• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Pembahasan Hasil Penelitian

2. Temuan Hasil Penelitian

Dalam bagian ini akan dipaparkan hasil temuan penelitian yang di temukan selama penelitian berlangsung. Pembahasan ini difokuskan pada permasalahan dan tujuan yang diharapkan pada penelitian ini. Pertama, sekilas tentang sejarah tempat penelitian. SMP Dwi Putra merupakan

lembaga pendidikan yang berada dalam naungan Yayasan Sosial dan pendidikan Ar-rachmat yang didirikan pada tahun 1986, oleh dua putra bapak H. Achmat Nasution, yaitu DR. H. Adnan Buyung Nasution dan H. Sjamsi Buyung Nasution.

Kedua, gambaran tentang guru di SMP Dwi Putra (varibel X). Guru

merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam dunia pendidikan, sebagai salah satu faktor yang paling menentukan dalam proses pembelajaran di kelas adalah guru. Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar (PBM) masih tetap memegang peranan yang sangat penting. Dalam hal ini, guru adalah aktor utama di samping orang tua dan elemen lainnya kesuksesan pendidikan yang dicanangkan. Tanpa keterlibatan aktif guru, pendidikan kosong dari materi, esensi, dan substansi. Secanggih apapun sebuah kurikulum, visi misi, dan kekuatan financial, sepanjang gurunya pasif dan stagnan, maka kualitas lembaga pendidikan akan merosot tajam. Sebaliknya, selemah dan sejelek apa pun sebuah kurikulum, visi misi,dan kekuatan financial, jika gurunya inovatif, progresif, dan produktif, maka kualitas lembaga pendidikan akan maju pesat. Lebih-lebih jika sistem yang baik ditunjang dengan kualitas guru yang inovatif, maka kualitas lembaga pendidikan semakin dahsyat. Guru memiliki peranan, tugas dan tanggungjawab terhadap anak didiknya. Peran guru tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin canggih. Peran guru itu meliputi: sumber belajar, fasilitator, demonstrator, informator, inisiator, mediator, motivator, organisator, evaluator.1

Karena tugas guru menyangkut pembinaan sifat mental manusia yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat manusiawi yang unik dalam arti berbeda satu dengan yang lainnya oleh karena itu tugas guru bukan hanya sekedar mengajar di dalam kelas.

1

Syaiful Bahri Djamarah, Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 31

Seorang guru akan sukses melaksanakan tugas apabila ia profesional dalam bidang keguruannya. Sebagaimana dalam Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 10 ayat 1 bahwa: ”Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadiaan, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi” 2

. Dalam melakukan tugas dan peran yang mulia diatas seorang guru harus melandasinya dengan tanggung jawab yang tidak didasari oleh kebutuhan financial belaka, tapi tanggung jawab peradaban yang besar bagi kemajuan negeri tercinta, Indonesia. Oleh Karena itu, ia harus menekuni profesinya dengan penuh kesungguhan dan kerja keras. Karena lepas dari persoalan fianansial yang menjadi kebutuhan setiap manusia, ketulusan guru dalam m endidik dan mengantarkan anak didik menggapai cita-cita luhur adalah karya terbesarnya yang akan diabadikan sejarah. Berdasarkan penelitian dan pengamatan di lapangan jumlah tenaga pendidik di SMP Dwi Putra berjumlah 16 orang termasuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah kesiswaan, wakil kepala sekolah kurikulum, dan 13 orang guru.

Berdasarkan wawancara dengan kepala SMP Dwi Putra. Peranan guru dalam menanggulangi kenakalan siswa/i di sekolah sudah berjalan cukup baik, itu dimulai dari sosialisasi yang dilakukan oleh guru-guru tentang seluruh peraturan yang ada disekolah kepada seluruh siswa/i dan wali murid, bagi yang melanggar akan di berikan sanksi oleh bagian kesiswaan, guru BP dan kepala sekolah. Bagi siswa yang sering melanggar akan di panggil wali muridnya, memberikan surat peringatan sesuai dengan kenakalannya, bagi yang melakukan pelanggaran yang berat akan langsung di keluarkan tanpa surat peringatan. Pihak sekolah telah berupaya untuk membentuk karakter yang baik dalam diri siswa/i dengan berbagai macam kegiatan diantaranya yaitu shalat berjamaah, siraman

2

E. Mulyasa, E. Mulyasa, ”Undang-undang RI No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen”,

dalam Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), Cet.

rohani, ekskul, motivasi dan memberikan perhatian yang lebih kepada siswa/i.

Berdasarkan wawancara dengan guru bimbingan konseling bahwa peraturan yang telah dibuat oleh sekolah ini berjalan dengan baik, dalam artian anak-anak mudah untuk diatur, memang ada beberapa anak yang melanggar, mereka itu merupakan anak-anak yang kurang perhatian dari keluarganya dan ingin diperhatikan oleh guru dan yang melanggar itu hanya itu-itu saja orangnya. Sedangkan untuk anak yang bolos sekolah itu biasanya terpengaruh oleh teman-temannya, guru bimbingan konseling juga berkerjasama dengan seluruh pihak yang ada di dalam dan luar sekolah untuk bersama-sama menanggulangi kenakalan siswa/i.

Setelah melakukan wawancara dengan guru bidang kesiswaan diketahui bahwa guru-guru disana telah bersinergi untuk menerapkan serta mengembangkan aturan-aturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah termasuk usaha-usaha menanggulangi kenakalan siswa yang sering terjadi saat sekolah dengan berbagai tindakan preventif yang dilakukan oleh guru-guru SMP Dwi Putra untuk mencegah terjadinya kenakalan siswa yaitu, mengadakan berbagai macam kegiatan – perlombaan untuk memfasilitasi dan menyalurkan bakat dari siswa/i yaitu mengadakan lomba futsal antar kelas, lomba catur, pramuka, pencak silat, tari saman, lomba kebersihan, lomba membuat mading, puisi, kegiatan rohani yaitu shalat berjamaah setelah pulang sekolah, program LDKS, mengadakan pertemuan dengan wali murid untuk mempererat rasa kekeluargaan dan membahas perkembangan siswa/i SMP Dwi Putra di sekolah. Selain itu juga berbagai tindakan represif telah dilakukan untuk menekan tingkat kenakalan di sekolah dengan pemberian sanksi yang tegas yaitu Pertama akan diberikan teguran, jika mengulangi kembali kami akan memberikan surat perjanjian, jika masih mengulangi kami akan panggil orang tuanya lalu jika terus mengulangi maka kami akan kembalikan kepada orang tuanya

Tindakan represif dan kuratif seperti yang dilakukan oleh guru-guru SMP Dwi Putra untuk menanggulangi kenakalan siswa yang terjadi di sekolah yaitu, berupa teguran-teguran yang untuk dilakukan oleh guru-guru kepada siswa/i yang melanggar tata tertib sekolah, namun untuk siswa/i yang telah berkali-kali melanggar peraturan berulang kali maka akan diberikan layanan konseling oleh guru bidang kesiswaan dan guru bimbingan konseling agar tidak mengulangi lagi pelanggaran yang telah dilakukan dengan pemberian sanksi yang cukup mendidik seperti memungut sampah di seluruh area sekolah, membersihkan kamar mandi sekolah, mencuci tempat sampah dan lain-lain, namun bagi siswa/i SMP Dwi Putra yang mengulangi lagi pelanggaran yang telah dilakukan maka diberikan sanksi yang lebih tegas seperti pemberian surat perjanjian, pemanggilan wali murid yang bersangkutan, skorsing, tidak naik kelas dan di keluarkan dari sekolah secara tidak hormat.

Ketiga, gambaran kenakalan siswa/i yang terjadi di SMP Dwi Putra

Ciputat (varaibel Y). Kenakalan siswa atau sama dengan kenakalan remaja merupakan kenakalan yang terjadi pada saat ia mulai beranjak dewasa, istilah bakunya dalam konsep psikologi adalah Juvenile delinquency yang berarti perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda. Ini merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan tingkah laku yang menyimpang.3

Kenakalan siswa jika ditinjau dari segi agama ialah kelakuan dan tindakan yang terlarang dalam agama yang dilakukan oleh orang yang sudah baligh (telah mencapai kematangan seksual).

3

TB. Aat Syafaat, dkk, Peranan pendidikan Islam dalam mencegah Kenakalan Remaja, (Jakarta: Rajawali Perss, 2008). h. 74

Ciri-ciri pokok kenakalan siswa antara lain adalah4: adanya perbuatan atau tingkah laku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai moral, kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang anti social yakni dengan perbuatan atau tingkah laku tersebut bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada dilingkungan hidupnya, kenakalan merupakan kenakalan yang dilakukan oleh mereka yang berumur antara 13-17 tahun keatas dan belum menikah, kenakalan siswa dapat juga dilakukan bersama dalam satu kelompok siswa.

Penyebab terjadinya kenakalan siswa/i SMP Dwi Putra Ciputat bermacam-macam, secara garis besar dapat digolongkan sebagai berikut: kurangnya didikan agama, kurang pengertian orang tua tentang pendidikan, kurang teratunya pengisian waktu, lemahnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan siswa

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenakalan itu sering terjadi yaitu Faktor keluarga, sekolah dan masyarakat. Bentuk-bentuk kenakalan siswa bermacam-macam, dapat di katagorikan sebagai berikut: kenakalan ringan dan kenakalan berat.

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian dilapangan, dimana perilaku kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh siswa/i SMP Dwi Putra Ciputat kebanyakan berkutat pada pelanggaran ringan dari peraturan-peraturan yang telah di tetapkan oleh sekolah seperti, kurang disiplin ketika sekolah hal ini dilihat dari banyaknya siswa/i yang terlambat datang ke sekolah. Kurang rapi dalam berpenampilan seperti tidak memasukkan baju seragam, menggunakan seragam atau atribut yang tidak sesuai dengan waktunya, menggunakan celana yang ketat, menggunakan gelang. Bolos sekolah karena diajak oleh teman, tidak suka dengan guru yang mengajar, saat guru tidak masuk kelas. merokok. Menggunakan kata-kata

4

Singgih D. Gunarsa, Yulia Singgih D. Gunarsa Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,

yang tidak sopan, tidak mematuhi guru, berkelahi antar teman. Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh siswa/i tersebut termasuk dalam katagori kenakalan ringan.

Peranan guru dalam menanggulangi kenakalan siswa/i SMP Dwi Putra Ciputat (variabel X) diatas dapat dibuktikan dari 30 item pertanyaan angket yang telah diisi oleh 38 siswa/i SMP Dwi Putra melalui teknik

random sampling kemudian data tersebut di olah dengan melakukan

skoring dengan menggunkan skala linkert yaitu dengan memberikan nilai 4, 3, 2, 1 untuk pertanyaan yang vaforable (positif atau sesuai) dan memberikan nilai 1, 2, 3, 4 untuk pertanyaan yang unvaforable (negatif atau tidak sesuai), kemudian dilakukan uji validitas terhadap angket tersebut untuk mengetahui layak atau tidaknya angket tersebut di gunakan untuk penelitian ini dengan menggunakan program SPSS 20, namun setelah dilakukan uji validitas terhadap angket tersebut, diperoleh 26 item pertanyaan yang valid dan 4 item pertanyaan yang tidak valid. Hasil skoring angket yang valid yaitu 3213. Hasil itu berbeda dengan kenakalan siswa/i SMP Dwi Putra Ciputat (variabel Y), di mana dari 30 item pertanyaan angket yang telah diisi oleh 38 siswa/i SMP Dwi Putra dengan menggunakan teknik yang sama dengan variabel X, hanya 25 item pertanyaan yang berhasil lolos uji validitas dan 5 item pertanyaan yang tidak valid, hasil yang didapatkan dari data yang valid yaitu 1507. Setelah uji validitas dilakukan maka dilakuan uji realibilits untuk mengetahui apakah kedua variabel itu rialibel atau tidak dengan menggunakan program SPSS 20 yang menggunakan rumus Crobanch’s Alpha yangmana suatu variabel dapat dikatakan realibel jika nilai Crobanch’s Alpha dari variabel tersebut lebih besar dari 0,60 atau 60%. Dari uji tersebut bahwa nilai untuk variabel X yaitu 0,87 dan vaiabel Y yaitu 0,92. Hasil itu menunjukan bahwa kedua variabel itu sangat realibel. Uji selanjutnya yang dilakukan adalah uji normalitas untuk mengukur tingkat normalnya suatu data dalam penelitian. Adapun data yang dianggap normal adalah L hitung

< L tabel. L hitung untuk variabel X yaitu 0,104 dan L hitung untuk variabel X yaitu 0,113 serta L tabel untuk 38 responden yaitu 0,144. Itu menandakan kedua variabel tersebut memiliki distribusi data yang normal, setelah itu maka dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui keragaman antara dua keadaan variabel, uji homogen yang dilakukan dengan uji fisher. Dari hasil pengujian diperoleh F hitung = 1,07 (dapat dilihat pada lampiran) sedangkan F tabel = 1,71 pada taraf signifikansi 5%. Karena F hitung (1,07) < F tabel (1,71) maka varians dari kedua variabel tersebut homogen. Setelah itu dilakukan maka selanjutnya yaitu penghitungan korelasi antara kedua variabel dengan menggunakan rumus korelasi

product moment, dimana berdasarkan penghitungan tersebut ternyata

angka korelasi antara variabel X dan variabel Y rxy yaitu= 0,422. Berdasarkan indeks korelasi product moment berarti antara kedua variabel tersebut terdapat korelasi positif yang cukup atau sedang. Walaupun peranan guru-guru SMP Dwi Putra Ciputat belum memiliki peranan yang sangat kuat Hasil itu cukup sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan dimana para guru telah berusaha untuk berperan dalam menanggulangi kenakalan siswa/i nya disekolah.

Dokumen terkait