• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Seni Rupa ( visual art )

Anggota III : Dr. H. Muhizar Muchtar, M.S

1.4 Landasan Konsep dan Teori

1.4.2 Teori

1.4.2.3 Teori Seni Rupa ( visual art )

Untuk menganalisis struktur bentuk ornamen beserta aspek lainnya dalam kaitan penelitian ornamen masjid Al-Mashun Medan ini, tentunya penulis menggunakan ayakan teori seni rupa. Aspek kaitannya terhadap bentuk, media, ukuran, warna, tekstur, letak, serta konsep desain. Seni rupa digolongkan pada dua sifat dari presentatifnya. Yang pertama adalah seni rupa hanya untuk ekspresi,

sehingga setiap karya yang dihasilkan digolongkan pada seni murni. Murni berarti

tidak dilatar belakangi kehendak tertentu yang bersifat pada kegunaan. Seperti

karya lukis, patung, dan relief. Yang kedua adalah seni rupa terapan atau di buat

sengaja untuk difungsikan atau bersifat kegunaan.

Pada dasarnya semua manusia memiliki sense of beauty yaitu dapat

merasakan keindahan terhadap sesuatu. Keindahan ini bersifat subyektif sehingga kwalitas keindahan tidak di ukur dengan satu cara. Banyak aspek yang dapat di lihat untuk mendapatkan velue estetika didalamnya serta pertimbangan wujud objek sebagai hasil yang di capai. Proses penciptaan juga mendapatkan pertimbangan yang kuat dalam kontribusi nilai karya, terutama pelaku utama sebagai orang yang menciptakan.

Derajat atau martabat karya lebih banyak bersentral terhadap bagaimana

seseorang memulai sebuah proses penciptaan dengan menyinggung sejumlah latar belakangnya. Perhitungan nilai tinggi rendahnya yang ditemukan di dalam sebuah karya seni rupa terletak pada gagasan ide yang mencerminkan daya serap

seseorang memahami lingkungannya. Untuk mengkaji sejarah terkadang orang-orang yang berkaitan langsung terhadap hasil sebuah karya seni hampir tidak

diketemukan. Banyak para pakar antropologi tidak banyak menemukan (missing

link) siapa sebenarnya yang membuat atau yang menciptakan ornamen-ornamen

yang sangat indah itu. Hanya ada beberapa bangsa saja menuliskan orang-orang yang membuat karya-karya fenomenal tersebut. Pastinya mereka adalah manusia sebagai makluk hidup, memiliki nilai-nilai luhur yang diemban karena mereka memiliki hubungan saling merasakan di dalam konteks kepentingan yang sama.

Keindahan menurut bangsa Yunani adalah sesuatu yang logis di cerna oleh

panca indra untuk mendapatkan kebaikan. Plato sendiri menyebutkan watak yang indah termasuk juga hukum yang indah. Sementara Aristoteles merumuskan keindahan segala sesuatu yang baik serta menyenangkan. Bangsa Yunani

mengatakan keindahan dalam arti estetis disebut symmetria untuk keindahan

berdasarkan penglihatan (pada karya pahat dan arsitektur). Menurut bangsa Yunani keindahan dalam arti luas meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual (web,2012).

Sifat manusia mencari kenikmatan hidup lewat rasa keindahan sudah

merupakan lahiriah yang sudah ada dalam diri setiap orang. Pemahaman keindahan dalam diri manusia merupakan kodrati alamiah. Manusia dapat merasakan esensi keindahan di balik bentuk-bentuk seni dengan menelaah

bagian-bagian tertentu yang dapat membangkitkan sense of beauty. Hubungan merasakan

keindahan lewat karya seni di bangun oleh pengalaman hidup seseorang untuk menangkap sesuatu di sekitar lingkungannya. Sebagai pengalaman batin

keindahan tersebut membentuk manusia untuk berkarya, maka lahirlah ungkapan melalui seni.

Pembagian keindahan memang cukup luas dan jawabannya beragam

pernyataan. Sortais menyatakan bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan

sebagai sifat obyektif dari bentuk (l’esthetique est la science du beau). Lipps

berpendapat bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan perasaan subyektif atau

pertimbangan selera (die kunst ist die geflissenliche hervorbringung des schones),

(web,seni dan estetika,2012).

Keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kwalita pokok tertentu yang

ditemukan terhadap sesuatu hal, apakah bersifat yang tampak, di dengar, di sentuh

dan lain sebagainya. Bagian kwalita seni rupa mencakup kesatuan (unity),

keselarasan (harmony), kesetangkupan (symetry), keseimbangan (balance) dan

perlawanan (contrast).

Yunity atau sering di sebut dengan perpaduan seluruh kapasitas seni yang

terbangun di dalam sebuah karya seni rupa. Kesatuan ini mencakup media, bentuk

seni, makna serta konsep yang terpadu. Harmoni atau keselarasan atau keserasian,

bahwa dalam karya seni rupa dapat menunjukkan bagian-bagian penting dan tidak penting sehingga diketahui mana yang harus memberikan nuansa estetika.

Symetry adalah kesetangkupan. Pengertiannya adalah seluruh kapasitas objek seni

saling terkait dan berhubungan. Balance atau keseimbangan adalah ukuran tata

letak objek, tekanan warna dan lain sebagainya. Pertimbangan estetika seringkali berpusar pada persoalan keseimbangan. Namun banyak juga teori tidak mempersoalkannya, karena hal itu dikaitkan pada norma realisme sedangkan

karya abstrak sering tidak memperdulikan persolan keseimbangan. Contrast atau perlawanan dapat berupa objek maupun konsep.

Pertimbangan membuat karya dalam karya seni rupa tidak hanya mengukur nilai estetika semata, tetapi harus dilalui dengan ukuran logika. Konsep alamiah yang terkait antara manusia dengan lingkungannya tidak akan terlepas hubungan secara rasional. Salah satu contoh ketika manusia butuh perlindungan atau tempat tinggal. Sebelumnya manusia memahami kepentingan dirinya dengan sesuatu diluar dirinya salah satu contohnya seperti cuaca. Dengan pengalaman hidup dari gejala alam sehingga manusia harus beradaptasi dengan mengikuti keadaan yang ada disekitarnya. Maka tempat tinggalnya disesuaikan sebagaimana dapat melindungi mereka dari sifat-sifat alamiah yang mengharuskan manusia berpikir dan bertindak sesuai kehendak alam. Dengan demikian manusia harus merancang tempat tinggalnya layaknya sebagaimana dapat melindungi keluarganya dan disesuaikan pada konstruksi yang memadai. Tentunya logika ini dipakai untuk mendesain agar bentuk yang diinginkan harus layak difungsikan. Konteks penelitian ini tertuju pada ornamen masjid Al-Mashun dan kandungan maknanya, maka jika dilihat bahwa seluruh imajinasi yang ada pada setiap wujud ornamen tidaklah sesederhana yang dibayangkan oleh segelintir orang. Ornamen-ornamen yang berada dimasjid Al-Mashun Medan kelihatannya memang sangat indah, tetapi kita juga harus sadar bahwa setiap objek ornamen yang melekat dilalui dengan hukum logika. Logika dalam hal ini tentunya adalah Desain. Desain atau merancang tidak terlepas dari sejumlah program atau perencanaan yang akan dibuat atau diaplikasi kemedia yang seharusnya.

1.5 Metode Penelitian

Dokumen terkait