• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

E. Tata Cara Penelitian

Analisis situasi dilakukan dengan penelusuran pustaka dari buku-buku dan penelitian sejenis. Penelusuran pustaka ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai permasalahan yang akan diteliti.

2. Perumusan masalah

Sebelum pembuatan kuisioner dilakukan perumusan masalah terlebih dahulu. Pada penelitian ini dilakukan penentuan masalah yang akan diteliti dengan melihat pustaka yang ada.

3. Penentuan subyek penelitian

Subyek uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokter umum yang berpraktek di rumah sakit swasta di Kota Yogyakarta. Kriteria rumah sakit swasta yang digunakan untuk penelitian adalah rumah sakit yang minimal memiliki 2 farmasis dan telah melakukan pelayanan farmasi klinik. Berdasarkan hasil wawancara langsung, rumah sakit swasta di Kota Yogyakarta yang memenuhi kriteria di atas adalah R.S Panti Rapih, R.S. Bethesda dan R.S. P.K.U. Muhamadiyah 4. Pembuatan kuisioner

Kuisioner merupakan alat pengumpulan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis, untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden (Nawawi, 1998). Pembuatan kuisioner dilakukan tahap-tahap sebagai berikut: a. Penyusunan kuisoner

Penyusunan kuisioner didasarkan pada fungsi pelayanan farmasis klinik yang tercantum dalam KepMenKes R.I. No. 1197 tahun 2004 dan

berdasarkan harapan perkembangan farmasis klinik. Kuisioner terdiri dari 25 pertanyaan. Dari 25 pertanyaan, 19 pertanyaan mengenai persepsi terhadap peran farmasis klinik di rumah sakit, sedangkan 6 pertanyaan mengenai harapan terhadap perkembangan peran farmasis klinik di rumah sakit. Kuisioner berupa pertanyaan favorable dan pertanyaan unfavorable. Pertanyaan favorable merupakan pertanyaan yang isinya mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya atribut yang akan diukur. Pertanyaan

unfavorable merupakan pertanyaan yang tidak mendukung, berlawanan, tidak memihak ataupun tidak menunjukkan ciri atribut yang diukur (Hadi, 1991). Kedua pendekatan ini digunakan untuk menghindari adanya stereotipe pada subyek penelitian. Tabel 1. Kuisioner Jenis Pertanyaan No Pertanyaan P/H F/Uf 1. Farmasis adalah sebuah profesi yang menekuni ruang

lingkup obat dan bertanggung jawab penuh pada pelayanan obat dan alat kesehatan.

P F

2. Farmasis pada perkembangannya harus mulai berorientasi pada pasien lebih dari berorientasi pada produk.

P F

3. Farmasis harus memberikan perhatian pertama dan utama kepada kesejahteraan pasien dengan segala aspeknya.

P F

4. Farmasis bertanggung jawab dalam memantau penggunaan obat baik pada pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan.

P F

5. Farmasis bertanggung jawab dalam menganalisis efektivitas biaya.

P F 6. Farmasis tidak harus ikut bertanggung jawab dalam

penyusunan formularium obat.

P Uf 7. Farmasis harus dapat berkomunikasi dengan dokter

dan tenaga kesehatan lain, serta berpartisipasi dalam membahas masalah terapi yang diberikan pada pasien.

Tabel 1. Lanjutan

8. Farmasis harus mendokumentasi setiap kegiatan untuk dilakukan evaluasi terhadap pelayanan kefarmasian.

P F 9. Farmasis harus terlibat langsung dalam perumusan

segala keputusan yang berhubungan dengan pelayanan farmasi dan penggunaan obat.

P F

10. Farmasis bertanggung jawab dalam memberikan informasi mengenai obat kepada dokter dan perawat.

P F 11. Farmasis harus bertanggung jawab mengenai masalah

yang berkaitan dengan penggunaan obat (drugs related problem).

P F

12. Farmasis tidak bertanggung jawab dalam pemantauan kadar obat dalam darah (terapeutic drugs monitoring).

P Uf 13. Farmasis tidak harus menangani pencampuran obat

suntik.

P Uf 14. Farmasis tidak harus menangani nutrisi parenteral. P Uf 15. Farmasis harus menangani obat kanker atau sitostatika. P F 16. Farmasis dapat mengakses penyakit dan riwayat

pengobatan pasien dalam rekam medis untuk memantau penggunaan obat yang rasional.

P F

17. Farmasis dapat membantu menentukan terapi yang tepat bagi pasien dan memberikan masukan pada dokter dalam peresepan.

P F

18. Farmasis tidak perlu memberikan konseling obat baik pada pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan

P F 19. Keterlibatan farmasis seperti yang telah disebutkan di

atas sangat membantu dokter dan tenaga kesehatan lain dalam memaksimalkan proses terapi.

P F

20. Pada perkembangan farmasi di masa mendatang, farmasis dapat mendampingi dokter dalam pemeriksaan serta memberikan saran dalam peresepan obat.

H F

21. Pada perkembangan farmasi di masa mendatang farmasis dapat ikut mendiskusikan hasil pemeriksaan baik fisik maupun laboratorium bersama dengan dokter untuk memutuskan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat bagi pasien.

H F

22. Pada perkembangan farmasi di masa mendatang, farmasis dapat menentukan obat sesuai dengan diagnosis dokter seperti yang telah dipraktekkan oleh beberapa negara maju.

H F

23. Pada perkembangan farmasi di masa mendatang, farmasis dapat ikut dalam visitasi, siap memberikan saran tentang terapi pasien dan dapat menuliskan hasil

assessment-nya di medical record.

Tabel 1. Lanjutan

24. Pada perkembangan farmasi di masa mendatang, farmasis dapat dispesialisasikan agar dapat bekerja sesuai bidang spesialisasinya, dan dapat bekerjasama dengan dokter spesialis.

H F

25. Keterlibatan farmasis secara langsung pada pasien bersama-sama dengan dokter sangat membantu dokter dalam menjamin terlaksananya proses terapi yang tepat bagi pasien.

H F

Keterangan :

P : Persepsi terhadap peran farmasis klinik

H : Harapan terhadap perkembangan peran farmasis klinik F : Pertanyaan favorable

Uf : Pertanyaan unfavorable

b. Uji validitas isi

Validitas adalah ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menjalankan fungsi ukurnya. Artinya sejauh mana alat ukur itu mampu mengukur atribut yang dirancang untuk mengukurnya (Azwar, 2003b).

Validitas isi adalah validitas yang mempertanyakan bagaimana kesesuaian antara instrumen dengan tujuan dan deskripsi bahan yang diajarkan atau deskripsi masalah yang akan diteliti (Nurgiyantoro, 2002).

Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes/kuisioner dengan analisis rasional atau lewat professional judgment. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana pertanyaan dalam tes/kuisioner mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau sejauh mana isi tes/kuisioner mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Isi dari kuisioner tersebut

tidak saja harus komprehensif akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur (Azwar, 2003a).

Dalam hal ini penyusunan instrumen (kuisioner) haruslah mendasarkan diri pada kisi-kisi yang sengaja disiapkan untuk tujuan tersebut. Sebelum kisi-kisi dijadikan pedoman penyusunan butir-butir soal instrumen penelitian, terlebih dahulu harus ditelaah dan dinyatakan baik. Penelaah harus dilakukan oleh orang yang berkompeten di bidang yang bersangkutan, atau yang dikenal dengan istilah penilaian oleh ahlinya (Expert judgment) (Nurgiyantoro, 2002).

Validitas isi tergantung pada penilaian subyektif individual. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan perhitungan statistik apapun melainkan hanya analisis rasional maka tidaklah diharapkan setiap orang akan sependapat mengenai sejauh mana validitas isi suatu tes/kuisioner telah tercapai (Azwar, 2003b).

Uji validitas dengan topik permasalahan mengenai farmasis klinik harus dilakukan bersama dengan ahli mengenai farmasis klinik. Uji ini dilakukan untuk melihat kesesuaian mengenai tujuan yang akan diukur dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1197/Menkes/SK/X/2004.

c. Uji pendahuluan

Uji pendahuluan dalam penelitian ini adalah uji pemahaman bahasa. Uji pemahaman bahasa ini bertujuan untuk melihat apakah tata bahasa dalam kuisioner ini dapat dipahami maknanya oleh responden. Uji pemahaman

bahasa ini tidak dilakukan karena jumlah subyek penelitian yang relatif kecil. Uji validitas isi diasumsikan sudah mewakili uji pemahaman bahasa.

d. Uji reliabilitas

Reliabilitas (reliability, keterpercayaan) menunjuk pada pengertian apakah sebuah instrumen dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu (Nurgiyantoro, 2002). Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

Reliabilitas kuisioner pada penelitian ini tidak perlu diuji lagi karena pertanyaan dalam kuisioner berupa pertanyaan langsung terarah pada informasi mengenai data yang hendak diungkap. Data yang termaksud berupa fakta atau opini yang menyangkut diri responden. Reliabilitas hasil kuisioner terletak pada terpenuhinya asumsi bahwa responden akan menjawab dengan jujur seperti apa adanya (Azwar, 2003b).

5. Penyebaran dan pengumpulan kuisioner

Kuisioner disebarkan kepada dokter umum yang berpraktek di R.S Panti Rapih, R.S. Bethesda, R.S. P.K.U. Muhamadiyah secara langsung dengan menyertakan proposal penelitian. Responden yang digunakan adalah dokter umum yang bersedia mengisi kuisioner. Peneliti akan mendampingi responden selama pengisian kuisioner untuk membantu responden menjelaskan maksud dari kuisioner yang diajukan. Namun bila kemungkinan responden tidak dapat

mengisi kuisioner pada saat kuisioner dibagikan, maka kuisioner akan ditinggal selama 2-3 hari kemudian diambil lagi pada hari berikutnya. Bila responden benar-benar tidak memungkinkan untuk ditemui karena aturan dari rumah sakit tersebut, maka kuisioner hanya akan dititipkan pada sekretaris dokter umum bagian UGD atau bagian pelayanan medik selama beberapa minggu, kemudian diambil pada hari yang sudah ditentukan. Waktu penyebaran hingga pengumpulan kuisioner dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2006.

6. Penentuan penggunaan responden

Subyek uji pada penelitian ini adalah seluruh dokter umum yang praktek di rumah sakit swasta yang memiliki minimal 2 farmasis dan telah melakukan pelayanan farmasi klinik di Kota Yogyakarta. Dalam hal ini digunakan kriteria minimal memiliki dua farmasis karena dengan adanya farmasis yang lebih dari satu, orientasi pelayanan di rumah sakit tidak hanya orientasi pada aspek manajerial namun sudah mulai berorientasi pada aspek klinik atau dapat dikatakan sudah mulai mempraktekan pelayanan farmasis klinik. Responden yang digunakan adalah dokter umum yang bersedia mengisi kuisioner.

Dalam penelitian diperoleh data 3 rumah sakit swasta yang memiliki minimal 2 farmasis. Dari ketiga rumah sakit tersebut didapati 35 dokter umum. Tabel 2. Jumlah Farmasis Dan Dokter Umum Yang Terdaftar di Rumah Sakit

Swasta di Kota Yogyakarta

No Nama rumah sakit Jumlah farmasis Jumlah dokter umum

1. R.S. P.K.U. Muhamadiyah 7 16

2. R.S. Bethesda 9 11

Jumlah dokter umum yang bersedia mengisi kuisioner adalah sebagai berikut ini.

Tabel 3. Profil Responden No Nama rumah sakit Jumlah dokter

umum (Populasi)

Jumlah dokter umum yang bersedia mengisi kuisioner (Responden)

1. R.S. P.K.U. Muhamadiyah 16 15

2. R.S. Bethesda 11 7

3. R.S. Panti Rapih 8 4

Jumlah total 35 26

Dari 35 dokter umum, yang bersedia berpartisipasi mengisi kuisioner adalah 26 responden (74%). Menurut Sevilla, dkk. (1993) ukuran minimum jumlah subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah 10% dari populasi, namun untuk populasi yang sangat kecil diperlukan minimum 20%. Penelitian ini telah memenuhi kriteria minimum 20% dari anggota populasi.

7. Pengolahan dan analisis data

Data yang diperoleh dikelompokkan menurut tiap-tiap pertanyaan dalam kuisioner. Kemudian dianalisis dengan teknik analisis statistik deskripsi menggunakan persentase. Jawaban yang sama dikelompokkan dan dijumlahkan kemudian dihitung persentasenya dengan jumlah total 100%. Data ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram batang.

Dokumen terkait