BAB III METODE PENELITIAN
E. TeknikAnalisis Data
Tekni kanalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dapat mengambarkan secara sistematis, faktual, danakurat mengenai data yang telah dianalisis dan berupa angka-angka yang telah diperhitungkan. Teknik pada data penelitian ini menggunakanan alisis trend. Analisis trend digunakan untuk mengetahui perkembangan kinerja keuangan PT Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018. Berdasarkan terd angka-angka rasio tertentu, dapat diketahui mengenainaik, turun atau konstan rasio-rasio tersebut. Dari gambaran ini dapat dideteksi masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dan baik buruknya pengelolaan keuangan perusahaan khususnya pada PT Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018.
Berdasarkan hasil perhitungan dari analisis rasio keuangan atas laporan keuangan pada periode penelitian yang telah ditentukan, keadaan keuangan perusahaan setiap periode ke periode dapat diketahui perkembangannya apakah mengalami kenaikan atau penurunan dan bagaimana kinerja keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan baik
atau tidak baik dari tahun-tahun sebelumnya. Adapun rasio keuangan yang digunakan sebagai berikut:
a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban lancar dengan menggunakan elemenelemen dari aktiva lancar. Rasio ini menggambarkan posisi likuiditas perusahaan ( Nofrivul, 2008: 11).
Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan terdiri dari;
1. Current Ratio (Rasio Lancar)
Rumusan untuk mencari Current Ratio (Rasio Lancar) adalah sebagai berikut :
Current Ratio =
x 100%
Dari hasil penukuran rasio, apabila rasio lancar rendah dapat dikatakan perusahaan kurang modal untuk membayar hutang. Namun, apabilah asil pengukuran rasio tinggi belum tentu kondisi perusahaan sedang baik, hal ini dapat terjadi Karena kas tidak digunakan sebaik mungkin (Kasmir, 2011:
135).
2. Cash Ratio (Rasio Kas)
Rumusan untuk mencari Cash Ratio (Rasio Kas) adalah sebagai berikut (Kasmir, 2011: 136) :
Cash Ratio =
x100%
Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik perusahaan tersebut karena mampu membayar kewajiban jangka pendeknya.
3. Quick ratio (Rasio Sangat Lancar)
Rumusan untuk mencari Quick ratio (Rasio sangat lancar) adalah sebagai berikut (Kasmir, 2011: 138) :
Quick Ratio =
x100%
Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik perusahaan tersebut karena mampu membayar kewajiban jangka pendeknya.
b. Rasio Solvabilitas
Solvabilitas adalah menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang atau kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan utang jang kapanjang.
4. Debt Ratio (Rasio Hutang)
Rumusan yang digunakan untuk menghitung Debt Ratio adalah :
Debt Ratio yang dihasilkan tinggi maka pendanaan dan hutang perusahaan semakin banyak. Dan apabila rasio yang dihasilkan rendah maka semakin kecil perusahaan dibiayai dengan hutang (Kasmir, 2011: 156-157).
5. Debt to Equity Ratio
Rumusan untuk mencari Debt to Equity Ratio adalah sebagai berikut :
Debt to Equity Ratio
Semakin tinggi (besar) Debt to Equity Ratio yang dihasilkan oleh suatu perusahaan akan semakin tidak baik bagi perusahaan tersebut. Dengan rasio yang rendah, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam jika terjadi kerugian atau penyusutan terhadap nilai aktiva (Kasmir, 2011: 158).
6. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
LTDtER merupakan rasio utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian
dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan urang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
Rasio rata-rata industry untuk Long Term Debt to Equity Ratiosebesar 35% (Kasmir, 2011: 159).
Rumusan untuk mencari LTDtER adalah sebagai berikut:
c. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan menggunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana penggunaan aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud akan memperoleh hasil yang maksimal. Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitasaktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif (Halim, 2007: 78).
1. Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)
Rumusan untuk mencari receivable turn over adalah sebagai berikut :
x 1 kali
Semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah (dibandingkan dengan rasio sebelumnya) tentunya kondisi ini sangat baik untuk perusahaan. Sebaliknya jika rasio semakin rendah ada over investment dalam piutang (Harahap, 2011: 308).
2. Average Collection Period
Rasio Average Collection Period dimaksudkan untuk melihat rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penagihan piutang dalam satu periode biasanya 1 tahun, sehingga dapat diketahui berapa lama dana akan tertanam dalam piutang.
Dengan memperhatikan rasio ini kita dapat mengetahui efektivitas dari penjualan piutang. Selanjutnya perusahaan dapat menetapkan kebijaksanaan piutang terutama dalam kaitannya terhadap penetapan jangka waktu kredit yang diberikan langganan (Nofrivul, 2008: 19).
Average Collection Periode=
3. Perputaran Aktiva (Assets Turn Over/ATO)
Rumus untuk mencari Assets Turn Over adalah sebagai berikut :
x 1 kali
Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan atau seberapa jauh kemampuan aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik, artinya kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan tinggi (Kasmir, 2010: 175-178).
4. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover/WCTO) Rumusan yang digunakan untuk mencari Working Capital Turn over adalah sebagai berikut :
Rasio ini menunjukkan keefektifan modal kerja selama periode tertentu. Semakin besar hasil rasio ini semakin baik bagi perusahaan dalam mengukur keefektifannya (Kasmir, 2011: 114).
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah ratio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis-jenis rasio profitabilitas di pakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang di peroleh dari kinerja suatu perusahaan yang mempengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan (Novia, 2018:1).
1. Gross Profit Margin(GPM)
Margin laba kotor merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba kotor terhadap pendapatan yang di hasilkan dari penjualan. Laba kotor yang di pengaruhi oleh laporan arus kas memaparkan besaran laba yang di dapatkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan biaya yang terpakai untuk memproduksi produk dan jasa (Lukman, 2011:
60).
GPM =
X 100%
2. Net Profit Margin ( NPM )
Net Profit Marginatau margin laba bersih merupakan keuntungan penjualan setelah menghitung seluruh biaya dan pajak penghasilan. Margin ini menunjukkan perbandingan laba bersih setelah pajak dengan penjualan (Lukman, 2011: 62).
Rumus Net Profit Margin : NPM =
X 100%
3. Return on Investment (ROI)
Return on Investment membandingkan laba setelah pajak dengan total aktiva (Martono, 2005: 60).
RumusReturn on Investment :
ROI =
X 100%
4.
Return on Equity (ROE)Return on Equity atau sering disebut dengan rentabilitas modal sendiri dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri (Martono, 2015: 60).
Rumus Return on Equity :
ROE =
X 100%
58 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Profil PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
PT Binakarya Jaya Abadi, Tbk (Perseroan) merupakan buah dari pengalaman sukses di bisnis properti selama lebih dari 20 tahun melalui PT Binakarya Propertindo Group. Perseroan yang berdiri pada tahun 2007 adalah salah satu perusahaan developer properti terkemuka di Indonesia. Fokus usaha Perseroan yaitu pengembangan bisnis properti di bidang pembangunan apartemen, perumahan dan kawasan komersial.
Dalam perkembangannya, Perseroan telah menjadi satu kelompok usaha properti melalui akusisi sejumlah perusahaan properti. Melalui 19 Entitas Anak dan 2 Entitas Asosiasi, Perseroan mengelola total 19 proyek pembangunan properti yang tersebar di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung dan Bali.
Proyek-proyek yang telah dikembangkan Perseroan yaitu:
No Nama Proyek Jenis
Bekasi
1 Bekasi Town Square Apartment
2 Palm Green Residence Landed House
3 Apartment Juanda Apartment
Bogor
4 Bogor Valley Residence & Hotel Hotels Jakarta
5 Gateway Ciledug Apartment
6 Casablanca East Residences Apartment
7 Pluit Sea View Apartment
8 Foresque Apartment
Palm Bay Water Park Recreation Park
10 Paradise Mansion Landed House
11 Park Residence Landed House
12 Royal Palm Landed House
13 CBD Palm Crown I & II Commercial Complex
14 Rukan Palm Crown Commercial Complex
Bandung
15 Gateway Pastuer Apartment
Bali
16 Hotel Arjuna Legian Bali Hotels 17 Swiss-Belhotel Kuta – Bali Hotels 18 Hotel Dyana Pura Seminyak Hotels
19 Hotel Kediri Hotels
Disamping itu, Perseroan juga memiliki satu usaha pendukung yaitu pabrik bata ringan aerasi (AAC) dengan merek BETACON.PT Griya Mandiri Perkasa, Entitas Anak Perseroan, memiliki luas pabrik 50.544 m² yang mulai beroperasi pada tahun 2014. Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300.000 m³ bata ringan pertahun.
Proses produksi AAC BETACON didukung oleh tenaga ahli profesional dengan menggunakan mesin-mesin berteknologi mutakhir yang dikendalikan secara otomatis secara komputerisasi.
2. Visi dan Misi PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk a. Visi
Menjadi pengembang dan pengelola properti terbaikdi Indonesia dengan memberikan nilai ekonomi yangterus bertambah kepada para konsumen, karyawan danpemegang saham.
b. Misi
1) Menjadi developer terpercaya yang menghadirkanproduk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau,
2) Meningkatkan kinerja perusahaan dan kepercayaan investor melalui pertumbuhan keuntungan dan kredibilitas yang memuaskan,
3) Menjadi perusahaan yang peduli pada aspek-aspek sumberdaya manusia dan lingkungan hidup.
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Rasio Likuiditas
Current Ratio PT.Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 Tahun Aktiva Lancar 2014 1.266.484.094.739 935.381.737.851 135 2015 1.747.745.652.759 864.574.202.579 202 2016 1.762.683.474.877 699.285.606.836 252 2017 1.870.261.218.478 472.440.994.184 395 2018 1.860.337.087.272 579.451.267.667 321
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 perusahaan memiliki aktiva lancar sebanyak 1,35 kali dari total hutang lancar (1,35 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 1,35 rupiah aktiva lancar. Pada tahun 2015 perusahaan memiliki aktiva lancar sebanyak 2,02 kali dari total hutang lancar (2,02 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 2,02 rupiah aktiva
lancar. Pada tahun 2016 perusahaan memiliki aktiva lancar sebanyak 2,52 kali dari total hutang lancar (2,52 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 2,52 rupiah aktiva lancar. Pada tahun 2017 perusahaan memiliki aktiva lancar sebanyak 3,95 kali dari total hutang lancar (3,95 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 3,95 rupiah aktiva lancar. Pada tahun 2018 perusahaan memiliki aktiva lancar sebanyak 3,21 kali dari total hutang lancar (3,21 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 3,21 rupiah aktiva lancar.
Jika rata-rata industri untuk current ratio adalah 200%, maka keadaan perusahaan untuk tahun 2014 berada dalam kondisi kurang baik mengingat rasionya di bawah rata-rata industri.
Namun pada tahun 2015-2018 berada dalam kondisi baik mengingat rasionya diatas rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi TBK untuk current ratio berada dalam kondisi baik.
b. Cash Ratio (Rasio Kas)
Cash Ratio PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 Tahun Kas dan setara kas 2014 148.341.050.958 935.381.737.851 16 2015 164.032.064.374 864.574.202.579 19 2016 146.445.388.165 699.285.606.836 21 2017 164.774.748.077 472.440.994.184 35 2018 122.507.646.809 579.451.267.667 21
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 perusahaan memiliki kas atau setara kas sebanyak 0,16 kali dari total hutang lancar (0,16 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 0,16 rupiah kas atau setara kas. Pada tahun 2015 perusahaan memiliki kas atau setara kas sebanyak 0,19 kali dari total hutang lancar (0,19 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 0,19 rupiah kas atau setara kas. Pada tahun 2016 perusahaan memiliki kas atau setara kas sebanyak 0,21 kali dari total hutang lancar (0,21 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 0,21 rupiah kas atau setara kas. Pada tahun 2017 perusahaan memiliki kas atau setara kas sebanyak 0,35 kali dari total hutang lancar (0,35 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 0,35 rupiah kas atau setara kas.Pada tahun 2018 perusahaan memiliki kas atau setara kas sebanyak 0,21 kali dari total hutang lancar (0,21 : 1), atau dengan kata lain bahwa setiap 1 rupiah hutang lancar dijamin oleh 0,21 rupiah kas atau setara kas.
Jika rata-rata industri untuk cash ratio adalah 50%, maka keadaan perusahaan untuk tahun 2014-2018 berada dalam kondisi kurang baik mengingat rasionya di bawah rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi TBK untuk cash ratio berada dalam kondisi kurang baik.
c. Quick Ratio
Rumusan untuk mencari Quick ratio (Rasio Sangat Lancar) adalah sebagai berikut.
Quick Ratio =
x 1 kali
Tabel 4. 3
Quick ratio PT. Binakarya Jaya Abadi TbkTahun 2014-2018 Tahun Kas dan 2014 148.341.050.958 12.527.478.790 935.381.737.851 17 2015 164.032.064.374 28.883.201.976 864.574.202.579 22 2016 146.445.388.165 17.956.210.886 699.285.606.836 23 2017 164.774.748.077 13.244.038.940 472.440.994.184 38 2018 122.507.646.809 7.637.989.841 579.451.267.667 22 Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi piutang sebesar 0,23 rupiah. dan pada tahun 2017 setiap 1 rupiah hutang lancar mampu dibayar oleh kas atau setara kas ditambah piutang sebesar 0,38 rupiah. Pada tahun 2018 setiap 1 rupiah hutang lancar mampu dibayar oleh kas atau setara kas ditambah piutang sebesar 0,22 rupiah.
Jika rata-rata industri untuk Quick ratio adalah 1.5 kali, maka keadaan perusahaan untuk tahun 2014-2018 berada dalam kondisi baik mengingat rasionya di atas rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi TBK untuk Quick ratio ratio berada dalam kondisi baik.
2. Rasio Solvabilitas
a. Debt Ratio (Rasio Hutang)
Rumusan yang digunakan untuk menghitung Debt Ratio adalah :
Tabel 4. 4
Debt Ratio PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 Tahun Total Hutang 2014 1.356.633.838.398 1.733.404.300.186 78 2015 1.470.706.155.676 2.137.499.950.786 69 2016 1.731.221.077.695 2.400.682.388.179 72 2017 1.678.796.791.720 2.374.443.387.792 71 2018 1.674.921.852.871 2.333.636.785.839 72
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya modal. dan pada tahun 2017, 71% aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang dan sisanya sebanyak 29% oleh modal atau setiap 1 rupiah aktiva 0,71 nya dibiayai oleh hutang dan 0,29 nya dibiayai oleh modal. Pada tahun 2018, 72% aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang dan sisanya sebanyak 28% oleh modal
Dari tabel di atas menunjukan hasil dari debt ratio mengalami kenaikan dan penurunan. Jika dibandingkan dengan standar
rata-rata industri 35%, maka kondisi perusahaan untuk tahun 2014-2018 dinilai kurang baik karena perusahaan berada di atas rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk untuk tahun 2014-2018 berada pada kondisi kurang baik.
b. Debt to Equity Ratio
Rumusan untuk mencari Debt to Equity Ratio adalah sebagai berikut :
Debt to Equity Ratio
%
Tabel 4. 5
Debt to Equity Ratio (DER) PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun Total Hutang
(Rp)
Total Modal Sendiri (Rp)
DER (%) 2014 1.356.633.838.398 376.770.461.788 360 2015 1.470.706.155.676 666.793.795.110 220 2016 1.731.221.077.695 669.461.310.484 258 2017 1.678.796.791.720 695.646.596.072 241 2018 1.674.921.852.871 658.714.932.968 254
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 perusahaan memiliki hutang sebanyak 3,6 kali dari total modal (3,6 : 1) atau setiap 1 rupiah hutang hanya dijamin oleh 0,27 modal. Pada tahun 2015 perusahaan memiliki hutang sebanyak 2,2kali dari total modal (2,2 : 1) atau setiap 1 rupiah hutang hanya dijamin oleh 0,45 modal. Pada tahun 2016 perusahaan memiliki hutang sebanyak 2,58 kali dari total modal (2,58 : 1) atau setiap 1 rupiah hutang hanya dijamin oleh 0,38 modal. dan pada tahun 2017 perusahaan memiliki hutang sebanyak 2,41 kali dari total modal (2,41 : 1) atau setiap 1 rupiah hutang hanya dijamin oleh 0,41 modal. Pada tahun 2018 perusahaan memiliki hutang sebanyak
2,54 kali dari total modal (2,54 : 1) atau setiap 1 rupiah hutang hanya dijamin oleh 0,39 modal.
Dari tabel di atas untuk Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan dan penurunan. Jika rasio rata-rata industri untuk Debt to Equity Ratiosebesar 80%, maka kondisi perusahan pada tahun 2014-2018 berada pada posisi kurang baik karena perusahaan berada di atas rata-rata industri.Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk tahun 2014-2018 berada pada posisi kurang baik.
c. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
Rumusan untuk mencari Total Aset to Total Debt adalah sebagai berikut :
Tabel 4. 6
Long Term Debt to Equity RatioPT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018
Tahun Total Hutang Jangka Panjang
(Rp)
Total Modal(Rp) (%)
2014 421.252.100.547 376.770.461.788 112 2015 606.131.953.097 666.793.795.110 91 2016 1.031.935.470.859 669.461.310.484 154 2017 1.206.355.797.536 695.646.596.072 157 2018 1.095.470.585.204 658.714.932.968 166
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa PT.
Binakarya Jaya Abadi Tbk. Pada tahun 2014 kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban dengan menggunakan modal adalah sebesar 112%, artinya setiap 1 rupiah hutang dijamin oleh aktiva sebesar 1,12 rupiah. Pada tahun 2015 kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban dengan menggunakan modal sebesar 91%, artinya 1 rupiah hutang dijamin
oleh aktiva sebesar 0,91 rupiah. Pada tahun 2016 kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban dengan menggunakan modal sebesar 154%, artinya setiap 1 rupiah hutang dijamin oleh aktiva sebesar 1,54 rupiah. dan pada tahun 2017 kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban dengan menggunakan aktiva sebesar 157%, artinya 1 rupiah hutang dijamin oleh aktiva sebesar 1,57 rupiah. Pada tahun 2018 kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban dengan menggunakan aktiva sebesar 166%, artinya 1 rupiah hutang dijamin oleh aktiva sebesar 1,66 rupiah.
Dari tabel di atas dari tahun 2014-2018 mengalami kenaikan. Rata-rata industri untuk sebesar 35%, maka kondisi perusahaan untuk tahun 2014-2018 dinilai kurang baik karena perusahaan berada di atas rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk untuk tahun 2014-2018 berada pada kondisi kurang baik.
3. Rasio Aktivitas
a. Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)
x 1 kali
Tabel 4. 7
Perputaran Piutang (Receivable Turn Over) PT.
Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 Tahun Penjualan (Rp) Piutang (Rp) Perputaran
Piutang(kali) 2014 957.451.176.865 12.527.478.790 76,4 2015 1.013.949.535.101 28.883.201.976 35,1 2016 631.183.291.034 17.956.210.886 35,2 2017 482.386.824.523 13.244.038.940 36,4 2018 407.818.436.673 7.637.989.841 53,4
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat dilihat bahwa Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk pada tahun 2014 sebesar 76,4 kali artinya perputaran piutang dalam
setahun sebanyak 76,4 kali untuk menghasilkan penjualan. Pada tahun 2015 sebesar 35,1 kali artinya perputaran piutang dalam setahun sebanyak 35,1 kali untuk menghasilkan penjualan. Pada tahun 2016 sebesar 35,2 kali artinya perputaran piutang dalam setahun sebanyak 35,2 kali untuk menghasilkan penjualan. Pada tahun 2017 sebesar 36,4 kali artinya perputaran piutang dalam setahun sebanyak 36,4 kali untuk menghasilkan penjualan. Pada tahun 2018 sebesar 53,4 kali artinya perputaran piutang dalam setahun sebanyak 53,4 kali untuk menghasilkan penjualan.
Dari tabel di atas untukReceivable Turn Over semakin naik.
Jika rata-rata industriuntukReceivable Turn Oversebasar 15 kali, maka kondisi perusahaan dari tahun 2014-2015 dianggap berhasil karena melebihi angka rata-rata industri. Jadi dapat disimpulkan kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk pada tahun 2014-2015 dalam keadaan baik.
b. Average Collection Period (ACP) Average Collection Periode =
Tabel 4. 8
Average Collection PeriodPT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018
Tahun Receivable Turn Over(kali)
Average Collection Period(hari)
2014 76,4 5
2015 35,1 10
2016 35,2 10
2017 36,4 10
2018 53,4 7
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat dilihat bahwa Average Collection Period PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk, rasio ini menunjukkan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
penagihan piutang dalam satu periode biasanya satu tahun, sehingga dapat diketahui berapa lama dana akan tertanam dalam piutang. Pada tahun 2014 ACP sebesar 5 hari artinya rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali penagihan piutang adalah 5 hari atau dengan kata lain rata-rata jatuh tempo piutang adalah 5 hari. Pada tahun 2015 ACP sebesar 10 hari artinya rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali penagihan piutang adalah 10 hari atau dengan kata lain rata-rata jatuh tempo piutang adalah 10 hari. Pada tahun 2016 ACP sebesar 10 hari artinya rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali penagihan piutang adalah 10 hari atau dengan kata lain rata-rata jatuh tempo piutang adalah 13 hari. Pada tahun 2017 ACP sebesar 10 hari artinya rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali penagihan piutang adalah 10 hari atau dengan kata lain rata-rata jatuh tempo piutang adalah 10 hari.
Dari tabel di atas untuk ACP perusahaan berada dalam posisi kurang baik karena semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk penagihan piutang. Maka dapat disimpulkan kinerja keuangan PT.
Binakarya Jaya Abadi TBK dalam posisi kurang baik.
c. Perputaran Aktiva (Assets Trun Over)
Rumus untuk mencari Assets Trun Over adalah sebagai berikut :
x 1 kali
Tabel 4. 9
Perputaran Aktiva PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018
Tahun Penjualan Total Aktiva Perputaran Aktiva 2014 957.451.176.865 1.733.404.300.186 0,5 kali 2015 1.013.949.535.101 2.137.499.950.786 0,5 kali 2016 631.183.291.034 2.400.682.388.179 0,3 kali 2017 482.386.824.523 2.374.443.387.792 0,2 kali 2018 407.818.436.673 2.333.636.785.839 0,1 kali
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa Perputaran Aktiva (Assets Trun Over)PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk pada tahun 2014 yaitu setiap 1 rupiah total aktiva turut berkontribusi menciptakan 0,5 rupiah penjualan. Pada tahun 2015 setiap 1 rupiah total aktiva turut berkontribusi menciptakan 0,5 penjualan. Pada tahun 2016 setiap 1 rupiah total aktiva turut berkontribusi menciptakan 0,3 rupiah penjualan. dan pada tahun 2017 setiap 1 rupiah total aktiva turut berkontribusi menciptakan 0,2 rupiah penjualan.Pada tahun 2018 setiap 1 rupiah total aktiva turut berkontribusi menciptakan 0,2 rupiah penjualan.
Dari tabel di atas untukAssets Trun Over semakin menurun.
Jika rata-rata industri untukAssets Trun Oversebanyak 2 kali, maka kondisi perusahaan pada tahun 2014-2018 dinilai kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri, berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki dan diharapkan perusahaan dapat meningkatkan lagi penjualannya. Jadi dapat diambil kesimpulan kinerja keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 berasa pada posisi kurang baik.
d. Perputaran Modal Kerja
Rumus untuk mencari Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover)dalam artian modal kerja kotor adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 10
Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover) PT.
Binakarya Jaya Abadi Tbk Tahun 2014-2018 Tahun Penjualan (Rp) Aktiva Lancar
(Rp)
Perputaran Modal Kerja
(kali) 2014 957.451.176.865 1.266.484.094.739 0,8 2015 1.013.949.535.101 1.747.745.652.759 0,6 2016 631.183.291.034 1.762.683.474.877 0,4 2017 482.386.824.523 1.870.261.218.478 0,3 2018 407.818.436.673 1.860.337.087.272 0,2
Sumber : Data diolah sendiri dari laporan keuangan PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk
Berdasarkan tabel 4.10 diatas dapat dilihat bahwa perputaran modal kerja PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk ditunjukkan untuk
Berdasarkan tabel 4.10 diatas dapat dilihat bahwa perputaran modal kerja PT. Binakarya Jaya Abadi Tbk ditunjukkan untuk