• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.8 Teknik Analisis Data

3.8.1. Teknik Analisis Data Deskriptif

Pengolahan data dengan teknik analisis deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan data kemampuan pemecahan masalah peserta didik antara kedua kelas yaitu kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele dan kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Analisis deskriptif data pencapaian kemampuan pemecahan masalah peserta didik dilakukan dengan analisis rata-rata hasil belajar. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat dengan cara menghitung nilai rata-rata hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen dan kontrol. Rumusnya sebagai berikut (Sudjana, 2005: 67):

π‘₯Μ… =1 π‘›βˆ‘ π‘₯𝑖

𝑛

𝑖=1

Keterangan:

π‘₯Μ… = rata-rata

𝑛 = banyaknya peserta didik π‘₯𝑖 = skor peserta didik ke – i

32 3.8.2. Teknik Analisis Data Inferensial

Menurut Sugiyono (2011: 209) β€œstatistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi”. Analisis data kemampuan pemecahan masalah dari hasil belajar peserta didik dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian.

Sebelum dilakukan analisis data secara inferensial, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat. Uji prasyarat analisis diperlukan guna mengetahui apakah analisis data untuk pengujian hipotesis dapat dilanjutkan atau tidak. Uji prasyarat dalam penelitian ini meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Data yang akan diuji normalitasnya adalah data nilai pretest dan posttest kelas eksperimen dan kontrol. Uji kenormalan yang digunakan yaitu uji Chi kuadrat. Hipotesis pengujian normalitas data adalah:

H0 : data berasal dari sampel yang berdistribusi normal H1 : data berasal dari sampel yang tidak berdistribusi normal

Menurut Sugiono (2013: 80-82), langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan uji normalitas adalah sebagai berikut:

1) Menetukan jumlah kelas interval

Untuk pengujian normalitas dengan Chi kuadrat ( Ο‡2 ) ini, jumlah kelas interval ditetapkan = 6. Hal ini sesuai dengan 6 bidang yang ada pada kurva normal baku.

2) Menentukan panjang kelas interval

π‘ƒπ‘Žπ‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘’π‘™π‘Žπ‘  =π‘‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ βˆ’ π‘‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ 6 (π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘™π‘Žπ‘  π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘£π‘Žπ‘™)

3) Menyusun ke dalam tabel distribusi frekuensi, sekaligus tabel penolong untuk menghitung harga πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘”.

4) Menghitung π‘“β„Ž (frekuensi yang diharapkan)

33 Cara menghitung π‘“β„Ž didasarkan presentase luas tiap bidang kurva normal baku dikalikan jumlah data observasi (jumlah individu dalam sampel).

5) Memasukkan harga-harga π‘“β„Ž ke dalam tabel kolom sekaligus menghitung harga-harga 𝑓0βˆ’ π‘“β„Ž2 dan 𝑓0βˆ’π‘“β„Ž

2

π‘“β„Ž . Harga 𝑓0βˆ’π‘“β„Ž

2

π‘“β„Ž adalah merupakan harga πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘”.

6) Membandingkan harga πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” dengan πœ’2π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™. Dengan taraf nyata 𝛼 = 0,05, maka kriteria pengujian normalitas adalah dengan membandingkan harga πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” dengan πœ’2π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™, yaitu:

Jika: πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” ≀ π‘₯2π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™, maka H0 diterima dan H1 ditolak, ini berarti data berdistribusi normal.

Jika: πœ’2β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” > πœ’2π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™, maka H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti data tidak berdistribusi normal.

b) Uji Homogenitas

Uji homogenitas bertujuan untuk menyelidiki apakah skor hasil tes belajar pada kedua kelas sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak, hipotesis yang diajukan adalah:

H0 : 𝑆21 = 𝑆22, maka varians kedua kelompok homogen H1 : 𝑆21 β‰  𝑆22, maka varians kedua kelompok tidak homogen Dengan:

𝑆21 : Varians kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas eksperimen

𝑆22 : Varians kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas kontrol

Untuk uji statistik yang digunakan untuk menguji kesamaan varians atau uji homogenitas menurut Sugiono (2012: 140) adalah:

𝐹 =π‘£π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘Žπ‘›π‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘£π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘Žπ‘›π‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘π‘–π‘™

Untuk menghitung varians (Sugiono, 2012: 140):

34 𝑆2 =βˆ‘(π‘₯𝑖 βˆ’ π‘₯Μ…)2

𝑛 βˆ’ 1 Keterangan:

𝑆2 = Varians

π‘₯𝑖 = Nilai x ke i sampai ke n π‘₯Μ… = Rata-rata (mean)

𝑛 = Jumlah sampel Kriteria pengujian:

Dengan taraf signifikan 𝛼 = 5%, maka π‘‘π‘˜ pembilang = (𝑛𝑏 βˆ’ 1) dan π‘‘π‘˜ penyebut = (𝑛𝑏 βˆ’ 1). Jika πΉβ„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” < πΉπ‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™ maka H0 diterima, ini berarti varians kedua kelompok homogen.

c) Uji Kesamaan Dua Rata-Rata (Uji Dua Pihak) untuk Pretest Sebelum melakukan eksperimen, terlebih dahulu dilakukan uji kesamaan rata-rata. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak dari kedua kelas sampel tersebut. Jika kedua data berdistribusi normal dan variansnya homogen, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua rata-rata untuk menguji kesamaan rata-rata kedua kelas digunakan uji dua pihak. Hipotesis yang akan diuji yaitu:

H0 : πœ‡1 = πœ‡2 : tidak terdapat perbedaan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah peserta didik dari hasil tes belajar melalui model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele dengan pembelajaran konvensional.

H1 : πœ‡1 β‰  πœ‡2 : terdapat perbedaan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah peserta didik dari hasil tes belajar melalui model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele dengan pembelajaran konvensional.

Jika kedua varians homogen, maka rumus uji 𝑑 yang dilakukan adalah:

35

𝑛1 = Banyaknya peserta didik kelas eksperimen 𝑛2 = Banyaknya peserta didik kelas kontrol 𝑆1 = Varians kelas eksperimen

𝑆2 = Varians kelas kontrol

Kriteria pengujian adalah jika βˆ’π‘‘1βˆ’1

2∝ < 𝑑 < 𝑑1βˆ’1

Jika kedua varians tidak sama, maka uji 𝑑 yang digunakan adalah:

Rumusnya:

𝑑′ = π‘₯Μ…1βˆ’ π‘₯Μ…2

βˆšπ‘†12 𝑛1 +𝑆22

𝑛2

Kriteria pengujian adalah terima hipotesis H0, jika:

βˆ’π‘€1𝑑1+ 𝑀2𝑑2

36 d) Uji Perbedaan Dua Rata-Rata (Uji Satu Pihak) untuk Posttest

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat dari ada tidaknya perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Karena itu dilakukan uji perbedaan dua rata-rata. Untuk menguji perbedaan rata-rata kedua kelas digunakan uji satu pihak yaitu uji pihak kanan. Hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : πœ‡1 ≀ πœ‡2 : tidak terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele dengan kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran konvensional.

H1: πœ‡1 > πœ‡2 : terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele dengan kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran konvensional.

Rumus uji 𝑑 yang digunakan untuk menguji hipotesis diatas adalah:

1) Jika kedua varians homogen, maka rumus uji 𝑑 yang digunakan:

Setelah data dinyatakan berdistribusi normal dan homogen, maka untuk menguji hipotesis dari penelitian ini digunakan rumus uji-𝑑 dengan taraf signifikan ∝= 0,05, yaitu sebagai berikut:

𝑑 = π‘₯Μ…1βˆ’ π‘₯Μ…2

√1 𝑛1+ 1

𝑛2

𝑆 merupakan standar deviasi (simpangan baku) gabungan dari kedua sampel, rumus:

𝑆 = √(𝑛1βˆ’ 1)𝑆12+ (𝑛2βˆ’ 1)𝑆22 𝑛1+ 𝑛2βˆ’ 2

Keterangan:

𝑛1 = Banyaknya peserta didik kelas eksperimen 𝑛2 = Banyaknya peserta didik kelas kontrol 𝑆1 = Varians kelas eksperimen

𝑆2 = Varians kelas kontrol

37 Membandingkan π‘‘β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” dengan π‘‘π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™ dengan kriteria penguji H0

diterima jika 𝑑 < 𝑑1βˆ’βˆ dan H0 ditolak jika 𝑑 mempunyai harga-harga lain.

Derajat kebebasan (db) dalam daftar distribusi adalah 𝑛1+ 𝑛2βˆ’ 2 dengan peluang (1βˆ’βˆ) dan ∝= 0,05. Untuk harga 𝑑 lain H0 ditolak.

2) Jika kedua varians tidak homogen 𝑑′ = π‘₯Μ…1βˆ’ π‘₯Μ…2 H0 diterima jika terjadi sebaliknya

Dengan: 𝑀1 = 𝑆12 dan (𝑛2βˆ’ 1), dengan peluang untuk penggunaan daftar distribusi 𝑑 adalah (1βˆ’βˆ) dengan ∝= 0,05.

e) Uji Non-Parametrik

Uji non-parametrik dilakukan jika data tidak berdistribusi normal.

Salah satu Uji non-parametrik yang digunakan adalah uji Mann-Whitney U (U-test).

Rumus Mann-Whitney dengan pendekatan Z (Lestari & Mokhammad, 2015: 287):

38 𝑛2 = Jumlah sampel 2

N = 𝑛1+ 𝑛2

Hipotesis dan kriteria pengujian untuk U-Test adalah:

𝐻0 : Zhitung > - Ztabel , Kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional.

𝐻1 : Zhitung ≀ - Ztabel , Kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele lebih rendah dibandingkan dengan peserta didik kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional.

39 BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 29 Januari 2020 sampai dengan tanggal 20 Februari 2020 di SMP Negeri 2 Kuala Cenaku sebanyak tujuh kali pertemuan. Pertemuan pertama digunakan untuk pelaksanaan pretest pada kelas VIIA dan VIIB. Pertemuan kedua sampai dengan pertemuan keenam merupakan tahap pelaksanaan perlakuan, yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele pada kelas VIIB sebagai kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas VIIA sebagai kelas kontrol. Pertemuan ketujuh digunakan untuk pelaksanaan posttest pada kelas VIIA dan VIIB.

Data dalam penelitian ini diperoleh dari peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kuala Cenaku yang terdiri dari 25 orang peserta didik kelas VIIA dan 24 orang peserta didik kelas VIIB. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu data pretest dan data posttest. Data hasil posttest ini dianalisis yang kemudian dijadikan tolak ukur untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kuala Cenaku.

4.1.1 Pelaksanaan Penelitian Kelas Eksperimen

Pertemuan pertama (Rabu, 29 Januari 2020) digunakan untuk pelaksanaan pretest dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian. Pertemuan kedua (Selasa, 04 Februari 2020) sampai pertemuan keenam (Selasa, 18 Februari 2020) merupakan pemberian perlakuan pembelajaran di kelas VIIB sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif berbasis Teori Van Hiele. Kemudian, untuk pertemuan ketujuh (Rabu, 19 Februari 2020) merupakan pelaksanaan posttest. Adapun uraian tentang keterlaksanaan penelitian di kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:

40 Tabel 4.1 Jadwal dan Kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas

Eksperimen kooperatif berbasis teori Van Hiele kooperatif berbasis teori Van Hiele kooperatif berbasis teori Van Hiele kooperatif berbasis teori Van Hiele kooperatif berbasis teori Van Hiele

Pada pertemuan pertama (Rabu, 29 Januari 2020) di kelas eksperimen, guru mengucapkan salam dan menyuruh ketua kelas untuk menyiapkan kelasnya dan berdoa. Dikarenakan pertemuan pertama, guru sekilas memperkenalkan diri kepada peserta didik. Selanjutnya, guru memberikan pretest kepada peserta didik dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian yang bertujuan

41 untuk mengetahui skor awal kemampuan pemecahan masalah peserta didik sebelum mendapat perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele.

Pada pertemuan kedua sampai pertemuan keenam, guru melakukan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele. Proses diawali dengan guru mengucapkan salam dan menyuruh ketua kelas menyiapkan kelas, lalu berdoa. Ketua kelas mengikuti intruksi guru dan peserta didik lain pun mengikuti intruksi dari ketua kelas, dan disaat membaca doa masih banyak peserta didik yang tidak mengikuti, guru menegur peserta didik yang tidak berdoa. Setelah itu, guru mengabsen dan menanyakan kabar peserta didik. Sementara itu, peserta didik memperhatikan dan menunggu namanya dipanggil.

Setelah menyampaikan materi yang akan dipelajari, pada pertemuan kedua yaitu pemberian perlakuan, guru menyampaikan apersepsi, tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik dengan memberikan penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi mengenal segiempat dan segitiga.

Peserta didik memperhatikan guru walaupun ada beberapa yang ribut, masih bisa diatasi oleh guru dengan cara menegurnya. Pertemuan ketiga, guru menyampaikan apersepsi mengenai materi sebelumnya dan guru juga menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai jenis dan sifat segiempat, namun masih ada beberapa peserta didik yang ribut. Pertemuan keempat guru menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran mengenai jenis dan sifat segitiga, sedangkan peserta didik ada yang tidak memperhatikan guru dan ada juga yang mengganggu teman sebangkunya sehingga membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif, namun guru bisa menanganinya dan memberikan peringatan kepada peserta didik tersebut. Pada pertemuan kelima guru menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran tentang keliling dan luas segiempat, peserta didik sudah memperhatikan guru. Pertemuan keenam, guru menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran tentang keliling dan luas segitiga, suasana kelas sudah kondusif.

42 Guru menginformasikan tentang penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele, dimana model pembelajaran ini merupakan pembelajaran dimana peserta didik yang berada pada tingkat berpikir yang berbeda bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran. Prosesnya diawali dengan penyajian informasi oleh guru, kemudian kegiatan tanya-jawab antara guru dan peserta didik tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir peserta didik.

Kemudian peserta didik berdikusi dan menyelesaikan masalah yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah, tugas yang dilengkapi dengan banyak cara, dan tugas yang open-ended dengan bimbingan dari guru. Setelah itu guru meminta peserta didik untuk dapat mempresentasikan dan menyampaikan pendapat terhadap masalah yang mereka hadapi di LKPD, kemudian peserta didik meninjau ulang kembali dan menyimpulkan apa yang telah dipelajari. Namun, ada juga peserta didik yang masih belum mengerti dengan langkah-langkah yang dijelaskan oleh guru walaupun peserta didik tersebut memperhatikan saat guru menyampaikan informasi. Pada pertemuan ketiga sampai pertemuan keenam guru tidak lagi menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele, tapi ada juga peserta didik yang bertanya bagi yang lupa dengan langkah-langkah pembelajarannya.

Pada kegiatan pembelajaran, guru mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok. Pada pertemuan kedua, pengorganisasian kelompok dilakukan oleh guru yang telah ditentukan berdasarkan kemampuan siswa yang diambil dari hasil pretest. Peserta didik duduk pada kelompok masing-masing, pada saat ini suasana kelas menjadi ribut dan sulit untuk diarahkan, namun masih bisa diatasi oleh guru. Untuk pertemuan selanjutnya, guru mengintruksikan peserta didik untuk langsung duduk pada kelompoknya masing-masing. Pada kegiatan pemberian LKPD kepada setiap kelompok, guru memanggil ketua atau perwakilan kelompok untuk mengambilnya. Saat ini suasana kelas kelas menjadi tidak nyaman karena ada saja peserta didik

43 yang meribut, ada yang berjalan ke kelompok lain dan ada juga yang mengganggu temannya.

Pada kegiatan pengerjaan LKPD, guru meminta peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang terdapat di LKPD. Terlihat bahwa masih banyak peserta didik yang belum paham tentang petunjuk pengisian LKPD dan masih banyak peserta didik yang belum berperan aktif dalam kelompoknya. Banyak peserta didik yang hanya fokus pada titik-titik yang terdapat pada LKPD tersebut tanpa membaca dan memahami masalah terlebih dahulu. Namun, guru bisa menangani hal ini dengan cara membimbing kelompok dan memotivasi siswa untuk dapat berperan aktif dalam kelompoknya masing-masing. Secara perlahan pembelajaran terlaksana dengan baik. Peserta didik terbiasa dalam menyelesaikan masalah di LKPD dan sudah tidak bingung lagi. Setiap anggota kelompok berdiskusi, walaupun masih ada peserta didik yang berjalan untuk mendapatkan informasi dari guru.

Pada kegiatan menyimpulkan materi untuk pertemuan kedua, peserta didik masih sangat bingung menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

Selanjutnya, sebagian peserta didik sudah dapat merangkum materi pada pertemuan ketiga dan keempat. Kemudian untuk pertemuan kelima dan keenam, seluruh peserta didik sudah dapat menyimpulkan materi. Pada setiap akhir pertemuan guru menginformasikan agar peserta didik menyiapkan dan mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Pada saat guru menyampaikan informasi ini, ada sebagian peserta didik yang memperhatikan namun ada juga yang tidak memperhatikan.

Setelah pelajaran berakhir pada setiap pertemuan, guru menutup pelajaran dan mengintruksikan ketua kelas menyiapkan kelas untuk berdoa dan mengucapkan salam. Pada pertemuan ketujuh (Rabu, 19 Februari 2020), guru memberikan posttest dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian yang bertujuan untuk mengetahui skor akhir kemampuan pemecahan masalah peserta didik setelah mendapat perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran

44 kooperatif berbasis teori Van Hiele. Setelah waktu yang ditentukan sudah habis, peserta didik diminta untuk mengumpulkan hasil pengerjaan soal posttest.

4.1.2 Pelaksanaan Penelitian Kelas Kontrol

Pertemuan pertama (Kamis, 30 Januari 2020) digunakan untuk pelaksanaan pretest dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian. Pertemuan kedua (Selasa, 04 Februari 2020) sampai pertemuan keenam (Selasa, 18 Februari 2020) merupakan pemberian perlakuan pembelajaran di kelas VIIA sebagai kelas kontrol dengan menggunakan Model Pembelajaran Konvensional. Kemudian, untuk pertemuan ketujuh (Kamis, 20 Februari 2020) merupakan pelaksanaan posttest. Adapun uraian tentang keterlaksanaan penelitian di kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Jadwal dan Kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas Kontrol

45 Februari

2020

Luas Segitiga menggunakan model pembelajaran

konvensional 7.

Kamis/ 20 Februari

2020

7 - Posttest

Pada pertemuan pertama (Kamis, 30 Januari 2020) di kelas eksperimen, guru mengucapkan salam dan menyuruh ketua kelas untuk menyiapkan kelasnya dan berdoa. Dikarenakan pertemuan pertama, guru sekilas memperkenalkan diri kepada peserta didik. Selanjutnya, guru memberikan pretest kepada peserta didik dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian yang bertujuan untuk mengetahui skor awal kemampuan pemecahan masalah peserta didik sebelum melakukan kegiatan pembelajaran secara konvensioanl.

Pada pertemuan kedua sampai pertemuan keenam, guru melakukan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional. Proses diawali dengan guru mengucapkan salam dan menyuruh ketua kelas menyiapkan kelas, lalu berdoa. Ketua kelas mengikuti intruksi guru dan peserta didik lain pun mengikuti intruksi dari ketua kelas, dan disaat membaca doa masih banyak peserta didik yang tidak mengikuti, guru menegur peserta didik yang tidak berdoa. Setelah itu, guru mengabsen dan menanyakan kabar peserta didik. Sementara itu, peserta didik memperhatikan dan menunggu namanya dipanggil.

Pada kegiatan guru menyampaikan apersepsi, awal pertemuan peserta didik kelihatan malu-malu untuk menjawab dan menyampaikan pendapat tentang apa yang ditanyakan guru. Apabila diintruksikan untuk menyelesaikan soal masih ragu-ragu untuk mengerjakannya. Namun, untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya sudah tidak ada lagi peserta didik yang malu-malu untuk menyelesaikan soal dan sudah banyak peserta didik yang berebut mengerjakan soal. Pada saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi untuk pertemuan kedua, banyak peserta didik yang tidak fokus mendengarkan guru. Peserta didik masih sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti membuka

46 buku lain dan bercerita dengan temannya. Guru menegur peserta didik yang tidak mau memperhatikan. Selanjutnya pertemuan ketiga dan keempat, beberapa peserta didik sudah fokus mendengarkan pada saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi, walaupun masih juga terdapat peserta didik yang bercerita dengan temannya. Kemudian untuk pertemuan kelima dan keenam, peserta didik sudah mendengarkan dengan fokus pada saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi.

Pada kegiatan guru menjelaskan materi untuk pertemuan kedua, terlihat peserta didik banyak yang main-main serta tidak fokus mendengarkan penjelasan materi oleh guru. Selanjutnya pada pertemuan ketiga dan keempat, terdapat sebagian peserta didik yang fokus pada saat guru menjelaskan materi. Selanjutnya pertemuan kelima dan keenam, hanya sedikit peserta didik yang tidak fokus pada saat guru menjelaskan materi dan sudah banyak peserta didik yang memperhatikan. Begitu juga pada saat kegiatan guru memberikan contoh soal, awal pertemuan terlihat banyak peserta didik yang tidak mengerjakan contoh tersebut dan banyak juga peserta didik yang rebut.

Namun untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya, peserta didik sudah aktif untuk maju mengerjakan contoh soal yang diberikan.

Pada kegiatan guru memberikan latihan untuk pertemuan kedua, terlihat banyak peserta didik yang bertanya kepada temannya pada saat mengerjakan latihan yang diberikan dan juga banyak peserta didik yang bertanya kepada guru. Selanjutnya untuk pertemuan ketiga dan keempat, sebagian peserta didik sudah dapat mengerjakan latihannya secara individu, walaupun masih masih terdapat beberapa peserta didik yang bertanya kepada temannya. Kemudian pertemuan kelima dan keenam, peserta didik sudah dapat mengerjakan latihannya secara individu. Pada saat menyimpulkan materi pembelajaran untuk pertemuan kedua, peserta didik masih sangat bingung menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Selanjutnya, sebagian peserta didik sudah dapat merangkum materi pada pertemuan ketiga dan keempat. Kemudian untuk pertemuan kelima dan keenam, seluruh peserta didik sudah dapat menyimpulkan materi. Kemudian, guru memberikan PR

47 kepada peserta didik dan pada setiap akhir pertemuan guru menginformasikan agar peserta didik menyiapkan dan mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Guru menutup pelajaran dan memberikan salam.

Pada pertemuan ketujuh (Kamis, 20 Februari 2020), guru memberikan posttest dengan materi yang diuji yaitu segiempat dan segitiga yang terdiri dari 4 butir soal dalam bentuk uraian yang bertujuan untuk mengetahui skor akhir kemampuan pemecahan masalah peserta didik setelah proses pembelajaran konvensional. Setelah waktu yang ditentukan sudah habis, peserta didik diminta untuk mengumpulkan hasil pengerjaan soal posttest.

4.2 Analisis Hasil Penelitian

4.2.1 Analisis Deskriptif Data Hasil Pretest dan Posttest

Untuk melihat hasil pretest dan posttest yang telah dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, dapat dianalisis secara deskriptif pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Analisis Deskriptif Data Hasil Pretest dan Posttest

Analisis Deskriptif Pretest Posttest

Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol

Nilai Tertinggi 65 68 100 95

Nilai Terendah 20 25 40 40

Jumlah Sampel (n) 24 25 24 25

Rata-rata (π‘₯Μ…) 35,04 46,68 66,54 61,92

Sumber: Data Olahan Peneliti (Lampiran G)

Berdasarkan Tabel di atas, diperoleh informasi bahwa secara numerik hasil pretest kelas eksperimen lebih rendah dari kelas kontrol. Setelah diberikan perlakuan diperoleh rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol dengan selisih rata-rata 4,62. Hal ini menjelaskan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Dengan hanya melihat secara numerik saja tidak dapat membuktikan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif berbasis teori Van Hiele terhadap kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka dilakukan analisis inferensial agar hasil yang diperoleh benar-benar akurat.

48 4.2.2 Analisis Inferensial Data Hasil Pretest dan Posttest

Analisis nilai pretest dan posttest menggunakan uji kesamaan pretest dan uji perbedaan posttest. Uji kesamaan pretest bertujuan untuk melihat apakah kemampuan awal kedua kelas sama atau berbeda secara signifikan.

Sedangkan uji perbedaan posttest bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan akhir peserta didik setelah diberikan perlakuan. Sebelum data dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis statistik yaitu uji normalitas, selanjutnya dilakukan uji homogenitas apabila data berdistribusi normal, akan tetapi jika data tidak

Sedangkan uji perbedaan posttest bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan akhir peserta didik setelah diberikan perlakuan. Sebelum data dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis statistik yaitu uji normalitas, selanjutnya dilakukan uji homogenitas apabila data berdistribusi normal, akan tetapi jika data tidak