• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini memerlukan dua macam data pokok, yaitu data kemampuan Baca tulis Al Quran sebagai variabel terikat dan data tingkat motivasi belajar sebagai variabel bebas. Untuk mengungkapkan kedua data pokok tersebut diperlukan dua macam instrumen, yaitu: (1) instrumen untuk mengukur kemampuan baca tulis Al Quran dan (2) instrumen untuk memilah tingkat motivasi belajar yaitu motivasi rendah dan motivasi tinggi. Adapun tahapan pengembangannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Instrumen Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan baca tulis Al Quran siswa kelas IX SMP Negeri 185 Jakarta.

a. Definisi Konseptual

Kemampuan baca tulis Al Quran merupakan kategori tingkat penguasaan ranah kognitif dan psikomotorik, yang harus dikuasai siswa secara maksimal dalam pembelajaran Al Quran. Siswa tidak akan dapat sampai pada derajat pemahaman makna hakiki apabila terhambat dalam kemampuan baca tulis Al Quran. Kemampuan membaca Al Quran yang baik ditandai dengan sesuainya bacaan dengan makharijul hurufnya, ketepatan dalam ilmu tajwid dan kesepadanan dengan ragam Imam Qurra. Sedangkan kemampuan menulis Al Quran ditandai dengan kesesuaian tulisan dengan naskah asli yang diiringi dengan kerapihan dan keindahan tulisan. Kemampuan ini merupakan hasil dari pembelajaran Al Quran yang ditempuh selama kurun waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

b. Definisi Operasional

Kemampuan baca tulis Al Quran adalah skor yang diperoleh siswa dalam tes akhir setelah mendapat perlakuan dengan menggunakan teknologi pembelajaran Al Quran dengan pendekatan digital dan tanpa dengan pendekatan digital. Kemampuan baca tulis Al Quran ini adalah skor yang diperoleh responden dalam menjawab butir-butir tes baca tulis Al Quran yang diberikan kepadanya. Skor yang diperoleh siswa menunjukkan tingkat penguasaan kemampuan dibidang kognitif yang meliputi dimensi pengetahuan melalui tes pilihan ganda dan psikomotorik yang meliputi keterampilan melalui lembar pengamatan baca tulis Al Quran.

Instrumen untuk mengukur kemampuan baca tulis Al Quran dalam penelitian ini dikembangkan dalam bentuk tes. Tes kemampuan baca tulis Al Quran dari materi pokok dan sub pokok yang tercantum dalam kurikulum Pelajaran Baca Tulis Al Quran SMP kelas IX Semester Genap Tahun Pelajaran 2015-2016. Bentuk tes hasil belajar adalah pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Tes pilihan ganda untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan siswa disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa kelas IX SMP Negeri 185 Jakarta.

Pada tes pilihan ganda ini setiap butir soal berisi satu pertanyaan dengan satu jawaban yang benar, maka skor yang diberikan untuk pilihan jawaban yang benar adalah 1 (satu) sedangkan untuk jawaban yang salah diberikan skor 0 (nol).

c. Kisi-kisi instrumen kemampuan baca tulis Al Quran

Berdasarkan rumusan definisi konseptual dan operasional tentang kemampuan baca tulis Al Quran tersebut diatas, maka instrumen kemampuan baca tulis Al Quran yang dikembangkan dalam bentuk tes pilihan ganda terangkum dalam instrumen yang telah teruji validasi dalam lampiran 2.

d. Jenis Instrumen

Jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan baca tulis Al Quran adalah tes hasil belajar (achievement test) yang telah dikembangkan oleh peneliti yang mengacu pada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan untuk mata pelajaran BTA kelas IX SMP Negeri 185 Jakarta.

e. Pengujian Validitas dan Penghitungan Reliabilitas

Proses kalibrasi instrumen dilakukan dengan menganalisa hasil uji coba tes baca tulis Al Quran siswa sebagai alat pengumpul data, maka terlebih dahulu diketahui validitas (validity) dan realiabilitas (reliability) (Anwar, 2012:40). Proses pengembangan instrumen tes kemampuan baca tulis Al Quran dimulai dengan penyusunan butir soal. Tahap berikutnya konsep instrumen ini diperiksa oleh para panelis, yaitu seberapa jauh butir-butir instrumen tersebut mengukur pemahaman siswa secara keseluruhan baik aspek kognitif dan psikomotorik dari variabel kemampuan baca tulis Al Quran. Setelah instrumen disetujui, maka instrumen tersebut diujicobakan kepada peserta didik sebagai sampel uji coba.

Pengujian validitas butir tes untuk mengukur aspek pemahaman dan pengetahuan baca tulis Al Quran siswa dihitung dengan Korelasi Product Moment dan perhitungan koefisien reliabilitas menggunakan rumus Alpa Cronbach.

Adapun tahapan-tahapan awal dalam perhitungan statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Untuk menghitung validitas butir tes pengetahuan baca tulis Al Quran siswa digunakan rumus Korelasi Uji Validitas Item atau butir dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS 21. Untuk proses ini, akan digunakan Uji Korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji ini, setiap item akan diuji relasinya dengan skor total variabel yang dimaksud. Dalam hal ini masing-masing item yang ada di dalam variabel X dan Y akan diuji relasinya dengan skor total variabel tersebut. Agar penelitian ini lebih teliti, sebuah item sebaiknya memiliki korelasi (r) Hasil perhitungan rhitung dicocokan dengan harga rtabel pada taraf signifikan N200 = 0,138.

Jika rhitung lebih besar daripada rtabel atau (rhitung > rtabel) berarti butir soal tersebut dinyatakan valid.

Soal tes ini diberikan kepada seluruh siswa kelas IX SMPN 16 JAKARTA diluar sampel yakni kelas a dan b jumlah responden sebanyak 200 siswa. Dari 40 soal yang diujikan Terdapat 9 soal yang tidak valid yaitu : soal_21, soal_23, soal_25, soal_27, soal_29, soal_31, soal_33, soal_35, soal_37 tidak valid. Sementara soal yang valid terdapat 31 soal adalah soal nomor, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8,9,10, 11, 12,13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 24, 26, 28, 30, 32, 34, 36, 37, 38, 39 dan 40. Perhitungan validitas secara lengkap ada pada lampiran penelitian ini.

Hasil perhitungan uji validitas butir tes yang valid menunjukkan bahwa butir tes tersebut dapat digunakan dalam penelitian. Adapun butir tes yang tidak valid adalah butir tes yang tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Dalam analisis ini, butir tes dikatakan valid maka sudah tentu reliabel (Sunarto, 2010:353).

2) Untuk menghitung koefisien reliabilitas peneliti merujuk pada Rumus Alpha Cronbach (Abdullah & Sutanto, 2015: 259 )sebagai berikut:

Keterangan:

Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha > 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat. Ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:  Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna

 Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi  Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat  Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah

Hasil perhitungan melalui rumus crobanch menunjukan dari keseluruhan 40 soal diperoleh angka hitung= 0.94 ini menunjukan bahwa soal tersebut memiliki realibilitas yang sempurna.

3) Perhitungan indeks kesukaran adalah untuk menentukan apakah satu butir tes termasuk kategori mudah, sedang dan sukar. Untuk itu merujuk pada Sugiyono (2013: 187) digunakan rumus sebagai berikut:

P = B

JS

Keterangan:

P = Indeks kesukaran

B = Jumlah peserta uji coba yang menjawab benar JS = Jumlah seluruh peserta uji coba

Tingkat kesukaran butir tes dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu : mudah, sedang dan sukar, yakni:

P 0,00 sampai 0,30 = tes sukar P 0,30 sampai 0,70 = tes sedang P 0,70 sampai 1,00 = tes mudah .

2. Instrumen Variabel Moderator / Atribut a. Definisi konseptual

Instrumen variabel moderator dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa. Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang memliki dampak sangat besar dalam kehiduan siswa berupa tingkah laku, perhatian belajar. Baik dorongan tersebut bersifat internal dari dalam dirinya ataupun dari luar seperti motivasi dari guru bidang studi berupa nilai, penghargaan, reward dan pujian. Motivasi belajar yang saling terkait satu sama lain diharapkan menjadi sebuah senjata ampuh untuk meng-upgrade semangat belajar dan mendapatkan hasil yang maksimal dalam keterampilan Baca tulis Al Quran.

b. Definisi operasional

Perbedaan motivasi belajar rendah dan motivasi belajar tinggi siswa diperoleh dari hasil angket tentang baca tulis Al Quran. Isi kuesioner tersebut meliputi: Bagaimana tanggung jawabnya terhadap mata pelajran, kerutinitasanya, ketahanannya dalam mencapai tujuan belajar, usaha-usaha ke arah yang lebih baik serta harapannya terhadap teman dan guru-gurunya.

Instrumen untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa ini dikembangkan dalam bentuk angket. Angket ini diberikan kepada koresponden berupa 30 butir soal yang didesain memalui skala Likert. Dimana siswa bisa menjawab dengan pilihan 5 jawaban yaitu: Setuju, Sangat Setuju, Ragu-ragu, Tidak Setuju dan Sangat Tidak Setuju. Kisi kisi Angket Motivasi Belajar dapat dilihat pada bagian lampiran 2.

c. Jenis instrumen

Jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa adalah angket berupa kuesioner yang telah dikembangkan oleh peneliti yang mengacu pada indikator-indikator kemampuan dan motivasi belajar siswa terhadap pelajaran baca tulis Al Quran. Instrumen yang digunakan dalam mengukur motivasi ini adalah menggunakan skala likert. Karena pertimbangan peneliti skala ini dapat digunakan untuk mengukur sikap. Bentuk pernyataan disusun dengan lima pilihah sikap yaitu: SS (sangat setuju), S (setuju), R (Ragu-Ragu), TS (tidak setuju) dan STS (sangat tidak setuju). (Reksoatmojo, 2007: 198)

Proses pengembangan instrumen tes tingkat motivasi belajar siswa dimulai dengan penyusunan butir kuesioner. Tahap berikutnya konsep instrumen ini diperiksa oleh para panelis, yaitu seberapa jauh butir-butir pernyataan tersebut mengukur aspek kajian teoritis dan motivsai belajar Al Quran. Setelah instrumen disetujui maka instrumen tersebut diujicobakan kepada peserta didik sebagai sampel uji coba.

Setelah didapatkan hasil berupa nilai dalam skala ordinal, peneliti mengkonversikan hasil tersebut ke dalam skala interval dengan menggunakan aplikasi MSI (Metode Succesive Interval). Aplikasi ini dapat diunduh di:

http://sambas.staf.upi.edu/2013/01/16/methode-succesive-interval-msi/ 3. Varibel Pelakuan

Variabel perlakuan dalam penelitian ini adalah teknologi pembelajaran (A) yang terdiri dari teknologi pembelajaran Al Quran dengan pendekatan digital (A1)

dan teknologi pembelajaran Al Quran manual (A2) sebagai variabel bebas.

1) Definisi konseptual (konstruktif)

Teknologi pembelajaran sebagai mana media/alat untuk menyampaikan atau mentransfer ilmu harus dapat merangsang siswa untuk bertindak lebih aktif dalam belajar. Melalui kelebihan fitur yang ada pada Al Quran dapat memotivasi dan memberikan dorongan positif terhadap pembelajaran Al Quran.

Pembelajaran dengan teknologi Al Quran digital merupakan pembelajaran berbasis multimedia yang menggunakan software digital yang menampilkan animasi yang mutakhir dan terkini dengan gambar berupa teks ayat Al Quran dilengkapi dengan tajwid berwarna yang dapat memudahkan penggunanya mengenali hukum tajwid sesuai dengan bacaanya.

Sedangkan pembelajaran Al Quran manual atau konvensional berjalan dengan deskripsi guru menggunakan metode ceramah sebagai metode pembelajaran dan menjadikan mushaf Al Quran cetak sebagai media belajar dalam proses belajar di kelas.

2) Definisi Operasional

Mekanisme dari pembelajaran menggunaakan teknologi Al Quran

digital dilakukan dengan terlebih dahulu menginstal aplikasi “Al-Kalam”

yang merupakan salah satu produsen Al Quran digital. Selanjutnya melalui Software ini akan ditampilkan suara bacaan ayat Al Quran yang langsung dicontohkan oleh Imam besar Masjidil Haram seperti Imam As- Sudais,

Imam Sa’ad Al Ghoimidi dan Misy’ari Rasyid. Dengan demikian siswa tidak hanya mad panjang pendeknya namun langgam dan ragam lagunya dapat di-ikuti oleh siswa sehingga terkesan lebih syahdu dan haru. Selain itu, software ini pun dilengkapi dengan terjemah per-ayat bahkan untuk memperluas kajian penguasaan Al Quran disediakan tafsir dari berbagai Imam Mufassir seperti Ibnu Abbas. Tidak hanya sampai disitu, software ini dipercanggih dengan kemudahan akses alias easy user sehingga bisa dipakai dan dipoerasikan oleh para pemula, semua ayat, terjemah dan tafsir bisa dikopi dalam bentuk word untuk dibaca dan diprint out.

Pembelajaran Al Quran secara konvensional berjalan seperti layaknya pembelajaran di kelas, dimulai dengan guru mencontohkan cara membaca ayat yang benar kemudian baru siswa mengikuti bacaan ayat tersebut dan begitu seterusnya dan diakhiri dengan evaluasi dan latihan soal.

4. Kontrol Validitas Internal dan Eksternal 1. Validitas Internal

Dalam upaya memperoleh hasil penelitian yang benar-benar sebagai implikasi atas perlakuan (treatment) penelitian, maka diperlukan upaya pengontrolan terhadap kesahihan internal yang meliputi:

a. Pengaruh historis, yang dikontrol dengan upaya mencegah timbulnya kejadian-kejadian tertentu yang tidak diinginkan selama waktu penelitian berlangsung yang akhirnya dapat mempengaruhi hasil perlakuan.

b. Pengaruh kematangan dan kejenuhan, yang dikontrol dengan pelaksanaan penelitian tanpa merubah kondisi-kondisi yang berlaku sehingga subyek penelitian tidak mengalami perubahan fisik maupun mental yang dapat mempengaruhi hasil perlakuan.

c. Pengaruh tes kemampuan baca tulis Al Quran, yang dikontrol dengan pelaksanaan tes dilakukan pada saat mata pelajaran kelompok Pembelajaran Al Quran sehingga tidak menimbulkan kesan adanya kegiatan penelitian yang sedang berlangsung.

d. Pengaruh pengukuran hasil belajar, yang dikontrol dengan tidak mengadakan perubahan butir-butir soal yang dipakai setelah diadakan uji coba, kecuali membuang butir-butir soal yang tidak valid.

e. Pengaruh kehilangan peserta eksperimen, yang dikontrol dengan mengadakan pengontrolan absensi secara ketat kepada setiap subyek perlakuan.

f. Kontaminasi dalam kelas eksperimen, yang dikontrol dengan memberikan perlakuan yang sama baik kepada sampel penelitian maupun kepada siswa lain yang bukan termasuk sampel penelitian.

g. Kontaminasi antar kelas eksperimen, yang dikontrol dengan cara tidak memberikan informasi tentang adanya kegiatan penelitian. (Sugiyono. 2013: 189).

2. Validitas Eksternal

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga validitas eksternal adalah sebagai berikut:

a. Kesahihan populasi yaitu suatu upaya yang dilakukan dengan mengadakan pengontrolan terhadap implikasi suatu perlakuan yang dialami oleh sampel penelitian agar dapat digeneralisasi kedalam populasi dengan jalan:

1) Mengambil sampel yang dilibatkan dalam penelitian sesuai dengan karakteristik populasi yaitu seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 185 Jakarta pada semester Genap Tahun Pelajaran 2015-2016.

2) Penentuan kelas perlakuan dalam hal ini kelompok siswa yang mendapat perlakuan dengan strategi pembelajaran konstruktivisme dengan pendekatan konflik kognitif dan tanpa dengan pendekatan konflik kognitif dilakukan secara acak (random).

b. Subyek yang menjadi sampel penelitian ini (dua kelompok perlakuan) ditentukan berdasarkan tingkat motivasi belajar Al Quran yang terbagi atas klasifikasi motivasi belajar rendah dan motivasi belajar tinggi.

c. Kesahihan ekologi, upaya pengontrolan ini dilakukan untuk menjamin kondisi subyek penelitian terhindar dari pengaruh-pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian yaitu dengan jalan:

1) Membuat situasi kelas yang digunakan untuk perlakuan sama dengan kondisi pembelajaran sehari-hari dan kelas-kelas lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak merubah tatanan kelas yang ada, serta jadwal pembelajaran yang berlaku.

2) Tidak memberitahukan kepada siswa bahwa mereka sedang dijadikan subyek penelitian agar mereka tetap menunjukkan sikap secara alamiah seperti dalam kehidupan sehari-hari, dan selama penelitian berlangsung tetap menggunakan guru yang mengajar pada mereka sehari-hari sehingga situasi yang ada tetap normal seperti biasanya (Sugiyono, 2013: 190).

Dokumen terkait