• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori .1Belajar

2.1.12 Teori Belajar

Teori belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelektual (mental) siswa (Suherman, 2003: 27). Teori belajar yang mendukung penelitian ini adalah sebagai berikut.

2.1.12.1Teori Piaget

Teori Piaget merupakan teori belajar kognitif dimana terdapat empat konsep pokok yang diajukan Piaget dalam menjelaskan perkembangan kognitif. Keempat konsep tersebut adalah sebagai berikut.

1. Skemata merupakan struktur kognitif berupa ide, konsep, gagasan. Skemata ini dapat berubah-ubah atau termodifikasi selama siswa melakukan proses belajar. 2. Asimilasi merupakan proses memasukkan informasi kedalam skemata yang

telah dimiliki. Seseorang cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang agak atau sesuai dengan keyakinan yang dimiliki sebelumnya.

3. Akomodasi merupakan proses mengubah skemata yang dimiliki dengan informasi baru. Skemata atau informasi baru terus berkembang selama proses akomodasi.

4. Ekuilibrium merupakan proses keseimbangan dalam skemata yang terjadi setelah proses asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrium ini menjelaskan bagaimana anak dapat berpindah dari tahapan berpikir ke tahapan selanjutnya.

Menurut Piaget, sebagaimana dikutip oleh Rifa‟i & Anni (2011: 207),

ada tiga prinsip utama pembelajaran, yaitu (1) belajar aktif, (2) belajar melalui interaksi sosial, dan (3) belajar lewat pengalaman pribadi. Dari tiga prinsip utama

tersebut maka siswa akan memahami pelajaran jika siswa aktif membentuk atau menghasilkan pengertian dan hal-hal yang diinderanya.

Dari uraian diatas maka teori Piaget yang mendukung penelitian ini adalah belajar aktif. Dalam proses pembelajaran CORE pendekatam realistik berbantuan edmodo terdapat diskusi kelompok pada tahap organizing dan reflecting dimana membuat siswa menjadi aktif selama proses pembelajarannya. Dengan diskusi kelompok juga melatih siswa berinteraksi secara sosial dan membuat siswa menemukan berbagai alternatif penyelesaian suatu masalah melalui pengalamannya sendiri. Guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk membantu siswa dalam menemukan konsep saat menemui kesulitan.

2.1.12.2Teori Bruner

Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep dan struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep dan struktur (Suherman, 2003: 43).

Salah satu konsep yang terkenal dari Jerome Bruner adalah belajar penemuan (discovery learning), yakni model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa untuk memahami struktur atau ide kunci suatu disiplin ilmu, keterlibatan siswa dalam proses belajar, dan keyakinan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui personal discovery (penemuan pribadi) (Arends, 2008: 48). Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan antara lain: memacu rasa ingin tahu siswa, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya sehingga mereka menemukan jawaban, dan belajar memecahkan

masalah secara mandiri serta melatih keterampilan berpikir kritis. Hal tersebut terjadi karena mereka harus selalu menganalisis dan memanipulasi informasi.

Bruner menyarankan agar siswa belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep dan prinsip, agar mereka memperoleh pengalaman dan melakukan percobaan-percobaan yang memberikan kesempatan untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip tersebut (Trianto, 2007: 26). Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajar anak melewati tiga tahap, yakni.

1. Enaktif, dalam tahap ini anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.

2. Ikonik, dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan anak berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. 3. Simbolik, dalam tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol atau

lambang-lambang objek tertentu sehingga siswa mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.

Konsep discovery learning sesuai dengan tahapan pembelajaran CORE pendekatan realistik berbantuan edmodo, dimana siswa tidak menerima materi secara langsung akan tetapi mengelola (organizing), memperdalam (reflecting) dan memperluas (extending) untuk menemukan sendiri konsep yang akan dipelajari.

2.1.12.3Teori Ausubel

Teori ini dikenal dengan belajar bermakna dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ausubel membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menerima siswa hanya menerima, jadi tinggal

menghafalkannya, tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa jadi tidak menerima pelajaran begitu saja (Suherman, 2003: 32). Konsep belajar bermakna yang dimaksud Ausubel adalah mengenai apa yang dipelajari oleh anak sekarang akan bermanfaat bagi apa yang akan dipelajari selanjutnya atau dimasa mendatang. Trianto (2007) menyatakan dalam membantu siswa menanamkan pengetahuan baru dari suatu materi, harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa.

Inti teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna merupakan suatu proses untuk mengaitkan informasi baru dengan konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Mulyati (2005: 81) mengemukakan bahwa Ausubel memberi contoh penerapan teori belajar bermakna sebagai berikut.

1. Pengaturan Awal, yaitu suatu langkah mengarahkan para siswa ke materi yang akan mereka pelajari.

2. Deferensiasi Progresif, yaitu mengembangkan konsep mulai dari unsur paling umum dan inklusif suatu konsep, yang harus diperkenalkan lebih dahulu, kemudian baru hal-hal lebih mendetil dan khusus.

3. Belajar Superordinat, yaitu suatu pengenalan konsep yang telah dipelajari sebagai unsur yang lebih luas.

4. Penyesuaian Integratif, yaitu bagaimana guru harus memperlihatkan secara eksplisit arti-arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan arti-arti sebelumnya yang lebih sempit dan bagaimana konsep yang tingkatannya lebih tinggi sekarang mengambil arti baru.

Teori ini sejalan dengan pembelajaran CORE pendekatan realistik berbantuan edmodo dimana dalam penemuan konsep baru tersebut siswa harus mengingat materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya sebagai informasi awal karena adanya keterkaitan. Mengaitkan informasi lama dengan informasi baru ini terdapat dalam tahap connecting sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

2.1.12.4Teori Vygotsky

Teori yang diungkapkan oleh Vygotsky adalah teori mengenai konstruktivisme dimana siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa (Trianto, 2007: 26). Teori Vygotsky mengandung pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif, artinya pengetahuan didistribusikan diantara orang dan lingkungan, yang mencakup obyek, artifak, alat, buku, dan komunitas tempat orang berinteraksi dengan orang lain (Rifa‟i & Aini, 2011: 34).

Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan yang menurut beliau interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang. Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung serta dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu.

Implikasi teori Vygotsky dalam proses pembelajaran menurut Rifa‟i &

1. Sebelum mengajar, seorang guru hendaknya dapat memahami zone of proximal development (ZPD) siswa batas bawah sehingga bermanfaat untuk menyusun struktur materi pembelajaran.

2. Untuk mengembangkan pembelajaran yang berkomunitas, seorang guru perlu memanfaatkan tutor sebaya di dalam kelas.

3. Dalam pembelajaran, hendaknya guru menerapkan teknik scaffolding agar siswa dapat belajar atas inisiatifnya sendiri sehingga mereka dapat mencapai keahlian pada batas atas ZPD.

Keterkaitan antara penelitian ini dengan teori Vygotsky adalah diskusi kelompok untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dan menemukan konsep baru berdasarkan diskusi tersebut. Dalam pembelajaran CORE pendekatan realistik berbantuan edmodo menekankan pada siswa untuk belajar dalam kelompok-kelompok kecil sehingga mereka akan saling bertukar ide memecahkan permasalahan yang terdapat pada tahap organizing dan reflecting.

Dokumen terkait