• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 ii

Kata Pengantar

Pendidikan memiliki peran penting dalam proses pembangunan suatu bangsa dan negara.

Perubahan zaman akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus disejajarkan dengan penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan yang berhasil dan berkualitas merupakan salah satu syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan nasional.

Periode 2012 sampai dengan 2020 merupakan periode terpenting dilihat dari usia produktif masyarakat Indonesia. Usia produktif manusia Indonesia dalam periode ini mencapai 50% populasi penduduk. Momen ini merupakan kesempatan emas untuk mendidik anak bangsa agar menjadi manusia yang berkualitas. Untuk itulah, perlu diidentifikasi mengenai kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang salah satunya didasarkan atas hasil studi literasi internasional yang dilakukan oleh IEA melalui Program PIRLS 2011. Hasil studi ini dianalisis berdasarkan konteks keindonesiaan dalam peta internasional. Berdasarkan temuan terpetakan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia, baik di tataran internasional maupun nasional, masih rendah. Berbagai factor penyebabanya cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah factor internal siswa seperti kebiasaan, minat, motivasi, dan budaya baca yang masih rendah; system pembelajaran membaca di sekolah belum memadai; isu literasi belum dijadikan dasar pengembangan kurikulum dan buku teks pelajaran serta buku pendidikan; ketersediaan sarana dan prasarana berupa buku di perpustakaan yang belum memadai; dan sistem penilaian yang masih lemah.

Laporan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam kebijakan perbaikan pendidikan Indonesia di masa depan. Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan limpahan berkah laporan penelitian analisis hasil belajar peserta didik berdasarkan literasi membaca hasil studi internasional PIRLS 2011 dapat diselesaikan. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepada Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud atas kepercayaan dan fasilitasi yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan.

Jakarta, 5 Desember 2012

(3)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 iii

Daftar Isi

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ... iv

Daftar Gambar ... v

Daftar Lampiran ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Peelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II MODEL UNTUK PRESTASI BELAJAR ... 5

2.1. Faktor-Faktor yang Memengaruihi Prestasi Siswa ... 5

2.2. Pendekatan Multi Level Untuk Prestasi Belajar ... 7

BAB III METODE PENELITIAN ... 10

3.1. Sampel Penelitian ... 10

3.2. Instrumen Penelitian ... 10

3.3. Uji Validitas Konstruk ... 14

3.4. Teknik Analisis Data ... 14

BAB IV Hasil Penelitian... 15

4.1. Deskripsi Responden ... 15

4.2. Prestasi Matematika ... 30

4.3. Prestasi Siswa Berdasarkan Variabel Level Siswa dan Sekolah ... 39

4.4. Hasil Analisis Hubungan Antar Variabel dengan Multi Level ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 53

5.1. Kesimpulan ... 53

5.2. Rekomendasi ... 54

Daftar Pustaka ... 56

Lampiran-lampiran ... 57

(4)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 iv

Daftar Tabel

Halaman

Tabel 3.1 Variabel Level Siswa ... 11

Tabel 3.2 Variabel Level Sekolah ... 12

Tabel 4.1 Mean Prestasi Matematika ... 31

Tabel 4.2 Mean Prestasi Bidang Algebra ... 33

Tabel 4.3 Mean Prestasi Bidang Data & Chance ... 34

Tabel 4.4 Mean Prestasi Bidang Number ... 35

Tabel 4.5 Mean Prestasi Aspek Knowing ... 36

Tabel 4.6 Mean Prestasi Aspek Applying ... 37

Tabel 4.7 Mean Prestasi Aspek Reasoning ... 38

Tabel 4.8 Prestasi Matematika Berdasarkan Jenis Kelamin ... 39

Tabel 4.9 Prestasi Matematika Berdasarkan Jumlah Buku yang ada di Rumah ... 40

Tabel 4.10 Prestasi Matematika Berdasarkan Frekuensi Guru Memberikan PR ... 42

Tabel 4.11 Prestasi Matematika Berdasarkan Waktu yang diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR ... 43

Tabel 4.12 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel pada Level Siswa ... 47

Tabel 4.13 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel pada Level Sekolah... 49

Tabel 4.14 Koefisien Regresi Random Sloop ... 51

(5)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 v

Daftar Gambar

Halaman

Gambar 2.1 Model Prestasi Belajar pada Level Siswa dan Level Sekolah ... 8

Gambar 4.1 Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin ... 15

Gambar 4.2 Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran ... 16

Gambar 4.3 Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah ... 17Error! Bookmark not defined. Gambar 4.4. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu ... 18

Gambar 4.5. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah ... 18

Gambar 4.6. Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ingin Dicapai Siswa ... 19

Gambar 4.7. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR ... 20

Gambar 4.8. Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin ... 21

Gambar 4.9. Deskripsi Guru Berdasarkan Usia ... 22

Gambar 4.10. Deskripsi Guru Berdasarkan Pengalaman Mengajar ... 23

Gambar 4.11. Deskripsi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 24

Gambar 4.12. Deskripsi Guru Berdasarkan Bidang Studi Utama ... 25

Gambar 4.13. Deskripsi Guru dalam Menggunakan Komputer ... 26

Gambar 4.14. Deskripsi Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas ... 27

Gambar 4.15. Deskripsi Jumlah Siswa di Sekolah ... 28

Gambar 4.16. Persentase Siswa Kurang Mampu di Sekolah ... 29

Gambar 4.17. Jumlah Komputer yang Dimiliki Sekolah ... 30

Gambar 4.18. Prestasi Matematika Siswa ... 31

Gambar 4.19. Sebaran Data Prestasi Matematika ... 32

Gambar 4.20. Sebaran Data Prestasi Bidang Algebra ... 33

Gambar 4.21. Sebaran Data Prestasi Bidang Data & Chance ... 34

Gambar 4.22. Sebaran Data Prestasi Bidang Number ... 35

Gambar 4.23. Sebaran Data Prestasi Aspek Knowing ... 36

Gambar 4.24. Sebaran Data Prestasi Aspek Applying ... 37

Gambar 4.25. Sebaran Data Prestasi Aspek Reasoning ... 38

Gambar 4.26. Perbedaan Mean Prestasi Berdasarkan Jenis Kelamin ... 40

Gambar 4.27. Perbedaan Mean Prestasi Berdasarkan Buku yang Ada di Rumah .. 41

Gambar 4.28. Perbedaan Mean Berdasarkan Frekuensi Guru Memberikan PR ... 42

Gambar 4.29. Prestasi Matematika Berdasarkan Waktu untuk Mengerjakan PR ... 44

Gambar 4.30. Prestasi Berdasarkan Kepedulian Orang Tua ... 44

Gambar 4.31. Prestasi Siswa Berdasarkan Tindakan Bullying oleh Siswa Lain ... 45

(6)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 vi

Daftar Lampiran

Halaman

Lampiran 1 SEM Level Siswa ... 57

Lampiran 2 SEM Level Sekolah ... 81

(7)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 1

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah penelitian yang dilakukan dalam rangka membandingkan prestasi Matematika dan IPA siswa kelas 8 (delapan) di beberapa negara. Secara umum TIMSS bertujuan untuk memonitor hasil dari sistem pendidikan yang berkaitan dengan pencapaian belajar siswa kelas 4 (empat) dan 8 (delapan) dalam bidang Matematika dan IPA. TIMSS didesain untuk membantu pemerintah tidak hanya memahami tetapi juga meningkatkan efektivitas sistem pendidikan.

Menurut mantan Presiden IEA Prof. T. Plomp (1999) sekurangnya ada lima fungsi/ manfaat dari keikutsertaan dalam studi yang diselenggarakan oleh IEA yaitu:

(1) description/ mirror functions, (2) benchmarking,

(3) monitoring of quality of education, (4) understanding observed differences, dan (5) cross-national research.

Jika keikutsertaan dalam suatu studi komparatif internasional dapat difungsikan sebagaimana di atas, tentulah berbagai kebijakan dapat disesuaikan dan dikembangkan, bahkan dapat dirumuskan suatu reformasi pendidikan dalam rangka mencapai kualitas yang lebih tinggi. Namun sayangnya hal ini justru lebih banyak terjadi di negara maju yang menjadi peserta studi seperti ini.

TIMSS melakukan monitoring prestasi matematika dan IPA secara rutin setiap 4 (empat) tahun sekali, dimulai pada tahun 1995, kemudian tahun 1999, 2003, 2007, dan 2011. Indonesia bergabung sebagai salah satu negara peserta TIMSS sejak pertama kali, dan melakukan monitoring khusus pada kelas 8 (umur 13 tahun). Namun Indonesia masuk dalam laporan TIMSS baru 4 (empat) periode, yaitu tahun 1999, 2003 dan 2007, dan 2011.

Hasil penilaian TIMSS terhadap prestasi siswa Indonesia bidang matematika tiga periode sebelumnya adalah sebagai berikut: pada tahun 1999 Indonesia berada pada peringkat 34 dari 38 negara. Tahun 2003, berada pada peringkat 35 dari 46 peserta. Dan pada tahun 2007, Indonesia berada pada peringkat 36 dari 49 negara peserta. Data peringkat ini menunjukkan bahwa prestasi Matematika Indonesia cukup rendah dan berada pada kisaran peringkat 32 hingga 37 dari negara- negara anggota IEA yang jumlahnya sekarang lebih dari 50 negara. Hal ini akan lebih jelas bila acuan untuk melihat perkembangan Matematika adalah skor literasi yang dicapai oleh Indonesia.

Sedangkan skor matematika pada tahun 1999 adalah 403, tahun 2003 adalah 411 dan tahun 2007 adalah 405. Rata-rata skor dari semua negara peserta adalah 500 dengan simpangan baku 100.

Trend perkembangan skor Matematika siswa Indonesia tersebut menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, tidak ada peningkatan prestasi dari tahun ke tahun secara signifikan. Prestasi Matematika ternyata berjalan di tempat. Hal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan bagi pihak- pihak yang terlibat dan peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Apalagi bila mengingat anggaran pendidikan yang selalu meningkat, bahkan berlipat-lipat. Kondisi atau faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan prestasi siswa Indonesia di bidang Matematika tidak mengalami kemajuan? Apa implikasinya bagi pembelajaran, kurikulum, guru dan lembaga sekolah serta pengambilan kebijakan berkaitan dengan pendidikan?

Pada tahun 2011 Indonesia berpartisipasi kembali dalam kegiatan TIMSS. Laporan

internasional telah diberikan kepada masing-masing negara peserta TIMSS. Untuk mengetahui lebih

jauh capaian prestasi siswa Indonesia terutama dalam bidang matematika memerlukan analisis lebih

lanjut sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas atas prestasi yang dicapai siswa Indonesia.

(8)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 2 Di samping memberikan informasi tentang kemampuan Matematika, data TIMSS tahun 2011 juga memberikan informasi berkaitan dengan siswa, guru dan sekolah. Kuesioner untuk siswa meliputi latar belakang siswa (jenis kelamin, pendidikan orang tua, dll), fasilitas belajar yang dimiliki di rumah, aktivitas di waktu luang, dan mengerjakan tugas sekolah, aspirasi siswa dalam pendidikan, sikap siswa terhadap matematika, sikap terhadap sekolah, sikap siswa terhadap guru, bullying yang dialami siswa, dan self efficacy siswa. Kuesioner guru memberikan gambaran mengenai kualitas guru (pengalaman mengajar, latar belakang pendidikan, tingkat pendidikan dan pengembangan diri guru), good teaching practice, interaksi guru, dan sebagainya. Sedangkan kuesioner sekolah memberikan gambaran mengenai lokasi, keadaan sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah.

Pada studi TIMSS yang dilaporkan adalah perbandingan skor prestasi Matematika dari berbagai negara anggota IEA. Mean skor antar-negara dibandingkan untuk mendapatkan posisi/ ranking dari masing-masing negara. Karena dilakukan secara berkala dengan siklus empat tahunan, maka trend dari kemajuan di masing-masing negara maupun perbandingan trend tersebut antar negara dapat dilakukan. Studi internasional lain yang hampir sama adalah “Program for International Student Achievement (PISA)” yang dilakukan oleh negara-negara anggota OECD. Meskipun bukan anggota OECD, Indonesia ikut di dalamnya. Dengan membandingkan skor prestasi siswa dari tahun ke tahun, baik secara internal maupun antar negara, atau antar studi yaitu TIMSS dan PISA, diharapkan Indonesia dapat memperoleh masukan berharga bagi pengambilan kebijakan pendidikan nasional yang paling tepat, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan.

Berbeda dengan banyak negara maju, sampai saat ini Indonesia belum memanfaatkan secara optimal data dan informasi yang dihasilkan dari keikut-sertaannya dalam studi internasional seperti TIMSS dan PISA ini. Padahal biaya untuk keikut-sertaan itu cukup tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya analisis data yang lebih mendalam, yang bukan sekedar menampilkan secara deskriptif serta mempublikasikan tabel ranking dari skor antar negara. Misalnya, analisis mengenai bagaimana dan mengapa skor matematika anak Indonesia tergolong sangat rendah di dunia. Kalaupun analisis seperti itu sudah dilakukan, tampaknya masih amat sedikit yang menyangkut proses tercapainya prestasi matematika tersebut. Analisis yang melibatkan faktor-faktor yang memengaruhi prestasi matematika perlu dilakukan agar dapat diketahui hal apa saja yang secara dominan memengaruhi prestasi tersebut.

Ada beberapa variabel yang terdapat pada data TIMSS yang menarik untuk dilihat pengaruhnya terhadap prestasi. Variabel-variabel tersebut berkaitan dengan siswa, guru, sekolah dan orang tua (meskipun informasi tentang orang tua siswa diperoleh melalui kuesioner siswa, pertanyaannya mengenai orang tua tapi diajukan kepada siswa, misalnya pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan orang tua). Sedangkan variabel tentang guru diperoleh melalui kuesioner guru. Misalnya yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan guru, tingkat pendidikan guru, lama mengajar/

pengalaman mengajar, rasa aman yang dimiliki guru, kepuasan kerja yang dirasakan, serta banyak hal yang berkenaan dengan metode/teknik yang digunakan guru dalam mengajar. Adapun variabel sekolah berisi tingkat sosial ekonomi siswa, sumber daya sekolah, dan kepemimpinan.

Dalam penelitian ini dilakukan pengelompokan butir-butir peertanyaan yang terkait agar dapat ditentukan konstruk yang sesuai. Pengelompokan dilakukan baik untuk variabel siswa yang berasal dari angket siswa, maupun variabel sekolah yang berasal dari angket guru dan kepala sekolah.

Seperti telah disebutkan dimuka, dalam penelitian ini selain berbentuk deskriptif, juga akan dianalisis beberapa variabel baik variabel pada level siswa maupun variabel pada level sekolah (kuesioner guru dan kepala sekolah) yang terkait dengan prestasi belajar. Hal yang mendasari pemilihan ini adalah bahwa, secara teoritik, prestasi belajar siswa dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh kondisi internal siswa yang bersangkutan maupun oleh kondisi eksternalnya..

Berdasarkan data yang tersedia dalam penelitian ini, kondisi tersebut antara lain adalah self efficacy,

attitude, bullying, sikap siswa terhadap guru, sikap siswa terhadap sekolah dan persepsi tentang

pentingnya matematika, siswa aktif belajar, good teaching practice, efficacy guru, sikap terhadap

profesi guru, penggunaan komputer dalam mengajar, hambatan yang dialami guru dalam mengajar,

interaksi antar sesama guru, pendidikan guru, lama mengajar sumber daya sekolah dan kepemimpinan

kepala sekolah. Pertanyaannya, apakah ada suatu model teoretis tertentu (tentang struktur hubungan

(9)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 3 antara berbagai kondisi tersebut dengan prestasi belajar) yang dapat digunakan untuk menjelaskan prestasi siswa? Dalam hal ini akan dikaji keterkaitan antara variabel siswa dan variabel sekolah tersebut dengan prestasi belajar, khususnya pada bidang matematika dengan menggunakan analisis multilevel.

1.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah gambaran prestasi matematika siswa Indonesia berdasarkan data TIMSS tahun 2011 dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah?

2. Bagaimanakah struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika?

3. Bagiamanakah struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat)?

4. Bagaimana pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui gambaran prestasi siswa dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah.

2. Untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

3. Untuk mengetahui struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat).

4. Untuk mengetahui pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan/menambah informasi bagi kepentingan

penyusunan kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi murid di bidang matematika. Selain itu

juga bisa menjadi sumbangan bagi pengembangan model teoritis tentang prestasi belajar siswa di

Indonesia. Jika kita dapat mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi prestasi siswa dalam

Matematika baik pada tingkat siswa dan atau tingkat sekolah, maka kita dapat menyesuaikan

kebijakan pendidikan baik dalam hal teknis pendidikan maupun aspek manajemen, seperti alokasi

anggaran, sistem organisasi, dsb. Dari sisi teknis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat pula

untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan kurikulum matematika di Indonesia.

(10)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 4

Bab II

Model Untuk Prestasi Belajar

2.1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Prestasi Siswa

Fokus dari penelitian ini adalah untuk menemukan atau sekurangnya mengidentifikasi variabel- variabel yang menjadi determinan dari prestasi belajar dalam bidang Matematika, khususnya pada anak Indonesia yang berada di kelas 8. Tentu saja secara umum prestasi belajar bergantung kepada banyak hal baik yang sangat situasional dan kasuistik (sakit gigi waktu ujian, dsb.), maupun yang bersifat lebih sistematik (seperti kurang minat, guru tak kompeten, kurikulum tak relevan, dsb.).

Tentu saja yang akan dibahas di sini adalah hal-hal atau variabel yang sistematik.

Pada tingkat internal siswa (personal variables), terdapat beberapa teori psikologi tentang hal yang memengaruhi tinggi rendahnya prestasi atau performance seseorang, salah satunya yang terkenal adalah teori atribusi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Heider (1958), di mana melalui pendekatan teori atribusi ia mengajukan rumusan matematis untuk “performance”, yaitu :

Konsep ini akhirnya menjadi sangat populer setelah seringkali dikutip oleh ahli-ahli lainnya ketika mereka membicarakan tentang “performance”, seperti misalnya oleh Anderson dan Butzin (1974), Maier (1965), O’Shaughnessy (1971), Lawler dan Porter (1967), Oliver (1974), dan Vroom (1964). Seperti terlihat pada rumusan di atas, menurut teori ini prestasi atau “performance” adalah hasil interaksi antara motivasi dengan abiliti. Dengan demikian, orang yang tinggi motivasinya tetapi memiliki abiliti yang rendah akan menghasilkan “performance” yang rendah. Begitu pula halnya dengan orang yang sebenarnya berabiliti tinggi tetapi rendah motivasinya. Atas dasar ini Vroom (1964) menyarankan agar karyawan yang akan di “training” haruslah orang yang bermotivasi tinggi, sedangkan karyawan yang perlu dimotivasi hanyalah mereka yang berabiliti tinggi. Jika diaplikasikan di dunia pendidikan, artinya seorang anak akan menjadi “under-achiever” jika tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Dalam konteks belajar di sekolah, tentu hal-hal (variabel) di luar diri siswa juga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar atau “performance” tersebut. Walberg (1981) mengidentifikasi tiga kelompok variabel yang memengaruhi bukan hanya prestasi tetapi juga aspek perkembangan afektif dan behavioral siswa, yaitu:

1. Variabel personal seperti prestasi sebelumnya, umur, motivasi, self concept, dsb 2. Variabel instruksional seperti intensitas dan kualitas serta metode pengajaran, dan

3. Variabel lingkungan (environmental) yang terkait dengan keadaan di rumah, kondisi guru, kelas, dan sekolah, teman belajar, media belajar, dsb.

Secara lebih spesifik lagi, Walberg (1992) mereview 8000 penelitian tentang pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap prestasi belajar khususnya Matematika dan IPA, dan ia menemukan bahwa ketiga kelompok variabel tersebutlah yang secara konsisten terbukti menunjukkan pengaruh serta memiliki nilai prediksi tinggi terhadap prestasi belajar. Wilkin, Zembilas, dan Travers (2002) yang melakukan penelitian serupa dengan menggunakan data TIMSS, juga menggunakan pendekatan yang sama, yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel determinan dari prestasi belajar itu ke dalam 3 kelompok yaitu student personal variables, instructional, dan environmental. Oleh sebab itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan yang sama yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel yang diteorikan sebagai determinan dari

Performance = Motivation x Ability (disingkat: P = M x A)

(11)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 5 prestasi belajar tersebut. Namun pengelompokan yang dimaksud dibagi pada dua kelompok yaitu level siswa dan level sekolah.

Dalam hal kelompok variabel manakah yang lebih dominan dalam memengaruhi prestasi belajar, terdapat hasil penelitian yang kesimpulannya berbeda-beda. Larry Sutter (2000), misalnya, mengutip hasil penelitian James Coleman yang terkenal di tahun 1960an di mana kesimpulannya adalah mengatakan bahwa ... “student performance was determined more by family background than by school characteristics”. Namun demikian, dalam studinya yang membandingkan prestasi matematika dan IPA secara internasional dengan menggunakan data TIMSS, Sutter (2000) menyimpulkan bahwa perbedaan prestasi belajar antar negara lebih banyak ditentukan oleh variabel- variabel kurikuler dan pengajaran. Ia juga mengutip kesimpulan penelitian Gustafsson dan Undheim (1996) yang mengatakan bahwa .. “ that results of international-level studies might be accounted for by differences in curriculum rather than intellectual differences among students”. Sebaliknya Heyneman (1997) menemukan yang sebaliknya yaitu student personal variable yang lebih menentukan, terutama sekali motivasi/ spirit belajar. Berikut adalah kutipan tulisannya (Heyneman, 1997):

“What differentiates American children from other children in the world – and the explanation of poor performance among minorities and the poor – is the American public policy toward children.

“In general, children in the United States are provided with too much opportunity and too few obligations; too much choice and too few responsibilities.” In addition, “U.S. school children are influenced by a common assumption that curriculum has to be entertaining”,……

…. “It isn’t poverty which drives scores of U.S. students down,” I said, “or race, or even minority status, but rather impoverish spirit”. …..

….” It is the general lack of a desire to learn and this, in turn, is affected by public policy.

…...” (page 29).

Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh variabel-variabel psikologis siswa biasanya lebih banyak dilakukan secara tersendiri di mana pengaruh variabel psikologi tertentu diteliti. Dalam hal ini, yang secara konsisten ditemukan pengaruhnya terhadap prestasi belajar antara lain adalah “self efficacy” (misalnya Ramdass and Zimmerman (2008). Sedangkan variabel yang umumnya tak berpengaruh terhadap prestasi adalah sikap terhadap mata pelajaran. Reiss (2009) menemukan ada enam “personality needs” yang erat kaitannya dengan “low achievement in school” yaitu “high need for acceptance”, “low need for cognition”, “lack of ambition”, “low need for order”, “low need for honor”, dan “high need for vengeance”. Variabel lingkungan belajar yang ditemukan berpengaruh misalnya adanya standard kelulusan (Cavanagh, 2009; Mc Neil, 2009). Penguasaan guru terhadap materi pelajaran misalnya, ditemukan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dari pada penguasaan metode mengajar (Telese, 2005; Viadero, 2009). Penelitian yang lainnya (Moon and Lee, 2009) tentang predictors dari prestasi anak di sekolah, menemukan bahwa yang signifikan pengaruhnya adalah “family factors especially parent education level and income”, “parent-child home activity”, dan “parental psychological well-being”. Selanjutnya, ia menemukan bahwa “parent school involvement” tak berkaitan dengan prestasi anaknya di sekolah.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa prestasi yang dihasilkan oleh siswa bukanlah hasil dari sebuah faktor, melainkan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait satu sama lainnya.

Secara umum prestasi siswa dalam bidang matematika dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal siswa serta interaksi dari keduanya. Dalam penelitian ini, faktor yang dianggap memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa di bidang matematika ditetapkan berdasarkan data yang diperoleh dari level siswa berupa angket siswa dan level sekolah berupa angket guru dan angket kepala sekolah.

Dari angket siswa diperoleh informasi mengenai faktor internal dari level siswa yang diduga

memengaruhi prestasi siswa, yaitu self efficacy siswa, attitude siswa terhadap matematika, attitude

siswa terhadap sekolah, sikap siswa terhadap guru, pentingnya matematika, orang tua peduli, dan

tindakan bully yang dialami siswa. Sedangkan faktor eksternal dari level sekolah yang didapatkan

dari angket guru adalah siswa aktif belajar, good teaching practice, efficacy guru, hambatan guru

dalam mengajar, penggunaan komputer dalam mengajar, interaksi antar sesama guru, sikap terhadap

profesi, dan lama mengajar. Sedangkan dari angket sekolah, faktor yang diduga memberikan

(12)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 6 pengaruh kepada prestasi siswa adalah kepemimpinan sekolah, sosial ekonomi sekolah, dan sumber daya yang dimiliki sekolah.

2.2. Pendekatan Multi Level Untuk Prestasi Belajar

Berdasarkan pada ketersediaan data, diteorikan bahwa ada tujuh variabel dari level siswa, dan tiga belas variabel dari level sekolah terdiri dari sepuluh variabel guru dan tiga variabel sekolah (seperti yang telah diidentifikasi dari kuesioner TIMSS di atas) yang mempunyai pengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi siswa, baik yang berupa pengaruh secara langsung maupun tidak langsung dan interaksinya. Adapun model teoretis yang disusun berdasarkan ketersediaan data dan akan digunakan sebagai landasan bagi pengembangan model dalam penelitian ini adalah seperti pada gambar berikut ini:

WITHIN

BETWEEN

(13)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 7 Gambar 2.1. Model Prestasi Belajar pada Level Siswa dan Level Sekolah

Tentu saja sangat banyak model yang dapat diteorikan berdasarkan pada variable-variabel pada gambar di atas, tetapi penulis akan memulai analisis dengan landasan teoretis ini. Deskripsi dari gambar di atas adalah sebagai berikut. Pada model within, prestasi matematika (Ach_Mat) dipengaruhi secara langsung oleh dua variabel yaitu self efficacy (effmath) dan attitude siswa terhadap matematika (attmath). Variabel-variabel yang lain juga memiliki pengaruh terhadap prestasi matematika, tetapi tidak secara langsung, yaitu melalui self efficacy dan attitude (sikap terhadap matematika). Self efficacy dipengaruhi oleh sikap terhadap matematika (attmat). Sikap terhadap matematika dipengaruhi sikap siswa terhadap guru (ssguru), pentingnya matematika (import), kepedulian orang tua (otpeduli), dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain (bully). Sikap siswa terhadap guru dan sikap siswa terhadap sekolah dipengaruhi oleh kepedulian orang tua dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain.

Selanjutnya pada model between, variabel level sekolah diukur melalui tiga belas variabel dari kuesioner guru dan kepala sekolah. Ketiga belas variabel tersebut adalah dari kuesioner guru meliputi: siswa aktif belajar (sab), good teaching practice (gtp), efficacy guru (effguru), penggunaan sumber daya sekolah (useres), penggunaan komputer dalam mengajar oleh guru (usecomp), hambatan yang dialami guru, lama mengajar guru (exp), sikap terhadap profesi (attprof), dan pendidikan guru (pend). Variabel level sekolah yang bersumber dari dari kuesioner kepala sekolah adalah sosial ekonomi siswa di sekolah (sosek_s), sumber daya yang dimiliki sekolah (sresourc), dan kepemimpinan di sekolah (leader),.

Varaibel level sekolah tersebut diteorikan sebagai berikut. Sosial ekonomi sekolah diteorikan

memengaruhi sumber daya sekolah, penggunaan komputer, hambatan guru dalam mengajar, interaksi

antar guru. Selain itu sosial ekonomi sekolah juga memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap

prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Kepemimpinan sekolah

memengaruhi efficacy guru, good teaching practice dan juga memengaruhi prestasi siswa. Selain itu

kepemimpinan sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan

memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel lama mengajar guru diteorikan

memengaruhi siswa aktif belajar dan interaksi antar guru. Variabel sikap terhadap profesi

memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Variabel pendidikan memengaruhi efficacy

guru dan intaraksi antar guru.

(14)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 8 Pada variabel sumber daya sekolah diteorikan memengaruhi penggunaan sumber daya sekolah, penggunaan komputer dalam mengajar, good teaching practice, dan memengaruhi prestasi. Selain itu, sumber daya sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Interaksi antar sesama guru memengaruhi efficacy guru. Variabel penggunaan komputer dan hambatan guru memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Selain itu, hambatan guru juga diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar, dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel efficacy guru diteorikan memengaruhi good teaching practice dan siswa aktif belajar. Selain itu, efficacy guru juga diteorikan memengaruhi prestasi dan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Untuk variabel good teaching practice diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Sedangkan variabel siswa aktif belajar diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi.

Dalam penyusunan model prestasi belajar ini, semua variabel baik pada level siswa maupun

sekolah akan dilihat pengaruhnya baik langsung maupun tidak langsung serta interaksi yang didapat

dari kedua level tersebut terhadap prestasi matematika.

(15)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 9

Bab III

Metode Penelitian

3.1. Sampel Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada data TIMSS tahun 2011. Berdasarkan data TIMSS tersebut, diketahui bahwa subyek penelitian adalah siswa berusia 13 tahun yang bersekolah di SMP dan MTs pada tahun 2011 berjumlah 5795 siswa. Sedangkan untuk sampel guru terdapat 170 orang dan sampel sekolah sebanyak 153 sekolah. Teknik dan prosedur penentuan sampel dan pengambilan data dapat dilihat pada laporan teknis TIMSS tahun yang bersangkutan, di mana teknik random sampling yang dilakukan amat kompleks, serta bersifat multi level, clustering, dan stratified. Hal tersebut dilakukan mengingat amat heterogennya negara peserta TIMSS baik dari segi jumlah penduduk, murid, dan sekolah, maupun variasi aspek lainnya seperti kurikulum dan sebagainya. Semua hal ini harus diperhitungkan agar perbandingan secara internasional dapat dilakukan secara obyektif.

3.2. Instrumen Penelitian

Alat pengumpulan data TIMSS terdiri dari dua bentuk umum, pertama adalah tes kemampuan (prestasi belajar) dan yang kedua adalah kuesioner. Kuesioner terdiri dari kuesioner siswa yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh siswa, kusioner guru yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh guru, dan kuesioner sekolah yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh kepala sekolah.

3.2.1. Tes kemampuan

Tes prestasi ini untuk mengukur kemampuan matematika. Dalam hal ini, kemampuan matematika meliputi Aljabar, Geometri, Data, dan Angka. Pada kemampuan matematika, digunakan berbagai macam format tes untuk mengukur aspek kognitif knowing, applying, dan reasoning. Aspek knowing terdiri dari kemampuan melakukan recall, recognize, compute, retrieve, measure, dan classify/order. Aspek applying terdiri dari kemampuan melakukan select, represent, model, implement, dan solve routine problem. Sedangkan aspek reasoning meliputi kemampuan melakukan analyze, generalize, sinthesize/integrate, justify, dan solve non-routine problem.

Pada penelitian ini skor tes tes kemampuan/prestasi matematika yang digunakan adalah prestasi matematika secara umum, tidak pada masing-masing konten atau aspek.

3.2.2. Angket/Kuesioner

Angket/Kuesioner bertujuan untuk mengumpulkan data dari variabel yang terkait dengan prestasi belajar, baik itu tentang siswa dan keluarganya yang termasuk dalam level siswa dan angket guru dan kepala sekolah yang termasuk dalam level sekolah. Angket/ kuesioner yang diisi oleh siswa maupun guru dan kepala sekolah dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Dalam penelitian ini hanya variabel-variabel yang signifikan saja pada saat dilakukan analisis SEM yang terpakai, yang selanjutnya akan dianalisis dengan multi level. Kuesioner tersebut adalah:

a. Kuesioner Siswa

Angket/kuesioner yang diisi oleh siswa dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak.

Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(16)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 10 Tabel 3.1. Variabel Level Siswa

NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR

1 ACH_MATH Prestasi Matematika Skor dan isi pernyataan 2 EFFMATH Efficacy terhadap

Matematika  USUALLY DO WELL IN MATH

 MATHEMATICS IS MORE DIFFICULT

 MATHEMATICS NOT MY STRENGTH

 LEARN QUICKLY IN MATHEMATICS

 MAT MAKES CONFUSED AND NERVOUS

 GOOD AT WORKING OUT PROBLEMS

 I CAN DO WELL IN MATHEMATICS

 I AM GOOD AT MATHEMATICS

 MATHEMATICS HARDER FOR ME 3 ATTMATH Sikap terhadap

Mathematics  ENJOY LEARNING MATHEMATICS

 WISH HAVE NOT TO STUDY MATH

 MATH IS BORING

 LEARN INTERESTING THINGS

 LIKE MATHEMATICS

 MPORTANT TO DO WELL IN MATHJOB INVOLVING MATHEMATICS

4 ATTSCH Sikap Terhadap

Ssekolah  BEING IN SCHOOL

 SAFE AT SCHOOL

 BELONG AT SCHOOL 5 SSGURU Sikap Siswa Terhadap

Guru  TEACHER IS EASY TO

UNDERSTAND

 INTERESTED IN WHAT TCHR SAYS

 INTERESTING THINGS TO DO 6 IMPORT Pentingnya Matematika  MATHEMATICS WILL HELP ME

 NEED MAT TO LEARN OTHER THINGS

 NEED MATH TO GET INTO <UNI>

 NEED MAT TO GET THE JOB I WANT 7 OTPEDULI Kepedulian Orang Tua  HOME\PARENTS ASK LEARNING

 TALKING ABOUT SCHOOL

 PARENTS MAKE SURE

 PARENTS CHECK HOMEWORK 8 BULLY Tindak kekerasan yang

dilakukan siswa terhadap siswa lain

 MADE FUN OF

 LEFT OUT OF GAMES

 SPREADING LIES ABOUT ME

(17)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 11

NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR

 STEALING STH FROM ME

 HURT BY OTHERS

 FORCE TO DO STH

b. Kuesioner Guru dan Kepala Sekolah

Angket/kuesioner yang diisi oleh guru dan kepala sekolah juga dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.2. Variabel Level Sekolah

NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR

1 EXP Lama mengajar  Years Been Teaching

2 PEND Tingkat pendidikan

guru  Level Of Formal Education Completed 3 ATTPROF Sikap terhadap profesi

guru  Content Profession

 Satisfied Teacher

 Level Of Enthusiam

 Work Importance

 Continue As A Teacher

 Level Of Frustration 4 EFFGURU Efficacy guru  Answer Students Questions

 Variety Problemssol.

 Challenging Tasks

 Engage Students Interest

 Appreciate Math

5 USERES Penggunaan sumber

daya belajar  Resources\Textbooks

 Resources\Workbooks Or Worksheets

 Resources\Concrete Objects Help

 Resources\Computer Software 6 HAMGUR Hamabatan guru dalam

mengajar  Lacking Knowledge

 Lack Of Nutrition

 Lack Of Sleep

 Special Need Students

 Disruptive Students

 Uninterested Students 7 USECOMP Penggunaan komputer

dalam mengajar  Use Computers\Preparation

 Use Computers\Administration

 Use Computers\Instruction 8 INTERG Interaksi antar sesama

guru  Discuss Concept

 Collaborate

(18)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 12

NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR

 Share Learning

 Visits

 Work Together

9 SAB Siswa aktif belajar  Ask Students\Explain How To Solve

 Ask Students\Memorize Rules

 Ask Students\Work With Guidance

 Ask Students\Work In Whole Class

 Ask Students\Explain Their Answers 10 GTP Good teaching practice  Summarizing

 Relate To Students Lives

 Elicit Reasons

 Encourage Students

 Praise Students

 Bring Interesting Material 11 SRESOURC Sumber daya sekolah  Total Number Computers

12 SOSEK_S Sosial ekonomi siswa  Students Background\Economic Disadva 13 LEADER Kepemimpinan di

sekolah  Vision Or Goals

 Developing Goals

 Orderly Atmosphere

 Clear Rules

 Addressing Behavior

 Initiating Projects

 Professional Development

(19)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 13 3.3. Uji Validitas Konstruk

Pengujian validitas konstruk dilakukan dengan cara menguji hipotesis yang menyatakan bahwa semua item mengukur satu hal saja yaitu konstruk yang didefinisikan. Dalam hal ini, metode statistika yang dikenal sebagai Confirmatory Factor Analysis (CFA) dapat digunakan. Ada dua langkah yang perlu dilakukan dalam rangka analisis ini: (1) menguji hipotesis apakah suatu model uni-dimensional (semua item merupakan indikator bagi satu faktor yang hendak diukur) sesuai (fit) dengan data yang dihasilkan, dan (2) jika terbukti memang model uni-dimensional yang fit dengan data, maka dilakukan uji hipotesis apakah masing-masing item signifikan dalam menghasilkan informasi tentang faktor yang diukur. Hipotesis yang pertama dapat diuji dengan 

2

test apakah ada perbedaan yang signifikan antara model dan data, sedangkan hipotesis yang kedua dapat diuji misalnya dengan

t test  terhadap masing-masing koefisien muatan faktor, apakah signifikan lebih besar dari nol.

Sebelum dilakukan uji validitas, peneliti memeriksa kembali item dan pilihan skor yang tersedia. Bila ada item yang pernyataannnya berbentuk unfavorable maka skornya disesuaikan. Dalam penelitian ini, analisis faktor konfirmatorik (CFA) ini dilakukan terhadap variabel yang memiliki lebih dari tiga butir-butir pernyataan. Dalam penelitian ini, uji CFA menggunakan software Lisrel versi 8.8 (Joreskog danSorbom, 2006).

3.4. Teknik Analisis Data

Tujuan penelitian ini selain untuk mengetahui gambaran prestasi siswa bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah, dan yang utama adalah untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika, struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat), dan pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

Ada dua langkah analisis yang dilakukan peneliti untuk menguji model, pertama adalah menguji model pada masing-masing level baik level siswa maupun level sekolah sehingga akan diperoleh variabel-variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap variabel lainnya. untuk memperoleh variabel yang pengaruhnya signifikan terhadap variabel lainnya serta interaksinya peneliti menggunakan model persamaan struktural dengan latent variabel. Kedua, setelah dilakukan uji model persamaan dan diperoleh variabel yang signifikan pengaruhnya, peneliti melakukan analisis dengan menggunakan analsiis multi level. Variabel di level siswa dikelompokkan sebagai model within dan variabel di level sekolah sebagai model between.

Pada model within akan diketahui variabel apa saja yang memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi siswa, dan pengaruh tersebut apakah dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berada dalam model between.

Dalam penelitian ini, baik analisis persamaan struktural dengan latent variabel maupun analisis

multi level akan menggunakan software MPLUS (Muthen, 2012).

(20)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 14

Bab IV Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan deskrispsi tentang responden penelitian yang meliputi siswa, guru, dan sekolah. Selain itu, akan diuraikan tentang temuan-temuan yang didapat dalam penelitian mengenai prestasi matematika berdasarkan pengaruh variabel level siswa maupun level sekolah dan interaksinya. Yang pertama akan disajikan adalah gambaran deskriptif tentang responden dan tentang prestasi matematika, beberapa contoh prestasi siswa dikaitkan dengan variabel yang lain. Kemudian akan disajikan hasil temuan dari analisis multi level.

4.1. Deskripsi Responden

Responden dalam penelitian ini didasarkan pada data yang ada dalam laporan TIMSS tahun 2011. Responden terdiri dari siswa SLTP kelas delapan, guru , dan sekolah. Berikut ini gambaran responden penelitian.

4.1.1. Deskripsi Siswa

Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 5795 siswa. Deskripsi siswa yang akan ditampilkan berikut ini adalah tentang jenis kelamin, tahun kelahiran/usia, jumlah buku yang dimiliki di rumah, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan yang ingin dicapai siswa, waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR di rumah.

a. Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel sebanyak 5795 orang, bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin 48,7 %

51,3 %

(21)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 15 Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, responden dalam penelitian ini tidak jauh berbeda antara sampel laki-laki dengan perempuan. Responden laki-laki berjumlah 48,7 %, sedangkan perempuan sedikit lebih banyak yaitu berjumlah 51,3 %.

b. Tahun Kelahiran Siswa

Meskipun seluruh sampel penelitian adalah siswa SMP/MTs kelas delapan, namun responden penelitian memiliki tahun kelahiran yang berbeda, sehingga usia siswa pun berbeda-beda. Berikut ini gambaran responden berdasarkan tahun kelahiran.

Gambar 4.2. Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang tahun kelahiran responden adalah antara tahun 1993 sampai 2001. Tahun kelahiran responden yang dominan adalah tahun 1997 sebanyak 3063 siswa atau 52,9% yang berarti berusia 14 tahun. Berikutnya adalah responden yang lahir tahun 1996 sebanyak 1879 siswa atau 32,4% yang berarti berusia 15 tahun. Responden yang tertua adalah responden yang lahir tahun 1993 yang berarti berusia 18 tahun dengan jumlah sebanyak 13 siswa atau 0,2 %, sedangkan responden termuda lahir tahun 2001 sebanyak 9 siswa atau 0,2 %.

Perbedaan usia berdasarkan data di atas mungkin disebabkan oleh usia yang berbeda saat

memasuki jenjang sekolah dasar maupun menengah di kalangan siswa atau siswa tinggal kelas saat di

sekolah dasar atau menengah.

(22)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 16 c. Jumlah Kepemilikan Buku di Rumah

Deskripsi berikut ini berkaitan dengan pertanyaan “kira-kira berapa jumlah buku yang ada di rumahmu? (tidak termasuk majalah, surat kabar/koran atau buku-buku sekolahmu)”. Gambaran kepemilikan buku dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.3. Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah

Berdasarkan informasi di atas, sebagian besar siswa (52,7 %) memiliki buku antara 11 sampai 25 buku, berikutnya adalah siswa yang memiliki buku antara 0-10 buku sebanyak 24,8 %. Siswa yang memiliki buku antara 26-100 buku sebanyak 18,4 %. Sedangkan hanya 1,3 % siswa yang memiliki buku lebih dari 200 buku, dan 2,7 % siswa yang memiliki buku antara 101 sampai 200 buku.

Keberadaan buku di rumah akan menunjukkan aktivitas siswa di rumah. Bila melihat prosentase di atas, sebagian besar siswa hanya memiliki buku 11 sampai 25 buah buku, hal ini berarti bahwa hanya sedikit siswa yang menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca. Kondisi rendahnya kepemilikan buku di rumah mungkin disebabkan oleh kondisi ekonomi yang rendah sehingga daya beli buku di kalangan siswa juga menjadi rendah. Meskipun ada siswa yang memiliki buku lebih dari 100 buah, namun hal tersebut persentasenya sangat rendah.

d. Tingkat Pendidikan Ibu

Pendidikan ibu dari responden siswa memiliki tingkat yang berbeda-beda dalam rentang antara lulus (Sekolah Dasar) atau tidak bersekolah hingga lulus Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran tingkat pendidikan ibu dari siswa yang menjadi sampel.

24,8 %

52,7 %

18,4 %

2,7 % 1,3 %

(23)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 17 Gambar 4.4. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (31,5 %) pendidikan tertinggi ibu dari para siswa adalah lulus SD atau tidak bersekolah, berikutnya adalah SLTP sebanyak 16,1 %.

Sedaangkan yang berpendidikan S1 sebanyak 5,8 % dan S2/S3 sebanyak 1,3 %. Keadaan ini menggambarkan rendahnya tingkat pendidikan di kalangan perempuan di Indonesia. Padahal, ibu menjadi sentral dalam masalah rumah tangga termasuk salah satunya adalah mendidik dan membimbing anak.

e. Tingkat Pendidikan Ayah

Tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih baik dari pendidikan ibu. Sebanyak 25,5 % tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden adalah lulusan SLTA. Namun demikian, ayah dari siswa yang tingkat pendidikannya SD atau tidak bersekolah juga cukup banyak yaitu 24,8 % atau hampir sama dengan ayah siswa yang lulus SLTA. Urutan yang terbanyak berikutnya adalah ayah siswa yang berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 15,3 %, sedangkan hanya 7 % yang berpendidikan S1 dan 1,3 % yang berpendidikan S2/S3. Berikut adalah deskripsi gambar tentang tingkat pendidikan ayah.

Gambar 4.5. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah

f. Aspirasi Akademik Siswa

(24)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 18 Deskripsi ini berkaitan dengan tingkat pendidikan tertinggi yang ingin di raih siswa, dengan rentang pilihan antara tingkat SLTP hingga Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran aspirasi akademik siswa.

Gambar 4.6. Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ingin Dicapai Siswa

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa para siswa memiliki cita-cita yang tinggi dalam bidang pendidikan. Sebagian besar siswa (44,1 %) memiliki keinginan untuk mencapai pendidikan S2 atau S3, sedangkan keinginan untuk mencapai jenjang S1 sebanyak 19,2 %. Gambaran ini menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia memiliki keinginan yang kuat untuk maju dan berkembang. Karena hanya dengan pendidikan, sebuah bangsa bisa unggul menyaingi bangsa-bangsa lain di dunia. Namun bila melihat kepemilikan buku siswa di rumah seperti terlihat pada gambar sebelumnya, menunjukkan kemampuan ekonomi siswa yang rendah untuk membeli buku. Karena itu, ketidakmampuan siswa secara ekonomi bisa dijembatani oleh pemerintah untuk mewujudkan keinginan siswa meraih prestasi dan pendidikan yang tinggi.

g. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR)

Deskripsi ini berkaitan dengan waktu yang diluangkan untuk mengerjakan PR matematika,

ketika guru memberikan PR. Berikut ini gambaran waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan

PR Matematika.

(25)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 19 Gambar 4.7. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR

Berdasarkan gambar di atas, dapat diinformasikan bahwa waktu yang diluangkan siswa untuk

mengerjakan PR matematika paling banyak adalah responden yang meluangkan waktu antara 16-30

menit yaitu 30,1 %. Berikutnya adalah siswa yang meluangkan waktu selama 31-60 menit sebanyak

25,9 %, sedangkan yang meluangkan waktu selama 1-15 menit sebanyak 21,8 %. Ada pula siswa

yang meluangkan waktu lebih dari 60 menit sebanyak 9,9 %, namun ada juga siswa yang tidak

meluangkan waktu untuk mengerjakan PR (0 menit) yaitu sebanyak 2,4 %.

(26)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 20 4.1.2. Deskripsi Guru

Jumlah guru yang menjadi responden dalam penelitian TIMSS tahun 2011 adalah sebanyak 170 orang guru. Berikut ini deskripsi tentang guru yang akan disajikan meliputi jenis kelamin, usia, pengalaman mengajar, pendidikan terakhir, bidang studi utama, pemanfaatan komputer, dan jumlah siswa yang diajarkan dalam satu kelas.

a. Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel sebanyak 170 orang, responden guru bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut:

Gambar 4.8. Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin,, responden guru dalam penelitian ini lebih banyak guru perempuan dibandingkan dengan guru laki-laki. Responden laki-laki berjumlah 42,97 %, sedangkan perempuan berjumlah 51,3 %. Informasi ini menggambarkan bahwa perempuan lebih berminat untuk menjadi guru dibandingkan laki-laki. Hal ini karena karakteristik pekerjaan sebagai guru lebih banyak disukai oleh perempuan. Karakteristik pekerjaan sebagai guru membutuhkan individu yang sabar, mengayomi, membimbing, peduli, dan sebagainya.

57,1 %

42,9 %

(27)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 21 b. Usia

Rentang usia guru dalam penelitian ini berkisar antara kurang dari 25 tahun hingga di atas 60 tahun. gambaran usia guru dapat diinformasikan sebagai berikut.

Gambar 4.9. Deskripsi Guru Berdasarkan Usia

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang usia guru yang paling

banyak berada pada rentang usia antara 40-49 tahun yaitu dengan persentase sebesar 38,7 %. Urutan

terbanyak berikutnya adalah rentang usia antara 30-39 tahun sebanyak 26,2 %. Rentang usia yang

paling sedikit adalah di atas 60 tahun yaitu sebanyak 0,6 %. Sedangkan rentang usia yang paling

muda sebanyak 5,4 % yaitu rentang usia dibawah 25 tahun.

(28)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 22 c. Pengalaman Mengajar

Rentang pengalaman mengajar guru bervariasi antara 1 hingga lebih dari 25 tahun, berikut ini informasi mengajar guru.

Gambar 4.10. Deskripsi Guru Berdasarkan Pengalaman Mengajar

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang pengalaman mengajar guru yang paling banyak berada pada rentang antara 1-5 tahun dan 6-10 tahun dengan persentase yang sama yaitu sebesar 22,3 %. Urutan terbanyak berikutnya adalah rentang pengalaman mengajar lebih dari 25 tahun yaitu 15,7 %. Rentang tersebut hampir sama dengan guru yang memiliki pengalaman mengajar selama 16-20 tahun yaitu sebesar 15,1 %. Sedangkan pengalaman mengajar 11-15 tahun dan 21-25 tahun persentasenya sebesar 12,7 % dan 12 %.

15,7 %

22,3 % 12 %

15,1 %

22,3 %

12,7 %

(29)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 23 d. Pendidikan Terakhir

Tingkat pendidikan guru sangat penting dalam proses pendidikan guru. Pendidikan dapat menggambarkan kedewasaan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru. Berikut ini deskripsi pendidikan terakhir yang diselesaikan oleh guru.

Gambar 4.11. Deskripsi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa tingkat pendidikan guru yang paling dominan adalah strata satu (S1) dengan persentase sebesar 86,3 %, sedangkan tingkat pendidikan strata dua (S2) dan strata tiga (S3) sebanyak 7,1 %. Guru dengan tingkat pendidikan D3-D4 sebanyak 3 %. Namun masih ada guru yang berpendidikan D1-D2 dan SLTA yaitu sebesar 2,4 % dan 1,2 %.

86,3 %

2,4 % 3 %

7,1 %

1,2 %

(30)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 24 e. Bidang Studi Utama

Bidang studi utama adalah bidang studi yang ditekuni setelah lulus SLTA. Guru yang mengajar matematika tentu diharapkan bidang studi utamanya adalah matematika. Berikut ini gambaran persentase bidang studi utama yang ditekuni guru setelah lulus SLTA.

Gambar 4.12. Deskripsi Guru Berdasarkan Bidang Studi Utama

Gambar di atas menunjukkan bahwa bidang studi utama yang ditekuni guru setelah SLTA sebagian besar adalah bidang studi matematika. Persentase guru yang menekuni bidang studi matematika sebagai studi utama sebesar 70,8 %. Dari gambar juga dapat diinformasikan bahwa masih cukup banyak guru yang mengajar matematika, namun bidang studi utama yang ditekuninya bukan matematika. Persentase guru yang mengajar matematika, tapi bidang studinya non-matematika adalah sebesar 29,2 %.

Prestasi siswa pada bidang matematika salah satunya ditentukan oleh guru yang mengajarkan bidang tersebut. Apabila guru kurang menguasai bidang studi yang diajarkan, akan memengaruhi kemampuan siswa dalam menguasai materi yang diajarkan. Kondisi ini cukup memprihatinkan bila tidak dilakukan perbaikan,karena itu perlu ada kebijakan yang dapat mengatasi kondisi tersebut.

70,8 %

29,2 %

(31)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 25 f. Pemanfaatan Komputer

Seiring perkembangan teknologi, guru juga dituntut untuk familiar dengan teknologi yang berkembang termasuk dalam pemanfaatan komputer baik untuk keperluan administrasi, persiapan mengajar, dan proses pengajaran. Berikut ini gambaran penggunaan komputer oleh guru.

Gambar 4.13. Deskripsi Guru dalam Menggunakan Komputer

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa pemanfaatan komputer oleh guru paling banyak digunakan untuk keperluan administrasi yaitu sebesar 80,5 %. Namun untuk keperluan yang sama masih ada guru yang tidak menggunakan komputer yaitu sebanyak 19,5%. Untuk keperluan persiapan mengajar, sebanyak 55,6% guru memanfaatkan komputer sedangkan sebanyak 44,4% guru tidak memanfaatkannya. Untuk keperluan proses pengajaran, guru yang memanfaatkan komputer sebanyak 47,9%, sedangkan yang tidak memanfaatkan lebih banyak yaitu 52,1 %.

Informasi di atas menunjukkan bahwa masih banyak guru yang belum familiar dengan teknologi dan kurang bisa memanfaatkan kecanggihannya untuk menunjang keberhasilan dalam menjalankan profesinya. Padahal perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memudahkan proses administrasi, penyiapan bahan dalam mengajar, dan bahkan untuk keperluan mengajar itu sendiri.

MENGGUNAKAN KOMPUTER

UNTUK PERSIAPAN  UNTUK ADMINISTRASI UNTUK PENGAJARAN

55,6 % 

44,4 % 

80,5 % 

19,5 % 

47,9 %  52,1 %

(32)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 26 g. Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas

Deskripsi ini berkaitan dengan pertanyaan “berapa jumlah siswa di kelas ini”. Berikut adalah gambaran jumlah siswa yang diajar dalam satu kelas.

Gambar 4.14. Deskripsi Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa sebanyak 56,8 % guru mengajar di kelas dengan jumlah siswa sebanyak 31-40 siswa. Persentase ini yang paling dominan dari guru yang menjadi reponden. Guru yang mengajar di kelas dengan jumlah siswa sebanyak lebih dari 41 siswa persentasenya sebesar 21, 9%. Sedangkan guru yang mengajar dengan jumlah siswa di kelas sebanyak 21-30 orang persentasenya sebesar 16,5 %. Adapun guru yang mengajar di kelas dengan jumlah siswa 11-20 siswa adalah sebanyak 3 % dan guruyang mengajar kurang dari 10 siswa dalam satu kelasnya sebesar 1,8 %.

Informasi di atas menunjukkan bahwa belum terjadi pemerataan jumlah murid pada tiap-tiap sekolah atau kelas yang diteliti. Di satu sisi, ada sekolah atau kelas dengan kelebihan jumlah murid, di sisi lain masih banyak sekolah atau kelas yang kekurangan murid. Sekoah yang kekurangan murid akan menjadi kontras bila dikaitkan dengan banyaknya masyarakat usia sekolah yang tidak bersekolah karena alasan ekeonomi, fasilitas, dan sebagainya. Sekolah yang kelebihan murid dengan jumlah murid melebihi kapasitas kelas dan kemampuan guru dalam mengelola kelas akan menjadi masalah bila dikaitkan dengan efektivitas proses belajar mengajar di kelas yang berimplikasi pada prestasi belajar yang akan dicapai siswa. Oleh karena itu, perlu pertimbangan untuk mengatur kebijakan yang dapat mengatasi masalah sekolah yang kekurangan murid di satu pihak dan sekolah yang memiliki kelebihan murid dipihak lain.

4.1.3. Deskripsi Sekolah

Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, sekolah yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 153 sekolah di seluruh Indonesia. Berikut ini gambaran responden sekolah yang meliputi gambaran tentang jumlah keseluruhan siswa di sekolah, tingkat sosial ekonomi siswa, dan jumlah komputer yang dimiliki sekolah.

a. Jumlah Siswa

JUMLAH SISWA DALAM SATU KELAS

1,8 % 

56,8 %

3 % 

16,6 %

21,9 % 

(33)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 27 Uraian ini berkaitan dengan jumlah keseluruhan siswa yang terdaftar dan belajar disekolah pada tahun ajaran penelitian ini dilaksanakan. Deskripsi jumlah siswa di sekolah dapat diinformasikan dalam gambar berikut.

Gambar 4.15. Deskripsi Jumlah Siswa di Sekolah

Berdasarkan gambar di atas, dapat diinformasikan bahwa jumlah siswa di sekolah dengan persentase tertinggi adalah sekolah yang memiliki siswa sebanyak 401-600 yaitu sebesar 25 %.

Sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 601-800 persentasenya sebesar 17,8 %. Sekolah dengan jumlah siswa 801-1000 sebesar 9,9 %, sedangkan sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1000 sebesar 9,2 %. Pada gambar juga terlihat bahwa sekolah yang memiliki siswa antara 51-100 sebesar 5,9 %, dan ada juga sekolah yang memiliki siswa kurang dari 50 orang sebesar 3,3 %.

Pada gambar di atas menunjukkan adanya ketimpangan jumlah siswa yang dapat diserap oleh masing-masing sekolah. Di satu sisi ada sekolah gemuk dengan jumlah siswa lebih dari 1000, di sisi lain ada sekolah kurus dengan jumlah siswa kurang dari 50. Keadaan ini menggambarkan tidak adanya pemerataan pada tiap-tiap sekolah. Banyak pemberitaan yang menginformasikan tentang banyaknya penduduk usia sekolah yang tidak bersekolah, padahal tingkat SLTP masuk dalam wajib belajar sembilan tahun. Namun pada kenyataannya, kewajiban belajar sembilan tahun belum maksimal diterapkan sehingga terjadi kontradiksi dimana banyak sekolah kekurangan murid, tapi banyak penduduk usia sekolah yang tidak sekolah padahal seharusnya mereka masuk dalam program wajib belajar.

3,3 %

25 %

11,2 % 9,9 %

5,9 %

7,9 %

17,8 %

9,9 %

9,2 %

(34)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 28 b. Tingkat Sosial Ekonomi Siswa

Tingkat sosial ekonomi siswa pada masing-masing sekolah di bawah ini lebih menggambarkan persentase siswa yang kurang mampu secara ekonomi di masing-masing sekolah.

Berikut ini uraiannya.

Gambar 4.16. Persentase Siswa Kurang Mampu di Sekolah

Gambar di atas menginformasikan bahwa ada 55 % sekolah yang memiliki siswa kurang mampu sebanyak lebih dari 50 % siswa, 24, 2 % sekolah memiliki 26 sampai 50 % siswa kurang mampu, 15,4 % sekolah memiliki siswa kurang mampu sebanayk 11 sampai 25 %, dan hanya 5,4 % sekolah yang memiliki siswa kurang mampu sebanyak 0-10 %.

Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa perbandingan siswa yang yang mampu dan kurang mampu secara ekonomi lebih banyak siswa yang kurang mampu. Ketidakmampuan secara ekonomi hendaknya tidak menghambat siswa untuk bersekolah hingga capaian tertinggi yang diinginkan siswa. Bila merujuk pada pendidikan tertinggi yang ingin dicapai oleh siswa, sebagian besar siswa ingin mencapai pendidikan tertinggi hingga strata dua (S2) dan strata tiga (S3). Namun di sisi lain, siswa yang bersekolah sebagian besar kurang mampu secara ekonomi. Bila antara harapan dan kenyataan disandingkan maka akan terjadi hambatan untuk mewujudkan keinginan siswa. Oleh karena itu, perlu pertimbangan untuk memberi kemudahan bagi siswa dalam mencapai keinginannnya, misalnya pemerintah memberikan beasiswa hingga jenjang tertinggi yang dinginkan siswa.

5,4 %

15,4 %

55 %

24,2 %

Gambar

Tabel 3.2. Variabel Level Sekolah
Gambar 4.1. Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin 48,7 %
Gambar 4.2. Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran
Gambar 4.3. Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah
+7

Referensi

Dokumen terkait

2. Pendingin diperlukan untuk meredam suhu dan membersihkan kotoran selama proses penggerindaan pada saat putaran roda gerinda yang sangat tinggi memerlukan langkah

Salah satu asas penting yang wajib diperhatikan adalah bahwa hakim wajib mengadili semua bagian tuntutan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut

Bahasa Minangkabau ragam adat yang dipergunakan dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan upacara (kegiatan yang bersifat formal secara adat) memiliki

arsip digunakan sebagai Gudang Karyawan  belum paham  fungsi tempat  arsip  Belum  dilakukan  sosialisasi Ruang kantor KSBM Maret‐April 2013 Bagian Administrasi Membuat

Ketidakbermaknaan korelasi tingkat gejala adiksi internet dengan aktivitas yang dilakukan jika tidak tersedia dana, dapat dijelaskan karena sebagian besar

Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama V Alat/Bahan/Sumber Belajar:.. A Kerja logam,

Semasa pemain daripada pasukan lawan yang dibenarkan berada dalam kawasan itu membuat hantaran percuma, bola tidak boleh dibaling melebihi kawasan gelanggang

Peningkatan kompetensi peserta PEDAMBA: Kelas Pemanfaatan Software Tracker dalam pelajaran Fisika Tahap ke-I” dapat dilihat dari hasil evaluasi pelaksanaan