• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN OXFAM DALAM MEMBANTU PETANI KOPI MEKSIKO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN OXFAM DALAM MEMBANTU PETANI KOPI MEKSIKO"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sarjana Program Starata Satu Pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Disusun Oleh: Asep Parlindungan

NPM 002030146

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

(2)

PERANAN OXFAM DALAM MEMBANTU PETANI

KOPI MEKSIKO

Oleh: Asep Parlindungan

NIM 002030146

Telah diujikan tanggal 11 Desember 2008

Menyetujui: Pembimbing,

Drs. Iwan Gunawan, M.Si. NIPY 151 101 37

Mengetahui:

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Drs. Aswan Haryadi, M.Si. NIP 131 687 153

Ketua Jurusan

Ilmu Hubungan Internasional,

Drs. Iwan Gunawan, M.Si. NIPY 151 101 37

(3)

KOPI MEKSIKO

Oleh: Asep Parlindungan

NIM 002030146

Telah diujikan tanggal 11 Desember 2008

Menyetujui: Pembimbing,

Drs. Iwan Gunawan, M.Si. NIPY 151 101 37

Mengetahui:

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Drs. Aswan Haryadi, M.Si. NIP 131 687 153

Ketua Jurusan

Ilmu Hubungan Internasional,

Drs. Iwan Gunawan, M.Si. NIPY 151 101 37

(4)

iii 

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah benar-benar hasil pekerjaan penelitian saya sendiri. Adapun semua referensi/kutipan (baik kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung) dari hasil karya ilmiah orang lain tiap-tiap satunya telah saya sebutkan sumbernya sesuai etika ilmiah. Apabila dikemudian Skripsi ini terbukti hasil meniru/plagiat dan terbukti mencantumkan kutipan karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya, saya bersedia menerima sanksi penangguhan gelar kesarjanaan dan menerima sanksi dari lembaga yang berwenang.

Bandung, 11 Desember 2008,

Asep Parlindungan NIM 002030146

(5)

jika kita ingin terbang   maka kita harus saling berpelukan                                    Ku Persembahkan Untuk:  Ayah dan Ibunda Tercinta, yang telah menjadi sayap untuk ku hingga aku dapat  terbang melalui kehidupan ini,  Kasih dan Do’a Mu        Akan Selalu Aku Kenang 

(6)

Tidak meratanya kekuatan pasar kopi dunia membawa dampak buruk bagi

produsen di tingkat paling bawah, yaitu petani. Petani kopi meksiko yang sebagian

besar merupakan penduduk pribumi Indian dengan masalah kemiskinan yang

kompleks, paling merasakan dampak buruk ini. Harga kopi yang sangat rendah

memicu berbagai masalah sosial dan politik, diantaranya menyebabkan peningkatan

arus migrasi kaum pria ke perkotaan dan ke Amerika Serikat, dan masalah

pemberontakan kaum pribumi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Oxfam dalam mengatasi

dampak krisis perdagangan kopi terhadap petani kopi Meksiko, dan aktivitas-aktivitas

kampanye Oxfam dalam mengatasi masalah ini. Dalam konteks global, Oxfam

melakukan kampanye fair trade sebagai tandingan dari free trade yang selama ini

dipromosikan oleh negara-negara maju. Dalam konteks nasional, program Oxfam

bagi petani kopi Meksiko diantaranya memberikan pelatihan bagi petani dalam

peningkatan kualitas kopi, dan melakukan advokasi untuk mempengaruhi

kebijakan-kebijakan pemerintah Meksiko yang tidak berpihak pada sektor pertanian. Dalam

mengimplementasikan program tersebut, Oxfam bekerjasama dengan

organisasi-organisasi mitra petani kopi di tingkat negara bagian.

Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah deskripsi yang

bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomena dalam hal ini penulis mencoba

memaparkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan upaya Oxfam sebagai

NGOs dalam mengatasi krisis penurunan harga kopi dunia yang berdampak pada

petani kopi Meksiko.

Dilihat dari peranannya dalam memberikan dukungan bagi program fair trade

untuk organisasi-organisasi mitra di tingkat negara bagian , Oxfam berperan sebagai

donatur dalam program-program kopi fair trade dan pertanian organik. Oxfam juga

melakukan advokasi bagi organisasi-organisasi petani lokal dalam membantu petani

mempengaruhi kebijakan publik. Pelaksanaan kampanye fair trade dan

program-program bagi petani kopi Meksiko oleh Oxfam juga dihadapkan pada kendala yang

tidak sedikit. Kendala utama yang dihadapi adalah kecilnya volume pasar fair trade

yang menyebabkan tidak semua petani dapat berpartisipasi di dalamnya.

Kata Kunci: Peranan Oxfam, Kampanye Fair Trade, Petani Kopi Meksiko

(7)

The imbalance of coffee market had led to a disastrous impact for producer in

the lowest level, the farmers. This market crisis hardly hit Mexican coffee farmers,

with the majority are indigenous Indian citizen with complex poverty problems. The

low coffee price started social and political problems such as migration of men from

their communities to the big cities and the United States, and the uprising of

indigenous rebellion.

This research intended to analyze Oxfam’s role in diminishing the impact of

world coffee crisis to Mexican farmers, and Oxfam’s campaign activities in order to

do so. Oxfam show its role in working in this issue. In the global context, Oxfam did

fair trade campaigns as an opposition of free trade. In national context, Oxfam’s

programme for Mexican farmers are training and technical assistance in improving

the quality of fair trade coffee, and advocacy to help farmers participate in creating

public policies that are supporting agricultural sector. In implementing those

programmes, Oxfam work with coffee farmer organizations at the state level.

Method applied in doing this research is description with aim to depict a

phenomenon in this case writer tries explains events relating to effort Oxfam as

NGOs in overcoming coffee retreat crisis a world of affecting at Mexico coffee

farmer.

Considering its strategy on the support to the fair trade programmes of local

farmer organizations, Oxfam role is funding fair trade coffee programmes and

organic farming. Oxfam also did some advocacy for local farmer orgtanisations to

influence the public policies. However Oxfam’s fair trade campaign and programmes

for Mexican farmers faced with problems as a part of its mission. The main problem

is the size of the fair trade market. The small volume of fair trade market caused not

all farmers could participate in it.

(8)

viii  Assalamu’ alaikum, Wr. Wb.

Dengan segala puji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini. Penelitian skripsi disusun oleh penulis guna memenuhi Program Strata Satu (S1) pada Jurusan Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik universitas Pasundan Bandung, dengan judul “PERANAN OXFAM DALAM MEMBANTU PETANI KOPI MEKSIKO.”

Penulis menyadari bahwa selama melakukan penelitian ini masih jauh dari sempurna karena manusia pun tidak ada ada yang sempurna, banyak kekurangan dalam penulisan skripsi yang penulis buat, baik dari segi metodelogi ilmiah mapun dari segi penyampaian materi. Tetapi penulis berharap semoga nantinya skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca.

Didalam penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir, penulis sadari bahwa hal tersebut tidak terleas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis tak dapat menyatakan betapa besar jasa yang telah diberikan.

Untuk itu pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Drs. Iwan Gunawan, M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan serta mencurahkan tenaga, pikiran serta waktu untuk membimbing penulis selama penyusunan skripsi ini.

(9)

dan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Aswan Haryadi, M.Si. selaku Dekan Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung.

2. Bapak Drs. Iwan Gunawan, M.Si. selaku Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pasundan Bandung.

3. Bapak Drs. Ade Priangani, M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung.

4. Bapak Drs. Iwan Gunawan, M.Si., selaku dosen pembimbing.

5. Bapak Drs. Sigit Harimurti dan Bapak Drs. Ade Priangani, M.Si. selaku Dosen Penguji.

6. Seluruh Dosen pengajar di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan Bandung: Drs. Iwan Gunawan, M.Si., Terimakasih banyak atas setiap waktu serta bimbingan yang telah bapak berikan selama penulis menyusun skripsi, Drs. Bulbul Abdurrahman M.Si., Oman Heryaman S.Ip., M.Si., Alif Oktavian S.Ip., M. Budiana M.Si. Drs. Fahremi Imri M.Si, Drs. Kunkurat M. Si., Ibu Dra. Hj. Rini Afriantari M.Si., Ibu Ratu Zahra L. S.Ip., Ibu Dewi Astuti M. Si., Drs. Aswan Haryadi, M.Si., Drs. T. May Rudi SH. MIR. MSC., Drs. H. CH. Faurozi M.Si., serta dosen-dosen lain yang tak dapat disebutkan diatas satu per satu,

(10)

7. Bapak Jajang Rohidin S.Pd. dan Ibu Sri selaku Tata Usaha Jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan Bandung, yang selalu memberikan pelayanan administrasi atau kelengkapan dari awal perkuliahan sampai kelulusan.

8. Bapak Cucu, Bapak jono dan Bapak Endang atas pelayanan absensi serta informasi ada atau tidaknya dosen yang masuk.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Tuhan YME, untuk semua anugerah rahmat, berkah, kebaikan, kebahagiaan yang selalu dilimpah kepadaku setiap saat.

2. Kepada Orang tua Tercinta, Emak dan Bapa yang telah memberikan segalanya baik dari segi materil, moril serta doa dan jerih payahnya dari lahir sampai sekarang ini semata-mata untuk dapat melihat anaknya menjadi orang yang berguna dan sukses serta selalu ada dalam lindungan Tuhan YME, Terimakasih atas segalanya, ananda Do’a kan semoga Tuhan selalu menjaga dan melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada Emak dan Bapa. Amin. Tidak lupa juga untuk Kakak-kakak, Adik serta Keponakan ‘Ku (Tanpa kalian rumah pasti sepi).

(11)

atas banyolan dan waktunya untuk Barudak Padang (bukan nama daerah, tapi… panjang ceritanya), kebersamaan dan persahabatan kita

(bagai kepompong…). Graduation, here We come…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, Desember 2008

(12)

Asep Parlindungan berterimakasih kepada:

• My Savior The One n Only Jesus Christ yang masih memberikanku nafas

hidup untuk menyelesaikan skripsi ini.

• For my Mom and Dad untuk kesabaran dan doa yang tiada batas mendorong

dan membimbing ananda untuk menyelesaikan skripsi ini.

• For my sister and brother; Rawat dan Ko Hendra juga keponakanku Keiji,

Dina Resmin untuk fasilitas yang telah diberikan, Rahel dan abang Yus juga

keponakanku Kevin, Roy and my Lil’sis Hanny Susandra untuk

dukungannya, thanks dude. Tidak ada cukup kata untuk berterimakasih atas

semua doa dan dukungan yang telah kalian berikan dan betapa bersyukurnya

aku mempunyai keluarga seperti kalian, Tuhan memberkati kalian.

• Untuk semua guru yang pernah berjasa mengajarkan aku ilmu dan

pengetahuan, terimakasihku untukmu.

• To all my friend; HI Unpas angkatan 2000, 2003 dan niaga 2002 khususnya

yang tergabung dalam genk Padang, thanks dude, tanpa kalian pengalaman

hidup selama kuliah tak akan ada artinya.

• Staken ‘n Spitaw, nuhun pisan bro kanggo sadayana.

• The last but not the least, terima kasihku yang sebesar-besarnya untuk semua

orang yang mengenal aku yang tak dapat aku sebutkan satu persatu. Kiranya

damai sejahtera, kasih dan berkat dari Tuhan menyertai kita semua. Amin

(13)

IDENTITAS DIRI

Nama : Asep Parlindungan Tempat/Tgl lahir : Bandung, 8 Agustus 1981 Agama : Kristen Protestan

Anak ke : 5 dari 6 bersaudara

Alamat : Kp. Lebak gede Ds. Bojong koneng Rt 05 Rw 03 kec. Ngamprah kab. Bandung

No. Telepon : 081546598583 IDENTITAS ORANG TUA Nama Ayah : R. Sitompul Nama Ibu : Cici Neni Pekerjaan Ayah : Wiraswasta Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga

Alamat : Kp. Lebak gede Ds. Bojong koneng Rt 05 Rw 03 kec. Ngamprah kab. Bandung

No. Telepon : 081546598583

RIWAYAT PENDIDIKAN

- SD Negeri Cibuntu I Bandung - SLTP Negreri 41 Bandung - SMU Negeri 13 Bandung  

(14)

i

DAFTAR ISI ... i

HALAMAN PERSETUJUAN/PENGESAHAN ... ii

PENGAKUAN/PERNYATAAN ... iii

PENGHARGAAN/MOTTO DAN DEDIKASI ... iv

ABSTRAK BAHASA INDONESIA ... v

ABSTRACT (Terjemahan Abstrak Bahasa Inggris) ... vi

ABSTRAK (Terjemahan Abstrak Bahasa Sunda) ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS ... xii

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

BAB 1

PENDAHULUAN ...

1

A. Latar Belakang Masalah ...

1

B. Identifikasi Masalah ...

9

1. Pembatasan Masalah ...

10

2. Perumusan Masalah ...

11

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...

11

1. Tujuan Penelitian ...

11

2. Kegunaan Penelitian ...

11

D. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis ...

12

1. Kerangka Pemikiran ...

12

2. Hipotesis ...

24

3. Operasionalisasi Variabel dan Indikator ...

25

4. Skema Kerangka Teoritis ...

27

E. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ...

28

1. Metode Penelitian ...

28

2. Teknik Pengumpulan Data ...

28

F. Lokasi dan Lamanya Penelitian ...

29

(15)

ii

BAB II

OXFAM DAN KAMPANYE FAIR TRADE ...

31

A. Latar Belakang dan Sejarah Oxfam ...

32

1. Visi, Misi, dan Legitimasi dan Pertanggungjawaban

Oxfam ...

34

a. Visi Oxfam Internasional ...

34

b. Misi Oxfam Internasional ...

36

c. Legitimasi dan Pertanggungjawaban Oxfam ...

37

2. Struktur Organisasi Oxfam ...

38

3. Sumber Dana ...

39

B. Kampanye Fair Trade oleh Oxfam ...

41

BAB III

KONDISI PETANI KOPI MEKSIKO DAN KRISIS

PERDAGANGAN KOPI DUNIA ...

52

A. Kondisi petani kopi di Meksiko ...

53

B. Penurunan Harga Kopi Dunia ...

55

C. Faktor-faktor Penyebab Krisis ...

60

1. Restrukturasi Pasar:

Tidak Termanajemen dengan Baik ...

60

2. Ketidakseimbangan Kekuasaan di dalam Pasar :

Petani yang Miskin dan Roaster yang Mengambil

Keuntungan ...

67

3. Teknologi dan Teknik Roaster Baru yang

Menurunkan Kualitas ...

73

4. Tidak Tersedianya Alternatif bagi Petani untuk

Beralih dari Kopi : Kegagalan Pembangunan

Pedesaan ...

76

(16)

iii

3. Usaha Kolektif dari Dalam Negeri untuk Mengatasi

Krisis ...

92

BAB IV PROGRAM OXFAM DALAM UPAYA MENINGKATKAN

TARAF HIDUP PETANI KOPI MEKSIKO ...

97

A. Implementasi program Oxfam dalam membantu petani kopi

Meksiko ... 100

B. Upaya Oxfam dalam Membantu Petani Kopi Meksiko ...

104

C. Kendala yang dihadapi Oxfam dalam membantu petani

kopi Meksiko ...

126

D. Efektifitas Program Oxfam dalam membantu petani kopi

Meksiko ... 130

BAB V

KESIMPULAN ...

142

(17)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak dari tiga abad yang lalu aktor hubungan internasional yang terpenting adalah selalu negara-bangsa yang berdaulat. Baru mulai tahun 1970-an, para analis hubungan internasional, meluaskan gagasan mereka tentang sistem internasional, untuk melihat pada fenomena transnasional yang cukup penting. Mereka sadar bahwa posisi negara-bangsa tetap sebagai aktor terpenting, namun tuntutan signifikansi aktor transnasional (non-negara) dan hubungannya (antara lain dengan bidang ekonomi, sosial, budaya, juga dalam hal ketidakamanan, penyebaran obat-obatan terlarang, dan kejahatan kriminal transnasional) telah meningkatkan kesadaran bahwa aktor transnasional harus dimasukkan untuk memperluas gagasan mereka tentang aktor dalam sistem internasional. Dengan berakhirnya perang dingin dan pembangunan yang dilaksanakan sesudahnya, analis hubungan internasional telah menekankan perubahan konsep ini 1

Salah satu aktor transnasional yang keberadaannya terus berkembang selama dua puluh tahun terakhir adalah non-governmental organizations (NGOs). Organisasi semacam ini telah menempatkan diri dalam posisi yang penting dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik di seluruh dunia saat ini. Data menunjukkan

1

G. Pope Atkins. Latin America And The Carribean In The International Sistem (Colorado: Westview Press, 1999) hlm. 4. Kalimat Tersebut dipengaruhi oleh pemikiran Keohane dan Nye dalam Robert O. Koehanedan Joseph S. Nye Jr. (eds.) Power and Interdependence:

(18)

pada tahun 1909 terdapat 176 buah NGOs, dan jumlah ini meningkat terus hingga pada tahun 1993 terdapat 28.900 buah NGOs transnasional.2

Saat ini, tidak dapat di pungkiri bahwa keberadaan non-governmental organizations (NGOs) sebagai bagian dari aktor transnasional yang ada, sedikit banyak telah mempengaruhi sistem internasional, tidak terkecuali perdagangan internasional. Oxfam, sebuah NGO yang bermarkas di Oxford, Inggris, merupakan salah satu pionir dari gagasan fair trade (perdagangan yang adil) sebagai alternatif bagi free trade (perdagangan bebas) yang terus menerus di kampanyekan oleh negara-negara liberal dan didukung oleh rejim internasional sejak dari GATT (General Agreements on Trade and Tarrifs) hingga ke WTO (World Trade Organisation).

Perdagangan internasional sebagai upaya suatu negara dalam dunia yang kian mengglobal, bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menghapuskan kemiskinan, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kegiatan perdagangan internasional memainkan peranan penting dalam hubungan internasional dimana melibatkan negara, maupun perusahaan-perusahaan multinasional.

Upaya negara untuk menyingkapi struktur perdagangan dunia yang mengandung unsur ketidaksetaraan agar dapat memperoleh keuntungan semaksimal mungkin dari transaksi internasional, dilakukan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti proteksionisme dan perdagangan bebas.3 Salah satu

2

Paul R. Viotti & Mark V. Kauppi. Internasional Relation and World Politik, (New Jersey: Prentice Hall, 1997), hlm 13

3

Pengertian proteksionisme disini adalaha upaya suatu Negara untuk merumuskan kebijakan ekonomi sedemikian rupa dalam rangka melindungi perekonomian domestiknyadari dominasi produk-produk asing, sedangkan perdagangan bebas adanya kebijakan ekonomi yang membuka pasar di dalam negeri seluas-luasnya bagi produk-produk asing.

(19)

manfaat dari perdagangan bebas adalah untuk membuka akses pasar yang lebih luas dan perdagangan internasional memberikan akses bagi para produsen dan perusahaan-perusahaan yang berkembang pada pasar yang lebih luas yang memiliki daya beli yang lebih kuat. Masuknya perusahaan-perusahaan multinasional yang menguasai akses pasar yang lebih luas membuat persaingan yang harus dihadapi produsen kecil terutama di negara berkembang semakin berat. Hal ini dikarenakan perusahaan multinasional selain mampu menguasai pasar internasional juga mampu mengambil alih kendali pasar nasional maupun regional. Inilah yang menyebabkan ketidakadilan di dalam perdagangan.

Lembaga donor internasional yang seharusnya dapat menunjukkan perannya bagi negara berkembang malah mengimplementasikan kebijakan pemberian pinjaman yang mengarah pada dukungan terhadap free trade. Kebijakan structural adjustment yang diimplementasikan Bank Dunia dan IMF memfokuskan pada kebutuhan untuk mengembangkan pertumbuhan yang dilihat dari ekspor, dan memfasilitasi investasi asing melalui menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan, menurunkan nilai tukar mata uang, dan memprivatisasi badan usaha milik negara.4 Perhatian kedua lembaga ini pada sektor pertanian yang merupakan mata pencaharian dari sebagian besar penduduk miskin di negara berkembang sangatlah kecil.

Alasan utama bagi munculnya gagasan fair trade adalah ketidakpuasan terhadap rejim perdagangan internasional yang didominasi oleh dorongan untuk menegakkan perdagangan bebas. Kaum liberal sangat yakin bahwa hanya melalui sistem perdagangan bebas, masyarakat dunia dapat memperoleh keuntungan

4

Thoma D. Lairson & David Skidmore. Internasional Political Economy, the Struggle

(20)

maksimal. Menurut kaum liberal, perdagangan bebas (free trade) akan dengan sendirinya menciptakan international division of labour (pembagian kerja internasional) yang saling menguntungkan, dimana masing-masing negara akan mengekspor barang maupun jasa ke pasar internasional yang dianggapnya paling menguntungkan dari segi biaya produksi.5 Prinsip ini yang hingga saat ini di pegang teguh oleh negara-negara liberal-kapitalis untuk kemudian ditegakkan menjadi sebuah rejim perdagangan internasional yang harus dipatuhi semua negara.

Namun dalam prakteknya sistem perdagangan bebas ternyata menimbulkan berbagai persoalan. Ada beberapa hal mendasar yang dihadapi oleh sistem perdagangan bebas. Pertama, masalah penyeragaman ketentuan (oleh GATT-WTO) yang menghilangkan fleksibilitas negosiasi-negosiasi perdagangan antar negara. Kedua, masalah kompetisi perdagangan yang dapat mengakibatkan tidak meratanya distribusi kesejahteraan. Karena perdagangan bebas menciptakan kompetisi, maka berlakulah suatu hukum dimana pihak yang kuat dan dominan (dalam hal teknologi, manajemen, modal, akses pasar, dan sebagainya) akan tetap bertahan, sementara pihak yang lemah akan terpental. Jika hukum ini diterapkan dalam konteks hubungan antara negara maju dan negara berkembang, maka mudah dibayangkan bahwa kebanyakan negara berkembang, terutama yang masuk dalam kategori negara-negara paling miskin, akan terpental dari pasar internasional karena ketidakmampuan mereka untuk bersaing secara bebas. Ketiga, masalah pembagian kerja internasional yang dapat menciptakan ketidakmerataan tingkat pendapatan antar negara. Sistem perdagangan bebas telah

(21)

mengakibatkan pembagian kerja internasional sedemikian rupa, dimana negara-negara maju berkonsentrasi pada barang-barang padat modal dan teknologi yang memiliki nilai tambah tinggi, sementara negara berkembang berkonsenterasi pada komoditi primer dan industri teknologi rendah. Akibatnya terjadi kesenjangan tingkat pendapatan nasional yang signifikan antara kelompok negara-negara maju dengan negara-negara miskin. Keempat, persoalan fairness (keadilan) yang tidak pernah menjadi bahan pertimbangan utama di dalam praktek perdagangan bebas.

Ketidakadilan yang paling besar dalam perdagangan internasional adalah ketika penduduk di negara-negara maju menikmati berbagai produk agrikultur seperti coklat, gula, kopi, teh, kacang-kacangan, tembakau, pisang, dan lainnya (yang di import dari negara berkembang), mereka tidak pernah memperdulikan bahwa sesungguhnya para pekerja di sektor-sektor tersebut mendapat upah minim sehingga standar hidup mereka sampai dua puluh kali lipat dibawah standar hidup penduduk negara maju.6 Konsumen terutama di negara maju perlu untuk tidak saja melihat kualitas dan harga barang, tetapi mereka berhak untuk mendapat informasi selengkap mungkin mengenai bagaimana produk itu dibuat dan apakah produksi barang tersebut tidak disertai proses yang melanggar hak asasi manusia.

Konsep-konsep inilah yang mendasari kampanye fair trade oleh Oxfam. Organisasi ini menganjurkan agar mekanisme perdagangan internasional langsung dikaitkan dengan pemberantasan kemiskinan. Menurut Oxfam, peningkatan

6

Bob S. Hadiwinata. Fair Trade: Sebuah Wacana atau Keniscayaan Praktis. Makalah yang disampaikan pada diskusi internal “Sosialisasi Gerakan Fair Trade di lingkungan Unpar”, 6 maret 2004. hlm. 2-3.

(22)

kesejahteraan yang tinggi yang dipicu oleh perdagangan di bawah globalisasi, tidak sebanding dengan perkembangan pengentasan kemiskinan.7

Program Oxfam yang menghubungkan ekonomi skala kecil di negara berkembang dengan pasar global bertujuan memberikan kehidupan yang lebih layak bagi ribuan produsen berskala kecil dikawasan Amerika Latin, Afrika, Asia, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Oceania. Pada umumnya, Oxfam membantu produsen kopi, teh, coklat, makanan ringan, kerajinan tangan, dan lainnya.8

Oxfam menyadari, isu perdagangan internasional ini perlu ditangani secara serius. Salah satu isu penting yang memerlukan perhatian ekstra adalah krisis perdagangan kopi yang dihadapi oleh petani di negara berkembang. Kehidupan sekitar 25 juta petani kopi diseluruh dunia dihancurkan oleh jatuhnya harga jual kopi di pasar dunia. Masalah ini terjadi kebanyakan di negara berkembang di Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Petani kopi di wilayah selatan Meksiko yang paling miskin merasakan dampak yang sangat buruk dari krisis ini. Di Meksiko terdapat 280.000 petani kopi tradisional yang memiliki masalah kompleks, dipicu oleh rendahnya harga yang mereka peroleh dari penjualan kopi mereka.

Salah satu yang dirugikan adalah petani kopi di Meksiko. Di Meksiko, sampai sekarang kopi merupakan salah satu pemasukan luar negeri terpenting dari sektor agrikultur. Pada tahun 1999, ekspor kopi Meksiko bernilai US$800.000.000, yang merupakan 17,71% dari total ekspor dari sektor agrikultur. Panen kopi menyedot 500.000 pekerja, dan diperkirakan sekitar 3.000.000 orang dipekerjakan dalam aktivitas produksi, pemrosesan, dan penjualan kopi. Angka tersebut merupakan 6% dari populasi penduduk Meksiko yang aktif secara

7

Oxfam international. Rigged Rules and Double Standards: Trade Globalism, and the

Fight Against Poverty. (New York: Oxfam International) hlm. 21-22.

(23)

ekonomi. Sejak tahun 1999 sampai 2001, produksi kopi Meksiko telah turun sebesar 40%, ekspor turun 55%, dan penghasilan petani kopi turun sampai 70%. Hal ini antara lain disebabkan karena harga kopi di dunia yang terus menurun dan aktivitas transnasional companies (TNCs) dalam memaksimalkan profit.

Krisis yang memukul petani kopi Meksiko telah menyebabkan banyak masalah kompleks yang muncul tidak hanya di tingkat petani secara individual dan komunitasnya, namun juga di tingkat nasional, bahkan melewati batas negara. Di tingkat individual, petani dan keluarganya dihadapkan pada kemiskinan,yang berdampak pada malnutrisi, ketidaksanggupan memenuhi biaya kesehatan, tempat tinggal yang layak, dan berkurangnya akses terhadap pendidikan. Tingkat kemiskinan yang tinggi juga menyebabkan migrasi kaum pria untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan merubah fungsi lahan perkebunan kopi untuk aktivitas lain yang menimbulkan konsekuensi buruk pada lingkungan dan komunitas. Tren migrasi ini meningkatkan jumlah perempuan petani kopi yang kurang pengetahuan dan keterampilan dalam menghasilkan kopi yang berkualitas. Tanpa kopi yang berkualitas, penghasilan keluarga pun tidak dapat tertolong.

Kesenjangan sosial ekonomi antara penduduk pribumi petani kopi dengan penduduk perkotaan juga menimbulkan potensi konflik yang mengancam keamanan nasional. Pemberontakan pernah mencuat pada tahun 1994 di Chiapas, salah satu negara bagian penghasil kopi terbesar. Konflik semacam ini bukan tidak mungkin dapat muncul lagi. Tujuan migrasi petani pria dari wilayah pedesaan Meksiko antara lain selain ke perkotaan juga ke Amerika Serikat. Masalah ini menjadi berkembang menjadi masalah yang melewati batas negara,

(24)

disaat banyak orang Meksiko yang berusaha masuk ke Amerika Serikat secara ilegal.

Oleh karena itu, Oxfam merasa harus mengambil bagian, dengan salah satu caranya adalah dengan meluncurkan kampanye Make Trade Fair sebagai reaksi atas krisis perdagangan kopi yang telah menghancurkan kehidupan petani kopi di seluruh dunia. Isi kampanye tersebut merupakan suatu usaha penyadaran produsen dan konsumen bahwa harga kopi dunia yang didapatkan petani sangatlah rendah, dan telah menghancurkan kehidupan petani dan keluarganya. Di dalam kampanye tersebut Oxfam dan beberapa NGOs lainnya juga mengajukan suatu rencana pemulihan harga kopi yang dinamakan Coffee Rescue Plan yang mengajak perusahaan multinasional untuk berpartisipasi dalam mengatasi krisis.

Oxfam juga memberikan dukungan pada organisasi-organisasi kerjasama petani kopi Meksiko di tingkat negara bagian demi untuk memperoleh dampak langsung bagi petani. Dukungan ini termasuk pada program pelatihan dan peningkatan kualitas produksi kopi fair trade yang memiliki harga lebih baik dibandingkan dengan harga kopi konvensional.

Dalam masalah ini, pemerintah Meksiko bersama mekanisme pasar, sama-sama tidak mampu menjalankan perannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu entitas yang mampu dan peduli akan masalah ini. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengetahui lebih jauh peran Non-Governmental Organisations yang berusaha mengatasi dampak masalah perdagangan kopi bagi petani Meksiko. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian : “Peranan Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko”

(25)

B. Identifikasi Masalah

Kopi sebagai salah satu komoditas penting kedua setelah minyak bumi di dunia, selama ini merupakan gantungan hidup dari 25 juta petani kopi di seluruh dunia terutama negara berkembang. Harga kopi mengalami penurunan lebih dari 70% sejak tahun 1997 yang mengakibatkan kerugian 8 milyar dollar Amerika Serikat yang harus ditanggung oleh petani kopi.9 Masalah ini berawal dari keluarnya Amerika Serikat (AS) dari keanggotaan Internasional Coffee Organisation (ICO) pada tahun 1989. ICO adalah suatu organisasi yang menjadi wadah pertemuan dan diskusi antara negara-negara produsen kopi, dan negara anggota ICO harus mematuhi kuota, yang bertujuan untuk menstabilkan harga kopi (korset) pada kisaran $1.20/pon – 1.40/pon.10 Amerika Serikat melihat keanggotaannya di ICO justru tidak menguntungkan, dikarenakan produksi kopinya sendiri tidaklah banyak. Untuk mencegah kelebihan suplai, negara produsen diharuskan mematuhi untuk tidak melebihi bagian adil ekspor mereka. Namun seiring dengan keluarnya AS, maka aturan itu juga tidak berlaku. Pasaran kopi dunia mulai dibanjiri oleh berbagai macam kopi yang berasal dari berbagai negara, yang mendorong harga kopi menjadi turun drastis. Harga kopi yang sebelumnya minimal $1.20/pon, sejak tahun 1989 berada di bawah $1.20/pon, bahkan mencapai 14 sen/pon, yang tentu saja tidak bisa menutupi biaya produksi.

9

http://www.maketradefair.com/stylesheet.asp?file=2632002161850&cat=2&subcat=2 &select=3diakses tanggal 17 mei 2006.

10

Ib(s) atau pon adalah satuan massa yang setara dengan setengah kilogram. 1 pon = 500g. Sumber dari http://en.wikipedia.org/wiki.pound.htm diakses tanggal 9 februari 2005.

(26)

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas maka penulis mengajukan identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi program Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko?.

2. Bagaimana peranan Oxfam dalam mengatasi dampak krisis perdagangan kopi bagi petani kopi Meksiko?.

3. Apa kendala yang dihadapi oleh Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko?

4. Bagaimana efektifitas program Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko?

1. Pembatasan Masalah

Penulis memilih Oxfam karena Oxfam merupakan NGOs yang memberikan perhatian besar terhadap masalah kemiskinan dan ketidakadilan yang yang dialami oleh Negara-Negara Dunia Ketiga. Krisis perdagangan kopi dibahas karena kopi merupakan salah satu komoditas terpenting kedua di dunia setelah minyak bumi, dimana harga kopi yang menurun drastis sangat berpengaruh bagi kehidupan petani kopi di Afrika dan Amerika Latin, termasuk di Meksiko. Meksiko dipilih karena kompleksitas masalah yang dihadapi petani kopi di negara ini dan karena Meksiko mempunyai partisipan program kopi fair trade yang cukup signifikan. Pembatasan waktu yang diberikan oleh penulis adalah tahun 1999 sampai tahun 2001. Tahun 1999 adalah tahun jatuh curamnya harga kopi dunia, dan pada tahun 2001 harga kopi mencapai titik terendah dalam sejarah.

(27)

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan diatas dan untuk memudahkan penganalisaan, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

“Bagaimana Peranan Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko melalui kampanye Fair Trade?”

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui implementasi program Oxfam bagi petani Meksiko.

2. Mengetahui peranan Oxfam dalam mengatasi dampak krisis perdagangan kopi bagi petani kopi Meksiko.

3. Menjelaskan kendala Oxfam dalam membantu petani kopi Meksiko.

4. Mengetahui sejauhmana efektifitas program Oxfam bagi petani kopi Meksiko.

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan referensi tentang bagaimana upaya Oxfam, dalam menangani masalah kemiskinan di negara berkembang khususnya Meksiko.

2. Sebagai bahan referensi tentang bagaimana upaya Oxfam, dalam menangani masalah krisis perdaganan kopi.

(28)

D. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

1. Kerangka Pemikiran

Istilah hubungan internasional dapat mengacu kepada semua bentuk interaksi antara masyarakat yang berbeda apakah disponsori oleh pemerintah atau tidak. Studi hubungan internasional mencakup analisis kebijakan luar negeri atau proses politik antar bangsa-bangsa, tetapi karena minatnya dalam semua segi hubungan antar masyarakat yang berbeda, hubungan internasional mencakup juga studi mengenai serikat perdagangan internasional, pariwisata, transportasi, komunikasi, dan perkembangan nilai dan etnik internasional.11

Sejak tiga abad yang lalu, aktor hubungan internasional yang terpenting adalah selalu negara-bangsa yang berdaulat. Baru mulai 1970an, para analisis hubungan internasional, meluaskan gagasan mereka tentang sistem internasional, untuk melihat pada fenomena transnasional yang cukup krusial. Mereka sadar bahwa posisi negara-bangsa tetap sebagai aktor terpenting, namun tuntutan signifikan aktor transnasional (non-negara) dan hubungannya (antara lain dengan bidang ekonomi, sosial, budaya juga dengan bidang insurgensi, penyebaran obat-obatan terlarang, dan kejahatan kriminal transnasional) setelah meningkatkan kesadaran bahwa aktor transnasional harus dimasukkan untuk memperluas gagasan mereka tentang aktor dalam sistem internasional. Dengan berakhirnya perang dingin dan pembangunan yang dilaksanakan sesudahnya, analisis hubungan internasional telah menekankan perubahan konsep ini.12

11

K.J. Holsti. Politik Internasional: Suatu Kerangka Analisis. (Bandung:Bina Cipta, 1987.hlm.21.

(29)

Hubungan internasional meliputi berbagai hubungan antar bangsa-bangsa dalam masyarakat dunia yang didalamnya terdapat interaksi politik. Seperti yang dikatakan Trygive Mathson, bahwa hubungan internasional adalah:

Suatu bidang spesialis yang meliputi aspek-aspek internasional dari berbagai cabang ilmu pengetahuan sejarah baru dari politik internasional, semua aspek internasional dari kehidupan manusia, dalam arti semua tingkah laku manusia yang terjadi atau berasal dari suatu Negara lain, suatu cabang ilmu pengetahuan tersendiri. (1994:36)13

Semakin meningkatnya perkembangan perilaku transnasional dewasa ini yang dilakukan oleh aktor-aktor negara mengakibatkan terjadinya penyebaran perpindahan barang, informasi dan ide yang melewati batas-batas wilayah nasional tanpa campur tangan langsung oleh aktor-aktor pemerintah dan dapat mengubah opini serta perilaku elit dan non-elit dalam masyarakat nasional maupun transnasional.

Uraian tersebut sesuai dengan pendapat kaum pluralisme yang menyatakan aktor hubungan internasioanal tidak hanya negara. Pandangan pluralisme mengenai hubungan internasional didasarkan pada empat asumsi, yaitu :14

1. Dalam hubungan internasional aktor non-negara juga penting.

2. Negara bukanlah aktor sepihak atau Unitarian. Negara merupakan hasil kompetisi dan kerjasama antar individu-individu, kelompok kepentingan, dan borikrasi-birokrasi. Karena itu setiap keputusan yang diambil dan mengatasnamakan suatu negara bukanlah dibuat oleh suatu yang abstrak yang menamakan dirinya negara, melainkan hasil proses kerjasama dari kompetisi tersebut.

13

Suwardi Wiraatmadja, Pengantar hubungan internasional (Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1994), hlm. 36. (Mengutip pengertian Hubungan Internasional dari Trygive Mathson,

Methodology In The Study Of International relation).

14

Paul R. Viotti & Mark V. Kauppi. International Relation Theory: Realism, Pluralism, Globalism. (New York: Macmillan Publishing Company, 1990) hlm. 192.

(30)

3. Pengambilan keputusan tidak selalu didasarkan pada pertimbangan yang rasional, akan tetapi demi kepentingan umum.

4. Agenda dalam politik internasional sangat luas. Keamanan nasional yang sering diidentikkan dengan masalah militer saat ini bukanlah satu-satunya hal yang utama. Masalah-masalah lain seperti ekonomi, sosial, dan ekologi dapat juga menduduki urutan utama dalam agenda politik internasional.

Dari pemikiran terakhir kaum pluralis terlihat bahwa isu ekonomi dan sosial juga menempati agenda isu dewasa ini. Dari sekian banyaknya permasalahan ekonomi dan sosial, salah satu diantaranya yaitu masalah krisis perdagangan kopi, yang juga harus mendapat prioritas yang sama dengan masalah-masalah lainnya.

Ruang lingkup HI mencakup segala bentuk interaksi dan aspek-aspek internasional dlm kehidupan manusia seperti politik, ekonomi, social, budaya, ideologi, dan sebagainya. Dalam suatu interaksi sering melahirkan permasalahan sosial baik yan bersifat nasional maupun yang bersifat internasional. Adanya masalah-masalah yang timbul akibat interaksi maka diperlukan suatu penyelesaian, salah satu caranya adalah dengan melalui perdagangan internasional yang nantinya dapat mewujudkan suatu kerjasama internasional. Ekonomi internasional adalah hubungan antar bangsa-bangsa atau Negara-negara maupun orang perorangan untuk melaksanakan perekonomian yang bertujuan memenuhi kebutuhan masing-masing.

(31)

Adapun Gilpin yang mendefinisikan ekonomi politik internasional sebagai berikut:

Sistem politik internasional menegaskan perlunya kerangka kerja bagi aktivitas ekonomi. Meskipun kekuatan-kekuatan ekonomi adalah nyata dan memiliki efek yang mendalam pada distribusi kekayaan dan kekuatan di dunia, kekuatan-kekuatan itu selalu bekerja dalam konteks perjuangan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa(Gilpin 1984:295).15

Krisis perdagangan kopi ini terjadi di negara-negara berkembang yang sangat tergantung pada komoditas pertanian sebagai salah satu sumber pendapatan negara, bahkan di beberapa negara merupakan sumber pendapatan utama. Ketergantungan mereka pada komoditas pertanian dikarenakan menurut teori comparative advantage, negara-negara berkembang lebih baik untuk menspesialisasikan diri pada bidang pertanian karena bisa menghasilkan pendapatan ekonomi yang maksimal. Namun dalam prakteknya tidak demikian.

Tidak seluruh permasalahan dapat diselesaikan oleh negara, hubungan internasional kini kaya akan aktor-aktor negara dan non-negara yang saling berinteraksi, yang meliputi Negara-bangsa, Non-Governmental Organisations (NGOs), Inter-Governmental Organisations (IGOs), Multi-National Corporations (MNCs), individu, serta gerakan teroris.16

Definisi NGOs yang dipakai di sini adalah definisi menurut Salamon dan Anheier, yaitu :

“NGOs adalah organisasi yang memiliki karakter sebagai berikut: formal, dalam hal ini mempunyai pertemuan rutin, mempunyai kantor, sebuah set prosedur dan tingkatan ketetapan organisasional: swasta, secara institusional terpisah dari negara; nirlaba, tidak mensirkulasikan keuntungan yang didapat kepada pemilik, direktur, ataupun dewan pengurus; mengurus diri sendiri, dalam hal ini memiliki prosedur internal sendiri dan tidak dikontrol oleh entitas di luar organisasi;

15

Jackson, R, and Sorensen, G. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995, hal. 244.

16

Peter A. Toma and Robert F. Gorman, International Relations: Understanding Global

(32)

sukarela, melibatkan partisipasi sukarela pada tingkat yang berarti baik dalam aktivitas actual juga dalam manajemen masalah internal; non-religius, tidak berlandaskan pada promosi kepercayaan atau agama tertentu; dan non-politis, tidak berlandaskan pada promosi kandidat dalam pemilihan jabatan pemerintahan.”17

Organisasi semacam ini telah menempatkan diri dalam posisi yang penting dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik di seluruh dunia saat ini. Data menunjukkan pada tahun 1909 terdapat 176 buah NGOs, dan jumlah ini meningkat tajam sejak tahun 1964, hingga pada tahun 1993 terdapat 28.900 buah NGOs transnasional.18 Para pakar berkomentar bahwa berkembangnya jumlah, ukuran, dan bidang ruang lingkup NGOs adalah karena adanya pergeseran kebijakan konvensional bahwa pembangunan sosial adalah kewajiban utama dari negara dan pasar.19 Turunnya standar hidup di banyak bagian negara berkembang telah meningkatkan perhatian pada penyelamatan kelangsungan hidup dengan segera, dan kemungkinan alternatif yang ditawarkan oleh NGOs, di saat negara dan pasar tidak dapat lagi menyediakan pelayanan (masyarakat) secara efisien.20 Oleh karena hal-hal tesebut itulah, NGOs berkembang pesat. Banyak NGOs yang dibentuk sebagai manifestasi dari ketidakpuasan orang-orang akan kesalahan negara dan pasar yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu mewujudkan kesejahteraan, menyediakan barang-barang publik, dan pekerjaan. Orang-orang yang dikecewakan oleh keterbatasan kapasitas negara untuk menyediakan pelayanan publik, mulai melirik agensi di luar negara yang diharapkan dapat menyediakan subsitusi program kesejahteraan negara, untuk

17

Hadiwinata, 2003.Op. Cit hlm. 5.

18

Viotti dan Kauppi, 1997.Loc. Cit.

19

Hadiwinata, 2003. Op. Cit. Hlm. 1.

(33)

membantu kalangan miskin mengatasi masalah aktivitas ekonomi sehari-hari, dan membantu mereka membangkitkan inisiatif untuk menolong diri sendiri.21

Selain karena hal-hal tersebut, pertumbuhan NGOs yang dramatis juga di stimulasi dan di fasilitasi oleh meningkatnya efisiensi dan berkurangnya biaya komunikasi dan transportasi transnasional. Seiring dengan meningkatnya interdependensi, maka adanya kebutuhan suatu organisasi agar dapat memfasilitasi dan mengkoordinasi interaksi-interaksi fungsional secara lintas batas juga meningkat. Pada tingkat tertentu tujuan utama NGOs adalah mempromosikan kerjasama transnasional yang lebih besar dalam wilayah masalah-masalah khusus yang fungsional.22 NGOs yang bekerja pada tingkat tersebut merupakan NGOs transnasional.

NGOs seringkali dimasukan ke dalam kelompok organisasi sukarela (voluntary organization), organisasi nirlaba (non-profit), dan organisasi perantara (intermediary organization). NGOs juga sering disebut sebagai organisasi yang berfungsi sebagai pendamping anggota masyarakat yang miskin dan tertindas. Bahkan menurut John Clark, NGOs harus menolong masyarakat miskin untuk meyakinkan bahwa prioritas-prioritasnya jelas dan realistis.23 Hal ini berhubungan dengan promosi dan perlindungan hak asasi manusia yang sering kali menjadi agenda utama dari NGOs.

Manusia pada dasarnya mempunyai hak asasi yang sama tanpa memperdulikan adanya perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, poloitik, dan pandangan lain., asal usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak

21

Ibid.

22

Amstutz. Op. Cit. Hlm. 47.

23

John Clark. Democratizing: The Role of Voluntary Organization. (London: Earthscan Publications Ltd. 1991) hlm. 57.

(34)

milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Hak asasi manusia biasanya dianggap sebagai hak yang dimiliki setiap manusia, yang inheren (melekat) pada dirinya karena dirinya adalah manusia. Untuk itulah para aktor negara dan non-negara, termasuk NGOs mengusahakan cara agar kehidupan petani kopi yang tertindas, bisa lebih baik. Salah satu caranya adalah dengan dengan menciptakan sebuah perdagangan yang adil (fair trade).

Hal tersebut berhubungan dengan konsep fair trade yang di bawa oleh Oxfam sejak awal berdirinya. Fair trade oleh Oxfam didefinisikan suatu gerakan internasional yang mencoba memberikan jaminan bahwa produsen di negara-negara miskin mendapat kontrak yang adil yang mencakup harga yang pantas bagi produk-produk mereka, kontrak-kontrak pembelian jangka panjang, dukungan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, dan peningkatan produktivitas.24

Sebagaimana perdagangan alternatif, fair trade dimaksudkan sebagai sistem perdagangan dimana pihak-pihak yang terlibat didalamnya memiliki komitmen untuk menciptakan kesetaraan dalam proses pertukaran antara negara maju dan negara berkembang. Selain itu tujuan fair trade adalah menciptakan hubungan yang langsung antara kelompok produsen di negara-negara berkembang dan kelompok konsumen di negara-negara maju dimana ada kesadaran bersama untuk mendukung pembangunan yang independen bagi rakyat miskin. Pada awalnya gerakan fair trade hanya berskala nasional, namun dalam perkembangannya kampanye fair trade melampaui batas-batas negara. Maka gerakan ini berangsur-angsur berkembang menjadi gerakan lintas negara.

(35)

Sejak awal 1970-an hingga saat ini NGOs memiliki komitmen organisasional yang berlainan, dan untuk lebih memudahkan, dilakukan pengklasifikasian NGOs berdasarkan asal mula pembentukannya. Sekurang-kurangnya terdapat tiga klasifikasi NGOs berdasarkan asal mula pendiriannya. Pertama adalah poverty allevation NGOs. NGOs jenis ini muncul sebagai reaksi terhadap proses pemiskinan struktural dan ketidakpuasan terhadap program-program pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Tujuan utama mereka adalah untuk memberantas kemiskinan dengan membuat program-program pembangunan berdimensi swadaya dan kadang-kadang dengan melakukan aktivitas amal. Yang kedua emancipatory NGOs. Jenis ini muncul sebagai reaksi atas perkembangan isu di dunia yang menekankan pada emansipasi seperti masalah lingkungan, perempuan dan anak. Kemunculan mereka sangat dipengaruhi oleh bangkitnya kesadaran untuk membongkar struktur yang menempatkan perempuan, lingkungan dan anak sebagai korban eksploitasi. Terakhir, anti-authiritarian NGOs muncul sebagai reaksi terhadap ketimpangan politik yang mereka anggap kurang kondusif bagi terciptanya demokrasi, kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Kelompok NGOs yang termasuk kategori ini misalnya saja Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Strategi perjuangan mereka sangat bervariasi, meliputi advokasi langsung, pelatihan, diskusi lain, dan lain-lain.25 Oxfam sebagai sebuah NGOs yang besar dengan wilayah kerja hampir di seluruh dunia, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga-tiganya, dengan strategi berubah fleksibel mengikuti kondisi wilayah kerjanya.

25

Bob S. Hadiwinata. ”Dilema Pemberdayaan: LSM, Pemerintah, dan Masyarakat Sipil”, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tahun VIII, No. 20, Juli 1997. hlm. 10-12.

(36)

Dalam setiap tindakan, peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Tidak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan. Menurut Soerjono Soekamto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar menjelaskan bahwa Peranan mencakup tiga hal yaitu:

1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat organisasi.

3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat26

Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses.27 Untuk memahami peran NGOs (Oxfam), kita harus melihat pada pendekatan-pendekatan apa saja yang digunakan oleh NGOs, yang urutannya seringkali dilihat sebagai suatu evolusi peran. Elliot membedakannya ke dalam tiga pendekatan:

1. Pendekatan kesejahteraan: memfokuskan pada aktivitas pengumpulan dana dan menyediakan jasa pada kelompok tertentu (seperti bantuan untuk anak-anak dan pemulihan kelaparan).

2. Pendekatan pembangunan: programnya menekankan pada membantu proyek pembangunan dengan tujuan meningkatkan kapasitas suatu komunitas untuk menyediakan kebutuhan dasarnya sendiri.

3. Pendekatan pemberdayaan: melihat kemiskinan sebagai hasil dari proses politik, sehingga kegiatannya terfokus pada memasukkan (atau melatih) masyarakat ke dalam proses tersebut.28

Pendekatan-pendekatan inilah yang diterapkan dalam cara kerja Oxfam guna mencapai tujuannya dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di dunia, terutama dalam mengatasi masalah krisis perdagangan kopi.

26

Soerjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: CV. Rajawali) hlm. 20.

27

Ibid., hlm. 269.

(37)

John Clark membagi NGOs ke dalam enam aliran (school) berdasarkan evolusi historisnya, antara lain; Pertama Relief and Welfare Agencies (RWA), bekerja dalam bidang pemulihan dan kesejahteraan. Kedua Technical Innovation Organization (TIO), merupakan NGOs yang menjalankan proyeknya sendiri untuk merintis pendekatan baru terhadap suatu masalah, dan sering kali menspesialisasikan diri dalam bidang tertentu. Ketiga Publik Services Contraktors (PSC), merupakan NGOs yang di biayai oleh negara-negara Utara dan bekerja dalam lingkup kerja pemerintah negara-negara Utara dan agensi pemberi bantuan resmi. NGOs semacam ini mau di kontrak untuk mengimplementasi program negara Utara atau pemberi bantuan resmi karena mereka merasa dapat melaksanakan program tersebut dengan lebih efektif daripada diimplementasikan oleh pemerintah. Yang keempat Popular Development Agencies (PDA). NGOs Utara dan cabangnya di selatan yang memfokuskan diri pada bidang self-help, pembanguna sosial, dan demokratisasi akar – rumput (grassroot). Kelima, Grassroots Development Organizations (GDO), merupakan NGOs lokal Selatan, yang anggotanya adalah masyarakat miskin dan tertindas itu sendiri, berusaha untuk membentuk proses popular development. NGOs jenis ini sering kali disokong oleh PDAs, walaupun sama sekali tidak diberi bantuan dana. Yang keenam atau yang terakhir adalah Advocacy Groups and Networks (AGN), merupakan organisasi yang tidak mempunyai proyek lapangan teapi memfokuskan kepada pendidikan dan melobi pemerintah. Contoh kerjanya adalah kampanye untuk perubahan kebijakan tertentu.29

Banyak NGOs saat ini merupakan gabungan dari beberapa pembagian di atas. Termasuk Oxfam, yang dapat dijadikan contoh ideal dalam melihat perkembangan NGOs. Pada awal didirikannya, Oxfam menangani masalah

(38)

kelaparan dan kekurangan pangan, dan pada perkembangannya Oxfam terus menjalankan tugasnya dan memperluas bidang kerjanya, tidak hanya pada masalah kelaparan tetapi juga meliputi masalah pemulihan dari penderitaan sebagai konsekuensi perang atau berbagai penyebab lainnya yang terjadi di berbagai bagian dunia, yang masuk pada klasifikasi nomor satu di atas, yaitu Relief and Welfare Agencies (RWA). Perkembangan selanjutnya John Clark didalam bukunya ”Democartizing Development : The Role of Voluntary Organizations” memasukkan tujuh cabang independen Oxfam di tujuh negara sebagai Popular Development Agencies (PDA).30 Didalam masalah krisis perdagangan kopi, Oxfam dan beberapa NGOs lainnya menggunakan jaringan advokasi transnasional yang berbentuk kampanye global dengan slogannya MakeTrade Fair. Kampanye ini antara lain ditujukan bagi perusahaan multi nasional kopi untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi masalah krisis perdagangan kopi dengan cara merubah kebijakan pembelian dan penjualan kopinya.

Dalam hal ini, NGOs melakukan advokasi kebijakan. Advokasi kebijakan adalah proses yang dirancang untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan pada level nasional maupun internasional. Advokasi terdiri dari tindakan-tindakan yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat terhadap suatu permasalahan dan juga untuk mengarahkan para pembuat keputusan kepada suatu solusi dari suatu permasalahan. Advokasi meliputi aktivitas-aktivitas legal dan politik yang mempengaruhi bentuk dan praktek hukum atau kebijakan publik. Advokasi juga dapat dilakukan secara langsung, dengan melakukan tindakan turun ke lapangan.31

30

Clark. Op. Cit. hlm. 41.

31

Moh. Yasri Alimi, dkk. Advokasi Hak-hak Perempuan: Membela Hak Mewujudkan Perubahan. (Yogyakarta: LKS, 1999) hlm. 95.

(39)

Advokasi dimaksudakan untuk mengubah kebijakan agar sesuai dengan kepentingan masyarakat. Advokasi kebijakan dapat dicapai melalui kampanye advokasi dan lobbying. Kampanye advokasi adalah serangkaian tindakan bertujuan untuk mendukung sebuah kasus atau isu. Kampanye advokasi dilakukan untuk membangun dukungan terhadap isu tertentu, mempengaruhi orang lain untuk mendukung serta berusaha mempengaruhi kebijakan perundang-undangan.32 Sedangkan lobbying merupakan usaha untuk mempengaruhi para pembuat keputusan untuk merubah atau mendukung suatu kebijakan. Lobbying dapat dilakukan dengan memberikan atau mengirim surat-surat kepada para pembuat keputusan. Lobbying yang dilakukan secara efektif dapat menjadi alat penting memperbesar pengaruh dalam menangani suatu masalah.33

Keberadaan Oxfam di meksiko tidak terlepas dari tujuan serta misi dari Oxfam intenasional. Membuat perubahan ke yang lebih baik, baik dalam hal hak asasi, keadilan , kemiskinan, serta kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Oxfam di meksiko dalam hal ini khususnya petani kopi di meksiko yang sedang mengalami kerugian akibat harga kopi dunia yang anjlok mengingat petani kopi menggantungkan kehidupan perekonomiannya pada kopi. Oxfam memiliki program untuk mengatasi kehancuran harga kopi dunia dengan fair trade. Sebagai bagian dari promosi Oxfam's Fair Trade, Oxfam bekerjasama dengan mitra lokal untuk kampanye untuk perubahan peraturan perdagangan yang tidak adil baik di tingkat nasional dan global.

Mengutip dari buku Yayasan Samadi, Oxfam di meksiko bertujuan membalikkan dampak negatif dari peraturan perdagangan yang tidak adil pada skala kecil-petani, orang pribumi, dan usaha kecil di Meksiko. Baru-baru ini

32

Ibid.

(40)

termasuk kegiatan kampanye dan lobi di Menteri Organisasi Perdagangan Dunia di Cancun, dan negosiasi untuk Perjanjian Perdagangan Bebas untuk Amerika di Puebla dan Miami.34

Bagi petani kopi khususnya di meksiko, kopi merupakan mata pencaharian yang menopang kehidupan perekonomian petani meksiko itu sendiri. Jatuhnya harga kopi dunia member pengaruh besar terhadap penghasilan petani kopi meksiko. Seperti yang dikatakan Diego Perez yang merupakan petani kopi di Chiapas “Coffee is our only source of income, and now we have basically nothing. In 1997, we received around $5.25 per kilo for his crop. Today the price is about $1.25 – the lowest ever. The collapse of coffee prices on world markets over the last five years has plunged an estimated 25 million poor families into financial crisis.”35

2. Hipotesis

Berdasarkan kerangka dan perumusan masalah serta asumsi yang telah dikemukakan diatas, yang merupakan landasan bagi penarikan hipotesis. Maka, penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:

34

Yayasan Samadi. Apa itu Fair trade? : Panduan Bagi Masyarakat. (Yogyakarta: Fides Books, 2003) hlm. 19.

35

Apa yang ada dalam kopi anda?

http://givingtreecoffee.com/links/whats/coffee.html&sa=X&oi=translate&resnum=1&ct= result&prev=/search%3Fq%3DOxfam:coffee%2Bfarmer%2Bin%2Bmexico%26hl%3Did%26clie nt%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DG. Diakses tanggal 24 november 2008

(41)

“Kampanye Fair Trade yang dipromosikan Oxfam memberikan harapan terangkatnya kehidupan petani kopi Meksiko melalui program-programnya”

3. Operasional Variabel dan Indikator Tabel 1.1 Operasionalisasi Variabel:

Variabel dalam Hipotesis (Teoritik) Indikator (Empirik) Verifikasi (Analisa) Variabel Bebas :

Kampanye Fair Trade yang dipromosikan oleh Oxfam

1. Adanya krisis perdagangan kopi dunia. 2. Fair Trade didirikan sebagai tandingan dari Free Trade 3. Tujuan Oxfam 1. Harga kopi mengalami

penurunan lebih dari 70% sejak tahun 1997 yang mengakibatkan kerugian 8 milyar dollar Amerika Serikat yang harus ditanggung oleh petani kopi.

2. Mengenai persoalan fairness (keadilan) yang tidak pernah menjadi bahan pertimbangan utama di dalam praktek perdagangan bebas 3. untuk mengangkat

jutaan manusia dari kemiskinan dengan menyerukan

(42)

diadakannya perubahan aturan perdagangan yang selama ini sangat menguntungkan negara maju dan merugikan pihak negara berkembang Variabel terikat :

Memberikan harapan terangkatnya kehidupan petani kopi Meksiko

4. Program Oxfam di Meksiko. 5. Upaya Oxfam untuk meningkatkan produksi petani kopi Meksiko 4. Kerjasama dengan organisasi mitra lokal, membangun hubungan antara organisasi mitra dengan otoritas (pemerintah) lokal, kampanye internasional Oxfam Make Trade Fair. 5. Oxfam berperan

untuk meningkatkan kehidupan sosial, ekonomi petani kopi Meksiko.

(43)

4. Skema Kerangka Teoritis

Alur Pemikiran Peranan Oxfam Bagi Petani Kopi Meksiko

OXFAM ORGANISASI MITRA LOKAL FAIR TRADE Krisis Perdagangan Kopi Dunia Petani Kopi Meksiko Ketidak seimbangan kekuasaan di dalam pasar Restrukturasi Pasar Penurunan Harga Kopi Dunia Teknologi yang Menurunkan Kualitas Kopi

(44)

E. Metode Penelitian dan teknik Pengumpulan Data 1. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu cara penelitian melalui proses atau langkah-langkah yang diterapkan guna melakukan kajian terhadap masalah yang diteliti dengan tujuan untuk mencari jawaban dan solusi berdasarkan data yang diteliti dengan tujuan untuk mencari jawaban dan solusi berdasarkan data yang dihimpun. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Metode deskriptif analitis, bertujuan untuk mendeskripsikan, menelaah, menganalisa dan mengklasifikasikan suatu gejala atau peristiwa secara akurat bedasarkan hasil pengamatan terhadap beberapa fakta, sifat serta hubungan-hubungan dengan kenyataan yang sedang berlangsung, kemudian menyusun dan membahasnya dalam suatu pembahasan yang sistematis, sehingga dapat dipahami dalam suatu pembahasan yang sistematis, sehingga dapat dipahami dan dipecahkan masalahnya.

Dalam hal ini penulis mencoba memaparkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan upaya Oxfam sebagai NGOs dalam mengatasi krisis penurunan harga kopi dunia yang berdampak pada petani kopi Meksiko.

2. Teknik pengumpulan Data

Dalam mengumpulan data untuk kepentingan penulis menggunakan tehnik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Studi Kepustakaan, adalah penelusuran data-data yang bersumber dari bahan-bahan tulisan, baik dari buku, dokumen-dokumen, dan media massa.

(45)

2. Studi lapangan, adalah penelusuran data-data yang dilakukan dengan melibatkan diri dalam lingkungan dimana masalah itu berada.

F. Lokasi dan Lamanya Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Untuk mengumpulkan data dan informasi yang digunakan dalam penelitian sesuai judul dan pembahasan, maka lokasi penelitian tertuju pada:

a. Perpustakaan FISIP UNPAS Jl. Lengkong besar no. 68. Bandung b. Perpustakaan Unpar Jl. Ciumbuleit No. 94 Bandung 40192

c. Perpustakaan CSIS (Center for Strategic and Internasional Studies) Jalan Tanah Abang III no. 23-27 Jakarta

d. Perpustakaan Departemen luar negeri Jl. Pejambon no.20 Jakarta pusat. e. Perpustakaan daerah Provinsi Jawa Barat. Jl. Soekarno Hatta. Bandung

2. Lamanya Penelitian

Penelitian penulisan ini membutuhkan waktu kurang lebih satu semester atau enam bulan lebih terhitung dari April 2007 sampai dengan sekarang.

G. Sistematika Penulisan

a. Bab I berisikan Pendahuluan yang menguraikan Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Tujuan dan kegunaan Penelitian, Kerangka Teoritis dan Hipotesis, Operasionalisasi Variabel dan Indikator, Skema kerangka Teoritis, Metode dan Teknik Pengumpulan Data, Lokasi dan Lamanya Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

(46)

b. Bab II berisikan uraian objek penelitian Varibel bebas yaitu membahas lebih spesifik tentang latar belakang kebangkitan Oxfam sebagai NGOs yang keberadaannya telah diakui di hampir seluruh dunia dan kampanye terbesar yang dijalankan Oxfam sejak tahun 1960an, yaitu kampanye fair trade.

c. Bab III berisikan beberapa uraian mengenai Variabel Terikat dengan membahas mengenai krisis salah satu komoditas yang paling banyak dikonsumsi di dunia, yaitu kopi. Pada bab ini juga dibahas faktor-faktor yang menyebabkan krisis tersebut.

d. Bab IV bersifat verifikasi data yang membahas uraian atau jawaban terhadap hipotesis dan indikator-indikator penelitian baik indikator variabel bebas maupun terikat yang dideskripsikan dalam data (fakta-fakta dan angka-angka). Signifikasi verifikasi data ini merupakan inti dari penelitian, yang membahas dampak krisis perdagangan kopi pada petani kopi Meksiko dan usaha Oxfam bersama gerakan fair trade untuk mengatasi masalah ini. Dampak dari gerakan fair trade bagi petani kopi Meksiko juga akan dibahas di sini.

e. Bab V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan hasil dari penelitian terutama dari pembahasan (Bab IV).

(47)

Table 1.1

TAHAPAN KEGIATAN PENELITIAN

TAHUN 2008-2009

BULAN July Agustus September Oktober November November

MINGGU 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Persiapan

a.Penjajagan b.Pengajuan Judul

c.Pengajuan dan revisi Proposal d.Seminar Proposal 2. Penelitian Lapangan a.Studi Kepustakaan 3. Pengolahan Data 4. Analisa Data 5. Kegiatan Akhir a.Pelaporan

b.Persiapan dan Seminar Draft c.Perbaikan Draft

(48)
(49)

BAB II

OXFAM DAN KAMPANYE FAIR TRADE

Di dalam masyarakat modern, negara berfungsi untuk melindungi, memberikan jaminan keamanan dan mengatur aktivitas dan kehidupan warganya. Tugas menyediakan mata pencaharian dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dijalankan oleh pasar. Namun pada kenyataannya, pemerintah dan pasar tidak selalu berhasil melaksanakan tugasnya. Kenyataan tersebutlah yang menjadi alasan kemunculan sektor ketiga, dengan wakilnya yaitu organisasi non-pemerintah (NGOs). Pada bab sebelumnya telah dibahas tentang alasan-alasan apa saja yang melatarbelakangi kebangkitan sektor ketiga ini. Pada bab ini akan dibahas lebih spesifik tentang latar belakang kebangkitan Oxfam sebagai NGOs yang keberadaannya telah diakui di hampir seluruh dunia. Di bab ini juga akan dibahas kampanye terbesar yang dijalankan Oxfam sejak tahun 1960an, yaitu kampanye fair trade.

Bab ini diawali dengan sejarah singkat kemunculan Oxfam dan hal-hal yang melatarbelakangi terus bertahan dan berkembangnya NGOs ini. Dilanjutkan dengan pandangan-pandangan yang menjadi dasar prinsip kerja Oxfam, struktur organisasi, dan sumber dananya. Tentang kampanye fair trade dibahas pada sub-bab terpisah, selain karena luas dan pentingnya gerakan ini, juga karena bahasan dari tulisan ini adalah peran Oxfam melalui kampanye fair trade. Salah satu keprihatinan Oxfam adalah masalah krisis perdagangan kopi yang sangat merugikan petani, yang akan dibahas selanjutnya.

(50)

A. Latar Belakang dan Sejarah Oxfam

Oxfam merupakan salah satu NGOs yang terkenal di seluruh dunia, dimana awal pendiriannya adalah sebagai respon terhadap akibat kekejaman perang. Sejarah kehadiran Oxfam dimulai saat Perang Dunia II, tepatnya pada bulan April 1941, saat Yunani dikuasai oleh Nazi Jerman. Persediaan makanan dan berbagai suplai di Yunani sudah mulai menipis, malahan diambil alih oleh Nazi Jerman untuk mendukung operasi militer mereka di Afrika Utara. Sementara itu, tentara sekutu melakukan blokade laut yang menyebabkan bahan makanan dan obat-obatan menjadi langka bagi masyarakat sipil, yang hanya dapat didatangkan dari Turki. Kelaparan pun semakin menjadi, selain juga melanda daerah jajahan Nazi lainnya, Norwegia, Belgia, dan Polandia. Yunani adalah negara yang paling parah merasakan akibat kelangkaan makanan tersebut. Pada akhir januari 1942, lebih dari 2.000 orang kelaparan setiap harinya di Athena dan Piraeus.1

Didorong oleh fakta tersebut, sebagian masyarakat Inggris mulai tergerak hatinya untuk memulai sebuah gerakan pencarian dana dan pengumpulan bahan pangan serta obat-obatan, di luar jalur pemerintah, agar dapat menerobos blokade yang diterapkan pihak sekutu. Gerakan ini mendorong terbentuknya Famine Relief Comittee yang didirikan pada bulan Mei 1942 dan memiliki cabang-cabang yang berada di seluruh Inggris.2 Oxfam merupakan salah satu cabang dari Famine Relief Comittee yang berkedudukan di Oxford, Inggris. Oxfam didirikan pada tanggal 5 Oktober 1942, dimana awalnya bernama The Oxford Famine Relief Comittee. Komite ini dibentuk oleh pendeta T.R. Milford dari gereja St. Mary The

1

http://oxfam.org.uk/artwork/histori/oxhist 1.htm diakses tanggal 17 Mei 2006

2

(51)

Virgin dan profesor Gilbert Murray, seorang ahli Yunani di Universitas Oxford. Namun demikian, kegiatan Oxfam dapat berjalan dengan baik ketika mendapat dukungan dari pengusaha London bernama Cecil Jackson-Cole, yang pada Desember 1942 terpilih menjadi sekretaris utama (Honorary Secretary). 3

Pada tahun 1943, Oxfam resmi terdaftar sebagai sebuah organisasi karitatif. Dalam minggu pertama penggalangan dana solidaritas kepada rakyat Yunani, terkumul dana sumbangan yang sangat fantastis, sebesar 12.700 poundsterling. Penggalangan dana untuk Yunani selesai pada tahun 1945, namun hal ini tidak berarti Oxfam juga ikut bubar. Bahkan ketika Perang Dunia II berakhir di tahun 1945, dimana berbagai komite pemulihan langsung hilang (karena memang tugasnya sudah selesai), hal ini tidak terjadi dengan Oxfam. Oxfam terus menjalankan tugasnya dan memperluas bidang kerjanya, tidak hanya pada masalah kelaparan, tetapi juga meliputi masalah pemulihan dari penderitaan sebagai konsekuensi perang atau berbagai penyebab lainnya yang terjadi di berbagai bagian dunia.4

Konsistensi Oxfam sebagai organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam isu-isu kemanusiaan semakin diperkuat dengan dibukanya kantor di Broad Street, Oxford pada tahun 1947.5 Kantor ini selain digunakan sebagai tempat pengumpulan dana sumbangan, pada Februari 1948 juga difungsikan sebagai toko yang menjual barang-barang kerajinan. Toko tersebut menjadi toko permanen pengumpul sumbangan pertama yang masih beroperasi sampai sekarang.

3

Bob S. Hadiwinata dan Aknolt K. Pakpahan. Fair trade: Gerakan Perdagangan

Alternatif. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)hlm. 105.

4

http://oxfam.org.uk//artwork/history/oxhist 1.htm diakses tanggal 17 Mei 2006.

5

(52)

Oxfam mulai mengalami perkembangan pesat sejak ditunjuknya Howard Leslie Kirkley, pada tahun 1951, sebagai Sekertaris Jenderal dan kemudian Direktur. Beliau yang telah berpengalaman mengelola Leeds Famine Relief Committee, berhasil mengembangkan Oxfam. Hal ini terlihat ketika pada periode 1959-60, Kirkley ditunjuk sebagai ketua UK Publicity Committee for UN World Refugee Year, beliau mengenalkan Oxfam dan berhasil menarik perhatian dunia internasional hingga saat ini.

Perkembangan yang baik juga dapat dilihat dari bermunculannya Oxfam-Oxfam lainnya di bagian dunia lainnya, antara lain Oxfam-Oxfam America, Oxfam- Oxfam-in-Belgium, Oxfam Community Aid Abroad (Australia), Oxfam Canada, Oxfam Germany, Oxfam Hongkong, Intermon Oxfam (Spanyol), Oxfam Ireland (sekarang bergabung dengan Oxfam UK menjadi Oxfam GB), Novib (Oxfam Belanda), Oxfam New Zealand, Oxfam Quebec. Semuanya berjumlah dua belas dengan Oxfam GB, tergabung dalam Oxfam International.

1. Visi, Misi, Legitimasi dan Pertanggungjawaban Oxfam a. Visi Oxfam International

Dalam melaksanakan tugasnya, Oxfam percaya bahwa kemiskinan dan ketidakberdayaan dapat dihindari dan dihilangkan oleh aksi manusia dan kehendak politik .Oxfam juga percaya bahwa hak-hak manusia dan kebutuhan dasar manusia dapat berjalan beriringan. Ini termasuk hak-hak kehidupan yang berkesinambungan, hak-hak dan kapasitas untuk berpartisipasi dalam masyarakat, dan hak untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan manusia. Ketidakadilan dapat dikurangi secara signifikan, baik ketidakadilan

Gambar

Gambar 1 : Pernyataan Sumber Dana Oxfam                           £                                                                                                                       £          £
Gambar 5: Peta Produksi Kopi di Meksiko
Table 1: Volume dan Nilai Ekspor Meksiko  (Volume dalam kantong 60 kg dan Nilai dalam ribu dollar AS)
Tabel 2: Tingkat Kemiskinan di Daerah Penghasil Kopi di Meksiko  Negara

Referensi

Dokumen terkait