PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBIAYAAN DALAM SISTEM PERBANKAN SYARIAH
C. Tentang Perjanjian Pembiayaan Mudharabah
1. Pengertian Mudharabah.
Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak bank (shohibul maal) menyediakan modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah apabila rugi
72
Sri Nurhayati Wasilah, Akutansi Syariah Di Indonesia, salemba Empat, Jakarta, 2008, hal 135.
ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, maka si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.73
Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahib al-maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahib al-maal dia diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal.
Mudharabah berasal dari kata dharb, artinya memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang menggerakkan kakinya dalam menjalankan usaha. Mudarabah merupakan bahasa bahasa penduduk Irak, sedangkan menurut bahasa penduduk Hijaz disebut dengan istilah qiradh.74
Dasar hukum Islam dari pembiayaan mudharabah ini dapat ditemukan dalam: 1). Al-Quran surah An-nisa’ (4);29 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka rela di antaramu”.
2). Al- Qur’an surah Al-Maidah (5):1: artinya :
“hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu”.
73
Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2005, hal. 102.
74
3). Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2); 283
“Maka jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”.
Menurut penjelasan pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007: Mudharabah adalah Transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati.
2. Penerapan Sistem Pembiayaan Mudharabah dalam perbankan syariah. Pembiayaan mudharabah ini merupakan transaksi yang bersifat investasi dalam rangka penyediaan modal usaha untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan bersama antara bank dengan nasabah.
Secara teknis mudharabah merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) yang menyediakan seluruh modal sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola usaha (mudharib).
Keuntungan usaha yang didapatkan dari akad mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan didalam kontrak, dan biasanya dalam bentuk nisbah. Jika usaha yang dijalankan mengalami kerugian, kerugian itu ditanggung oleh shahibul maal sepanjang kerugian itu bukan akibat kelalaian mudharib, sedangkan mudharib menanggung kerugian atas upaya jerih payah, dan waktu yang telah
dilakukan untuk menjalankan usaha. Namun jika kerugian itu diakibatkan kelalaian mudharib, mudharib harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Akad mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan . Kepercayaan merupakan unsure terpenting dalam akad mudharabah, yaitu kepercayaan dari pemilik dana kepada pengelola dana.75
Kepercayaan ini penting karena dalam akad mudharabah , pemilik dana tidak boleh ikut campur didalam menejemen perusahaan atau proyek yang dibiayai dengan dana pemilik dana tersebut, kecuali sebatas pemberian saran-saran dan melakukan pengawasan pada pengelola dana.
Dalam mudharabah pemilik dana tidak boleh mensyaratkan sejumlah tertentu untuk bagiannya karena dapat dipersamakan dengan riba yaitu meminta kelebihan atau imbalan tanpa ada faktor penyeimbang (iwad) yang di perbolehkan syariah.
Pada prinsipnya dalam akad mudharabah tidak boleh ada jaminan atas modal namun demikian agar pengelola dana tidak melakukan penyimpangan, pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga. Tentu saja jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.
Oleh karena kewenangan sepenuhnya pengelolaan usaha pada pengelola dana maka akad mudharabah merupakan jenis investasi yang mempunyai resiko tinggi.76
75
Sri Nurhayati Wasilah, Op.Cit, hal 112.
76
Agar tidak terjadi perselisihan dikemudian hari maka akad pembiayaan mudharabah sebaiknya dituangkan secara tertulis dan dihadiri para saksi. Dalam perjanjian harus mencakup berbagai aspek antara lain tujuan mudharabah, nisbah pembagian keuntungan, periode pembagian keuntungan, biaya-biaya yang boleh dikurangkan dari pendapatan, ketentuan pengembalian modal, hal-hal yang dianggap sebagai kelalaian pengelola dana dan sebagainya. Sehingga apabila terjadi hal yang tidak diinginkan atau terjadi persengketaan, kedua belah pihak dapat merujuk pada kontrak yang telah disepakati bersama.
Apabila terjadi perselisihan diantara dua belah pihak maka dapat diselesaikan secara musyawarah oleh mereka berdua atau melalui Badan Arbitrase Syariah.
Usaha mudharabah mulai berjalan sejak dana modal usaha mudharabah diterima oleh pengelola dana. Sedangkan pengembalian dana mudharabah dapat dilakukan secara bertahap bersamaan dengan distribusi bagi hasil atau secara total pada saat akad mudharabah berakhir, sesuai kesepakatan pemilik dana dan pengelola dana.
Pembiayaan mudharabah ini ditetapkan untuk perbankan syariah melalui Surat keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/Kep/Dir tentang Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah dan Undang-Undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Fatwa MUI mengenai pembiayaan mudharabah ini dituangkan di dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor: 07/DSN-MUI/IV/2000, yang dalam garis besarnya berisi tentang ketentuan pembiayaan mudharabah.
Ketentuan pembiayaan mudharabah adalah sebagai berikut:
a) Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal harus diserahkan tunai, dan dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama.
b) Hasil dari pengelolaan modal pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan dengan cara, yaitu perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing) atau perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing).
c) Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada setiap bulan atau waktu yang disepakati. Bank selaku pemilik modal menanggung seluruh kerugian kecuali akibat kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah, seperti penyelewengan, kecurangan, dan penyalahgunaan dana.
d) Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan namun tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah. Jika nasabah cidera janji dengan sengaja, misalnya tidak mau membayar kewajiban atau menunda pembayaran kewajiban, maka ia dapat dikenakan sanksi administrasi.
D. Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan Dengan Sistem Perbankan Syariah.