BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2015: 335). Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif
adalah kegiatan yang dilakukan oleh peneliti setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiyono, 2015: 147).
Penggunaan analisis deskriptif pada penelitian ini untuk melihat implementasi PPK berbasis budaya sekolah. Analisis deskriptif ini menggunakan suatu variabel atau lebih tapi bersifat mandiri, oleh karena itu analisis ini tidak berbentuk perbandingan atau hubungan (Hasan, 2006:
185).
Analisis deskriptif dilakukan dengan cara melakukan perhitungan sehingga rumusan masalah dapat ditemukan jawabannya secara kualitatif, (Sugiyono, 2011: 176). Data hasil tabulasi deskriptif dapat disajikan dalam bentuk tabulasi silang, tabel distribusi frekuensi, grafik batang, grafik garis, dan chart (Sugiyono, 2011: 176). Selanjutnya data penelitian yang telah dikumpulkan berupa jawaban dari guru, diolah peneliti berdasarkan jenis instrumen checklist dan uraian. Data instrumen checklist dikelompokkan berdasarkan jawaban guru yang berkategori “Ya atau Tidak” per aitem. Lalu mempresentasikan sejauh mana implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah dalam bentuk diagram.
Peneliti juga menganalisis data yang berupa uraian berdasarkan deskripsi jawaban guru per aitem yang digunakan untuk mendukung data yang diperoleh melalui diagram tersebut.
Analisis data dalam penelitian ini meliputi implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.
Pada bagian berikut ini peneliti akan menjelaskan alur teknis analisis data
yang dipakai peneliti untuk mengolah data penelitian. Adapun teknik analisis data yang dipakai oleh penulis ialah sebagai berikut :
1. Data penelitian yang diolah untuk mengetahui implementasi dan upaya program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok yang dilakukan adalah jawaban guru berupa checklist dan uraian.
2. Setelah seluruh data instrumen penelitian diperoleh, peneliti mengelompokkan instrumen berdasarkan satuan pendidikan Sekolah Dasar Negeri. Peneliti menggunakan coding untuk memberi inisial nama-nama SD dan nama responden yang terdapat disetiap SD. Coding yang digunakan peneliti untuk memberi inisial nama-nama SD yaitu coding abjad dan coding angka. Coding abjad yang dipakai ialah abjad A-AK, sedangkan coding angka yang dipakai ialah angka 1-18.
Contohnya adalah coding abjad A digunakan untuk mengcoding nama SD Negeri Deresan, selanjutnya coding angka 1 digunakan untuk memberi inisial nama responden pertama yang terdapat di SD Negeri Deresan sehingga responden pertama di SD Negeri Deresan memperoleh inisial A1, begitu seterusnya.
3. Data yang sudah di coding oleh peneliti kemudian di tabulasi oleh peneliti. Tabulasi yaitu kegiatan mengelompokkan jawaban guru yang berupa checklist jawaban “Ya” dan “Tidak” per item. Peneliti juga mentabulasi jawaban guru yang berupa uraian per aitem.
4. Setelah data ditabulasi, peneliti merekapitulasi data berupa jawaban
“Ya” dan “Tidak” , selanjutnya data tersebut dihitung jawaban “Ya dan
Tidak” dengan memberikan skor tertinggi 1 dan terendah 0. Jawaban
“Ya” diberi skor 1, sedangkan jawaban “Tidak” diberi skor 0.
5. Langkah selanjutnya adalah menghitung persentase dari jawaban yang telah dikelompokkan sebelumnya.
6. Selanjutnya mempresentasikan hasil persentase setiap jawaban guru ke dalam bentuk diagram. Peneliti menyajikan data implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman melalui 2 cara. Cara pertama yaitu secara umum, artinya data implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman disajikan berdasarkan seluruh aitem menggunakan diagram batang. Cara kedua yaitu secara khusus, artinya data implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman disajikan khusus per aitem berdasarkan nomor butir aitem dalam instrumen.
7. Langkah yang terakhir adalah mendeskripsikan tentang implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman dan upaya implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.
73 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bagian ini, peneliti akan membahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian berupa deskripsi data dan analisis data yang dilakukan. Bagian pembahasan dijelaskan mengenai pemaknaan terhadap hasil penelitian yang didapatkan, kemudian dikaitkan dengan hasil penelitian yang relevan serta kajian teori.
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018 sampai dengan Maret 2019 di seluruh Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan di 37 sekolah Dasar Negeri yang ada di Kecamatan Depok dengan jumlah guru sebanyak 310 guru. Peneliti mengambil sampel penelitian sebanyak 170 guru sesuai dengan tabel penentuan sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan. Berikut adalah daftar seluruh SD Negeri di Kecamatan Depok yang diteliti :
Tabel 4.1 Daftar SD yang diteliti
No Nama SD Jumlah
No Nama SD Jumlah guru yang menjadi sampel penelitian. Sampel penelitian pada setiap SD dapat dihitung dari jumlah guru suatu SD dibagi jumlah guru seluruh SD di Kecamatan Depok, kemudian dikalikan dengan sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan (dalam penelitian ini sebanyak 169).
Instrumen pada penelitian ini adalah lembar angket (kuesioner) pertanyaan tertutup berupa 10 aitem checklist dan pertanyaan terbuka
berupa 10 aitem uraian. Semua instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini telah diuji dengan validitas muka dan validitas isi.
Validitas muka dan validitas isi dilakukan oleh 10 validator, yaitu 8 guru SD dan 2 guru SMP yang berada di luar Kabupaten Sleman, namun masih berada di wilayah Yogyakarta.
Penelitian ini dilaksanakan di 37 SD Negeri se-Kecamatan Depok semester genap tahun ajaran 2018/2019. Kegiatan peneliti yang dilakukan pertama meminta izin dari instansi-instansi terkait sebelum melaksanakan pengambilan data, kemudian meminta izin ke setiap kepala sekolah di 37 SD Negeri se-Kecamatan Depok dan menjelaskan tata cara mengerjakan instrumen yang akan diujikan agar tidak terjadi kesalahan. Selanjutnya peneliti meminta bantuan kepala sekolah untuk mengkoordinasi pengisian instrumen kepada gu ru kelas 1 sampai 6 dan pengambilan instrumen yang telah diisi. Setelah seluruh instrumen terkumpul, peneliti melakukan pengolahan data.
2. Deskripsi Responden Penelitian
Penentuan responden penelitian diambil secara acak sesuai jumlah sampel yang telah dihitung menggunakan tabel sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan. Instrumen terdiri dari 10 butir berupa checklist, pada lembar angket (kuesioner) terdapat lembar identitas responden guru mengenai nama guru, NIP, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, lama mengajar, guru wali kelas, pendidikan terakhir, nama satuan pendidikan, status akreditasi satuan pendidikan, alamat satuan
pendidikan dan tanda tangan. Instrumen penelitian ini diisi oleh 310 guru di 37 SD Negeri se-Kecamatan Depok, Sleman.
Data dalam penelitian ini disajikan dengan nama setiap satuan pendidikan untuk mempermudah pengolahan data. Jawaban guru dikumpulkan dan direkapitulasi untuk mengetahui apakah program PPK berbasis budaya sudah terimplementasi dan bagaimana upaya implementasi program PPK berbasis budaya sekolah yang dilakukan oleh satuan pendidikan.
3. Deskripsi Data Impelementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Di Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Sleman
a. Deskripsi Pertanyaan terbuka uraian
Peneliti akan mendeskripsikan mengenai Implementasi PPK berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar se-Kecamatan Depok Sleman. Pada instrumen yang terdiri dari 10 butir aitem pertanyaan terbuka berupa uraian. Pertanyaan tersebut mencakup aspek yang berkaitan dengan Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah yang dilengkapi dengan pertanyaan praktik baik yang dilakukan, upaya-upaya, hingga kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah. Jika guru maupun kepala sekolah sudah mengimplementasikan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah, maka wajib mengisi sesuai dengan pertanyaan terbuka berupa uraian
tersebut. Berikut ini tabel 4.2 mengenai instrumen terbuka yang digunakan untuk mengetahui implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman :
Tabel 4.2 Instrumen Pertanyaan Terbuka Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
No Soal Pertanyaan
1 Branding sekolah 2 Visi sekolah
3 Prestasi sekolah di bidang akademik 4 Prestasi sekolah di bidang non akademik
5 Program sekolah yang mendukung gerakan literasi 6 Ekstrakurikuler wajib
7 Ektrakurikuler pilihan
8 Peraturan yang ada di sekolah 9 Praktik baik yang dilakukan 10 Kendala-kendala yang dihadapi
Tabel 4.2 di atas adalah kisi-kisi instrumen PPK berbasis budaya sekolah. Aitem pertama membahas mengenai branding sekolah, aitem kedua mengenai visi sekolah, aitem ketiga mengenai perstasi di bidang akademik, aitem keempat mengenai prestasi di bidang non akademik, aitem ke lima mengenai program sekolah yang mendukung gerakan literasi, aitem ke enam mengenai ekstrakurikuler wajib, aitem ke tujuh mengenai ektrakurikuler pilihan, aitem ke delapan mengenai peraturan di sekolah, aitem ke sembilan mengenai praktik baik yang dilakukan, dan yang terakhir aitem ke sepuluh mengenai kendala yang dihadapi.
Aitem-aitem tersebut merupakan rangkaian pertanyaan untuk membantu informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Dengan adanya
pertanyaan tersebut peneliti mendapatkan jawaban yang lebih akurat dan mendalam.
b. Deskripsi Pertanyaan tertutup (checklist)
Peneliti akan mendeskripsikan mengenai Implementasi PPK berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar se-Kecamatan Depok Sleman. Pada instrumen yang terdiri dari 10 butir aitem berupa pertanyaan tertutup (checklist). Pertanyaan tersebut mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan PPK berbasis budaya sekolah. Setiap pertanyaan guru diberi dua alternarif jawaban yaitu
“Ya” dan “Tidak”. Cara menjawab dapat dilakukan dengan cara memberi tanda centang. Pengisian dan pemilihan jawaban “Ya” dan
“Tidak” harus disesuaikan dengan pengamatan guru mengenai kondisi sekolah. Jika memang PPK berbasis budaya sekolah tersebut sudah diterapkan maka guru bisa menjawab “Ya” pada aspek PPK berbasis budaya sekolah yang ditanyakan, sedangkan jika belum diterapkan guru bisa menjawab “Tidak” pada aspek-aspek yang memang belum diterapkan. Berikut ini adalah instrumen pertanyaan tertutup PPK berbasis budaya sekolah :
Tabel 4.3 Instrumen Pertanyaan Terutup Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Aspek Aitem No
Aitem
Branding Sekolah
Sekolah mengintegrasikan nilai PPK dalam menyusun branding sekolah. 1 Branding sekolah tercermin dari tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik.
2
Pembiasaan
Sekolah melaksanakan pembiasaan yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK secara konsisten, mulai dari awal masuk sampai akhir kegiatan sekolah.
3
Sekolah memiliki program yang
mendukung gerakan literasi. 4
Sekolah melaksanakan program yang
mendukung gerakan literasi. 5
Kegiatan Ekstrakurikuler
Sekolah melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler wajib, yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK.
6 Sekolah melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK.
7
Peraturan Sekolah
Nilai-nilai PPK terintegrasi dalam
dokumen peraturan sekolah. 8
Warga sekolah mematuhi peraturan
sekolah. 9
Sekolah melakukan evaluasi keterlaksanaan peraturan sekolah. 10
Tabel 4.3 di atas adalah instrumen PPK berbasis budaya sekolah.
Aspek branding sekolah diwakili oleh butir aitem 1 dan 2, aspek pembiasaan diwakili oleh butir aitem 3, 4, dan 5, aspek kegiatan ektrakurikuler diwakili oleh butir 6 dan 7, aspek peraturan sekolah diwakili oleh butir aitem 8, 9, dan 10. Hasil persentase Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut :
Gambar 4.1 Diagram Persentase Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah dasar Se-Kecamatan Depok Sleman
Gambar 4.1 merupakan diagram persentase Implementasi dan upaya Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Sleman. Berikut merupakan hasil penjabaran dari persentase implementasi dan upaya PPK berbasis budaya sekolah :
Tabel 4.4 Hasil Persentase Keseluruhan PPK Basis Budaya Sekolah
Aspek Nomor
1 Sekolah mengintegrasikan nilai PPK
dalam menyusun branding sekolah. 89% 11%
2
Branding sekolah tercermin dari tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik bidang akademik maupun non akademik.
89% 11%
Pembiasaan
3
Sekolah melaksanakan pembiasaan yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK secara konsisten, mulai dari awal masuk sampai akhir kegiatan sekolah.
98% 2%
4 Sekolah memiliki program yang
mendukung gerakan literasi. 98% 2%
5 Sekolah melaksanakan program yang 99% 1%
Aitem
Aspek Nomor
Aitem Aitem Persentase
Ya Tidak
Pembiasaan 5 mendukung gerakan literasi. 99% 1%
Kegiatan Ekstrakurikuler
6
Sekolah melaksanakan kegiatan ektrakurikuler wajib, yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK.
100% 0%
7
Sekolah melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK.
98% 2%
Peraturan Sekolah
8 Nilai-nilai PPK terintegrasi dalam
dokumen peraturan sekolah. 98% 2%
9 Warga sekolah mematuhi peraturan
sekolah. 100% 0%
10 Sekolah melakukan evaluasi
keterlaksanaan peraturan sekolah. 96% 4%
Keseluruhan setiap butir aitem instrumen yang mencakup aspek branding sekolah, pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler, peraturan sekolah memiliki persentase jawaban dari responden di atas 80%. Hal ini membuktikan bahwa, program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah sudah diimplementasikan oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan Sekolah Dasar se-kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.
Setelah menganalisa persentase implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah secara umum, peneliti akan mendeskripsikan data pada instrumen pertanyaan tertutup berupa checklis pada setiap butir aitem yang berkaitan dengan Implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah untuk mendukung perolehan data pada pertanyaan terbuka yang berupa uraian, sebagai berikut :
1) Aspek-aspek yang diamati dalam Implementasi Program PPK berbasis budaya sekolah
Guru diberikan 10 pertanyaan yang mewakili 4 aspek yang memuat Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah. Pada aspek branding sekolah membahas mengenai pengintegrasian nilai PPK dalam menyusun branding sekolah yang dapat dicerminkan melalui tampilan sekolah, suasana maupun prestasi sekolah, pada aspek pembiasaan membahas mengenai pelaksanaan pembiasaan yang terintegrasi dengan nilai PPK, program yang mendukung gerakan literasi, pada aspek kegiatan ekstrakurikuler membahas mengenai pelaksanaan ekstrakurikuler wajib dan pilihan yang terintegrasi dengan nilai-nilai PPK, selanjutnya pada aspek peraturan sekolah membahas mengenai nilai PPK yang terintegrasi dalam dokumen peraturan sekolah, warga sekolah mematuhi peraturan sekolah, evaluasi keterlaksanaan peraturan sekolah. Jawaban yang didapatkan untuk 10 butir aitem checklist tersaji dalam gambar sebagai berikut :
a) Instrumen butir aitem 1 “Mengintegrasikan nilai PPK dalam menyusun branding sekolah”
Langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya skolah dalam penentuan branding sekolah dapat dilaksanakan dengan cara melakukan asesmen awal. Salah satu kegiatan asesmen awal yakni memilih nilai utama yang akan menjadi fokus pengembangan, pembentukan dan penguatan karakter di
lingkungan sekolah. Pemilihan nilai utama didiskusikan, dimusyawarahkan, dan didialogkan dengan seluruh pemangku kepentingan sekolah (kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan peserta didik). Dari nilai utama dan nilai-nilai pendukung yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh satuan pendidikan, sekolah bisa membuat tagline atau branding sekolah yang menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah sehingga sekolah memiliki nilai jual.
Gambar 4.2 di bawah ini adalah grafik persentase Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Sleman.
Gambar 4.2 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah
Gambar 4.2 menunjukkan hasil dari Implementasi Program PPK berbasis budaya. Butir aitem 1 checklist menjelaskan mengenai sekolah mengintegrasikan nilai PPK dalam menyusun branding sekolah. Pengimplementasian dapat dilihat dari pilihan jawaban guru yang menjawab “Ya”. Guru memilih jawaban “Ya”
Ya Tidak
Aitem 1 89% 11%
89%
0% 11%
50%
100%
Aitem 1
ada 89% sedangkan yang menjawab tidak 11%, sehingga persentase sekolah yang sudah mengimplementasikan pada butir aitem 1 secara keseluruhan berjumlah 89% sedangkan yang belum mengimplementasikan 11%.
Pengimplementasian branding sekolah melalui nilai utama yang dipilih oleh satuan pendidikan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah. Berikut merupakan beberapa contoh sekolah yang sudah mengintegrasikan dan menyusun ke dalam branding sekolah ialah SD Negeri Condongcatur memiliki branding “Sekolah Ramah Anak”
karakter yang nampak ialah integritas, SD Negeri Timbulharjo memiliki branding “Sekolah yang Mengedepankan udaya”
karakter yang nampak ialah nasionalis, SD Negeri Caturtunggal 4 memiliki branding “Karawitan” karakter yang nampak ialah nasionalis, SD Negeri Caturtunggal 3 memiliki branding
“Sekolah erkualitas budaya mutu) yang berkarakter” karakter yang nampak ialah nasionalis, SD Negeri Nogopuro memiliki branding “Sekolah Adiwiyata” karakter yang nampak ialah religius. Branding-branding sekolah di atas merupakan berberapa contoh dari 89% sekolah yang sudah mengupayakan pengintegrasian nilai PPK berupa nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Salah satu contohnya karakter yang tampak melalui branding sekolah “Sekolah Adiwiyata” yang dimiliki oleh SD Negeri Nogopuro yaitu religius
dimana penanaman perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan diunggulkan melalui mencintai lingkungan, nasionalis dimana rasa kepedulian, penghargaan tinggi terhadap lingkungan fisik diunggulkan melalui bentuk menjaga lingkungan dan rela berkorban, gotong royong dimana semangat kerjasama diunggulkan untuk mewujudkan “Sekolah Adiwiyata” dalam kegiatan penanaman pohon muaupun kerja bakti, integritas dimana seluruh warga sekolah bertanggung jawab dan memiliki komitmen untuk menjaga serta merawat lingkungan sekitar.
Sedangkan 11% sekolah yang belum mengimplementasikan branding sekolah masih belum memahami apa itu branding sekolah.
Berikut rangkuman dari keterkaitan branding dan nilai-nilai PPK :
Tabel 4.5 Keterkaitan Branding dan Nilai-Nilai PPK
Branding Sekolah Kaitan Branding Dengan Nilai-Nilai PPK
Ramah Anak
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah integritas meliputi komitmen moral, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas)
Mengedepankan Budaya
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah nasionalis meliputi apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, cinta tanah air, menghormati keberagaman budaya, suku, dan agama.
Karawitan
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah nasionalis meliputi apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, cinta tanah air,
Branding Kaitan Branding Dengan Nilai-Nilai PPK
Karawitan menghormati keberagaman budaya, suku, dan agama.
Berkualitas (budaya mutu)
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah nasionalis meliputi apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, cinta tanah air, menghormati keberagaman budaya, suku, dan agama.
Adiwiyata
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah religius meliputi mencintai lingkungan dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.
Sesuai dengan visi dan misi sekolah
Nilai-nilai PPK yang nampak ialah religius meliputi toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percaya diri, kerjasama antar pemeluk agama, mencintai lingkungan dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, nasionalis meliputi apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, mandiri meliputi kerja keras, tangguh, daya juang, profesional, kreatif, keberanian dan menjadi pelajar sepanjang hayat, gotong royong meliputi menghargai, kerjasama, musyawarah, mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap relawan, integritas meliputi kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu.
b) Instrumen butir aitem 2 “Branding sekolah yang tercermin dari tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah”
Gambar 4.3 di bawah ini adalah grafik persentase Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Sleman.
Gambar 4.3 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah
Gambar 4.3 menunjukkan hasil dari Implementasi Program PPK berbasis budaya sekolah. Butir aitem 2 checklist menjelaskan mengenai apakah branding sekolah tercermin dari tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik dan non akademik. Pengimplementasian dapat dilihat dari pilihan jawaban guru yang menjawab “Ya”. Guru memilih jawaban “Ya” ada 89% sedangkan yang menjawab tidak 11%.
Sehingga persentase sekolah yang sudah mengimplementasikan pada butir aitem 1 secara keseluruhan berjumlah 89% sedangkan yang belum mengimplementasikan 11%.
Pengimplementasian branding sekolah yang tercermin dari tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang
akademik maupun non akademik sudah diintegrasikan dan disusun antara lain prestasi sekolah contohnya dalam bidang karawitan. Melalui prestasi tersebut akhirnya sekolah memilih branding sekolah “Karawitan”, melalui prestasi sekolah dalam bidang adiwiyata yang dicerminkan melalui suasana sekolah sehingga sekolah tersebut memilih branding “Adiwiyata”, melalui tampilan sekolah yang tercermin dari suasana, sekolah tersebut memilih branding “Sekolah Berkualitas (budaya mutu) yang berkarakter”. Melalui tampilan sekolah yang tercermin melalui suasana dan prestasi, sekolah memilih branding “Sekolah yang Mengedepankan udaya”, melalui tampilan sekolah yang tercermin melalui suasana, sekolah memilih branding “Sekolah Ramah Anak”. Branding sekolah di atas merupakan contoh dari 89% sekolah yang mencerminkan branding melalui tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik, sedangkan 11% sekolah yang belum mencerminkan branding melalui tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik
akademik maupun non akademik sudah diintegrasikan dan disusun antara lain prestasi sekolah contohnya dalam bidang karawitan. Melalui prestasi tersebut akhirnya sekolah memilih branding sekolah “Karawitan”, melalui prestasi sekolah dalam bidang adiwiyata yang dicerminkan melalui suasana sekolah sehingga sekolah tersebut memilih branding “Adiwiyata”, melalui tampilan sekolah yang tercermin dari suasana, sekolah tersebut memilih branding “Sekolah Berkualitas (budaya mutu) yang berkarakter”. Melalui tampilan sekolah yang tercermin melalui suasana dan prestasi, sekolah memilih branding “Sekolah yang Mengedepankan udaya”, melalui tampilan sekolah yang tercermin melalui suasana, sekolah memilih branding “Sekolah Ramah Anak”. Branding sekolah di atas merupakan contoh dari 89% sekolah yang mencerminkan branding melalui tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik, sedangkan 11% sekolah yang belum mencerminkan branding melalui tampilan sekolah, suasana, dan prestasi sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik