BAB V PENUTUP membahas kesimpulan dan saran-saran
B. Teori Kontruksi Sosial
Peter L. Berger dan Thomas Luckman dalam tulisannya yang berjudul The Social Contruction Of Reality, a Treatise in The Sosiological of Knowledge, menjelaskan bahwa realitas diciptakan oleh manusia secara terus-menerus dan dialami bersama secara subjektif16. Sehingga dalam pandangan Berger dan Luckman tidak ada realitas yang tercipta dengan sendirinya atau secara objektif karena menurutnya realitas merupakan suatu bentukan dari manusia/individu dengan dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada, selain itu realitas yang diciptakan tersebut dipengaruhi pula oleh pengetahuan dan pengalaman individu itu sendiri, sehingga realitas tersebut bersifat subjektif karena realitas tersebut merupakan hasil dari suatu pandangan individu.
Selain itu Berger dan Luckman mengutarakan bahwa kontruksi sosial tidak terjadi dengan begitu saja akan tetapi melalui tiga proses simultan yaitu pertama eksternalisasi di mana individu menyesuaikan diri dengan sosiokulturalnya karena manusia merupakan produk sosial, kedua objektivasi yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif dan terlembagakan atau mengalami institusionalisasi, ketiga internalisasi yaitu individu mengidentifikasi dengan lembaga-lembaga sosial di mana individu itu menjadi
16
Burhan, Bungin, Kontruksi Sosial Media Massa “Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman”, (Jakarta: Kencana Prenada Media 2008), h. 13
anggota17. Dalam arti yang sederhana bahwa proses simultan dari kontruski merupakan awal terbentuknya suatu realitas di mana seorang individu dipicu untuk berpikir ke luar atau memikirkan sesuatu disekelilingnya, setelah mewacanakan apa yang dipikirkannya, individu tersebut akan merubah wacana suatu lembaga atau barang tergantung apa yang ia wacanakan, dari merubah wacana menjadi sesuatu tersebut individu akan mulai beradaptasi dengan apa yang ia ciptakan atau memasukan dunia luar ke dalam dirinya.
Pada perkembangannya teori kontruksi sosial mengalami perubahan dengan melibatkan media massa sebagai institusi yang berperan aktif membentuk suatu realitas, maka teori kontruksi sosial kini berlangsung pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas, sebarannya merata sehingga realitas yang dikontruksi memunculkan opini massa18.
Realitas sosial di dalam teori kontruksi sosial media massa merupakan realitas media yang sengaja dibentuk oleh penulis naskah, dan realitas yang dibentuk tersebut merupakan realitas baru19. Kalau kita amati berbagai tayangan khususnya berita yang muncul di media massa mungkin sepintas dianggap bahwa berita tersebut memang benar adanya, tapi jika kita bandingkan berita di media massa yang satu dengan media massa lainnnya mungkin akan berbeda walaupun berita yang diangkat sama.
17
Burhan Bungin, Kontruksi Sosial Media Massa “Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman”, h. 2
18 Burhan, Bungin, Sosiologi Komunikasi “Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h.202-203
19
Burhan Bungin, Kontruksi Sosial Media Massa “Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman”, h 2
Selain itu juga kita sering menemui berita yang ditayangkan di media massa berbeda dengan realitas yang terjadi di lapangan, atau suatu berita tidak sesuai dengan harapan narasumber. Hal ini membuktikan bahwa teori kontruksi sosial media massa terjadi, dengan penulis naskah sebagai pembentuk realitas tersebut.
Kendati demikian seorang wartawan tidaklah semena-mena membentuk realitas tersebut sesuai keinginannya, akan tetapi seorang wartawan terlebih dahulu diarahkan oleh pihak redaksi dalam membentuk suatu realitas sosial, sedangkan pihak redaksi dalam mengarahkan suatu realitas yang akan dikontruksi tentu akan berdasarkan ideologi, kepentingan owner, dan visi misi media tersebut.
Dalam teori kontruksi sosial media massa realitas sosial tidak terbentuk secara tiba-tiba akan tetapi harus melalui proses tahapan-tahapan. Tahapan yang pertama yaitu tahapan menyiapkan bahan materi kontruksi tahap pertama ini lumrahnya dilakukan oleh pihak redaksi media massa, lalu didistribusikan kepada desk editor atau kordinator liputan dan berujung kepada wartawan yang pertama mengkontruksi realitas sosial, dalam tahapan ini biasanya media massa memfokuskan isu yang berhubungan dengan tahta, harta, dan wanita, selain itu media massa memfokuskan kepada isu yang menyentuh perasaan banyak orang, sensitifitas, sensualitas, dan hal kengerian, dalam tahapan ini ada hal penting yang menjadi dasar dalam penyiapan materi kontruksi yakni keberpihakan media massa
kepada kapitalis, keberpihakan semu kapada masyarakat, dan keberpihakan kepada kepentingan umum20.
Yang kedua yaitu tahapan sebaran kontruksi, prinsip dasarnya adalah bahwa setiap informasi harus disampaikan kepada masyarakat dan setiap informasi yang dianggap penting oleh media massa dianggap penting pula oleh masyarakat, dalam tahapan ini biasanya media massa menggunakan strategi real time, akan tetapi konsep real time ini berbeda antara media elektronik dan media cetak, jika media elektronik mendefinisikan real time sebagai sesuatu yang harus segera disiarkan, pada waktu itu juga informasi sampai kepada khalayak, sedangkan real time menurut media cetak yaitu konsep yang sifatnya tertunda yakni konsep yang terdiri dari harian, mingguan, dan bulanan21.
Tahap ketiga yaitu tahapan pembentukan kontruksi realitas di mana suatu pemberitaan disebarkan kepada masyarakat lalu dari pemberitaan tersebut membentuk kontruksi di masyarakat, di dalam terjadinya pembentukan kontruksi di mana masyarakat menganggap bahwa apa yang disajikan media massa sebagai sebuah realitas kebenaran, dengan kata lain bahwa masyarakat menganggap media massa yang membenarkan suatu kejadian, selain itu dalam pembentukan kontruksi realitas suatu masyarakat bersedia pikiran-pikirannya dikontruksi oleh media massa dengan pilihan seseorang menjadi pembaca atau penonton maupun pendengar konten dari media massa, tidak hanya itu pembentukan kontruksi realitas menjadikan suatu masyarakat menjadi konsumtif, maksudnya media
20
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi“ Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 205
21 Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi “ Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 207
massa sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup suatu masyarakat bahkan tiada hari tanpa menonton televisi, tiada hari tanpa membaca koran sampai mereka tidak bisa beraktivitas sebelum menonton atau membaca televisi dan koran22.
Tahapan yang keempat yaitu pembentukan kontruksi citra, di mana kontruksi ini dibangun dengan dua model yaitu model good news dan bad news, model good news yaitu pembentukan kontruksi di mana suatu kontruksi menghasilkan pemberitaan yang baik bahkan lebih baik dari apa yang terjadi, sedangkan model bad news yaitu suatu pemberitaan yang dikontruksi dengan menjelek-jelekan objek pemberitaan sehingga terkesan lebih buruk dari sesungguhnya23.
Tahap yang terakhir yaitu tahap konfirmasi yakni khalayak memberikan argumentasi kepada media massa karena keinginannya untuk terlibat dalam mengkontruksi sebuah realitas24.
Dari kelima tahapan di atas bahwa realitas yang dibangun oleh media massa haruslah melalui tahapan-tahapan yang di atas karena semua tahapan memiliki fungsi yang berkesinambungan dengan tahapan yang satu dan seterusnya, apabila salah satunya tidak dilakukan oleh media massa sebagai pengkontruksi realitas sosial maka kontruksi sosial sedikit kemungkinan akan terjadi.
22
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi “Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 208
23
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi “Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 209
24
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi“Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 210
Dalam pembentukan realitas sosial ada dua model realitas dibentuk oleh media massa, yaitu model peta analog dan model refleksi realitas, model peta analog adalah model di mana media massa membentuk realitas sosial berdasarkan kontruksi sosial media massa dengan menganalogikan sebuah kejadian dengan rasional, dengan kata lain melebih- lebihkan suatu kejadian25.
Contoh baru-baru ini empat artis tertangkap oleh BNN, pada saat itu semua media massa memberitakan tentang empat artis yang terlibat narkoba, bahwa empat artis dan sejumlah rekan-rekannya sedang berpesta narkoba di kediaman seorang artis tersebut, menurut berita yang disiarkan keempat artis tersebut sebelumnya sudah diincar oleh petugas tiga bulan lalu, dua hari kemudian dua artis dan beberapa orang yang tertangkap ketika kejadian itu dilepaskan oleh petugas BNN karena tidak terbukti menggunakan narkoba, kemudian dua artis tersebut membantah bahwa pada kejadian itu terjadi pesta narkoba.
Model selanjutnya yaitu model refleksi realitas yaitu merefleksikan kehidupan yang terjadi di masyarakat dengan kehidupan yang tak pernah terjadi dan seolah-olah kehidupan yang tidak pernah terjadi itu dianggap ada dan pernah terjadi26.
Seperti contoh banyak kita temui di film-film, dan sinetron, misalkan dalam sinetron laga Indosiar di mana seseorang bisa terbang, menghilang, atau seorang pemeran dalam sinetron tersebut sudah meninggal dan bisa hidup kembali, atau dalam film Avatar di mana kita diperlihatkan dengan keadaan planet
25
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi“Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h. 212
26
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi “Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”, h.214
lain di luar bumi lalu manusia di planet tersebut persis dengan bentuknya, namun semua itu hanyalah kontruksi belaka pada kenyataannya tidak pernah terjadi tapi seakan-akan kita yang menonton kejadian tersebut memang benar terjadi.