3.5 Analisis Data
3.5.9 Teknologi berwawasan lingkungan
Analisis teknologi berwawasan lingkungan dalam pengembangan armada perikanan tangkap dilakukan secara deskriptif. Analisis armada berwawasan lingkungan didasarkan pada ketentuan internasional mengenai perikanan bertanggung jawab. Kriteria ini tertera pada Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yang ditetapkan oleh FAO (1995).
Berdasarkan kriteria dan pembobotan tersebut, selanjutnya dilakukan analisis metode skoring. Skor terendah diberikan nilai 1 dan tertinggi diberi nilai sesuai dengan urutan pembobotan terbaik (Tabel 4). Masing-masing jenis alat tangkap diberi skor pada setiap kriteria dan sub kriteria teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Langkah berikutnya adalah standarisasi nilai dengan menggunakan fungsi nilai (Mangkusubroto dan Trisnadi 1987), dengan menggunakan rumus: Xo Xi Xo X x V − − = ) ( ; V(A)=
∑
Vi(Xi), untuk i= 1,2,3,...,nKeterangan:
V(x) = fungsi nilai dari variabel x;
X = variabel x;
Xo = nilai terburuk kriteria x;
V(A) = fungsi nilai dari alternatif A;
Vi(Xi) = fungsi nilai dari alternatif pada kriteria ke-i;
Xi = kriteria ke-i
Pendekatan ramah lingkungan digunakan untuk memudahkan analisis berdasarkan aspek biologi, teknik, sosial, dan ekonomi. Aspek biologi meliputi: (i) tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya; (ii) menghasilkan ikan bermutu baik; (iii) produk tidak membahayakan konsumen; (iv) alat tangkap tidak membahayakan sumber daya hayati (biodiversity); (v) tidak menangkap jenis yang dilindungi atau terancam punah.
Aspek teknik meliputi: (i) selektivitas alat tangkap terhadap jenis ikan; (ii) tidak membahayakan nelayan yang menangkap ikan; dan (iii) hasil tangkapan yang terbuang minimum (minimum bycatch). Aspek sosial yang dianalisis adalah (i) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada, dan (ii) jumlah tenaga kerja yang terserap. Tidak bertentangan dengan peraturan yang ada dalam hal ini alat tangkap dioperasikan secara legal, yaitu (i) beroperasi di daerah penangkapan yang diijinkan; (ii) mengoperasikan jenis alat yang ditetapkan; (iii) mengoperasikan ukuran alat yang diijinkan; (iv) mengoperasikan jumlah alat yang ditentukan; dan (v) memiliki kelengkapan dokumen usaha. Skor yang diberikan untuk aspek sosial adalah satu, apabila memenuhi kurang dari tiga syarat yang ditetapkan; dua, apabila memenuhi tiga syarat yang ditetapkan; tiga, apabila memenuhi empat syarat yang ditetapkan; empat, apabila memenuhi seluruh syarat yang ditetapkan. Aspek ekonomi meliputi: (i) biaya investasi murah; dan (ii) usaha menguntungkan secara ekonomi (profitable).
Teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan dilanjutkan dengan analisis keberlanjutan (sustainable fisheries) yang dilakukan secara deskriptif, didasarkan pada kriteria (Simbolon 2004), yaitu: mengikuti ketentuan total allowable catch, kontinuitas produksi tejamin, pasar/pembeli yang terjamin dan jelas. Kriteria teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kriteria teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan dan nilai bobot
No Kriteria Penjelasan Bobot
1. Memiliki
selektivitas yang tinggi
Alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja. Ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Sub kriteria ini terdiri dari:
i) Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh
ii) Alat menangkap tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh
iii) Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama
iv) Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama
1 2 3 4 2. Tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya
Kriteria yang ditetapkan berdasar luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan UPI, dengan pembobotan: i) Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah
yang luas
ii) Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit
iii) Menyebabkan sebagian habitat pada wilayah yang sempit
iv) Aman bagi habitat (tidak merusak habitat)
1 2 3 4 3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)
Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, karena manusia merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif. Pembobotan resiko diterapkan berdasar tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan, yaitu: i) Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat
berakibat kematian pada nelayan
ii) Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan iii) Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat
berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara
iv) Alat tangkap aman bagi nelayan
1 2 3
4
4. Menghasilkan ikan
yang bermutu baik
Tingkat kualitas ikan ditentukan berdasarkan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya), dengan pembobotan:
i) Ikan mati dan busuk
ii) Ikan mati, segar, dan cacat fisik iii) Ikan mati dan segar
iv) Ikan hidup
1 2 3 4 5. Produk tidak membahaya kan kesehatan konsumen
Ikan yang ditangkap dengan bom, pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar racun. Pembobotan kriteria ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen, yaitu:
i) Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen
ii) Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen
iii) Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen
iv) Aman bagi konsumen
1 2 3 4
Tabel 8 Lanjutan
No Kriteria Penjelasan Bobot
6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum
Alat tangkap yang tidak selektif mengakibatkan hasil tangkapan yang terbuang akan meningkat, karena banyak jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan non-target, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut:
i) Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar
ii) by-catch terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar
iii) by-catch kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar
iv) by-catch kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar
1
2 3 4
7. Alat tangkap yang
digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)
Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut:
i) Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat
ii) Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat iii) Alat tangkap dan operasinya menyebabkan
kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat
iv) Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati
1 2 3 4 8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang- undang atau terancam punah
Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa:
i) Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat ii) Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat iii) Ikan yang dilindungi pernah tertangkap
iv) Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap
1 2 3 4 9. Diterima secara sosial
Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila: (1) biaya investasi murah, (2) menguntungkan secara ekonomi, (3) tidak bertentangan dengan budaya setempat, (4) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada. Pembobotan kriteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa:
i) Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas
ii) Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas
iii) Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas
iv) Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas 1 2 3 4
Kriteria penilaian bobot yang digunakan dalam pengembanagan perikanan bubu di pantai Barat Sumatera dimodifikasi menjadi konsep análisis komperatif. Perbandingan kriteria teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, dilakukan dengan membandingan bubu nelayan dan bubu modifikasi. Kedua jenis bubu akan diberikan bobot penilaian berdasarkan pada kriteria biologi hasil tangkapan, kriteria teknologi, kriteria ekonomi dan kriteria sosial.
Modifikasi penilaian kriteria dilakukan karena variabel yang digunakan dalam penilaian hanya menggunakan dua jenis alat tangkap. Salah satu kriteria yang dinilai dalam melihat kinerja bubu dalam memperoleh hasil tangkapan adalah persentase bobot target utama untuk ekspor. Kriteria pembobobtan yang digunakan dalam melihat hasil tangkapan bubu antara lain:
Nilai 4 = jika hasil tangkapan target utama untuk ekspor > 75%
Nilai 3 = jika hasil tangkapan target utama untuk ekspor 50 sampai 74% Nilai 2 = jika hasil tangkapan target utama untuk ekspor 25 sampai 49% Nilai 1 = jika hasil tangkapan target utama untuk ekspor < 25%
Fungsi nilai masing-masing kriteria pada tiap alat tangkap dijumlahkan, dan dirata-ratakan untuk mendapatkan urutan ranking. Alat tangkap yang memiliki fungsi nilai tertinggi adalah alat tangkap yang paling ramah lingkungan. Modifikasi bobot penilaian bubu digunakan juga pada kriteria lain. Hasil akhir dari penilaian ini adalah rekomendasi terhadap jenis bubu yang paling ramah lingkungan.