BAB II METODE PENELITIAN
2.5. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa data kualitatif yaitu analisa terhadap data yang diperoleh dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satu-kesatuan dan kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya serta memeriksa keabsahan dan menafsirkannya dengan analisis berdasarkan kemampuan nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian.
Melalui teknik analisa data, peneliti menguji kemampuan nalar dalam menghubungkan fakta data dan informasi yang diperoleh. Dan selanjutnya akan dianalisis sehingga peneliti dapat memperoleh informasi dan kebenaran dari setiap permasalahan yang ada dalam penelitian. Menurut Miles dan Huberman, analisis terdiri dari tiga alurkegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu :
a) Reduksi data : yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabsahan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
b) Penyajian data : penyajian data yang baik adalah cara utama bagi analisia kualitatif yang valid yang meliputi : berbagai jenis matrik, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih.
c) Menarik kesimpulan : penarikan kesimpulan ini hanyalah sebagian dari satu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Bahkan sekarang ini Indonesia masih disebut negara berkembang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengangguran yang ada di Indonesia dan tingkat kemakmuran rakyat yang masih kurang. Untuk mengatasi hal tersebut maka Indonesia membutuhkan orang-orang yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Penciptaan lapangan pekerjaan ini biasanya dengan cara membuka usaha industri. Industri yang dibuat tidak harus dalam skala yang besar, tapi bisa dalam skala kecil ataupun menengah. Sekarang ini Usaha Kecil dan Menengah biasanya lebih diminati karena tidak memerlukan modal yang besar dan belum banyak pesaingnya. Selain itu didalam menjalankan usahanya Usaha Kecil dan Menengah lebih mudah dan sederhana.
Usaha Kecil dan Menengah merupakan salah satu penopang perekonomian bangsa. Usaha Kecil dan Menengah adalah salah satu sumber penghasilan Negara melalui pajak yang dibayar. Tidak hanya untuk Negara, Usaha Kecil dan Menengah juga berperan untuk mengurangi pengangguran. Selain itu juga untuk meningkatkan penghasilan masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat bertambah.
Sekarang ini di Kota Medan juga sudah terdapat Usaha Kecil dan Menengah. Dengan semakin banyaknya Usaha Kecil dan Menengah yang ada di Kota Medan ini maka Pemerintah Kota bisa terbantu dalam mengatasi pengangguran yang ada di Kota Medan. Tapi dalam menjalankan usahanya para pelaku Usaha Kecil dan Menengah masih memiliki beberapa hambatan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menyebutkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Selain itu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan dan pengembangan seluasluasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat, tanpa mengabaikan peranan Usaha Besar dan Badan Usaha Milik Negara. Hambatan yang dihadapi Usaha Kecil dan Menengah di Kota Medan dari mulai adanya usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumber alam dan daya produksi lainnya yang dapat menjadi penghambat perkembangan Usaha Kecil dan Menengah di Kota Medan yang mengakibatkan terpuruknya perkembangan Usaha Kecil dan Menengah wilayah Kota Medan khususnya Kecamatan Medan Tembung.
Untuk mengatasi beberapa hambatan yang dialami Usaha Kecil dan Menengah diatas maka diperlukan peranan dari pemerintah. Dalam hal ini yang paling berperan adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG)
sebagai salah satu pendorong Usaha Kecil dan Menengah untuk lebih maju dan berkembang.
Peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) dalam kehidupan sebagaimana yang telah diketahui sebagai penyerap tenaga kerja, penghasil barang dengan tingkat harga yang terjangkau bagi kebutuhan masyarakat dan penghasil devisa negara yang potensial. Dengan Usaha Kecil dan Menengah yang kuat maka struktur ekonomi akan menjadi kokoh, yang berperan besar dalam peningkatan ekspor dan pengendalian impor, serta tumbuh dan berkembang pada basis kemampuan diri sendiri. Usaha Kecil dan Menengah memiliki peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional terutama untuk penciptaan lapangan usaha dan lapangan kerja.
Perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada dalam masyarakat tidak terlepas adanya peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) sebagai lembaga pengawas sekaligus sebagai lembaga yang memfasilitasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Berdasarkan hal yang telah diuraikan tersebut maka peneliti merumuskan judul penelitian “PERANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (DISPERINDAG) DALAM MEMBERDAYAKAN USAHA KECIL DAN MENEGAH DI KECAMATAN MEDAN TEMBUNG”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah di kemukakan pada latar belakang masalah diatas maka peneliti membuat rumusan masalah “Bagaimana Peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah di Kecamatan Medan Tembung?
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk dapat mengetahui Peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kecamatan Medan Tembung dan dan juga untuk mengetahui hambatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kecamatan Medan Tembung.
1.4. Manfaat penelitian
1. Bagi peneliti :
a. Untuk memperoleh tambahan ilmu pengetahuan di bidang Usaha Kecil dan Menengah.
b. Mendapatkan pengalaman tambahan sehingga dapat membandingkan teori yang didapat di bangku perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi di dunia kerja.
2. Bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan ( DISPERINDAG)
Sebagai masukan kebijaksanaan pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di kota Medan, Kecamatan Medan Tembung.
3. Bagi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah
Sebagai informasi sekaligus sosialisasi dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang baru melalui Usaha Kecil dan Menengah.
4. Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut dalam masalah yang sama, sehingga dapat melakukan penelitian yang lebih baik lagi.
1.5. Kerangka Teori
1.5.1. Peranan
Menurut Soerjono Soekanto (2003:243), Peranan adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Setiap orang memiliki macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidup. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang di perbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang akan diberikan oleh masyarakat dalam menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup 3 hal yaiti :
1. Peranan meliputi nrma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat.
2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan leh individu dalam masyarakat dalam organisasi
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai pelaku yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Sedangkan menurut Nasution (1994) menyatakan bahwa peranan adalah mencakup kewajiban hak yang bertalian kedudukan. Peranan adalah suatu aspek dinamika berupa pola tindakan baik yang abstrak maupun yang kongkrit dan setiap status yang ada dalam organisasi.
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa peranan adalah suatu tindakan atau perbuatan seseorang dalam suatu pekerjaan atau kedudukan, dan apabila seseorang tersebut telah melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan pekerjaan atau kedudukannya maka dapat dikatakan bahwa oorang tersebut telah menjalankan peranannya dengan baik.
1.5.2. Peranan Pemerintah Daerah
Peranan pemerintah disini yang akan diterapkan dalam upaya pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menurut Sjaifudin (1995:66-75) adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan Kemampuan Finansial 2. Pengembangan Pemasaran.
Dalam hal ini terdapat tiga cara strategi pemberdayaan pemasaran, yaitu: a. Meningkatkan akses usaha kecil kepada pasar
b. Proteksi pasar
c. Menggeser struktur pasar monopoli menjadi persaingan 3. Pengembangan Sumber Daya Manusia
4. Strategi Pengaturan dan Pengendalian a. Pengaturan dan Perijinan
b. Perencanaan Tata Ruang c. Fungsi Kelembagaan
1.5.3. Dinas Perindustrian dan Pedagangan
Dinas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bagian kantor pemerintah yang mengurus pekerjaan tertentu atau jawatan. Dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam bidang perindustrian dan perdagangan yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.
Tugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah melaksanakan urusan Pemerintahan Daerah di bidang Perindustrian dan Perdagangan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Visi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan adalah Kota Medan sebagai Kota Metropolitan yang berdaya saing dengan iklim investasi yang menarik dan kondusif. Sedangkan Misi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan daya tarik investasi di Kota Medan 2. Meningkatkan realisasi investasi di Kota Medan
3. Menciptakan iklim investasi yang menarik dan kondusif
Adapun fungsi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah sebagai berikut :
1. Perumusan kebijakan teknis di Bidang Perindustrian dan Perdagangan 2. Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan dan Pelayanan Umum di
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di Bidang Perindustrian dan Perdagangan
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya
1.5.4. Pemberdayaan
1.5.4.1. Pengertian Pemberdayaan
Pemberdayaan berasal dari penerjemahan bahasa Inggris “empowerment” yang juga dapat bermakna “pemberian kekuasaan” karena power bukan sekedar “daya”, tetapi juga “kekuasaan”, sehingga kata “daya” tidak saja bermakna “mampu”, tetapi juga “mempunyai kuasa”.Menurut Wrihatnolo dan Dwidjodwijoto (2007:1), Pemberdayaan adalah sebuah Proses menjadi bukan sebuah proses instan. Namun yang dikutip oleh Jusuf irianto (1996) menurut Swift dan Levin (1987) cenderung mengartikan empowerment sebagai pengalokasian ulang mengenai kekuasaan (realocation of power). Sedangkan Rappaport (1984) yang dikutip oleh Ginanjar (1996) mengartikan empowerment sebagai suatu cara dimana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar dapat berkuasa atas kehidupannya.Payne, mengatakan sebagai berikut :
“to help clients gain power of decision and action over their own lives by reducing the effect of sosial or personal blocks to exercising cacity and self-confidence to use power and by transferring power from the environtment to clients.”
Artinya bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat adalah untuk membantu masyarakat memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan
tindakan yang akan mereka lakukan yang terkait dengan diri mereka sendiri, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi sosial dalam melakukan tindakan.Sementara itu menurut Chambers, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan.
1.5.4.2.Proses Pemberdayaan
Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sisi keberadaanya sebagai suatu program ataupun sebagai suatu proses. Pemberdayaan sebagai suatu proses dapat dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan yang biasanya telah ditentukan jangka waktunya. Sebagai suatu proses pemberdayaan merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang hidup seseorang (on going process). Menurut Hogan, proses pemberdayaan individu sebagai suatu proses yang realtive terus berjalan sepanjang usia manusia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja. Hogan menggambarkan proses pemberdayan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri dari lima tahapan utama yaitu: 1. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan (recall
depowering atau empowering experience).
2. Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan penidakberdayaan(discuss reasons for depowerment/empowerment).
3. Mengidentifikasikan suatu masalah ataupun proyek (identify one problem
4. Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna untuk melakukan perubahan (identify useful power bases).
5. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementaiskannya (develop and implement action plans).
Dalam melaksanakan pemberdayaan terhadap masyarakat ini, tentunya tidak terlepas dari peran pelaku pemberdayaan, baik oleh pemerintah maupun nonpemrintah. Pelaku pemberdayaan ini nantinya yang akan bekerja sebagai
community worker ataupun enabler. Jadi dalam hal ini, proses pemberdayaan di
tujukan guna memperoleh daya untuk menumbuhkan kemandirian melalui sumber daya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dengan merumuskan suatu program yang di dahulukan pelaksanaannya untuk membangun dan membentuk masyarakat yang mandiri.
1.5.5.Pengertian Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Pengertian industri kecil di indonesia pada umumnya memiliki banyak pengertian. Berbagai lembaga pemerintah menggunakan definisi industri kecil yang berbeda-beda. Definisi yang paling sering digunakan adalah definisi dari BPS (Badan Pusat Statistik) yang menggunakan jumlah pekerja sebagai kriteria untuk membedakan antara berbagai kategori industri. Menurut definis BPS, suatu industri dapat digolongkan sebagai industri kecil diukur dengan menggunakan ukuran jumlah tenaga kerja yaitu sebanyak 5-19 orang. Ukuran ini sama dengan kriteria dari John Naibitt yang dikutip oleh Jusuf irianto (1996:13), menyebutkan bahwa suatu industri dikatakan kecil apabila karyawannya berjumlah dibawah 20 orang.
Sedangkan untuk industri rumah tangga, BPS menetapkan jumlah pekerjanya tidak lebih dari 5 orang. Menurut UU No. 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil adalah sebagai berikut : Pertama, memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Kedua, memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 Milyar. Ketiga, milik Warga Negara Indonesia. Keempat, berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar. Kelima, berbentuk badan usaha orang perseorangan, tidak berbadan hukum, atau berbadan hukum, termasuk koperasi. Industri kecil adalah badan usaha yang menjalankan proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala kecil. Apabila dilihat dari sifat dan bentuknya, maka industri kecil bercirikan :
1. Berbasis pada sumber daya lokal sehingga dapat memanfaatkan potensi secara maksimal dan memperkuat kemandirian.
2. Dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat lokal sehingga mampu mengembangkan sumber daya manusia.
3. Menerapkan teknologi lokal (indigenous technology) sehingga dapat dilaksanakan dan dikembangkan oleh tenaga lokal.
4. Tersebar dalam jumlah yang banyak sehingga merupakan alat pemerataan pembangunan yang efektif.
Menurut hasil studi Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menunjukkan bahwa di Indonesia kriteria Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sangat berbeda-beda, tergantung pada fokus permasalahan yang dituju dan
instansi yang berkaitan dengan sektor ini. Secara umum sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standar. Kadangkala pembukuan tidak up
to date, sehingga sulit untuk menilai kinerja usahanya;
2. Margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi;
3. Modal terbatas:
4. Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas;
5. Skala ekonomi yang terlalu kecil, sehingga sulit mengharapkan untuk mampu menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang;
6. Kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversifikasi pasar sangat terbatas;
7. Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal rendah, mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya. Untuk mendapatkan dana di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikuti sistem administrasi standar dan harus transparan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dalam memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahuan seperti kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-undang. Usaha kecil yang dimaksud disini meliputi juga usaha kecil informal dan usaha kecil tradisional.
belum tercatat, dan belum berbadan hukum seperti antara lain petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima, dan pemulung. Sedangkan usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun-temurun, dan berkaitan dengan seni dan budaya.
Tulus (2000) mengatakan walaupun usaha kecil menengah digolongkan pada suatu usaha yang berskala kecil, tapi sektor usaha kecil dan menengah merupakan suatu jenis usaha yang mampu memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto sebesar 56%. Selain itu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga merupakan suatu sektor usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. 1.5.6. Jenis kegiatan Usaha Kecil dan Menengah
Dikutip dari Jusuf Irianto (1996:13), Steinhoff (1978) mengidentifikasikan sedikitnya ada lima bidang kegiatan industri kecil yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pabrik (Manufacturing).
Industri kecil dengan bidang kegiatan pabrik. Industri ini umumnya menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh konsumen misalnya cangkul yang dimanfaatkan oleh petani, alat-alat pertukangan kayu, industri kerajinan, dan sebagainya. Selain itu mereka juga mendukung kegiatan industri besar dengan membuat produk yang dapat dimanfaatkan untuk melengkapi hasil produksi industri besar, misalnya komponen-komponen untuk sepeda, kendaraan bermotor atau mobil dan sebagainya.
2. Pertambangan (Minning)
Pertambangan yang dimaksud dalam industri kecil bukan jenis pertambangan berat seperti pertamina, melainkan industri kecil yang memanfaatkan bahan-bahan mentah yang berasal dari perut bumi (the bowls of
earth) untuk dijual langsung kepada konsumen sebagai kegiatan utamanya atau
dijual ke perusahaan besar yang akan mengolah kembali hasil produksinya, misalnya para penambang garam dan penambang pasir.
3. Perkulakan Grosir (Wholeselling)
Pengusaha kecil yang bergerak di bidang perkulakan ini biasanya disebut sebagai pedagang perantara, meraka berada di antara pengusaha industri besar yang memproduksi barang dengan pengusaha kecil yang menjual secara eceran produk pengusaha besar. Peranan pedagang grosir sangat penting sebagai saluran utama distribusi hasil produksi kepada konsumen, karena dapat mengurangi biaya distribusi barang (the cost distirbution are gratly reduced).
4. Pedagang Eceran (Retailing)
Bidang kegiatan ini merupakan presentase terbesar dari semua industri kecil. Mereka dapat dijumpai pada setiap perdagangan berbagai macam barang dan jasa sebagaimana yang ada di bayangan, pengusaha eceran membeli barang dagangannya dari pedagang perantara (wholesalers), pemborong (jobbers) atau para penyalur utama (main distributors). Pedagang eceran tersebar dimana-mana dan dapat dijangkau oleh konsumen dimanapun berada.
5. Jasa Pelayanan (Service)
Karakteristik utama dari perusahan jasa pelayanan adalah tidak menghasilkan barang yang dikonsumsi, namun memberi pelayanan yang sifatnya non material dan tentunya menerima imbalan dari si pemakai jasa pelayanan dalam kaitannya dengan industri pelayanan jasa (service industries). Broom dan Longenecker (1979) yang dikutip oleh Jusuf Irianto (1996:15) mengkalsifikasikan industri pelayanan jasa dalam bentuk 5 kegiatan sebagai berikut :
a) Jasa Pelayanan Usaha (Business Service)
b) Jasa Pelayanan Pada Perorangan (Personal Service) c) Jasa Pelayanan Reparasi (Repair Service)
d) Hiburan dan Dekorasi (Entertainment and Recreation Service) e) Hotel dan Motel
1.5.7. Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah
Dalam peraturan pemerintah nomor 20 tahun 2005 ditetapkan kewenangan pemerintah di bidang perkoperasian bertujuan untuk memfasilitasi sistem distribusi bagi pengusaha kecil dan menengah serta memfasilitasi kerjasama bagi pengusaha kecil dengan badan usaha lain. Dilihat dari pengertian pemberdayaan, maka pemberdayaan Usaha kecil dan Menengah (UKM) adalah upaya untuk meningkatkan produktivitas potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh Usaha kecil dan Menengah (UKM) itu sendiri.
Jadi pendekatan pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) titik beratnya adalah penekanan pada pentingya Usaha kecil dan menengah (UKM) yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri.
1.5.7.1. Pemberdayaan Melalui Kemitraan
Dalam upaya mewujudkan pembangunan nasional dan daerah yang tangguh, tantangan yang dihadapi semakin berat. Sistem ekonomi yang sangat terbuka menyebabkan persaingan bukan saja datang dari sektor domestik tapi datang juga dari sektor luar negeri. Oleh karena itu berbagai komponen perlu bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu strategi ke arah itu adalah pengembangan kemitraan. Tentu kondisi ini baru terwujud jika diantara pelaku usaha tercipta rasa saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.
Ada beberapa konsep yang sering dipakai dalam kaitan dengan kemitraan. Dalam bahasa Inggris sering dipakai istilah partnerships, business networking, dan strategic alliances. Istilah apa pun yang dipakai sebenarnya merujuk pada pengertian yang sama tentang kemitraan. Pada intinya kemitraan dimaknai sebagai dua institusi bisnis atau lebih bergabung menyatukan keunggulan masing masing untuk memperoleh hasil yang maksimal. Tentu ada beberapa alasan untuk menggalang kemitraan seperti yang diungkapkan Prawirokusumo (1999) :
1. Meningkatkan keuntungan atau penjualan pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan
2. Mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang pasar 3. Meningkatkan jumlah pelanggan atau pemasok baru 4. Membantu peningkatan pengembangan produk 5. Memperbaiki proses produksi
7. Meningkatkan akses terhadap teknologi
Sebenarnya kemitraan antar pelaku usaha bukan hal yang baru sehingga mustahil untuk dilaksanakan di daerah. Negara maju seperti Amerika dan Kanada juga mendorong kemitraan antar pengusaha di semua lini usaha. Di Indonesia untuk industri tertentu sudah terjadi kemitraan yang saling menguntungkan.
Pengembangan kemitraan usaha ini dipandang strategis dan perlu terus dikembangkan mengingat peran penting Usaha Kecil dan Menengah (UKM) selain merupakan wahana utama dalam penyerapan tenaga kerja, juga mampu menggerakkan roda ekonomi serta pelayanan masyarakat. Hal ini dimungkinkan mengingat ciri-ciri Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang tahanan terhadap krisis ekonomi. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai ketergantungan rendah terhadap pendanaan sektor perbankan, serta tersebar di seluruh pelosok nusantara sehingga merupakan jalur distribusi yang efektif untuk menjangkau sebagian besar rakyat.
Untuk mempercepat pelaksanaan kemitraan usaha dan meningkatkan mutu kemitraan, peranan Pemerintah Daerah sangat penting di sini. Pemerintah Daerah