BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Temuan Penelitian
1. Model dalam pendidikan Islam Formal pada suku Samin di
Klopoduwur
Minat masyarakat suku Samin di dusun Karangpace desa Klopoduwur pada pendidikan formal menurut Mbah Lasio adalah:
“Seko wong tuane wes ngakon nang bocah-bocah perlune ben podo sekolah, tapi seng paling penting kuwi berguna kanggo wong liyo,
nak wes pinter ben ora minteri wong liyo”.
Artinya : dari orang tua telah menyuruh anak-anak agar dapat bisa sekolah, tetapi yang paling penting adalah berguna untuk orang lain, kalau sudah pintar tidak untuk membohongi orang lain (wawancara dengan Mbah Lasio).
Setiap pendidikan memang harus berorientasi pada asas kemanfaatan sesama manusia dan kesejahteraan umat. Seperti halnya individu yang menempuh pendidikan tinggi ini idealnya mampu memberi perubahan dalam masyarakat tentunya perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hasil wawancara dengan ibu Lasmi adalah sebagai berikut:
“Sekolah anak-anak wes podo lulus seko SD kabeh, namung wong- wong tuane daerah kene rata-rata gak podo lulus SD malahan ono
seng gak sekolah blas”.
Artinya : anak-anak sudah lulus dari SD semuanya, tetapi orang tuanya rata-rata belum atau tidak lulus bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali (wawancara dengan ibu Lasmi).
Generasi Samin sudah membuka diri dengan adanya minat terhadap pendidikan pada anak-anak mereka. Bapak Tarhib menyatakan bahwa:
“Minat dari anak-anak Samin yang sekolah di SD Negeri 1
Klopoduwur terhadap pendidikan Islam sangat baik”, dia juga menambahkan bahwa:
“Hal itu dibuktikan dengan beberapa pemuka agama Islam lulusan
dari Sekolah Dasar Negeri 1 Klopoduwur yang sekarang menjadi
Anak-anak dari dusun karangpace bersekolah di dusun Sale. Minat anak dengan orang tua harus ada keselarasan, seorang anak yang berminat besar untuk mengetahui ajaran Islam tanpa didukung oleh orang tua maka hasilnya tidak akan maksimal. Minat orang tua masyarakat samin sangat besar untuk menyekolahkan anak-anaknya dengan tujuan dapat bermanfaat terhadap sesama.
Konsep pendidikan Islam dalam pendidikan di SD Negeri 1 Klopoduwur dijelaskan oleh Bapak Tarhib selaku pengampu materi Pendidikan Agama Islam, dia menjelaskan lewat wawancara yang dilakukan peneliti, bahwa:
“Konsep pendidikan Islam di sekolah sini itu tidak jauh berbeda
dengan konsep pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah lainnya yaitu mengacu pada kurikulum yang sudah ada kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP)”, akan tetapi Bapak Tarhib menambahkan: “dengan beberapa kegiatan yang harus diikuti oleh
siswa seperti: menjalankan sholat Jum‟at, menjalankan sholat
tarawih pada bulan Puasa, mengikuti kegiatan TPQ karena memang dia adalah termasuk salah satu pelopor berdirinya TPQ yang ada di
masyarakat, mengikuti pengajian Al-Qur‟an setiap ba‟da sholat
magrib”. Dengan mengikuti kegiatan tambahan tersebut siswa akan mendapatkan nilai tambahan. (wawancara dengan Bapak Tarhib) Konsep tidak akan lepas dari kurikulum, karena kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003
menyatakan bahwa “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Dengan kata lain kurikulum merupakan acuan untuk menjalankan komponen-komponen pembelajaran.
Cara lain yang digunakan oleh Bapak Tarhib adalah metode demonstrasi. Metode ini dipandang perlu dan tepat ketika digunakan pada hari Qurban, Bapak Tarhib menuturkan:
“Guru-guru diminta iuran untuk membeli kambing kemudian dijadikan Qurban dan disembelih oleh Bapak Tarhib sendiri hal ini
disaksikan seluruh siswa, guru-guru dan karyawan sekolah”.
(wawancara dengan Bapak Tarhib).
Metode seperti ini diharapkan memberikan pelajaran cara menyembelih Qurban yang benar terhadap siswa.
Perilaku yang sudah terbentuk melalui Sekolah Dasar Negeri 1 Klopoduwur sudah baik tetapi perlu ditingkatkan lagi, berdasarkan wawancara dengan Bapak Tarhib:
“Dibuktikan dengan beberapa pemuka agama Islam lulusan dari Sekolah Dasar Negeri 1 Klopoduwur yang sekarang menjadi
pengurus Masjid”. (wawancara dengan Bapak Tarhib).
Mbah Lasio menyatakan bahwa:
“Anakku ono seng kerjo nang Jakarta”.
Artinya : anak saya ada yang berkerja di Jakarta (wawancara dengan Mbah Lasio).
Hal yang lain diungkapkan oleh ibu Lasmi:
“Tonggo ku ono seng sekolah nang SMP”. Ketika peneliti tanya “SMP mana”? Dia menjawab: “gak mudeng”.
Artinya : tetangga saya ada yang sekolah di SMP, gak tau (wawancara dengan ibu Lasmi).
2. Model dalam pendidikan Islam Nonformal pada suku Samin di
Klopoduwur
Kegiatan keagamaan penting untuk melihat berapa besar tingkat pemahaman masyarakat terhadap Islam dapat dilihat dari kegiatan yang
sudah berjalan di masyarakat. Kegiatan keagamaan yang sudah berjalan di masyarakat, Bapak Nyari, ibu Umi Lasmi) menyampaikan lewat hasil wawancara:
Ada beberapa kegiatan keagamaan yang sudah berjalan di Dusun Karangpace, Desa Klopoduwur sebagai berikut:
a. Yasinan.
b. Tahlilan.
c. Muslimatan.
d. Arisan diikuti dengan ceramah keagamaan.
e. Pengajian lapanan.
f. TPQ (Taman Pendidilan Al-Qur‟an).
Bapak Nyari menyampaikan bahwasanya:
“Kumpulan seng wes ono nang masyarakat yoiku: tahlilan, yasinan, arisan, pengajian pendak lapan sepisan terus ono maneh TPA”.
Artinya : perkumpulan yang ada di masyarakat yaitu tahlilan, yasinan, arisan, pengajian lapanan dan TPQ (wawancara dengan Bapak Nyari).
Ibu Lasmi memberi tambahan penjelasan bahwa:
“Arisan iki kuwi yoiku namung kegiatan seng dienggo sarono
kumpulan wargo,seng tujuan sebenere iku nggo ngaji rutinan, amargo nak wes rampungan arisan diisi ceramah-ceramah pengajian
seko kiyai”.
Artinya: arisan ini adalah sebagai kegiatan yang dibuat hanya untuk sarana tempat berkumpul warga, yang tujuan sebenarnya untuk mengajin rutinan, karena setiap selesai arisan ini diberikan ceramah-
ceramah pengajian oleh pemuka agama yang dianggap mampu”.
(wawancara dengan ibu Lasmi).
Pendidikan nonformal di masyarakat sudah berjalan, dengan adanya TPQ Al-Kautsar. Dalam pendidikan nonformal para ustad menjelaskan
kepada peneliti bahawa pendidikan nonformal ini baru berjalan selama 2 tahun, namun berkembang sangat pesat. Bidikan dari pendidikan non formal ini memang untuk mengajari anak-anak tentang bagaimana cara
sholat yang benar, baca tulis Al-Qur‟an, do‟a sehari-hari, selain itu juga
ada kegiatan ekstrakurikuler.
Ibu Umi Kulsum memaparkan tentang konsep pendidikan agama Islam nonformal yang berada di suku Samin dengan menyatakan bahwa:
“TPQ Al-Kautsar mengajarkan pelajaran Islam pada umumnya yang diajarkan di TPQ lainnya, dengan menambahkan kegiatan
ekstrakurikuler”. (Wawancara dengan Ibu Umi Kulsum)
Hal ini juga dibuktikan dengan penjelasan dari Bapak Karjan sebagai berikut:
“Konsep pendidikan sebagai berikut Terdiri dari pendidikan utama,
pendidikan pendukung”. (Wawancara dengan Karjan).
a. Pendidikan Utama
Pendidikan utama berisi materi-materi yang berperan membentuk generasi muslim yang mengenal baca tulis Al-Quran
dan taat beribadah, berdo‟a dan menegakkan shalat. Berisi materi:
pendidikan Al-Qur‟an dan pendidikan ibadah. Pendidikan Al-
Qur‟an merupakan pendidikan dasar yang membekali Santri
dalam membaca dan menulis Al-Qur‟an, sedangkan pendidikan
ibadah merupakan pendidikan untuk membentuk pribadi muslim yang taat beribadah.
Pendidikan ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi diri dan kemampuan beraktivitas sosial. Santri dibina untuk mampu mengekspresikan bakat dan minatnya dalam aktivitas ekstra kurikuler. Kegiatan pendidikan pendukung yaitu ekstra kurikuler, Peringatan Hari Besar Islam dan mengadakan perlombaan. Ekstra kurikuler diharapkan mampu membina santri untuk berkemampuan seni Islami, seperti menggambar, mewarnai, kaligrafi dan membaca puisi. Peringatan Hari Besar Islam untuk membina peserta didik agar berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seremoni dalam rangka perayaan / peringatan hari-hari besar umat Islam. Seperti kegiatan perayaan tahun baru hijriyyah, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan bulan Ramadhan dan lain-lain. Event atau lomba-lomba untuk membina santri untuk berprestasi dalam berbagai kegiatan lomba tingkat TPQ, baik yang diselenggarakan internal maupun eksternal. Adapun event perlombaan tersebut antara lain:lomba
qiro‟ah, lomba mewarnai dan lomba kaligrafi.
Ibu umi kulsum menyatakan bahwa:
“Siswa berdatangan kerumah para guru ketika TPQ diliburkan”.
(wawancara dengan ibu Umi Kulsum).
Pernyataan yang lain diungkapkan oleh Bapak Karjan, dia menyatakan bahwa:
“Orang tua merelakan waktu untuk mengantarkan bahkan
menunggui di TPQ sampai proses pembelajaran selesai”.
(wawancara dengan Bapak Karjan). Menurut pengamatan peneliti:
“Minat masyarakat pada pendidikan sudah baik, hal ini
berdasarkan hasil pengamatan peneliti masyarakat berdatangan untuk mengikuti atau hanya sekedar melihat perlombaan yang
diselenggarakan oleh pihak TPQ”. (pengamatan peneliti).
Perilaku yang didapat santri diantaranya dituturkan oleh ibu Ana bahwa:
“Bocah-bocah wes iso moco lan nulis arab ora ketang sitik,
kadang-kadang malahan sholat barang”.
Artinya : anak-anak sudah bisa membaca dan menulis arab walaupun sedikit sekali-kali sholat juga (wawancara dengan ibu Ana).
Ibu Umi Kulsum menyampaikan bahwa:
“Guru mung isone ngandani, ngarahke trus seng liyane iku ono tanggungane wong tuwo lorone lan pituduhae Allah SWT”.
Artinya : guru hanya bisa menasehati, mengarahkan yang lainnya adalah tanggungannya kedua orang tua dan petunjuk dari Allah SWT (wawancara dengan ibu Umi Kulsum).
Arahan, ajakan dan pendampingan sudah dilakukan oleh guru kemudian selehbihnya dari itu memang diserahkan kepada orang tua dan semata-mata petunjuk itu hanya akan datang dari Allah SWT. Para guru selalu berharap kepada santrinya agar mereka menjadi manusia yang benar-benar bermanfaat untuk sesama.
3. Model dalam pendidikan Islam Informal pada suku Samin di
Karangpace
Konsep pendidikan Informal yang digunakan adalah dengan cara mengajak. Bapak Nyari dan ibu Lasmi menyampaikan bahwa:
”Bocah-bocah pendak ono kumpulan lapanan mesti melu soale kumpulane kanggo wong umum, cilik-gedhe, enom-tuwo, lanang-
wadon”.
Artinya : anak-anak ketika ada perkumpulan lapanan pasti ikut karena kumpulan itu untuk umum , anak kecil maupun dewasa, pria maupun wanita (wawancara dengan Bapak Nyari dan ibu Lasmi). Ibu Lasmi menyampaikan bahwa:
”Wong tuwo wes kasep bodo gak mudeng agama gak opo-opo, seng
penting bocah-bocah pinter gak nggo minteri wong liyo”.
Artinya : orang tua sudah terlanjur bodoh tidak mengetahui agama tidak apa-apa, yang penting anak-anak menjadi pintar tetapi tidak digunakan untuk membohongi orang lain (wawancara dengan Ibu Lasmi).
Hal yang senada juga disampaikan oleh Mbah Lasio bahwa:
“Wong tuwo koyo aku iki ora tau melebu sekolahan, melebu
sekolahan namung kaping pindo yoiku sepisan daftarke anak kaping
pindone jipok rapot”.
Artinya : orang tua seperti saya ini tidak pernah masuk sekolah, masuk sekolah hanya dua kali yaitu sekali mendaftarkan anak saya yang kedu mengambil rapot (wawancara dengan Mbah Lasio). Karena orang tua kurang pemahaman tentang agama Islam. Jadi orang tua membimbing, mendorong kepada anak-anak mereka untuk mengaji di madrasah dan di tempat-tempat pengajian umum lainnya (pengamatan peneliti).
Hal ini juga dibuktikan hasil wawancara dengan ibu Runi, menyatakan bahwa:
“Bocah-bocah pendak jam setengah telu wes tak kon siap-siap, lak
mangkat nang pengajian sore”.
Artinya : anak-anak ketika sudah jam setengah 3 sudah saya suruh siap-siap, untuk segera berangkat ke madrasah (wawancara dengan ibu Runi).
Hal ini juga dibuktikan hasil wawancara dengan bapak Nyari, bahwa:
“Pendak ono kumpulan rt, wong tuane tak ilengke kon ngandani anak-anake supoyo podo diawasi nak wayah ngaji, kon ngoprak-
ngoprak”.
Artinya : ketika ada perkumpulan rt, orang tua selalu dihimbau untuk mengingatkan kepada anak-anaknya, untuk menyuruh anaknya supaya berangkat ke tempat pengajian (wawancara dengan bapak Nyari).
Seperti halnya, ibu Ana menuturkan bahwa:
“Anak ku seng iseh cilik-cilik, tak kon marahi sinau mbak yu ne,
masalahe aku wes gak mudeng pelajarane cah sekolah saiki”.
Artinya : anak saya yang masih kecil, saya suruh untuk belajar dengan kakaknya, karena saya sudah tidak paham dengan pelajaran anak sekolah zaman sekarang (wawancara dengan ibu Ana).
Mbah lasio menyampaikan bahwa:
“Sinau iku ora mung tutur, namung sinau ono seng aran tulodho, lan
wong tuwo kudu iso nyontoni seng apik ora gur marahi”.
Artinya : belajar itu tidak hanya secara lisan, tetapi belajar juga ada yang melalui contoh langsung, dan orang tua harus bisa mencotohi yang baik tidak hanya mengajar saja (wawancara dengan Mbah Lasio).
Orang tua sadar betul, bahwa pengetahuan tentang agama Islam masih kurang begitu paham, oleh karena itu orang tua mengambil peran dalam hal pendidikan ini dinyatakan oleh ibu Rasmi, bahwa:
“Aku pernah ngakon anakku sholat jama‟ah nang masjid pas sholat Magrib”.
Artinya : saya pernah menyuruh anak saya untuk menjalankan sholat
berjama‟ah di masjid ketika sholat magrib (wawancara dengan ibu
Rasmi).
Hal lain disampaikan oleh ibu Nyari, dia menyampaikan bahwa:
“Aku pernah kerungu anakku ngaji nang umah pas bar sholat subuh,
terus tak parani lan tak kandani sesuk nak ngaji maneh sangune
sekolah tak tambahi”.
Artinya : saya pernah mendengar anak saya mengaji di rumah ketika
kalau kamu ngaji lagi akan saya beri tambahan uang (wawancara dengan ibu Nyari).
Walaupun orang tua kurang dalam pengetahuan agama, tetapi orang tua tidak melepaskan anak-anak begitu saja dalam hal pendidikan. Orang tua masih berperan dalam memperhatikan pendidikan dalam keluarga
BAB IV