BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Teknik Pengujian Instrumen
berupa tesuraian yang berjumlah 12 butir. Tes uraian ini digunakan untuk mengukur enam kemampuankognitif, yaitu: mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis,mengevaluasi, dan mencipta.Pada penelitian ini hanya diambil dua soal saja untuk mengukur dua kemampuan siswa. Soal nomor 5 digunakan untuk mengukur kemampuan mengevaluasi, sedangkan soal nomor 6a, 6b, 6c, 6d digunakan untuk mengukur kemampuan mencipta. Lihat lampiran 3.1. Lima soal tersebut dibuat berdasarkan Kompetensi Dasar “(4.1) Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya, misal kayu, kain, karet, dan kaca”. Matriks pengembangan instrumen yang digunakan dalam pembuatan instrumen dapat dilihat pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Matriks Pengembangan Instrumen
No Variabel Aspek Indikator No soal
1 Mengevaluasi Memeriksa Memeriksa kekuatan bahan serat,
benang, tali, nilon dan tambang.
5 Mengkritik Menunjukkan alasan kekuatan
bahan serat, benang, tali, nilon dan tambang.
5
2 Mencipta Merumuskan Merumuskan masalah pada
percobaan membuktikan kekuatan bahan serat, benang, tali, nilon dan tambang dalam menggantung benda.
6a
Membuat hipotesis Membuat hipotesis dari percobaan membuktikan kekuatan bahan serat, benang, tali, nilon dan tambang dalam menggantung benda.
6b
Merencanakan Merencanakan alat dan bahan yang tepat dalam percobaan
membuktikan kekuatan bahan serat, benang, tali, nilon dan tambang dalam menggantung benda.
6c
Mendesain Mendesain langkah-langkah percobaan membuktikan kekuatan bahan serat, benang, tali, nilon dan tambang dalam menggantung benda.
6d
3.7 Teknik Pengujian Instrumen 3.7.1ValiditasInstrumen
Data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian
39
(Sugiyono, 2011: 361). Namun, bila peneliti membuat laporan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada obyek sesungguhnya, maka data dapat dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2011: 361). Validitas adalah derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyon, 2011: 361). Pada penelitian ini validitas yang digunakan adalah validitas isi dan validitas konstruk.
Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen mengukur isi (konsep) yang harus diukur (Siregar, 2013: 46). Cohen menjelaskan bahwa validitas isi dicapai dengan penilaian para ahli atau expert judgement (Cohen, 2007: 163). Validitas isi tes dalam penelitian ini diperoleh dari tiga pendapat para ahli tentang materi. Para ahli tersebut yaitu dosen mata kuliah IPA, guru kelas V SD, dan guru kelas IPA SMA. Validator 1 berpendapat bahwa soal nomor 5 perlu disinkronkan antara matriks pengembangan instrumen dengan soal, selain itu pada soal tidak tampak unsur aspek “menguji”. Untuk soal nomor 6a dan 6b sudah baik. Validator 1 juga memberikan saran pada soal nomor 6c yaitu membuat langkah-langkah percobaan lebih cocok masuk dalam aspek “merencanakan”. Sedangkan pada soal nomor 6d bagian aspek “mendesain” adalah ketika melakukan percobaan, menganalisis data, dan menyimpulkan. Validator 2 berpendapat bahwa soal nomor 5 dan 6a, 6b, 6c, dan 6d sudah baik. Validator 3 memberikan saran pada soal nomor 5 yaitu kekuatan benang atau tali tergantung cara mengikatnya, sedangkan untuk soal nomor 6a, 6b, 6c, dan 6d validator 3 berpendapat bahwa soal yang dibuat sudah baik. Setelah mendapatkan penilaian dari ke 3 validator, peneliti kemudian memperbaiki soal dengan memperhatikan saran dari ke 3 para ahli tersebut. (lihat Lampiran 3.4)
Validitas konstruk merupakan validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya (Siregar 2010: 47). Validitas konstruk digunakan untuk mengukur kesesuaian setiap butir soal dengan indikator (Arikunto, 2012: 83). Validitas konstruk dilakukan dengan uji empiris untuk memastikan adanya keterkaitan yang jelas antara item dengan indikator yang dibuat Cohen (2007: 163). Validitas konstruk dalam penelitian ini juga dilakukan melakukan uji empiris. Uji validitas secara empiris dilakukan lebih dari 30
40
responden untuk memastikan bahwa distribusi data normal. Para ahli menemukan jika data resonden semakin besar, maka distribusi data akan cenderung normal (Field, 2009: 42). Peneliti mengujikan soal pada siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dengan jumlah responden sebanyak 42 siswa. SD Kanisius Sengakan terletak di Jl. Kaliurang km 7, Sleman, Yogyakarta. Peneliti memilih SD Kanisius Sengkan dikarenakan SD ini mempunyai kelas paralel dan juga mempunyai prestasi yang hampir sama dengan SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta.
Setelah soal diujikan, kemudian soal dihitung validitasnya menggunakan rumus korelasi Pearson karena data berupa interval yang diberi skor 1 sampai 5 (Field, 2009: 177). Program yang digunakan oleh peneliti untuk menghitung validitas soal adalah program IBM SPSS Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan adalah jika harga Sig. (2-tailed)< 0,05 maka item soal yang diujikan valid, namun jika harga Sig. (2-tailed)> 0,05 maka item soal yang diujikan tidak valid. Hasil dari uji validitas soal dari dua variabel dapat dilihat pada tabel 3.4. (lihat Lampiran 3.5)
Tabel 3.4 Uji Validitas Variabel Mengevaluasi dan Mencipta
No Variabel Aspek Nomor
Soal
Sig. (2-tailed) Kualifikasi
1 Mengevaluasi Memeriksa 5 0,00 Valid
Mengkritik 5 0,03 Valid
2 Mencipta Merumuskan 6a 0,00 Valid
Membuat hipotesis 6b 0,00 Valid
Merencanakan 6c 0,00 Valid
Mendesain 6d 0,00 Valid
Proses kognitif terdiri dari enam kemampuan yaitu, mengingat, memahami,
mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Namun pada pada
penelitian ini hanya diambil kemampuan mengevaluasi dan mencipta karena penelitian ini merupakan penelitian kolaboratif. Berdasarkan tabel 3.4 uji validitas dilakukan menggunakan dua variabel yaitu, mengevaluasi, dan mencipta. Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari seluruh aspek pada setiap variabel dapat dikatakan valid. Hal tersebut dibuktikan dari seluruh aspek dari setiap variabel mempunyai harga Sig. (2-tailed)< 0,05 dengan tingkat kepercayaan 99% (Field, 2009: 177-178).
41
3.7.2Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas merupakan pengertian yang mengartikan bahwa sebuah instrumen telah dinyatakan dapat digunakan untuk mengumpulkan data oleh karena instrumen tersebut sudah dianggap baik untuk digunakan (Arikunto, dalam Taniredja& Mustafidah, 2011: 43). Suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur (Sukardi, 2008: 43).Penelitian ini menggunakan soal uraian dengan rentang skor 1 hingga 5 pada penilaian jawaban setiap soal. Triton (2006: 248) mengklasifikasikan beberapa koefisien korelasi reliabilitas suatu soal yang dapat dilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5 Klasifikasi Koefisien Korelasi Reliabilitas
Alpha Tingkat Reliabilitas
0,00 sampai dengan 0,20 Kurang reliabel >0,20 sampai dengan 0,40 Agak reliabel >0,40 sampai dengan 0,80 Cukup reliabel >0,60 sampai dengan 0,80 Reliabel >0,80 sampai dengan 1,00 Sangat reliabel
Reliabilitas soal dihitung dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 20 for
Windows. Nunnally (dalam Ghozali, 2009:46)menyatakan bahwa suatu instrumen
dikatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach> 0,60. Hasil uji reliabilitas dari dua aspek dapat dilihat pada tabel 3.6. (lihat Lampiran 3.6)
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas
Cronbach’s Alpha Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items
Keterangan
0,633 0,621 Reliabel
Berdasarkan hasil uji reliabilitas diperoleh hasil Cronbach’s Alpha> 0,60, yaitu sebesar 0,633. Hal tersebut menunjukkanyang bahwa enam item soal tersebut dinyatakan validdan reliabel.