• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data, penulis menggunakan teknik triangulasi data. Triangulasi data berarti adanya informan yang berbeda atau

75Mattew B Miles dan A Michael Huberman,Analisis Data Kulitatif,Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru,(Jakarta:Universitas Indonesia Pers,2007), hlm 15-19

58

adanya sumber data yang berbeda mengenai sesuatu. Triangulasi dilakukan untuk memperkuat data untuk membuat peneliti yakin terhadap kebenaran dan kelengkapan data. Triangulasi tersebut dapat dilakukan secara terus menerus sampai peneliti puas dengan adanya, sampai yakin datanya valid.76

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya.77

Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang di peroleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal in idapat dicapai dengan jalan:

a Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasi lwawancara.

b Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti abh Lembaga pembinaan khusus anak Klas II Tanjung pati.

c Membandingkan hasil wawancara dengan observasi yang berkaitan.

76 Nana Sudjana, Pengatar Statistik Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2000), Hlm. 30

77Lexy. J. Moleong, MetodologiPenelitianKualitatif,(Bandung: PT RosdaKarya, 1995) CetKe- 5, hal. 178

59 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Pelaksanaan bimbingan keagamaan dalam mengatasi gangguan mental pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota berorientasi kepada dua hal yaitu pembinaan di bidang keagamaan dan pembinaan di bidang fisiologis warga binaan. Pembinaan di bidang keagamaan bertujuan agar warga binaan dapat mengamalkan ajaran agama Islam dengan baik dan benar sesuai dengan aturannya dan pembinaan di bidang fisik bertujuan agar warga binaan tetap memiliki kondisi fisik yang sehat dan stabil selama mereka menjalani masa hukuman.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan Kasi Bina Warga Binaan menjelaskan bahwa :

Bimbingan yang dilakukan terhadap warga binaan pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota ada dua hal yaitu membimbing di bidang keagamaan dan di bidang fisik. Bimbingan dalam masalah keagamaan agar warga binaan setelah keluar nanti tidak lagi kembali mengulangi perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sedangkan bimbingan fisik adalah bimbingan agar warga binaan sehat selalu.78

Sehubungan dengan hal itu, penulis melakukan observasi terhadap warga binaan di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota, yang mana

78Kasi bimbingan Warga Binaan, Wawancara, Tanjung Pati 19 Juni 2020

60

diketahui bahwa petugas di LPKA sudah melakukan bimbingan terhadap pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dengan memberikan materi-materi keagamaan dan bimbingan tentang kesehatan fisiologis. Dalam observasi tersebut terlihat bahwa warga binaan dibina dalam masalah ibadah shalat, beragai materi wirid pengajian, hubungan sosial keagamaan. Sedangkan di bidang fisik warga binaan diajak untuk berolah raga yang seringkali dilakukan setiap sore dalam bentuk berbagai kegiatan.79

Bimbingan keagamaan bagi pelaku asusila di pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dilaksanakan oleh pihak lembaga dalam berbagai bentuk yaitu bimbingan pelaksanaan shalat lima waktu, bimbingan dalam melaksanakan puasa ramadhan maupun puasa sunnah, bimbingan sosial keagamaan dan bimbingan terhadap pelaku asusila dalam membaca Alqur’an.80

Bimbingan dalam hal melaksanakan shalat lima waktu, warga binaan diajak untuk melaksanakan shalat berjamaah di lingkungan lembaga setiap masuknya waktu shalat. Dalam hal ini penulis melakukan observasi terlihat bahwa begitu masuknya waktu shalat zuhur para warga binaan berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, adzan dikumandangkan oleh warga binaan,

79Observasi, Tanjung Jati, 19 Juni 2020

80Kasi bimbingan warga binaan, Wawancara, 20 Juni 20

61

kemudian untuk imam ditunjuk oleh lembaga kepada salah seorang warga binaan yang sudah dianggap dan dipercaya dapat menjadi imam.81

Penulis juga mewawancarai salah seorang warga binaan yang mengatakan bahwa :

Setiap masuknya waktu shalat, kami diminta dan dikumpulkan oleh petugas lembaga ntuk melaksanakan shalat berjamaah. Hal ini sudah menjadi aturan dari pihak lembaga bahwa para warga binaan harus melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah. Selama ini adzan dikumandangkan oleh salah seorang warga binaan, dan untuk menjadi imam kadang-kadang di imami oleh salah seorang warga binaan yang sudah dianggap mampu menjadi imam oleh pihak lembaga.82

Shalat berjamaah di lingkungan LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dilaksanakan secara rutin dan bertujuan untuk menyadarkan para pelaku asisila bahwa shalat berjamaah merupakan aspek terpenting untuk mengatasi gangguan mental napi yang saat menjalani masa hukumannya.

Selain itu, bimbingan ibadah puasa dilakukan oleh pihak lembaga setiap bulan ramadhan. Dalam hal ini pihak lembaga telah mendatangkan penceramah khusus untuk memberikan wirid di lingkungann LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota.Warga binaan melaksnaakan shalat tarawih berjamaah di lingkungan lembaga, dan setiap sahur warga binaan harus mengikuti sahur, dan p[ada malam harinya warga binaan diharuskan mengikuti shalat tarawih dan membaca qur’an sesudah shalat tarawih.

Kepala LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota yang diwawancarai menjelaskan bahwa :

81Observasi, 20 Juni 20

82 AR (warga binaan), Wawancara, Tanjung Pati, 20 Juni 20

62

Dalam mengatasi gangguan mental bagi pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota, mereka dituntun untuk melaksanakan ibadah puasa. Ketika sahur mereka dibangunkan agar mereka sahur, siang harinya mereka tidak akan diberikan jatah makan siang agar mereka tetap melaksanakan ibadah puasa, setiap masuknya waktu shalat mereka harus mengikuti shalat berjamaah bersama petugas lembaga, dan pada malam harinya warga binaan diharuskan mengikuti rangkaian shalat tarawih dan witir serta mengikuti wirid pengajian. Penceramah akan didatangkan dari berbagai pihak dan kalangan, baik dari Kemenag maupu n dari ustad atau penceramah dari luar kantor kemenag. 83

Sehubungan dengan hal itu penulis juga mewawancarai warga binaan yang menjelaskan bahwa “setiap bulan ramadhan kami wajib melaksanakan ibadah puasa oleh pihak lembaga, ketika pagi kami dibangunkan untuk melaksanakan sahur, siangnya tidak diberikan makan atau minum sehingga mau tidak mau kami harus berpuasa, malam harinya kami mengikuti shalat tarawih dan setelahnya melaksanakan tadarus.84

Adapun dalam memberikan bimbingan mengaji, pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota diberikan pembelajaran cara membaca Alqur’an. Pada umumnya pelaku yang masuk tidak dapat membaca Alqur’an. Hal ini sesuai dengan ungkapan Kasi yang mengatakan bahwa “para warga binaan ketika masuk di suruh untuk membaca Alqur’an dan ternyata pada umumnya mereka tidak mampu memvbaca Alqur’an. Hal ini merupakan tugas berat bagi lembaga untuk mengajarkan mengaji.85

Pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota yang diwawancarai menjelaskan bahwa “rata-rata kami yang menjadi warga

83Kepala LP, Wawancara. Tanjung Pati, 21 Juni 20

84MH (Warga Binaan), Wawancara, Tanjung Pati 21 Juni 20

85Kasi bimbingan, Wawancara, Tanjung Pati, 21 Juni 20

63

binaan di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota tidak dapat memvaca alqur’an ketika di dalam lembaga. Kami memang pernah belajar qur’an di masyarakat tetapi karena tidak ada membaca alqur’an maka kami lupa bagaimana cara membaca alqur’an.86

Ketika peneliti melakukan observasi terlihat bahwa warga binaan memang tidak dapat membaca alqur’an dengan baik dan benar. Mereka membaca qur’an dengan tersendat-sendat dan banyak salahnya. Ketika sal;ah mereka terhenti membvaca qur’an dan bertanya kepada teman lain yang dianggap pandai.87

Pembelajaran membaca qur’an di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dilakukan dengan cara warga binaan/pelaku asusila mengajarkannya dengan menggunakan papan tulis, dimulai dari mengenal huruf yang ditulis di papan tulis. Kemudian warga binaan diminta untuk mengucapkan secara bersama. Pihak lembaga telah mengelompokkan warga binaan yang memang tidak bisa membaca qur’an, kemudian yang agak pandai bersama yang pandai dan yang sudah pandai dikelompokkan bersama yang sudah pandai. Hal ini untuk memudahkan warga binaan/pelaku asusila dalam mengajarkan warga binaan membaca qur’an.88

86ZU (warga binaan), Wawancara, Tanjung Pati, 21 Juni 20

87Observasi, Tanjung Pati, 21 Juni 20

88 Warga binaan/pelaku asusila Mengaji, Wawancara, Tanjung Pati, 21 Juni 20

64

Dalam memberikan bimbingan keagamaan terhadap warga binaan dibutuhkan kesabaran dari pengajar baik warga binaan/pelaku asusila yang lamgsung mengajar maupun oleh pihak lembaga. Karena itu, pihak lembaga selama ini telah menggunakan berbagai pendekatan dalam mengatasi gangguan jiwa pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota.

Kepala LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota yang diwawancarai menjelaskan bahwa pihak lembaga telah menggunakan berbagai cara dan pendekatan dalam melakukan bimbingan keagamaan terhadap warga binaan khususnya bagi pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota. Hal ini bertujuan agar bimbingan dapat dilakukan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal. Pendekatan yang sudah digunakan selama ini adalah pendekatan direktif, kolaboratif, non direktif, informational.89

Pendekatan merupakan faktor terpenting dalam melakukan bimbingan keagamaan bagi pelaku asusila,, tanpa adanya pendekatan maka warga binaan tidak dapat dikendalikan oleh petugas dengan maksimal. Berikut dikemukakan pendekatan yang sudah digunakan pihak lembaga dalam melakukan bimbingan keagamaan terhadap pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota.

1. Pendekatan direktif

89Kepala LPKA, Wawancara, Tanjung Pati, tanggal 23 Juni 2020

65

Pendekatan direktif merupakan pendekatan yang dilakukan pihak lembaga dan warga binaan/pelaku asusila warga binaan dengan cara melakukan mendemontrasikan, mengarahkan, menstandarkan dan memberikan penguatan terhadap apa yang dilakukan.

Menurut Staf seksi bimbingan pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dalam menerapkan pendekatan ini, ada berbagai cara yang dilakukan di antaranya :

a. Mendekati dan menghampiri warga binaan yang bersangkutan dan mengajak berkomunikasi

b. Meminta warga binaan menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakannya pada hari tersebut khususnya kegiatan keagamaan c. Memberi nasehat dan motivasi kepada warga binaan/pelaku asusila

untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.90 Sehubungan dengan hal itu, warga binaan/pelaku asusila yang diwawancarai menjelaskan bahwa ketika petugas atau pembina melaksanakan tugasnya terhadap kami, maka petugas datang menghampiri warga binaan/pelaku asusila dan meminta menjelaskan kegiatan yang telah dan akan dilaksanakannya pada hari tersebut terutama dalam kegiatan keagamaan seperti mengaji, shalat, zikir dsb.91

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penggunaan pendekatan direktif adalah untuk menyadarkan warga binaan/pelaku asusila dan merubah kebiasaan warga binaan/pelaku asusila agar mampu

90Staf Bimbingan, Wawancara, Tanjung Pati, 21 Juni 2020

91 MJ (Warga Binaan), Wawancara, 21 Juni 2020

66

melaksanakan ajaran agama dengan baik. Hal ini sesuai wawancara penulis dengan warga binaan/pelaku asusila bahwa tujuan utama yang hendak dicapai dengan penggunaan pendekatan pengubahan perilaku dalam pelaksanaan bimbingan keagamaan adalah agar warga binaan/pelaku asusila mau merubah kebiasaan yang kurang baik dalam melaksanakan tugas. Dalam hal ini warga binaan/pelaku asusila diberi pengarahan sebijaksana mungkin sehingga ia diharapkan menyadari dan melaksanakan nasehat dari petugas.92

Dari wawancara di atas dapat dikatakan bahwa petugas LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota telah menggunakan pendekatan direktif, yakni mengarahkan warga binaan/pelaku asusila agar menjadi lebih baik lagi dalam melaksanakan ajaram agama. Warga binaan/pelaku asusila diarahkan untuk betul-betul mampu melaksanakan tugasnya dengan optimal terutama dalam melaksanakan ibadah shalat, puasa maupun membaca qur’an.

Adapun yang menjadi latar belakang petugas LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota menggunakan pendekatan pengubahan perilaku disebabkan lembaga menginginkan warga binaan/pelaku asusila-warga binaan/pelaku asusila disiplin dan komitmen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam beragama. Hal ini sesuai wawancara penulis dengan kasi bimbingan yang menjelaskan bahwa:

92 MJ (Warga Binaan), Wawancara, Tanjung Pati, 21 Juni 20

67

Disebabkan masih ditemui warga binaan/pelaku asusila-warga binaan/pelaku asusila yang sering terlambat dan mengabaikan shalat lima waktu dan membaca qur’an, maka guru bimbingan dan petugas LPKA menggunakan pendekatan pengubahan perilaku agar warga binaan/pelaku asusila dapat disiplin dan mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya terutama dalam melaksanakan ajaran agama Islam.93

Sehubungan dengan hal itu, staf kasi bimbingan yang juga diwawancarai menjelaskan bahwa:

Dalam pelaksanaan bimbingan keagamaan terhadap warga binaan/pelaku asusila, petugas bimbingan sering menemui warga binaan/pelaku asusila yang terlambat datang masjid dan apabila warga binaan/pelaku asusila sudah datang ke masjid untuk shalat jumat namun warga binaan/pelaku asusila belum langsung masuk ke masjid. Hal inilah yang menjadi dasar dan pertimbangan petugas bimbingan menggunakan pendekatan pengubahan perilaku terhadap warga binaan/pelaku asusila dalam melaksanakan ajaran agama Islam.94

Staf Kasi Bimbingan lainnya yang di wawancarai juga menjelaskan bahwa:

Petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan pengubahan perilaku dalam membimbing warga binaan/pelaku asusila.

Hal ini disebabkan warga binaan/pelaku asusila sering mengabaikan waktu shalat dan ajakan ntuk mengaji. Di mana semestinya warga binaan/pelaku asusila sudah semestinya belajar, tetapi kenyataan yang ditemui masih terdapat warga binaan/pelaku asusila yang acuh tak acuh saja. Hal ini mengakibatkan materi yang disampaikan oleh petugas bimbingan tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan.95

Bertitik tolak dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa petugas bimbingan keagamaan di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota menggunakan pendekatan non direktif dalam melaksanakan

93Kasi Bimbingan, Wawancara, Tanjung Pati, 22 Juni 2020

94Staaf Kasi Bimbingani, Wawancara, Tanjung Pati, 22 Juni 2020

95 Staaf Kasi Bimbingani, Wawancara, Tanjung Pati, 22 Juni 2020

68

bimbingan keagama terhadap warga binaan/pelaku asusila. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan dan membiasakan warga binaan/pelaku asusila untuk dapat melaksanakan tugas secara efektif dan efisien terutama dalam melaksanakan ajaran agama Islam.

2. Pendekatan kolaboratif

ribadaPendekatan kolaboratif menempatkan petugas bimbingan keagamaan di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota dalam menciptakan dan memelihara ketertiban dan kenyamanan bagi warga binaan/pelaku asusila dengan menggunakan strategi pengendalian.

Petugas bimbingan bertanggung jawab memperhatikan warga binaan/pelaku asusila karena petugas bimbingan keagamaan yang paling mengetahui dan berurusan dengan warga binaan/pelaku asusila. Tugas ini dilakukan petugas bimbingan keagamaan dengan menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukum.

Kasi Bimbingan yang diwawancarai menegaskan bahwa:

Dalam menggunakan pendekatan kolaboratif adalah petugas bimbingan keagamaan menunjukkan sikap tegas dan memperhatikan warga binaan/pelaku asusila yang apabila sudah diberi teguran dan nasehat tetapi masih mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya misalnya meninggalkan shalat dan tidak membaca qur’an. Pendekatan ini digunakan oleh petugas bimbingan keagamaan apabila petugas bimbingan keagamaan telah menerapkan pendekatan direktif. Artinya, apabila warga binaan/pelaku asusila masih kurang disiplin dan kurang komitmen dalam beribadah, maka petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan kolaboratif dengan memanggil warga binaan/pelaku asusila yang bersangkutan untuk diminta penjelasannya dan diberikan pengarahan secara individual pada waktu dan tempat tertentu yang tidak diketahui oleh warga binaan/pelaku asusila lain.96

96Kasi Bimbingan, Wawancara, Tanjung Pati, 24 Juni 2020

69

Dari observasi yang dilakukan terlihat bahwa petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan kolaboratif dalam membimbing keagamaan terhadap warga binaan/pelaku asusila. Petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan ini apabila warga binaan/pelaku asusila yang bersangkutan masih mengabaikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya dalam beribadah, sementara petugas bimbingan keagamaan telah memberikan teguran sebelumnya. Selanjutnya petugas bimbingan keagamaan meminta penjelasan dari warga binaan/pelaku asusila tentang pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya tersebut.97

Warga binaan/pelaku asusila di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota yang di wawancarai menjelaskan bahwa petugas bimbingan keagamaan telah menggunakan pendekatan langsung terhadap warga binaan/pelaku asusila. Pendekatan ini digunakan oleh petugas bimbingan keagamaan dengan cara mendengarkan warga binaan/pelaku asusila secara langsung tentang realisasi maupun kendala yang dihadapinya dalam melaksanakan tugas keagamaannya.98

Adapun yang menjadi latar belakang petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan kolaboratif ini karena apabila diketahui warga binaan/pelaku asusila masih mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya dalam beribadah, kurang disiplin dalam melaksanakan shalat dan mengaji.. Petugas bimbingan keagamaan yang diwawancarai mengemukakan bahwa apabila saya menggunakan pendekatan kolaboratif

97Observasi, Tanjung Pati, 22 Juni 20

98 JU (Warga Binaan), Wawancara, Tanjung Pati, 23 Juni 2020

70

apabila masih ditemui warga binaan/pelaku asusila yang kurang disiplin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya apalagi dalam beribadah seperti shalat dan mengaji. Melalui pendekatan kolaboratif, petugas bimbingan keagamaan meminta warga binaan/pelaku asusila untuk memperbaiki kedisplinan dalam beribadah.99

3. Pendekatan non direktif

Pedekatan intimidasi merupakan pendekatan yang mengandung manajemen petugas bimbingan sebagai proses pengendalian tingkah laku warga binaan/pelaku asusila. Pendekatan ini menuntut peranan petugas bimbingan keagamaan untuk mampu membantu warga binaan/pelaku asusila memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan kata lain, pendekatan ini menekankan peranan petugas bimbingan keagamaan sebagai pembimbing terhadap warga binaan/pelaku asusila, di mana petugas bimbingan keagamaan membimbing dna menuntun warga binaan/pelaku asusila untuk mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Misalnya dalam masalah susahnya merubah kebiasaan dari jarang shalat menjadi rajin shalat, dari susah membaca qur’an menjadi terbiasa membaca qur’an.

Petugas bimbingan keagamaan yang diwawancarai menjelaskan bahwa petugas bimbingan keagamaan menggunakan pendekatan nondirektif dalam pelaksanaan bimbingan keagamaan tidak hanya dalam rangka menunjukkan kekuasaan sebagai petugas bimbingan keagamaan,

99KL (Petugas), Wawancara, Tanjung Pati, 23 Jun i 2020

71

akan tetapi dalam rangka membantu warga binaan/pelaku asusila menenangkan diri sekiranya ada permasalahan yang dihadapinya.

Misalnya masalah warga binaan yang menganggap shalat tidak ada artinya, doa belum dikabulkan allah.100

Menurut kasi bimbingan di LPKA KLAS II Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota, pendekatan intimidasi ini sebenarnya digunakan oleh petugas bimbingan keagamaan dalam melaksanakan bimbingan keagamaan berorientasi kepada warga binaan/pelaku asusila yang sepertinya kurang bersemangat dan kurang antusias ketika melaksanakan shalat, puasa dan mengaji.101

Ketika warga binaan/pelaku asusila terlihat kurang bersemangat dan kurang antusias dalam melaksanakan ibadah, maka petugas bimbingan keagamaan datang menghampiri warga tersebut dan bertanya kenapa ia kurang bersemangat. Ketika berhadapan dengan warga binaan/pelaku asusila, petugas bimbingan keagamaan menanyakan kepada warga binaan/pelaku asusila apa yang menyebabkan ia sepertinya kurang bersemangat dalam beribadah.

Penggunaan pendekatan non direktif pada dasarnya bukanlah pendekatan yang menekankan ikut campurnya urusan warga binaan/pelaku asusila oleh petugas bimbingan keagamaan, akan tetapi petugas bimbingan keagamaan bertugas dan bertanggung jawab pula dalam membantu warga binaan/pelaku asusila memecahkan persoalan yang dihadapinya apabila

100Petugas Bimbingan, Wawancara, Tanjung Pati, 25 Juni 2020

101 Kasi Bimbingan,, Wawancara, Tanjung Pati, 25 Juni 2020

72

diperlukan. Apabila warga binaan/pelaku asusila tidak terbuka dengan persoalan yang dihadapinya, maka petugas bimbingan keagamaan tidak memaksakan warga binaan/pelaku asusila untuk menyampaikannya.

Namun demikian petugas bimbingan keagamaan hanya meminta warga binaan/pelaku asusila untuk dapat melaksanakan ajaran agama dengan baik, sehingga permasalahan yang dihadapinya tidak berakibat yang kurang baik bagi ibadahnya pada masa yang akan datang.

B. Pembahasan

Perbuatan asusila tentang perempuan menurut hukum pidana diantaranya perkosaan Pasal 285 KUHP, Perzinaan Pasal 284, Perdagangan wanita Pasal 297 KUHP yang pada intinya berbunyi barang siapa yang mengancam kesusilaan perempuan secara paksa dengan kekerasan dapat dipidana maksimal penjara dua belas(12) Tahun. Akibat perbuatan asusila tersebut tidak hanya kerugian secara fisik akan tetapi juga berdampak pada psikis korban, tidak jarang rasa trauma yang di alami oleh korban senantiasa teringat sehingga merugikan psikologis korban dan dampak psikologis lebih mendalam dirasakan oleh korban, karena korban merasa malu terutama pada diri sendiri.

Kegiatan pembinaan bagi abh dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah di buat seperti: mengaji, kegiatan paket A,B,C, kegiatan keterampilan, jadi semua kegiatan pembinaan sudah dijadwalkan.

Pelaksanaan kegiatan dan bimbingan bagi abh, kita sudah ada kerja sama

73

dengan berbagai macam instansi terkait seperti untuk bimbingan agama telah bekerjasama dengan Kemenag sehingga di datangkan ustad ke lokasi, untuk pendidikan dengan Dinas Pendidikan, untuk kesehatan dengan Puskesmas, serta untuk bimbingan keterampilan dengan Depnaker dan dari pihak lain atau instansi lain. Mengenai mental abh sampai dengan sekarang jauh lebih baik, jika di bandingkan pada saat ia baru masuk

dengan berbagai macam instansi terkait seperti untuk bimbingan agama telah bekerjasama dengan Kemenag sehingga di datangkan ustad ke lokasi, untuk pendidikan dengan Dinas Pendidikan, untuk kesehatan dengan Puskesmas, serta untuk bimbingan keterampilan dengan Depnaker dan dari pihak lain atau instansi lain. Mengenai mental abh sampai dengan sekarang jauh lebih baik, jika di bandingkan pada saat ia baru masuk

Dokumen terkait