• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Metode Penelitian

3.5.2 Teknik Analisis

Kegiatan Kesiapsiagaan Masyarakat:  Progaram Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat  Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Menanggapi Bencana  Laporan Pembentukan Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana  Rencana Strategis BPBD Kabupaten Pacitan  BPBD Kabupaten Pacitan 4. Data Kependudukan:  Jumlah Penduduk  Kepadatan penduduk  Mata Pencaharian Penduduk  Kecamatan Pacitan dalam Angka  BPS Kabupaten Pacitan Sumber: Penulis, 2016 3.5.2 Teknik Analisis

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun data yang diperoleh secara sistematis, dengan mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam arahan, memilih mana yang penting untuk dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2009). Sehingga dalam menjawab tujuan penelitian diperlukan teknik analisis yang tepat untuk mengolah data dan informasi yang telah diperoleh. Berikut ini merupakan teknik analisis dan penjabaran analisis yang digunakan berdasarkan sasaran yang dicapai sehingga dapat mencapai tujuan penelitian.

Tabel 3. 7 Tahapan Analisis dalam Penelitian

No. Sasaran Tujuan Analisis Input Data Alat Analisis Output

1. Mengidentifikasi variabel-variabel yang meningkatkan risiko bencana tsunami. Mengeksplorasi variabel-variabel yang meningkatkan risiko bencana tsunami di Kawasan Teluk Pacitan yang dihasilkan dari tinjauan pustaka dengan kondisi faktual berdasarkan presepsi Stakeholders. Variabel peningkatan risiko bencana tsunami hasil sintesa tinjauan pustaka Content Analysis Penilaian peningkatan variabel risiko bencana tsunami berdasarkan presepsi stakeholder. 2. Menganalisa tingkat manajemen risiko bencana berbasis masyarakat. Mengeksplorasi tingkat manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarkat di RW. 08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan yang dihasilkan dari tinjauan pustaka dengan kondisi faktual berdasarkan presepsi Stakeholders. Variabel tingkat manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat hasil sintesa tinjauan pustaka Content Analysis Tingkat manajemen risiko bencana tsunami yang dilakukan masyarakat RW.08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan

3. Merumuskan konsep manajemen risiko bencana berbasis masyarakat untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Menyusun konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat sesuai dengan tingkat manajemen risiko bencana tsunami serta untuk mengurangi dampak dari

variabel-variabel yang

meningkatkan risiko bencana tsunami.

Hasil dari analisis sasaran 1 dan Sasaran 2 Analisis Deskriptif Kualitatif Konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat dengan konteks pengurangan risiko bencana tsunami. Sumber: Penulis, 2016

3.5.2.1 Analisis Varabel-Variabel yang Mengingkatkan Risiko Bencana Tsunami dan Analisis Tingkat Manajemen Bencana Tsunami Berbasis Masyarakat

Content analysis merupakan analisis yang mengandalkan

kode-kode yang ditemukan dalam suatu teks perekaman data selama wawancara atau dskusi yang dilakukan dengan narasumber penelitian. Selain itu, analisis ini merupakan suatu teknik untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru dan sahih, dengan memperhatikan konteksnya (Krippendorff, 1993). Menurut Bungin (2010) content analysis memiliki tiga syarat utama yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis dan generalisasi. Alur content

analysis dapat dilihat sebagai berikut:

Sumber: Brungin, 2010

Menurut Weber (1990) dalam content analysis pengklasifikasian sejumlah kata yang terdapat dalam transkrip wawancara kedalam kategori-kategori yang lebih kecil merupakan kunci analisis ini. Untuk mengetahui faktor berpengaruh, content

analysis yang digunakan untuk menjawab hal tersebut adalah conversation analysis. Conversation analysis merupakan salah

satu jenis content analysis yang menitikberatkan kepada teks percakapan, wawancara atau diskusi. Conversation analysis ini dikerjakan yang diawal dengan melakukan wawancara dimana dalam hal ini jenis wawancara yang dapat mengeksplorasi hasil adalah wawancara semi terstruktur (in-depth interview). Dalam

Prediksi data Klasifikasi data berdasarkan kode Menemukan kode

wawancara tersebut dilakukan perekaman dengan tujuan dokumentasi sehingga dapat dianalisis lebih lanjut atau menjadi suatu konstruksi kolaboratif (Krippendroff, 2004).

Menurut Krippendorff (2004), ada 6 tahapan dalam memberikan gambaran kepada penelitian melalui content analysis yaitu:

1. Unitizing (peng-unit-an)

2. Sampling (pe-nyamling-an)

3. Recording/coding (perekaman/koding)

4. Reducing (pengurangan) data atau penyederhanaan data

5. Abductively inferring (pengambilan simpulan); bersandar kepada analisa konstruk dengan berdasar pada konteks yang dipilih 6. Narrating (penarasian) atas jawaban dari

pertanyaaan penelitian.

Unitizing, adalah upaya untuk mengambil data yang tepat

dengan kepentingan penelitian yang mencakup teks, gambar, suara, dan data-data lain yang dapat diobservasi lebih lanjut. Unit adalah keseluruhan yang dianggap istimewa dan menarik oleh peneliti yang merupakan elemen independen. Unit adalah objek penelitian yang dapat diukur dan dinilai dengan jelas, oleh karenanya harus memilah sesuai dengan pertanyaan penelitian yang telah dibuat dalam hal penelitian disini sesuai dengan transkrip wawancara dan transkrip diskusi kelompok terfokus.

Sampling, adalah cara peneliti untuk menyederhanakan

penelitian dengan membatasi observasi yang merangkum semua jenis unit yang ada. Dengan demikian terkumpulah unit-unit yang memiliki tema/karakter yang sama. Dalam pendekatan kualitatif, sampel tidak harus digambarkan dengan proyeksi statistik. Dalam pendekatan ini kutipan-kutipan serta contoh-contoh, memiliki fungsi yang sama sebagai sampel. Sampel dalam bentuk ini digunakan untuk mendukung atas pernyataan inti dari peneliti.

Recording, dalam tahap ini peneliti mencoba

menjembatani jarak (gap) antara unit yang ditemukan dengan pembacanya. Perekamaan di sini dimaksudkan bahwa unit-unit dapat dimainkan/digunakan berulang ulang tanpa harus mengubah makna. Kita mengetahui bahwa setiap rentang waktu memiliki pandangan umum yang berbeda. Oleh karenanya recording berfungsi untuk menjelaskan kepada pembaca/pengguna data untuk dihantarkan kepada situasi yang berkembang pada waktu unit itu muncul dengan menggunakan penjelasan naratif dan atau gambar pendukung. Dengan demikian penjelasan atas analisis isi haruslah tahan lama dapat bertahan disetiap waktu.

Reducing, tahap ini dibutuhkan untuk penyediaan data

yang efisien. Secara sederhana unit-unit yang disediakan dapat disandarkan dari tingkat frekuensinya. Dengan begitu hasil dari pengumpulan unit dapat tersedia lebih singkat, padat, dan jelas.

Inferring, tahap ini mencoba menganalisa data lebih jauh,

yaitu dengan mencari makna data unit-unit yang ada. Dengan begitu, tahap ini akan menjembatani antara sejumlah data deskriptif dengan pemaknaan, penyebab, mengarah, atau bahkan memprovokasi para audience/pengguna teks. Inferring, bukan hanya berarti deduktif atau induktif, namun mencoba mengungakap konteks yang ada dengan menggunakan konstruksi analitis (analitical construct). Konstuksi analitis berfungsi untuk memberikan model hubungan antara teks dan kesimpulan yang dituju. Dengan begitu, konstuksi analitis harus menggunakan bantuan teori, konsepsi yang sudah memiliki kebasahan dalam dunia akademis.

Narrating, merupakan tahan yang terakhir. Narasi

merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam narasi biasanya juga berisi informasi-informasi penting bagi pengguna penelitian agar mereka lebih paham atau lebih lanjut dapat mengambil keputusan berdasarkan hasil penelitian yang ada.

3.5.2.2 Perumusan Konsep Manajemen Risiko Bencana Tsunami Berbasis Masyarakat

Hasil dari penggalian variabel-variabel yang meningkatkan risiko ancaman tsunami dan tingkat manajemen risiko bencana berbasis masyarakat selanjutnya dirumuskan menjadi konsep manajemen risiko bencana berbasis masyarakat melalui analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif merupakan serangkaian kajian yang memberikan ulasan atau interpretasi terhadap data yang diperoleh sehingga menjadi lebih jelas dan bermakna (Cooper, 1993).

Analisis deskriptif kualitatif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat deskriptif, gambaran atau konsep secara sitematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena yang diselidiki (Cevilla, 1993). Analisis tersebut berfungsi untuk mengetahui keterkaitan antara variabel peningkatan risiko bencana tsunami dengan tingkat manajemen risiko bencana berbasis masyarakat melalui teori dan praktik yang sudah pernah dilakukan. Konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat dirumuskan melalui pembuatan kerangka teoritis konsep dari kajian teori pengurangan risiko bencana dan pedoman manajemen risiko bencana berbasis masyarakat, selanjutnya diintepretasikan antara variabel yang meningkatkan risiko bencana tsunami dengan tindakan manajerial yang dilakukan oleh masyarakat.

Setelah dibuatnya kerangka konsep teori manajemen risiko bencana berbasis masyarakat, selanjutnya dilakukan komparasi antara hasil temuan penelitian berupa variabel peningkatan risiko bencana tsunami dan tingkat manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat dengan teori yang ada. Berikutnya, perumusan konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat dilakukan berdasarkan intepretasi teori manajemen risiko bencana berbasis masyarakat pada RW.08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan.

Gambar 3. 2 Alur Analisis Deskriptif Kualitatif Sumber: Penulis, 2016

Dokumen terkait