BAB II KERANGKA TEORI
2.7 Tiga Metafungsi Bahasa (Halliday 1985, 1994, dan 2004)
Halliday memandang bahasa sebagai sumber untuk mengungkapkan
makna. Bahasa merupakan sistem makna, yang dilengkapi dengan bentuk – bentuk yang digunakan untuk mewujudkan makna itu. Teorinya yang dikenal dengan Systemic Functional Linguitics (LSF) tidak lain adalah teori makna
sebagai pilihan. Dengan teori ini, bahasa ataupun sistem semiotika lain dapat diinterpretasikan sebagai jaringan pilihan yang saling mengkait. Bahasa sendiri merupakan perangkat bagi ‘semiotic reality’ untuk hadir . Bahasa, dengan demikian, bukan sekadar memperhatikan realitas, tetapi sebagai kendaraan bagi kehadiran realitas itu sendiri sebagai makna yang dikandungnya. Kata (wordings) dengan demikian perangkat untuk ’mengada’ bagi reaalitas. Dengan kata lain bahasa adalah sistem semantik, sistem makna yang mengejawantah melalui kata – kata. Sistem makna ini mencakup butir – butir leksikal kosakata dan juga tatabahasa yang mengatur kata – kata itu agar dapat berfungsi untuk mewujudkan realitas (makna) sebagai tugas pokoknya (Halliday, 1985, 1994, dan 2004).
Realitas tersebut menyangkut semua pengalaman yang dapat diserap pikiran manusia. Melalui kata realitas itu dikemas, disusun, diorganisasikan, dan dibagikan atau disimpan sendiri dalam memori yang tersembunyi dalam simbol- simbol bahasa. Mengutip Hjelmslev, Hasan (2009; 2) meringkas fenomena
tersebut dengan ungkapan “the world to be put in the word” untuk menjelaskan bahwa pengalaman sebagai substansi menguntungkan keberadaannya pada bentuk, yakni bahasa, dan pengalaman manusia hanya bisa hidup dalam bahasa itu.
Artinya teori sistemik bahasa ini merupakan teori pilihan pada makna dan menjadi sarana untuk menafsirkn serangkaian pilihan – pilihan pengungkapan makna dalam bentuk teks. Karena sifat sistematiknya, teori ini melandaskan analisisnya pada perspektif semiotika sosial, yang memandang bahasa selalu hadir sebagai teks. Teks bukanlah semata – mata bentuk kata atau kalimat. Ketika kita menyusun teks, bukanlah kata – kata kalimat yang menjadi fokus kita, melainkan makna yang ingin kita hadirkan melaluinya. Jadi wujud kata dan kalimat itu ditentukan oleh makna – makna yang menjadi sentral dari teks itu. “Teks itu harus dikodekan dalam sesuatu untuk dikomunikasikan ; tetapi sebagai sesuatu yang mandiri, teks itu pada dasarya adalah satuan makna “(Halliday & Hasan,1985:14).
Dengan demikian, teks dapat dianggap sebagai sebuah satuan semantik. Dan pengaturan dan pilihan kata – kata dalam sebuah teks sebagai sumber semantic bertujuan untuk mengungkapkan tiga makna metafungsional sebagai komponen fundamental dari makna bahasa. Ketiga metafungsi makna itu adalah makna ‘ ideasional’ atau reflektif, makna ‘interpersonal’ atau aktif, dan kombinasi keduanya, makna tekstual, yang menjalinkan relevansi bagi kedua makna sebelumnya.
Untuk lebih jelasnya metafungsi yang telah disebutkan di atas maka kita dapat menjelaskanya satu per satu yaitu:
1. Makna ideasional merujuk pada teori pengalaman manusia, a theory
of human experience, yakni bahwa makna ini memandang bahasa
eksternalnya maupun mikrokosmisdalamalam bathiniahdan pikirannya (Halliday & Matthiessen, 2004:29-30). Karenanya, makna ini terbentuk atas dua komponen makna eksperiensial dan makna logis. Makna atau fungsi bahasa ideasional tidak lain merujuk pada muatan fungsi bahasa sebagai ekspresi dan aktivitas dan fenomena – fenomena yang ada dalam lingkungan kehidupan manusia.
Perwujudan makna ini tertuang secara primer pada satuan gramatikal klausa. Klausa dalam mengemban fungsi pengalamannya mewujudkan diri sebagai kendaraan untuk mewakili pola – pola realitas. Melalui bahasa, dalam hal ini klausa, manusia membangun gambaran mental atau konseptual mengenai realitas. Mekanisme ini berjalan sebagai sarana untuk memahami apa yang berlangsung baik yang ada dalam dirinya maupun di luar dirinya. Dimensi realitas sebagai pengalaman mencakup segala sesuatu yang tertangkap dengan inderanya dan juga abstraksi, emosi, alur berpikir yang semuanya berlangsung dalam dirinya sendiri (Halliday, 1994:106).
2. Makna Interpersonal membelah fungsi bahasa sebagai bentuk interaksi, atau proses berbagi. Bahasa selalu hadir bukan hanya sebagai simbol realitas, tetapi selalu terikatpada pesona sumber, baik penutur maupun penulis, dengan pesona penerima, pendengar ataupun pembaca. Tidak satu tekspun yang hadir tanpa melalui sumber, dan teks tidak akan menjadi teks ketika teks itu hanya diciptakan tanpa pembaca yang menjadi target. Mudahnya, makna interpersonal ini
mengangkat bahasa wujud komunikasi, yang lebih bersifat interaktif dan personal.
Makna antar-personal bahasa berhubungan dengan berbagai interaksi antar-individu yang dilakukan melalui bahasa, seperti memberi dan meminta informasi, menawarkan sesuatu, mengungkapkan keraguan, ataupun menyampaikan pertanyaan. Makna ini merupakan makna tindak bahasa yang ditujukan pada orang lain.
3. Sementara Makna/fungsi tekstual bahasa berfokus pada bahasa sebagai sistem pengungkap kedua makna sebelumnya. Fungsi ini merujuk pada bahasa sebagai bentuk yang mewakili makna, baik ideasional maupun interpersonal. Orang yang ingin mengungkap tempat terindah, kemudian menyusun fonem atau ortografi,”surga”. Ketika orang lain mendengar dan tidak yakin dengan apa yang didengar, ia akan dapat mengungkapkan interpersonalitas sekaligus ideasionalitasnya, dengan mewujudkan dalam pertanyaan, surga?”. Di sini jelas bahwa tindak bertanya itu mewujudkan ‘keinginan’ pribadi untuk memperoleh informasi. Wujud ideasionalnya muncul dari kata “surga” yang merupakan representasi dari konsep yang disepakati komunitas yang berbahasa Indonesia. Fungsi tekstual ini menjadi sarana bagaimana mewujudkan makna – makna secara efektif dan efisiensi melalui sistem bahasa.
Secara sederhana realisasi tiga metafungsi dalam tataran tatabahasa digambarkan dalam tabel 1, yang memperlihatkan metafungsi keempat, logis,
yang berwujud sistem rekursif dan cenderung diterangkan dalam bahasa melalui metafungsi pengalaman. Karena asosiasinya secara sistemik dan struktural dengan makna pengalaman itulah, Halliday menyatukan metafungsi pengalaman dan logika dalam satu wadah, makna ideasional (Martin,1992:13).
Komponen metafungsi bahasa ideasional, interpersonal, dan tekstual merepresentasikan organisasi bahasa dan hidup di dalam sistem semantik, leksikogramatika, dan fonologi/grafologi bahasa. Sistem semantik terdiri atas makna dalam teks, sedangkan sistem leksikogramtika terdiri atas pengkataan dalam sintaksis, morfologi, dan leksis, dan sitem fonologi/grafologi terdiri atas bunyi/tulisan dalam fonem/ grafem atau bunyi/huruf. Tata bahasa beroperasi melalui nosi klausa dengan 3 set pilihan – pilihan dibuat untuk menciptakan
klausa. Pilihan – pilihan tersebut dibuat oleh pencipta klausa melalui pilihan
transitivitas, taksis, tema, dan modus. Sistem transitivitas, taksis, modus, dan tema direalisasikan dalam hubungan ideasional, tekstual dan interpersonal. Fungsi ideasional terdiri dari fungsi eksperensial dan logis direalisasikan oleh sistem klausa transitivitas dan fungsi logis direalisaskan oleh sistem klausa kompleks yaitu sistem taksis. Sementara itu fungsi tekstual direalisasikan dengan sistem tema-rema dan fungsi interpersonal direalisasikan dengan sistem modus.
Transitivitas Taksis Klausa Tema Modus Gambar 2.7
Dalam tatabahasa Tradisional (TBT) kalimat, frasa dan kata adalah unit bahasa tulis sedangkan dalam tatabahasa sistemik fungsional (TLSF) klausa, grup dan kata adalah unit bahasa tulis dan lisan.
TLSF berbicara tentang klausa dan klausa kompleks daripada mengenai kalimat. Kalimat adalah unit bahasa tulis, bukan diterapkan kepada bahasa lisan. Bila orang bicara, dia tidak bicara dalam kalimat (tidak kapital dan titik). Jika mentranskripsikan bahan bahasa dari rekaman video, orang menulis pesan direalisasikan secara gramatikal dalam klausa-klausa kompleks. Istilah ini dapat diterapkan baik kepada bahasa lisan maupun tulis.Itulah sebabnya TLSF cendrung menggunakan istilah klausa. Klausa didefinisikan sebagai unit gramatikal yang terbesar, dan klausa kompleks terdiri atas 2 atau lebih klausa yang berhubungan secara logika.
Sebagai contoh:
- Ibu mengajak ayah ke pesta, tetapi ayah menolaknya akibatnya ibu merajuk.
Teks di atas adalah 1 kalimat (diawali huruf besar dan diakhiri titik), namun secara unit gramatika terdiri atas 3 klausa seperti :
Ibu mengajak ayah ke pesta
tetapi ayah menolaknya Klausa ini disebutKlausa Kompleks
2.8 Makna Pengalaman
Bahasa menjadi alat manusia untuk membangun konsep mengenai realitas dalam pikirannya. Manusia kemudian dapat memahami apa yang berlangsung di dalam dan di luar dirinya. Makna pengalaman sebagai bagian dari makna ideasional, bagaimana bahasa mewujudkan pengalaman tentang dunia maupun tentang dunia mikro dalam pikiran dan perasaan kita. Pengalaman – pengalaman itu kemudian diorganisasikan oleh manusia secara abstrak dalam pikirannya, dan kemudian mengejawantah dalam bentuk verbal.
Tatabahasa memisahkan kedua jenis pengalaman itu; pengalaman luar yang berupa proses – proses dan aktivitas dunia luar , dan pengalaman dalam (bathin)-proses kesadaran (Halliday,1994;107). Proses luar dikategorikan sebagai proses material, yang merangkum segala kegiatan atau peristiwa yang dapat diobservasi oleh indera. Proses material mengacu pada proses atau aktivitas yang teramati, dan merupakan pengalaman ekternal bagi kesadaran manusia. Kalau proses relasional adalah proses of being dan having.Proses ini dalam bahasa
Inggris direalisasikan dengan verba be dan selalu memiliki dua (2) partisipan
tersebut.
Proses relasi terbagi menjadi dua : atributif dan identifikasi (identifying). Proses relasi atributif adalah satu proses relasi yang memperlihatkan hubungan satu entitas, carrier dan characters/sifat yang melekatinya, mencakup sifat, klasifikasi atau properti deskriptifnya.yang disebut sebagai atribut. Proses relasi
atributif adalah proses yang diwujudkan dengan “be” atau sinonimny dalam bahasa Inggris, yang fungsinya adalah untuk menunjukkan dua hal.
Proses behavioral adalah proses perilaku yang mengkombinasikan prilaku fisiologi dan psikologi, gabungan antar proses mental dan material seperti breathing, couching, smiling , dreaming , dan staring.
Partisipan utama proses ini disebut dengan petingkah laku, dan partisipan
tambahannya dinamakan behaviour.
Sebagai contoh dari proses behavioral sebagai berikut yang tertuang dalam bentuk tabel di bawah ini :
Tabel 1
Behaviour
Hafiz Tertawa
Petingkah laku Proses Behavioral
Reysha Menangis
Petingkah laku Proses Behavioral
Disamping itu ada juga yang namanya Eksistensial lebih menekankan pada informasi mengenai keberadaan sesuatu. Proses ini hanya menyebutkan sisi ‘keberadaan” dari sebuah fenomena. Yang bisa berarti ‘ada’ atau ‘terjadi’. Proses
ini merupakan bagian dari proses ‘being’ yang sekelas dengan proses attributif , dengan verba predikatif yang bersifat non-aksi ,berbeda dengan proses – proses yang lain.
Sebagai contoh dapat kita lihat pada :
Tabel 2
Eksistensial
Ada bayangan cahaya di kegelapan
Existential Existential Sirkumstan
There Are Guards along the night
Proses Existential Eksistensial Circumstance
Model pengalaman, sebagaimana tertafsirkan melalui sistem gramatikal transitivitas, merupakan salah satu wilayah dalam ruang yang kontinyu. Dengan analogi warna, tata bahasa mengungkapkan pengalaman seperti peta warna.
Begitu juga dengan pengalaman manusia, masing – masing area warna itu dimetaforiskan sebagai kategori proses, yang masing – masing berkesinambungan membentuk lingkaran kategori proses, lihat gambar 1 (Halliday, 2004:172,1994: 108). Tampak disana, tiga proses utama yang dimaksud adalah proses material, mental, dan relasional, yang dibatasi oleh tiga jenis proses minor, verbal, eksistensial, dan prilaku (behavioral). Dalam tiap proses besar itu, terdapat sub kategori yang lebih kecil, seakan menjadi berkas – berkas warna dari tipe proses
pokok tersebut. Proses material menerangkan proses doing, happening, dan
creating. Proses mental meliputi proses seeing, thingking, dan feeling. Terakhir,
proses relasional mewadahi proses attributive, identifying dan symbolizing.
Gambar : 2.8
Lingkaran Kategori Proses ( Halliday : 1994: 108)
Having identity Having attribute existing Happening (being created) symbo lizing saying saying thinking feeling seeing behaving Creating changing Doing (to) acting relational verbal mental behavioural existential material World of abstract relations (being) (doing) physical world (sensing) world of cons
Penelitian ini hanya berfokus pada klausa – klausa yang mengalami pergeseran kategori makna pengalaman, sebagai fokus kajian dan mengkaji kemunculan variasi yang dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap kesetiaan makna dalam penerjemahan. Lingkaran proses Halliday tersebut digunakan sebagai sandaran untuk menilai tingkat variasi proses. Selain itu, penilaian juga didasarkan pada penambahan dan atau pengurangan unsur makna klausa yang meliputi partisipan, proses, dan sirkumstan yang diuraikan pada bagian Makna Pengalaman di atas. Sebagai contoh :
Tabel 3
Rangkuman Proses dan Partisipan Terkait
No Proses Partisipan
Utama
Partisipan komplemen
1 Material Actor Goal
2 Mental Senser Phenomenon
3 Relasional Carrier/token Attribute/value
4 Verbal Sayer Verbiage
5 Behavioral Behaver Behavior
6 Existent -
Logikanya, ketika ada variasi pengemasan, tentu berimplikasi pada perubahan makna yang disampaikan, sebagaimana diungkapkan oleh Cloran (2000: 154), “Speaker contrue (interpret) experiential meaning and construct
interpersonal meaning simultaneously and cohesively by means of the facilitative
textual resources.” Ketika orang berbicara ia menyampaikan (menafsirkan) makna
pengalaman dan sekaligus membangun makna pengalaman secara kohesif melalui sarana – sarana sumber tekstual.
Halliday mengkategorikan proses itu menjadi 6 proses besar material
(doing, happening), mental (knowing, feeling, seeing), relasional (attributive, identifying), existential, behavioral, dan verbal. Jadi secara keseluruhan, bahasa dalam mengkategorikan realitas menjadi 10 macam proses, aktivitas (Halliday & Matthieessen:2004). Pengalaman – pengalaman yang dicerna manusia secara garis besar terbagi kedalam dua ranah, pengalaman di luar dirinya dan di dalam dirinya. Wujud yang khas dari pengalaman luar itu berupa’ tindakan’ atau ‘kejadian’,misalnya sesuatu yang terjadi, atau orang atau apa melakukan tindak apa, atau memicu sesuatu/seseorang melakukan hal tertentu. Sementara, pengalaman ‘dalam’ sebagian merupakan tanggapan teradap objek luar : mengingatnya, bereaksi atau berefleksi terhadapny, dan sebagian berujud kesadaran tentang diri kita sendiri (Halliday, 1994: 106).
Tatabahasa memisahkan kedua jenis pengalaman itu; pengalaman luar yang berupa proses – proses dan aktivitas dunia luar, dan pengalaman dalam (bathin) – proses kesadaran (Halliday,1994:107). Proses luar dikategorikan sebagai proses material, yang merangkum segala kegiatan atau peristiwa yang dapat diobservasi oleh indera. Proses material mengacu pada proses atau aktivitas yang teramati, dan merupakan pengalaman eksternal bagi kesadaran manusia.
Tou (2008:28) merangkum variabel – variabel yang menentukan wujudiah
teks, yang meliputi semiotika konotatif (religi, ideologi, budaya , dan situasi) dan semiotika denotatif (wujud ekspresi baik verbal/nonverbal). Dengan banyaknya variabel – variabel yang mengikat kehadiran teks, amat sulit dua teks dapat hadir dengan makna yang sepadan tanpa mengalami transformasi apapun, terlepas dari berapapun besaran derajad skalanya, variasi atau perubahan akan menjadi keniscayaan yang tidak terhindarkan dalam praktik pengugkapan makna melalui sistem semiotika.
Fungsi Experensial terjadi pada tingkat klausa sebagai representasi pengalaman-pengalaman manusia, baik realitas luaran maupun relaitas dalaman diri manusia itu sendiri, dan ini bermakna satu fungsi klausa adalah sebagai representasi pengalaman dari dua realitas, yaitu realitas dari luaran dan dari dalaman seseorang. Eksperensial atau representasi fungsi bahasa khususnya fungsi klausa direalisasikan oleh sistem transitivitas bahasa (klausa). Dunnia realitas luaran yang dibawa ke dalam dalam dunia realitas dalaman dalam alam sadar seseorang, yang diproses dalam sistem transitivitas bahasa diinterpretasikan sebagai ‘proses yang sedang terjadi’, yang berhubungan dengan gerak, kejadian- kejadian, kondisi, dan hubungan-hubungan materi.
Proses yang sedang terjadi terbagi dalam proses-proses yang bervariasi. Halliday (1985b,1994) mengindentifikasi proses-proses realitas yang terekam, dan secara linguistik dan tata bahasa mengklasifikasikan proses-proses yang bervariasi ini ke dalam jenis-jenis proses, khasnya jenis proses dalam sitem transitivitas bahasa Inggris. Di dalam bahasa ini proses dikategorikan ke dalam tiga proses
utama: (1) material, (2) mental, (3) relasional; dan mengklasifikasikan lagi ke dalam tiga proses tambahan, yakni (1) tingkah laku, (2) verbal, (3) wujud (existensial).
2.9 Klausa
Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat. Pengertian Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata – kata berkonstruksi predikatif, artinya di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Selain fungsi predikat yang harus ada dalam konstruksi klausa ini, fungsi subjek boleh dikatakan bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat tidak wajib.
Klausa memang berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib, yakni subjek dan predikat Untuk lebih mengetahui posisi klausa di dalam sintaksis adalah kalau kata dan frase menjadi
pengisi fungsi – fungsi suntaksis, maka klausa menjadi “pengisi” kalimat. Atau dengan kata lain, tempat klausa adalah di dalam kalimat. Di dalam kalimat tunggal seluruh bangun kalimat itu diisi oleh sebuah klausa. Di dalam kalimat majemuk, baik yang koordinatif maupun subordinatif, dua buah klausa atau lebih mengisi bangun kalimat itu. Berikut contoh klausa di bawah ini.
1. Klausa yang terdiri dari Subjek dan Predikat
S -Predikat - Objek - Keterangan tempat - Keterangan waktu 2. Klausa di dalam kalimat majemuk
Ayah membaca koran ibu sedang memasak nasi di dapur. S Predikat -Objek - Subjek - Predikat - Objek - Keterangan
Klausa di sini mengacu pada “ satuan gramatik yang terdiri subjek dan predikat, disertai objek, pelengkap dan keterangan atau tidak.” Singkatnya klausa dirumuskan sebagai S P (O) (PEL) (KET), dengan S P sebagai komponen yang wajib hadir, sementara tiga komponen berikutnya bersifat manasuka. Dalam tatabahasa, klausa merupakan satuan utama struktur bahasa, karena klausa memiliki konstituen yang terindentifikasi, dengan masing – masing memiliki struktur dan pola gramatik sendiri – sendiri. Klausa menempati posisi utama dalam mengungkapkan makna. Pada tataran klausa, pengguna bahasa dapat membicarakan tentang apa yang ada, apa yang terjadi dan apa yang orang rasakan. Pada unit gramatik ini pula, orang berinteraksi satu sama lain dengan bahasa (Lock, 1996:8).
Dalam bahasa Indonesia, unsur inti klausa meliputi S dan P, tetapi unsur S dapat dihilangkan, misalnya karena penggabungan klausa atau dalam kalimat jawaban.”Unsur yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P. Unsur – unsur lainnya mungkin ada, mungkin juga tidak ada” (Ramlan, 1985:80). Jadi, dalam struktur klausa unsur P dapat dikatakan memiliki kedudukan yang paling penting, diikuti oleh S sebagai unsur inti lain dari klausa.
Klausa mempunyai beberapa jenis. Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikatnya. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan
klausa terikat. Yang dimaksud dengan klausa bebas adalah klausa yang
mempunyai unsur – unsur lengkap, sekurang – kurangnya mempunyai subjek dan predikat; dan karena itu, mempunya potensi untuk menjadi kalimat mayor. Misalnya klausa mamaku masih cantik dan papaku gagah berani.
Berbeda dengan klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap, maka klausa terikat memiliki sruktur yang tidak lengkap. Unsur yang ada dalam kalimat ini mungkin hanya subjek saja, mungkin hanya objek saja, atau hanya keterangan saja.Oleh karena itu, klausa terikat ini tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor.
Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya, dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa adjektifal, klausa adverbial, dan klausa preposisional. Klausa yang predikatnya bukan verbal laszim juga disebut klausa nonverbial. Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba, sebagai contoh: saya mandi, kakak menari, harimau itu berlari, dan matahari bersinar.Kemudian tipe verba dibagi menjadi; 1) klausa transitif
yaitu klausa yang predikatnya berupa verba transitif, sebagai contoh Xena menulis sepucuk surat, Rina membersihkan halaman, Andy membaca sebuah novel. 2) Klausa intransitif yaitu klausa yang predikatnya berupa verba intransitif,
sebagai contoh: Paman bekerja di kantor, Mereka berjalan di sebelah kiri. 3). Klausa refleksif yaitu klausa yang predikatnya berupa verba refleksif, sebagai
contoh : abang sedang mandi, kakak sedang berdandan. 4) Klausa resiprokal yaitu klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal, sebagai contoh : mereka bertengkar sejak kemarin, Israel dan Palestina akan berdamai. Dan banyak lagi contoh jenis – jenis klausa lainnya.
Teks dapat direalisasikan oleh sejumlah klausa, tetapi teks tidak selamanya terjadi dari sejumlah klausa. Dalam menganalisis suatu teks, mula – mula teks itu diuraikan menjadi klausa. Kemudian, klausa diuraikan menjadi grup. Grup dianalisis berdasarkan kata. Selanjutnya, kata dianalisis menjadi morfem. Dengan demikian, analisis dapat dilakukan pada tingkat yang diinginkan oleh pemakai bahasa.
Satu unit linguistik dapat dianalisis ke dalam unsur yang membangunnya berdasarkan kelas atau fungsinya. Analisis berdasarkan kelas menunjukkan kesamaan satu unit dengan unit yang lain. Berbeda dengan itu, analisis fungsi bertujuan untuk menunju fungsi setiap unsur dalam unit yang lebih besar. Unit tata bahasa pada strata klausa, grup, kata, dan morfem dapat dianalisis berdasarkan kelas atau fungsi unsur yang membangunnya.
Analisis LSF bergantung pada konteks sosial dan berdasarkan analisisnya pada fungsi. Dengan prinsip ini satu teks atau satu unit linguistik dapat bermakna lebih dari satu sesuai dengan konteks sosialnya. Dengan demikian, analisis harus dapat menunjukkan beberapa makna yang mungkin atau potensial disampaikan oleh satu teks.
Fungsi Eksperiensial yang ada dalam Fungsi Ideasional terjadi pada tingkat
klausa sebagai representasi pengalaman – pemgalaman manusia, baik realitas luarnya maupun realitas dalaman diri manusia itu sendiri, dan ini bermakna satu fungsi klausa adalah sebagai representasi pengalaman dari dua realitas, yaitu realitas dari luaran dan dari dalaman seseorang. Eksperensial atau representasi fungsi bahasa khususnya fungsi klausa yang direalisasikan oleh sistem transitivitas bahasa (klausa). Dunia realitas luaran yang dibawa ke dalam dunia realitas dalaman dalam alam sadar seseorang, yang diproses dalam sistem transitivitas bahasa diinterpretasikan sebagai ‘ proses yang sedang terjadi ‘, yang berhubungan dengan gerak, kejadian – kejadian, kondisi, dan hubungan – hubungan materi.
‘Proses yang sedang terjadi ‘terbagi dalam proses – proses yang bervariasi. Halliday (1985b, 1994) mengindentifikasi proses – proses realitas yang terekam, dan secara linguistik dan tata bahasa mengklasifikasikan proses – proses yang bervariasi in ke dalam jenis – jenis proses, khasnya jenis proses dalam sistem