• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4. METODOLOGI

2.4.4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode ini merupakan pencatatan yang disertai angka-angka yang merupakan nilai dan dapat memberikan gambaran yang objektif dari masalah yang dianalisis. Gambaran data akan dilihat berdasarkan distribusi frekuensi, minimum, maksimum, dan mean (rata-rata) data.

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala likert 1-4, lalu diolah untuk menghasilkan angka indeks dengan rumus :

Indeks Persepsi = π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘π‘ π‘– π‘ƒπ‘’π‘Ÿ π‘ˆπ‘›π‘ π‘’π‘Ÿ

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘ˆπ‘›π‘ π‘’π‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘–π‘ π‘–

x

bobot nilai rata-rata tertimbang Dimana bobot nilai rata-rata tertimbang = 1

π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ˆπ‘›π‘ π‘’π‘Ÿ

Untuk mengukur Kepuasan Pelanggan, hasil penilaian diatas perlu dikonversi dengan nilai konversi 25 untuk menyesuaikan standar dalam Permenpan Nomor 14 tahun 2017, yang menggunakan skala 100.

Sehingga batasan yang digunakan adalah:

Pilihan

Jawaban Nilai Nilai Interval Nilai Konversi Kinerja a. 1 1,00 – 2,5996 25,00 – 64,99 Tidak Memuaskan b. 2 2,60 – 3,064 65,00 – 76,60 Kurang Memuaskan c. 3 3,0644 – 3,532 76,61 – 88,30 Memuaskan

d. 4 3,5324 - 4,00 88,31 – 100,00 Sangat Memuaskan

Laporan Akhir - 12

BAB III : HASIL SURVEI

3.1. GAMBARAN UMUM PELAYANAN DI INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Kesehatan merupakan Unit Eselon I yang dibentuk berdasarkan Keputusan presiden Nomor 01 tahun 1971 tentang Pembentukan Inspektorat Jenderal Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Departemen Agama dan Departemen Tenaga Kerja. Keputusan Presiden tersebut dilaksanakan dengan Keputusan Men.Kes No.46/Kab/ B.VII/1971 tanggal 2 Maret 1971 tentang pembentukan Inspektorat Jenderal Depkes dengan tugas pokok sebagai pembantu Menteri di bidang pengawasan. Program Pengawasan Inspektorat Jenderal Depkes baru berjalan secara intensif sejak berfungsinya Itjen Depkes pada akhir Pelita I tepatnya tanggal 3 Desember 1973 ditandai dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Irjen Depkes yang pertama Dr.Brotoseno ke Provinsi DI Yogya.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Itjen dipimpin oleh seorang Inspektur Jenderal yang dibantu oleh Sekretaris, dan empat orang Inspektur I-IV, serta Inspektur Bidang Investigasi.

Masing-masing inspektur dan Sekretaris dibantu oleh seorang Kasubbag Administrasi Umum,, Auditor Utama, dan beberapa orang Auditor Madya.

Secara umum Inspektorat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan Pengawasan Intern di Kementerian Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:

a. Penyusunan kebijakan teknis pengawasan Intern di lingkungan Kementerian Kesehatan b. Pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Kesehatan terhadap kinerja

dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya.

c. Pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan Menteri.

d. Penyusunan laporan hasil pengawasan di lingkungan Kementerian Kesehatan.

e. Pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal.

f. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

Berdasarkan Permenkes Nomor 6 tahun 2015 tentang kebijakan pengawasan Itjen Kemenkes, layanan yang dijalankan oleh Itjen antara lain meliputi:

1. Layanan quality assurance, meliputi berbagai kegiatan Audit, Reviu, Pemantauan dan Evaluasi, serta pembinaan, dengan tujuan untuk menerapkan sistem kendali mutu yang dimulai sejak tahap perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan pengawasan.

2. Layanan Konsultansi, meliputi berbagai kegiatan Pendampingan/Konsultansi dengan tujuan untuk memberikan arah/petunjuk kepada suatu masalah agar pelaksanaan kebijakan/program/kegiatan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Layanan Katalisator, untuk mendorong/memacu terjadinya perubahan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, yang tercermin dari berbagai program seperti:

Manajemen risiko dalam kerangka SPIP, Pengendalian Gratifikasi, Pengelolaan LHKPN dan LHKASN, Pengaduan Masyarakat Terpadu dan Whistle Blowing System, serta Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM.

Obyek pengawasan meliputi seluruh Satuan Kerja (Satker) di lingkungan Kementerian Kesehatan, yang jumlahnya menurut DIPA 2020 sebanyak 420 Satker, mencakup:

a. Satker Pusat, berjumlah 49 Satker

b. Satker UPT Vertikal, berjumlah 167 Satker c. Satker Dekonsentrasi, berjumlah 204 Satker

Laporan Akhir - 13 Untuk mengetahui seberapa baik persepsi dan kepuasan Satker atas layanan pengawasan yang diberikan selama ini akan diuraikan dalam hasil-hasil survei berikutnya.

3.2. PROFIL RESPONDEN

Data kuesioner yang masuk adalah sebanyak 914 Responden (70%) yang berasal dari ke-empat Satker binaan. Data tersebut telah diperiksa kelengkapan dan kecukupannya serta diolah dalam tabel tabulasi. Profil responden secara berturut-turut dapat disajikan secara grafis sebagai berikut

Gambar 2. Persentase Responden Berdasarkan Jabatan

Gambar 3. Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

15,07%

0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00%

Bag. Keuangan, Bendahara

0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00%

Bag. Keuangan, Bendahara

Laporan Akhir - 14 Gambar 4. Persentase Responden Berdasarkan Pendidikan

Dari gambar diatas terlihat bahwa Responden yang mengisi kuesioner didominasi oleh wanita, dengan tingkat pendidikan Strata 1 (S1). Sementara dari aspek Jabatan, Responden didominasi oleh Pokja WBK, Bagian Keuangan dan Bendahara, serta Pejabat Pengadaan dan PPK.

3.3. PERSEPSI ATAS PERAN INSPEKTORAT

Persepsi atas peran Inspektorat mencakup persepsi terhadap peran assurance dan consulting secara umum yang diuraikan sebagai berikut.

3.3.1. Persepsi atas Peran Assurance

Persepsi responden di seluruh Satker Binaan atas layanan assurance yang meliputi kegiatan Audit/Reviu/Evaluasi terangkum dalam tabel berikut.

2,17%

0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00%100,00%

Bag. Keuangan, Bendahara

STRATA 3/S3 STRATA 2/S2 STRATA 1/S1 DIPLOMA SLTA

Laporan Akhir - 15 Tabel 5. Indeks Persepsi Layanan Assurance

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI 1. Independensi dan Obyektivitas 3,3357 Baik

Kejelasan tujuan dan batasan penugasan saat entry meeting

3,1325 Jelas Independensi Tim Itjen saat bertugas 3,1341 Independen Adanya permintaan Tim Itjen dalam bentuk uang,

barang, jasa atau fasilitas tertentu

3,9553 Tidak Pernah Penulisan temuan di dalam Laporan Hasil

Pengawasan menggambarkan fakta sebenarnya

3,1209 Menggambarkan

2. Kecakapan 3,1010 Baik

Pemahaman Tim Itjen atas proses tata kelola di Satker Klien

3,0811 Paham Kemampuan persuasif Tim Itjen saat

menyampaikan permintaan data

3,1209 Meyakinkan 3. Kecermatan Profesional (Due Professional Care) 3,2285 Baik

Kedetilan materi pertanyaan yang diajukan Tim Itjen saat pemeriksaan

3,2285 Detil

4. Kualitas Komunikasi 3,2264 Baik

Ketepatan waktu penyampaian laporan hasil pengawasan

3,4106 Tepat Waktu Kesesuaian informasi yang disajikan dalam

laporan hasil pemeriksaan dengan subyek pemeriksaan

3,1755 Sesuai

Kesesuaian kesimpulan dalam laporan pengawasan dengan upaya perbaikan sesuai kebutuhan Satker

3,1937 Sesuai

Kemudahan pemahaman atas laporan hasil pengawasan

3,1258 Mudah

5. Koordinasi 3,1507 Baik

Waktu pelaksanaan pemeriksaan bersamaan dengan Aparat Pengawasan dari instansi lain

3,1507 Jarang 6. Pelaksanaan Sistem Daring 2,6093 Kurang Baik

Efektivitas Pemeriksaan dengan Sistem Daring 2,6093 Kurang Efektif 7. Komunikasi Tindak Lanjut Laporan Hasil

Pengawasan

3,0259 Kurang Baik

Kejelasan komunikasi atas materi dan jadwal penyelesaian tindak lanjut laporan hasil pengawasan

3,0745 Jelas

Pemahaman Klien atas tata cara menindaklanjuti laporan hasil pengawasan

2,9851 Kurang Paham Pemahaman Klien tentang kelengkapan

dokumen tindaklanjut laporan hasil pengawasan

3,0182 Kurang Paham 8. Pemantauan Tindak Lanjut Laporan Hasil

Pengawasan

2,9283 Kurang Baik

Intensitas pemantauan tindak lanjut laporan hasil pengawasan oleh Tim Itjen

3,2334 Sering

Laporan Akhir - 16

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI Keberadaan Unit atau Tim Khusus dalam Satker

yang mendorong upaya penyelesaian tindak lanjut laporan hasil pengawasan

2,9123 Sedang Dibangun Efektivitas pelaksanaan tindak lanjut laporan

hasil pengawasan dengan sistem Daring

2,6391 Kurang Efektif

INDEKS PERSEPSI 3,0757 BAIK

Dari tabel diatas terlihat bahwa secara umum responden menganggap bahwa kualitas pelayanan assurance dalam bentuk kegiatan Audit, Reviu, ataupun Evaluasi sudah cukup β€œbaik”, dengan nilai indeks sebesar 3,0757. Namun demikian, terdapat beberapa indikator yang masih perlu dioptimalkan mengingat nilainya berada dibawah 3,0640, yakni:

1. Efektivitas Pemeriksaan dengan Sistem Daring

2. Pemahaman Klien atas tata cara menindaklanjuti laporan hasil pengawasan

3. Pemahaman Klien tentang kelengkapan dokumen tindaklanjut laporan hasil pengawasan 4. Keberadaan Unit atau Tim Khusus dalam Satker Klien yang mendorong upaya penyelesaian

tindak lanjut laporan hasil pengawasan

5. Efektivitas pelaksanaan tindak lanjut laporan hasil pengawasan dengan sistem Daring

3.3.2. Persepsi atas Peran Consulting

Persepsi responden di seluruh Satker Binaan atas layanan consulting yang meliputi kegiatan Pendampingan, Konsultasi, Koordinasi, Supervisi, terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 6. Indeks Persepsi Layanan Consulting

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI

1. Materi 3,1060 Baik

Kesesuaian materi yang disajikan dengan tugas, fungsi, dan kebutuhan Klien

3,1060 Sesuai

2. Waktu 3,2312 Baik

Koordinasi jadwal kegiatan dengan Klien 3,3063 Sering Kecukupan waktu untuk sesi tanya jawab 3,1142 Cukup Kesesuaian durasi kegiatan dengan jadwal yang

ditetapkan

3,2732 Sesuai

3. Kompetensi 3,1349 Baik

Pemahaman Tim Itjen terhadap proses tata kelola di Satker Klien

3,0613 Kurang Paham Kemudahan materi untuk dimengerti oleh Klien 3,0430 Kurang

Mudah Kemampuan Tim Itjen dalam membangun

keakraban dengan Klien

3,0745 Mampu Intensitas konsultasi yang memberikan Klien

keleluasaan untuk bertanya terkait materi

3,3609 Sering

4. Pelaksanaan Sistem Daring 2,7219 Kurang Baik

Efektivitas Konsultasi dengan Sistem Daring 2,7219 Kurang Efektif

INDEKS PERSEPSI 3,0485 KURANG BAIK

Laporan Akhir - 17 Dari tabel diatas terlihat bahwa secara umum responden menganggap bahwa kualitas pelayanan consulting dalam bentuk kegiatan sosialisasi, pendampingan, konsultasi, koordinasi, ataupun supervisi, masih β€œkurang baik”, dengan nilai indeks sebesar 3,0485. Beberapa indikator yang memberi kontribusi atas penilaian tersebut adalah:

1. Pemahaman Tim Itjen terhadap proses tata kelola Satker 2. Kemudahan materi untuk dimengerti oleh Klien

3. Efektivitas pelaksanaan konsultasi dengan sistem Daring

3.3.3. Persepsi terhadap Implementasi Program Pencegahan Korupsi

Persepsi responden di seluruh Satker Binaan atas pelaksanaan program Pencegahan Korupsi, terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 7. Indeks Persepsi Program Pencegahan Korupsi

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI 1. Manajemen Risiko dalam Kerangka SPIP 3,0511 Baik

Pemahaman Klien atas aturan dan prosedur manajemen risiko

2,9058 Kurang Paham Keberadaan Unit atau Tim Khusus pengelola

manajemen risiko di Satker Klien

3,0515 Sedang dibentuk Kesadaran Klien atas pengelolaan risiko sebagai cara

yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi

3,1961 Setuju

2. Pengendalian Gratifikasi 3,2384 Baik

Pemahaman klien atas aturan dan prosedur pengendalian Gratifikasi di lingkungan kerjanya

3,0690 Paham Keberadaan Unit atau Tim Khusus yang mendorong

pelaksanaan pengendalian Gratifikasi di Satker Klien

3,3308 Sudah Ada namun belum memiliki SOP Kesadaran Klien atas pentingnya program

pengendalian Gratifikasi dalam mencegah korupsi di lingkungan kerjanya

3,3154 Setuju

3. Pengelolaan LHKPN dan LHKASN 3,2634 Baik Pemahaman klien atas aturan dan prosedur

penyampaian LHKPN/LHKASN

3,2004 Paham Intensitas penyampaian LHKPN/LHKASN secara

tepat waktu

3,6627 Selalu Keberadaan ada unit atau Tim Khusus yang

mendorong penyampaian LHKPN/LHKASN di Satker Klien

2,9540 Sedang dibentuk Kesadaran Klien atas pentingnya Penyampaian

LHKPN/LHKASN secara berkala untuk pencegahan Korupsi di lingkungan kerjanya

3,2366 Setuju

4. Program Whistle Blowing System dan Pengaduan Masyarakat Terpadu

3,0046 Kurang Baik Pengetahuan Klien atas keberadaan Whistleblowing

System di Website Inspektorat KEMKES sebagai sarana pengaduan dugaan korupsi

2,9025 Kurang Tahu

Pengetahuan Klien atas jaminan kerahasiaan pengaduan dalam Whistleblowing System

2,8981 Kurang Tahu

Laporan Akhir - 18

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI Kesadaran Klien atas pentingnya Whistleblowing

System sebagai salah satu cara yang efektif untuk menanggulangi korupsi di lingkungan kerjanya

3,1566 Setuju

Pengetahuan Klien atas keberadaan sistem Pengaduan Masyarakat Terpadu (Dumasdu) Kemenkes

2,7831 Kurang Tahu

Keberadaan unit atau Tim Khusus di Satker Klien yang mendorong penyelesaian pengaduan masyarakat yang terkait dengan Satkernya

3,0997 Sudah Ada namun belum memiliki SOP Kesadaran Klien atas penerapan Pengaduan

Masyarakat Terpadu dalam memaksimalkan pelayanan di lingkungan Kementerian Kesehatan

3,1873 Setuju

5. Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM 3,3664 Baik Pengetahuan Klien atas keberadaan program Satker

Bebas dari Korupsi (WBK) dan Satker Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di Kementerian Kesehatan

3,1796 Tahu

Jumlah partisipasi Pernyataan Komitmen dan Penandatanganan Pakta Integritas di Satker Klien

3,5915 Semua Pihak Keberadaan Unit Khusus pengelola program Wilayah

Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) di Satker Klien

3,3538 Sudah Ada namun belum memiliki SOP Kesetujuan/Kesadaran Klien atas penerapan WBK

dan WBBM dalam pencegahan korupsi

3,3406 Setuju

INDEKS PERSEPSI 3,1848 BAIK

Dari tabel diatas terlihat bahwa secara umum responden menganggap bahwa pelaksanaan program pencegahan korupsi di Kementerian Kesehatan yang meliputi: Manajemen Risiko, Pengendalian Gratifikasi, Pengelolaan LHKPN dan LHKASN, Program Whistle Blowing System dan Pengaduan Masyarakat Terpadu, dan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM sudah cukup β€œBaik”, dengan nilai indeks sebesar 3,1848. Namun demikian, terdapat beberapa indikator yang masih perlu dioptimalkan mengingat nilainya berada dibawah 3,0640, yakni:

1. Pemahaman Klien terkait dengan aturan dan prosedur manajemen risiko

2. Keberadaan Unit atau Tim Khusus dalam mendorong penerapan manajemen risiko dan penyampaian LHKPN/LHKASN di Satker Klien

3. Pengetahuan Klien atas keberadaan Whistleblowing System di Website Inspektorat KEMKES sebagai sarana pengaduan dugaan korupsi

4. Pengetahuan Klien atas jaminan kerahasiaan pengaduan dalam Whistleblowing System 5. Pengetahuan Klien atas keberadaan sistem Pengaduan Masyarakat Terpadu (Dumasdu)

Kemenkes

3.4. KEPUASAN ATAS KUALITAS PELAYANAN INSPEKTORAT

Untuk mengetahui tingkat kepuasan Klien atas layanan pengawasan yang telah diberikan oleh Inspektorat Jenderal dapat diuraikan sebagai berikut:

Laporan Akhir - 19 3.4.1. Indeks Kepuasaan atas Layanan Assurance

Kepuasan responden di seluruh Satker Binaan atas pelaksanaan layanan assurance, terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 8. Indeks Kepuasan Layanan Assurance

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI

1. Prosedur 3,3071 Mudah

Penerapan prosedur pemeriksaan yang menyulitkan Klien

3,7103 Sangat Mudah Kemudahan tindak lanjut rekomendasi/saran yang

diberikan

2,9040 Kurang Mudah

2. Waktu 3,0960 Sesuai

Kesesuaian pelaksananaan pemeriksaan dengan jadwal yang ditetapkan

3,0960 Sesuai

3. Spesifikasi Layanan 3,1209 Memadai

Kesesuaian kesimpulan hasil pemeriksaan dengan argumentasi dan bukti pendukung

3,1076 Sesuai Akurasi penyajian Laporan Hasil Pemeriksaan 3,1060 Akurat Kemampuan hasil pemeriksaan untuk mendorong

perbaikan/ pembenahan sistem di Satker Klien

3,1490 Mampu

4. Kompetensi 3,0927 Kompeten

Kecukupan pengetahuan Tim Itjen tentang proses bisnis, tugas dan fungsi Satker Klien

3,0927 Cukup

5. Perilaku 3,2409 Baik

Sikap sopan Tim Itjen saat penugasan 3,3278 Sopan Kepedulian Tim Itjen terhadap keluhan Satker 3,1540 Peduli 6. Penanganan Pengaduan dan Saran 3,0497 Tidak Efektif

Efektivitas penerimaan aduan dan tindaklanjutnya terhadap subyek pengaduan yang disampaikan

3,0497 Tidak Efektif

7. Sarana, Alat Bantu 2,6523 Kurang

Memadai Penggunaan alat bantu visual yang menarik saat

pemaparan materi

2,6523 Jarang

INDEKS KEPUASAN 76,9986 MEMUASKAN

Dari tabel diatas terlihat bahwa secara umum responden menganggap bahwa Pelayanan assurance cukup β€œmemuaskan”, dengan angka indeks sebesar 76,9986. Namun demikian, terdapat beberapa indikator yang masih perlu dioptimalkan mengingat nilai rata-ratanya berada dibawah 3,0640, yakni:

1. Kemudahan tindak lanjut rekomendasi/saran yang diberikan

2. Efektivitas penerimaan aduan dan tindaklanjutnya terhadap subyek pengaduan yang disampaikan

3. Penggunaan alat bantu visual yang menarik saat melakukan pemaparan materi

Beberapa kendala yang paling banyak disampaikan responden dalam kuesioner antara lain:

1. Waktu pemeriksaan sering dilaksanakan disaat beban kerja sedang tinggi, atau bersamaan dengan jadwal kegiatan lainnya.

2. Pelaksanaan sistem daring kurang efektif

Laporan Akhir - 20 3. Permintaan dan Pemenuhan berkas dokumen/data yang sangat segera

4. Pemahaman pemeriksa yang berbeda dengan sebelumnya sehingga membingungkan Sementara harapan yang paling banyak disampaikan reponden dalam kuesioner antara lain:

1. Pelaksanaan pemeriksaan sebaiknya tidak dilakukan diakhir Tahun dimana beban kerja sedang tinggi

2. Lebih sering dilakukan sosialisasi dan bimbingan teknis agar kegiatan pemeriksaan nantinya dapat berjalan dengan lancar

3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan tatap muka langsung

4. Adanya kelonggaran waktu dalam memenuhi permintaan data sehingga bisa disiapkan dengan akurat dan reliable

5. Tim ITJEN agar lebih memahami situasi dan kondisi tempat dimana akan dilakukan pemeriksaan

6. Auditor agar lebih ramah dalam berkomunikasi, tidak kaku sebatas kewajiban tugas.

3.4.2. Indeks Kepuasaan atas Layanan Consulting

Kepuasan responden di seluruh Satker Binaan atas pelaksanaan layanan consulting, terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 10. Indeks Kepuasan Layanan Consulting

NO. INDIKATOR NILAI

RATA-RATA INTERPRETASI

1. Prosedur 3,4025 Mudah

Kemudahan prosedur konsultasi 3,7820 Sangat Mudah Kemudahan tindak lanjut saran yang diberikan

3,0230 Kurang Mudah

2. Waktu 3,2662 Sesuai

Kesesuaian pelaksananaan kegiatan dengan

jadwal yang ditetapkan 3,2662 Sesuai

3. Spesifikasi Layanan 3,1008 Memadai

Kemampuan saran yang diberikan dalam

mendorong perbaikan sistem di Satker Klien 3,1008 Mampu

4. Kompetensi 3,1303 Kompeten

Kecukupan pengetahuan Tim Itjen tentang proses

bisnis, tugas dan fungsi Satker Klien 3,1303 Cukup

5. Perilaku 3,2377 Baik

Sikap sopan Tim Itjen saat penugasan 3,3056 Sopan Kepedulian Tim Itjen terhadap keluhan Klien 3,1698 Peduli 6. Penanganan Pengaduan dan Saran 3,0712 Efektif

Efektivitas penerimaan pengaduan dan tindaklanjutnya terhadap subyek pengaduan yang disampaikan

3,0712 Efektif

7. Sarana, Alat Bantu

2,7798 Kurang Memadai Penggunaan alat bantu visual yang menarik saat

pemaparan materi 2,7798 Jarang

INDEKS KEPUASAN 78,5304 MEMUASKAN

Laporan Akhir - 21 Dari tabel diatas terlihat bahwa secara umum responden menganggap bahwa Kinerja Pelayanan consulting cukup β€œmemuaskan”, dengan angka indeks sebesar 78,5304. Namun demikian, terdapat beberapa indikator yang masih perlu dioptimalkan mengingat nilai rata-ratanya berada dibawah 3,0640, yakni:

1. Kemudahan tindak lanjut saran yang diberikan

2. Penggunaan alat bantu visual yang menarik saat penyajian materi

Beberapa kendala yang paling banyak disampaikan responden dalam kuesioner antara lain:

1. Waktu pendampingan yang terbatas, dan sering bersamaan kegiatan lain yang penting 2. Pemberitahuan jadwal yang mendadak

3. Pembinaan dan konsultasi secara daring kurang efektif 4. Materi yang masih sulit dipahami

Sementara harapan yang paling banyak disampaikan responden dalam kuesioner antara lain:

1. Frekuensi pendampingan lebih ditingkatkan 2. Pelaksanaan pendampingan secara tatap muka

3. Mengkoordinasikan kembali jadwal kegiatan agar tidak bentrok dengan kegiatan lain di Satker

4. Materi yang disampaikan dikemas dengan lebih menarik agar mudah dimengerti.

Elaborasi hasil survei per Satker binaan inspektorat dapat dilihat pada β€œLampiran I dan II”

Laporan ini

Laporan Akhir - 22 4.1. KESIMPULAN

1. Dalam Bab III sebelumnya telah didiskripsikan hasil pelaksanaan Survei Persepsi Klien atas pelaksanaan peran assurance dan consulting. Pelaksanaan peran assurance oleh Tim Itjen dinilai β€œBaik” oleh responden dengan angka indeks sebesar 3,0757. Namun untuk pelaksanaan peran consulting, responden masih menilai β€œKurang Baik”, dengan angka indeks sebesar 3,0485. Adapun persepsi responden terhadap pelaksanaan program-program pencegahan korupsi dinilai cukup β€œBaik”, dengan angka indeks sebesar 3,1848.

2. Beberapa indikator yang perlu ditingkatkan dalam rangka optimalisasi peran assurance dan consulting adalah; Efektivitas Pengawasan dengan Sistem Daring, Pemahaman Klien atas tata cara tindaklanjut laporan hasil pengawasan, Pemahaman Klien tentang kelengkapan dokumen tindaklanjut laporan hasil pengawasan, Keberadaan Unit atau Tim Khusus dalam Satker Klien yang mendorong penyelesaian tindak lanjut laporan hasil pengawasan, serta Efektivitas pelaksanaan tindak lanjut laporan hasil pengawasan dengan sistem Daring.

3. Adapun indikator yang perlu ditingkatkan untuk optimalisasi pelaksanaan program-program pencegahan korupsi adalah terkait dengan pemahaman Klien atas aturan dan prosedur manajemen risiko serta pemahaman terhadap sarana pengaduan dalam Whistleblowing System dan Penanganan Pengaduan Terpadu.

4. Untuk Kepuasan Pelanggan atas layanan assurance, kinerjanya cukup β€œMemuaskan”, dengan nilai indeks sebesar 76,9986. Hal yang sama untuk layanan consulting, dimana kinerjanya cukup β€œMemuaskan”, dengan nilai indeks sebesar 78,5304. Beberapa indikator yang perlu dioptimalkan untuk meningkatkan pelayanan baik assurance, maupun consulting adalah: Kemudahan tindak lanjut rekomendasi/saran yang diberikan, Efektivitas penerimaan aduan dan tindaklanjutnya terhadap subyek pengaduan yang disampaikan, serta Penggunaan alat bantu visual yang menarik saat melakukan pemaparan materi.

5. Beberapa kendala yang disampaikan oleh Klien dalam pertanyaan terbuka terkait layanan assurance lebih banyak terkait dengan aspek waktu, yang dirasa sering mendadak dan bersamaan dengan tugas-tugas rutin Satker. Sementara Harapan dari Klien agar pelaksanaan kegiatan pendampingan dan bimbingan lebih sering dilakukan agar kegiatan pemeriksaan kedepan dapat berjalan lancar.

6. Adapun Kendala yang disampaikan oleh Klien terkait layanan consulting lebih banyak pada frekuensi layanan yang dirasa masih kurang, sehingga Klien berharap agar intensitas kegiatan konsultasi ditambah secara rutin.

4.2. SARAN

1. Dari hasil survei terlihat bahwa indikator yang memiliki nilai yang paling rendah dan dominan muncul di semua jenis layanan, yakni terkait dengan penerapan sistem pengawasan secara daring, baik dalam kegiatan audit, review, evaluasi, tindak lanjut laporan hasil pengawasan, maupun kegiatan pendampingan dan konsultasi. Hal ini dapat diterjemahkan bahwa penggunaan teknologi dan teknik pengawasan jarak jauh perlu dioptimalkan dengan segera, terlebih sejak menjangkitnya wabah Covid-19 dalam satu tahun terakhir. Teknik pengawasan jarak jauh sesungguhnya bukanlah sebuah gagasan baru, tapi sebuah solusi pengawasan untuk mendapatkan beberapa keunggulan seperti;

β–ͺ Pengurangan biaya perjalanan secara signifikan

β–ͺ Perluasan cakupan pengawasan, dalam hal prioritas volume dan waktu

β–ͺ Peningkatan ketersediaan kelompok auditor

β–ͺ Adanya keleluasan waktu bagi Auditor untuk melakukan pendalaman dokumen, sehingga akan meningkatkan kualitas hasil quality assurance.

BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN

Laporan Akhir - 23

β–ͺ Peningkatan penggunaan teknologi yang ada dapat memperkuat dokumentasi dan pelaporan.

β–ͺ Beban audit terhadap fasilitas operasional dapat dimitigasi. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan serta memproses secara digital dokumentasi, video, dan gambar dapat dibagi secara optimal, daripada terkonsentrasi ke dalam periode audit yang dapat menyita waktu personil dari kegiatan sehari-harinya.

Meskipun terdapat beberapa kendala seperti masalah infrastruktur jaringan, masalah metodologi, atauoun risiko keamanan, namun Tim Itjen tetap diharapkan untuk memamfaatkan peluang untuk memaksimalkan kontribusinya dengan menerapakan sistem pengawasan jarak jauh. Oleh karena itu, Inspektorat perlu mengembangkan sebuah model pengaturan atau gudeline tentang pelaksanaan pengawasan internal jarak jauh secara efektif, baik untuk dijadikan acuan oleh auditee, maupun untuk dituangkan dalam rencana pengawasan tahunan Inspektorat.

2. Kebutuhan diatas semakin terasa mengingat dalam survei kepuasan pelanggan diidentifikasi juga masalah terkait dengan penggunaan alat bantu visual yang mempermudah Klien untuk memahami substansi pengawasan yang dipresentasikan saat entry meeting. Penggunaan alat visual atau konten yang kreatif serta Slide Presentasi yang menarik, diharapkan mampu membantu Klien untuk menjaga pemahaman mereka terhadap rencana pengawasan yang dipresentasikan. Presentasi virtual yang menarik akan meminimalisir audiens untuk melakukan multitasking selama presentasi berlangsung untuk menghindari kebosanan.

Laporan Akhir - 24

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Laporan Akhir - 25 LAMPIRAN 1 : ELABORASI HASIL SURVEI PERSEPSI PER SATKER BINAAN INSPEKTORAT

NO. INDIKATOR INSPEKTORAT

I

INSPEKTORAT II

INSPEKTORAT III

INSPEKTORAT IV

IMPROVEMENT NRR Urgensi A PERSEPSI

A.1 PERAN ASSURANCE

A.1 PERAN ASSURANCE

Dokumen terkait