• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 19-0)

BAB III METODE PENELITIAN

3.4. Teknik Analisis Data

Tujuan penelitian ini selain untuk mengetahui gambaran prestasi siswa bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah, dan yang utama adalah untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika, diperoleh variabel-variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap variabel lainnya. untuk memperoleh variabel yang pengaruhnya signifikan terhadap variabel lainnya serta interaksinya peneliti menggunakan model persamaan struktural dengan latent variabel. Kedua, setelah dilakukan uji model persamaan dan diperoleh variabel yang signifikan pengaruhnya, peneliti melakukan analisis dengan menggunakan analsiis multi level. Variabel di level siswa dikelompokkan sebagai model within dan variabel di level sekolah sebagai model between.

Pada model within akan diketahui variabel apa saja yang memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi siswa, dan pengaruh tersebut apakah dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berada dalam model between.

Dalam penelitian ini, baik analisis persamaan struktural dengan latent variabel maupun analisis

multi level akan menggunakan software MPLUS (Muthen, 2012).

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 14

Bab IV Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan deskrispsi tentang responden penelitian yang meliputi siswa, guru, dan sekolah. Selain itu, akan diuraikan tentang temuan-temuan yang didapat dalam penelitian mengenai prestasi matematika berdasarkan pengaruh variabel level siswa maupun level sekolah dan interaksinya. Yang pertama akan disajikan adalah gambaran deskriptif tentang responden dan tentang prestasi matematika, beberapa contoh prestasi siswa dikaitkan dengan variabel yang lain. Kemudian akan disajikan hasil temuan dari analisis multi level.

4.1. Deskripsi Responden

Responden dalam penelitian ini didasarkan pada data yang ada dalam laporan TIMSS tahun 2011. Responden terdiri dari siswa SLTP kelas delapan, guru , dan sekolah. Berikut ini gambaran responden penelitian.

4.1.1. Deskripsi Siswa

Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 5795 siswa. Deskripsi siswa yang akan ditampilkan berikut ini adalah tentang jenis kelamin, tahun kelahiran/usia, jumlah buku yang dimiliki di rumah, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan yang ingin dicapai siswa, waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR di rumah.

a. Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel sebanyak 5795 orang, bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin 48,7 %

51,3 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 15 Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, responden dalam penelitian ini tidak jauh berbeda antara sampel laki-laki dengan perempuan. Responden laki-laki berjumlah 48,7 %, sedangkan perempuan sedikit lebih banyak yaitu berjumlah 51,3 %.

b. Tahun Kelahiran Siswa

Meskipun seluruh sampel penelitian adalah siswa SMP/MTs kelas delapan, namun responden penelitian memiliki tahun kelahiran yang berbeda, sehingga usia siswa pun berbeda-beda. Berikut ini gambaran responden berdasarkan tahun kelahiran.

Gambar 4.2. Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang tahun kelahiran responden adalah antara tahun 1993 sampai 2001. Tahun kelahiran responden yang dominan adalah tahun 1997 sebanyak 3063 siswa atau 52,9% yang berarti berusia 14 tahun. Berikutnya adalah responden yang lahir tahun 1996 sebanyak 1879 siswa atau 32,4% yang berarti berusia 15 tahun. Responden yang tertua adalah responden yang lahir tahun 1993 yang berarti berusia 18 tahun dengan jumlah sebanyak 13 siswa atau 0,2 %, sedangkan responden termuda lahir tahun 2001 sebanyak 9 siswa atau 0,2 %.

Perbedaan usia berdasarkan data di atas mungkin disebabkan oleh usia yang berbeda saat

memasuki jenjang sekolah dasar maupun menengah di kalangan siswa atau siswa tinggal kelas saat di

sekolah dasar atau menengah.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 16 c. Jumlah Kepemilikan Buku di Rumah

Deskripsi berikut ini berkaitan dengan pertanyaan “kira-kira berapa jumlah buku yang ada di rumahmu? (tidak termasuk majalah, surat kabar/koran atau buku-buku sekolahmu)”. Gambaran kepemilikan buku dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.3. Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah

Berdasarkan informasi di atas, sebagian besar siswa (52,7 %) memiliki buku antara 11 sampai 25 buku, berikutnya adalah siswa yang memiliki buku antara 0-10 buku sebanyak 24,8 %. Siswa yang memiliki buku antara 26-100 buku sebanyak 18,4 %. Sedangkan hanya 1,3 % siswa yang memiliki buku lebih dari 200 buku, dan 2,7 % siswa yang memiliki buku antara 101 sampai 200 buku.

Keberadaan buku di rumah akan menunjukkan aktivitas siswa di rumah. Bila melihat prosentase di atas, sebagian besar siswa hanya memiliki buku 11 sampai 25 buah buku, hal ini berarti bahwa hanya sedikit siswa yang menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca. Kondisi rendahnya kepemilikan buku di rumah mungkin disebabkan oleh kondisi ekonomi yang rendah sehingga daya beli buku di kalangan siswa juga menjadi rendah. Meskipun ada siswa yang memiliki buku lebih dari 100 buah, namun hal tersebut persentasenya sangat rendah.

d. Tingkat Pendidikan Ibu

Pendidikan ibu dari responden siswa memiliki tingkat yang berbeda-beda dalam rentang antara lulus (Sekolah Dasar) atau tidak bersekolah hingga lulus Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran tingkat pendidikan ibu dari siswa yang menjadi sampel.

24,8 %

52,7 %

18,4 %

2,7 % 1,3 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 17 Gambar 4.4. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (31,5 %) pendidikan tertinggi ibu dari para siswa adalah lulus SD atau tidak bersekolah, berikutnya adalah SLTP sebanyak 16,1 %.

Sedaangkan yang berpendidikan S1 sebanyak 5,8 % dan S2/S3 sebanyak 1,3 %. Keadaan ini menggambarkan rendahnya tingkat pendidikan di kalangan perempuan di Indonesia. Padahal, ibu menjadi sentral dalam masalah rumah tangga termasuk salah satunya adalah mendidik dan membimbing anak.

e. Tingkat Pendidikan Ayah

Tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih baik dari pendidikan ibu. Sebanyak 25,5 % tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden adalah lulusan SLTA. Namun demikian, ayah dari siswa yang tingkat pendidikannya SD atau tidak bersekolah juga cukup banyak yaitu 24,8 % atau hampir sama dengan ayah siswa yang lulus SLTA. Urutan yang terbanyak berikutnya adalah ayah siswa yang berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 15,3 %, sedangkan hanya 7 % yang berpendidikan S1 dan 1,3 % yang berpendidikan S2/S3. Berikut adalah deskripsi gambar tentang tingkat pendidikan ayah.

Gambar 4.5. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah

f. Aspirasi Akademik Siswa

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 18 Deskripsi ini berkaitan dengan tingkat pendidikan tertinggi yang ingin di raih siswa, dengan rentang pilihan antara tingkat SLTP hingga Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran aspirasi akademik siswa.

Gambar 4.6. Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ingin Dicapai Siswa

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa para siswa memiliki cita-cita yang tinggi dalam bidang pendidikan. Sebagian besar siswa (44,1 %) memiliki keinginan untuk mencapai pendidikan S2 atau S3, sedangkan keinginan untuk mencapai jenjang S1 sebanyak 19,2 %. Gambaran ini menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia memiliki keinginan yang kuat untuk maju dan berkembang. Karena hanya dengan pendidikan, sebuah bangsa bisa unggul menyaingi bangsa-bangsa lain di dunia. Namun bila melihat kepemilikan buku siswa di rumah seperti terlihat pada gambar sebelumnya, menunjukkan kemampuan ekonomi siswa yang rendah untuk membeli buku. Karena itu, ketidakmampuan siswa secara ekonomi bisa dijembatani oleh pemerintah untuk mewujudkan keinginan siswa meraih prestasi dan pendidikan yang tinggi.

g. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR)

Deskripsi ini berkaitan dengan waktu yang diluangkan untuk mengerjakan PR matematika,

ketika guru memberikan PR. Berikut ini gambaran waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan

PR Matematika.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 19 Gambar 4.7. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR

Berdasarkan gambar di atas, dapat diinformasikan bahwa waktu yang diluangkan siswa untuk

mengerjakan PR matematika paling banyak adalah responden yang meluangkan waktu antara 16-30

menit yaitu 30,1 %. Berikutnya adalah siswa yang meluangkan waktu selama 31-60 menit sebanyak

25,9 %, sedangkan yang meluangkan waktu selama 1-15 menit sebanyak 21,8 %. Ada pula siswa

yang meluangkan waktu lebih dari 60 menit sebanyak 9,9 %, namun ada juga siswa yang tidak

meluangkan waktu untuk mengerjakan PR (0 menit) yaitu sebanyak 2,4 %.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 20 4.1.2. Deskripsi Guru

Jumlah guru yang menjadi responden dalam penelitian TIMSS tahun 2011 adalah sebanyak 170 orang guru. Berikut ini deskripsi tentang guru yang akan disajikan meliputi jenis kelamin, usia, pengalaman mengajar, pendidikan terakhir, bidang studi utama, pemanfaatan komputer, dan jumlah siswa yang diajarkan dalam satu kelas.

a. Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel sebanyak 170 orang, responden guru bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut:

Gambar 4.8. Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin,, responden guru dalam penelitian ini lebih banyak guru perempuan dibandingkan dengan guru laki-laki. Responden laki-laki berjumlah 42,97 %, sedangkan perempuan berjumlah 51,3 %. Informasi ini menggambarkan bahwa perempuan lebih berminat untuk menjadi guru dibandingkan laki-laki. Hal ini karena karakteristik pekerjaan sebagai guru lebih banyak disukai oleh perempuan. Karakteristik pekerjaan sebagai guru membutuhkan individu yang sabar, mengayomi, membimbing, peduli, dan sebagainya.

57,1 %

42,9 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 21 b. Usia

Rentang usia guru dalam penelitian ini berkisar antara kurang dari 25 tahun hingga di atas 60 tahun. gambaran usia guru dapat diinformasikan sebagai berikut.

Gambar 4.9. Deskripsi Guru Berdasarkan Usia

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang usia guru yang paling

banyak berada pada rentang usia antara 40-49 tahun yaitu dengan persentase sebesar 38,7 %. Urutan

terbanyak berikutnya adalah rentang usia antara 30-39 tahun sebanyak 26,2 %. Rentang usia yang

paling sedikit adalah di atas 60 tahun yaitu sebanyak 0,6 %. Sedangkan rentang usia yang paling

muda sebanyak 5,4 % yaitu rentang usia dibawah 25 tahun.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 22 c. Pengalaman Mengajar

Rentang pengalaman mengajar guru bervariasi antara 1 hingga lebih dari 25 tahun, berikut ini informasi mengajar guru.

Gambar 4.10. Deskripsi Guru Berdasarkan Pengalaman Mengajar

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang pengalaman mengajar guru yang paling banyak berada pada rentang antara 1-5 tahun dan 6-10 tahun dengan persentase yang sama yaitu sebesar 22,3 %. Urutan terbanyak berikutnya adalah rentang pengalaman mengajar lebih dari 25 tahun yaitu 15,7 %. Rentang tersebut hampir sama dengan guru yang memiliki pengalaman mengajar selama 16-20 tahun yaitu sebesar 15,1 %. Sedangkan pengalaman mengajar 11-15 tahun dan 21-25 tahun persentasenya sebesar 12,7 % dan 12 %.

15,7 %

22,3 % 12 %

15,1 %

22,3 %

12,7 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 23 d. Pendidikan Terakhir

Tingkat pendidikan guru sangat penting dalam proses pendidikan guru. Pendidikan dapat menggambarkan kedewasaan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru. Berikut ini deskripsi pendidikan terakhir yang diselesaikan oleh guru.

Gambar 4.11. Deskripsi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa tingkat pendidikan guru yang paling dominan adalah strata satu (S1) dengan persentase sebesar 86,3 %, sedangkan tingkat pendidikan strata dua (S2) dan strata tiga (S3) sebanyak 7,1 %. Guru dengan tingkat pendidikan D3-D4 sebanyak 3 %. Namun masih ada guru yang berpendidikan D1-D2 dan SLTA yaitu sebesar 2,4 % dan 1,2 %.

86,3 %

2,4 % 3 %

7,1 %

1,2 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 24 e. Bidang Studi Utama

Bidang studi utama adalah bidang studi yang ditekuni setelah lulus SLTA. Guru yang mengajar matematika tentu diharapkan bidang studi utamanya adalah matematika. Berikut ini gambaran persentase bidang studi utama yang ditekuni guru setelah lulus SLTA.

Gambar 4.12. Deskripsi Guru Berdasarkan Bidang Studi Utama

Gambar di atas menunjukkan bahwa bidang studi utama yang ditekuni guru setelah SLTA sebagian besar adalah bidang studi matematika. Persentase guru yang menekuni bidang studi matematika sebagai studi utama sebesar 70,8 %. Dari gambar juga dapat diinformasikan bahwa masih cukup banyak guru yang mengajar matematika, namun bidang studi utama yang ditekuninya bukan matematika. Persentase guru yang mengajar matematika, tapi bidang studinya non-matematika adalah sebesar 29,2 %.

Prestasi siswa pada bidang matematika salah satunya ditentukan oleh guru yang mengajarkan bidang tersebut. Apabila guru kurang menguasai bidang studi yang diajarkan, akan memengaruhi kemampuan siswa dalam menguasai materi yang diajarkan. Kondisi ini cukup memprihatinkan bila tidak dilakukan perbaikan,karena itu perlu ada kebijakan yang dapat mengatasi kondisi tersebut.

70,8 %

29,2 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 25 f. Pemanfaatan Komputer

Seiring perkembangan teknologi, guru juga dituntut untuk familiar dengan teknologi yang berkembang termasuk dalam pemanfaatan komputer baik untuk keperluan administrasi, persiapan mengajar, dan proses pengajaran. Berikut ini gambaran penggunaan komputer oleh guru.

Gambar 4.13. Deskripsi Guru dalam Menggunakan Komputer

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa pemanfaatan komputer oleh guru paling banyak digunakan untuk keperluan administrasi yaitu sebesar 80,5 %. Namun untuk keperluan yang sama masih ada guru yang tidak menggunakan komputer yaitu sebanyak 19,5%. Untuk keperluan persiapan mengajar, sebanyak 55,6% guru memanfaatkan komputer sedangkan sebanyak 44,4% guru tidak memanfaatkannya. Untuk keperluan proses pengajaran, guru yang memanfaatkan komputer sebanyak 47,9%, sedangkan yang tidak memanfaatkan lebih banyak yaitu 52,1 %.

Informasi di atas menunjukkan bahwa masih banyak guru yang belum familiar dengan teknologi dan kurang bisa memanfaatkan kecanggihannya untuk menunjang keberhasilan dalam menjalankan profesinya. Padahal perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memudahkan proses administrasi, penyiapan bahan dalam mengajar, dan bahkan untuk keperluan mengajar itu sendiri.

MENGGUNAKAN KOMPUTER

UNTUK PERSIAPAN  UNTUK ADMINISTRASI UNTUK PENGAJARAN

55,6 % 

44,4 % 

80,5 % 

19,5 % 

47,9 %  52,1 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 26 g. Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas

Deskripsi ini berkaitan dengan pertanyaan “berapa jumlah siswa di kelas ini”. Berikut adalah gambaran jumlah siswa yang diajar dalam satu kelas.

Gambar 4.14. Deskripsi Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa sebanyak 56,8 % guru mengajar di kelas dengan jumlah siswa sebanyak 31-40 siswa. Persentase ini yang paling dominan dari guru yang menjadi reponden. Guru yang mengajar di kelas dengan jumlah siswa sebanyak lebih dari 41 siswa persentasenya sebesar 21, 9%. Sedangkan guru yang mengajar dengan jumlah siswa di kelas sebanyak 21-30 orang persentasenya sebesar 16,5 %. Adapun guru yang mengajar di kelas dengan jumlah siswa 11-20 siswa adalah sebanyak 3 % dan guruyang mengajar kurang dari 10 siswa dalam satu kelasnya sebesar 1,8 %.

Informasi di atas menunjukkan bahwa belum terjadi pemerataan jumlah murid pada tiap-tiap sekolah atau kelas yang diteliti. Di satu sisi, ada sekolah atau kelas dengan kelebihan jumlah murid, di sisi lain masih banyak sekolah atau kelas yang kekurangan murid. Sekoah yang kekurangan murid akan menjadi kontras bila dikaitkan dengan banyaknya masyarakat usia sekolah yang tidak bersekolah karena alasan ekeonomi, fasilitas, dan sebagainya. Sekolah yang kelebihan murid dengan jumlah murid melebihi kapasitas kelas dan kemampuan guru dalam mengelola kelas akan menjadi masalah bila dikaitkan dengan efektivitas proses belajar mengajar di kelas yang berimplikasi pada prestasi belajar yang akan dicapai siswa. Oleh karena itu, perlu pertimbangan untuk mengatur kebijakan yang dapat mengatasi masalah sekolah yang kekurangan murid di satu pihak dan sekolah yang memiliki kelebihan murid dipihak lain.

4.1.3. Deskripsi Sekolah

Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, sekolah yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 153 sekolah di seluruh Indonesia. Berikut ini gambaran responden sekolah yang meliputi gambaran tentang jumlah keseluruhan siswa di sekolah, tingkat sosial ekonomi siswa, dan jumlah komputer yang dimiliki sekolah.

a. Jumlah Siswa

JUMLAH SISWA DALAM SATU KELAS

1,8 % 

56,8 %

3 % 

16,6 %

21,9 % 

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 27 Uraian ini berkaitan dengan jumlah keseluruhan siswa yang terdaftar dan belajar disekolah pada tahun ajaran penelitian ini dilaksanakan. Deskripsi jumlah siswa di sekolah dapat diinformasikan dalam gambar berikut.

Gambar 4.15. Deskripsi Jumlah Siswa di Sekolah

Berdasarkan gambar di atas, dapat diinformasikan bahwa jumlah siswa di sekolah dengan persentase tertinggi adalah sekolah yang memiliki siswa sebanyak 401-600 yaitu sebesar 25 %.

Sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 601-800 persentasenya sebesar 17,8 %. Sekolah dengan jumlah siswa 801-1000 sebesar 9,9 %, sedangkan sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1000 sebesar 9,2 %. Pada gambar juga terlihat bahwa sekolah yang memiliki siswa antara 51-100 sebesar 5,9 %, dan ada juga sekolah yang memiliki siswa kurang dari 50 orang sebesar 3,3 %.

Pada gambar di atas menunjukkan adanya ketimpangan jumlah siswa yang dapat diserap oleh masing-masing sekolah. Di satu sisi ada sekolah gemuk dengan jumlah siswa lebih dari 1000, di sisi lain ada sekolah kurus dengan jumlah siswa kurang dari 50. Keadaan ini menggambarkan tidak adanya pemerataan pada tiap-tiap sekolah. Banyak pemberitaan yang menginformasikan tentang banyaknya penduduk usia sekolah yang tidak bersekolah, padahal tingkat SLTP masuk dalam wajib belajar sembilan tahun. Namun pada kenyataannya, kewajiban belajar sembilan tahun belum maksimal diterapkan sehingga terjadi kontradiksi dimana banyak sekolah kekurangan murid, tapi banyak penduduk usia sekolah yang tidak sekolah padahal seharusnya mereka masuk dalam program wajib belajar.

3,3 %

25 %

11,2 % 9,9 %

5,9 %

7,9 %

17,8 %

9,9 %

9,2 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 28 b. Tingkat Sosial Ekonomi Siswa

Tingkat sosial ekonomi siswa pada masing-masing sekolah di bawah ini lebih menggambarkan persentase siswa yang kurang mampu secara ekonomi di masing-masing sekolah.

Berikut ini uraiannya.

Gambar 4.16. Persentase Siswa Kurang Mampu di Sekolah

Gambar di atas menginformasikan bahwa ada 55 % sekolah yang memiliki siswa kurang mampu sebanyak lebih dari 50 % siswa, 24, 2 % sekolah memiliki 26 sampai 50 % siswa kurang mampu, 15,4 % sekolah memiliki siswa kurang mampu sebanayk 11 sampai 25 %, dan hanya 5,4 % sekolah yang memiliki siswa kurang mampu sebanyak 0-10 %.

Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa perbandingan siswa yang yang mampu dan kurang mampu secara ekonomi lebih banyak siswa yang kurang mampu. Ketidakmampuan secara ekonomi hendaknya tidak menghambat siswa untuk bersekolah hingga capaian tertinggi yang diinginkan siswa. Bila merujuk pada pendidikan tertinggi yang ingin dicapai oleh siswa, sebagian besar siswa ingin mencapai pendidikan tertinggi hingga strata dua (S2) dan strata tiga (S3). Namun di sisi lain, siswa yang bersekolah sebagian besar kurang mampu secara ekonomi. Bila antara harapan dan kenyataan disandingkan maka akan terjadi hambatan untuk mewujudkan keinginan siswa. Oleh karena itu, perlu pertimbangan untuk memberi kemudahan bagi siswa dalam mencapai keinginannnya, misalnya pemerintah memberikan beasiswa hingga jenjang tertinggi yang dinginkan siswa.

5,4 %

15,4 %

55 %

24,2 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 29 c. Jumlah Komputer di Sekolah

Berikut ini adalah gambaran jumlah komputer yang dimiliki sekolah.

Gambar 4.17. Jumlah Komputer yang Dimiliki Sekolah

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa sebagian besar atau 28,8% sekolah memilki komputer sebanyak 16-20 buah. Persentase yang hampir sama atau 21,1% sekolah memiliki komputer, belum maksimal dilakukan oleh sekolah. Padahal abad kini merupakan abad teknologi.

Bila saat ini siswa dihadapkan pada situasi gagap teknologi, maka mereka akan kesulitan menghadapi masa depan yang dikuasai oleh perkembangan dan kemajuan teknologi. Sekolah seharusnya dapat mengenalkan sejak awal tentang manfaat dan penggunaan teknologi.

Bila merujuk pada jumlah siswa di sekolah pada uraian sebelumnya, sebagian besar sekolah memiliki jumlah siswa sebanyak 401-600 dan 601-800 dibandingkan dengan sebagian besar sekolah memiliki komputer sebanyak 16-20 buah terdapat ketimpangan untuk dapat mengenalkan komputer pada siswa secara maksinmal. Namun hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar siswa yang bersekolah juga dalam kategori kurang mampu secara ekonomi sehingga sekolah tidak dapat mengadakan komputer secara memadai. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mengatasi ketidakmampuan sekolah tersebut, misalnya dengan memberikan bantuan komputer kepada sekolah-sekolah secara merata.

4.2. Prestasi Matematika

Skor dalam Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) bidang

Matematika tahun 2011 terdiri dari skor prestasi Matematika secara umum, skor Matematika

berdasarkan konten dan skor Matematika berdasarkan domain. Skor Prestasi yang digunakan dalam

penelitian ini adalah skor plausibel value 1. Berikut ini deskripsi prestasi Matematika yang dicapai

siswa Indonesia berdasarkan data TIMSS tahun 2011.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 30 Tabel. 4.1. Mean Prestasi Matematika

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

PRESTASI MATEMATIKA 5795 99,31 689,64 400,9769 82,94193

Valid N (listwise) 5795

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa jumlah sampel sebanyak 5795 siswa kelas delapan, diperoleh mean sebesar 400,977 dengan standar deviasi 82,94. Skor minimum yang diperoleh siswa sebesar 99,31 sedangkan skor maksimum sebesar 689,64. Rentang perbedaan skor minimum terhadap skor maksimum sangat jauh yaitu sebesar 590,33.

Capaian prestasi matematika di atas bila dibandingkan dengan capaian prestasi sebelumnya tidak jauh berbeda. Skor matematika pada tahun 1999 adalah 403, tahun 2003 adalah 411 dan tahun 2007 adalah 405. Dari capaian rata-rata skor yang diperoleh pada tahun 2011, berarti lebih rendah 3 point dibanding tahun 1999, 11 point dibanding tahun 2003, dan lebih rendah lima point dibanding tahun 2007. Dengan demikian, dari empat periode yang diikuti, tahun 2011 merupakan capaian prestasi yang paling rendah jika dibandingkan dengan tiga periode sebelumnya.

Berikut ini deskripsi prestasi matematika siswa Indonesia secara umum dalam tampilan boxplot.

Gambar 4.18. Prestasi Matematika Siswa

Dalam tampilan gambar boxplot di atas, beberapa ukuran statistik dapat diketahui. Nilai

statistik pada badan bloxpot adalah nilai median sebesar 399,79, sedangkan Q1 memiliki nilai 345,07

dan Q3 memiliki nilai 458,56. Nilai prestasi terendah adalah 99,31 dan nilai prestasi tertinggi adalah

689,64. Dalam tampilan boxplot di atas juga dapat terlihat adanya nilai outlier atau nilai yang berada

di atas 1,5 kali jangkauan kuartil yang berada di luar badan boxplot. Pada bagian atas boxplot terlihat

Dalam tampilan gambar boxplot di atas, beberapa ukuran statistik dapat diketahui. Nilai

statistik pada badan bloxpot adalah nilai median sebesar 399,79, sedangkan Q1 memiliki nilai 345,07

dan Q3 memiliki nilai 458,56. Nilai prestasi terendah adalah 99,31 dan nilai prestasi tertinggi adalah

689,64. Dalam tampilan boxplot di atas juga dapat terlihat adanya nilai outlier atau nilai yang berada

di atas 1,5 kali jangkauan kuartil yang berada di luar badan boxplot. Pada bagian atas boxplot terlihat

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 19-0)