• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN"

Copied!
198
0
0

Teks penuh

(1)

i

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH

DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh : Agatha Yekti Pranaestuti

NIM 151134086

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2019

(2)

i

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH

DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh : Agatha Yekti Pranaestuti

NIM 151134086

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2019

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk :

1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria untuk semua berkat melalui curahan Roh Kudus, kekuatan, pertolongan, dan rahmat ketekunan yang selalu Engkau berikan.

2. Kedua orang tuaku tercinta bapak Petrus Sucipto dan ibu FX.Partini yang senantiasa mendoakanku, memberikan cinta, kasih, dan dukungan dalam segala hal.

3. Kakak tercinta Julius Denny Kurnia Pratama dan seluruh keluargaku yang selalu memberikan dukungan disegala kondisi.

4. Dosen pembimbingku Ibu Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd. dan Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. yang selalu membimbingku.

5. Sahabat hati Dionisius Oktavian Indrarto yang telah memberikan dukungan walaupun dari jarak jauh.

6. Payung kecil “Payung Teduhku” Yosie Tiara Putri dan Aloysia Kirana Purnami yang selalu mendoakan, memotivasi, dan menemani langkah perjalanan studi.

7. Sahabatku sekaligus teman seperjuanganku Tiwi, Sasa, Anggun, Yosi, Rana, Via, Rima, Prita, Ludi, Martin, Koko yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan bantuan.

8. Teman-teman PGSD E angkatan 2015 yang selalu mewarnai hari-hariku.

(6)

v

MOTTO

Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5)

“Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih

baik”

(Kanjeng Sunan Kalijaga)

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 28 Maret 2019 Peneliti

Agatha Yekti Pranaestuti

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Agatha Yekti Pranaestuti Nomor Mahasiswa : 151134086

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

“IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN

KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SATUAN

PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK

KABUPATEN SLEMAN”

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 28 Maret 2019 Yang menyatakan

Agatha Yekti Pranaestuti

(9)

viii ABSTRAK

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH

DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

Agatha Yekti Pranaestuti Universitas Sanata Dharma

2019

Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya penguatan karakter siswa melalui pendidikan, sehingga dibentuk program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas, budaya, dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dan upaya program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah guru sekolah dasar se- Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman yang berjumlah 310 guru dan sampel 170 guru yang ditetapkan melalui tabel penentuan sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan dengan teknik simple random sampling. Data penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner (pertanyaan terbuka dan tertutup) dan studi dokumenter.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar se- Kecamatan Depok Kabupeten Sleman sudah diimplementasikan. Upaya implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah ditunjukkan melalui 4 aspek utama yaitu branding sekolah, pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler wajib dan pilihan, peraturan sekolah. Upaya implementasi yang tertinggi terjadi pada pelaksanaan kegiatan ektrakurikuler wajib dan peraturan sekolah yang ditunjukkan dari jawaban kuesioner responden sebesar 100%.

Sedangkan upaya implementasi yang terendah terjadi pada aspek branding sekolah yang ditunjukkan dari jawaban kuesioner responden sebesar 89%.

Kata Kunci: Budaya Sekolah, Penguatan Pendidikan Karakter, Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya.

(10)

ix ABSTRACT

IMPLEMENTATION OF THE CULTURAL BASED CHARACTER EDUCATION REINFORCEMENT PROGRAM IN ELEMENTARY SCHOOLS THROUGHOUT

IN DEPOK, SLEMAN Agatha Yekti Pranaestuti Sanata Dharma University

2019

The background of this research is the importance of strengthening the character of students, Character Education Reinforcement based on classes, cultures, and society is formed. This research is aims to find out the implementation and the effort of Character Education Reinforcement based on culture in all elementary schools in Depok, Sleman.

This research is qualitative and descriptive research which uses survey method.

Population of this research is teachers of from all elementary schools in Depok, Sleman. There are 310 teachers and 170 are chosen using minimum sampling according to Krejcie and Morgan tabel and simple random sampling technique.

This research data is collected through questionnaire (opened and closed questions) and documentary study.

The research result states that every elementary schools in Depok, Sleman have implemented culture based Character Education Reinforcement. Based on the data, the effort of the schools in implementing culture based Character Education Reinforcement shown by 4 aspects is school branding, habituation, optional and mandatory extracurriculars, schools habits and rules. The highest implementation effort in the mandatory extracurricular activityand school rules indicated by the answers to the respondents questionnaires is shown by 100%.

While the lowest implementation aspect is school branding indicated by the answers to the respondents questionnaires is shown by 89% respondents.

Keywords: School culture, Character Education Reinforcement, culture based Character Education Reinforcement

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmat sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman” dengan lancar. Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulisan skripsi ini terlaksana dan terselesaikan dengan baik tidak lepas dari bantuan, dukungan, bimbingan, berbagai pihak yang dengan tulus dan rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing I, yang telah memberikan dorongan, motivasi, nasihat, dan perhatian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

(12)

xi

5. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Dosem Pembimbing II, yang telah memberikan saran dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak Odo Hadinata, M.Pd. Selaku Tim Pengembangan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk masukan yang diberikan selama penyusunan skripsi.

7. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman dan Kepala UPT Kecamatan Depok yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian ini.

8. Semua Kepala Sekolah dan Guru SD Negeri Se-Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta yang telah membantu melaksanakan penelitian.

9. Bapak Drs. YB. Adimassana, M.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik (DPA) dan seluruh dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang telah membimbing dan memberikan ilmu.

10. Orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan, memberi motivasi dan kasih sayang sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

11. Sahabat payung “Payung Teduh” yang selalu memberikan doa, masukan dan dorongan, serta semangat.

12. Teman-teman PGSD kelas E angkatan 2015.

13. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara moral maupun material, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu.

Peneliti bersyukur karena bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti mendapat balasan yang terbaik dari Tuhan Yesus Kristus.

(13)

xii

Demikian ucapan terimakasih peneliti sampaikan kepada semua pihak. Skripsi ini masih ada kekurangan, oleh karena itu peneliti mengharapkan masukan dari para pembaca. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dalam penelitian ini.

Yogyakarta, 28 Maret 2019

Peneliti

Agatha Yekti Pranaestuti

(14)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii

ABSTRAK... viii

ABSTRACT... ix

KATA PENGANTAR... x

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR GAMBAR... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xvii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 10

G. Definisi Operasional ... 11

BAB II LANDASAN TEORI... 13

A. Kajian Pustaka ... 13

1. Pendidikan Karakter ... 13

2. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)... 15

3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Berbasis Budaya... 29

B. Hasil Penelitian yang Relevan... 37

C. Kerangka Berpikir ... 42

D. Hipotesis Penelitian ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 44

A. Jenis Penelitian ... 44

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 46

1. Waktu ... 46

2. Tempat ... 47

C. Populasi dan Sampel... 48

1. Populasi ... 48

2. Sampel ... 50

D. Variabel Penelitian ... 54

E. Teknik Pengumpulan Data ... 54

1. Angket (kuesioner) ... 55

2. Studi Dokumenter... 55

(15)

xiv

F. Instrumen Penelitian ... 56

1. Daftar Cek ... 56

2. Pertanyaan Terbuka ... 58

3. Pertanyaan Tertutup... 59

G. Teknik Pengujian Instrumen ... 61

1. Validitas Muka ... 61

2. Validitas Isi ... 62

H. Teknik Analisis Data ... 69

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 73

A. Hasil Penelitian ... 73

1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 73

2. Deskripsi Responden Penelitian ... 75

3. Deskripsi Data Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya di Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman... 76

4. Deskripsi Hasil Rekapitulasi Rerata... 102

1) Aspek Branding ... 102

2) Aspek Pembiasaan ... 103

3) Aspek Ekstrakurikuler... 103

4) Aspek Peraturan Sekolah... 104

B. Pembahasan ... 106

BAB V PENUTUP ... 111

A. Kesimpulan ... 111

B. Keterbatasan Penelitian ... 112

C. Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 114

DAFTAR GAMBAR... 117

LAMPIRAN... 118

BIOGRAFI PENELITI... 180

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian... 46

Tabel 3.2 Data Jumlah Guru di Kecamatan Depok... 49

Tabel 3.3 Penentuan Sampel Minimal menurut Krejcie dan Morgan... 51

Tabel 3.4 Tabel Populasi dan Sampel Tiap Sekolah... 52

Tabel 3.5 Daftar Cek Dokumentasi... 57

Tabel 3.6 Kisi-kisi Pertanyaan Terbuka Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya... 58

Tabel 3.7 Kisi-kisi Pertanyaan Instrumen Penelitian Tertutup... 60

Tabel 3.8 Tabel Skor Pertanyaan Instrumen Penelitian... 61

Tabel 3.9 Hasil Validitas Muka... 62

Tabel 3.10 Konversi Nilai Skala Lima... 63

Tabel 3.11 Konversi Nilai Skala Lima... 64

Tabel 3.12 Kriteria Skor Skala Lima... 66

Tabel 3.13 Rekapitulasi Validitas Instrumen... 67

Tabel 4.1 Daftar SD yang diteiti... 73

Tabel 4.2 Instrumen Pertanyaan Terbuka Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya... 77

Tabel 4.3 Instrumen Pertanyaan Tertutup Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya... 79

Tabel 4.4 Hasil Persentase Keseluruhan PPK Basis Budaya Sekolah... 80

Tabel 4.5 Keterkaitan Branding dan Nilai-Nilai PPK... 85

Tabel 4.6 Rerata Persentase Aspek Branding... 102

Tabel 4.7 Rerata Persentase Aspek pembiasaan... 103

Tabel 4.8 Rerata Persentase Aspek Ekstrakurikuler... 104

Tabel 4.9 Rerata Persentase Aspek Peraturan... 104

Tabel 4.10 Rekapitulasi Persentase dari 4 aspek... 105

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Keterpaduan Olah Hati, Olah Pikir, Olah Raga, Olah Rasa

dan Karsa... 18

Gambar 2.2 Manajemen Kelas... 20

Gambar 2.3 Budaya Sekolah Melalui Pojok Baca... 22

Gambar 2.4 Sosialisasi Dari Kepolisian... 24

Gambar 2.5 Literature Map Penelitian-Penelitian Relevan... 41

Gambar 4.1 Diagram Persentase Impelemntasi Program PPK Berbasis Budaya di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Se-Kecamatan Depok Sleman... 81

Gambar 4.2 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 85

Gambar 4.3 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 89

Gambar 4.4 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 91

Gambar 4.5 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 93

Gambar 4.6 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 94

Gambar 4.7 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 96

Gambar 4.8 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 98

Gambar 4.9 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 99

Gambar 4.10 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 101

Gambar 4.11 Persentase Implementasi Program PPK Berbasis Budaya Sekolah... 102

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat izin Penelitian dari Universitas Sanata

Dharma... 119

Lampiran 2 Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik... 120

Lampiran 3 Surat keterangan Telah Melakukan Penelitian dari UPTD Kecamatan Depok... 121

Lampiran 4 Surat Keterangan Sudah Mengupulkan Hasil Penelitian kepada Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik... 122

Lampiran 5 Rangkuman Data SD Negeri di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman... 123

Lampiran 6 Coding Data 37 Sekolah Dasar Negeri... 124

Lampiran 7 Rekap Data Implementasi Instrumen Checklist... 129

Lampiran 8 Rekap Data Implementasi Instrumen Essai... 134

Lampiran 9 Kisi-kisi Instrumen Soal Checklist... 140

Lampiran 10 Kisi-kisi Instrumen soal Essai... 141

Lampiran 11 Identitas Respon dan Surat Pengantar Instrumen... 142

Lampiran 12 Soal Checklist dan Essai... 144

Lampiran 13 Permohonan Izin Validasi Ahli... 147

Lampiran 14 Data mentah 10 Validasi Ahli... 148

Lampiran 15 Hasil Rekap Validasi Instrumen Soal... 178

Lampiran 16 Daftar Cek... 179

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab I memberikan gambaran kepada pembaca mengenai landasan penelitian ini. Pada bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Karakter yang kuat dapat membawa kehidupan yang lebih damai dan bebas dari berbagai tindakan tidak bermoral. Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara (Samani dan Hariyanto, 2012: 41). Penguatan karakter dapat dilakukan melalui bimbingan yang dilakukan seorang pendidik secara tidak langsung melalui proses pembiasaan dalam pendidikan.

Pendidikan adalah proses bimbingan secara sadar seorang pendidik sehingga aspek jasmani, rohani, akal anak didik tumbuh dan berkembang menuju terbentuknya pribadi, keluarga, dan masyarakat yang berbudi, (Poerwadarminta, dalam Salahudin, 2011: 21). Selain melalui bimbingan yang dilakukan oleh seorang pendidik, pembiasaan tingkah laku dalam lingkungan memberi pengaruh yang besar terhadap pola pikir yang terbentuk pada diri peserta didik. Melalui pembiasaan dalam lingkungan, peserta didik diharapkan mampu beradaptasi dengan baik dan dapat mengembangkan karakter dalam kesehariannya. Selain menjadi keteladanan

(20)

dan pembiasaan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan iklim lingkungan yang kondusif juga sangat penting, dan turut membentuk karakter peserta didik (Mulyasa, 2013: 10). Kualitas pola berpikir maupun bertindak peserta didik tentunya tidak luput dari pendidikan yang sudah dienyam. Secara sederhana pendidikan yang berkualitas dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Namun realitanya pendidikan Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan.

Pendidikan di Indonesia perlu perhatian khusus dari pemerintah.

Banyak hal yang perlu dibenahi mulai dari karakter yang terbentuk pada peserta didik, sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia, hingga bagaimana pendidikan dapat memberikan pengaruh pembiasaan positif terhadap budi pekerti maupun penguatan karakter demi mempertahankan jati diri bangsa Indonesia melalui para generasi mudanya. Hal-hal yang mendasari pernyataan di atas dapat dilihat dari berita-berita yang beredar dikalangan publik, contohnya berita yang termuat dalam (Kompasiana, 12 Desember 2011), desakan mengenai perlunya dibentuk tim evaluasi terhadap berbagai persoalan pendidikan di Medan, termasuk fisik sekolah, masalah guru, serta kepemimpinan kepala sekolah yang disampaikan oleh Wali Kota Medan Rahudman Harahap. Melalui berita di atas sebenarnya memberikan salah satu gambaran umum bagaimana pentingnya perhatian khusus pemerintah terhadap kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini, bahkan dalam praktiknya banyak generasi yang perilakunya tidak terpuji, dan mulai menghilangkan identitas bangsa Indonesia melalui tindakan yang tidak bermoral.

(21)

Perilaku generasi muda khususnya anak-anak yang masih duduk di tingkat sekolah dasar cukup memprihatinkan. Banyak pemberitaan yang sering kali beredar contohnya kasus tindakan kekerasan sekaligus Bullying dari teman-teman di sekolah dasar yang dimuat oleh Tribunnews, pada 31 Oktober 2017. Viralnya video siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 Surondakan, Trenggalek yang sedang pesta rokok elektrik dimuat oleh Tribunnews, pada 24 Oktober 2017, merupakan beberapa contoh tindakan generasi muda yang tidak mencerminkan karakter bangsa Indonesia.

Melalui pemberitaan tersebut semakin membuktikan bahwa pendidikan karakter juga masih belum berjalan semestinya. Selain kasus-kasus yang diberitakan tersebut masih banyak kasus lainnya yang dapat dijumpai saat ini, misalnya melalui pengalaman peneliti ketika melakukan praktik mengajar di sekolah dasar yang ada di Yogyakarta tindakan menyepelekan guru di kelas masih sering peneliti jumpai, tindakan mencontek yang dilakukan siswa saat ujian, lunturnya kearifan lokal, lunturnya nilai-nilai budaya dan kurangnya kesadaran generasi muda dalam melestarikan budaya juga marak terjadi. Hal-hal tersebut tentunya merupakan gambaran bagaimana karakter bangsa khususnya generasi muda pada saat ini.

Sekolah merupakan bagian terpenting dalam dunia pendidikan, oleh sebab itu pendidikan karakter harus terus menerus digalakkan di sekolah guna mewujudkan terealisasinya pendidikan karakter yang dapat memperkuat jati diri bangsa Indonesia melalui pembiasaan nilai-nilai utama keseharian, norma, peraturan yang terjadi di sekolah. Pembangunan karakter melalui pendidikan karakter di sekolah merupakan suatu keharusan yang

(22)

diterapkan, mengingat pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas namun juga membuat peserta didik memiliki budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat secara tidak langsung akan lebih di hargai dan bermakna bagi orang lain. Lickona (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 44) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa. Pendidikan karakter tentunya menjadi hal yang sangat vital dan sangat bermanfaat dikemudian hari berupa pengalaman, maupun pengetahuan yang berdampak pada kehidupan. Meskipun begitu, keberadaan pendidikan karakter di sekolah tidak dapat dijadikan acuan bahwa peserta didik sudah berkarakter secara utuh.

Pendidikan karakter harus diimbangi dengan adanya peningkatan sikap, sifat, dan perilaku, sehingga pendidikan karakter mampu membentuk peserta didik menjadi matang, dewasa, unggul, berdaya saing, berperadaban unggul yang berlandaskan nilai-nilai utama karakter berupa religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pendidikan karakter dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan hal yang asing. Sejak dahulu sebenarnya Indonesia sudah menerapkan pendidikan karakter namun belum dilakukan secara opimal, contohnya melalui Pendidikan Pancasila, maupun pembiasaan berperilaku sopan santun di sekolah, pembiasaan perilaku untuk mentaati segala peraturan yang berlaku di sekolah, serta usaha untuk menerapkan pembiasaan-pembiasaan yang ditanamkan oleh pihak sekolah guna membentuk suatu perilaku yang memiliki keteraturan dan terencana. Namun kondisi faktual saat ini yang masih jauh dari harapan

(23)

memberikan dorongan tersendiri bagi pemerintah untuk lebih memusatkan pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia.

Kesadaran sekaligus usaha pemusatan pendidikan karakter di jantung pendidikan nasional semakin kuat ketika tahun 2010. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Aksi Nasional (RAN) pendidikan karakter bangsa yang termuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) No.87 Tahun 2017 pasal 2 huruf a membangun dan membekali Peserta Didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan. Keberlanjutan dan kesinambungan kebijakan tersebut memunculkan adanya Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Gerakan PPK dapat dimaknai sebagai perwujudan Gerakan Revolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita. Nawacita merupakan rancangan sembilan prioritas Presiden Jokowi dan Wakilnya Jusuf Kalla.

Salah satu rancangan sembilan prioritas yang banyak dibahas dalam dunia pendidikan ialah butir kedelapan yang berbunyi “Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia” dimuat oleh Kompas, pada 21 Mei 2014. Butir kedelapan tersebut merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk mempertegas

(24)

kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab, serta menjunjung tinggi nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter yang termuat dalam Peraturam Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.20 Tahun 2018 Pasal 2 Ayat 2 yang menyatakan bahwa nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perwujudan dari 5 (lima) nilai utama yang saling berkaitan yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum.

Dalam penerapannya PPK memiliki tiga struktur yang digunakan sebagai wahana, jalur, dan medium untuk memperkuat pendidikan karakter berbangsa yaitu struktur program, antara lain jenjang dan kelas, ekosistem sekolah, penguatan kapasitas guru, kedua struktur kurikulum, atara lain kegiatan pembentukan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran (intrakurikuler), kokurikuler, dan ekstrakurikuler, ketiga struktur kegiatan, antara lain berbagai program dan kegiatan yang mampu mensinergikan empat dimensi pengolahan karakter dari Ki Hajar Dewantara (olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati) (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 12).

Selain memiliki fokus gerakan, PPK memiliki basis yang dapat dilaksanakan dengan basis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap dimiliki oleh sekolah yaitu, pendidikan karakter berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat/komunitas, (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17).

Basis kelas adalah proses penguatan pendidikan karakter yang dilakukan melalui pembiasaan proses pembelajaran dan kurikulum. Hal tersebut biasanya ditekankan melalui pengintegrasian proses pembelajaran

(25)

di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran, memperkuat manajemen kelas, pemilihan metode dan evaluasi pengajaran, serta pengembangan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah. Basis budaya sekolah adalah proses Penguatan Pendidikan Karakter yang dilakukan melalui pembiasaan budaya baik yang dimiliki oleh sekolah dan menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah, mengembangkan serta memberi ruang terhadap potensi siswa melalui kegiatan kokurikuler serta ektrakurikuler, mengembangkan norma, peraturan dan tradisi sekolah yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah. Basis masyarakat adalah proses Penguatan Pendidikan Karakter melalui keterlibatan masyarakat dalam penanaman nilai karakter dengan memperkuat peran komite sekolah dan orang tua sebagai pemangku utama pendidikan, memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber pembelajaran seperti tokoh masyarakat, pegiat seni dan budaya, menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, kementrian serta lembaga pemerintah untuk mendukung kegiatan PPK.

Melalui tiga basis di atas peneliti memfokuskan penelitian pada Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah karena, peneliti ingin melihat sejauh mana implementasi dan keterlibatan budaya sekolah digunakan sebagai pembentuk serta penguat karakter peserta didik sejak dini khususnya di daerah kota. Selain itu peneliti ingin melihat sejauh mana pengetahuan sekolah mengenai upaya Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah seperti budaya literasi, serta pemberian wadah potensi siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler yang diperkuat dalam

(26)

Peraturan Presiden (Perpres) No.87 Tahun 2018 pasal 1 ayat 9 Ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal. Mengingat implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah sangat penting.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di sekolah dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Alasan peneliti memilih Kecamatan Depok sebagai tempat penelitian, karena Kecamatan Depok memiliki jumlah sekolah dasar negeri yang paling banyak dibandingkan dengan kecamatan lain sehingga semakin menggambarkan karakteristik populasi, lokasi Kecamatan Depok strategis terletak di kota sehingga peneliti mudah menjangkau sekolah yang akan diteliti, selain itu belum ada penelitian mengenai implementasi program PPK berbasis budaya sekolah di Kecamatan Depok. Oleh sebab itu peneliti ingin melakukan survei mengenai “Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Se- Kecamatan Depok Kabupaten Sleman”.

B. Identifikasi Masalah

Penelitian ini didasari pada beberapa masalah, adapun masalah- masalah tersebut adalah :

1. Tindakan generasi muda yang tidak mencerminkan karakter bangsa Indonesia.

2. Penekanan pendidikan karakter masih kurang optimal.

(27)

3. Keberadaan pendidikan karakter di sekolah belum menjamin bahwa peserta didik memiliki karakter yang memenuhi nilai-nilai utama karakter yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas.

C. Batasan Masalah

Agar penelitian tidak terlalu luas maka masalah yang diteliti akan dibatasi sebagai berikut :

1. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi SD Negeri Kecamatan Depok, subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas 1 sampai 6 di Sekolah Dasar se-Kecamatan Depok.

2. Fokus penelitian pada implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya di satuan pendidikan Sekolah Dasar Negeri se- Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman dan upaya sekolah dalam implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

3. Jumlah Sekolah Dasar Negeri yang diteliti ialah 37 sekolah.

4. Pengambilan sampel menggunakan metode random sampling.

D. Rumusan Masalah

Latar belakang masalah dan batasan masalah yang dikemukakan melandasi rumusan masalah dalam penelitian ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(28)

1. Apakah program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar se-Kecamatan Depok Kabupeten Sleman sudah terimplementasi?

2. Bagaimana upaya implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidkan sekolah dasar se-Kecamatan Depok Kabupaten Sleman?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar Se- Kacamatan Depok Kabupaten Sleman.

2. Mendeskripsikan upaya implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di satuan pendidikan sekolah dasar Se-Kacamatan Depok Kabupaten Sleman.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang bermakna bagi:

1. Siswa

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dan penguatan pada siswa akan pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah.

(29)

2. Guru

Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk guru dalam mengimplementasikan penanaman program Penguatan Pendidikan Karakter peserta didik.

3. Sekolah

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada pihak sekolah sebagai bahan kajian dalam upaya membangun karakter peserta didik berbasis budaya sekolah sejak dini.

4. Peneliti

Hasil penelitian ini dapat berguna untuk menambah wawasan dan pengalaman baru dalam melakukan penelitian survey. Serta dapat dijadikan refleksi untuk mengembangkan penelitian lain yang berkaitan pada pendidikan karakter peserta didik di sekolah.

G. Definisi Operasional

Definisi operasional berisi tentang istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1. Pendidikan adalah suatu proses dalam mempengaruhi peserta didik agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya sehingga akan menimbulkan perubahan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

(30)

2. Karakter adalah sikap yang ditunjukkan seseorang dari cara berpikir maupun berperilaku secara khas sehingga dapat membentuk dan membedakan orang yang satu dengan yang lain.

3. Pendidikan Karakter adalah kegiatan penanaman dan penerapan nilai- nilai luhur karakter kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

4. Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah program untuk memperbaiki karakter peserta didik yang dibuat oleh pemerintah berdasarkan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia terutama nilai-nilai utama yang ditekankan dalam penguatan pendidikan karakter.

5. PPK berbasis Budaya sekolah adalah program pendidikan di sekolah untuk membentuk karakter peserta didik melalui pembiasaan dan budaya sekolah yang menekankan nilai-nilai utama keseharian sekolah, norma, peraturan, dan tradisi sekolah dalam seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.

6. Sekolah Dasar adalah pendidikan formal yang wajib ditempuh dan memiliki 6 kelas dari kelas 1 sampai 6 dan biasanya ditempuh selama 6 tahun.

7. Kecamatan adalah bagian wilayah di bawah kabupaten atau kota.

(31)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bagian ini berisi tentang kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian.

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan uraian hasil pengkajian peneliti terhadap berbagai referensi yang dijadikan acuan dalam penelitian. Kajian pustaka misalnya dapat mengkaji beberapa hal sebagai berikut.

1. Pendidikan karakter a. Karakter

Karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan (Yaumi, 2014: 7-8). Pendapat Lickona (dalam Glanzer, 2006: 532) karakter adalah mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan, dan melakukan segala sesuatu yang baik (Yaumi, 2014: 7). Pendapat Scerenko (1997) mendefinisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa (Samani dan Hariyanto, 2012: 42).

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap

(32)

mempertanggungjawabkan setiap akibat. Karakter tidak bisa diwariskan tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan, pendapat Douglas (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 41).

Berdasarkan pendapat yang disampaikan oleh beberapa para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sikap yang ditunjukkan seseorang dari cara berpikir maupun berperilaku secara khas sehingga dapat membentuk dan membedakan orang yang satu dengan yang lain.

b. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarnya (Samani dan Hariyanto, 2012: 43). Pendapat Winton (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 43) pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya.

Pendapat Lickona (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 44) mengenai pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa.

Pendapat Berkowitz dan Bier, (dalam Yaumi, 2014: 9-10) pendidikan karakter adalah gerakan nasional dalam menciptakan

(33)

sekolah untuk mengembangkan peserta didik dalam memiliki etika, tanggung jawab, dan kepedulian dengan menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai universal. Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja, proaktif yang dilakukan oleh sekolah dan pemerintah (daerah dan pusat) untuk menanamkan nilai-nilai inti, etis seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri dan orang lain.

Berdasarkan pendapat yang disampaikan oleh beberapa para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penanaman dan penerapan nilai-nilai luhur karakter kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

2. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) a. Latar Belakang Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter atau biasa disebut PPK merupakan sebuah gerakan yang dibuat oleh pemerintah saat mencanangkan revolusi karakter. Pelopor tokoh pendidikan Indonesia yang membahas mengenai pendidikan karakter yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak (Samani dan Hariyanto, 2012: 33). Ki Hajar Dewantara juga mengungkapkan bahwa komponen-komponen budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak tidak dapat dipisahkan melainkan saling terintegrasi. Dengan begitu pendidikan karakter dapat dimaknai

(34)

sebagai bagian integral yang sangat penting dalam pendidikan (Samani dan Hariyanto, 2012: 33).

Konsep pendidikan yang selama ini dikenal dan identik dari Ki Hajar Dewantara yaitu sistem among yang meliputi ing ngarsa sung tuladha (jika di depan memberikan teladan), ing madya mangun karsa (jika di tengah-tengah atau sedang bersama-sama menyumbangkan gagasan, maknanya di samping guru guru memberikan idenya, para siswa juga didorong untuk mengembangkan karsa atau gagasannya), dan tut wuri handayani (jika berada di belakang menjaga agar tujuan pendidikan tercapai dan peserta didik diberi motivasi serta diberi dukungan psikologis untuk mencapai tujuan pendidikan) sebenarnya sarat akan nilai-nilai karakter (Samani dan Hariyanto, 2012: 33).

Gerakan nasional pendidikan karakter semakin intensif pada tahun 2010, pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN). Hal tersebut perlu dilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam dan bahkan diperluas sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Oleh sebab itu Gerakan PPK perlu dilaksanakan karena Gerakan PPK dimaknai sebagai pengejawantahan Gerakan Revolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, Penguatan Pendidikan Karakter merupakan poros pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah guna memperbaiki karakter peserta didik melalui

(35)

gerakan yang dibuat oleh pemerintah berdasarkan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia terutama nilai-nilai utama yang ditekankan dalam penguatan pendidikan karakter.

b. Pengertian

Penguatan Pendidikan Karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi oleh hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup pancasila. Untuk diperlukan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, Penguatan Pendidikan Karakter adalah sebuah program yang integral dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) untuk memperkuat karakter peserta didik melalui berbagai aspek yang sesuai dengan nilai- nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik.

Melalui penjelasan di atas maka karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian. Keterpaduan itu secara ringkas ditunjukkan dalam gambar 2.1 berikut ini :

(36)

Gambar 2.1 Keterpaduan Olah Hati, Olah Pikir, Olah Raga Olah Rasa dan Karsa

Berdasarkan gambar 2.1 di atas dapat disimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter saling berkaitan dengan empat keterpaduan yakni olah hati, olah pikir, olahraga, olah rasa guna mencapai karakter bangsa yang ber-Pancasila.

OLAH HATI

OLAH RAGA

OLAH RASA/

KARSA OLAH

PIKIR

Beriman dan bertakwa. Jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik

Ramai, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produkIndonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja Cerdas, kritis,

kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif,

berorientasi ipteks, dan reflektif

Bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih

(37)

c. Basis Penguatan Pendidikan Karakter

Dalam pelaksanaannya, program Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan melalui tiga basis yaitu basis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat, antara lain :

1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan locus educations utama dimana proses pembentukan karakter terjadi di dalam lingkungan pendidikan, pendapat Cabrera (dalam Koesoema, 2018: 9). Pengintegrasian PPK dalam kurikulum mengandung arti bahwa pendidik mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK ke dalam proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27). Melalui pengintegrasian nilai-nilai utama yang ditekankan dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan penyusunan rencana pembelajaran, secara tidak langsung proses pengelolaan serta pengaturan kelas juga termasuk penguatan nilai-nilai pendidikan karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 28).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis kelas adalah sebuah proses penanaman, pembentukan maupun penguatan nilai-nilai pendidikan karakter dalam proses pembelajaran yang terjadi di lingkungan pendidikan. Salah satu contoh pengintegrasian PPK basis kelas yang diterapkan yakni manajemen kelas atau pengelolaan kelas, meliputi pengaturan lingkungan fisik

(38)

berupa sarana dan prasarana yang dimiliki kelas seperti pengaturan penggunaan bahan maupun alat yang digunakan saat pembelajaran, adanya kesepakatan kelas, pengaturan peserta didik dalam kelas seperti halnya mengatur posisi duduk ketika pembelajaran. Cara pengelolaan tersebut tentunya akan membuat kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan baik, suasana kelas yang kondusif juga memberi pengaruh peserta didik dalam belajar. Seperti contoh gambar 2.2 di bawah ini yang menggambarkan pengimplementasian program PPK berbasis kelas.

Gambar 2.2 Manajemen Kelas

Sumber :

https://www.google.com/search?safe=strict&tbm=isch&q=kelas

&chips=q:kelas,online_chips:pengelolaan+kelas&sa=X&ved=0a hUKEwjc0sb2noDgAhWGs48KHayaB1MQ4lYIKigD&biw=136

6&bih=657&dpr=1#imgrc=-eijRh0LUPsWXM

Berdasarkan gambar 2.2 di atas merupakan contoh pengelolaan kelas yang baik dimana suasana kelas yang kondusif, bersih dan rapi, penataan mading maupun hasil karya siswa yang teratur, ornamen-ornamen kelas yang memotivasi

(39)

siswa dalam belajar, bentuk posisi duduk yang memusat sehingga memudahkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain yang menunjukkan detail dari manajemen pengelolaan kelas yang terdapat dalam gambar tersebut. Pada dasarnya pengelolaan kelas yang baik dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin dalam belajar dan mempengaruhi pembentukan serta penguatan karakter peserta didik.

2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah. PPK berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang mempresentasikan nilai-nilai utama PPK yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Pembiasaan dari suasana dan lingkungan sekolah yang kondusif (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35). Menurut (Koesoema, 2018: 35) sekolah dapat menjadi komunitas moral yang mendukung pertumbuhan individu dan anggotanya sehingga mereka semakin menemukan kebermaknaan dalam menghayati profesinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah

(40)

proses pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan dan pembentukan budaya sekolah yang dapat mendukung praktik PPK dengan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah. Salah satu contoh implementasi penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah yaitu pembiasaan pojok baca. Pelaksanaan dan waktu kegiatan pojok baca dilakukan secara bebas maupun sesuai dengan kesepakatan sekolah. Pada dasarnya penyediaan pojok baca ditujukan agar peserta didik memiliki budaya membaca, menulis, menyimak, dan mengkomunikasikan secara teliti, cermat, dan tepat tentang suatu tema atau topik dari berbagai sumber buku yang disediakan di pojok kelas. Di bawah ini adalah gambar 2.3 yang dapat menggambarkan mengenai contoh kegiatan pengimplementasi program PPK berbasis budaya.

Gambar 2.3 Budaya Sekolah Melalui Pojok Baca

Sumber : http://literasi.org/mendukung-gerakan-literasi-di- bali-timur/

(41)

Berdasarkan gambar 2.3 di atas merupakan contoh kegiatan pojok baca. Suasana pojok baca yang sangat kondusif, penyediaan buku-buku bacaan yang menarik, penataan buku bacaan yang rapi di rak, tempat membaca yang nyaman, lokasi pojok baca yang terdapat di pojok belakang kelas sangat mendukung pembiasaan siswa dalam hal membaca karena mudah diakses oleh siswa. Dengan adanya pojok baca tersebut, siswa lebih mudah membaca buku tanpa harus pergi ke perpustakaan. Pojok baca merupakan salah satu kegiatan yang mendukung gerakan literasi dan menjadi salah satu ciri khas kegiatan PPK berbasis budaya sekolah dalam hal pembiasaan.

3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat

Pendidikan karakter berbasis masyarakat merupakan kolaborasi pembentukan karakter yang melibatkan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 41).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis masyarakat merupakan kolaborasi yang dilakukan oleh sekolah dengan melibatkan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah.

Dengan demikian PPK berbasis masyarakat dapat memberikan penguatan kekayaan pengetahuan peserta didik dalam rangka pembelajaran melalui berbagai hal contohnya yakni cagar budaya, sanggar seni, museum, tokoh, lembaga pemerintahan.

(42)

Berikut ini adalah gambar 2.4 yang dapat menggambarkan mengenai kondisi ketika pengimplementasikan PPK berbasis masyarakat.

Gambar 2.4 Sosialisasi Dari Kepolisian

Sumber : https://tribratanewspemalang.com/pengenalan- bahaya-narkoba-sejak-dini

Berdasarkan gambar 2.4 di atas dapat dilihat bahwa melalui implementasi program PPK berbasis budaya sekolah kegiatan sosialisasi dari kepolisian merupakan salah satu bentuk kerjasama sekolah dengan pihak kepolisian. Kerjasama sekolah dengan pihak kepolisian yang terlihat dalam gambar ialah polisi sebagai aparat penegak hukum memberikan sosialisasi secara langsung mengenai bahaya narkoba sejak dini, siswa yang antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi diharapkan dapat memahami akan informasi maupun ilmu baru yang diberikan oleh pihak kepolisian secara langsung dengan begitu siswa dapat belajar secara langsung

(43)

mengenai hal-hal baru yang harus diketahui mengenai bahaya narkoba.

d. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 16) :

1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.

2) Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.

3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi oleh hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).

4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.

5) Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumber-sumber belajar di dalam dan dan di luar sekolah.

6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

(44)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan Penguatan Pendidikan Karakter adalah memperkuat karakter peserta didik guna mengembangkan potensi intelektual dan karakter, menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan global dimasa mendatang tanpa meninggalkan kearifan lokal maupun nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia melalui pendidikan.

e. Nilai-nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan.

Ada lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Penguatan Pendidikan Karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 8). Kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud adalah :

1) Religiusitas

Nilai karakter religiusitas mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung sikap toleran. Nilai karakter religiusitas ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligius yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Subnilai religiusitas antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan,

(45)

teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan.

Persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, dan melindungi yang kecil dan tersisih (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 8). Pada Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018, nilai religius direvisi menjadi religiusitas.

2) Nasionalisme

Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negra di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalisme antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 8). Pada Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018, nilai nasionalis direvisi menjadi nasionalisme.

3) Kemandirian

Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan

(46)

mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 9). Pada Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018, nilai mandiri direvisi menjadi kemandirian.

4) Gorong Royong

Nilai gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang- orang yang membutuhkan. Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 9).

5) Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Krakter integritas meliputi sikap tanggung jawab

(47)

sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalaui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas) (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 9).

Melalui pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, lima nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter yang saling berkaitan ini merupakan penurunan dari nilai-nilai Pancasila sebagai nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia dan sudah ada sejak dahulu. Nilai-nilai utama tersebut merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan sehingga membentuk sebuah kepribadian utuh. Kelima nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter tersebut harus dikembangkan oleh seluruh elemen sekolah terutama peserta didik guna mewujudkan penguatan pendidikan karakter.

3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Berbasis Budaya Sekolah a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung Penguatan Pendidikan Karakter mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan sekolah.

Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang memrepresentasikan nilai-

(48)

nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter yang menjadi prioritas satuan pendidikan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35).

Kultur sekolah menjadi penting untuk dikembangkan karena di dalam terdapat norma, aturan dan regulasi yang mengikat individu sebagai sarana untuk memaknai, perilaku sikap dan keputusannya.

Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa (Kemdiknas, dalam Koesoema, 2018: 30-31).

Melalui pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah pembentukan dan pembiasaan karakter peserta didik melalui nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter dalam kehidupan sehari-hari yang membentuk adanya budaya sekolah, salah satu contoh kegiatan PPK berbasis budaya sekolah ialah pembiasaan literasi yang dilakukan 15 menit sebelum pembelajaran berlangsung, kegiatan pojok baca, adanya kegiatan ektrakurikuler yang dapat menunjang potensi maupun prestasi sekolah, penekanan peraturan sekolah guna menekankan pembentukan karakter yang diharapkan. Melalui pembiasaan-pembiasaan tersebut tentunya akan memunculkan suatu budaya sekolah yang dapat membentuk kebiasaan baik untuk dikembangkan. Dengan begitu

(49)

budaya sekolah menumbuhkan pembiasaan yang dapat membantu menguatkan dan membentuk karakter peserta didik.

b. Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan berbasis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap dimiliki oleh sekolah.

Salah satu basis Penguatan Pendidikan Karakter adalah budaya sekolah yang diuraikan sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 15) :

1) Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah.

2) Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan.

3) Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.

4) Megembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

5) Memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah.

6) Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

Melalui pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah dapat dilakukan dengan menekankan pembentukan dan pembiasaan nilai- nilai utama dalam keseharian sekolah yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.

(50)

c. Langkah-langkah Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, antara lain dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35-41) :

1) Menentukan Nilai Utama PPK

Sekolah melalui program PPK dengan melakukan asesmen awal. Salah satu asesmen awal adalah bahwa satuan pendidikan memilih nilai utama yang akan menjadi fokus dalam pengembangan dan penguatan karakter di lingkungan mereka. Nilai utama yang dipilih oleh satuan pendidikan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah. Dari nilai utama dan nilai-nilai pendukung yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh satuan pendidikan, sekolah bisa membuat tagline maupun branding yang menjadi moto satuan pendidikan tersebut sehingga menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah. Menurut Asa (2019: 34) branding sekolah atau School Branding adalah suatu cara seseorang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya adalah pesan yang masuk atau terekam di memori seseorang, ketika mendengar nama sebuah sekolah disebut dalam percaturan sekolah yang massal.

2) Menyusun Jadwal Harian/Mingguan

Satuan pendidikan dapat menyusun jadwal kegiatan harian atau mingguan untuk memperkuat nilai-nilai PPK yang telah

(51)

dipilih sebagai upaya penguatan secara habituasi dan terintegrasi.

Pada dasarnya durasi waktu tidak mengikat dan disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan serta nilai-nilai utama karakter disesuaikan dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental, visi dan misi sekolah, kreativitas sekolah, serta kearifan lokal.

3) Mendesain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan diwujudkan dalam bentuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

4) Evaluasi Peraturan Sekolah

Budaya sekolah yang baik terlihat dalam konsep pengelolaan sekolah yang mengarah pada pembentukan dan penguatan karakter.

Selain peraturan tentang kedisiplinan, sekolah juga perlu mengadakan evaluasi atas peraturan-peraturan lain, untuk melihat apakah peraturan sekolah yang ada telah mampu membentuk karakter peserta didik atau justru malah melemahkannya. Dalam upaya pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, sekolah dapat membuat atau merevisi peraturan dan tata tertib sekolah secara bersama-sama dengan melibatkan semua komponen sekolah yang terkait. Dengan demikian, semangat menegakkan peraturan tersebut semakin besar karena dibangun secara bersama.

(52)

5) Pengembangan Tradisi Sekolah

Satuan pendidikan dapat mengembangkan PPK berbasis budaya sekolah dengan memperkuat tradisi yang sudah dimiliki oleh sekolah.

6) Pengembangan Kegiatan Kokurikuler

Kegiatan kokurikuler dilakukan melalui serangkaian penugasan yang sesuai dengan target pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran yang relevan dengan kegiatan intrakurikuler.

Kegiatan kokurikuler dapat dilaksanakan baik dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah, tetapi kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan perencanaan pembelajaran (silabus dan RPP) yang telah disusun guru.

7) Ekstrakurikuler (wajib dan pilihan)

Penguatan nilai-nilai utama PPK sangat dimungkinkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan karakter yang dilaksanakan di luar jam pembelajaran (intrakurikuler). Menurut Peraturan Presiden (Perpres) No.87 Tahun 2018 pasal 1 ayat 9 Ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal. Aktivitas ekstrakurikuler berfungsi menyalurkan dan mengembangkan minat dan bakat peserta didik dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kearifan lokal, dan daya dukung yang tersedia, (Tim PPK Kemendikbud, 2017:

(53)

18). Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik, sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler ada dua jenis, yaitu ekstrakurikuler wajib (pendidikan kepramukaan) dan ekstrakurikuler pilihan (sesuai dengan kegiatan ektrakurikuler yang dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan). Semua kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan harus memuat dan menegaskan nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan.

Berdasarkan langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah dapat disimpulkan bahwa, PPK berbasis budaya sekolah memiliki langkah yang dapat diimplementasikan oleh seluruh satuan pendidikan. Langkah-langkah tersebut dapat diterapkan dan dipilih guna menentukan nilai utama yang akan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah. Dari nilai utama yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh suatu pendidikan, sekolah bisa membuat tagline yang menjadi motto satuan pendidikan tersebut sehingga menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah yang dapat menguatkan Branding sekolah serta memiliki nilai jual.

Contohnya ialah “Sekolah Adiwiyata” melalui branding tersebut sekolah mengunggulkan mengenai unsur lingkungan hidup yang ditujukkan melalui kondisi sekolah yang asri, bersih dan teratur, adanya kegiatan penanaman tanaman hias yang dilakukan secara rutin, pengelolaan sampah menjadi pupuk, kegiatan piket kelas, Jumat

Gambar

Gambar 2.1 Keterpaduan Olah Hati, Olah Pikir, Olah Raga  Olah Rasa dan Karsa
Gambar 2.2 Manajemen Kelas
Gambar 2.3 Budaya Sekolah Melalui Pojok Baca
Gambar 2.4 Sosialisasi Dari Kepolisian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah kegiatan inti dari pendidikan nasional yang menggerakkan karakter peserta

Resti Puji Lestari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2019 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil survei dan kesesuaian implementasi program penguatan pendidikan

Program Penguatan Pendidikan Karakter PPK adalah gerakan pendidikan yang merupakan tanggung jawab dari satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik dalam

Kedua, bentuk penerapan program PPK berbasis kelas di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Kalasan yang dilakukan antara lain memberikan sosialisasi tentang PPK melalui kepala

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah mencakup berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, pengembangan peraturan, dan

Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dapat dilakukan melalui strategi berikut ini: (i) menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian

Faktor penghambat penguatan pendidikan karakter religius siswa berbasis budaya sekolah Faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan apel pagi dan jum’at berkah adalah 1

Al-Ahzab : 215 Implementasi pendidikan karakter yang berorientasi pada pendidikan merupakan penanaman nilai-nilai moral melalui pembelajaran di sekolah lebih ditekankan dalam kehidupan