14 TERMINAL DAN SUB TERMINAL 1,51 0,01
2.5. Teori Kemiskinan
1 PERMUKIMAN 8.263,15 69,73 - Perumahan - Pendidikan - Kesehatan - Peribadatan 8.193,66 53,46 12,71 3,32 69,14 0,45 0,11 0,03 2 TPA SAMPAH 9,21 0,08 3 KOLAM OKSIDASI 1,50 0,01 4 PERTANIAN 1.190,66 10,05 5 KEBUN CAMPURAN 98,55 0,83 6 INDUSTRI 115,03 0,97
7 PERDAGANGAN DAN JASA 416,81 3,52
8 PERKANTORAN / PEMERINTAHAN 85,28 0,72
9 HUTAN KOTA 141,50 1,19
10 TAMAN / LAPANGAN OLAHRAGA 250,48 2,11
11 KUBURAN 299,28 2,53
12 SUNGAI / SITU / DANAU 342,07 2,89
13 JALAN 629,37 5,31
14 TERMINAL DAN SUB TERMINAL 1,51 0,01
15 STASIUN KERETA API 5,60 0,05
16 RPH DAN PASAR HEWAN - -
Jumlah 11.850,00 100,00
Sumber : Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor, 2008
2.5. Teori Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu akibat dari adanya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Kemiskinan merupakan keadaan masyarakat yang tidak
dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Kemiskinan dapat dilihat dari tiga aspek24, yaitu :
1. Aspek ekonomi
dari aspek ekonomi, kemiskinan merupakan keadaan rendahnya daya beli untuk memenuhi kebutuhan dasar.
2. Aspek sosial
Dilihat dari aspek sosial, masyarakat miskin memiliki keterbatasan dalam beraspirasi, hanya memikirkan hidup jangka pendek.
3. Aspek politik
Dilihat dari aspek politik, masyarakat miskin memiliki sifat ketergantungan. Menurut Bank Dunia (1992) dalam Prayitno dan Santosa (1996), dimensi (aspek) kemiskinan adalah multidimensional yang meliputi aspek ekonomi dan sosial25. Kemiskinan dikatakan sebagai sesuatu yang multidimensi diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan, keterampilan, tidak mempunyai aset/faktor produksi, serta adanya kekurangan dalam informasi.
Ciri – ciri dari kemiskinan dapat dilihat dari tempat terjadinya, kepemilikan terhadap keterampilan, pendidikan, dan faktor produksi. Biasanya lebih banyak terjadi di perdesaan daripada di perkotaan dan pertanian merupakan sumber penghasilan utama. Masyarakat miskin tidak mempunyai faktor produksi seperti tanah, modal, atau keterampilan sehingga kemampuan untuk mendapatkan
24
Nugroho, Iwan dan Rokhmin Dahuri. 2004. Pembangunan Wilayah, Perpektif Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan. Pengantar : Gunawan sumodiningrat. Jakarta, LP3S. Hal. 165.
25
Hadi Prayitno dan Budi Santosa. 1996. Ekonomi Pembangunan. Jakarta, Ghalia Indonesia. Hal.101 – 102.
penghasilan sangat terbatas. Pendidikan yang dimiliki rendah karena waktu yang dimiliki lebih dipusatkan terhadap mencari nafkah untuk hidup.
Menurut Bagian Sosial Pemerintah Kota Bogor (2008), kriteria miskin di Kota Bogor dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu26 :
1. Aspek fisik, yang terdiri atas :
- Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m²/orang
- Lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan - Dinding bangunan tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu
berkualitas rendah/tembok tanpa diplester
- Tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar atau bersama-sama dengan rumah tangga lain.
- Sumber penerangan rumah tangga tidak berasal dari listrik
- Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan.
2. Aspek pendidikan; pendidikan tertinggi kepala rumah tangga hanya sampai Sekolah Dasar (SD)/tidak tamat SD/tidak sekolah.
3. Aspek ekonomi, terdiri atas :
- Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah
- Tidak pernah atau hanya sekali dalam seminggu mengkonsumsi daging/susu/ayam
- Tidak pernah atau hanya sekali dalam setahun membeli pakaian baru untuk setiap anggota rumah tangga
26
- Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5 Ha per buruh / tani / nelayan / buruh bangunan / buruh perkebunan / pekerjaan lain dengan pendapatan di bawah Rp 600.000/bulan
- Tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual dengan nilai minimal sebesar Rp 500.000 (seperti sepeda, motor, emas, ternak, kapal motor atau barang modal lainnya)
- Tidak mampu membayar untuk berobat ke puskesmas/poliklinik.
Secara umum, kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kemiskinan alami, struktural, dan kultural. Kemiskinan alami adalah kemiskinan yang disebabkan oleh adanya keterbatasan sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kemiskinan alami ini memiliki ciri, yaitu teknologi yang rendah, tingkat surplus produksi yang rendah, tingkat ekonomi rendah, kepadatan agraris rendah, dan wilayah mengalami keterbelakangan27. Penggunaan teknologi yang rendah disebabkan oleh sumber daya manusia yang rendah sehingga tidak dapat meningkatkan produksi dan kurang dapat membudidayakan pertanian dengan baik. Lahan yang digunakan untuk bertani juga kurang mengandung unsur hara yang cukup akibat petani kurang dapat mengakses informasi. Kemiskinan alami juga memiliki ciri tingkat ekonomi rendah yang dicirikan dengan pengeluaran sebesar 70 persen untuk konsumsi pangan.
Jenis kemiskinan yang kedua adalah kemiskinan kultural. Kemiskinan kultural disebabkan oleh perilaku, gaya hidup, maupun budaya dari masyarakat
27
Nugroho, Iwan dan Rokhmin Dahuri. 2004. Pembangunan Wilayah, Perpektif Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan. Pengantar : Gunawan sumodiningrat. Jakarta, LP3S. Hal. 165.
sendiri. Gaya hidup mewah maupun boros dapat mengakibatkan masyarakat menjadi miskin apabila tidak diimbangi oleh tingkat tabungan yang tinggi. Ketidakcakapan dalam bekerja juga dapat menyebabkan seseorang menjadi miskin. Ketidakcakapan tersebut akan mengakibatkan seseorang dipecat dari pekerjaannya sehingga tidak dapat memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kemiskinan yang ketiga adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh ketimpangan struktur sosial dalam masyarakat. Kemiskinan ini juga disebabkan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh peraturan, dan keputusan dalam pembangunan28. Ditandai dengan adanya ketimpangan kepemilikan sumber daya, kesempatan berusaha, keterampilan, dan faktor lain yang menyebabkan tingkat pendapatan tidak seimbang dan menyebabkan struktur yang timpang.
Menurut Prayitno dan Santosa (1996), kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan suatu golongan masyarakat untuk menggunakan sumber – sumber pendapatan yang tersedia29. Hal ini mengakibatkan struktur sosial masyarakat berubah ke tingkat yang lebih rendah. Indikatornya adalah minimnya pendapatan per kapita, kekurangan akses terhadap pendidikan dan kesehatan sehingga tingkat pendidikan rendah. Dengan pendidikan yang rendah sehingga kesehatan juga rendah.
28
Ibid. hal. 167
29
Hadi Prayitno dan Budi Santosa. 1996. Ekonomi Pembangunan. Jakarta, Ghalia Indonesia. hal. 102 – 103
Menurut Wignjosoebroto (2005), kemiskinan struktural disebabkan oleh struktur yang tidak menguntungkan30. Kondisi tidak menguntungkan ini menyebabkan masyarakat tidak mempunyai akses untuk meningkatkan kualitas hidup. Akibatnya, masyarakat tersebut hidup dalam kekurangan.
Kemiskinan struktural merupakan perampasan daya kemampuan (capability deprivation) manusia atau kelompok manusia yang terjadi secara sistematis sehingga membuat manusia dan kelompok manusia itu terjebak dalam kondisi yang memiskinkan. Perampasan daya kemampuan tersebut mencakup: (1) perampasan daya sosial, yaitu perampasan akses pada ‘basis’ produksi rumah tangga, seperti informasi, pengetahuan dan keterampilan, partisipasi dalam organisasi, dan sumber-sumber keuangan. Akses terhadap daya sosial tersebut juga disebabkan oleh tekanan ekspansi modal dan globalisasi ekonomi; (2) perampasan daya politik, yaitu perampasan akses individu terhadap pengambilan keputusan politik, bukan saja pada kemampuan untuk memilih, tetapi juga untuk menyuarakan aspirasi dan tindakan kolektif; (3) perampasan daya psikologis, yaitu tekanan eksternal yang menyebabkan hilangnya perasaan individual mengenai potensi dirinya, baik dalam pembangunan sosial maupun politik sehingga individu/kelompok masyarakat tidak memiliki peluang untuk mampu berpikir kritis. Tekanan eksternal diinternalisasi kepada individu/ kelompok masyarakat sehingga menjadi kesadaran palsu.
Menurut Dove (2006) dalam Marx (2007), adanya transaksi bisnis lahan (sewa tanah) mengindikasikan adanya nilai surplus yang dimiliki oleh lahan tersebut, seperti kemampuan lahan untuk berproduksi. Sistem sewa lahan yang
30
BPS Pusat. 2005. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2005. Jakarta, BPS Pusat.
menekankan terhadap eksploitasi nilai surplus dapat mengakibatkan proses pemiskinan terhadap pemilik awal lahan tersebut.
Tiga aktivitas yang dilakukan pemilik modal terhadap pemilik lahan adalah31:
1. Dalam kenyataannya, proses sewa lahan merupakan sistem yang memaksa pemilik lahan untuk beralih fungsi ke bentuk lahan yang diinginkan oleh pemilik modal sehingga pemilik lahan tidak memiliki kemampuan berproduksi untuk memenuhi kebutuhan mereka.
2. Sewa lahan memanfaatkan surplus dari lahan tersebut sehingga akan memberikan keuntungan terhadap pemilik modal.
3. Sewa lahan tidak ditentukan oleh pemilik lahan namun ditentukan oleh pemilik modal sehingga pemilik lahan akan menerima segala keputusan pemilik modal tanpa memiliki kekuasaan/ketentuan hukum untuk melakukan perlawanan kepada pemilik modal.
Dalam penelitian ini, lahan produktif yang dibeli oleh developer akan memiskinkan pemilik lahan karena dapat menghilangkan sumber daya lahan yang dimiliki dan kehilangan pekerjaan. Selain itu, dikarenakan tidak adanya status hukum yang kuat atas lahan tersebut, pemilik lahan mendapatkan harga yang rendah.