BAB III TOPIK PENELITIAN
3.3 Strategi Pemasaran
3.4.2 Target Pasar
Sasaran target dalam pengkonsumsian bakso goreng krenyeous ini tidak dibatasi. Karena bakso goreng krenyeous ini bisa dinikmati dari berbagai kalangan. Baik itu dari segi penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, jenis kelamin dan kelas sosial lainnya.
3.4.3 Positioning
Sejauh ini bakso goreng krenyeous ini memiliki positioning yang baik menurut konsumen yang telah mengkonsumsinya. Usaha kecil berhasil mengidentifikasikan bakso goreng krenyeous yang di produksi. Semenjak bakso goreng ini muncul dari usaha kecil, disambut hangat oleh lingkungan sekitar masyarakat dan telah berhasil diterima dalam benak masyarakat sekitar.
Konsumen memandang bakso goreng ini sebagai makanan yang baik digunakan untuk dikonsumsi, ini dilihat dari kondisi produk yang dikeluarkan oleh usaha kecil.
3.5 Analisa Persaingan
Tingkat persaingan dalam bakso goreng krenyeous dilingkungan sekitar masih rendah. Karena dilingkungan masyarakat sekitar ini juga banyak usaha rumah tangga atau home industry yang memproduksi makanan-makanan ringan lain yang tidak kalah menarik dan enaknya dari bakso goreng krenyeous. Sebagai saingan usaha bakso goreng krenyeous, yaitu: kroket yang dibuat dari ubi , krupuk, kue-kue basah dan jenis makanan lainnya.
Hal ini tidak adanya saling menjatuhkan antara produsen yang satu dengan produsen yang lainnya,justru saling mendukung satu sama lainnya.
Sehingga peluang untuk mendapatkan keuntungan dari target-target yang telah disusun,bisa berjalan sesuai keinginan.
3.6 Kebijakan Harga
Keputusan-keputusan mengenai asumsi harga yang ditetapkan oleh manajemen produksi disesuaikan dengan biaya, permintaan dan persaingan.
3.6.1 Biaya Perhari
Biaya Perhari merupakan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi bakso goreng krenyeous. Biaya perhari tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 3.1 Biaya Perhari
Banyaknya Bahan baku @ Jumlah
2 Kg Ikan Rp 10.000,- Rp 20.000,-
1 Kg Tepung Rp 6.000,- Rp 6.000,- 1 Kg Minyak Goreng Rp 11.500,- Rp 11.500,- 1 Liter Minyak Lampu Rp 7.500,- Rp 7.500,- 1 Bungkus Lidi/tusukan Bakso Rp 2.000,- Rp 2.000,- 3 Bungkus Saos Rp 3.000,- Rp 9.000,- 2 Butir Telur Rp 1.000,- Rp 2.000,- 1 Bungkus Plastik Rp 2.000,- Rp 2.000,- Jumlah Biaya Produksi Per hari Rp 60.000,- Sumber: PT. Bakso Goreng Krenyeous (2011)
3.6.2 Berdasarkan Nilai
Usaha bakso goreng krenyeous dapat dilihat berdasarkan nilai yang dihasilkan oleh produk tersebut, antara lain:
- Penetapan harga dari bakso goreng krenyeous disesuaikan dengan harga bahan baku dan bahan tambahan lainnya yang dibeli pada saat sekarang ini.
- Penetapan harga juga dilihat dari kondisi ekonomi mahasiswa.
- Harga bakso goreng krenyeous dapat terjangkau oleh lapisan masyarakat. - Harga dari bakso goreng krenyeous ini Rp.1000/tusuk
3.6.3 Berdasarkan biaya
Biaya produksi = Rp 60.000 Target of return
25% =
Target Revenue = Rp 75.000 Rp 15.000
Kapasitas sebenarnya = 75 tusuk
Jadi harga jual pertusuk = Rp Rp1.000/tusuk 75
000 . 75
=
Dengan harga jual Rp 1.000 /tusuk dan berhasil menjual 75 tusuk maka target laba sebesar Rp.15.000 dapat dicapai / hari.
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Harga adalah estimasi penjualan terhadap arti ekspresi nilai yang menyangkut kegunaan dan kualitas produk, citra yang berbentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk melalui jaringan distribusi serta layanan yang menyertai suatu produk (Kartajaya, 2002 : 481).
Menurut Kismono (2001 : 347), tujuan penetapan harga bagi perusahaan, antara lain: mempertahankan kelangsungan operasi perusahaan, merebut pangsa pasar (market share), mengejar keuntungan, mendapatkan return on investment atau pengembalian modal dan mempertahankan status quo.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga, antara lain: pertumbuhan ekonomi, inflasi dan tingkat suku bunga. Dari segi pertumbuhan ekonomi dapat dapat mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang, semakin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap suatu barang. Dimana semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula harga yang ditawarkan dari produk tersebut.
Dari segi inflasi, faktor ini mempengaruhi tingkat harga. Dikarenakan ketika inflasi tinggi maka akan berimbas pada bahan baku dari usaha yang sedang dijalankan. Dengan tingginya inflasi maka tinggi pula harga bahan baku yang akan berimbas pada harga suatu barang. Namun, ketika inflasi turun maka bahan baku juga akan turun sehingga berimbas pula pada harga barang tersebut.
Dari segi tingkat suku bunga, faktor ini juga mempengaruhi harga suatu barang. Namun, dapat dilihat bahwa tingkat bunga mempengaruhi ketika usaha yang dijalankan mendapat pinjaman dari pihak ketiga yakni bank. Akan tetapi, jika modal untuk pendirian usaha dari modal sendiri sehingga harga suatu barang tidak akan terpengaruh akan naik atau turunnya tingkat suku bunga.
Permintaan seseorang atau sesuatu masyarakat kepada sesuatu barang ditentukan oleh banyak faktor, antara lain: harga barang itu sendiri, harga barang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut, pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat, corak distribusi pendapatan, cita rasa masyarakat, jumlah penduduk dan ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang.
4.2 Saran
Potensi saingan harus diperhatikan dengan baik agar memperoleh keuntungan yang diinginkan. Selain harga yang murah, usaha bakso goreng krenyeous juga harus memberikan service yang baik terhadap konsumen, seperti menyediakan wadah sebagai tempat bakso goreng krenyeous dan plastik putih sebagai tempat untuk konsumen yang membeli bakso goreng krenyeous.
Usaha bakso goreng krenyeous memilih lokasi yang menjadi pusat pendidikan. Oleh karena itu, harga bakso goreng krenyeous harus menyesuaikan harga yang ditawarkan dengan tempat pemasaran tersebut. Sosial ekonomi lingkungan juga perlu diperhatikan untuk melihat seberapa besar daya beli dan tingkat konsumtif konsumen setempat.
Daftar Pustaka
Alma, Buchari H., 2003. Pemasaran Strategik Jasa Pendidikan, Bandung: CV Alfabeta.
Boone, L.E., dan David, L.K., 2002. Pengantar Bisnis. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Boone, L.E., dan David, L.K., 2002. Pengantar Bisnis. Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Ciptono, Fandy, 2000. Strategi Pemasaran. Edisi Kedua. Cetakan Keempat.
Yogyakarta: Penerbit.
Hutagalung, R.B., Syafizal, H.S., dan Frida, R., 2010. Kewirausahaan. Terbitan Pertama, USU Press.
Kartajaya, Hermawan, 2002. Hermawan Kertajaya on Marketing. Edisi Pertama. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kismono, 2001. Pengantar Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
Kotler, Philip dan Amstrong, Gary, 2001. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jilid Satu, Edisi Kedelapan. Jakarta : Erlangga.
Kotler, Philip, dan Susanto, A.B., 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Edisi Pertama, Jilid I. Jakarta: Salemba Empat.
Kotler, Philip, dan Susanto, A.B., 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Edisi Pertama, Jilid II. Jakarta: Salemba Empat.
Longenecker, J.G., Carlos, W.M., dan J. William Petty., 2001. Kewirausahaan: Manajemen Usaha Kecil. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat.
Lupiyoadi, Rambat, 2001. Manajemen Pemasaran Jasa Teori dan Praktik. Jakarta: Salemba Empat.
Mowen dan Michael, 2002. Perilaku Konsumen. Edisi 5, Jilid 1. Erlangga. Stanton, William, J., 2000. Prinsip Pemasaran. Edisi Revisi. Jakarta: Erlangga. Sukirno, S., Wan, S.H., Danny, I., Charles, S., dan Kurniawan, K., 2004.
Sukirno, Sadono, 2006. Miroekonomi: Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Suryana, 2006. Kewirausahaan, Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Edisi 3. Salemba Empat.