate veil atau lifting the veil bah- wa tanggung jawab pemegang saham yang semula terbatas atas saham yang dimilikinya menjadi tidak terbatas.