• Tidak ada hasil yang ditemukan

Medication error dalam fase prescribing dan transcribing pada resep racikan : studi kasus di empat apotek di Kabupaten Sleman - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Medication error dalam fase prescribing dan transcribing pada resep racikan : studi kasus di empat apotek di Kabupaten Sleman - USD Repository"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Archie Tobias
  • Pengajar:
    • Ipang Djunarko, M. Sc., Apt.
    • Phebe Hendra, M. Si., Ph. D., Apt.
    • Yohanes Dwi Atmaka, M. Si.
    • Aris Widayati, M. Si., Ph.D., Apt.
    • Maria Wisnu Donowati, M. Si., Apt.
    • Dr. Rita Suhadi, M. Si., Apt.
  • Sekolah: Universitas Sanata Dharma
  • Mata Pelajaran: Farmasi
  • Topik: Medication Error Dalam Fase Prescribing Dan Transcribing Pada Resep Racikan
  • Tipe: Skripsi
  • Tahun: 2014
  • Kota: Yogyakarta

I. PENGANTAR

Bab ini menjelaskan latar belakang pentingnya peresepan obat dan pengaruhnya terhadap kesehatan pasien. Proses peresepan merupakan bagian krusial dalam terapi medis, di mana kesalahan dalam fase ini dapat menyebabkan medication error yang berpotensi merugikan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi angka kejadian medication error dalam fase prescribing dan transcribing pada resep racikan di apotek-apotek di Kabupaten Sleman. Dengan memahami kesalahan yang terjadi, diharapkan dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan yang lebih efektif.

1.1. Latar Belakang

Peresepan obat adalah kegiatan yang umum di dunia kefarmasian, di mana resep racikan memerlukan keahlian dalam perhitungan dosis dan teknik pencampuran. Kesalahan dalam proses ini, yang dikenal sebagai medication error, dapat terjadi pada berbagai tahap, termasuk prescribing dan transcribing. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan medication error, serta untuk memberikan rekomendasi untuk meningkatkan keamanan dalam proses peresepan.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis angka kejadian medication error pada fase prescribing dan transcribing di empat apotek di Kabupaten Sleman. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis medication error yang terjadi serta cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di apotek.

II. PENELAAHAN PUSTAKA

Bab ini membahas teori-teori dan literatur yang berkaitan dengan peresepan obat, pelayanan resep di apotek, dan medication error. Penelitian sebelumnya yang relevan akan dikaji untuk memberikan konteks pada studi ini. Pengetahuan tentang proses peresepan dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kesalahan dalam peresepan obat akan menjadi dasar bagi analisis yang dilakukan dalam penelitian ini.

2.1. Peresepan Obat

Peresepan obat adalah proses yang melibatkan dokter dan apoteker dalam memberikan obat kepada pasien. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap untuk menghindari kesalahan. Proses ini melibatkan berbagai elemen, termasuk identifikasi pasien, penulisan dosis, dan cara pemberian obat. Ketidaklengkapan atau ketidakjelasan dalam resep dapat menyebabkan medication error yang berbahaya bagi pasien.

2.2. Medication Error

Medication error adalah kesalahan yang terjadi dalam proses penggunaan obat, termasuk prescribing, transcribing, dispensing, dan administration. Kesalahan ini dapat memiliki dampak serius pada kesehatan pasien. Dalam konteks penelitian ini, fokus utama adalah pada fase prescribing dan transcribing, di mana kesalahan dapat terjadi akibat berbagai faktor seperti komunikasi yang buruk, kesalahan penulisan, dan kurangnya informasi.

III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan desain penelitian yang digunakan, termasuk jenis dan rancangan penelitian, serta teknik pengambilan data. Metodologi yang tepat sangat penting untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional untuk menganalisis kejadian medication error di apotek.

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus untuk menganalisis kejadian medication error pada fase prescribing dan transcribing di empat apotek di Kabupaten Sleman. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara dengan apoteker dan asisten apoteker. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang praktik peresepan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan.

3.2. Teknik Pengambilan Data

Teknik pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk menilai praktik peresepan di apotek, sementara wawancara dilakukan untuk mendapatkan perspektif dari apoteker dan asisten apoteker mengenai faktor-faktor yang menyebabkan medication error. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi pola dan tren dalam kejadian kesalahan.

IV. HASIL dan PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis data, termasuk angka kejadian medication error dan jenis-jenis kesalahan yang ditemukan. Pembahasan akan mengaitkan hasil penelitian dengan teori dan literatur yang telah dibahas sebelumnya, serta memberikan rekomendasi untuk praktik yang lebih baik di masa depan.

4.1. Angka Kejadian Medication Error

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat angka kejadian medication error sebesar 50% pada fase prescribing dan 59% pada fase transcribing. Angka ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dalam proses peresepan obat di apotek, terutama dalam hal komunikasi dan pelatihan bagi apoteker.

4.2. Jenis Medication Error

Jenis-jenis medication error yang ditemukan termasuk wrong dose, interaksi obat, dan kontraindikasi. Kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kesalahan dalam penulisan resep dan kurangnya pemahaman tentang obat oleh apoteker. Penting untuk mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan ini agar langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat diterapkan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini memberikan kesimpulan dari penelitian serta saran untuk perbaikan di masa depan. Kesimpulan mencakup ringkasan temuan utama, sedangkan saran berfokus pada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi kejadian medication error di apotek.

5.1. Kesimpulan

Penelitian ini menemukan bahwa medication error terjadi dengan angka yang signifikan pada fase prescribing dan transcribing. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan dalam prosedur peresepan dan pelatihan bagi apoteker untuk mengurangi risiko kesalahan yang dapat membahayakan pasien.

5.2. Saran

Saran yang diberikan termasuk peningkatan pelatihan bagi apoteker, penggunaan teknologi untuk mendukung proses peresepan, serta pengembangan pedoman yang lebih ketat dalam penulisan resep. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kejadian medication error dapat diminimalisir dan kualitas pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan.

Gambar

Tabel I.      Indeks Medication Errors Untuk Kategori Error (berdasarkan
Gambar 1.    Contoh Resep .............................................................................
Gambar 1. Contoh Resep (Syamsuni, 2005)
Gambar 2. Contoh Resep Racikan (Syamsuni, 2005)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan penelitian mengenai pola penggunaan obat dalam upaya pasien melakukan pengobatan sendiri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.. Penelitian bersifat deskriptif

Panduan wawancara dibuat dengan memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ME meliputi pertanyaan mengenai penyebab terjadinya ME dan usaha yang telah dilakukan sebagai

Studi selanjutnya penting untuk melakukan eksplorasi dan menemukan metode terbaik untuk mengatasi masalah pelayanan kesehatan dalam konteks waktu tunggu pasien

Jenis kelamin merupakan salah satu aspek yang diperlukan dalam perencanaan dosis karena dapat mempengaruhi faktor dosis obat pada pasien, ketidaklengkapan

Pemberian informasi obat di apotek, baik dalam pelayanan resep maupun pelayanan swamedikasi adalah hal yang sangat penting untuk memastikan pasien menggunakan obat

Pemberian informasi obat di apotek, baik dalam pelayanan resep maupun pelayanan swamedikasi adalah hal yang sangat penting untuk memastikan pasien menggunakan obat

Faktor-faktor kendala dalam melakukan pelayanan obat non racikan pasien PRB BPJS Kesehatan U1 U2 U3 U4 K1 T1 T2 Bridging, miss komunikasi antara FKTP, RS sama Apotek PRB Kekurangan

“Keberhasilan pengobatan juga di- pengaruhi oleh faktor pasien kepatuhan dalam minum obat, faktor pengawas menelan obat PMO dan faktor obat/suplai obat.4 Kepatu- han sangat penting