• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

H. Tata Cara Penelitian

Studi kasus yang dilakukan pada penelitian ini difokuskan pada kejadian

medication error dan dalam menganalisis kejadian medication error, penelitian

ini terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu penelitian terhadap fase prescribing

dan fase transcribing.Pada fase prescribing akan dilakukan analisis terhadap data

resep racikan yang diterima di apotek-apotek yang telah ditentukan untuk menjadi

lokasi penelitian.

Penelitan pada fase transcribing dilakukan melalui observasi secara

langsung terhadap proses pelayanan resep racikan yang ada di apotek-apotek

tersebut dan wawancara terstruktur pada apoteker dan asisten apoteker yang

bertugas dalam melayani resep racikan tersebut. Kesalahan-kesalahan pada fase

dilakukan oleh apoteker atau asisten apoteker, juga melalui wawancara terstruktur

baik pada apoteker maupun asisten apoteker.

Wawancara terstruktur dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor

penyebab terjadinya medication error pada fase transcribing dan cara-cara yang

dapat digunakan untuk mengatasinya.

Penelitian dilakukan di 4 apotek yang tersebar di Kabupaten Sleman.

Selama bulan Februari 2014, peneliti melakukan pengambilan data resep racikan

di 2 apotek yang telah dipilih, dan pengambilan data selanjutnya dilakukan selama

bulan Maret 2014 di 2 apotek selanjutnya.

1. Observasi awal

Observasi awal dilakukan dengan melakukan analisis situasi di Dinas

Kesehatan Kabupaten Sleman untuk mengetahui populasi resep racikan yang ada

di wilayah tersebut. Langkah selanjutnya adalah mencari dan menentukan

apotek-apotek yang berada di masing-masing cluster area pada wilayah Kabupaten

Sleman yang akan digunakan oleh peneliti sebagai lokasi penelitian.

2. Permohonan izin dan kerjasama

Permohonan izin untuk penelitian ditujukan kepada pengelola apotek

setempat melalui proposal yang diajukan. Permohonan ijin selanjutnya ditujukan

kepada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten

Sleman dan Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas

Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk memperoleh ethical

selanjutnya peneliti bersiap untuk mengambil data di apotek-apotek yang telah

ditentukan.

3. Pengambilan Data

Peneliti membagi wilayah kabupaten Sleman menjadi 4 cluster area dan

pembagian culster area berdasarkan pada karakterisitk sumberdaya yang ada di

Kabupaten Sleman.

Gambar 3. Peta Kabupaten Sleman (Pemerintah Kabupaten Sleman, 2013)

Berdasarkan karakteristik sumberdaya yang ada, wilayah Kabupaten

Sleman terbagi menjadi 4 wilayah, yaitu :

a. Kawasan lereng Gunung Merapi, dimulai dari jalan yang menghubungkan

kota Tempel, Turi, Pakem dan Cangkringan (ringbelt) sampai dengan puncak

gunung Merapi. Wilayah ini merupakan sumber daya air dan ekowisata yang

b. Kawasan Timur yang meliputi Kecamatan Prambanan, sebagian

Kecamatan Kalasan dan Kecamatan Berbah. Wilayah ini merupakan tempat

peninggalan purbakala (candi) yang merupakan pusat wisata budaya dan daerah

lahan kering serta sumber bahan batu putih.

c. Wilayah Tengah yaitu wilayah aglomerasi kota Yogyakarta yang meliputi

Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok dan Gamping. Wilayah ini

merupakan pusat pendidikan, perdagangan dan jasa.

d. Wilayah Barat meliputi Kecamatan Godean, Minggir, Seyegan dan

Moyudan merupakan daerah pertanian lahan basah yang tersedia cukup air dan

sumber bahan baku kegiatan industri kerajinan mendong, bambu serta gerabah

(Pemerintah Kabupaten Sleman, 2013).

Berdasarkan karakteristik yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti

membagi wilayah Kabupaten Sleman menjadi 4 cluster area dan dari satu cluster

area, nantinya akan dipilih satu apotek yang akan dijadikan lokasi penelitian yang

dianggap mewakili cluster area tersebut. Keempat cluster area yang dimaksud

yaitu:

a. Cluster utara terdiri dari kecamatan Tempel, Turi, Pakem, Cangkringan

b. Cluster selatan terdiri dari kecamatan Sleman, Mlati, Ngaglik, Depok,

Ngemplak, Gamping

c. Cluster barat terdiri dari kecamatan Godean, Minggir, Seyegan, Moyudan

d. Cluster timur terdiri dari kecamatan Prambanan, Kalasan, Berbah

Cluster sampling merupakan proses penarikan sampel secara acak pada

wilayah (kodya, kecamatan, kelurahan, dst.) Cara ini sangat efisien bila populasi

tersebar luas sehingga tidak mungkin untuk membuat seluruh daftar populasi

tersebut (Sastroasmoro dan Ismael, 2010).

Keuntungan metode cluster sampling antara lain yaitu metode ini

merupakan salah satu metode yang ekonomis, dapat menghemat biaya untuk

jumlah sampel yang besar. Kerugian metode ini antara lain yaitu tidak dapat

keberagaman yang terdapat dalam suatu komunitas (cluster) dan standar error

yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan desain sampling yang lain dengan

jumlah sampel yang sama besar (Ahmed, 2009).

a. Data resep racikan

Data yang diambil berupa data resep racikan yang masuk pada bulan

Februari dan Maret 2014, selanjutnya data yang telah didapat akan diteliti dengan

menggunakan buku acuan yang telah ditentukan untuk menganalisis peresepan

obat dan untuk mengetahui jenis error yang terjadi pada fase prescribing.

b. Data wawancara terstruktur

Dilakukan observasi dengan metode accidental sampling untuk

mengetahui error yang terjadi pada fase transcribing. Selanjutnya dilakukan

wawancara terstruktur pada apoteker dan asisten apoteker yang bertugas dalam

melayani resep racikan yang diterima di apotek-apotek tersebut. Jumlah minimal

apoteker dan asisten apoteker yang akan diwawancarai yaitu masing-masing satu

orang apoteker dan satu orang asisten apoteker untuk mewakili satu apotek.

Apoteker dan asisten apoteker terlebih dahulu diberikan penjelasan terkait dengan

informed-consent untuk menyatakan kesediaannya dalam berpartisipasi pada

penelitian ini.

Apoteker dan asisten apoteker yang tidak bersedia untuk menandatangani

lembar informed-consent tidak akan diwawancarai dan terdapat dua apoteker yang

tidak bersedia diwawancarai dari empat apotek tersebut. Wawancara terstrukur

dilakukan untuk mengetahui pandangan dari pihak apoteker maupun apoteker

mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya medication error yang terjadi pada

fase transcribing serta cara-cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kesalahan

tersebut.

4. Pengolahan data

a. Data resep racikan

Data resep racikan yang diperoleh kemudian akan dijabarkan dan

dievaluasi satu per satu meliputi data kelengkapan persyaratan administratif yang

terdapat pada resep tersebut dan kejadian medication error yang terjadi selama

proses pelayanan resep racikan tersebut.

b. Data wawancara tersruktur

Hasil wawancara terstruktur yang didapatkan dari apoteker dan asisten

apoteker yang berada di apotek-apotek tersebut akan ditampilkan dalam bentuk

tabel dan detail mengenai pertanyaan dan jawaban yang didapatkan dari pihak

apoteker dan asisten apoteker akan dipaparkan dalam bagian lampiran.

I. Analisis Hasil

Data yang diperoleh akan dibahas dalam bentuk uraian dan dalam bentuk

kelompok, kemudian dilakukan penghitungan jumlah kejadian setiap kelompok

dan penyebab kejadian, kemudian dihitung persentase dari masing-masing

kejadian medication error yang ada, baik pada fase prescribing maupun pada fase

transcribing.

Analisis prescribing error dilakukan pada seluruh data resep racikan

yang didapatkan dengan menggunakan beberapa buku acuan seperti Drug

Information Handbook (DIH) 20th edition oleh Lacy, Amstrong, Goldman, dan Lance (2011), Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI) oleh Badan

Pengawas Obat dan Makanan (2008), MIMS Indonesia edisi 12 oleh Pramudianto

dan Ebaria (2012), Martindale the Complete Drug Reference 36th edition oleh Sweetman (2009) dan Stockley Drug’s Interaction 9th edition oleh Baxter (2010).

Analisis transcribing error dilakukan berdasarkan pada hasil observasi

yang telah didapatkan oleh peneliti pada proses pelayanan resep racikan yang

teramati di apotek-apotek yang menjadi lokasi penelitan selama bulan Februari

dan Maret 2014. Kemudian dibahas data wawancara terstruktur yang telah

dilakukan pada para apoteker maupun asisten apoteker untuk mengetahui

faktor-faktor penyebab terjadinya medication error pada fase transcribing dan cara yang

dapat digunakan untuk mengatasi error tersebut.

Dokumen terkait