Melakukan pemeriksaan mental emosional pada anak maupun orang dewasa secara umum mempunyai dasar yang hampir sama. Terapis harus menunjukkan keprihatinan, respek, empati dan kompetensi agar terbina rapport dan kepercayaan, sehingga pasien dapat berbicara jujur dan intim/pribadi. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada waktu berhadapan dengan seorang anak;
1. Sejak lahir anak sudah mempunyai temperamen dan perasaan yang unik tentang dirinya, sehingga setiap anak akan bereaksi dengan cara yang berbeda terhadap stressor yang sama. Sebagian anak mungkin mampu beradaptasi dengan stressor ini, sebagian lagi mungkin akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan konflik yang dihadapinya.
Dengan demikian anak dengan tingkat perkembangan yang sama belum tentu akan mengekspresikan problem yang dihadapinya dengan cara yang sama pula. Sebagian anak mungkin akan mengekspresikan problem ini melalui kata-kata, sebagian lain mungkin melalui keluhan-keluhan fisik atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan usia perkembangannya.
2. Lingkungan dimana anak berada juga dapat mempengaruhi perasaan, temperamen dan reaksi-reaksi anak terhadap suatu stressor. Reaksi timbal balik antara faktor lingkungan dengan anak sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan fisik, mental emosional serta intelektual anak yang masih berkembang.
3. Anak merupakan individu yang masih tumbuh dan berkembang jika dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah lebih mantap pola kepribadiannya. Oleh karena
itu dengan penanganan sedini dan seoptimal mungkin maka sebagian besar problem perilaku emosional anak cenderung lebih mudah di atasi.
4. Deteksi dan penanganan problem perilaku dan emosional pada anak lebih kompleks dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh:
a. Anak belum mempunyai pengertian yang baik bahwa dirinya sakit atau membutuhkan pertolongan
b. Fungsi kognitif anak masih dalam perkembangan, sehingga masih sulit untuk menerima berbagai konsep sebab akibat dalam kehidupannya
c. Anak masih belum mengantisipasi masa depan Tujuan dari evaluasi psikiatrik adalah untuk:
a. Untuk mengumpulkan data dalam usaha membuat diagnosis problem atau gangguan mental emosional yang dialami oleh anak.
b. Untuk menentukan kekuatan dan kelemahan psikologik anak dalam kaitannya dengan perencanaan tatalaksana yang akan dilakukan.
c. Sebagai landasan dalam perencanaan psikoterapi yang akan dilakukan. Deteksi problem perilaku dan emosi anak
Dalam pengertian yang luas, perilaku seorang anak tidak hanya mencakup fungsi motorik saja, seperti bermain, berlari, berjalan, tidur makan, tetapi juga meliputi kemampuan berbahasa dan interaksi sosial (yang juga dipengaruhi oleh kondisi emosional seseorang). Perilaku dan emosi anak dikatakan abnormal jika perilaku dan reaksi emosi anak tidak lagi sesuai dengan dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sosial dimana anak itu berada. Dengan demikian, tidaklah mudah untuk mendefinisikan secara eksplisit problem perilaku dan emosi pada seorang anak. Untuk mempermudah proses ini maka dibutuhkan pengetahuan mengenai teori perkembangan anak baik fisik maupun mental emosional dan keterampilan untuk melakukan wawancara psikiatrik yang cukup baik. Agar deteksi ini dapat dilakukan oleh para tenaga kesehatan yang bekerja di pusat-pusat pelayanan kesehatan primer ataupun oleh tenaga-tenaga pendidik, maka World Health Organization (WHO) mengeluarkan suatu alat bantu yang disebut Reporting Questionnaire on Children (RQC). RQC ini terdiri dari 10 buah pertanyaan, jika dalam evaluasi anak ditemukan adanya jawaban positif dari minimal satu buah pertanyaan maka anak tersebut memerlukan evaluasi lanjutan untuk masalah tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara psikiatrik pada anak:
a. Menjadi pendengar yang aktif dan bersifat fleksibel sewaktu berkomunikasi dengan pasien.
b. Mampu berempati.
c. Menggunakan cara dan tehnik yang tepat (sesuai dengan tingkat perkembangan anak) dalam berelasi dengan anak sehingga anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan apa yang dirasakan dan pengalaman-pengalamannya dengan pemeriksa. Sebagai contoh, ada anak yang merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan pemeriksa jika hanya didampingi oleh boneka/mainan kesayangannya. Anak lain mungkin mungkin perlu didampingi oleh orang tua atau orang terdekatnya untuk mengurangi kecemasan pada waktu berhadapan dengan pemeriksa. Disamping itu perlu diingat bahwa tidak semua anak mampu berkomunikasi verbal dengan lancar pada waktu pemeriksaan, sebagian anak mungkin membutuhkan media gambar atau bermain dalam usaha untuk membentuk relasi yang optimal dengan pemeriksa.
d. Mampu mendeteksi kata-kata kunci dan tema-tema ypikiran yang tidak disadari anak.
e. Jika memungkinkan maka proses wawancara direkan baik secara audio atau video. f. Frekuensi wawancara dilakukan seminimal mungkin (2-3 kali) untuk mencegah
timbulnya konfabulasi pada anak.
g. Hindari mengulang-ulang pertanyaan yang sama, atau memberi beberapa pertanyaan sekaligus.
h. Hindari pertanyaan yang bersifat sugesti atau yang akan mengarahkan pasien pada satu jawaban tertentu.
i. Ulangi pertanyaan dengan format pertanyaan yang berbeda untuk menilai konsistensi anak dalam memberi jawaban.
j. Ulangi pernyataan anak dalam usaha untuk meyakinkan anak bahwa pemeriksa mengerti apa yang dikemukakannya.
k. Jika memungkinkan lakukan wawancara pada anak tanpa didampingi oleh orang tuanya. Pada anak yang masih kecil dapat dipertimbangkan untuk didampingi oleh anggota keluarga dekat lainnya (bukan orang tua).
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan psikiatrik pada anak
a. Bina rapport sedini mungkin, disamping itu lakukan juga observasi informal perilaku, keterampilan sosial dan kemampuan kognitif anak.
b. Mintalah anak untuk menceritakan dua kejadian spesifik yang pernah dialaminya. Hal ini dilakukan untuk menilai daya ingat anak. Disamping itu juga bertujuan untuk menentukan tehnik dan model wawancara yang akan dilakukan selanjutnya. Tanyakan pertanyaan yang bersifat terbuka dan tidak mensugesti sehingga pola wawancara akan mengalir dengan sendirinya.
c. Buat kesepakatan dengan anak bahwa hanya pernyataan yang benar saja yang akan didiskusikan, bukan fantasi atau pernyataan yang bersifat kebohongan. Katakan kepada anak jika ia tidak mengetahui jawaban yang ditanyakan, tidak menjadi masalah kalau ia menjawab tidak tahu. Jika ia lupa dengan suatu kejadian juga merupakan hal yang lazim, sehingga anak akan memberikan jawaban yang jujur.
d. Mulailah wawancara dengan topik yang umum baru kemudian menjurus ke arah yang lebih spesifik sesuai dengan keperluan. Misalnya; apakah kamu tahu alasannya kenapa hari ini kamu bertemu dengan saya? atau yang lebih spesifik; apakah telah terjadi sesuatu dengan kehidupan kamu? atau apakah ada orang yang melakukan perbuatan buruk kepadamu? Mungkin diperlukan bantuan gambar atau bermain dalam usaha untuk membantu anak mengemukakan masalahnya. Misalnya pemeriksa membuat gambar muka orang dan anak akan melengkapinya dengan anggota tubuh orang tersebut. Hal ini sangat membantu dalam wawancara kasus yang dicurigai kasus kekerasan seksual. Melalui kegiatan ini pemeriksa dapat mengajukan pertanyaan; ’apakah anak pernah melihat bagian tubuh orang seperti yang ada dalam gambar?, ‘bagian tubuh apa yang pernah dilihatnya?’, ‘apakah ada orang yang pernah menyentuh bagian tubuhnya itu atau apakah ia pernah menyentuh bagian yang ditunjukkan itu?’ . Jika kasus merupakan kasus kekerasan fisik, pemeriksa juga dapat bertanya ’apakah bagian tubuh orang yang ada dalam gambar tersebut pernah disakiti dengan berbagai cara?’
e. Biarkan anak mulai bercerita. Jika topik spesifik kekerasan sudah dikemukakan, dukung dan bantu anak untuk menceritakan kejadiannya lebih runut tanpa meninggalkan detail. Anak dibiarkan dulu bercerita, jangan diinterupsi atau dikoreksi. Jika peristiwa kekerasan yang dialami anak sudah berlangsung lama, tanyakan juga
mengenai pola kekerasan dan jumlah episode yang pernah dialami. Tanyakan juga mengenai perasaan yang dirasakan saat itu dan saat ini. Pada kesempatan ini juga dilakukan observasi status mentalis anak yang meliputi:
a. Penampilan dan perilaku anak saat wawancara
Penampilan dapat menggambarkan fungsi ego, seperti identifikasi bentuk tubuh anak sehingga mampu memberikan gambaran secara keseluruhan dari sang anak. Kepatuhan dan ketidakpatuhan anak juga digambarkan serta kondisi gizi anak. Keadaan fisik/gizi, jerawat pada wajah, keadaan cacat fisik, kecemasan/murung, dan gangguan perkembangan lain juga sebaiknya digambarkan, seperti keterlambatan bahasa dan tumbuh kembang lainnya. Kerapian dan batas kewajaran berpakaian juga dijelaskan pada kesempatan ini.
b. Proses Pikir dan Verbalisasi
Pembicaraan spontan dan verbalisasi selama bermain merupakan bagian dari proses berpikir spontan. Tema yang berulang-ulang dalam permainan berkaitan dengan permasalahan uang sedang dihadapinya dan juga merupakan mekanisme penghindaran dari masalah yang dihadapinya. Pemeriksa mengupayakan supaya dapat memasuki kepada topik pembicaraan yang bersifat spontan yang dapat menimbulkan minat pada anak. Pemeriksa membiarkan anak bercerita sesuai dengan kata-katanya, lingkungan sosial budayanya, minat dan segala kemampuan dalam mengorganisir pikirannya.
c. Orientasi dan Persepsi
Orientasi lebih mencerminkan pemahaman anak terhadap realitas. Pemeriksa dapat membandingkan kemampuan intelektualitas anak dengan anak lain yang mempunyai usia yang sebanding dengan anak yang bersangkutan. Orientasi ini termasuk orientasi waktu, tempat, dan orang. Orientasi dapat diperiksa dengan menanyakan tentang waktu, alamat rumahnya, hari ulang tahun, cuaca, dan lain-lain.
Persepsi lebih menunjukkan kesan indera yang ditangkap oleh si anak. Dalam menilai persepsi, pemeriksa perlu mengetahui perbedaan yang jelas mengenai kemampuan anak untuk membedakan antara fantasi dan realitas. Pada anak berusia 3-4 tahun, kemampuan ini masih samar. Kemampuan ini akan bertambah dan anak sudah mampu membedakan kedua hal tersebut pada usia 6-7 tahun. Gangguan persepsi dapat terjadi pada seluruh indera, misalnya pendengaran, penglihatan, pengecapan, dan lain-lain.
d. Mood dan afek
Mood dan afek menunjukkan perasaan si anak. Hal yang perlu diperhatikan adalah fluktuasi dan perubahan mood dan afek selama wawancara terutama pada perubahan satu topik ke topik lainnya. Afek didefinisikan sebagai kondisi emosi seseorang yang bersifat singkat dan umumnya distimulasi oleh suatu keadaan atau situasi tertentu. Mood digambarkan sebagai suasana perasaan yang menetap dan berkepanjangan yang mewarnai seluruh kehidupan anak.
e. Fungsi kognitif dan Integritas Neuromuskuler Lihat teori tumbuh kembang
f. Fantasi dan persepsi anak tentang diri dan lingkungannya
Fantasi adalah bagian dari proses pikir yang merefleksikan fungsi ego. Sering fantasi digunakan sebagai mekanisme coping , menggambarkan kemampuan persepsi dan intelektual. Fantasi dalam bermain atau bercerita biasanya menggambarkan area problematik intrapsikik dan pengalaman interpersonal anak. Kualitas materi fantasi dapat menjadi berkurang oleh kondisi cemas atau kondisi gangguan jiwa berat lainnya. Fantasi dapat diungkapkan melalui permainan bebas, menggambar, mimpi atau bercerita dan juga harapan-harapan anak. Bagi pemeriksa hal yang penting diketahui adalah membedakan antara fantasi dengan realitas atau gangguan proses pikir lainnya seperti waham.
f. Dalam tahap ini juga dapat digunakan mainan-mainan yang disukai anak untuk membantu proses pemeriksaan. Misalnya pada kasus kekerasan fisik, boneka mungkin berguna dalam usaha mengkonkritkan kejadian yang di alami anak. Mainan ini bukan digunakan sebagai pemeriksaan penunjang diagnostik, melainkan hanya bertujuan untuk mengklarifikasikan apa yang sebenarnya terjadi pada anak.
g. Akhiri pemeriksaan ini dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat umum kembali, serta beri kesempatan kepada anak untuk mengajukan pertanyaan. Pemeriksa jangan memberikan janji-janji tertentu kepada anak, dukung kemampuan anak yang
masih ada.