KESIMPULAN DAN IMPLIKASI TEORI
B. Implikasi Teori
1.4. Kerangka Teori
1.4.3. Teori Klanisasi
1.4.3. Teori Klanisasi
Reformasi telah mengundang debat akademik tentang demokrasi Indonesia dan masa depannya. Ada dua pendapat dalam perdebatan tersebut. Satu pihak begitu optimis dalam menapaki masa depan demokrasi di Indonesia, sedangkan yang lainnya cenderung pesimis.
11
lebih transparan (local accountability), partisipatif (political equality) dan mampu meningkatkan pembangunan sosial ekonomi, oleh karena itu Indonesia disebut sebagai Negara yang sedang mengonsolidasikan demokrasi.
Penganut teori konsolidasi demokrasi mengatakan bahwa bagaimanapun, konsolidasi demokrasi di Indonesia akan terus membingungkan karena pelembagaan yang buruk dalam hal supremasi hokum dibarengi kerap terjadinya kekerasan dan peran militer yang tidak akan berkurang dalam waktu dekat. Konsolidasi akan terjadi sampai elite dan pejabat pemerintah diperkirakan dapat diandalkan untuk menegakkan lembaga-lembaga demokrasi, dan tunduk pada hukum itu sendiri adalah jawaban untuk masa depan demokrasi di Indonesia
Teori klanisasi mengacu pada praktik politik yang dijalankan oleh sekelompok orang untuk menjalankan kekuasaan. Penggunaan istilah “klan” disini juga menggambarkan hal yang sama dengan penggunaan istilah “ Oligarki Politik “ dalam studi lain. Belum banyak studi yang menjelaskan pengertian teori klanisasi secara spesifik. Pada umumnya, kata “klan“ berarti keluarga/ kelompok atau suku. Dalam bahasa Gaelic Skotlandia dan Irlandia, clan berarti anak. Sementara itu, kata “klan“ lebih banyak digunakan dalam bidang antropologi sebagai suatu istilah dalam analisis system kekerabatan yang didefiniskan sebagai sebuah kelompok sosial yang permanen berdasarkan keturunan langsung atau fiktif ( dugaan ) dari nenek moyang yang sama. Mulanya, kata ini digunakan para antropolog dalam studi atas masyarakat primitif. Namun, istilah ini kemudian digunakan untuk menjelaskan masyarakat modern,misalnya, dalam studi tentang Negara pasca-Soviet. Juga, cukup umum untuk berbicara tentang klan dengan mengacu pada jaringan informal dalam bidang ekonomi dan politik. Penggunaan ini atas asumsi bahwa anggota mereka bertindak terhadap satu sama lain dalam cara yang sangat dekat dan saling mendukung, kurang lebih sama dengan solidaritas dalam keluarga.
Selain itu, terdapat istilah yang biasa digunakan dalam menjelaskan fenomena keluarga politik, misalnya “politik dinasti”. Para akademisi lebih banyak menggunakan istilah-istilah ini untuk menjelaskan bagaimana politik dalam lingkaran keluarga karena definisinya yang mudah dipahami. Kamus Oxford, Advanced Learner’s Dictionary mendefiniskan dynasyty sebagai “a period of years during which members of a particular family rule a country”. Dinasti didefinsikan sebagai suatu periode tahun dimana anggota keluarga tertentu memerintah sebuah Negara. Singkatnya, bahwa dinasti adalah bagian dari produksi kekuasaan yang dilakukan oleh keluarga dalam struktur sosial dan politik yang kemudian berlanjut secara turun-temurun.
Konsep-konsep dari Pierre Bourdieu seperti habitus, modal, arena, dan doxa sebagai pisau dari anlisis. Konsep modal dan arena digunakan untuk menjelaskan bagaimana kedua hal ini sebagai alat reproduksi kekuasaan, sedangkan untuk melihat sumber legitimasi kekuasaan digunakan konsep habitus dan doxa. Pierre Bourdieu melihat bahwa dalam arena sosial selalu ada yang mendominasi dan didominasi. Kondisi ini tidak lepas dari situasi dan sumber daya capital (modal) yang dimiliki seseorang. Modal merupakan sesuatu yang langka dan berharga dalam ruang sosial tertentu. Menurutnya, modal adalah akumulasi kerja, baik berupa barang material maupun simbolik yang apabila dialokasikan secara privat oleh agen atau kelompok agen, memungkinkan mereka untuk memperoleh kekuatan sosial. Pandangannya tentang modal dimaksudkan sebagai hubungan sosial, karena modal merupakan suatu energi sosial yang hanya ada dan membuahkan hasil dalam arena perjuangan dimana modal memproduksi dan mereproduksi. Bourdieu menegaskan bahwa modal adalah hasil dari sebuah proses kerja yang perlu waktu untuk diakumulasikan, sebagai kapasitas potensi untuk menghasilkan keuntungan dan untuk mereproduksi dirinya sendiri dalam bentuk yang sama untuk diperluas. Modal juga
mengandung kecenderungan untuk bertahan dalam eksistensinya, sebagai kekuatan yang terkandung dalam obyektivitas sesuatu, sehingga semuanya tidak mungkin setara.
Modal secara prinsipil dibedakan menjadi empat kategori yaitu: modal ekonomi (berupa uang, kekayaan, properti), modal sosial (berbagai jenis relasi, jaringan), modal kultural (misalnya, pengetahuan, kualifikasi pendidikan, gelar akademik, dan bahasa) dan modal simbolik (seperti prestise, kehormatan, atau karisma). Salah satu sifat modal yang paling penting ialah dimungkinkan konversi dari satu bentuk ke bentuk lain, misalnya kualifikasi pendidikan tertentu dapat diuangkan melalui pekerjaan yang menguntungkan. Modal- modal inilah yang kemudian memiliki kekuatan-kekuatan sosial fundamental.
Bourdieu mendefinisikan modal-modal tersebut dalam pengertian yang berbeda-beda. Menurutnya, modal ekonomi merupakan modal yang paling cepat dan dapat langsung dikonvenrsi menjadi uang serta dapat dilembagakan dalam bentuk hak milik. Sedangkan modal sosial adalah jumlah sumber daya, baik actual ataupun maya, yang bertambah pada seorang individu atau kelompok karena memiliki jaringan tahan lama melalui hubungan timbal balik dari perkenalan dan pengakuan yang kurang lebih terlembagakan. Dalam pandangan Bourdieu, modal sosial sederhananya merupakan kelompok relasi-relasi sosial yang mengatur individu atau kelompok. Modal ini dapat berupa jaringan informasi, norma-norma sosial dan kepercayaan yang melahirkan kewajiban-kewajiban dan harapan.
Menurut Bourdieu, modal adalah setiap sumber daya yang efektif di ruang sosial tertentu yang memungkinkan seseorang untuk memastikan adanya keuntungan khusus yang timbul dari partisipasi dan kontestasi didalamna. Modal tersebut berada dalam sebuah champ atau arena, dimana berbagai jenis modal itu diperebutkan, dipertahankan dan dipertukarkan. Secara
sederhana, arena dapat disimpulkan sebagai jaringan hubungan sosial, system terstruktur dari posisi sosial dimana perjuangan atau manuver perebutan sumber daya, wilayah dan akses beberapa akan berusaha untuk mempertahankan status quo, sedangkan yang lain berusaha untuk mengubahnya.
Arena dilambangkan sebagai arena-arena produksi, sirkulasi dan perebutan barang kebutuhan, pelayanan, pengetahuan atau status. Arena merupakan tempat pertarungan kekuatan atau tempat mempertahankan dan mengubah struktur hubungan-hubungan kekuasaan. Dalam hal ini, arena merupakan sebuah ruang terstruktur dari posisi, dengan kekuatan yang menetapkan penentuan spesifik kepada semua orang yang memasukinya. Misalnya, seseorang ingin berhasil sebagai seorang ilmuwan, maka dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk mendapatkan minimal modal ilmiah yang diperlukan dan untuk mematuhi adat istiadat dan peraturan yang ditegakkan oleh lingkungan ilmiah tersebut. Arena juga merupakan “arena of struggle” dimana agen dan institusi berusaha untuk melestarikan atau membatalkan distribusi yang ada terhadap modal.
Konsep ketiga sebagai pijakan analisis adalah habitus yang digunakan dalam studi ini untuk melihat bagaimana disposisi individu ke dalam suatu praktik tertentu. Apakah individu cenderung mendisposisikan dirinya dalam skema praktik yang dikonstruksi oleh masyarakat atau sebaliknya? Bagaimana praktik sosial dipahami sebagai agregat perilaku individu ataukah sebagai sesuatu yang ditentukan oleh struktur supra individual?
Sedangkan konsep doxa dipinjam untuk menjelaskan bagaimana wacana dominan yang diproduksi oleh institusi sosial dapat diterima sebagai kebenaran obyektif bagi masyarakat. Dengan kata lain, doxa merupakan basis bagi klan sebagai legitimasi wacana dominan yang
diproduksi oleh institusi masyarakat. Dalam studi ini, institusi yang dimaksud adalah institusi yang sifatnya informal. Doxa adalah hubungan kepatuhan langsung yang didirikan dalam praktik antara habitus dan arena yang sangat menyesuaikan diri, dan sesuatu yang diterima begitu saja dari dunia yang mengalir dan pikiran (Bourdieu, 1990a: 68).