• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEROLEHAN STATUS SEBAGAI PERUSAHAAN

A. Tata Cara Pengalihan Status Perusahaan Penanaman

Terjadinya pengalihan status perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) diakibatkan karena masuknya kepemilikan modal asing baik seluruhnya maupun sebagian ke dalam suatu perusahaan PMDN yang pada awalnya kepemilikan modal perusahaan tersebut sepenuhnya dimiliki oleh penanam modal dalam negeri.

Hal tersebut dapat dilihat dari pengertian PMDN dan PMA itu sendiri, yakni:

1. Penanaman modal dalam negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.159

2. Penanaman modal asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.160

159Ibid., Pasal 1 ayat (2).

160Ibid., Pasal 1 ayat (3).

Berdasarkan definisi dari PMDN dan PMA itu sendiri dapat dimengerti bahwa suatu perusahaan hanya dapat disebut sebagai perusahaan PMDN apabila kepemilikan modalnya secara seluruhnya merupakan milik penanam modal dalam negeri. Dan sekecil apapun modal asing yang masuk kedalam perusahaan PMDN akan mengubah status penanaman modal dari Penanaman Modal Dalam Negeri menjadi Penanaman Modal Asing.

Perubahan status perusahaan dari PMDN menjadi PMA juga mengakibatkan perubahan status anak perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan yang mengalami perubahan status tersebut. Setelah diperolehnya izin prinsip sebagai PMA, maka anak-anak perusahaanya juga diwajibkan untuk mengajukan izin prinsip serupa sebagai PMA sehingga seluruh anak perusahaan dari perusahaan yang mengalami perubahan status dari PMDN menjadi PMA juga wajib mengubah statusnya menjadi perusahaan PMA.161

Mengenai hal tersebut maka sebelum perusahaan PMDN menjual sahamnya kepada pemilik modal asing, perusahaan PMDN yang bersangkutan juga harus memperhatikan ketentuan bidang usaha tertutup dan terbuka dengan persyaratan di dalam penanaman modal. Karena menurut pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Penanaman Modal menyatakan bahwa pada umumnya semua bidang usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang memang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan.

Persyaratan inilah yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden Nomor 44

161http://www.gultomlawconsultants.com/peraturan-terbaru-mengenai-perizinan-di-bkpm (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016).

Tahun 2016 Tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Perpres ini lazim dikenal dengan Perpres Daftar Negatif Investasi (DNI).

Undang-Undang Penanaman Modal mengatur secara singkat mengenai Daftar Negatif Investasi sebagai berikut:162

1. Produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan 2. Bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan

undang-undang.

Oleh karena itu, jika bidang usaha perusahaan induk dan/atau anak perusahaan PMDN yang ingin memasukan kepemilikan modal asing termasuk dalam Daftar Negatif Investasi, maka kepemilikan modal perusahaan PMDN tersebut tidak dapat dijual ataupun dialihkan ke pemodal asing.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai perubahan status perusahaan PMDN menjadi PMA sebagai berikut:163

1. Jika ketika masih menjadi PMDN tidak memiliki izin prinsip dan belum memiliki izin usaha atau belum memiliki izin prinsip, perusahaan yang baru berubah wajib melakukan pendaftaran penanaman modal. Hal ini karena, setelah berubah menjadi PMA, kewenangan pemrosesan perizinan tidak lagi menjadi kewenangan

162Undang-Undang Penanaman Modal, Op.cit., Pasal 12 ayat (2).

163 http://forum-penanaman-modal.blogspot.co.id/2010/02/cara-mengalihkan-kepemilikan-saham.html (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016)

PTSP BKPMD (Permerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota) melainkan menjadi kewenangan PTSP BKPM (Pemerintah Pusat);

2. Jika ketika masih menjadi PMDN telah memiliki izin prinsip atau izin usaha, perusahaan yang baru berubah wajib mengajukan permohonan izin prinsip atau izin usaha penanaman modal. Hal ini karena setelah berubah menjadi PMA, kewenangan pemrosesan perizinan tidak lagi menjadi kewenangan PTSP BKPMD (Permerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota) melainkan menjadi kewenangan PTSP BKPM (Pemerintah Pusat);

3. Jika saat sebagai PMDN telah memiliki izin prinsip atau izin usaha pada bidang usaha yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota. Selanjutnya ketika berubah menjadi PMA harus mengajukan permohonan izin prinsip atau izin usaha ke PTSP BKPM (Pemerintah Pusat). Permohonan disertai surat pengantar dari PTSP provinsi atau PTSP kabupaten/kota yang berisi rencana masuknya modal asing. Jika permohonan tersebut tidak kunjung ditanggapi dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja, investor cukup melampirkan tanda terima pengajuan permohonan surat tersebut.

4. Apabila bidang usaha perusahaan merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota, perusahaan tersebut wajib melampirkan surat pengantar dari PTSP Perangkat Daerah Provinsi Penanaman Modal (PDPPM) atau PTSP Perangkat Daerah

Kabupaten/Kota (PDKPM) tentang rencana masuknya modal asing sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Perka BKPM 15/2015 sebelum mengajukan permohonan. Selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja PTSP PDPPM atau PTSP PDKPM belum menerbitkan surat pengantar, perusahaan dapat melampirkan tanda terima pengajuan permohonan tersebut.164

B. Pengambilalihan Perusahaan Terbuka

Pengambilalihan perusahaan terbuka artinya adalah tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan perubahan pengendali.165 Sedangkan pengendali perusahaan terbuka yang selanjutnya disebut sebagai pengendali adalah pihak yang memiliki saham lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh saham yang disetor penuh, atau pihak yang mempunyai kemampuan untuk menentukan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan cara apapun pengelolaan dan/atau kebijaksanaan perusahaan terbuka.166

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, setiap pihak yang melakukan penawaran tender untuk membeli efek emiten atau perusahaan publik wajib mengikuti ketentuan mengenai keterbukaan, kewajaran, dan pelaporan yang ditetapkan oleh Bapepam167

164

. Dan emiten atau perusahaan publik yang melakukan penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan

http://hukumpenanamanmodal.com/kepemilikan-saham-asing/pengalihan-kepemilikan-saham-asing/ (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016)

165 Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.H.1 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka, Angka 1 tentang Ketentuan Umum, Huruf D.

166Ibid. Angka 1, Huruf C.

167Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, tentang Pasar Modal, Pasal 83.

perusahaan lain wajib mengikuti ketentuan mengenai keterbukaan, kewajaran, dan pelaporan yang ditetapkan oleh Bapepam dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.168

Mengenai ketentuan pengambilalihan perusahaan terbuka dapat dilihat pada Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor IX.H.1 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka Angka 3 mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka sebagai berikut:169

a. Pihak yang melakukan pengambilalihan wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) Mengumumkan dalam paling sedikit satu surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional, serta menyampaikan kepada Bapepam dan LK perihal terjadinya pengambilalihan paling lambat satu hari kerja setelah terjadinya pengambilalihan, informasi yang meliputi:

a) Jumlah seluruh saham yang diambil alih dan total kepemilikan sahamnya;

b) identitas diri yang meliputi nama pihak, alamat, telepon, faksimili, jenis usaha (jika ada), serta tujuan pengendalian; dan c) pernyataan bahwa pengendali baru adalah kelompok yang

terorganisasi, dalam hal pengendali baru adalah kelompok yang terorganisasi; dan

2) Melakukan penawaran tender wajib, kecuali terhadap:

168Ibid., Pasal 84.

169 Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.H.1, Op.cit., Angka 3.

a) Saham yang dimiliki pemegang saham yang telah melakukan transaksi pengambilalihan dengan pengendali baru;

b) saham yang dimiliki pihak lain yang telah mendapatkan penawaran dengan syarat dan kondisi yang sama dari pengendali baru;

c) saham yang dimiliki pihak lain yang pada saat bersamaan juga melakukan penawaran tender wajib atau penawaran tender sukarela atas saham perusahaan terbuka yang sama;

d) saham yang dimiliki pemegang saham utama; dan

e) saham yang dimiliki oleh pengendali lain perusahaan terbuka tersebut.

b. Perusahaan Terbuka yang diambil alih tidak wajib memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kecuali apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur bidang usaha perusahaan terbuka yang diambil alih.

c. Dalam hal pengambilalihan dilakukan oleh perusahaan terbuka, maka perusahaan terbuka tersebut tidak wajib memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS mengenai pengambilalihan, kecuali apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur bidang usaha perusahaan terbuka yang melakukan pengambilalihan.

d. Dalam setiap pengambilalihan, apabila antara pemegang saham utama atau pengendali dengan calon pengendali baru membuat suatu kontrak atau aktivitas yang mengakibatkan adanya:

1) Penggunaan sumber daya Perusahaan Terbuka yang akan diambil alih dalam jumlah yang material;

2) perubahan perjanjian atau kesepakatan yang sudah dibuat oleh perusahaan terbuka yang akan diambil alih; atau

3) perubahan terhadap standar prosedur operasional Perusahaan Terbuka yang akan diambil alih;

C. Akibat Hukum Pengalihan Status Perusahaan Terbuka Penanaman Modal Dalam Negeri Menjadi Perusahaan Penanaman Modal Asing

Seperti yang telah dibahas pada Bab-Bab sebelumnya, bahwa Perusahaan penanaman modal langsung (Tertutup) dan perusahaan penanaman modal tidak langsung (Portofolio/Terbuka/Tbk.) tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berbeda. Dimana Perusahaan Penanaman Modal Tertutup secara umum tunduk kepada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, sedangkan perusahaan penanaman modal terbuka atau yang sudah mencatatkan sahamnya ke bursa efek/pasar modal tunduk kepada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Pengalihan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing mengharuskan perusahaan terbuka untuk melalui proses-proses sebagaimana yang sudah dipaparkan pada sub-bab sebelumnya. Proses tersebut tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat.

Keluarnya Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal ditujukan untuk mempermudah proses tata cara izin prinsip penanaman modal di Indonesia. Namun, di dalam perka BKPM tersebut, tepatnya pada pasal 25 ayat (3) mengharuskan perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri berubah status menjadi perusahaan penanaman modal asing jika terdapat penanam modal asing yang masuk ke dalam perusahaan terbuka tersebut.170

Klausul tersebut dianggap Tito Sulistio selaku Direktur Utama Bursa Efek Indonesia tidak masuk akal, mengingat perputaran saham (modal) yang terjadi di pasar modal (Bursa Efek) sangat cepat dan berasal dari berbagai macam negara.

Dengan adanya Pasal 25 ayat (3) Perka BKPM nomor 14 tahun 2015 tersebut maka akan menimbulkan perubahan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri berubah status menjadi perusahaan penanaman modal asing setiap harinya.171

Tito Sulistio mengatakan bahwa pihaknya menganggap tidak ada perubahan apa-apa di pasar modal, karena bursa dan umumnya pasar modal itu sifatnya "lex specialis" (bersifat khusus) dengan adanya Undang-Undang nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal. Tito sulistio juga menambahkan “Di dalam pasal 154 ayat (1) Undang-Undangnomor 40 tahun 2007 tentang PT (Perseroan Terbatas) juga disebutkan, bahwa ketentuan di dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas berlaku selama tidak bertentangan dengan Undang-Undang nomor 5

170Perka BKPM No. 14 Tahun 2015, Op.cit., Pasal 25 ayat (3).

171 http://www.jurnalasia.com/2015/11/05/bei-tentang-kebijakan-sepihak-bkpm-soal-emiten/ (Diakses pada tanggal 27 Mei 2016).

tahun 1995 tentang Pasar Modal. Jadi buat saya, saya menganggap tidak ada perubahan apa-apa.”172

Tito Sulistio juga menambahkan bahwa seharusnya klausul tersebut hanya diberlakukan untuk perusahaan penanaman modal tertutup (langsung) saja, karena perputaran saham/kegiatan jual-beli saham pada perusahaan penanaman modal tertutup lebih stabil dan tidak terjadi setiap harinya. Sesuai dengan pengertian perusahaan penanaman modal asing itu sendiri, yaitu kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.173

172

Begitu pula dengan penjelasan pasal 2 Undang-Undang nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “penanaman modal di semua sektor di wilayah negara Republik Indonesia” adalah penanaman modal langsung dan tidak termasuk penanaman modal tidak langsung atau portofolio.

http://rimanews.com/ekonomi/investasi/read/20151105/243247/dirut, (diakses pada tanggal 8 Juli 2016)

173Undang-Undang Penanaman Modal, Loc.cit., Pasal 1 ayat (3).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan pada pembahasan mengenai analisis yuridis perubahan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Perusahaan penanaman modal memiliki kedudukan yang kuat di dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Hal ini terwujud karena terdapat berbagai macam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penanaman modal itu sendiri seperti Undang-Undang No 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang berlaku secara umum, dan untuk yang lebih khusus lagi (Lex Specialis) terdapat Undang-Undang No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (Penanaman Modal Tidak Langsung), Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Penanaman Modal berbentuk PT), dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berhubungan dengan penanaman modal, sehingga penanam modal bisa mendapatkan kepastian hukum dalam menanamkan modalnya di Indonesia.

2. Perolehan status sebagai perusahaan penanaman modal sangatlah penting.

Karena dengan memperoleh status tersebut, perusahaan penanaman modal itu sendiri bisa mendapatkan berbagai fasilitas, kemudahan, keringanan, dan yang paling penting adalah untuk mendapatkan kepastian hukum agar dapat mempermudah proses penyelesaian sengketa yang mungkin timbul dikemudian hari.

3. Pengalihan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing apabila terdapat pemodal asing di dalam perusahaan tersebut dianggap kurang efisien, karena proses pengalihan status perusahaan tersebut memerlukan proses yang terlalu lama dibandingkan dengan perputaran saham (modal) yang terjadi di bursa efek (pasar modal) yang begitu cepat dan tidak berhenti dari hari ke hari. Oleh karena itu, ada kemungkinan pemilik saham asing yang mengakibatkan pengalihan status perusahaan terbuka itu telah menjual sahamnya kembali sebelum proses pengalihan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing tersebut selesai.

B. Saran

Berdasarkan pada kesimpulan dari pembahasan mengenai analisis yuridis perubahan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing diatas, maka saran yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan peraturan perundang-undangan yang menyangkut tentang penanaman modal dapat secara terus menerus diperbaharui dan disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman, sehingga dapat terus menciptakan kepastian hukum terhadap penanam modal di Indonesia.

2. Dengan adanya pembaharuan peraturan perundang-undangan mengenai penanaman modal, sebaiknya proses yang harus dilalui untuk memperoleh status sebagai perusahaan penanaman modal juga dapat dipermudah dari

waktu ke waktu, begitu pula dengan pelayanan, kemudahan, fasilitas, sarana dan prasarana yang diberikan kepada perusahaan penanaman modal dapat terus dikembangkan sehingga dapat menarik minat dari penanam modal untuk menanamkan modalnya di Indonesia dikemudian hari.

3. Diharapkan pemerintah Indonesia memperhatikan kembali atau segera memperbaharui ketentuan mengenai pengalihan status perusahaan terbuka penanaman modal dalam negeri menjadi perusahaan penanaman modal asing agar tercipta penafsiran yang tidak membingungkan bagi penanam modal dan juga terhadap lembaga-lembaga negara yang bersangkutan mengenai penanaman modal di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Untung Hendrik, Hukum Investasi, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Rakhmawati Rosyidah, Hukum Penanaman Modal di Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi, Malang: Bayumedia Publishing, 2003.

Sembiring Sentosa, Hukum Investasi, Bandung: Nuansa Aulia, 2010.

Soekanto Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-Press, 1986.

Marzuki Peter, Penelitian Hukum, rev.ed. Jakarta: Prenadamedia Group, 2014.

Margono Sujud, Hukum Investasi Asing Indonesia, Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri, 2008.

Panjaitan Hulman, Hukum Penanaman Modal Asing, Jakarta: Ind-Hill Co, 2003.

Kairupan David, Aspek Hukum Penanaman Modal Asing di Indonesia, Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2013.

Rokhmatussa’dyah Ana, dan Suratman, Hukum Investasi dan Pasar Modal, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Rajagukguk Erman, Hukum Investasi di Indonesia, Jakarta: UI-Press, 2005.

Harjono, Dhaniswara K, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

H.S., Salim, dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta:

Rajagrafindo persada, 2008.

B. Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara izin prinsip Penanaman Modal.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Nonperizinan Penanaman Modal.

Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 17 Tahun 2017 tentang Pedoman Dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, tentang Pasar Modal.

C. Kamus/Ensiklopedia

John Downes, Jordan Elliot Goodman, Kamus Istilah Keuangan & Investasi, terj.

Soesanto Budhidarmo, (Jakarta : Penerbit Elex Media Komputendo, 1994).

A. Abdurrachman, Ensiklopedia Ekonomi keuangan Perdagangan, (Jakarta : Penerbit Radnya Paramita, 1991).

Winardi, Kamus Ekonomi (Inggris-Indonesia), (Bandung : Penerbit Alumni, 1982).

A.F.Elly Erawaty, J.S.Badudu, Kamus Hukum Ekonomi Indonesia Inggris, (Jakarta : Penerbit ELIPS, 1996).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, 1995).

D. Website

www.wikipedia.org, (diakses pada tanggal 19 April. 2016).

www.bkpm.go.id, (diakses pada tanggal 19 April 2016).

Bram Pratama, Direct Investment & Indirect Investment, diakses dari http://resumehukum.blogspot.co.id/2014/03/direct-investment-indirect-investment_25.html, (diakses pada tanggal 19 April 2016).

Rachmadsyah Shanti, Perbedaan Perusahaan Terbuka dan Tertutup, diakses dari http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl66/perbedaan-perusahaan-terbuka-dan-tertutup, (diakses pada tanggal 18 Juni 2016).

Pokok-Pokok Hukum Investasi Indonesia, diakses dari

https://budhivaja.dosen.narotama.ac.id/files/2012/02/HKINVEST-2012-Capter-IV.pdf, (diakses pada tanggal 19 Juni 2016).

Penerapan Liberalisasi Dalam RUU PM Tidak Tepat, daikses dari

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15450/penerapan-liberalisasi-dalam-ruu-pm-tidak-tepat, (diakses pada tanggal 29 April 2016).

Sadli, Iklim Investasi Dan Undang-Undang Baru, diakses dari http://kolom.pacific.net.id/ind/prof_m._sadli/artikel_prof_m._sadli/iklim_i nvestasi_dan_undang-undang_baru.html, (diakses pada 29 April 2016).

Sebastian Edwin, Artikel Penanaman Modal Asing, diakses dari

https://sebastianedwin.wordpress.com/2013/06/28/artikel-penanaman-modal-asing-tugas-perekonomian-indonesia, (diakses pada tanggal 15 Juni 2016).

Arto Sugi, Unsur-Unsur Perseroan Terbatas (Naamloze

Vennootschap/“corporation”), diakses dari

http://artonang.blogspot.co.id/2016/02/unsur-unsur-perseroan-terbatas-naamloze.html, (diakses pada tanggal 20 Juni 2016).

Anonim, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50759704ac972/mengapa-penanaman-modal-asing-harus-dalam-bentuk-pt, (diakses pada tanggal 9 Mei 2016).

Rachmadsyah Shanti, Modal PT, diakses dari http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4cd0bd0284a71/modal-pt,

(diakses pada tanggal 20 Juni 2016).

Pendirian Perseroan Terbatas (PT),https://gabenta.wordpress.com/2011/06/11/pendirian-pt/, (diakses

pada tanggal 20 Juni 2016).

Rachmadsyah Shanti, Hukum Perusahaan, diakses dari

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4bf2cc7d1817b/hukum-perusahaan, (diakses pada tanggal 20 Juni 2016).

Arianta Atmadja, Doktrin piercing The Coorporate Veil, diakses dari http://arianataatmadja.blogspot.co.id/2012/01/doktrin-piercing-corporate-veil.html, (diakses pada tanggal 20 Juni 2016).

Isma Dhanie, Hukum Penanaman Modal, diakses dari

http://ismadhanielegal.blogspot.co.id/2013/11/hukum-penanaman-modal.html, (diakses pada tanggal 9 Mei 2016).

Damanik Ericson, Pengertian Dan Tujuan Penanaman Modal Asing Menurut Ahli, diakses dari http://pengertian-pengertian-

info.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-tujuan-penanaman-modal.html, (diakses pada tanggal 11 Mei 2016).

Sri Retno Wahyuningsih, Firdaus Abdullah,

4-fasilitas-fiskal-penanaman-modal.pdf, diakses dari

https://kumpulanperaturanp2t.files.wordpress.com/2012/08/4-fasilitas-fiskal-penanaman-modal.pdf, (diunduh pada tanggal 13 mei 2016).

Sudaryanto, Tiny Moezahar, 5-fasilitas-non-fiskal-penanaman-modal.pdf, diakses dari https://kumpulanperaturanp2t.files.wordpress.com/2012/08/5-fasilitas-non-fiskal-penanaman-modal.pdf, (diunduh pada tanggal 13 Mei 2016).

http://bkpmd.bengkuluprov.go.id, (diakses pada tanggal 14 Mei 2016).

Suerani, Ade, Otonomi Daerah Menuntut Komitmen dan Konsistensi Pemerintah, diakses dari https://adetentangotda.wordpress.com/2011/05/18/otonomi-daerah-menuntut-komitmen-dan-konsistensi-pemerintah/, (diakses pada tanggal 26 Juni 2016).

Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, diakses dari http://forum- penanaman-modal.blogspot.co.id/2010/02/pengendalian-pelaksanaan-penanaman.html, (Diakses pada tanggal 14 Mei 2016).

Gultom Obbie, Peraturan Terbaru Mengenai Perizinan Di BKPM, diakses dari

http://www.gultomlawconsultants.com/peraturan-terbaru-mengenai-perizinan-di-bkpm (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016).

Cara Mengalihkan Kepemilikan Saham Asing, diakses dari http://forum- penanaman-modal.blogspot.co.id/2010/02/cara-mengalihkan-kepemilikan-saham.html (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016).

Rachmadsyah Shanti, Pendirian PT PMA, diakses dari http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4c106ba70922c/pendirian-pt-pma, (diakses pada tanggal 26 Juni 2016).

Renintha Karina, Pengalihan Kepemilikan Saham Asing, diakses dari http://hukumpenanamanmodal.com/kepemilikan-saham-asing/pengalihan-kepemilikan-saham-asing/ (Diakses pada tanggal 25 Mei 2016).

Qomariyah Nurul, Dirut BEI Bingung Perka BKPM 'Bentrok' dengan UU Pasar

Modal, diakses dari http://rimanews.com/ekonomi/investasi/read/20151105/243247/dirut,

(diakses pada tanggal 8 Juli 2016).

BEI Tentang Kebijakan Sepihak BKPM Soal Emiten, diakses dari

http://www.jurnalasia.com/2015/11/05/bei-tentang-kebijakan-sepihak-bkpm-soal-emiten/ (Diakses pada tanggal 27 Mei 2016).