• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA PENELITIAN,

A. Telaah Pustaka

Penelitian yang dilakukan oleh Manshur (2010: 108) dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bank Pembiyaan Rakyat Syari’ah Al-Salam Cinere Depok menyatakan bahwa gaya kepemimpinan direktif dan gaya kepemimpinan supportif berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Di dalam penelitian ini menjukan bahwa gaya kepemimpinan supportif berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan.

Menurut Hendriawan (2014: 56) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya kepemimpinanan dan Budaya Organisasi Terhadap kinerja karyawan pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera di Kab. Konawe Utara Prov. Sulawesi tenggara. Hasil penelitian menjunjukan bahwa gaya kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh positif dan segnifikan terhadap kinerja pegawai.

Menurut Susanti (2011: 68) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional Dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Jember Dengan Motivasi Sebagai Variabel Intervening. Hasil penelitian menunjukan bahwa gaya kepemimpinan situasional dan kompensasi berpengaruh positif terhadap

motifasi, gaya kepemimpin situasional dan kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.

Menurut Hastutik (2015: 113) Melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Komitmen dan Kinerja Karyawan Pada PT. Kusoema Nanda Putra Klaten. Hasil Penelitian Menujukan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap komitmen karyawan. Gaya kepemimpinan tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja karyawan. Komitmen karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

Penelitian yang dilakukan Reza (2010: 93) dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Motivasi Dan Disiplin Kerja Karyawan Pada PT Sinar Santosa Perkasa Banjarnegara. Hasil penelitian menunjukan bahwa gaya kepemimpinan, motivasi, dan disiplin terdapat pengaruh terhadap kinerja karyawan. Variabel motivasi memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kinerja karyawan pada PT Sinar Santosa Perkasa.

Menurut Baihaqi (2010: 104) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Inter Vening Studi Pada PT. Yudhistira Ghalia Indonesia Area Yogyakarta. Menunjukkan bahwa Gaya Kepemimpinan berpengaruh positif dan segnifikan terhadap kepuasan kerja dan kinerja. Koefisien mediasi yang dihasilkan positif dan signifikan yang berarti komitmen organisasi menjadi faktor memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja karyawan dan kinerja karyawan.

Menurut Sulistyo (2011: 252) melakukan penelitian dengan judul Peran Nilai-Nilai religiusitas terhadap kinerja karyawan dalam organisasi. Menunjukan bahwa religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Dengan demikina religiusitas berpengaruh terhadap kinerja pegawai.

Menurut Yusuf (2010: 93) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Religiusitas Dan Penyesuaian Terhadap Kinerja Karyawan Perbankan Syariah dikota Balikpapan. Menunjukan bahwa religiusitas sangat berpengaruh positif dan segnifikan terhadap kinerja pegawai.

Menurut Nasir (2014: 78) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor Religiusitas Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawa Pada BMT Kecamatan Genuk. Menunjukan bahwa religiusitas berpengaruh positif dan segnifikan terhadap kinerja karyawan.

Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah penulis mencoba meneliti tentang bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan dan religiusitas terhadap kualitas kerja karyawan. Di sini penulis menambahkan variabel baru yaitu religiusitas (X2). B. Gaya Kepemimpinan

Sebuah kepemimpinan terdapat unsur seni untuk mempengaruhi di alamnya. Usaha pemimpin untuk mempengaruhi orang lain atau bawahan adalah dengan menggunakan gaya-gayanya. Gaya merupakan aspek penting bagi seorang pemimpin sebab gaya inilah akan memberikan dampak bagi efektifitas kepemimpinan.

Tugas terpenting pemimpin adalah mengetahui cara membentuk bagian sehingga bagian-bagian itu berintegrasi dengan lebih baik menjadi suatu kesatuan. Menurut Neuschel (2008: 19) pemimpin adalah bagian dari keseluruhan dan tanggung jawabnya adalah membuat keseluruhan menjadi lebih hebat karena keberadaan kepemiminan.

Menurut Mansur (2010: 23) Gaya kepemipinan mempunyai dua kata yaitu gaya dan kepemimpinan. Gaya adalah kekuatan, kesangggupan berbuat, kuat, sikap, ragam cara/tehniknya masing-masing dan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, Menggerakkan, mengarahkan seseorang atau kelompok kearah yang lebih baik dan positif melalui proses yang panjang.

Menurut Sumarna (2013: 10) seorang pemimpin adalah seseorang yang dengan kepemimpinannya mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaanya dalam mencapai tujuan bersama.

Menurut Baharudidin dan Umiarso (2011: 33) kepemimpinan adalah suatau kekuatan penting dalam rangka pengelolaan sehingga kemampuan pemimpin secara efektif merupakan kunci keberhasilan organisasi. Maka, esensi kepemimpinan adalah kepengikutan kemauan orang lain untuk mengikuti keinginan pemimpin.

Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan produktifitas, kepuasan kerja, pertumbuhan dan

tiga sifat dasar yaitu mementingkan pelaksanaan tugas, mementingkan hubungan kerja sama dan mementingkan hasil yang dicapai.

Manager yang mempunyai gaya kepemimpinan ini berusaha mendorong dan memotifasi pekerjaannya untuk bekerja dengan baik. Mereka mengikutsertakan pekerjaanya dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu ada beberpa hal yang mempengaruhi gaya kepemimpinan.

1. Sifat-Sifat Kepemimpinan

Menurut Sumarna (2013: 25) secara umum terdapat empat sifat yang berperan besar besar terhadap keberhasilan sebuah kepemimpinan, keempat sifat tersebut adalah:

a. Motivasi diri dan dorongan berprestasi

Pada umumnya, seorang pemimpin yang berhasil adalah seorang pemimpin yang memiliki motivasi diri yang kuat serta dorongan untuk selalu berprestasi disetiap bidang yang ditekuninya. Dorongan yang begitu kuat ini akan tercermin dalam kinerja yang optimal, efektif, dan efisien.

b. Kecerdasan

Seorang pemimpin memiliki kecerdasan yang lebih tinggi diatas tingkat kecerdasan rata-rata dari para pengikutnya akan memiliki kesempatan yang tinggi pula untuk berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya.

c. Sikap hubungan kemanusiaan

Seorang pemimpin harus menjaga kewibawaanya di setiap nafas kehidupanya. Karena adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sangat diperlukan untuk memotivasi dan menginspirasi, sehingga para pengikutnya akan selalu berpihak kepadanya.

d. Kedewasaan dan luasnya relasi sosial

Dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil biasanya memiliki emosi yang matang dan stabil. Hal inilah yang membuatnya kuat dan tangguh sehingga tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahamkan pendirian yang diyakininya sesuatu yang benar. 2. Teori-Teori Kepemimpinan

Menurut Kartono (2002: 61) mengemukakan sejumlah teori kepemimpinan, yaitu teori-teori sendiri ditambah teori penulis lain, sebagai berikut:

a. Teori Otokratis

Teori ini didasarkan atas perintah-printah, paksaan dan tindakan-tindakan yang arbiter (sebagai wasit). Ia melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Kepemimpinannya berorientasi pada struktur organisasi dan tugas tugas.

b. Teori Psikologis

Teori ini menyatakan, Bahwa Fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah. Jadi pemimpin merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan pribadi.

c. Teori Sosiologis

Menurut teori ini, kepemimpinan dianggap sebagai usaha untuk melancarkan antara-relasi danlam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan konflikorganisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerja sama yang baik.

d. Teori Suportif

Teori ini menyatakan bahwa, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan penuh gairah. Sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya policly tertentu. Untuk maksud ini pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangka, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya.

e. Teori Laissez faire

Teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin hanyalah sebagai simbol, dengan macam-macam ornamen yang mentereng. Tipe seperti ini cenderung memberikan seluruh pekerjaanya keseluruh bawahan atau

pegawai. Jadi intinya buakanlah seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Semua yang dipimpin bersikap santay dan mereka biasanya mennujukan sikap acuh tak acuh. Sehinggga sekelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak terkontrol.

f. Teori Kelakuan Pribadi

Menurut teori ini , bahwa sorang pemimpin berkelakuan kurang lebih sama yaitu ia tidak melakukan tindakan tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, dia harus memiliki sifat fleksibel, luwes, bijaksana, dan mempunyai daya saing yang tinggi.

g. Teori Traits of Great men

Teori ini menyatakan bahwa, seorang pemimpin diharapkan memiliki inteligensi tinggi, banyak inisiatif, energik, punya kedewasaan emosional, memiliki daya persuasif, dan ketrampilan, komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, mau memberikan partisipasi sosial yang tinggi, dan lain-lain.

h. Teori Situasi

Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya leting yang tinggi flexsibelitas pada pemimpin untuk menyesuaikan terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar dan zamannya. Faktor lingkungan itu harus dijadikan tantangan untuk di atasi.

i. Teori Humanistik

Menurut teori ini fungsi kepemimpinan yaitu merealisir kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani, yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal seperti ini perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin yang baik.

Menurut Baharudin dan Umiarso (2011: 51) gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga teori: a. Teori Genetis (keturunan)

Teori ini menunjukan bahwa kepemimpinan ditentukan oleh sifat ciri pribadi orang yang mempengaruhi para anggota kelompoknya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang tidak bissa dipelajari, tetapi hanya bisa dibekukan melalui pembentukan dari awal.

b. Teori Sosial

Teori ini menujukan bahwa seorang pemimpin itu dibuat atau dididik bukan kodrati. Para penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang bisa menjadi menjadi pemimpin apabila diberika pendidikan dan pengalaman yang cukup.

c. Teori Ekologis

Teori ini menggabungkan antara teori genetis dan teori sosial. Teori ini menjelaskan bahwa seorang pemimpin itu memiliki bakat dan bakat tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

3. Tipe-Tipe Kepemimpinan

Menurut Sutikno (2014: 35) mengidentifikasi tuju tipe kepemimpinan antara lain:

a. Tipe Otokratik

Tipe kepemimpinan ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak pribadinya (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain yang turut ikut campur. Jadi seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang menganggap organisasi milik pribadi, mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima kritik dan saran dari orang lain. Tipe kepemimpinan seperti ini cenderung melebihkan egonya (pemimpin).

b. Tipe Kendali bebas

Tipe keprmimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin menunjukan perilaku yang pasif dan seringkali menghindar dari tanggung jawab. Tipe kepemimpinan ini cenderung diam dan menganggap bahwa anak buahnya sudah dan dewasa dalam menangani masalah.

c. Tipe Patrenalistik

Tipe kepemimpinan seperti ini cenderung menganggap bawahanya bulum bisa dalam sebuah organisasi . Terkadang tipe kepemimpinan

keputusan, mengambil inisiatif dan mengembangkan kreasi mereka. Tipe kepemimpinan seperti ini memiliki sifat yang sering bersikap serba tahu.

d. Tipe Kharismatik

Para pengikut terpacu kemampuan kepemimpinan yang heroik atau yang luar biasa ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu pemimpin mereka. Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin kharismatik:

1) Visi dan artikulasi. Dia memiliki visi ditujukan dengan sasaran ideal yang berharap masa depan lebih baik dan mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang dapat dipahami orang lain.

2) Rasio personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh risiko personal tinggi, menanggung biaya besar, dan terlibat ke dalam pengorbanan diri untuk meraih visi.

3) Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara realistis kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat perubahan.

4) Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin kharismatik perseptif (sangat pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan responsive terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.

5) Perilaku tidak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat dalam perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan norma.

e. Tipe Militeristik

Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin pemimpin dalam menggerakkan bawahannya lebih sering menggunakan sistem perintah, sering bergantung pada jabatan, dan senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya, dan sukar menerima kritikan dari bawahannya.

f. Tipe Pseudo-Demokratis

Tipe kepemimpinan ini disebut juga kepemimpinan manipulatif atau semi demokratik. Pemimpin seperti ini mempunyai ciri ciri antara lain:

1) Banyak menerima pendapat, akan tetapi dia sudah mempunyai pendapat sendiri yang dipaksakan untuk disetujui.

2) Seolah-olah mengiyakan,akan tetapi pada akhirnya menyalahkan. 3) Pada saat tertentu banyak memberikan pujian kepada bawahan,

padahal hanya untuk menarik simpati semata. 4) Mengambil keputusan secara simbolis. g. Tipe Demokratik

Kepemimpinan demokratik adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis dan terserah. Kegiatan-kegiatan pengendalian dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab. Pembagian tugas tugas yang

Kepemimpinan seperti ini mererapkan unsur kerjasama atnara atasan dan bawahan demi terjadinya suatu tujuan dalam organisasi.

Terdapat lima gaya kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi menurut Siagian (1994: 31), yaitu:

a. Tipe pemimpin yang otokratik

Seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang menganggap organisasi sebagai milik pribadi mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi tidak mau menerima kritik saran dan pendapat. Serta terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya dalam tindaknya penggeraknya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur paksaan dan puntif (bersifat menghukum).

b. Tipe pemimpin yang militeristik

Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud seorang pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin modern. Seorang pemimpin yang bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat seperti dalam menggerakan bawahannya sistem perintah yang sering dipergunakan. Lalu menggerakan bawahannya senang bergantung pada pangkat dan jabatan senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya.

c. Tipe pemimpin yang paternalistik

memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif, Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasi dan sering bersikap mau tahu.

d. Tipe pemimpin yang kharismatik

Harus diakui bahwa untuk keadaan tentang seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akan tetapi sifatnya yang negatif mengalahkan sifatnya yang positif.

e. Tipe pemimpin yang demokratik

Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern karena senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahan. Tipe kepemimpinan seperti ini juga berusaha mengutamakan kerjasama teamwork dalam usaha mencapai tujuan dan selalu berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Dokumen terkait