BAB III KONDISI PETANI KOPI MEKSIKO DAN KRISIS
C. Faktor-faktor Penyebab Krisis
4. Tidak Tersedianya Alternatif bagi Petani untuk
Biaya untuk beralih dari kopi cukup besar dan petani kekurangan alternatif yang memungkinkan untuk beralih dari kopi. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kesalahan bantuan donor internasional dan pemerintahan nasional dalam memajukan pembangunan desa dan diversifikasi, khususnya dalam kebijakan proteksionis Uni Eropa dan AS yang telah secara efektif mencegah petani negara berkembang mengambil keuntungan dari komoditas lain.
Hal ini berarti petani menjadi terlalu tergantung pada pilihan yang sempit, ditambah dengan masalah tipikal petani, mereka dihadapkan pada masalah negara berkembang yang tidak kunjung selesai, antara lain infrastruktur transportasi yang
28
buruk, kurangnya pinjaman, akses pasar langsung yang sangat terbatas, yang menyebabkan informasi tentang harga pun menjadi terbatas.
a. Kurangnya alternatif kopi sebagai sumber mata pencaharian Walaupun diversifikasi untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada komoditas telah dipromosikan selama beberapa dekade, namun hal tersebut tidak terjadi di banyak negara. Saat ini Afrika Sub-Sahara bahkan menjadi lebih tergantung pada komoditas dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Ini merupakan kesalahan kebijakan pasa semua level.
Sepertinya tidak rasional bagi petani untuk menjual kopi pada harga yang tidak mencukupi kebutuhan dasar mereka. Namun sebenarnya keputusan tersebut sangatlah rasional. Kenapa? Pertama, mahalnya biaya untuk mengganti pohon kopi mereka dengan tanaman lain. Walaupun tanah mereka cocok untuk tanaman lain, misalnya coklat, mereka kekurangan keterampilan untuk menanam coklat, dan kebanyakan keluarga petani tidak mempunyai simpanan untuk membiayai biaya hidup selama menunggu tanaman baru berbuah.
Kedua, kurangnya alternatif yang dapat mendorong petani untuk beralih. Petani kopi tahu betapa bahayanya untuk bergantung pada tanaman yang tidak stabil untuk nafkah, dan kebanyakan petani lebih memilih untuk menanam kopi bersama tanaman lain, atau memelihara ayam dan ternak. Pasar lokal cenderung memberikan harga yang rendah untuk menggantikan penghasilan yang biasanya mereka dapat dari kopi, tanaman lain harganya sama buruknya dengan kopi, bahkan mungkin lebih buruk. Salah satunya jagung, yang merupakan bahan makanan pokok, yang harganya telah jatuh bahkan lebih buruk dari kopi.
b. Terlalu sedikit nilai yang diperoleh
Terlalu sedikit pemrosesan dan pengemasan kopi yang bertempat di negara produsen. Hal ini berarti sedikit sekali nilai potensial yang dimungkinkan didapat dari kopi. Tahun 2000/2001, 94 persen dari keseluruhan kopi yang di ekspor oleh negara berkembang masih berbentuk biji kopi hijau (mentah), sebuah kenyataan yang mengejutkan. Sisa 6 persen kopi yang telah diproses berasal dari Brazil, India dan Kolombia.29
Peningkatan pemrosesan kopi di negara asal sangatlah esensial untuk meningkatkan keuntungan, namun banyak hambatannya. Untuk membangun pabrik pemrosesan kopi larut (instan) diperlukan biaya 20 juta dollar, belum termasuk pemanggangan dan penggilingan. Walaupun negara mampu membiayainya, masih ada hambatan lain. Walaupun pemrosesan dapat dilakukan, tidak tersedianya input produksi lain seperti pengemasan yang berkualitas meningkatkan hambatan. Salah satu alternatif adalah mendorong perusahaan transnasional berinvestasi di negara produsen. Namun kebanyakan roaster tidak memilih jalan itu. Nestle misalnya, tidak memilih demikian, karena pabrik mereka di AS dan Eropa yang sangat efisien menghasilkan biaya produksi yang rendah dan lebih dekat dengan konsumen, yang merupakan pertimbangan yang penting untuk beberapa tipe kopi.
Hambatan juga cukup berat pada distribusi. Kebanyakan kopi dijual dalam bentuk campuran (blend ) dari berbagai macam kopi dari banyak tempat. Jaringan antara negara produsen umumnya tidak kuat , dan hal ini manghambat kemampuan untuk membangun campuran (blend) regional sendiri. Merek-merek
29
yang sudah ada dari negara berkembang umumnya tidak dikenal dan profilnya lemah untuk berkompetisi, apalagi berhadapan dengan roaster dan retailer besar, walaupun bukan tidak mungkin.
c. Kurangnya informasi
Banyak petani yang menderita karena kurangnya informasi, terutama informasi harga kopi terbaru. Oleh karenanya, para pedagang perantara di tingkat lokal dapat seenaknya menentukan harga pada petani, karena petani tidak tahu berapa pasaran harga kopi saat itu.
d. Terlalu sedikit pelatihan dan penyuluhan bagi petani
Keterampilan teknis sangatlah penting demi meningkatkan hasil panen dan menambahkan nilai. Penelitian menunjukkan bahwa panen kopi petani kecil di negara berkembang di Afrika sangat rendah, di bawah 500 kg per hektar. Bandingkan dengan rata-rata 1500 sampai 2000 kg per hektar di Vietnam.30 Perbedaan ini tidak hanya dikarenakan kurangnya input di Afrika, juga kurangnya pengetahuan dan keterampilan bagaimana siklus pemangkasan pohon kopi yang baik, bagaimana penyiangan juga pemupukan yang baik. Di beberapa negara, dipotongnya jasa-jasa pemerintah berarti berkurangnya waktu penyemprotan anti hama dan meningkatkan permasalahan hama. Kurangnya pengetahuan akan teknik pertanian juga akan mengurangi kualitas jika petani tidak tahu bagaimana menghasilkan cherry yang berkualitas baik atau menambah nilai dengan pemrosesan-pemrosesan dasar (seperti pengelupasan kulit).
30
e. Buruknya pinjaman, tidak adanya kredit baru
Jatuhnya harga kopi menyebabkan petani tidak dapat membayar cicilan pinjamannya. Sebuah survey pada petani kopi di Vietnam mengindikasikan 60 persen dari petani mempunyai pinjaman yang besar.31 Mereka harus membayar cicilan tepat pada waktunya, yang berarti mereka tidak dapat memanfaatkan fluktuasi harga (menunggu sampai harga kopi naik) dan terpaksa harus menjual pada harga yang ditawarkan oleh pedagang.
Hal ini juga memasukkan petani ke dalam bulan yang keras sebelum panen. Beberapa dari mereka bisa mendapatkan utang makanan dengan bayaran hasil panen yang akan datang, dan yang lainnya harus mempertaruhkan tanahnya sebagai jaminan, walau tidak semua petani punya sertifikat dari tanah yang mereka miliki. Sebagian petani bahkan harus menjual sebagian dari propertinya. Perempuan adalah yang paling dirugikan, dimana struktur kepemilikan seringkali menyebabkan mereka tidak bisa menggunakan namanya di sertifikat. Hal ini menamgah kesulitan mereka untuk mendapatkan pinjaman.
f. Lemahnya infrastruktur di pedesaan
Kurangnya investasi jangka panjang dalam transportasi pedesaan di banyak negara menyebabkan biaya yang tinggi, terutama bagi petani dengan kepemilikan lahan kecil yang menghasilkan kopi tidak cukup banyak, sehingga beralasan bagi mereka minta mobil pick-up dapat di operasikan, biaya per kilimeternya jauh lebih mahal daripada biaya di jalan besar.
Tidak adanya jalan yang layak menambah kesulitan petani, yang juga memperkecil bagian keuntungan yang didapatkannya. Akses yang buruk ke
31
fasilitas mendasar seperti meja pengering dan penggilingan juga mengurangi kualitas yang di produksi petani. Kebanyakan petani kecil menjemur kopi mereka, namun tanpa akses ke meja pengering, akhirnya mereka menjemur biji kopi langsung di tanah. Cherry arabika harus diproses sesegera mungkin setelah dipetik. Namun demikian, bilamana tidak ada penggilingan lokal yang dekat, mereka harus mengurangi jumlah secukupnya sebelum mentransportasikannya, dan tenggang waktu itu bisa menyebabkan cherry jadi berjamur, yang berarti penurunan kualitas.
g. Menurunnya bantuan dan standar ganda yang diterapkan negara maju
Negara donor telah memberikan kontribusi langsung pada krisis ini, pertama dengan mengabaikan investasi di pedesaan, kedua memperburuk situasi dengan standar ganda yang mendorong liberalisasi negara berkembang , sambil masih menerapkan proteksionisme untuk memblokade produk negara berkembang masuk ke pasar negara maju, mempersempit pilihan negara berkembang pada produksi komoditas.
Dukungan pada pembangunan pedesaan yang penting bagi jutaan petani di negara-negara termiskin di dunia, telah menurun. OECD menunjukkan kesalahan komitmen negara-negara anggotanya:
Bantuan pada pertanian, sudah membeku pada awal 1980-an, menurun mulai 1985 pada nilai rata-rata per tahun 7 persen. Hal itu menyebabkan bantuan pada pertanian jatuh dari yang tadinya mempunyai bagian 17 persen di awal 1980-an, dan menjadi 8 persen di akhir 1990-an. Penurunan umumnya dikarenakan pemotongan ODA (Overseas Development Assistance) ,namun kebijakan sektoral donor juga telah berubah (dari pertanian dan sektor produktif lainnya ke sektor-sektor sosial).
Penurunan-penurunan ini masuk akal jika melihat dikeluarkannya sektor pertanian dari agenda pengentasan kemiskinan tahun 1990-an.32
Lennan Bage, Presiden International Fund for Agricultural Development (organisasi di bawah PBB) mengatakan, “OECD mengestimasi asistansi pembangunan asing (Overseas Development Assistance – ODA) pada agrikultur saat ini berjumlah 8 persen dari total ODA: delapan persen bantuan bagi tiga perempat rakyat miskin.”33
Negara maju tidak menunjukkan kepeduliannya dalam masalah standar ganda ini. Pada tahun 2000, negara maju memberi subsidi pada petani negaranya sebesar 245 milyar dollar.34 Pola subsidi mereka dengan penekanan pada perluasan produksi, mempunyai efek yang buruk pada petani miskin di negara berkembang. Hal ini dikarenakan subsidi semacam itu memungkinkan petani negara maju menjual hasil produksinya dengan harga yang sangat rendah di pasar dunia. Petani negara berkembang tidak mungkin dapat bersaing di dalam keadaan yang tidak adil ini.
Negara maju juga membebankan hambatan tariff pada barang-barang yang menjadi gantungan negara berkembang untuk penghasilan ekspornya, antara lain pada barang-barang agricultural dan produk manufaktur yang memerlukan banyak tenaga kerja. Biaya tarif impor bagi negara berkembang adalah sekitar 43 milyar dollar per tahun.35
32
OECD. Aid to Agriculture. Desember 2001.
http://www.oecd.org/pdf/M00029000/M00029854.pdf diakses tanggal 20 Agustus 2004.
33
Pernyataan IFAD di International Conference on Financing for Development. Meksiko, Maret 2002. http://www.ifad.org/poverty/ch/cont/pdf diakses tanggal 20 Agustus 2004.
34
Oxfam International. Rigged Rules and Double Standar: Trade, Globalisation, and The
Fight Against Poverty. (Oxford: Oxfam, 2002)
35
Subsidi dan tarif impor di negara maju mempunyai dampak pada petani kopi. Pilihan-pilihan petani kopi menjadi terbatas, termasuk pilihan untuk beralih pada tanaman lain. Batasan ini merupakan awal dari masala-masalah komoditi lain bagi petani. Sebuah artikel Jurnal Wall Street tentang Nikaragua menjelaskan tentang hal ini. Petani kopi berbicara tentang beralih ke tanaman lain . namun mereka tampaknya harus berkecil hati, bercermin pada pengalaman petani yang menanam kacang dan wijen. Petani-petani itu sekarang berada di ambang kebangkrutan setelah berusaha berkompetisi melawan petani AS yang menerima subsidi murah hati dari Washington.36
Krisis perdagangan kopi dunia yang diawali oleh ulah AS lima belas tahun yang lalu telah menimbulkan dampak luar biasa pada industri ini, terutama pada negara produsen. Harga kopi yang selama bertahun-tahun berada di titik yang sangat rendah, bahkan tidak mencukupi biaya produksi, tidak membuat petani di level paling rendah dapat beralih begitu saja ke produksi komoditas yang lain. Negara produsen tidak berdaya dalam mengatasi hal ini, mengingat minimnya aturan yang mengatur rantai perdagangan kopi,dan tidak ada mekanisme yang dapat dilakukan negara produsen. Organisasi internasional yang sebelumnya sukses mengatur pasar kopi dunia sekarang tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak adanya dukungan dari negara maju sebagai konsumen. Yang paling diuntungkan dalam krisis ini adalah perusahaan-perusahaan kopi multinasional besar yang unggul dalam strategi pemasaran, produksi, penambahan nilai, teknologi dan cara pembelian bahan bakunya. Krisis dengan dampak ekonomi,
36
sosial, lingkungan yang rumit ini ternyata juga berdampak pada penurunan kualitas kopi. Hal ini tentu merugikan bagi industri, terutama bagi konsumen.
Dalam masalah ini, perusahaan multinasional memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari negara untuk mengatur pasar. Secara tidak langsung perusahaan-perusahaan ini juga menentukan kehidupan produsen di tingkat paling bawah, yaitu petani. Oleh karena itu, partisipasi perusahaan-perusahaan ini sangatlah penting dalam mengatasi krisis perdagangan kopi dunia.