• Tidak ada hasil yang ditemukan

Termometer Gedabu dan Habitus

Dalam dokumen Paradigma Berpikir penulisan ilmiah (1) (Halaman 81-100)

Termometer Gedabu dan Habitus

Masyarakat

Hasil penelitian ini dianalisis dengan metode institusi teknologi atau dalam hal ini dengan hily deutera atomic institution. Maksudnya inver dari bentuk pertama untuk mencari yang kedua. Refleksi materi pertama digunakan untuk membentuk materi kedua35. Diyakini antara materi dan bentuk ini tak dapat dipisahkan, tetapi untuk pengertian ini perlu diketahui.

A=B. (A = -B). 2 B:(b1, b2, b3 dan b4). B=(aI, a2, a3, dan a4).

AI = bI, a2=b2, a3=a4=b4.

35

Term yang dipungut dan dibuat oleh penulis yang diilhami oleh Aritoteles dan Karl R. Popper, dengan berdasarkan arti katanya, yaitu: institusi atom materi kedua. Dalam hukum kausalitas setiap X = Y juga X = -Y. Untuk perumusan dari X = -Y tidak dibicarakan, demi konsistensi basis penelitian. Namun bantahan dari hal tersebut akan diterima itulah permasalahan oleh penulis yang tak terelakan. Perhitungan yang demikian itu telah dimulai sejak Descartes sampai sekarang, tetapi sikap keterbukaan seperti penulis ini didukung oleh Popper.

Asumsi dari penelitian ini bahwa tingkah laku ditentukan oleh nilai budaya. Nilai budaya terdiri dari pola I, pola II, pola III, dan pola IV. Nilai budaya tersebut menghasilkan klasifikasi tingkat kreativitas masyarakat. Tingkat suatu masyarakat merupakan habitus suatu masyarakat. Habitus artinya kecenderungan umum dan alasan suatu masyarakat bertindak demikian. Alasan bertindak tersebut merupakan indikator nilai budaya tersebut. Hasil suatu kelompok tersebut dapat diukur dengan ukuran tertentu dalam bidang tertentu secara profesional yang disebut sebagai kinerja. Jadi, mengukur nilai budaya suatu masyarakat dapat disebut juga mengukur spirit suatu kelompok dalam mendukung tercapainya kinerja yang baik.

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa pola pertama dan nilai budaya melahirkan tingkah laku habitus masyarakat vakum, pola kedua melahirkan tingkah laku habitus masyarakat pasif, pola ketiga melahirkan tingkah laku habitus masyarakat aktif, dan pola keempat melahirkan tingkah laku habitus masyarakat hiperaktif. Tingkah laku masyarakat yang disebabkan oleh pola nilai budaya inilah yang dianalisis dengan metode institusi atom. Jadi, uraian tersebut tidak bisa lepas mutlak dari analisis logik sebelumnya, justru proposisi- proposisi yang di dalam pola-pola nilai budaya tersebut yang dijelaskan.

1.

Habitus Masyarakat Vakum

Habitus masyarakat vakum adalah suatu kelompok manusia yang berinteraksi dalam masalah berkreativitas dan belum bisa melihat masalah-masalah dalam kehidupan. Mereka belum bisa membedakan antara das sein dan das sollen. Tindakan mereka di luar kesadaran dan mereka tergantung kepada tindakan yang tidak terdefinisikan dan tidak

memahami apa tujuan hakiki yang dilakukan dalam keadaan bagaimanapun.

Tanggapan mereka terhadap hakikat hidup adalah dari baik ke baik. Dalam arti, rasa yang selalu menyenangkan. Jika ada suatu rasa yang tidak menyenangkan, mereka selalu menghindar. Suatu hal yang tidak menyenangkan bukan suatu permasalahan yang dipikirkan dan dibahas. Mereka membenamkan diri dalam alam khayal mereka sendiri.

Rasa merupakan unsur dominan dalam diri mereka untuk menentukan hakikat hidup itu. Hidup mereka perlu kedamaian dengan ruang dan waktu, dan mereka menyatu dengan ruang dan waktu tersebut. Dengan demikian, mereka tidak bisa membedakan mana yang alam, waktu, dan diri sendiri yang dirasakan hanya satu saja. Kenyataan dari kemisterian alam merupakan sesuatu yang sangat perlu diperhatikan. Alam dipelihara dengan baik, disujudi atau disembah sehingga memberi manfaat kepadanya.

Kemanfaatan yang diberikan alam itu telah memberikan contoh kepada nenek moyang mereka dari cerita ke cerita (dongeng) yang bersifat lisan. Dalam cerita tersebut, digambarkan ada yang disuruh dan ada yang dilarang atau dipantang dalam hidup. Dengan adanya pantangan atau larangan yang datang dari alam itu, di sinilah mulainya kelihatan hidup yang teratur. Rumusan-rumusan pantang tersebut terdapat dalam mitos-mitos. Dengan demikian, mereka mempunyai aturan hidup tersendiri.

Dalam masyarakat seperti ini dibutuhkan orang yang pandai bercerita yang bisa menggambarkan kejayaan hidup masa lalu dan keajaiban dunia. Masyarakat di sini menyukai perasaan yang halus dan orang yang memiliki jiwa demikian adalah pujian oleh mereka. Mereka menyukai kehidupan apabila cocok dengan keinginan mereka agar terdapat kedamaian. Mereka suka bermalas-malasan dan hidup ini

hanya mencari kesenangan semata. Oleh karena itu, tanggapan mereka terhadap karya dari nafkah ke nafkah saja. Jika sudah terdapat kebutuhan tersebut, pekerjaan lain tidak dihiraukan lagi. Kebutuhan pokok tersebut mereka cari ke dalam hutan atau di lingkungan di mana mereka berada. Pada umumnya, mereka tinggal di hutan yang yang kaya dengan hasil alamnya yang cukup untuk makan sehari-hari. Sementara itu, rumah mereka antara yang satu dan yang lainnya cukup berjauhan.

Cara yang baru terhadap pemecahan masalah tidak diterima karena bertentangan dengan cara hidup nenek moyang mereka. Selain itu, dalam mitos mereka tidak pernah disebutkan. Jika mereka mengetahui bahwa di luar lingkungan mereka ada peralatan modern untuk mengubah cara hidup mereka, mereka merasa tidak memberi arti pada cara modern tersebut. Mereka bukanlah merasa rugi jika tidak mendapatkan peralatan modern tersebut. Bahkan, mereka menganggap perusak sehingga tidak heran sekelompok masyarakat vakum ini menolak cara hidup baru ini.

Jadi, yang menjadi sasaran dalam berkarya ialah bagaimana menyelamatkan diri untuk dapat makan dari waktu ke waktu dengan tidak membuat cara baru dalam beraktivitas. Aturan yang telah ada menjadi baku dan merupakan suatu kemutlakan dalam realitas tanpa dicari pengertian baru dan nilai aktualitasnya.

Keadaan siang dan malam mereka anggap sebagai suatu keadaan yang biasa dan bukan menjadi masalah. Mereka tidak melihat waktu dalam berkreativitas, tetapi hanya kebiasaan dan atau melihat signal yang ada pada alam. Dengan demikian, mereka kelihatannya bukan disiplin akan waktu dan sangat janggal jika terdapat dalam masyarakat tersebut alat-alat pengukur waktu seperti jam, kalender dan alat sejenisnya. Alat-alat itu tidak akan terdapat pada masyarakat mereka. Jika ada pun, tidak akan berfungsi seperti yang sudah

mestinya. Maka dari itu, hakikat waktu bagi masyarakat vakum ialah dari dulu ke dulu.

Ketidakmampuan mereka untuk melihat waktu membuat mereka terlepas dari pengaruh situasi di luar lingkungan mereka. Ramalan tentang waktu dan keadaan masa akan datang tidak dibutuhkan, tetapi yang penting ialah tetap hidup seperti pendahulu mereka hidup. Namun, kebiasaan pendahulu mereka tidak sedalam keadaan tertinggal. Oleh sebab itu, mereka tidak merasakan sesuatu yang dibiasakan atau tradisi klasik.

Dengan prinsip yang demikian mereka hidup pada saat sekarang. Jaringan komunikasi dengan dunia luar terhambat karena memang tidak dibutuhkan. Jika memang ada pendapat bahwa dunia yang akan datang dikuasai oleh komunikasi, masyarakat yang vakum inilah yang tidak akan dapat dikuasainya. Kekuasan pemimpin dengan wewenang terwaris merupakan ciri utama dalam mengatur antarsesama dalam masyarakat mereka. Kekuasaan mutlak berada dalam pimpinan warisan dan tidak dapat diganggu gugat dengan aturan apa pun dan cara apa pun. Masyarakat pun dapat mengakui wewenang penguasa tersebut dengan kepercayaan bahwa dialah dewa penyelamat atau keturunan dewa penyelamat.

Jika ada di antara masyarakat tersebut berkeinginan untuk menggeser kedudukan pimpinan, dianggap sebagai musuh masyarakat. Oleh karena itu, dalam masyarakat seperti ini tidak ditemukan pihak oposisi atau yang berani duduk sebagai pihak oposisi. Jika terdapat orang yang lebih bijak dari pimpinan terwaris dan disenangi masyarakat, yang bijak tadi hanya berkedudukan berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut. Namun kekuasaan dalam menangani secara formal tetap berada di tangan penguasa pertama. Keputusan pun

diambil dalam bentuk instruksi sebentuk hubungan interaksi antarsesama mereka.

Permasalahan yang sering ditemukan dalam pembaharuan budaya ialah tentang tanah ulayat. Tanah ulayat tersebut dianggap sangat bernilai oleh masyarakat sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara alamiah. Oleh karena itu, sering terjadi persengketaan karena tanah ulayat tersebut. Bagi pemimpin yang berwenang sudah menjadi suatu keharusan untuk mempertanggungjawabkan dan mempertahankan tanah ulayat tersebut.

Tanggung jawab yang demikian sudah wajar dipertahankan oleh mereka sebagai tempat untuk berkreativitas. Akan tetapi, akibatnya masyarakat mereka tertutup dengan perkembangan kebudayaan. Selain itu, pemimpin tersebut tidak menyadari masyarakat tertinggal dari dunia luar dan pemimpin tersebut hanya sebagai kewajiban dalam hidup oleh orang yang berketurunan terhormat.

Alam sebagai penentu hidup dan matinya kehidupan mereka. Lingkungan yang subur akan mendapatkan makanan yang banyak dan demikian pula sebaliknya bahwa tanah yang tandus akan membawa kemiskinan. Alam dipandang sebagai bagian dari diri mereka dan alam diikuti seperti maunya. Oleh karena itu, tidak terbayang oleh mereka bahwa alam ini bisa berubah.

Tanah longsor, gunung meletus, sungai banjir dan padang yang kering bukan dipandang sebagai sebuah masalah. Sebab yang demikian itu tidak lebih dari kehendak alam itu sendiri. Kenyataan yang tidak menyenangkan tersebut dipandang laknat dari dewa yang terdapat pada alam itu, apakah di gunung, di sungai atau pada tempat lain yang bisa membawa bencana.

Konsekuensi dari pandangan terhadap alam yang demikian mengakibatkan sikap untuk bersatu dengan alam.

Alam diyakini sebagai pemberi kekuatan tertentu bagi manusia. Jika dapat mengetahui rahasia-rahasia alam tersebut, orang tersebut mendapat kelebihan yang didapat dari alam. Orang yang mendapatkan hal tersebut hanyalah orang-orang tertentu, sehingga orang tersebut juga menjadi anutan oleh masyarakat. Untuk itu tanggapan mereka pada hakikat alam ini disebut ―dari qadim ke qadim‖.

Dalam mengolah alam sebagai sumber kehidupan, belum mereka pikirkan. Mereka menganggap alam sudah memungkinkan hidup seperti adanya. Yang mengatur di dalam alam adalah alam itu sendiri.

2.

Habitus Masyarakat Pasif

Habitus masyarakat pasif adalah masyarakat yang bentuk tingkah laku dan kreativitasnya sudah menyadari adanya masalah dalam kehidupan ini. Akan tetapi, bagaimana seharusnya belum bisa mereka rumuskan, sehingga belum bisa mencari jalan keluar dari problem yang ada. Hakikat hidup yang mereka pandang dari ―baik ke buruk‖ dapat menimbulkan hidup menjadi pesimis. Hidup yang diwariskan oleh nenek moyang mereka sudah mencapai kemakmuran, tetapi benturan-benturan peristiwa sekarang sudah menimbulkan kerumitan dalam hidup. Oleh karena itu, mereka suka menyendiri dari keramaian. Namun, mereka tetap mengakui hidup dalam alam yang semrawut ini. Mereka suka mencari kesalahan orang lain, karena tidak sesuai dengan kepercayaan atau yang digambarkan oleh pendahulu mereka.

Mereka pada saat ini sudah mulai mengakui adanya perasaan yang berbeda dengan orang lain, tetapi belum ada alasan logis untuk meletakkan perbedaan tersebut. Pada saat ini, orang sudah mulai menyeleksi kepercayaan yang

sesungguhnya tepat dan kepercayaan yang salah. Oleh karena itu, muncullah tokoh-tokoh sofistik sebagai pembelah dan mempertahankan aqidah. Tokoh sofistik sangat dibutuhkan untuk menjelaskan kebenaran aqidah yang masyarakat miliki.

Dalam berkarya, mereka menganggap karya merupakan pembeda diri dengan masyarakat umum dan pekerjaan yang demikian bisa jadi dilakukan selama tidak mengganggu untuk memenuhi kebutuhan pokok. Mereka dapat dikatakan lebih banyak memakai tradisi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, pekerjaan tanpa mendapatkan hasil secara material ditunda dulu jika ada yang lain yang lebih menghasilkan. Maka dari itu, mereka kurang menghasilkan karya.

Pada masyarakat ini belum bisa menghasilkan karya yang fundamental dan universal. Kebiasaan meniru merupakan norma yang tertanam dalam masyarakat, tetapi sudah mulai sebagian mencari jalan baru supaya keadaan yang demikian dapat berubah. Bagi kelompok atas, seseorang yang mencari jalan baru tersebut dianggap pelopor dalam berkarya. Jika karya tersebut diakui dalam suatu badan yang mempunyai wewenang dan berwibawa. Akan tetapi, dalam masyarakat umum keadaan pelopor tersebut menjadi ejekan, sehingga pada masanya pelopor tersebut belum dapat diakui oleh masyarakat umum tersebut.

Masyarakat memandang karya yang berada di luar atau bukan hasil dari dalam masyarakat sulit untuk diterima. Namun, keadaan memaksa. Oleh karena itu, masyarakat pada masa ini banyak bekerja di bidang perbengkelan, montir berbagai macam alat elektronik, dan pendidikan yang pada umumnya untuk mencetak keahlian yang demikian, dan mereka pun bertebaran d itengah masyarakat seperti yang dikatakan sebagai penganggur tingkat tinggi.

Dalam menanggapi hakikat waktu ialah ―dari dulu ke esok‖. Di waktu menceritakan keadaan hidup, peristiwa dan

segala bentuk cerita mereka lebih dahulu menceritakan masa nenek moyangnya yang penuh kejayaan dan sekarang mendapat peristiwa berbeda dari keadaan yang sebelumnya. Oleh karena itu, mereka mengambil sikap bagaimana pada masa esok dapat kehidupan menjadi lebih baik seperti yang telah tercipta di waktu dulu.

Mereka saat ini lebih menyukai cerita khayal masa lalu yang seolah-olah mereka hidup di dalamnya. Cerita tersebut hampir tidak disadari akibatnya terhadap aktivitas kehidupan. Kadang-kadang mereka sudah mulai merasa malu dengan kesukaan yang demikian. Akan tetapi, apa yang harus dilakukan belum juga mendapat pengetahuan yang tepat, sehingga kadang-kadang merasa bingung dengan kreativitasnya sendiri yang penuh dengan ketidakmengertian.

Dalam melakukan interaksi antarsesama, mereka menanggapi perintah dari atasan secara formal dan kemudian diadakan mufakat dengan permasalahan agar perintah tersebut dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat. Permasalahan ini timbul karena dalam masyarakat tersebut sudah mulai kelihatan adanya pendapat yang bermacam-macam dan kelompok pun timbul akibat adanya pendapat tersebut. Oleh karena itu, dalam penyelesaian masalah, seringkali penguasa formal yang lebih ada di atas di lingkungan mereka turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.

Pada masyarakat berpolakan ini mereka sangat menyukai kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan politik. Kadang-kadang silsilah keturunan ataupun kewibawaan palsu sering dijadikan alat untuk memberikan sugesti kepada masyarakat umum dan agar dipercayakan bahwa dia mampu untuk memimpin. Di sinilah mulainya persengketaan awal yang bersifat politis, sehingga dibutuhkan undang-undang atau peraturan spekulatif untuk mengaturnya.

Dalam masyarakat ini kekuatan masyarakat bertumpu kepada keamanan, sehingga kekuatan militer menjadi kekuatan politis dan menjadi indikator masyarakat tersebut. Kewibawaan tertinggi terletak pada pimpinan militer dalam kekuasan. Dalam masyarakat, para militer sangat dipercaya dan dibutuhkan, sehingga akhirnya tak jarang militer berubah fungsi.

Tanggapan tentang hakikat alam ialah dari ―qadim ke baru‖. Masyarakat kelompok ini sudah dapat mengamati perkembangan dunia ini secara umum. Manusia sudah mulai membuat pernyataan bahwa alam bisa diatur. Akan tetapi dengan apa diatur dan bagaimana caranya, mereka belum punya ilmu tentang itu. Maka, diperlukanlah penerangan dan ilmu tentang penanganan alam tersebut. Dalam bidang pertanian dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dalam bidang alat permesinan dilakukan oleh masinis, dan sebagainya.

3.

Habitus Masyarakat Aktif

Masyarakat aktif adalah suatu perkumpulan manusia yang saling berinteraksi dan berkreativitas yang sudah dapat melihat dengan jelas adanya permasalahan dalam hidup ini. Rumusan antara yang seharusnya dan keadaan yang ada sudah dapat dipilah dengan baik, kemudian baru dapat memberi kesimpulan yang tepat terhadap masalah yang ada tersebut serta saran-saran yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dalam menanggapi hakikat hidup, mereka hidup dengan optimis, yaitu dengan penuh percaya diri akan dapat mengatasi permasalahan yang ada. Dengan demikian, mereka akan selalu berprinsip bahwa hidup ini buruk. Namun, ada jalan keluarnya, sehingga hidup ini menjadi baik.

Masyarakat saat ini sudah mengutamakan pemikiran yang rasional. Para ilmuwan dan pemikir umumnya sudah

mendapat tempat terhormat di tengah-tengah masyarakat sebagaimana mestinya. Orang berlomba-lomba menuju kehidupan yang realistis empiris dan sudah mengemukakan apa yang terasa. Para rohaniwan kurang mendapat tempat di tengah masyarakat habitus ini. Agar eksistensinya tetap diakui, kaum rohaniwan mendapat dukungan dari ilmuwan sosial atau eksakta. Kerja sama di antara keduanya sangat saling menguntungkan, sehingga menimbulkan kehidupan yang seimbang di tengah-tengah masyarakat, walaupun di sana-sini masih terdapat perbedaan pendapat secara logis. Bagi seseorang yang menekankan perbedaan dan persengketaan, akan merugikan dirinya sendiri. Masyarakat pada umumnya cenderung kepada pemimpin yang bersikap menemukan jalan tengah antara perbedaan persepsi dari kalangan agamawan dan ilmuwan.

Tanggapan mereka terhadap hakikat karya pada masyarakat aktif ini lebih mementingkan karyanya yang dapat diukur dalam praktis dan manfaatnya terhadap manusia. Kemanfaatan tersebut dapat mempermudah cara hidup dan memberi kesenangan dalam hidup. Pernyataan ditemukan ialah berkarya lebih penting dari segala-galanya, termasuk juga nafkah. Akan tetapi, walaupun berprinsip demikian, dia tidak menolak imbalan dari karya sendiri. Mereka yang terlibat dalam masyarakat aktif ini lebih senang memberi daripada menerima dan merupakan suatu ejekan baginya jika menerima tanpa dapat memberi.

Karya-karya pendahulu mereka dihargai sebagaimana layaknya. Di samping itu, mereka berkeinginan untuk melanjutkan karya tersebut dengan cara baru sesuai dengan situasi seperti mereka hidup. Jadi, pejuang pendahulu tidak diletakkan dalam mitos dan pujian saja, tetapi ingin mengaktualkan karya tersebut, sehingga ada kontinuitas dalam berkarya pada masyarakat tersebut. Oleh sebab itu, mereka

menghargai karya pendahulu seperti manfaatnya dalam masyarakat.

Cakrawala masyarakat aktif ini sudah cukup luas. Mereka sudah menanggapi waktu dengan teratur dan diatur dengan kedisiplinan terhadap waktu. Program dibuat dengan penuh perhitungan, sehingga dapat berjalan dengan semestinya. Kehidupan mereka lebih banyak dipengaruhi oleh gambaran hari esok daripada hari yang dulu, sehingga pernyataan tentang waktu berbunyi ―dari dulu ke esok‖. Mereka tidak menyenangi keadaan masa dulu yang tidak memuaskan. Untuk itu, mereka berharap dan berusaha terus agar tercapai suatu yang dinginkan.

Cerita masa lalu ditanggapi sebagai fenomena yang wajar dan biasa terjadi. Mereka memandang arti dari suatu peristiwa yang digambarkan dalam cerita ataupun mitos hanya sebagai bahan pengajaran. Sejumlah cerita masa lalu untuk dapat melihat peristiwa pengajaran juga sebagai hiburan. Dalam masyarakat aktif ini, tidak ada manusia yanga dikultuskan.

Mereka mengatur waktu selain masing-masing dan masyarakat mempunyai hak untuk melihat dan memantau situasi yang lebih besar. Selain itu juga, mereka mempunyai hak untuk mengatur dirinya. Oleh karena itu, dalam masyarakat seperti ini agak kelihatan egois, walaupun mereka tidak bermaksud demikian.

Dalam menanggapi hubungan antarsesama ialah dari mufakat ke instruksi. Interaksi antarsesama pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan mufakat penuh dari seluruh anggota masyarakat. Kemufakatan tersebut menyangkut kebijaksanaan yang akan dijalankan dan pemimpin yang dianggap mampu untuk menjalankannya.

Pada pola ini, masyarakat penuh dengan kompetisi bebas dan masing-masing kelompok bukan diikat karena

norma atau peraturan yang memaksa untuk dikelompokkan, tetapi memang sudah ada keadaan yang semestinya untuk berkelompok. Kelompok tercipta bukan diciptakan untuk menyerap atau menghisap masyarakat. Masyarakat dapat mempunyai andil dalam menentukan jalannya pemerintahan, yaitu dalam artian bukan pemerintah yang mengatur masyarakat,te tapi masyarakatlah yang menentukan pemerintah. Pada saat ini ,kelihatan jelas berjalan suatu pemerintah dengan sistem demokrasi liberal.

Masyarakat dari berbagai lapisan berhak dan berkemungkinan untuk menjadi pemimpin. Orang yang berantusias sebagai penguasa cenderung untuk memberi kesenangan dan kebahagiaan pada masyarakat. Selain itu, hanya orang-orang tertentulah yang dapat mengikuti tendensi- tendensi masyarakat tersebut. Mereka yang memimpin bukan karena berambisius, tetapi karena menyadari selain hak yang didapati juga setimbang dengan kewajiban yang dilakukan. Oleh karena itu, pekerjaan yang demikian atau menjadi pimpinan dalam hal berinteraksi antarsesama ini tak lebih dari keharusan keadaan dan permintaan masyarakat saja. Pemimpin pada masyarakat aktif tidak banyak berbuat sendiri dan pekerjaan rutin hanya sebagai realisasi keputusan bersama. Dengan demikian, pemimpin merupakan simbol tempat terhimpunnya aspirasi masyarakat.

Tanggapan terhadap hakikat alam ialah ―dari baharu ke qadim‖. Alam dinyatakan sebagai arena tempat pertarungan hidup. Alam perlu dikuasai untuk keperluan hidup manusia. Teknologi tingkat tinggi merupakan prioritas dalam mengubah alam untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, bertebaranlah pabrik-pabrik dari industri kecil sampai berskala besar.

Para saintis merupakan nilai tertinggi dan mempunyai kekuasaan tersendiri dari penguasa politis. Para saintis dihargai

bukan karena disegani, tetapi memang keahliannya pada bidang yang ditekuninya dan terbukti manfaatnya. Jika pimpinan diambil dari kalangan mereka, masyarakat pun dihitung seperti menghitung benda. Oleh karena itu, cara demikian tidak disenangi oleh masyarakat vakum dan pasif.

Dalam masyarakat habitus ini tidak menyadari bahwa penguasaan alam dengan peralatan modern tak lebih dari perusak alam yang begitu indah dan segar. Akibat teknologi juga, mereka melihat belum begitu menguntungkan hal ini karena penggunaan alat tersebut dapat merusak lingkungan, sehingga di sebagian kecil masyarakat menolak penggunaan alat modern tersebut. Oleh karena itu, tak perlu diherankan lagi apabila ada yang memprotes untuk tidak berlebihan menggunakan alat-alat atau teknologi modern. Untuk itu,

Dalam dokumen Paradigma Berpikir penulisan ilmiah (1) (Halaman 81-100)

Dokumen terkait