• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pagi ini terasa begitu dingin, hingga rasa malaspun menyelimuti tubuh-tubuh orang yang masih terlelap, Elan terbangun dari tidur,

setelah 2 tahun lebih Pengacuan ini termasuk pengacuan endofora yang anaforis karena antesendennya telah disebutkan terdahulu.

78. Pagi ini terasa begitu dingin, hingga rasa malaspun menyelimuti tubuh-tubuh orang yang masih terlelap, Elan terbangun dari tidur,

dia terkejut melihat Putri tidur disampingnya (166.KS).

79. ”Kre...k pintu kamar di buka, Risma meletakkan barang- barannya diatas tempat tidur, dia rebahkan sejenak tubuhnya diatas kasur, Rumah Risma begitu besar, sehingga kamar Rismapun terbilang cukup luas, namun demikian Risma tidak pernah menyombongkan diri, di depan orang lain, toh...kekayaannya tidak akan di bawa mati, dan miskin tidak jadi penghalang untuk masuk surga, so buat apa membangga-banggakan harta kekayaan ke orang lain, apalagi di hadapan umum (308.PS).

80. “Hai……..”sapa Roni sembari mematikan mesin motornya. “Mau bareng ?”tanya Roni. “Ya kalau ngga keberatan sih” jawab

Disepanjang perjalanan yang tergambar adalah suasana hening, tak terdengar seucap katapun dari Kania maupun Roni, tapi keduanya merasakan desiran darah mereka, tak teratur, hingga akhirnya sampai juga di sekolah (200.PMM).

Pada contoh (78) konjungsi hingga menghubungkan antara (pagi ini terasa begitu dingin, dan rasa malaspun menyelimuti tubuh-tubuh orang yang masih terlelap, Elan terbangun dari tidur, dia terkejut melihat Putri tidur disampingnya). Konjungsi hingga merupakan kata penghubung yang menyatakan akibat dari suasana pagi yang dingin. Dan contoh (79) kata sehingga menghubungkan antara (”Kre...k pintu kamar di buka, Risma meletakkan barang-barannya diatas tempat tidur, dia rebahkan sejenak tubuhnya diatas kasur, rumah Risma begitu besar, dan kamar Rismapun terbilang cukup luas, namun demikian Risma tidak pernah menyombongkan diri, di depan orang lain, toh...kekayaannya tidak akan di bawa mati, dan miskin tidak jadi penghalang untuk masuk surga, so buat apa membangga-banggakan harta kekayaan ke orang lain, apalagi di hadapan umum). Konjungsi sehingga mrupakan kata penghubung akibat yang ditimbulkan dari suasana/keadaan rumah Risma. Sedangkan pada contoh (80) kata sampai menghubungkan antara (“Hai……..”sapa Roni sembari mematikan mesin motornya. “Mau bareng ?”tanya Roni. “Ya kalau ngga keberatan sih” jawab Kania. “Yuk berangkat !”, Kania segera naik ke motor Roni. Disepanjang perjalanan yang tergambar adalah suasana hening, tak terdengar seucap katapun dari Kania maupun Roni, tapi keduanya merasakan desiran darah mereka, tak teratur, hingga akhirnya, dan juga di sekolah). Kata sampai merupakan kata penghubung akibat yang dituju/tujuan tempat dari pelaku cerita.

(e) Konjungsi Subordinatif Tujuan

Konjungsi ini berupa keterangan tujuan yang akan dicapai oleh pelaku. Untuk lebih jelasnya berikut contoh konjungsi subordinatif tujuan.

81. Setelah sampai di depan kelas XI A2, Putri dan Marcell berpisah karena Putri harus berhenti sedangkan Marcell masih harus berjalan lurus dan belok untuk menuju kelasnya (83.KS).

82. Mama ngga papa sayang, Mama meraih tubuh putri kecilnya. Ya udah Mama duduk di sini dulu supaya tenang, biar Risma ambilkan minum buat Mama. Tak berapa lama Risma datang membawa segelas air dingin untuk Mama, terlihat ada kecemasan di wajah Mama. ”Mama kenapa? Mbok Inah Ris, mbok Inah ngga ada. Apa? biar Risma lihat ke dapur dulu (328.PS).

Pada contoh (81) kata untuk menghubungkan antara (setelah sampai di depan kelas XI A2, Putri dan Marcell berpisah karena Putri harus berhenti sedangkan Marcell masih harus berjalan lurus dan belok, dan menuju kelasnya). Maksud dari kata untuk pada kalimat tersebut menyatakan tempat yang hendak di tuju oleh tokoh dalam cerita tersebut yaitu Putri, dan Marcell. Sedangkan konjungsi supaya pada kalimat tersebut meghubungkan antara, Mama ngga papa sayang, Mama meraih tubuh putri kecilnya. Ya udah Mama duduk di sini dulu, dan tenang, biar Risma ambilkan minum buat Mama. Tak berapa lama Risma datang membawa segelas air dingin untuk Mama, terlihat ada kecemasan di wajah Mama. ”Mama kenapa? Mbok Inah Ris, mbok Inah ngga ada. Apa? Biar Risma lihat ke dapur dulu). Konjungsi Supaya pada (82) menyatakan tujuan yang di maksud yaitu agar Mama Risma menjadi lebih tenang.

(f) Konjungsi Subordinatif Cara

Konjungsi ini berupa keterangan cara yang dilakukan oleh pelaku. Uuntuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

83. Sesaat dia melihat Putri bersama Marcell berjalan berdampingan bergandengan tangan dan terlihat begitu mesra , emosi Elan tiba- tiba memuncak, di dibrelnya bola basket yang ada ditangannya dengan tidak teratur, dia juga melempar bola dengan sembarangan hingga hampir mengenai kepala Rendy, tapi untungnya Rendy cepat menangkap bola itu, Elan segera duduk dan terlihat Rendy berjalan kearahnya dan ikut duduk didekat Elan (88.KS).

84. Selang beberapa lama lomba telah dimulai terlihat Risma sedang mengerjakan soal-soal dengan tenang, Risma terlihat begitu tenang dan lancar-lancar aja untuk mengerjalan soal-soal yang ada, didepannya, kini waktu sudah habis, dan Risma sudah menyelesaikan soal-soal tepat waktu, Risma menghampiri gurunya. ”Gimana Ris,?” ”Alhamdulillah lancar” (268.PS).

Pada contoh (83) konjungsi dengan menghubungkan (sesaat dia melihat Putri bersama Marcell berjalan berdampingan bergandengan tangan dan terlihat begitu mesra , emosi Elan tiba-tiba memuncak, di dibrelnya bola basket yang ada ditangannya tidak teratur, dia juga melempar bola dengan sembarangan hingga hampir mengenai kepala Rendy, tapi untungnya Rendy cepat menangkap bola itu, Elan segera duduk dan terlihat Rendy berjalan kearahnya dan ikut duduk didekat Elan). Kata dengan pada kalimat tersebut menyatakan keterangan cara. Sedangkan pada contoh (84) konjungsi dengan menghubungkan kata (selang beberapa lama lomba telah dimulai terlihat Risma sedang mengerjakan soal-soal, dan kata tenang, Risma terlihat begitu tenang dan lancar-lancar aja untuk mengerjalan soal- soal yang ada, didepannya, kini waktu sudah habis, dan Risma sudah menyelesaikan soal-soal tepat waktu, Risma menghampiri gurunya. ”Gimana

Ris,?” ”Alhamdulillah lancar”. Konjungsi dengan pada kalimat tersebut juga menyatakan keterangan cara.

(g) Konjungsi Subordinatif Konsesif

Konjungsi ini menunjukkan keterangan tak bersyarat. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

85. Roni memandangi langit-langit kamarnya dia masih terbayang wajah Kania, ternyata dia satu sekolah sama aku, kira-kira dia kelas berapa ya? namanya siapa ya?, Roni masih mengingat-ingat wajah Kania, meskipun Kania sudah benci setengah mati tapi Roni tetep saja penasaran sama dia (180.PMM).

Konjungsi meskipun pada (85) menghubungkan antara kalimat (Roni memandangi langit-langit kamarnya dia masih terbayang wajah Kania, “ternyata dia satu sekolah sama aku, kira-kira dia kelas berapa ya? namanya siapa ya?”, Roni masih mengingat-ingat wajah Kania, dan kalimat Kania sudah benci setengah mati tapi Roni tetep saja penasaran sama dia). Konjungsi meskipun pada kalimat di atas menyatakan kata penghubung tak bersyarat.

(h) Konjungsi Subordinatif Penjelasan

Konjungsi ini berupa berupa keterangan penjelasan yang digunakan untuk menjelaskan maksud yang disampaikan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

86. Tapi mereka tidak memungkiri akan ada benih- benih cinta diantara mereka , karena tidak dapat ditutupi bahwa telah tumbuh benih cinta di hati Elan. Dengan wajah Putri yang jelita telah membuatnya jatuh cinta (6.KS) .

Konjungsi bahwa pada contoh di atas menghubungkan kata (tapi mereka tidak memungkiri akan ada benih- benih cinta diantara mereka , karena tidak dapat ditutupi, dan telah tumbuh benih cinta di hati Elan. Dengan wajah Putri yang jelita telah membuatnya jatuh cinta). Kata bahwa pada kalimat tersebut merupakan bentuk penegas.

(i) Konjungsi Subordinatif Pengandai

Konjungsi ini menunjukkan keterangan pengandai yang menunjukkan harapan atau keinginan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

87. “Kak, Risma ngga biasa”. “Kenapa?”. “ Kalaupun Risma jelaskan, Kak Doni juga ngga bakal ngerti”. “ Ya udah kalau gitu, aku duluan yach, Risma mengangguk, dan tersenyum, Kak Doni mengendarai motornya kembali, hati Risma mulai sedikit tenang, dari kejauhan Kak Doni menoleh, Rismapun tersenyum, belum berapa jauh ada seseorang yang menghampirinya, dia dalah Romi, ya…….dia memang kak Romi sang kapten basket, yang tangguh di S’mania, itu adalah sebutan sekolah Risma, memang selain Kak Doni, Kak Romi juga sering memeperhatikan Risma, selain mereka berdua masih banyak lagi, ada Kak Roy, Kak Cristyan, Kak Erce, Kak Eno, dan juga ada satu angkatan dengan Risma, kebanyakan dari Kakak kelasnya, banyak juga sich yang satu angkatannya apalagi di kelas, Risma selalu jadi idola oleh teman- temannya (245.PS).

Kata penghubung kalaupun pada contoh (87) menghubungkan antara kata (“Kak, Risma ngga biasa”. “Kenapa?”, dan kata Risma jelaskan, Kak Doni juga ngga bakal ngerti”. “ Ya udah kalau gitu, aku duluan yach, Risma mengangguk, dan tersenyum, Kak Doni mengendarai motornya kembali, hati Risma mulai sedikit tenang, dari kejauhan Kak Doni menoleh, Rismapun tersenyum, belum berapa jauh ada seseorang yang menghampirinya, dia dalah Romi, ya…….dia memang kak Romi sang kapten basket, yang tangguh di

S’mania, itu adalah sebutan sekolah Risma, memang selain Kak Doni, Kak Romi juga sering memperhatikan Risma, selain mereka berdua masih banyak lagi, ada Kak Roy, Kak Cristyan, Kak Erce, Kak Eno, dan juga ada satu angkatan dengan Risma, kebanyakan dari Kakak kelasnya, banyak juga sich yang satu angkatannya apalagi di kelas, Risma selalu jadi idola oleh teman-temannya). Kata penghubung kalau di atas menyatakan kata penghubung pengandaian.

(3) Konjungsi Antarkalimat

Dalam Sarwiji Suwandi (2008: 139) berbeda dengan konjungsi di atas, konjungsi antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain dalam sebuah wacana. Oleh karena it, konjungsi ini selalu memulai suatu kalimat baru. Pemakaian konjungsi antarkalimat dapat dilihat pada contoh berikut.

88. Tapi saat semua itu baru diketahui anak-anak bersamaan dengan