• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiang Keramat

Dalam dokumen Maryamah Karpov Andrea Hirata (Halaman 70-77)

TAK dapat kusembunyikan gembiraku mendapatkan dukungan para sahabat lama. Rupanya kejadian aku dihina dina Eksyen dan gengnya di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi sampai ke telinga mereka. Eksyen dan gerombolannya dari dulu memang seteru bebuyutan Societeit.

"Kali ini," kata Mahar tenang.

"Para penghujat itu akan kena batunya!"

Mendengar aku didukung Laskar Pelangi dan Societeit, Eksyen serta- merta merapatkan barisan. Fakta itu membuatnya berpikir bahwa aku menarik garis permusuhan dengan kelompoknya. Ia, melalui jaringannya yang luas, serta-merta menghasut para pembuat dempul, para penebang kayu, pandai besi, penyamak kulit kayu putih, bahkan orang-orang bersarung, agar tak mempermudah rencanaku membuat perahu. Kurang ajar betul.

Namun, tak ada yang kucemaskan. Dengan Laskar Pelangi dan Societeit di belakangku, aku tahu, aku telah mendapatkan sebuah tim yang tangguh. Perahu fantasiku yang sempat karam beberapa saat yang lalu, kini kulihat kembali berlayar megah, melintasi samudra dalam kepalaku.

***********

Sore ini, kami berjanji berjumpa di sekolah lama kami dulu, Sekolah Laskar Pelangi itu, untuk menyusun rencana.

Tiba di pinggir lapangan sekolah, kami tertegun melihat lapangan itu telah berubah menjadi ladang ilalang. Tumbuh subur meliuk-liuk setinggi lutut. Sore yang sendu. Dan aneh, Belitong Barat pasti hujan, karena nun di tepi langit selatan, melingkar terang selendang-selendang pelangi, lengkap tajuh warna, berangkat dari hulu Sungai Sambar dan terjun di hutan pandan, seakan menyambut kami pulang kembali ke sekolah gudang kopra itu.

Tak ada apa pun, tak ada siapa pun, selain lautan ilalang dan sekolah kami yang teronggok di tengah lapangan. Lapuk, renta, dan kesepian. Sekolah itu hanya ditemani pohon filicium yang sejak dulu selalu setia di situ, meneduhi kami, membiarkan kami bertengger di lengan-lengan dahannya. Jika Angin bertiup, sekolah usang dan pohon fihcium itu seakan ikut berayun-ayun seirama ilalang kuning.

Sebagian atap sekolah telah runtuh, bilah-bilah sirap berserakan di tanah, papan-papan pelepak dindingnya banyak yang terlepas dari pakunya.

Balok panjang wuwungannya telah patah, tiang-tiang penyangganya terpancang merana. Namun, lonceng tungkunya masih menggantung Tiang bendera juga masih tegak, dan satu-satunya tanda yang mengabarkan bangunan itu sekolah masih lekat di dinding utara, yakni sebidang papan yang gagah, meski miring dan berlumut-lumut. Masih kentara tulisan di papan itu: SD Muhammadiyah di antara pancaran sinar matahari terbit yang menjunjung sebaris kalimat nan agung: Amar Makruf Nahi Mungkar: Mengajak pada yang baik dan mencegah pada yang mungkar.

Sungguh menyedihkan keadaan sekolah kami sekarang. Dulu ia dikucilkan zaman, sekarang ia masih senyap sendirian. Kami tertegun bergandengan tangan. Tak seorang pun bicara karena kami terlena mendengar suara Bu Muslimah dari dalam kelas itu, gelak tawa, sedan tangis, bait-bait puisi, dan dialog sandiwara kami dulu. Lalu mengalun suara kecil Lintang menyanyikan lagu Padamu Negeri, hanya untuk menyanyikan satu lagu itu saja ia dengan gagah berani mengayuh sepeda empat puluh kilometer dari rumahnya di pinggir laut. Di kelas itu, meski suaranya sumbang, ia bersenandung sepenuh jiwa.

Kami berjalan bersama mengarungi ilalang menuju kelas kami. Bangku- bangku kelas masih seperti dulu, dan aku takjub menyadari betapa semua berasal dari kelas seperti kandang ternak itu. Tiang utama sekolah kami, sebatang kayu bulin sepeluk orang dewasa yang dulu dipikul sendiri oleh pendiri-pendiri sekolah itu masih kukuh tertanam. KuLit kayu itu penuh goresan pisau lipat, tanda tinggi badan kami yang diukur dengan menggaris tepat di atas ubun-ubun. Garis-garis pertama, kelas satu SD dulu: Harun 150 cm, Trapani 110 cm, Sahara 105 cm. A Kiong 105 cm, Kucai 103 cm, Samson 102 cm, Mahar 100 cm, Lintang 97 cm, Ikal 94 cm, dan Syahdan 90 cm. Kami juga menandai garis waktu ketika masing-masing kami dikhitan. Kelas dua, tinggi Harun melejit jadi 157, gara-gara ia sudah dikhitan.

Pada kelompok kedua sebelum tertinggi, berarti saat kami kelas dua SMP, tampak sebelas goresan, di sana masih tegas terbaca. Garis teratas: Harun 168 cm, lalu Flo 160 cm, Trapani 159 cm, Sahara 159 cm. A Kiong 158 cm, Kucai 157 cm, Samson 156 cm, Mahar 155 cm, dan tiga garis terbawah adalah Lintang 149 cm, Ikal 147 cm, dan Syahdan 144 cm. Saat SMP kami juga membuat garis batas yang bisa ikut mencuri masuk ke bioskop Wisma Ria khusus untuk anak-anak kaya Meskapai Timah. Kami menerobos penjagaan dan menonton film dari sisi belakang layar sehingga semua gambar film terbalik Batas tinggi badan untuk ikut penyusupan rahasia itu adalah minimal 145 cm, karena itu Syahdan tak pernah bisa ikut.

Namun, garis tertinggi setahun kemudian, saat kami kelas tiga SMP, hanya tampak garis harun 167 cm. Flo 165 cm. Trapani 164 cm, Sahare 163 cm, A Kiong 160, Kucai 160 cm, Samson 159 cm, Mahar 159 cm, Ikal 144 cm, dan syahdan 135 cm, tak tampak lagi garis nama lintang,karena pada hari kami mengukur tinggi badan itu, hari yang sama pula Lintang terpaksa meninggalkan sekolah. Kini kami tertegun di depan balok bulin itu dan terisak-isak tak tertahankan melihat tak ada lagi nama Lintang dalam garis-garis tinggi badan kami terakhir kami di tiang itu. Samson, Sahara, dan Harun tersedu sedan sambil memeluk pundak Lintang. Mata Lintang berkaca-kaca. Betapa menyakitkan hari perpisahan itu bagi kami. Hari pedih yang terekam jelas pada tiang keramat perlambang kerasnya perjuangan kami demi pendidikan, dan hari pedih itu, tak kan pernah tersembuhkan oleh waktu sekalipun, sampai kapan pun.

Mozaik 42

Masih Seperti Dulu

KAMI membuka jendela yang telah karatan kuncinya. Matahari sore Jingga masuk ke dalam kelas dari celah dedaunan fihcium yang telah tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan makin rindang. Pelan mulanya, lalu makin dekat dan kian nyaring terdengar suara kut, kut, kut. Ah, Coppersmith barbet alias burung ungkut-ungkut! Tepat pukul empat sore sekarang, mereka melakukan muhibah keduanya untuk menyatroni ulat-ulat di kulit pohon filicium. Sejak dulu, jadwal mereka selalu tetap.

Ketukan kut, kut, kut tak ayal membangunkan hewan-hewan lain untuk makan sore. Kami terkejut, dari dinding sekolah yang bolong kami melihat kawanan burung peren-jak berdasi melesat berhamburan. Mereka menyerbu sari bunga dengan cara bertengger di tangkai-tangkai rendah labu muda, berjingkat-jingkat, bersuat-suit, lalu melolong-lolong mengusir kawanan gelatik yang sebenarnya punya urusan dengan capung-capung yang suka menciumi putik delima. Perenjak berdasi tetap tak senang. Apa daya, gelatik berukuran lebih besar jadi tak mudah di usir. Mereka makin terganggu dengan kehadiran belasan ekor madu sepah, pipit, bondol pelang, burung matahari, dan yang paling menyebalkan: jalak-jalak kerbau. Unggas gendut ini menyerobot, menyenggol, dan buang air sesukanya sambil melenggak-lenggok. Semuanya berkicau, berteriak melengking-lengking Menakjubkan, lapangan yang tadi sunyi senyap mendadak ingar bingar. Persis seperti dulu waktu kami masih SD.

Anak-anak tupai kelabu juga terbangun dari tidur siangnya, lahi meloncat-loncat tangkas di antara buah-buah rambat ketule yang dulu tak pernah kami biarkan menjalar sampai jauh karena mengundang ulat-ulat bulu. Namun kini, rambatnya melewati sebatang penyangga sekolah yang tumbang, lalu merayap melalui bibir talang sekolah ke dahan-dahan filicium, Sejurus kemudian, tak tahu dari mana, meruaplah ratusan ekor lebah madu, berkecipak sayapnya, gemuang berputar-putar di atas monstera, nolina, violces, aster, damar kamar, dan kembang sepatu yang telah tumbuh dengan liar karena tak lagi dipelihara. Bangku-bangku tempat pot mereka dulu telah patah dan pot- potnya sendiri pecah berserakan tapi tumbuh-tumbuhan itu bertahan. Sementara nun di sana, di pucuk-pucuk 12 Semacam pohon pare. tinggi ganitri, mata tajam pemain trapeze, sirindit melayu nan cantik, tengah berakrobat nunggu-nunggu momen yang pas untuk bermanuver ke dahan-dahan fiticium, untuk merompoki buah-buah mudanya. Lapangan meriah oleh nyanyi ratusan unggas.

Kami berlarian ke halaman sekolah dan terpana mendengar orkestra

selamat datang dari para sahabat lama kami kaum unggas, capung, dan lebah madu. Kami telah meninggalkan sekolah ini belasan tahun, tapi mereka tak pernah ke mana-mana. Generasi demi generasi mereka bercengkerama di seputar pohon filicium dan sekeliling sekolah kami. Akhirnya, melengkapi keindahan sore itu, tumpahlah keluarga-keluarga kupu-kupu cantik thistle crescent Dengan anggun mereka hinggap di daun-daun linaria seperti bidadari turun ke danau. Indah, indah tak terperikan.

**********

Lambat laun kawanan hewan itu berangsur pulang ke padang sabana untuk tidur berayun-ayun di dahan perdu-perduan. Tinggallah kami, duduk berkeliling di atas akar filicium yang menonjol, seperti dulu. Betapa indah duduk di sini bersama para sahabat sejati, reuni untuk kali pertamanya setelah belasan tahun tercerai-berai. Sebuah reuni yang bersahaja dan menarik hati, karena tak ada acara naik mimbar berpidato untuk memegah-megahkan diri, untuk memamerkan prestasi-prestasi yang dicapai, dan apa yang mati-matian ingin dikejar. Tidak pula untuk arisan, untuk mengadvokasi sesuatu, untuk networking, bertukar kartu nama, atau membuat yayasan. Kami berkumpul, hanya bertukar kisah nasib, saling membesarkan hari. Kami bersatu lagi, untuk mendengar lagi suara-suara masa kecil nan ajaib dari kawanan burung, lebah madu, daun-daun tua filicium yang berguguran, kumbang-kumbang koksi, kepak sayap capung dan jerit anak-anak tupai.

Di pokok filicium kami masih dapat melihat nama-nama kecil dan janji setia yang kami ukir dulu dengan pisau lipat.

Lalu aku teringat akan sesuatu. Aku melangkah menuju sisi utara filicium, dekat bangku batu di depan kantor kepala sekolah. Dulu di sana aku menggali sebuah lubang. Tak seorang pun tahu tentang ini. Dalam lubang itu aku menyimpan barang-barang yang paling rahasia. Setelah lulus sekolah, di permukaan lubang itu kutanami ilalang dan kutandai dengan bongkah-bongkah batu lempung.

Aku menggali lubang itu. Dadaku berdebar melihat di dasar lubang masih tersembunyi potongan terpal yang terlipat rapi Kubuka pelan-pelan bungkusan terpal itu seumpama membuka peta rahasia harta karun. Terpal terbuka dan benda rahasia itu masih utuh! Aku terpana. Benda rahasia itu adalah beberapa batang kapur tulis milik Bu Muslimah yang sengaja kusembunyikan agar aku disuruh lagi membeli kapur ke Toko Sinar Harapan, dengan begitu aku dapat berjumpa lagi dengan belahan jiwaku: A Ling.

Mozaik 43

Rencana Rencana C

KUTATAP Harun, ia sudah menjelang tua, tapi senyumnya tetap saja seperti ketika ia menyelamatkan kami pada hari pertama sekolah dulu. Jika Harun tak tiba pagi itu, mungkin tak kan pernah ada Laskar Pelangi.

Cerita Harun sekarang, masih tetap sama seperti dulu, yakni tentang kucingnya yang berbelang tiga dan telah berkali-kali melahirkan anak tiga yang juga berbelang tiga. Tapi sekarang ada informasi baru.

“Aku baru tahu, tiga tahun yang lalu," tukasnya serius.

"Ternyata kucingku itu adalah istri ketiga dari jantan yang telah kawin tiga kali!"

Kami mengangguk-angguk takzim menyimak kisah Harun. Informasi lain darinya adalah ia secara rutin, setiap hari Jumat sore, pukul tiga, menurunkan sepedanya dan pergi mengunjungi Trapani. Mereka ngobrol sampai dekat magrib. Tak tahu apa yang mereka bicarakan. Kunjungan ini dilakukan Harun setiap minggu, pada waktu yang persis sama, tak berubah sedikit pun, meski hujan lebat dan petir sambar-menyambar. Begitu selama bertahun-tahun.

Sementara Trapani, diam seribu bahasa. Ia selalu tampak seperti orang yang tak berada di tempat ia sedang berada. Lelaki tampan itu telah padam. Segala sesuatu tentang dirinya telah padam. Kesehatan jiwanya merosot drastis. Ia dingin seperti es, tatap matanya kosong sekosong langit. Cita-citanya dulu yang ingin menjadi guru yang mengabdi di daerah terpencil menguap sudah. Ia tetap tinggal dengan ibunya, dan masih amat sulit dipisahkan.

A Kiong juga telah melepaskan cita-citanya untuk menjadi kapten kapal. Berarti pupus sudah peluangnya untuk menyembunyikan kepala kalengnya di balik topi kapten kapal yang besar. Malang melintang berwiraswasta, akhirnya ia terdampar pada rencana C hidupnya, membuka warung kopi di pasar ikan. Seratus lima puluhan langganan tetapnya, dan menakjubkan, ia hafal takaran kopi, gula, dan susu untuk lima puluh gelas kopi itu.

Yang tetap sukses dengan rencana awal mereka hanyalah Samson, Kucai, Harun, dan Mahar.

Cita-cita Samson yang sederhana ingin jadi tukang sobek karcis bioskop akhirnya terwujud. Sementara Kucai dari semula memang berkeras sepenuh jiwa ingin jadi politisi, sekarang ia tetap berusaha mencapainya. Harun juga tetap teguh dengan rencana A-nya. Cita-citanya tak pernah sedetik pun berubah

sejak SD dulu, ia tetap ingin menjadi Trapani.

Flo dan Sahara telah mapan. Bahagia dengan suami dan anak-anak. Sahara yang rencana A-nya ingin menjadi pembela hak-hak perempuan kini sibuk meneduhkan tingkah anak-anak lelakinya yang seperti gasing itu.

Lintang lain pula hikayatnya. Terakhir aku berjumpa dengannya, ia adalah seorang sopir truk tronton yang terpuruk di bedeng bantaran sungai. Tapi kini nasibnya membaik. Ia dan keluarganya hijrah ke sebuah pulau kecil. Mereka menanam ribuan pohon kelapa di pulau itu dan membuat pabrik pengolahan kopra. Sekarang Lintang telah menjadi juragan kopra sekaligus pelatih beruk pemetik kelapa yang piawai. Dengan ditemani beberapa ekor beruknya, ia bertandang ke pulau induk Belitong dua minggu sekali dengan tiga perahu penuh kopra. Namun bagiku, ia tetaplah matematikawanku, Isaac Newton-ku.

Akhirnya Mahar. Selalu tak cukup tempat untuk menceritakannya. Ia duduk sendiri, di situ, di tonjolan akar tempat duduk miliknya dulu. Ia diam saja, serbahitam pakaiannya, bertumpuk-tumpuk kegilaan dalam kepalanya Di sampingnya, dengan takzim, duduklah abdi setianya, A Kiong, yang memandang kami seolah ingin mengatakan: kalian rakyat sipil, apa sih masalah kalian sebenarnya? Ditambah satu kesan lagi bahwa jika semua masalah itu diserahkan pada Suhu Mahar, pasti beres!

Seperti selalu, aku bahagia berada di tengah orang-orang luar biasa ini. Masa kecil dengan mereka, adalah bagian yang paling kusyukuri dalam hidupku. Dalam serba-kekurangan, dalam kesetiakawanan kami berjuang untuk pendidikan. Mereka telah membentuk aku apa adanya aku sekarang. Dan aku senang karena setiap anggota Laskar Pelangi telah menemukan dirinya sendiri, telah menemukan cintanya masing-masing, kecuali aku. Ajaib, mereka tak pernah ke mana-mana, tak pernah meninggalkan sudut bumi di pulau terpencil ini, tapi menemukan semua vang mereka cari. Sementara aku, telah melintasi samudra berbagai negeri nan jauh, dan benua-benua asing, tapi tak menemukan apa pun, tidak juga cinta itu, sungguh menyedihkan.

Mozaik 44

Ia Sedang Mencari Tuhan

MAHAR, hampir sama seperti Trapani. Jika duduk, ia sering tampak seakan tak sedang duduk di situ, ia sedang berada di tempat lain. Jika bicara, jelas sekali ia memikirkan sesuatu selain yang ia bicarakan. Ia hilang hilang dalam ruang dan waktu. Kian dewasa, ia kian edan, kian sesat.

Lebih parah lagi, ia hemat bicara. Katanya demi me-makulkan ilmu- ilmu gaib yang sedang dianutnya. Menurutnya, ia sedang mencontoh apa yang dilakukan Tuk Bayan Tula waktu muda dulu. Mahar berusaha mengikuti jejak Tuk, junjungannya. Meskipun kelas tiga SMP dulu ia pernah dikecewakan oleh Tuk, ia tetap memujanya. Mahar ingin jadi orang sakti, itulah rencana A-nya, dari dulu tak pernah sedikit pun berubah.

Tak terbilang banyaknya orang yang mengingatkan Mahar agar menjauhi syirik karena syirik adalah larangan tertinggi dalam Islam, tapi ia bergeming. Ia selalu mengatakan bahwa ia sedang mencari Tuhan. Tak jarang cercaan masyarakat pada Mahar begitu keras, tetapi dianggap Mahar angin lalu saja.

Namun, apa pun pendapat orang tentang Mahar, yang kebanyakan miring, aku tak pernah memandang Mahar seperti kebanyakan orang lain. Ia tetaplah sahabat yang amat kusayangi. Karena jika melihatjemarinya dan paras- paras kukunya yang rusak karena disayat tajamnya gerigi parut karena ketika kedi dulu ia terpaksa jadi kuli parut kelapa di toko kelontong demi menghidupi orangtua yang sakit-sakitan, siapa pun akan bersedia melihat Mahar dengan cara yang berbeda. Sampai sekarang ujung-ujung jemarinya masih cacat Jika melihatjemarinya, rasanya aku ingin memeluk sahabatku itu.

Dikucilkan masyarakat dan masjid, Mahar tak gentar. Ia memutuskan pindah dari rumah orangtuanya dan mendirikan rumah di tengah padang Mang di pinggir kampung. Rumah Mahar akan mengingatkan orang pada pengusiran hantu yang merasuk ke dalam tubuh seorang perempuan dalam film Exorcist yang mendirikan bulu kuduk itu. Otomatis pula, lokasi pertemuan rahasia Societeii de Limped di blok pasar ikan pindah ke rumah itu. Para anggota Societeii sangat bangga dengan markas besar mereka yang baru. Di sana bebaslah mereka merencanakan petualangan-petualangan sinting Dan Mahar mengatakan padaku bahwa ia yakin, suatu hari nanti akan ada sineas dari Jakarta menggunakan rumahnya untuk pembuatan film Setan Kredit Beraksi Kembali.

*********

Sore ini, aku berjanji berjumpa dengan Mahar di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, dan ia terlambat. Sambil menunggu Mahar, aku tertawa sendiri melihat Lao Mi bertengkar dengan seteru abadinya sejak mereka kecil, yaitu Munawir Berita Buruk. Setiap membeli hok lo pan, Mu-nawir pasti cari gara- gara dengan Lao Mi. Kali ini ia ingin membeli tiga loyang.

"Enak saja, bagi-bagi yang lain!"

Begitulah Lao Mi. Ia tak kan membuat lebih dari dua puluh loyang setiap hari dan pembeli tak boleh membeli lebih dari dua loyang. Ia menutup gerobak semaunya, meskipun antrean masih panjang. Ia memarahi pelanggan sekehendak hatinya pula. Angkuhnya sudah kondang ke mana-mana. Tapi siapa pun menaruh hormat padanya sebab dialah pembuat hok lo pan paling hebat. Lihatlah bagaimana ia mengoles margarin pada loyang yang telah berusia puluhan tahun itu dan bagaimana ia menaburkan kacang yang telah dibelahnya rapi berbentuk persegi empat. Ramuan terigu, gula, dan margarinnya tertakar secara misterius, resep suci rahasia warisan empat generasi. Tak dapat Ditiru siapa pun. Jika sempat merasakan hok lo pannya maka siapa pun akan lupa pada betapa congkak pembuatnya. Lao Mi dan Mapangi pembuat perahu adalah para maestro yang telah menemukan seni dalam pekerjaannya.

Hiburan dari gerobak Lao Mi usai, lalu aku menikmati irama Semenanjung yang mengayun-ayun dari biola Nurmi di pojok jalan dekat warung kopi. Saban Rabu dan Sabtu sore, saat warung-warung kopi dipenuhi pengun- jung, putri Mak Cik Maryamah Karpov itu berdiri di pojok pertigaan, menggesek biolanya.

A Kiong tiba. Rupanya ini telah menjadi kebiasaan, jika Mahar membuat janji pada siapa pun, A Kiong akan datang lebih dulu, mengamati situasi dan mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan Mahar, majikannya.

"Aku sekretaris Societeii sekarang," ujarnya bangga sambil menjentikkan jarinya, memberi perintah pada pelayan warung agar membuatkan kopi untuknya dan untuk majikannya. Ketika ia menyebut suhu, pelayan mengangguk takzim, artinya kopi untuk Mahar. Setengah gelas bubuk kopi tanpa gula sama sekali.

Berarti A Kiong telah mengambil alih jabatanku dulu. Aku bersusah payah menahan tawa. A Kiong, dengan wajah kaleng kerupuk yang hampir tak beralis itu sama sekali menganggap hal itu tidak lucu. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Mahar dan Societeit adalah hal yang amat serius baginya.

Kadang kala, teknik paling efektif menanggapi orang gila adalah dengan berbuat seperti orang gila pula, maka aku bertanya.

"Mengapa tak jadi anggota tetap?"

"Sungguh berat syarat-syaratnya, Boi. Kalau hanya puasa empat puluh hari, aku sanggup. Tapi aku belum bisa lulus ujian akhir;''

"Ujian akhir bagaimana?"

"Ujian akhir itu kepala digundul dan harus kuat di-an top tiga ekor tawon pas di ubun-ubun. Baru tawon yang kedua aku sudah pingsan."

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku, prihatin sekaligus setengah mati menahan tawa. Rasa geli, heran, bercampur gemas menyundul- nyundul ulu hatiku. Cara A Kiong menceritakan dengan mata bulat polos dan pipi gembil berayun-ayun membuat semuanya makin tak tertahankan. Tapi sekali lagi, ia sangat serius.

"Tapi tak mengapa, Kal, Suhu Mahar akan memberikan kesempatan lagi

Dalam dokumen Maryamah Karpov Andrea Hirata (Halaman 70-77)