BAB II URAIAN TEORITIS
II. 3 Teori Interaksi Simbolik
George Herbert Mead merupakan ilmuan yang pertama kali mencetuskan teori interaksi
simbolik, Mead sangat mengagumi kemampuan manusia untuk menggunakan simbol. Ia
menyatakan bahwa orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul di dalam sebuah
situasi tertentu, karena makna diciptakan dari interaksi pada sebuah realitas.
Teori interaksi simbolik ini menekankan hubungan antara simbol dan interaksi. Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes dalam buku pengantar teori komunikasi analisis dan aplikasi, mengatakan bahwa interaksi simbolik adalah sebuah kerangka refensi untuk memahami bagaimana manusia bersama dengan orang lainnya menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini sebaliknya menciptakan manusia bersama orang lainnya, sehingga dapat membentuk perilaku manusia. Pernyataan ini jelas menggambarkan mengenai bagaimana saling ketergantunganan atara individu dan masyarakat (West dan Turner, 2008:96).
Teori interaksi simbolik lahir pada dua universitas yang berbeda yaitu University of
Iowa dan University Of Chicago. Pada awal perkembangannya kelompok Iowa mengembangkan
bebarapa cara pandang yang baru mengenai konsep diri, tetapi pendekatan yang dilakukan
dianggap sebagai pendekatan yang tidak biasa. Oleh karena itu, Herbert Blumer melanjutkan
penelitian yang dilakukan George Herbert Mead, ia meyakini bahwa studi manusia tidak dapat
diselenggarakan di dalam cara yang sama dengan studi tentang benda mati. Peneliti perlu
mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalamannya dan usaha untuk memahami nilai
dari tiap orang.
Blumer dan pengikutnya menghindari kuantitatif dan pendekatan ilmiah, melainkan
lebih menekankan pada riwayat hidup, autobiografi, studi kasus, buku harian, surat dan
nondirective interviews. Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di
dalam studi komuniakasi. Lebih lanjut, tradisi Chicago ini melihat orang-orang sebagai individu
dari proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses tersebut yang akhirnya akan
menghilangkan intisari dari hubungan sosial.
Ralph LaRossa dan Donald C. Reitzes juga mencatat tujuh asumsi yang mendasari teori
interaksi simbolik, yang memperlihatkan tiga tema besar yaitu (West dan Turner, 2008:96),
(1) Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
a. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka.
b. Makna yang diciptakan dalam interaksi antar manusia. c. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
(2) Pentingnya konsep mengenal diri,
a. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. b. Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku.
(3) Hubungan antara individu dan masyarakat
a. Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial. b. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Karya Mead yang paling terkenal, berjudul Mind, Self, and Society menggaris bawahi
tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam menyusun sebuah diskusi tentang teori interaksionisme
simbolik. Tiga konsep itu saling mempengaruhi satu sama lain dalam term interaksionisme
simbolik. Pikiran manusia (mind) dan interaksi sosial (self dengan orang lain) digunakan untuk
menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) (Elvinaro, 2007:136). Untuk lebih jelas
ketiga konsep tersebut dijabarkan sebagai berikut :
a) Pikiran (Mind)
Pikiran merupakan kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna
konsep pemikiran yang dinyatakan sebagai percakapan di dalam diri sendiri. Salah satu hal
penting yang diselesaikan individu melalui pemikiran adalah pengambilan peran atau
kemampuan secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan orang lain (West
dan Turner, 2008:104-105).
Seorang individu dapat mengembangkan apa yang disebut dengan pikiran melalui
bahasa dan ini membuat individu tersebut mampu menciptakan setting interior bagi masyarakat
yang dilihatnya dan beroperasi di luar diri individu tersebut. Bahasa tergantung pada simbol
signifikan atau simbol-simbol yang memunculkan makna yang sama bagi orang banyak.
b) Diri (Self)
Diri merupakan kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang
lain. Individu mempunyai kemampuan untuk menjadi subjek dan objek bagi dirinya sendiri
dengan menggunakan bahasa. Subjek atau diri yang bertindak sebagai I dan objek atau diri yang
mengalami sebagai Me. Dimana I bersifat spontan, impulsif, dan kreatif sedangkan Me lebih
reflektif dan peka secara sosial (West dan Turner, 2008:107).
c) Masyarakat (society)
Cara manusia untuk mengartikan dunia dan diri sendiri yang berhubungan erat dengan
masyarakatnya. Ada dua bagian penting masyarakat yang mempengaruhi pikiran dan diri
seorang individu yaitu particular others (orang lain secara khusus) merujuk pada individu yang
signifikan bagi individu lain seperti orangtua serta keluarga dan generalized others (orang lain
secara umum) yang merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial sebagai suatu
Sebelum bertindak manusia menggunakan arti-arti tertentu kepada dunianya sesuai
dengan skema-skema interpretasi yang telah disampaikan kepadanya melalui proses sosial.
Sehubungan dengan proses tersebut yang mengawali perilaku manusia, konsep pengambilan
peran (role taking) sangat mempengaruhi dan penting. Sebelum diri seseorang bertindak, ia
membanyangkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba untuk memahami apa yang
diharapkan oleh pihak lainnya.
Komunikasi adalah proses interaksi simbolik dalam bahasa tertentu dengan cara berpikir
tertentu untuk mencapai pemaknaan tertentu pula, dimana kesemuanya terkonstruksi secara
sosial. Interaksi simbolik merupakan salah satu model penelitian budaya yang berusaha
mengungkap realitas perilaku manusia. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami
budaya melalui perilaku manusia yang terpantul dalam komuniaksi. Interaksi simbolik lebih
menekankan pada makna interaksi budaya sebuah komunitas. Pada saat berkomunikasi jelas
banyak penampilan simbol yang bermakna, yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang
melakukan komunikasi tersebut.
II.4 Komunikasi Interpersonal dalam Keluarga
Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan
interpersonal barangkali yang paling penting. Sehingga dapat dinyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, maka makin terbuka seorang individu untuk mengungkapkan dirinya,
makin cermat pula persepsinya tentang orang lain dan dirinya, sehingga makin efektif
komunikasi yang berlangsung. Komunikasi interpersonal yang efektif salah satunya dapat
tercermin pada keluarga, karena keluarga merupakan unit sosial yang paling kecil dalam
Melalui keluarga seseorang individu memulai yang namanya belajar, membentuk
karakter, dan mengembangkan nilai-nilai yang telah ditanamkan pada dirinya melalui suatu pola
tertentu. Komunikasi interpersonal yang terjadi diantara anggota keluarga dengan sendirinya
akan membentuk hubungan interpersonal diantara anggota keluarga tersebut. Proses komunikasi
dalam keluarga menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga hubungan interpersonal tiap
anggota keluarga. Meskipun semua kondisi budaya dan sosial berubah, tetapi bagaimanapun
komunikasi tetap harus memainkan peranan penting dalam kehidupan keluarga. Bahkan,
perubahan ini seharus dapat mendorong seorang individu untuk memahami bagaimana
komunikasi dapat mengurangi ketidakpastian. Hal ini pula yang nantinya akan menjadi suatu
peran dan tanggung jawab baru bagi setiap anggota keluarga.
Sebuah kelompok sosial dalam masyarakat memiliki peran dan status yang ditentukan.
Misalnya, suami, istri, ayah, ibu serta anak dengan sebuah ikatan darah, perkawinan, ataupun
adopsi yang biasanya berbagi tempat tinggal umum dan bekerjasama secara ekonomi. Namun,
seiring perkembang zaman definisi keluarga mulai berubah, tidak lagi menekankan pada peran
tradisional ibu, ayah dan anak tetapi lebih menekankan pada hubungan interpersonal dan
komitmen pribadi. Selain itu, terdapat juga definisi keluarga yang lain yaitu sebagai suatu unit
yang terdiri dari sejumlah orang yang tinggal secara bersama dan memiliki hubungan satu sama
lain dari waktu ke waktu dan biasanya berada dalam ruang hidup yang umum, tetapi tidak selalu
bersatu baik dalam bentuk pernikahan maupun kekeluargaan.
Berdasarkan perkembangan zaman dan perubahan sosial budaya dalam masyarakat,
terdapat empat jenis keluarga yaitu keluarga alami , campuran, orangtua tunggal dan keluarga
yang diperpanjang. Keluarga tradisional yang terdiri atas ayah, ibu dan anak biologis mereka
budaya, nilai, ekonomi, serta faktor lainnya membuat tipe keluarga ini menjadi tidak lagi khas.
Tipe keluarga yang paling khas saat ini adalah tipe keluarga campuran, yaitu keluarga yang
terdiri dari dua orang dewasa dan anak-anak mereka tetapi karena perceraian, perpisahan,
kematian ataupun adopsi, sehingga anak-anak mungkin menjadi salah satu produk dari orangtua
biologis atau hanya salah satu orangtua yang membesarkan mereka.
Keluarga besar yang biasanya termasuk paman, bibi, sepupu, kakek, nenek dan lain
sebaginya juga mempengaruhi komunikasi dalam keluarga. Keluarga merupakan tempat dimana
sesorang dibesarkan, tidak peduli apa jenisnya itulah yang dinamakan keluarga asal, dari sini
sesorang diajarkan aturan dan keterampilan tentang komunikasi interpersonal dan cara
mengembangkan asumsi dasar tentang sebuah hubungan.
Para peneliti komunikasi interpersonal telah mengembangkan empat pendekatan yang
berbeda untuk mempelajari komunikasi interpersonal dalam keluarga yaitu 12 :
• Pendekatan Sosial Deskriptif, pendekatan ini berpandangan bahwa keluarga berfungsi untuk menyelidiki aturan, peran, pola, tradisi dan norma-norma kehidupan keluarga.
• Pendekatan keterampilan komunikasi dan perspektif penggayaan, pendekatan ini menekankan pada prinsip dan keterampilan yang dirancang unuk membantu agar
keluarga berfungsi dengan baik dan dapat meningkatkan keterampilan komunikasi
diantara anggota keluarga.
• Pendekatan Terapi, pendekatan ini membantu keluarga disfungsional agar dapat mengidentifikasi dan mengelola isu-isu komunikasi yang bermasalah dalam keluarga.
Terapi ini lebih banyak berhasil jika semua anggota keluarga terlibat di dalamnya.
• Pendekatan Sistem, pendekatan ini memeriksa hubungan saling ketergantungan antara anggota keluarga dari perspektif holistik.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi pada salah satu anggota keluarga dapat
mempengaruhi keseluruahan sisitem keluarga. Sehingga mencoba untuk mengisolasi perilaku
tertentu yang tidak akan memberikan pemahaman lengkap tentang bagaimana keluarga
beroperasi. Sering kali konflik dalam keluarga terjadi karena anggota keluarga menekankan
suatu peristiwa dari perspektif yang berbeda. Sistem keluarga, sama seperti semua sistem sosial
lainnya yaitu sebuah sistem organisasional yang kompleks, terbuka, adaptif, informatif dan
memerlukan pengelolaan.
Konflik yang terjadi diantara anggota keluarga sebenarnya dapat di minimalisir
melalui sebuah sistem keluarga yang diterapkan pada keluarga yang disfungsional tersebut. Jadi,
sitem keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sebuah keluarga. Ada beberapa jenis
sistem keluarga yang dapat menjadi solusi dalam keluarga yang disfungsional yaitu :
1. Sistem keluarga yang lebih dari jumlah anggota perorangan
Setiap keluarga pasti terjadi dinamika di dalamnya, namun untuk memahami dan
mengatasi hal tersebut, sesorang anggota keluarga yang menjadi panutan dalam keluarga tersebut
harus mempertimbangkan sesuatu yang lebih dari anggota keluarga yang lainnya. Hal ini
mengarah pada sebuah prinsip utama berfikir sistem yaitu keseluruahan lebih besar daripada
jumlah bagian-bagian. Keluarga mengasumsikan identitas kolektif yang menggabungkan tujuan
individu, kebutuhan dan kepribadian anggotanya. Ini bertujuan agar setiap anggota keluarga
2. Sitem Keluarga yang saling ketergantungan
Sebuah sistem yang saling bergantung adalah satu di antara bagian-bagian yang
berhubungan dengan bagian lainnya serta dipengaruhi oleh bagian lain pula dari sebuah sistem
tersebut. Begitu pula dengan anggota keluarga, pastinya dalam berinteraksi selalu dipengaruhi
oleh beberapa hal seperti perilaku dan sikap anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga
yang lainnya.
3. Sistem Keluarga merupakan sistem yang Kompleks
Kompleksitas kehidupan keluarga dapat menyebabkan kesalahpahaman tentang arti
peran, fungsi dan jenis pesan yang dimunculkan oleh anggota keluarga dengan tindakannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi sistem keluarga, karena itu kebanyakan anggota keluarga
menekankan perilaku serta peristiwa dalam cara yang berbeda. Hal ini menjadi tantangan untuk
menentukan pernyataan ataupun perilaku yang terisolasi dari seorang anggota keluarga.
Sehingga hal ini dapat diartikan dalam beberapa cara yang digunakan anggota keluarga akan
tetapi memiliki penyebab atau efek dalam penerapannya.
4. Sistem keluarga terbuka
Sebagai sebuah sistem terbuka, keluarga bayak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
diantaranya dipengaruhi oleh ekonomi, lingkungan sekitar, agama, pekerjaan dan pengaruh
eksternal lainnya.
5. Sistem keluarga adaptif
Keluarga beradaptasi terhadap perubahan, beberapa keluarga melakuakan hal ini lebih
baik daripada yang lain. Kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan diri terhadap
perubahan, akan tetapi tetap saja tergantung pada seberapa baik keluarga berkomunikasi.
efektif dalam suatu sistem keluarga. Selain memperoleh informasi pribadi diantara mereka
sendiri, keluarga juga harus mengumpulkan dan memproses informasi dari sumber luar.
Sehingga keluarga siap untuk menerima segala perubahan yang terjadi.
Selain sistem keluarga, terdapat satu cara lagi untuk memgatasi konflik yang terjadi di
dalam keluarga yaitu melalui model interaksi keluarga circumplex. Cara ini dipandag paling
eketif untuk mengatasi konflik diantara anggota keluarga sebab berkaitan dengan model interaksi
yang digunakan keluarga sehingga dapat mempengaruhi komunikasi.
Para terapis keluarga berpandangan bahwa orang tidak bahagia datang dari keluarga dimana ada banyak orang lain yang bahagia. Mereka mencoba untuk mengidentifikasi penyebab masalah dalam sebuah keluarga disfungsional dan para terapis keluarga ini menemukan bahwa sumber utamanya adalah masalah keluarga yang bersumber pada sistem keluarga yang diterapkan. Namun, masalah ini dapat diatasi dengan model interaksi keluarga circumplex, yang mana model ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa sebuah dinamika dalam keluarga dapat berfungsi efektif serta dapat pula disfungsi dalam sebuah sistem keluarga.13
Model interaksi circumplex memiliki tiga model dimensi dasar yang berfokus pada
kemampuan adaptasi, kohesi, dan komunikasi. Kemampuan beradaptasi ini ditampilkan oleh
model circumplex mulai dari bersifat kacau sampai bersifat kaku yang mengacu pada
kemampuan keluarga untuk memodifikasi dan merespon suatu perubahan dalam struktur
kekuasaan. Bagi beberapa keluarga, sebuah tradisi, stabilitas, dan perspektif historis penting
untuk menimbulkan rasa nyaman dan kesejahteraan. Akan tetapi, keluarga lain yang tidak terikat
tradisi dianggap lebih mampu beradaptasi dengan keadaan baru.
Kohesi mengacu pada ikatan emosional dan perasaan kebersamaan yang menjadi
pengalaman bersama keluarga. Pada model interaksi circumplex hal ini dimulai dari sebuah
ikatan keluarga yang bersifat sangat ketat, sampai pada ikatan terlibat atau memilih untuk tidak
terlibat. Sebuah sistem keluarga yang dinamis, faktor kohesi yang terdapat dalam keluarga
biasanya bergerak naik dan turun, mulai dari yang bersifat terlepas sampai pada kisaran yang
bersifat untuk terlibat didalamnya.
Elemen kunci yang ketiga dalam model circumplex adalah komunikasi, melalui
komunikasi sebuah keluarga mampu beradaptasi dengan perubahan dan mempertahankan
hubungan baik diantara anggota keluarga. Hal ini dimulai dari hubungan yang bersifat terlibat
sampai pada hubungan yang bersifat terlepas. Komunikasi menjaga sebuah keluarga agar tetap
berperan sebagai suatu sistem yang saling mempengaruhi.
Model circumplex ini membantu seorang individu dalam memahami hubungan antara
kekompakan keluarga, adaptasi dan komunikasi keluarga, pada tahap perkembangan keluarga
yang berbeda. Sebuah keluarga yang seimbang memiliki jumlah moderat kohesi dan kemampuan
beradaptasi yang lebih. Keluarga yang seimbang biasanya juga lebih mampu beradaptasi dengan
keadaan yang berubah-ubah. Maka tidak mengherankan, apabila keluarga yang seimbang
biasanya memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Keterampilan komunikasi yang efektif memainkan peranan penting dalam membantu
sebuah keluarga mengubah tingkat kohesifitas atau adaptasi. Keterampilan ini meliputi mengenai
hal mendengarkan secara aktif, pemecahan masalah, empati dan dukungan. Keluarga yang
mengalami disfungsional merupakan keluarga yang tidak mampu beradaptasi atau mengubah
Biasanya keluarga disfungsional, kebanyakan para anggota keluarganya menyalahkan orang lain
atas masalah yang dialami keluarga mereka, anggota keluarga saling mengkritik satu sama lain,
dan di antara anggota keluarga tidak ada yang menjadi pendengar yang baik. Maka disinilah
model circumplex sangat berpengaruh besar dalam merubah sistem keluarga dalam keluarga