• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERJADI REJIM TRANSIS

Dalam dokumen POLITIK HAK ASASI MANUSIA DAN TRANSISI D (Halaman 57-82)

Kritik Atas Logika Transisi di Indonesia

TERJADI REJIM TRANSIS

Aliran-aliran dan perbedaan dalam tubuh militer otoritarian

Pengunduran diri secara bertahap dan sistemik

Berkelanjutannya peran militer disertai menguatnya peran elite sipil.

Keputusan dan kebijakan yang tidak populer dan tidak efektif

Pengunduran rejim yang terjadi secara lebih cepat.

Berlanjutnya peran militer, pembersihan petinggi-petinggi politik, dilanjutkan oleh peran elite sipil.

Rejim yang tidak efektif secara umum.

Mundur di bawah tekanan permanen

Rejim pengganti menghadapi warisan permasalahan yang membuatnya tetap lemah

sedemikian rupa; berlanjutnya kekuasaan elite sipil dan peran militer.

Disintegrasi politik dan administrasi.

Pengunduran secara cepat. Berlangsungnya kekuasan elite sipil dan militer; namun

rejim demokratis yang terbentuk hanya memiliki kapasitas yang terbatas.

Disintegrasi ekonomi Pengunduran cepat. Berlangsungnya kekuasan elite sipil dan militer; namun

rejim demokratis yang terbentuk hanya memiliki kapasitas yang terbatas. Perubahan sosial yang tidak

terkendali.

Variatif Peran militer ataupun elite sipil yang besar sementara

kapasitas rejim demokratis yang terbentuk bervariasi dengan persoalan sosial dan ekonomi.

Sumber: Pinkney, Robert.(1993), Democracy in the Third World, Buckingham: Philadelphia, Open University Press, hlm. 160.

Tabel Pinkney mempraktikkan logika linear perubahan politik yang secara keliru mengasumsikan demokrasi dan sejarah politik sebagai barang padat yang tidak bisa berubah. Dalam matriks ini, instabilitas dan perubahan dimaknai sebagai semata-mata

kemungkinan dalam otoritarianisme. Sementara dengan otoritarianisme yang dirujuk adalah bentuk formalnya saja. Kesalahan terbesar dari tabel Pinkney ini adalah bahwa ia sama sekali tidak mampu mencakup kenyataan misalnya: pertama, instabilitas yang justru menjadi gejala umum dan ciri utama dalam demokrasi; kedua kemungkinan bahwa meskipun bentuk formalnya telah dijatuhkan, otoritarianisme masih bisa hidup dalam bentuk-bentuk tubuh politik yang non-formal.

Inkonsistensi yang sama sebenarnya juga telah ada di dalam pandangan Huntington mengenai gelombang-gelombang demokrasi, misalnya ketika ia mengajukan Argentina dan Italia sebagai negara-negara yang mengalami “first long wave democratization” pada periode antara 1828-1926. Namun demikian setelah terbukti ketika Argentina jatuh – bahkan dua kali – dalam kediktatoran dan Italia jatuh ke dalam fasisme, Huntington secara “gampangan” menamakan kejatuhan demokrasi ini sebagai gelombang balik saja. Ketimbang memikirkan ulang kelemahan dialektis dalam standardisasi teoretisnya dan mengakui bahwa demokrasi pada substansinya selalu terbuka dan karenanya tidak dapat dikonseptualisasi secara tertutup, ia malah “menambal” kelemahan itu dengan menamakan secara sederhana gejala kejatuhan demokrasi itu sebagai “reverse wave”.

Pada titik ini argumen transisionsis ini mencoba menghadirkan semacam ilusi mengenai sesuatu yang disebut sebagai “demokrasi lengkap dan lestari” yang bisa dicapai apabila masa transisi berhasil dilampaui dan demokrasi berhasil “dikonsolidasi”. Sebagai akibatnya, dengan landasan ilusif semacam itu, transisionis biasanya bernegosiasi dengan pendekatan institusional yang meletakkan agenda politik terbatas pada urusan prosedural dan penataan infrastruktur formal pasca-otoritarianisme. Dengan begitu, demokrasi bagi transisionis adalah demokrasi dalam pengertian yang sangat terbatas: normatif, institusionalis dan sangat prosedural.

Salah satu penerapan pandangan transisionis dapat dilihat misalnya dalam sodoran mereka mengenai “pola dan isi dari transisi politik”, yang di dalam Huntington dielaborasi dalam konsepnya mengenai konsolidasi demokrasi, yakni bahwa dalam rangka memperkuat demokrasi maka diperlukan upaya penanganan terhadap kejahatan.

Pandangan ini juga gagal memahami bahwa bahkan di negeri-negeri di mana lembaga- lembaga demokrasi yang ada telah dianggap paripurna sekalipun dan telah berdiri lebih awal, demokrasi masih menghadapi tantantangan-tantangan nyata yang mensyaratkan pertarungan yang fundamental secara tersendiri sebagaimana terlihat dalam kasus Perancis di tahun 2002, di mana demokrasi Perancis dan masa depan Perancis sebagai negeri kebebasan dan hak asasi manusia terancam oleh kemunculan neo-fasisme yang diwakili oleh munculnya pemimpin neo-fasis Le Pen. Contoh lain yang bisa diungkap di sini adalah pengalaman demokrasi Amerika yang kini harus menghadapi tantangan global dan pertanyaan serta kritik mendasar mengenai demokrasi, keadaban publik dan hak asasi manusia, sebagai akibat kebijakan agresi dan unilateral dari pemimpin politik mereka sendiri.

Di titik ini, jelas bahwa gagasan yang melihat politik sebagai sebuah fase mekanis di mana demokrasi dinyatakan sebagai barang jadi yang bisa dipetik secara apriori adalah ilusi besar. Transisionis melupakan fakta bahwa untuk dapat benar-benar demokratis, maka demokrasi harus membawakan dirinya sebagai “tidak lengkap”. Sebab kondisi- kondisi yang memungkinkan demokrasi itu sendiri pada saat yang sama juga selalu menghasilkan kondisi-kondisi yang merintangi pemenuhan demokrasi itu secara penuh. Sebagai contoh, toleransi dan kebebasan yang dimungkinkan oleh demokrasi pada praktiknya juga memberikan kemungkinan untuk hidupnya paham-paham dan partai yang tidak sepenuhnya menyetujui demokrasi pluralis. Artinya, di hadapan realitas politik ini setiap agen selalu memegang kewajiban dan mandat politik untuk senantiasa hidup dalam situasi keterbukaan. Justru, persis manakala muncul niat untuk menutup celah dalam demokrasi, maka demokrasi akan menjadi bukan demokrasi lagi melainkan totalitarianisme.

Demokrasi sebagai Perjumpaan yang Partikular dan Universal

Apabila kita melihat demokrasi dan hak asasi manusia sebagai imajinasi terluas dari pergulatan dan perjuangan politik umat manusia maka dengan mudah kita bisa

memeriksa kesalahan-kesalahan klaim politik transisionis. Yang utama adalah mereka gagal menafsirkan dan memperoleh pengertian mengenai apa makna dari “the political” atau “yang politis” yang melibatkan agen-agen sosial, proses “rantai kesadaran” dari agen-agen30 yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Misalnya, dalam konteks penumbangan rejim-rejim otoritarian di dunia ketiga. Kehancuran dan perlawanan terhadap totaliterianisme di negara-negara dunia ketiga tidak pertama-tama disebabkan oleh adanya seperangkat ide transendental tentang hak universal yang secara lengkap dipegang oleh beragam kelompok masyarakat kelas bawah yang ditindas. Melainkan pengalaman konkret partikular dalam penindasan, disakiti, dihancurkan martabatnya yang membuat mereka kemudian mencari penalaran instrumental untuk menghadapi sang rejim. Dengan demikian cakrawala imajinatif dalam penindasan yang spesifiklah yang menuntun mereka. Bukan pertama-tama pelaksanaan ide universalitas itu yang mendobrak kekuasan rejim politik itu, melainkan pertemuan pengalaman penindasan dalam horizon kebersamaan itulah yang menjadi alas bagi resistensi.

Pengalaman bersama dalam ruang sempit totaliterian inilah yang kemudian membentuk rantai kesadaran (chains of equivalence) dari aktor-aktor yang berbeda ini. Rantai inilah yang kemudian secara politik berhasil mengangkat dan mengekspresikan kesamaan serta mentransendensi beragam identitas partikular dari setiap agen (kaum minoritas, buruh, petani, mahasiswa, perempuan) ke dalam suatu political demand yang memiliki dimensi universal. Jadi di dalam proses transendsensi inilah kemudian aspek partikular dari sosial itu dinegasikan.

Dengan begitu, universalitas (persamaan, kebebasan, dll.) hanya bisa relevan apabila didefiniskan dan diisi dengan dan dalam kekuatan dari yang partikular. Universalitas memang memiliki peran tetapi itu hanyalah sebatas sebagai sebuah “tempat kosong” yang mempersatukan perangkat-perangkat tuntutan equivalensial dari keberagaman agen-

30

Mengenai konsepsi ini lihat dalam Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (1985), Hegemony and Socialist Strategy: Toward a Radical Democratic Politics, London: Verso.

agen sosial di masyarakat. Ia adalah semata-mata “political imaginary” yang hanya bermanfaat apabila berhasil dipetik dari dunia ide yang dibawa keluar dari buntalan mitosnya dan untuk selanjutnya diisi dengan praksis politik yang konkret.

Determinasi partikular terhadap yang universal bisa dijelaskan dengan cara yang berbeda dengan mengambil contoh gerakan perempuan di abad ketujuh-belas sebagaimana diungkap Laclau dan Mouffe. Menurut mereka, hanya apabila dari momen di mana democratic discourse atau dalam kasus ini kita sebut saja sebagai political imaginary (misalnya equality, justice) tersedia untuk mengartikulasikan bentuk-bentuk resisten yang berbeda-beda terhadap subordinasi maka kondisi-kondisi yang memungkinkan perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi mungkin.

Dari pengalaman gerakan perempuan, keduanya meyakinkan bahwa persamaan dan kesataraan sebagai democratic discourse yang berdimensi muncul menjadi penantang segala bentuk ketidakadilan dan subordinasi hanya dengan melalui beberapa proses. Pertama adanya relasi subordinasi di mana agen (dalam hal ini misalnya perempuan atau budak) berada di bawah kendali putusan pihak lain (misalnya tuan dan majikan ataupun suami dalam hubungan keluarga). Pada kondisi ini, ketegangan dan resistensi tidak secara otomatis muncul. Yang muncul dalam setiap relasi subordinasi adalah biasanya bekerjanya proses differential position atau the logic of difference. Dalam pengertian Laclau dan Mouffe dijelaskan sebagai proses identifikasi di mana antara agen satu dengan yang lain dalam hal ini antara “suami” dengan perempuan, budak dan majikan dibuka secara jelas. Kondisi ini kemudian berubah menjadi relasi opresi di mana situasi- situasi subordinasi kemudian bertransformasi menjadi situasi antagonistik sebagai akibat adanya penafsiran dan pasokan atas makna dari subordinasi. Di titik ini peran poltical imaginary menjadi signifikan dalam memberikan demarkasi dan identitas politik antara the oppressor vis-á-vis the oppressed. Kondisi yang ketiga adalah relasi dominasi, di mana sebagai akibat dari penguatan political imaginary, hubungan-hubungan subordinasi yang mendasari opresi itu kemudian secara jelas bisa dilihat dan dinilai oleh pihak ataupun agen-agen yang berada di luar situasi-situasi subordinasi itu. Relasi dominasi adalah relasi subordinasi yang telah mengalami transendensi dan penafsiran dari pihak

ketiga. Proses inilah yang kemudian memungkinkan pembentukan chains of equivalence dan perjuangan perempuan menghadapi ketidakadilan menemukan artikulasinya yang hegemonik dan universal.

Sekali lagi, yang mau ditegaskan di sini adalah kenyataan bahwa “seting universal” atau katakanlah prinsip-prinsip demokrasi seperti kebebasan dan persamaan harus terlebih dahulu di-imposed sebagai matriks imajinasi sosial atau sebagai instrumen konstitutif dalam proses artikulasi politik dari aktor-aktor yang plural dan partikular, setelah itu barulah ia menjadi berarti dalam perubahan politik yang diinginkan.

Dengan demikian apa yang disebut sebagai universal sebenarnya harus diartikan sebagai relative universality, karena realisasinya sangat ditentukan oleh suatu tindakan politik. Momentum universalitas adalah sesuatu yang unachievable, ia selalu memprasyaratkan tindakan pemenuhan. Di titik ini democratic discourse ataupun HAM itu sendiri haruslah dimengerti sebagai totalitas antara ideal dan tindakan. Keduanya berelasi dalam suatu proses dialektik yang tiada habis-habisnya. Upaya orang untuk memberi definisi politik, perluasan makna maupun pemenuhannya terus berkembang dan berubah seiring dengan situasi-situasi dan tantangan yang ada. Demokrasi, hak asasi manusia serta segala jenis ideal politik yang pernah disusun orang sebagai political imaginary hingga kini masih terus menjadi isu dambaan betapapun orang telah berusaha mencapainya; mengubah dan membetulkan sistem kemasyarakatan, menjatuhkan dan membangun suatu rejim politik, tetap saja ia tidak akan pernah mencapai situasi fullness.

Demokrasi dan hak asasi manusia sebagaimana dikemukakan Lefort31 adalah “momen kosong” atau “penanda kosong” di dalam Laclau, yang untuk mencapi makna politik terbaiknya diperlukan upaya agar mencapai efektivitasnya bagi perjuangan emansipasi. Ini bisa secara empiris dilihat dari apa yang dirumuskan orang mengenai hak asasi manusia pada era pasca-Perang Dunia Ketiga sebagai hasil refleksi atas perang dan kebiadaban fasisme, bukan masih menjadi ideal dan terus berubah hingga sekarang;

31

bahkan ia makin variatif dengan kehadiran jenis-jenis hak baru mulai hak-hak perempuan, hak-hak minoritas dan masyarakat adat.

Dengan posisi semacam ini maka jelaslah bahwa demokrasi dan perjuangan hak asasi manusia, sebagai bagian dari suatu perjuangan politik, berjalan sebagai suatu pengalaman yang terus menerus terbuka dan undecidable. Apa yang universal tampil untuk kemudian menegasikan identitas partikular. Namun demikian, isi dan pembentukan makna di dalamnya terjadi hanya melalui dan di dalam pertarungan politik untuk hegemoni, di mana tuntutan partikular diuniversalisasikan dan tuntutan yang lainnya dimarjinalkan.

Salah satu contoh yang dengan sangat baik digambarkan oleh Laclau adalah mengenai kembalinnya Peron di tahun 1973. Sebagaimana diketahui setelah kudeta militer tahun 1955, rejim Peron tersingkir dari panggung politik Argentina. Selanjutnya Argentina dikuasi oleh kuasi rejim militer dan pimpinan politik sipil yang sama sekali tidak memiliki kapabilitas untuk memenuhi tuntutan-tuntutan rakyat melalui institusi kepolitikan yang ada. Dengan demikian terjadilah serial suksesi kepemimpinan yang justru makin lemah legitimasinya dan makin menanggung beban kumulatif kekecewaan politik rakyat.

Di sinilah kemudian tuntutan politik ini berubah menjadi “the logic of difference” di mana kelompok-kelompok partikular seperti gerakan buruh, kaum miskin dan tunawisma, pengangguran bertemu dalam artikulasi yang sama. Pada titik inilah kemudian dihasilkan momen universalitas, di mana kelompok-kelompok kepentingan yang berbeda berada dalam suatu wilayah diskursif yang sama – dipersatukan oleh kepentingan dan tuntutan politik – bukan dipersatukan oleh prinsip metafisik “original position” ala liberal. Di titik inilah the logic of difference bertransformasi menjadi “the logic of equivalence”. Proses ini berlangsung sepanjang 10 tahuh lebih yakni antara tahun 1960-an hingga tahun 70-an, sementara Peron sendiri pada saat itu, masih berada dalam pengasingannya di Madrid. Seiring dengan dan dalam proses de-institusionalisasi yang kencang inilah kemudian aspirasi Peronis terus berkembang dan mengisi dari jauh kebuntuan politik yang terjadi saat itu. Peronisme pada akhirnya menjadi satu-satunya

pilihan logis yang memperasatukan barisan popular, ia dengan kata lain menjadi (counter) hegemonic block yang potensial menggantikan rejim politik yang ada saat itu. Pada akhirnya di tahun 1973, setelah kemenangan dalam pemilu, Peron kembali ke Argentina, kali ini bukan sebagai buangan tetapi sebagai presiden yang terpilih kembali.32 Ia bukan lagi empty signifier atau political imaginary, dia telah menjadi the

eal.

nengah yang tidak pernah dapat dipenuhi ecara memuaskan oleh rejim politik yang ada.

tan politik ini mungkin saja erkembang dan membentuk chains of equivalence baru.

r

Kemungkinan dan analisis sejenis bisa juga diajukan untuk konteks Indonesia. Politik pasca-Soeharto, sebagaimana yang telah berlangsung hingga saat ini sama sekali tidak memiliki jaminan untuk mencegah kembalinya politik dan aspirasi “Soehartois” atau katakanlah Orde Baru. Kemungkinan ini, paling tidak bisa terjadi akibat sejumlah faktor. Pertama, karena konsekuensi politik dari kehadiran kondisi demokrastis sendiri yang mengharuskan untuk memberikan toleransi kepada perbedaan dan aspirasi politik, bahkan terhadap Orde Baru sekalipun. Kedua adalah fakta bahwa perubahan-perubahan dan praktik kekuasan yang berlangsung justru makin menurunkan kualitas dan legitimasi politik demokratis yang telah diraih sebagaimana terlihat dalam berbagai kasus penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga, seiring dengan dua kecendrungan di atas, di tingkat yang lain, pada saat yang sama, terdapat tuntutan partikular dari kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat seperti buruh, petani penggarap, kaum miskin perkotaan dan kelas me

s

Kombinasi dari faktor-faktor tersebut pada tahap yang lebih jauh berkemungkinan mendeinstitusionalisasikan rejim dan pranata demokratis yang ada, untuk kemudian menghasilkan sejenis ruang vacuum yang mendelegitimasikan kepemimpinan politik demokratis apa pun. Sementara pada saat yang sama political demands dari beragam kepentingan dan agen seperti gerakan buruh, petani, mahasiswa, kamum miskin dan tuna wisama, kelompopk-kelompok agama, kelas menengah dan terpelajar, terus menerus tumbuh dan membesar tanpa dapat dibendung. Tuntu

b

32

Selain itu dalam situasi di mana partai-partai politik yang ada sama sekali tidak mampu memberikan jawaban dan akomodasi yang memadai, maka adalah wajar apabila kemudian massa popular ini kemudian kembali mancari dan melihat Orde Baru sebagai faktor dan alternatif. Dalam situasi kekosongan semacam itu, “Soehartois” yang pandai dan teruji akan dengan mudah memanfaatkan situasi ini untuk membentuk hegemonic

lock baru dan kembali ke panggung politik.

an dirinya kembali dari “the empty signifier” dari the “ancient regime” enjadi the real.

engan dominant discourse mengenai “melemahkan TNI erarti melemahkan NKRI”.

kelompok politik konservatif yang sedang menguat, yang hanya bisa diselesaikan oleh b

Situasi-situasi seperti ini sesungguhnya telah mulai berlangsung dan terjadi di depan mata. Yang kurang dalam proses antagonistik ini adalah upaya “Soehartois” untuk menemukan titik artikulasi atau pembentukan discourse dominan, yang bisa mempersatukan seluruh kekuatan politik yang ada dalam suatu political frontier untuk menghadapi rejim politik saat ini. Apabila ia berhasil menemukan dan membentuk kesatuan artikulatif ini, maka secara politik ia memiliki kesempatan dan kekuatan untuk mentransformasik

m

Karenanya di sini sekali lagi hendak ditegaskan, demokrasi bukanlah dan tidak pernah akan menjadi “barang jadi” atau sesuatu yang “fullness” dan decidable, sehingga dapat diramalkan dan difasekan sebagai sebuah “historical neccessity”. Demokrasi adalah “floating signifier” yang terus menerus bergerak seiring dengan tindakan dan pertarungan politik yang mengisi di dalamnya. Dengan situasi ini, hak asasi manusia pun sangat bergantung dari proses pertarungan sejenis. Dalam konteks di mana ideal mengenai “national security” dan “organic state” masih demikian kuat, maka perjuangan hak asasi manusia yang bertujuan memulihkan hak-hak korban dan menghukum para pelaku, akan dengan segera berhadapan d

b

suatu pertarungan politik baru dengan kekuatan yang memadai.33 Ini hanya sekadar ilustrasi dari perbedaan implikasi teoretis yang mungkin antara transisionis yang menganggap demokrasi sebagai fase dengan finalitas ilusif dengan gagasan politik yang melihat demokrasi lebih sebagai “political imaginary”.

Kondisi-Kondisi Diskursif34 Hak Asasi Manusia di Indonesia

Berlandaskan pemahaman dan kritik teoretis di atas maka dengan segera kita bisa memposisikan HAM sebagai bagian dari sebuah democratic discourse mengingat perjuangan HAM merupakan bagian inheren dalam perjuangan demokrasi itu sendiri. Ideal-ideal dalam perjuangan HAM adalah sekaligus ideal-ideal dalam perjuangan demokrasi. Dalam konteks Indonesia, apabila kita hendak secara lebih mendalam melihat sejauh mana relasi HAM dengan tantangan terbarunya maka ada baiknya terlebih dahulu memetakan “discursive conditions” dari perjuangan HAM di Indonesia.

Untuk itu kita bisa melihatnya melalui sejumlah faktor.

Faktor pertama adalah pembentukan negara dan rejim politik dalam kaitannya dengan dinamika kapitalisme pinggiran di negara-negara dunia ketiga. Faktor ini membantu kita untuk melihat sejauh mana pembangunan kapitalis di negara-negara dunia ketiga yang kebanyakan didukung oleh rejim-rejim otoritarian berpengaruh terhadap pembentukan dan keberlangsungan watak negara dan kemudian persoalan-persolan demokrasinya.

Banyak pengamat mendefinisikan ketegangan sosial dan politik yang berlangsung hingga kini merupakan hasil dari berlanjutnya pertentangan antara kepentingan-kepentingan dan

33

Dalam konteks ini kaum transisionis yang – dengan segala hormat – saat ini gigih memperjuangkan keberlangsungan impunity melalui kritik legal prosedural, gagal melihat dan merefleksikan pengalaman politik bahwa militer dan kepentingan militer hanya bisa dihadapi dan dihadang melalui pertarungan politik yang konkret, sebagaimana tercermin dari pengalaman pertarungan gerakan mahasiswa sepanjang 1998-2000 yang berhasil mengalahkan politik militer dalam RUU Keadaan Bahaya pada waktu itu.

34

Untuk detail tentang hal ini lihat dalam James Putzel (1997), “Why Has Democratisation been a weaker impulse in Indonesia and Malaysia than in the Philiphines?” dalam Potter (eds.), ibid., hlm. 240- 269.

perebutan antara faksi-faksi politik-modal domestik berhadap-hadapan dengan faksi-faksi politik-modal yang bermaksud meletakkan kembali penataan ekonomi di bawah bimbingan kekuatan-kekuatan multinasional.35 Gejala dan ketegangan ini sebenarnya telah berlangsung semenjak menjelang jatuhnya Soeharto.

Untuk itu dalam beberapa hal yang substansial, jatuhnya Soeharto harus diartikan sebagai penyingkiran tiran binaan modal asing yang telah dianggap makin lamban dan inefisien (korup) serta makin condong menyeret ekonomi dan penataan modal ke tangan lingkungan-lingkungan terdekatnya sendiri terutama keluarga. Keberatan ini tampak misalnya dari protes Bank Dunia dan WTO sebagai akibat dari kebijakan industri otomotif menjelang era kepemimpinan Soeharto yang memangkas pajak dan diskriminatif demi melapangkan jalan perusahan golongan pemodal kroni untuk mengelola bisnis tersebut. Ini hanya salah satu contoh. Hal lain yang juga krusial menyangkut perubahan ini adalah bahwa para pimpinan badan keuangan dunia melihat ketidakmampuan rejim itu untuk secara sungguh-sungguh memusnahkan inefisiensi dalam ekonomi akibat korupsi dan “politik palak”, sebagaimana tersebut dalam rekomendasi Bank Dunia tahun 1997.

Dengan demikian, kejatuhan Soeharto dan dimulainya era pasca-Soeharto di satu sisi dapat dilihat sebagai implikasi dari ketidakmampuannya untuk memperbarui dan menyegarkan model pembangunan kapitalis di Indonesia. Artinya dari sudut ini, tidak heran apabila kelanjutan perubahan sosial dan politik di Indonesia di kemudian hari amat ditentukan oleh model-model asistensi lembaga-lembaga dan rejim modal Internasional.

Dari sini menjadi jelas, bahwa terlepas dari sejumlah aspirasi dan radikalisme yang sempat berkembang dan menjadi atmosfir di sepanjang tahun-tahun penjatuhan rejim

Dalam dokumen POLITIK HAK ASASI MANUSIA DAN TRANSISI D (Halaman 57-82)

Dokumen terkait