METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data 1.Observasi Lapangan 1.Observasi Lapangan
“Observasi adalah cara atau teknik pengumpulan data dengan melakukan
pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang
ada pada obyek penelitian” (Tika, 1997: 68). Observasi dilakukan secara langsung terhadap obyek di tempat penelitian dengan cara yang sistematik atau berstruktur, yaitu menentukan unsur–unsur utama yang akan diobservasi secara sistematik. Unsur–unsur yang ditentukan tersebut disesuaikan dengan tujuan penelitian yang telah dibuat.
Data yang dikumpulkan dengan observasi lapangan ini adalah: Data lokasi halte angkutan umum
commit to user Kondisi halte angkutan umum
Kondisi lingkungan sekitar halte angkutan umum Jumlah penumpang yang dapat ditampung halte Pemenuhan Kriteria Lokasi Halte
2. Dokumentasi
Studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan data sekunder penelitian yang didapatkan dari instansi–instansi terkait. Dilaksanakan dengan mencatat, menyalin, mempelajari dan memilah data yang termuat, baik berupa peta, diagram, maupun buku-buku sesuai kebutuhan penelitian. Adapun data sekunder yang dikumpulkan melalui analisis dokumen dalam penelitian ini adalah:
Inventaris halte dan jarak antar halte
Peta Rupa Bumi Lembar 1408-343 Surakarta Jumlah penduduk Kota Surakarta
3. Wawancara
“ Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti
untuk mendapatkan keterangan – keterangan lisan melalui bercakap–cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si
peneliti” (Mardalis, 2002: 64). Wawancara ini dilakukan dengan pengemudi atau kondektur angkutan umum yang bertujuan untuk mengetahui persepsi mereka tentang halte angkutan umum. Data yang diperoleh dari wawancara berupa pengetahuan halte angkutan umum, fungsi dari halte angkutan umum, peranan halte angkutan umum sebagai salah satu fasilitas penunjang transportasi.
4. Kuesioner
Menurut Dr. Hudari Nawawi dalam Tika kuesioner adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden (Tika, 1997:82). Responden adalah orang yang memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang dimuat dalam angket. Dalam penelitian ini pengumpulan data dengan angket (kuesioner) tujuannya adalah untuk mengetahui persepsi penumpang tentang halte angkutan umum.
commit to user G. Analisis Data
“Analisis data adalah proses mengorganisasian dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan acuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data” (Moleong,
1989: 112). Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang telah didapat, yaitu dari hasil observasi dan studi dokumentasi, untuk kemudian dilakukan reduksi data, mengkategorikan data sampai dengan penafsiran data. 1. Persebaran Halte Angkutan umum Aktual di Kota Surakarta
Penentuan lokasi angkutan halte angkutan umum dengan cara perekaman/pencatatan dengan GPS pada tiap halte angkutan umum di semua kelas jalan yang ada di Kota Surakarta, kemudian diolah dan ditampilkan dalam peta menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).
2. Efektivitas Halte di Kota Surakarta
Penentuan efektivitas halte angkutan umum di Kota Surakarta dengan cara memberi harkat/scor pada setiap faktor yang mempengaruhi, sehingga diperoleh tingkat efektivitas halte angkutan umum. Semakin besar nilai parameternya maka halte tersebut semakin efektif. Sebaliknya, semakin kecil nilai parameternya maka halte tersebut semakin tidak efektif. Data fisik dan kondisi lingkungan jalan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Kondisi halte angkutan umum
Dalam penentuan kondisi halte angkutan umum dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
1) Melakukan klasifikasi data sekunder yang diperoleh dari DLLAJ Kota Surakarta.
2) Melakukan cek lapangan kondisi halte angkutan umum di seluruh jalan arteri maupun kolektor di Kota Surakarta.
Untuk mengetahui kondisi halte angkutan umum dinilai berdasarkan pada kondisi fisik halte yang meliputi kondisi tiang, kondisi atap dan kondisi lantai. Pemberian nilai pada tiap-tiap kondisi fisik halte menggunakan nilai 1 untuk
commit to user
kondisi fisik halte yang jelek, nilai 2 untuk kondisi fisik halte cukup baik dan nilai 3 untuk kondisi fisik halte baik. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel 7 berikut.
Tabel 8. Skor Kondisi Halte Angkutan Umum Kondisi
fisik halte
Keterangan Skor
Buruk Jika kondisi tiang halte sudah berkarat, kondisi atap pada halte terdapat banyak lubang atau hilang dan kondisi lantai pada halte hilang.
1
Cukup Jika kondisi tiang halte sedikit berkarat, kondisi atap pada halte terdapat lubang tapi masih dapat melindungi penumpang dan kondisi lantai halte terdapat lubang.
2
Baik Jika kondisi tiang pada halte tidak berkarat, kondisi atap tidak terdapat lubang dan kondisi lantai masih baik.
3
Sumber : Analisis
Setelah semua data terkumpul, kemudian diklasifikasikan dengan cara scoring terhadap kondisi halte.
b. Kondisi lingkungan
Untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitar halte angkutan umum, dilakukan pengamatan langsung terhadap lingkungan tersebut. Pada umumnya lingkungan di sekitar halte angkutan umum antara lain :
1. Akses terbatas, Jalan masuk langsung terbatas atau tidak ada sama sekali (sebagai contoh, karena adanya hambatan fisik, jalan samping) sehingga tidak ada kendaraan yang keluar masuk jalan, arus lalu lintas berjalan lancar.
2. Permukiman, Tata guna lahan tempat tinggal dengan jalan masuk langsung bagi pejalan kaki dan kendaraan.
3. Komersial, Tata guna lahan komersial (sebagai contoh: toko, restoran, kantor) dengan jalan masuk langsung bagi pejalan kaki dan kendaraan.
commit to user c. Jarak antar Halte
Untuk mengetahui jarak antar halte menggunakan salah satu fitur yang terdapat pada program SIG, kemudian diklasifikasikan dengan cara scoring sehingga diperoleh klasifikasi jarak antar halte yang sesuai standar Departemen Perhubungan Darat. Dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini.
Tabel 9. Jarak antar halte.
Zona Tata Guna Lahan Lokasi Jarak tempat
henti(m) 1 Pusat kegiatan sangat padat:pasar
pertokoan
CBD, Kota 200-300 2 Padat: perkantoran, sekolah dan jasa Kota 300-400
3 Permukiman Kota 300-400
4 Campuran padat : perumahan, sekolah, jasa
Pinggiran 300-500
5 Campuran jarang : perumahan, ladang, sawah.
Pinggiran 500-1000
Sumber : Departemen Perhubungan (1996 : 3)
d. Penempatan halte terhadap ruang lalu lintas
Tata letak halte terhadap ruang lalu lintas menurut Dirjen Perhubungan Darat (1996):
1. Jarak maksimum halte terhadap fasilitas penyeberang jalan kaki adalah 100 meter.
2. Jarak minimal halte dari persimpangan adalah 50 meter setelah atau bergantung pada panjang antrian
3. Jarak minimal halte dari gedung yang membutuhkan ketenangan seperti rumah sakit dan tempat ibadah adalah 100 meter.
4. Peletakan halte di persimpangan menganut sistem campuran yaitu sesudah persimpangan (far side) dan sebelum persimpangan (near side).
Untuk mengetahui nilai penempatan halte terhadap ruang lalulintas menggunakan nilai 1 untuk penempatan yang tidak memenuhi standar, nilai 2
commit to user
untuk penempatan yang cukup memenuhi standar dan nilai 3 untuk penempatan yang memenuhi standar. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel 9 berikut.
Tabel 10. Skor penempatan halte di jalan raya
Kondisi Keterangan Skor
tidak memenuhi
jarak penempatan halte terhadap fasilitas pejalan kaki >100 m, jarak penempatan halte dengan persimpangan >50 m.
1
Cukup memenuhi
jarak penempatan halte terhadap fasilitas 100m dan jarak penempatan halte dengan persimpangan >50 m
2
Memenuhi
jarak penempatan halte dengan fasilitas pejalan kaki 100 m dan jarak penempatan halte dengan persimpangan adalah 50 m
3
Sumber :Analisis
e. Kriteria penempatan lokasi halte
Pemenuhan kriteria penempatan halte menurut LPKM dibagi menjadi empat yaitu keselamatan, arus lalulintas, efisiensi dan public relation.
1. Keselamatan meliputi
-Jarak pandang penumpang, penilaian terhadap jarak pandang menggunakan nilai 1 untuk jarak pandang tidak jelas, nilai 2 untuk jarak pandang cukup jelas dan nilai 3 untuk jarak pandang jelas. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11. Skor jarak pandang penumpang saat menunggu di halte
kondisi keterangan skor
tidak jelas jarak pandang penumpang tidak jelas disebabkan adanya pohon yang menghalangi, terdapat mobil yang parkir.
1
cukup Terdapat pepohonan tetapi tidak terlalu menghalangi pandangan penumpang.
2 jelas pandangan penumpang tidak ada yang menghalangi. 3
Sumber : Analisis
-Keamanan penumpang, penilaian terhadap keamanan penumpang menggunakan nilai 1 untuk tidak aman, nilai 2 untuk keamanan cukup dan
commit to user
nilai 3 untuk keamanan yang aman. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 12. Skor keamanan penumpang
kondisi keterangan skor
tidak aman ketika penumpang naik atau turun angkutan umum mendapat banyak gangguan dari kendaraan lain.
1
cukup ketika penumpang naik atau turun angkutan umum tidak mendapat banyak gangguan dari kendaraan lain.
2
aman ketika penumpang tidak mengalami gangguan dari kendaraan lain.
3
Sumber : Analisis
-Jarak pandang terhadap kendaraan lain, untuk mengetahui jarak pandang terhadap kendaraan lain menggunakan nilai 1 untuk jarak pandang terhadap kendaraan lain tidak jelas, nilai 2 untuk jarak pandang terhadap kendaraan lain cukup jelas dan nilai 3 untuk jarak pandang terhadap kendaraan lain jelas. Keterangan lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 13. Skor jarak pandang terhadap kendaraan lain.
kondisi keterangan skor
tidak jelas terdapat angkutan umum yang berhenti di halte tetapi kurang menepi sehingga dapat menghalangi jarak pandang pengemudi angkutan umum terhadap kendaraan lain yang hendak keluar dari halte.
1
cukup Terdapat angkutan umum yang berhenti tidak begitu menghalangi pengemudi angkutan umum.
2
jelas tidak terdapat angkutan umum lain yang berhenti di halte sehingga tidak menggangu pandangan pengemudi ketika hendak keluar dari halte.
3
Sumber : Analisis
-Gangguan terhadap kendaraan lain, untuk gangguan terhadap kendaraan lain menggunakan nilai 1 untuk menggangu kendaraan lain, nilai 2 untuk cukup
commit to user
mengganggu kendaraan lain dan nilai 3 untuk tidak mengganggu kendaraan lain. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel 14 berikut.
Tabel 14. Skor gangguan terhadap kendaraan lain.
kondisi keterangan skor
mengganggu ketika angkutan umum berhentinya tidak menepi ke halte sehingga mengganggu kendaraan lain. Biasanya halte yang tidak memiliki teluk sehingga tidak tersedia ruang untuk angkutan umum menepi.
1
cukup ketika angkutan umum berhenti agak menepi ke halte dan kendaraan lain masih dapat lewat.
2 tidak
mengganggu
angkutan umum berhenti menepi ke halte, kondisi yang demikian biasanya terjadi ketika halte tersebut terdapat teluk sehingga terdapat ruang untuk berhenti angkutan umum.
3
Sumber : Analisis
-Jarak yang cukup terhadap penyeberangan, untuk mengetahui jarak yang cukup terhadap penyeberangan menggunakan nilai 1 untuk jarak jauh dari penyeberangan, nilai 2 untuk jarak yang cukup dari penyeberangan dan nilai 3 untuk jarak yang dekat dengan penyeberangan. Lebih jelas disajikan pada tabel 15 berikut.
Tabel 15. Skor jarak halte dengan fasilitas pejalan kaki.
kondisi keterangan skor
jauh jarak dari penyeberangan >100m atau tidak ada
penyeberangan. 1
cukup jarak penyeberangan 100m 2
dekat jarak penyeberangan <100m 3
Sumber : Analisis
2. Arus lalulintas meliputi
-Gangguan terhadap lalulintas lain saat berhenti, untuk mengetahui nilai gangguan terhadap lalulintas saat berhenti menggunakan nilai 1 untuk mengganggu lalulintas, nilai 2 untuk cukup mengganggu lalulintas dan nilai 3 untuk tidak menggangu lalulintas lain. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada tabel 16 berikut.
commit to user
Tabel 16. Skor gangguan terhadap lalulintas saat berhenti
kondisi keterangan skor
mengganggu
ketika angkutan umum berhenti kurang menepi sehingga mengakibatkan kemacetan karena lajur untuk kendaraan lain lewat kurang. Terjadi ketika halte tidak memiliki lay bus(teluk bus)
1
cukup mengganggu
ketika angkutan umum berhenti di halte masih terdapat lajur yang cukup untuk kendaraan lain lewat.
2
tidak menggangu
halte yang tidak mengganggu lalulintas ketika halte tersebut memiliki lay bus (teluk bus), sehingga angkutan umum yang berhenti dapat menepi.
3
Sumber : Analisis
-Gangguan terhadap lalulintas saat masuk dan keluar halte, untuk mengetahui nilai gangguan terhadap lalulintas lian saat masuk dan keluar pemberian nilainya sama dengan gangguan saat berhenti.
3. Efisiensi meliputi
-Jumlah penumpang yang terangkut banyak, untuk mengetahui nilainya menggunakan nilai 1 untuk sedikit penumpang yang naik dari halte tersebut, nilai 2 cukup banyak penumpang yang naik dari halte tersebur dan nilai 3 penumpang yang naik dari halte tersebut banyak. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada tabel 17 berikut.
Tabel 17. Skor efisiensi halte
kondisi keterangan skor
sedikit jumlah penumpang yang naik selama jam-jam sibuk 0-10 penumpang.
1 cukup jumlah penumpang yang naik selama jam-jam sibuk 11-20
penumpang .
2 banyak jumlah penumpang yang naik selama jam sibuk >20
penumpang.
3 Sumber : Analisis
-Memungkinkan penumpang untuk berpindah rute atau jalur lain, untuk kriteria ini seluruh halte dapat memenuhi karena tiap halte dilalui lebih dari 2 rute angkutan umum.
-Pembatas parkir, mengetahui nilai pembatas parkir menggunakan nilai 1 untuk tidak ada pembatas parkir dan nilai 2 untuk terdapat pembatas parkir.
commit to user 4. Public relation meliputi
-Informasi jalur dan tersedia tempat sampah dan telepon umum untuk seluruh halte yang diteliti fasilitas tersebut tidak tersedia.
-Tidak menyebabkan gangguan bagi lingkungan lain, untuk seluruh halte yang diteliti telah memenuhi kriteria tersebut.
Setelah data terkumpul semua dan dianalisis kemudian diklasifikasikan dengan cara scoring terhadap pemenuhan kriteria penempatan halte pada tiap-tiap halte.
Analisis efektifitas halte angkutan umum dilakukan untuk mengetahui tingkat efektifitas penempatan halte angkutan umum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memberi harkat (scor) terhadap parameter yang berpangaruh, diantaranya kondisi halte, jarak antar halte, pemenuhan karakteristik halte . Untuk memperoleh skor total, menggunakan formula berikut ini:
Nilai total = nilai A + nilai B + ... + nilai n
Dari formula di atas diperoleh nilai total terbesar dan nilai total terkecil. Satuan analisis untuk parameter yang mempunyai nilai total terkecil, maka tingkat efektivitas penempatan halte angkutan umum adalah rendah, sedangkan jika nilai total besar berarti tingkat efektivitas penempatan halte angkutan umum adalah tinggi.
Klasifikasi efektivitas halte angkutan umum dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kelas, yaitu tingkat efektivitas tinggi, sedang, dan rendah. Penentuan tingkat efektivitas halte angkutan umum dilakukan dengan menjumlahkan skor dari setiap faktor-faktor yang berpengaruh pada setiap halte angkutan umum, dengan penentuan kelas interval sebagai berikut :
k Xr Xt
commit to user
Xt : harkat tertinggi Xr : harkat terendah k : jumlah kelas
Setelah diketahui kelas efektivitas halte angkutan umum, kemudian menyajikannya ke dalam bentuk peta efektivitas halte angkutan umum, dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Fungsi analisis SIG yang dipilih sebagai fungsi analisis spasial, yaitu klasifikasi (reclassify) . Klasifikasi (reclassify) mengklasifikasikan kembali suatu data spasial (atau atribut) menjadi data spasial yang baru dengan kriteria tertentu.
Fungsi klasifikasi (reclassify) ini digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat efektivitas halte angkutan umum pada setiap kelas jalan. Sehingga dapat disajikan efektivitas halte angkutan umum pada setiap kelas jalan, baik jalan arteri, jalan kolektor, maupun jalan lokal di Kota Surakarta.
3. Analisis Jangkauan halte
Untuk mengetahui jangkauan halte digunakan analisis buffer dengan bantuan SIG. Jarak yang digunakan dalam pengukuran digunakan asumsi yang diperoleh dari hasil teknik dokumentasi dan wawancara serta angket yang kemudian diambil rata-rata ketersediaan seseorang untuk menggunakan halte. Dari hasil wawancara serta angket akan diketahui jarak jangkauan halte yang kemudian dibuffer dari lokasi halte.
commit to user H. Prosedur Penelitian
Tahapan–tahapan yang ditempuh dalam penelitian adalah: 1. Tahap Pra Penelitian
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan meliputi kegiatan studi pustaka untuk memperoleh literatur dan hasil penelitian yang relevan serta melakukan kajian data awal untuk keperluan penyusunan proposal penelitian.
b. Penyusunan Proposal
Proposal disusun sebagai pengajuan untuk melakukan penelitian. Melalui proposal dijelaskan latar belakang penelitian, permasalahan yang dikaji, tujuan, landasan teori, serta metode apa yang digunakan. Bahkan gambaran mengenai hasil penelitian juga tertuang di dalamnya.
c. Penyusunan instrumen
Instrumen penelitian disusun dan dibuat terkait dengan kegiatan pengumpulan data penelitian, sebagai pedoman maupun alat pengumpul data. d. Perijinan
Perijinan ditujukan kepada instansi–instansi yang terkait berkenaan dengan legalisasi kegiatan pengumpulan data yang akan dilakukan pada saat penelitian dan penyusunan laporan.
2. Tahap Penelitian a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung untuk pengumpulan
data primer di lokasi penelitian dan studi dokumen (data sekunder) dari instansi– instansi yang terkait.
b. Penyusunan data
Data yang telah diperoleh dari observasi lapangan dan studi dokumen dikumpulkan, kemudian dipilah–pilah sesuai kebutuhan, disusun dan dikategorisasikan sedemikian rupa sehingga menjadi terstruktur.
commit to user 3. Tahap Akhir
a. Pengolahan Data
Struktur data yang telah dikategorisasikan kemudian diolah termasuk didalamnya dilakukan pemeriksaan keabsahan data.
b. Analisis Data
Analisis dilakukan dengan cara penafsiran data untuk memperoleh suatu teori substantif dengan metode tertentu.
c. Pelaporan
Kegiatan pelaporan dilakukan dengan penyusunan laporan dalam bentuk hardcopy maupun softcopy sebagai output kegiatan penelitian secara nyata.
commit to user
43
BAB IV
HASIL PENELITIAN