D. Tindak Pidana Korupsi
2. Tindak Pidana Korupsi Yang Berasal dari KUHP
a. Penyuapan
Tindak pidana suap merupakan tindak pidana yang berada dalam satu jenis (genus) dengan tindak pidana korupsi dan merupakan jenis tindak pidana yang sudah sangat tua. Penyuapan sebagai istilah sehari-hari yang dituangkan dalam Undang-Undang adalah sebagai suatu hadiah atau janji (“giften” atau “beloften”) yang diberikan atau diterima.5 Oemar Seno Adji, membagi penyuapan menjadi dua bagian yaitu penyuapan aktif dan penyuapan pasif.
Penyuapan aktif (active omkoping) adalah jenis penyuapan yang pelakunya sebagai pemberi hadiah atau janji (Pasal 209 dan Pasal 210 KUHP), sedang penyuapan pasif (passive omkoping) adalah jenis penyuapan yang pelakunya sebagai penerima hadiah atau janji (Pasal 418, Pasal 419 dan Pasal 420 KUHP).
Pasal-pasal KUHP itu semua sudah dihisap oleh Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan demikian sudah dengan sendirinya menjadi tindak pidana korupsi. Rumusan ketentuan penyuapan dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 merupakan ketentuan yang satu sama lain
5 Seno Adji, Herziening, Ganti Rugi, Suap, Perkembangan Delik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1981
saling berpasangan yakni penyuapan aktif dan pasif. Penyuapan aktif sendiri diatur melalui Pasal 5 ayat (1), Pasal 6 ayat (1), dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, sedangkan Penyuapan pasif diatur dalam Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (2), Pasal 11, Pasal 12 huruf a, b, c, dan d Undang-Undang No. 20 Tahun 2001.
b. Perbuatan Curang
Perbuatan curang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Rumusan Pasal 7 berasal dari Pasal 387 dan Pasal 388 KUHP sebagaimana disebutkan oleh Pasal 7 dalam UU No. 31 Tahun 1999.
Pasal 7 UU 20 Tahun 2001 merujuk pada Pasal 387 dan Pasal 388 KUHP yang kualifikasinya adalah melakukan perbuatan curang bagi pemborong, ahli bangunan dan pengawas, sehingga membahayakan keamanan orang atau barang dan membahayakan keselamatan negara. Pasal-pasal ini erat sekali hubungannya dengan Keputusan Presiden Nomor 14 A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981.65 Contoh perbuatan curang yang dilakukan adalah pemborong dalam melakukan pembangunan suatu bangunan tidak sesuai atau menyalahi ketentuan yang sudah diatur dan disepakati yang tertuang dalam surat perjanjian kerja atau leveransir, bahan bangunan yang dipesan/dibeli darinya tidak sesuai dengan yang diperjanjikan. Sebenarnya perbuatan ini, dalam kaitan perjanjian jual-beli (dalam lingkup hukum perdata) apabila salah satu tidak memenuhi perjanjian dikatakan wanprestasi. Tetapi hal ini dimasukkan dalam ranah hukum pidana karena perbuatan curang itu bersifat menipu, dan lebih khusus lagi dijadikan tindak pidana korupsi.
Perbutan curang tidak perlu mengakibatkan bangunan itu roboh atau negara menjadi betul-betul bahaya, karena dalam unsurnya dikatakan “dapat membahayakan keamanan orang atau barang dan membahayakan keselamatan negara”. Oleh karena rumusan deliknya ini adalah delik formil bukan materil. Pasal 7 ayat (1) huruf c mengubah unsur “Angkatan laut atau Angkatan baru dalam Pasal 388 ayat (1) dengan memperluas unsurnya disesuaikan dengan keadaan sekarang menjadi: “Tentara
Nasional Indonesia dan/atau Kepolisian Negara Republik Indonesia”. Tentara Nasional Indonesia terdiri dari Angkatan Darat, angkatan Laut, dan Angkatan Udara, kalau dalam Pasal 388 ayat (1) tidak termasuk Angkatan Udara.
c. Kejahatan Jabatan
Dalam UU No. 20 Tahun 2001 kejahatan jabatan diatur dalam Pasal 8, 9, dan 10. Rumusan Pasal 8 merujuk pada Pasal 415 KUHP mengenai pejabat atau pegawai negeri yang menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, membiarkan atau membantu, dikenakan pidana minimal maksimal dan kumulatif/alternatif. Pidana penjara lebih ringan dan pidana denda lebih berat dari pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak pidana korupsi. Termasuk dalam perbuatan yang dilarang oleh Pasal 8 adalah:
- menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya;
- membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain;
- membantu dalam melakukan perbuatan tersebut.
Yang dimaksud dengan menggelapkan dalam pasal ini tidak berbeda artinya dengan mengaku/seolah-olah sebagai milik sendiri dalam Pasal 372 KUHP yang dikualifikasi dengan penggelapan. Oleh karena itu agar dapat dikenai pidana perbuatan menggelapkan tersebut diatas disamakan dengan perbuatan yang disebutkan dalam Pasal 372 KUHP tetapi khusus pada Pasal 8 adalah untuk uang atau surat berharga saja. Di Negeri Belanda ketika membentuk KUHP ada pembicaraan di Parlemen yang disimpulkan bahwa perbuatan si pelaku dalam Pasal 415 bukan memiliki, melainkan mempergunakan untuk lain tujuan daripada yang seharusnya, dan ia mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya tersebut. Misalnya, apabila ada uang yang dimaksudkan untuk membeli radio untuk keperluan dinas,
dipakai untuk membeli mesin tik, juga untuk keperluan dinas. Dalam hal itu sama sekali tidak ada keuntungan bagi si pegawai negeri.7
Pasal 9 merujuk pada Pasal 416 KUHP mengenai pejabat atau pegawai negeri yang memalsukan buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi. Dikenakan pidana minimal maksimal dan kumulatif, pidana penjara lebih ringan dan pidana denda lebih berat dari pada UU No. 3 Tahun 1971. Perbuatan yang dilarang pada Pasal 9 adalah memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi. Pasal ini memiliki kemiripan dengan Pasal 263 KUHP yang dikualifikasikan sebagai pemalsuan surat. Dalam Pasal 263 KUHP pelakunya adalah sembarang orang (tidak perlu memiliki kualifikasi tertentu) sedang dalam Pasal 9 pelakunya harulah seorang pegawai negeri.
Rumusan Pasal 10 merujuk pada Pasal 417 KUHP mengenai pejabat atau pegawai negeri yang menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar, yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya atau membiarkan atau membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut. Dikenakan pidana minimal maksimal, dan kumulatif/altematif, pidana penjara lebih ringan dan pidana denda lebih berat dan pada UU No. 3 Tahun 1971. Termasuk dalam perbuatan yang dilarang oleh Pasal 10 adalah:
a. Menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar, yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya;
b. Membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan; c. Membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau
membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut; atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar tersebut.
7 Prodjodikoro, Wirjono, Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung Cct. Pertama, Edisi Ketiga, Juni 2003
Perubahan yang penting untuk diperhatikan dalam Pasal 8, 9, dan 10 UU No. 20 Tahun 2001 adalah perubahan mengenai subyek hukumnya. Dalam Pasal 8, 9, dan 10 UU No. 31 Tahun 1999 subyek hukumnya adalah “Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 415, Pasal 416, dan Pasal 417 KUHP”. Subyek hukum “setiap orang” yang dimaksud adalah orang perorangan atau termasuk korporasi (Pasal 1 angka 3 UU No. 31 Tahun 1999). Sedangkan dalam UU No. 20 Tahun 2001 subyek hukumnya dikerucutkan karena dikaitkan dengan Pasal 415, Pasal 416, dan Pasal 417 KUHP yang subyek hukumnya menyebutkan “pegawai negeri” (ada KUHP yang lain menggunakan istilah “pejabat”- Pegawai negeri dan pejabat sebagai terjemahan dari “ambtenar”). Sedang Pasal 8, 9, dan 10 UU No. 20 Tahun 2001 subyek hukumnya menggunakan istilah yang lebih spesifik yaitu “pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau sementara waktu”. Jadi disini ada dua subyek hukum, tetapi dipilih yang mana (bersifat alternatif) apakah subyek hukumnya pegawai negeri” atau “orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu”.
Siapakah yang dimaksud dengan “orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau sementara waktu”? Menurut Noyon-Langemeyer66 yang menceritakan berdasarkan Surat Penjelasan pada KUHP Belanda sering barang-barang itu dipercayakan kepada orang-orang yang bukan pegawai negeri seperti pegawai-pegawai dari suatu bank atau anggota-anggota dari suatu panitia negara atau sarjana-sarjana yang ditugasi untuk mengadakan penelitian-penelitian ilmiah.
d. Pemerasan
Pasal-pasal mengenai pemerasan terkenal dengan nama “Knevelarij” yang berarti permintaan memaksa atau pemerasan yang dilakukan ketika menjalankan tugas. Knevelarij berasal dari kata knevelen, secara harfiah berarti suatu perbuatan memasukkan secara memaksa suatu benda, contohnya memasukkan sebatang kayu atau potongan kain kedalam mulut seseorang sehingga orang itu tidak dapat berbicara,
atau mengikat badan atau tangan seseorang dengan tali. Dari arti harfiah yang seperti ini lalu dikatakan bahwa Knevelarij merupakan arti kiasan bagi perbuatan yang memeras rakyat untuk memberikan uang. Mengenai pemerasan dirumuskan dalam Pasal 12 huruf e, f, dan g UU No. 20 Tahun 2001. Rumusan Pasal ini merupakan perbaikan dari Pasal 12 UU No. 31 Tahun 1999.
e. Penggunaan Tanah Negara
Dalam UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kejahatan seperti judul diatas dirumuskan dalam Pasal 12 huruf h. Rumusan Pasal ini mengambil dari Pasal 425 ayat (3) KUHP. Bagi pelakunya (seorang pejabat) Pasal 425 ini dikatakan melakukan pemerasan tetapi tidak disertai dengan kekerasan atau ancaman kekerasan sebagaimana pemerasan (afpersing) dalam Pasal 368 KUHP. Sedang Pasal 423 KUHP pelakunya (seorang pejabat) sudah memaksa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, ditambah lagi dengan menyalahgunakan kekuasaannya. Jadi disini melawan hukumnya dan menyalahgunakan kekuasaannya harus dibuktikan semua. Kekuasaan yang disalahgunakan delik pejabat tersebut adalah kekuasaan yang melekat pada jabatan pegawai negeri itu. Sampai dimana dapat dikatakan ada suatu penyalahgunaan kekuasaan bergantung kepada kedudukan in concreto dan seorang penguasa terhadap orang yang dipaksakan. Pada umumnya rasa terpaksa ini dapat dianggap ada apabila secara hierarkis seorang penguasa berkedudukan cukup lebih tinggi dari seseorang yang dipaksakan sehingga dapat dimengerti bahwa paksaan yang bersangkutan dituruti. Dalam Pasal 12 huruf i, huruf g dan huruf h tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara pada waktu menjalankan tugas.
f. Turut Serta Pemborongan
Dalam Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
kejahatan seperti tersebut pada judul diatas dirumuskan dalam Pasal 12 huruf I. Rumusan Pasal ini diambil dari Pasal 435 KUHP. Jadi kalau ada seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara yang turut serta melakukan pekerjaan pemborongan sedang yang bersangkutan justru ditugasi untuk mengurus atau mengawasinya. Pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut dikatakan melakukan tindak pidana korupsi. Menurut Andi Hamzah, Pasal 435 KUHP ini yang menjadi Pasal 12 huruf I Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 hampir tidak pernah diterapkan, padahal banyak sekali kasus yang pegawai negeri merangkap pemborong baik ia sendiri maupun keluarganya.67