BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN 32

4.3 Tata Kehidupan Masyarakat Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli48

Belawan (PPSB) Gabion. Disini, kelompok perekonomian perdagangan perikanan yang setiap harinya melakukan bongkar muat hasil tangkap nelayan. Biasanya, banyak warga masyarakat bekerja sebagai buruh nelayan pada pemilik kapal ikan. Disamping itu, untuk menambah pendapatan keluarga, masyarakat membuat kelompok usaha seperti pengeringan ikan langsung dijual kepada pengecer.

Sama halnya, seperti mayoritas mata pencaharian masyarakat di Kelurahan adalah nelayan, begitu juga masyarakat di Lingkungan VII. Berdasarkan pengamatan penulis, secara umum penghasilan nelayan di Lingkungan VII tidak lebih dari Rp. 1.500.000 perbulannya. Bahkan ada juga sebagian masyarakat justru berpenghasilan kurang dari Rp. 1.000.000 perbulannya. Jenis pekerjaan ini juga memberikan pendapatan yang tidak menentu bagi nelayan karena menangkap ikan di laut sangat tergantung dengan kondisi alam. Hal ini didukung saat wawancara dengan Ibu Nila pada saat dilapangan :

“ Kalau mengharapkan dari bapak, kadang bapak pulang seminggu sekali dari laut kan gak tentu juga dapat ikan, kadang pun pulang seminggu sekali bawa duit pun enggak”.

Sebagaimana telah disebutkan pada Tabel 11, masyarakat Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli memiliki lebih besar jumlah tanggungan daripada jumlah masyarakat yang produktif dan bekerja. Hal ini membuat masyarakat kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, nelayan yang dimaksud adalah nelayan yang memiliki sendiri kapal/boat yang digunakan untuk mencari

ikan di laut. Sementara, buruh nelayan adalah buruh yang bekerja bagi nelayan. Ia tidak memiliki kapal/boat sendiri namun bekerja bagi nelayan yang memiliki kapal untuk mencari ikan di laut. Nelayan terbagi lagi menjadi nelayan yang melakukan penangkapan di laut dan nelayan yang melakukan pemasaran hasil tangkapan ikan. Nelayan ini yang disebut masyarakat sebagai toke nelayan. Walaupun toke nelayan tersebut tidak melakukan penangkapan ikan secara langsung di laut, namun status pekerjaannya juga disebut nelayan yaitu nelayan yang bergerak di sektor pemasaran.

Selain menjadi nelayan, terdapat pula kedai/warung yang sebagian besar adalah warung sembako yang menjual kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pada umumnya, kedai/warung tersebut dijalankan oleh ibu rumah tangga yang melakukannya sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Banyaknya jumlah masyarakat yang masih mengandalkan pekerjaan nelayan sebagai mata pencaharian utama, serta sarana perekonomian yang masih kurang mendukung, membuat masyarakat sulit berkembang secara ekonomi. Hal ini ditandai dengan jumlah masyarakat yang masih berada pada kondisi prasejahtera yang besar jumlahnya.

Tingkat ekonomi yang cenderung masih rendah mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dilihat dari struktur bangunan tempat tinggal masayarakat Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli, mayoritas tempat tinggalnya adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu/papan. Adapun struktur bangunan tempat tinggal masyarakat di Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 :

Klasifikasi Penduduk Lingkungan VII Menurut Bangunan Tempat Tinggal

No. Jenis Bangunan Jumlah Persentase (%)

1. Batu Permanent 32 8,46 %

2. Batu Semi Permanent 33 8,73 %

3. Kayu/papan 160 42,32 %

4. Bambu 80 21,16 %

5. Rumah Panggung 73 19,31 %

Jumlah 378 100 %

Sumber: Profil Kelurahan Bagan Deli Tahun 2015

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli memiliki tempat tinggal yang terbuat dari kayu/papan, kemudian terbuat dari bambu, dan sebagian besar memiliki struktur bangunan rumah panggung. Hal ini disebabkan letak geografis Kelurahan yang sebagian besar daerahnya adalah kawasan rawa/pasang surut.

Tabel 16 :

Klasifikasi Penduduk Lingkungan VII Menurut Pemakaian MCK

No. Jenis MCK Jumlah (KK) Persentase (%)

1. Septik Tank 59 15,60

2. Sungai 211 55,82

Jumlah 378 100 % Sumber: Profil Kelurahan Bagan Deli Tahun 2015

Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa penduduk Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli mayoritas memakai sungai sebagai tempat MCK. Pada saat dilapangan, penulis mengamati rumah-rumah penduduk lingkungan VII mempunyai kamar mandi seadanya. Tempat pembuangan kotoran manusia hanya dibuatkan lubang kecil di lantai papan rumah yang langsung terjun ke dalam sungai, sehingga kotoran tersebut terbawa arus sungai. Hal inilah yang menyebabkan lingkungan penduduk Kelurahan Bagan Deli terlihat kumuh.

Tabel 17 :

Klasifikasi Penduduk Lingkungan VII Berdasarkan Pemakaian Air

No. Jenis Air Jumlah (KK) Persentase (%)

1. Air PAM 99 26,19

2. Air Sumur Bor 279 73,80

Jumlah 378 100 %

Sumber: Profil Kelurahan Bagan Deli Tahun 2015

Dari tabel 17 dapat dilihat bahwa penduduk Lingkungan VII Kelurahan Bagan Deli mayoritas memakai air sumur bor sebanyak 279 KK kemudian memakai air PAM sebanyak 99 KK.

4.4 Profil Informan 1. Informan Pertama

Nama : Ibu Nilla Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 42 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : SMA

Ibu Nilla adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai mempunyai 6 orang anak, yakni 2 orang sudah berumah tangga, 3 orang masih bersekolah (kelas 1 SMA, kelas 1 SMP, dan kelas 2 SD) dan 1 orang lagi masih balita. Suami Ibu Nila adalah seorang nelayan.

Selain menjadi ibu rumah tangga, Ibu Nilla mempunyai usaha yaitu berjualan gorengan. Mulai pukul 4 pagi, Ibu Nilla bangun untuk membuat gorengan seperti risol untuk dititipkan ke warung-warung yang menjual sarapan pagi, siang hari gorengan tersebut dititipkan di sekolah-sekolah, dan sorenya dititipkan di kedai-kedai terdekat. Dari usaha berjualan gorengan ini, Ibu Nilla berpenghasilan sekitar Rp. 50.000-60.000/hari. Uang hasil berjualan ini, sebagian digunakan untuk keperluan dapur dan sebagian lagi diberi untuk anak-anaknya sebagai uang jajan.

Menurut Ibu Nilla, usaha berjualan gorengan ini ia lakukan untuk membantu suaminya dalam menyeimbangkan perekonomian kelurga.

Karena menurut Ibu Nilla, hanya mengharapkan uang yang didapat oleh suaminya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Suami Ibu Nilla adalah seorang nelayan yang pergi melaut dan seminggu sekali pulang, itu pun belum tentu pulang membawa ikan. Suami Ibu Nilla adalah nelayan yang dipekerjakan oleh toke yang beretnis cina/tionghoa.

Menurut Ibu Nilla, keluarganya selalu makan ikan karena didaerah tempat tinggalnya dekat dari laut maka sangat mudah dan murah untuk memperoleh ikan, sedangkan makanan lainnya seperti buah-buahan, susu, vitamin, dan lainnya juga terpenuhi di keluarganya tetapi jumlahnya sedikit dan tidak sering.

Ketika anggota keluarga ada yang sedang sakit, biasanya Ibu Nilla akan membeli obat ke warung terdekat tetapi jika sakitnya semakin parah atau tak kunjung sembuh maka Ibu Nilla akan membawa anggota keluarganya tersebut ke puskesmas terdekat, dan tidak dipungut biaya karena adanya JAMKESMAS.

Rumah tempat tinggal Ibu Nilla saat ini, berstatus milik sendiri. Adapun perabotan atau alat elektronik yang ada di rumah Ibu Nilla yakni hanya televisi dan kipas angin. Ibu Nilla menggunakan sungai sebagai Tempat MCK, dimana di dalam rumah Ibu Nilla hanya di pasang plastik besar sebagai pintu untuk menutupi, dan di lantai papan rumah dibentuk lubang kecil sebagai tempat pembuangan kotoran manusia. Kotoran tersebut akan langsung jatuh ke dalam sungai.

Menurut Ibu Nilla, keluarganya membeli pakaian baru hanya pada saat Hari Raya Lebaran saja. Hal ini dikarenakan untuk menekan biaya

pengeluaran sehari-hari keluarga. Ibu Nilla sendiri mengaku tidak memiliki tabungan. Uang yang ia dapat dari suami maupun dari hasil jualan gorengannya sangat pas-pasan untuk biaya sehari-hari keluarga. Oleh karena itu, Ibu Nilla memilih untuk tidak hanya diam di rumah menanti suami, Ia memilih untuk berjualan gorengan untuk menambah dan membantu perekonomian keluarga. Suami Ibu Nilla juga memberi ijin kepada Ibu Nilla untuk berjualan gorengan karena agar dapat membantu perekonomian keluarga. Selain alasan tersebut, alasan lain juga karena menurut suami Ibu Nilla, berjualan dengan menitipkan gorengan ke warung-warung tidak terikat oleh waktu. Ibu Nilla masih bisa mengawasi anak-anaknya yang berada di lingkungan rumah karena pembuatan gorengan itu sendiri dilakukan di rumah Ibu Nillla.

Karena harus menyiapkan gorengan untuk dijual, Ibu Nilla mengaku waktunya menjadi terbagi antara keluarga dan usaha gorengannya. Ketika membuat gorengan, Ibu Nilla menjadi kurang fokus menjaga anaknya. Namun, ia tetap sesekali memperhatikan anak-anaknya walaupun sibuk membuat gorengan.

Bantuan pemerintah yang di dapat keluarga Ibu Nilla berupa Bantuan Dana Sekolah yang tidak mengharuskan Ibu Nilla untuk membayar biaya sekolah dan RASKIN (Beras Miskin). Ibu Nilla hanya memberikan ongkos dan uang jajan kepada anaknya ketika hendak berangkat ke sekolah.

Ibu Nilla dan suaminya adalah orang perantauan. Kampung Ibu Nilla di Sibolga sedangkan suaminya di Aceh. Sehingga, keluarga Ibu

Nilla tidak mempunyai saudara di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh sebab itu, ketika Ibu Nilla mengalami kesulitan keuangan, ia tidak bisa meminjam pada saudara, para tetangga pun kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu. Kegiatan sosial yang Ibu Nilla lakukan adalah perwiritan yang diadakan 2 minggu sekali.

2. Informan Kedua

Nama : Ibu Nurhayati

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 35 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : SD

Ibu Nurhayati adalah seorang ibu rumah tangga. Ibu Nurhayati mempunyai 3 orang anak (kelas 6 SD, kelas 3 SD, masih balita) dan suaminya bekerja sebagai nelayan. Selain menjadi ibu rumah tangga, Ibu Nurhayati adalah agen ikan. Suami Ibu Nurhayati memakai kapal toke untuk mencari ikan di laut. Hasil laut yang ia dapatkan akan diberikan kepada toke kapal dan sebagiannya ia bawa ke rumah. Ketika suaminya pulang dari laut, hasil laut yang dibawa pulang akan dibersihkan. Biasanya Ibu Nurhayati akan memanggil orang untuk dipekerjakan membersihkan ikan, menyortir, ataupun menjemur ikan yang di dapat oleh suaminya dari laut. Namun, walaupun sudah memperkerjakan orang untuk membersihkan ikan tangkapan suaminya, Ibu Nurhayati juga tetap ikut bekerja membersihkan ikan tersebut dan menjualnya diluar. Hal ini dilakukan

untuk menekan biaya yang harus Ibu Nurhayati berikan sebagai upah pada orang yang ia pekerjakan. Adapun hasil laut yang di dapat berupa ikan, udang lipan, dan lainnya. Ketika suami Ibu Nurhayati tidak mendapat hasil dari laut, maka ia akan pergi ke nelayan lain untuk membeli udang lipan, lalu menyuruh orang lain untuk membersihkan dan menjemurnya kemudian dijual.

Menjadi agen ini, Ibu Nurhayati mengaku mendapat uang sekitar Rp. 200.000-300.000/hari. Namun, tidak setiap hari Ibu Nurhayati bisa mendapat hasil laut yang menjadi sumber mata pencahariannya. Hal ini dilakukan Ibu Nurhayati karena Ibu Nurhayati merasa bahwa uang yang dihasilkan oleh suaminya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Apalagi pekerjaan melaut yang dilakukan oleh suaminya tidaklah menentu karena faktor cuaca di laut yang tidak bisa diprediksi. Selain untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, Ibu Nurhayati ingin bekerja karena merasa bosan jika hanya berdiam diri di rumah menunggu anak pulang sekolah. Oleh sebab itu, Ibu Nurhayati mempergunakan waktu luangnya untuk bekerja.

Uang yang didapat oleh Ibu Nurhayati dari menjual ikan ia gunakan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya, sebagian lagi juga ia gunakan untuk keperluan di dapur. Ibu Nurhayati mengikuti tarikan atau jula-jula dengan ibu-ibu lainnya, ia mengikuti jula-jula sebagai tabungan. Ibu Nurhayati tidak menabung ke bank karena menurutnya berurusan dengan bank terlalu ribet dan sulit di mengerti. Ketika giliran Ibu Nurhayati yang mendapatkan jula-jula, Ibu Nurhayati akan membelikannya emas, karena suatu saat nanti ketika keluarga Ibu Nurhayati mengalami kesulitan keuangan, ia bisa menjual kembali emas itu. Ibu Nurhayati

juga mengaku akan meminjam uang kepada tetangga yang cukup akrab dengan keluarganya.

Menurut Ibu Nurhayati, keluarganya sering menyediakan ikan dan sayuran sebagai lauk untuk makan, tetapi jarang menyediakan susu dan buah-buahan agar dapat menghemat pengeluaran rumah tangga. Apabila ada keluarga yang mengalami sakit, jika sakitnya tidak terlalu parah maka Ibu Nurhayati hanya merawatnya di rumah dan membeli obat biasa di warung terdekat, dan jika terlalu parah maka Ibu Nurhayati akan membawanya ke puskesmas.

3. Informan Ketiga

Nama : Ibu Satia

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 32 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : kelas 4 SD

Ibu Satia adalah ibu rumah tangga dan mempunyai 2 orang anak (kelas 2 SD, dan berumur 4 tahun). Suami Ibu Satia adalah seorang nelayan yang pergi melaut. Biasanya suami Ibu Satia melaut selama 20 hari. Selain menjadi seorang ibu rumah tangga, Ibu Satia bekerja sebagai buruh kopek udang lipan. Pekerjaan ini juga sering disebut dengan kerja borongan, dimana ketika nelayan tiba dari laut dengan membawa hasil laut, maka Ibu Satia dan Ibu-ibu lainnya akan datang dan siap untuk dipekerjakan sebagai pengopek. Pekerjaan dan upah yang didapat pun sesuai dengan hasil yang dikerjakan. Ibu Satia bekerja mulai dari pukul 8 pagi sampai selesai.

Hasil yang di dapat para nelayan tidaklah menentu. Oleh sebab itu, waktu bekerja Ibu Satia pun tidak menentu. Apabila hasil laut yang dibawa pulang oleh nelayan sangat banyak, maka Ibu Satia akan bekerja lama hingga larut malam namun mendapat upah yang lumayan tinggi dan sebaliknya apabila hasil laut yang didapat nelayan hanya sedikit, maka Ibu Satia pun akan bekerja sebentar dan mendapat upah sedikit. Bekerja sebagai buruh kopek udang lipan ini, Ibu Satia mendapat upah sekitar Rp. 15.000-35.000/hari.

Menjadi buruh kopek udang lipan ini dilakukan Ibu Satia untuk membantu suami memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Oleh karena suaminya adalah seorang nelayan yang dipekerjakan toke dan karena seringnya terjadi musim paceklik di laut membuat suami Ibu Satia sering tidak mendapat hasil laut untuk dibawa pulang. Padahal biaya hidup keluarga sangatlah tinggi seperti harus membayar uang listrik, uang sewa rumah, dan lainnya. Maka dari itu menjadi buruh kopek udang lipan ini dirasa bisa membantu perekonomian keluarga. Uang yang didapat dari hasil mengopek udang digunakan untuk keperluan dapur yakni membeli beras, minyak makan, bahan-bahan makanan, dan lainnya.

Tempat tinggal Ibu Satia dan keluarganya saat ini masih berstatus sewa. Biaya sewa rumahnya sebesar Rp. 1.500.000/tahun. Rumah tersebut terbuat dari papan dan alat elektronik yang ada di dalamnya hanya televisi dan rice cooker. Untuk menabung uang hasil kerjanya, Ibu Satia mengikuti jula-jula dengan para Ibu-ibu tetangganya.

Setelah membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan mengantar anak sulungnya ke sekolah, Ibu Satia pun pergi ke rumah toke dan bekerja mengopek udang lipan. Tak jarang Ibu Satia juga turut membawa anak bungsunya ke tempat

kerjanya, hal ini dilakukan karena tidak adanya yang bisa menjaga anaknya ketika ia sibuk bekerja. Ibu Satia juga mengikuti perwiritan dengan biaya Rp. 10.000/minggu.

Ketika keluarga Ibu Satia mengalami kesulitan keuangan, Ibu Satia tidak sungkan untuk meminjam uang pada kakak ipar dan saudara lainnya. Oleh karena itu, Ibu Satia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah bagi keluarganya. Apabila pemerintah memberinya bantuan berupa uang, ia akan membuka usaha dengan berjualan bahan-bahan sembako di teras rumahnya.

4. Informan Ke Empat

Nama : Ibu Saniyem

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 45 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : kelas 3 SD

Ibu Saniyem adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 orang anak. Suami Ibu Saniyem adalah seorang nelayan yang pergi melaut setiap harinya dari pukul 5 subuh hingga pulang pukul 5 sore. Adapun bot yang digunakan untuk melaut adalah milik sendiri. Selain menjadi ibu rumah tangga, Ibu Saniyem membuka warung yang menjual makanan seperti, mie, bubur, sate kerang, buah-buahan, dan lainnya. Ibu Saniyem memilih untuk bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Karena pekerjaan suaminya melaut yang mana sering terjadi pasang surut sehingga penghasilan yang didapat pun

tidak menentu. Jika penghasil suami tidak ada akibat tidak melaut, maka keperluan keluarga bisa tertutupi dari hasil berjualan makanan di warung. Hasil uang yang didapat dari berjualan di warung, ia gunakan untuk memberi jajan anak sekolah dan sebagian lagi dibelanjakan untuk keperluan dapur.

Ibu Saniyem memiliki anak-anak yang sudah besar, 1 orang di perguruan tinggi, 1 orang baru tamat SMA, 1 orang kelas 2 SMA, dan 1 lagi SMP. Oleh sebab itu, anak-anak Ibu Saniyem sudah bisa mengurus dirinya sendiri sehingga Ibu Saniyem bisa fokus berjualan di warung. Sejak subuh, Ibu Saniyem sudah pergi ke pajak untuk membeli bahan-bahan yang akan dijadikan makanan, setelah berbelanja Ibu Saniyem akan memasak di rumah. Pada Pukul 1 siang, Ibu Saniyem membuka warungnya hingga tutup pada Pukul 9 malam. Anak-anak Ibu Saniyem juga terkadang ikut membantunya berjualan di warung.

Penghasilan yang di dapat oleh Ibu Saniyem dengan berjualan makanan di warung sekitar Rp. 150.000-200.000/hari. Dari hasil berjualan ini, Ibu Saniyem merasa kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi, bahkan bisa berlebih. Ibu Saniyem menabung uangnya Rp. 20.000/hari untuk keperluan di masa mendatang. Namun terkadang Ibu Saniyem mengalami hambatan pada pekerjaannya yaitu adanya pembeli yang berhutang di warungnya. Ibu Saniyem mengikuti arisan dan perwiritan yang diadakan sebulan sekali. Pada perwiritan ditetapkan biaya Rp. 60.000/KK setiap bulannya.

Saat ini, status rumah keluarga Ibu Saniyem adalah milik sendiri. Di dalam rumah Keluarga Ibu saniyem hanya memiliki televisi. Ibu Saniyem juga mengaku bahwa hanya membelikan anak-anaknya pakaian baru sekali dalam setahun yaitu

pada saat Hari Lebaran. Hal ini Ia lakukan karena merasa dengan membeli pakaian lebih dari setahun sekali merupakan perbuatan boros.

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya Ibu Saniyem hanya memberikan obat biasa yang dibelinya di warung. Karena menurut Ibu Saniyem, keluarganya jarang sakit karena sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan pesisir di Kelurahan Bagan Deli ini.

5. Informan Ke Lima

Nama : Farida

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 54 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : SMP

Ibu Faridah adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 8 orang anak. 4 orang sudah berkeluarga, 3 orang bekerja, dan 1 orang lagi masih sekolah. Suami Ibu Faridah bekerja membubul pukat yaitu memperbaiki jaring milik toke nelayan. Selain menjadi ibu rumah tangga, Ibu Farida bekerja sebagai buruh Harian Lepas yaitu memilih-milih ikan teri yang tercampur dengan ikan tapis. Setelah dipisahkan, ikan-ikan teri akan dijemur di bawah sinar matahari.

Bekerja sebagai buruh Harian Lepas, Ibu Faridah mendapat gaji yang tidak menentu karena tergantung pada banyaknya hasil laut yang ada pada toke nelayan. Ibu Farida mengaku jika ia bekerja seharian dari pukul 8 pagi sampai pukul 8 malam bahkan terkadang sampai pukul 9 malam, ia mendapat gaji Rp. 100.000 perhari. Tetapi kalau kerja mulai dari sore hanya mendapat gaji Rp. 30.000

perhari. Menurut Ibu Faridah, ia bahkan lebih sering menganggur karena tidak adanya hasil laut yang di dapat oleh para nelayan.

Meskipun suami Ibu Farida masih bisa mencari nafkah, namun Ibu Farida merasa jika hanya mengharapkan uang yang diperoleh oleh suaminya maka itu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi Ibu Faridah memiliki banyak anak yang harus ia nafkahi. Dengan bekerja, penghasilan yang Ibu Faridah dapatkan ia pergunakan untuk membelanjakan keperluan rumah tangga, jajan anak sekolah, ongkos anak pergi ke sekolah, dan lainnya.

Ibu Farida jarang membelikan anak-anaknya pakaian baru, ketika Hari Lebaran barulah Ibu Farida membelikan anak-anaknya pakaian baru. Terkadang dipertengahan tahun, jika Ibu Faridah mendapat rejeki yang lebih dari biasanya maka Ibu Faridah membelikan pakaian kepada anak-anaknya namun ia tidak membelikannya setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan kesulitan ekonomi yang sering terjadi pada keluarga Ibu Farida.

Ibu Farida dulunya mengikuti jula-jula yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, saat ini jula-jula tersebut sudah dihentikan karena terdapat banyak yang tidak sanggup membayar dengan alasan tidak melaut akibat bot yang rusak sehingga tidak mendapatkan uang. Ibu Farida mengikuti kegiatan perwiritan di daerah tempat tinggalnya yang diadakan setiap hari jumat dengan iuran Rp. 5.000 perkepala.

Menurut Ibu Farida, keluarganya tidak mendapat bantuan dari pemerintah padahal Ibu Farida sangat mengharapkan bantuan pemerintah untuk keluarganya. Hal ini sudah ia pertanyakan pada kepala lingkungan tempat tinggalnya bahwa mengapa ia tidak mendapat bantuan pemerintah. Namun, alasan kepala

lingkungan ialah karena menurut kepala lingkungan, masih banyak terdapat keluarga yang lebih membutuhkan daripada keluarga Ibu Farida. Hal inilah yang membuat Ibu Farida merasa bantuan pemerintah tidak dibagi dengan merata.

6. Informan Ke Enam

Nama : Nur

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 18 tahun

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : SMA

Nur adalah perempuan pesisir yang bekerja meyortir ikan hasil tangkapan nelayan. Setelah tamat SMA, Nur tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang perguruan tinggi karena ketidakmampuan keluarganya dalam membiayai uang perkuliahan. Ayah Nur adalah seorang nelayan dan ibunya membuka warung kecil

Dalam dokumen Strategi Perempuan Pesisir Dalam Mengatasi Kemiskinan Pada Keluarga Nelayan Miskin Studi Kasus : Masyarakat Pesisir di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan (Halaman 31-52)