HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.2. Tingkat Keakuratan Model
kemungkinan prediksi model. Namun, apabila nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test Statistic lebih besar dari 0,05, maka Ho tidak dapat ditolak, artinya prediksi model sesuai dengan hasil observasinya. Tabel 4.4 menunjukkan nilai Hosmer and Lemeshow pada perataan laba sebesar 0,945, yang menunjukkan bahwa Ho diterima karena nilai signifikansi diatas 0,05.
4.3.2. Tingkat Keakuratan Model
Dalam pengujian ini dapat diketahui tingkat keakuratan analisis regresi logistik dalam mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kategori yang diprediksi melakukan perataan laba dan tidak melakukan perataan laba.
Tabel 4.5 : Tingkat Keakuratan Model Regresi Logistik Predicted Perataan Laba Observed Tidak Ya Percentage Correct 4 7 36,4
Perataan Laba Tidak
Ya Overall percentage
4 15 78,9
63,3 Sumber : Lampiran 3
70
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa model regresi logistic pada pada penelitian ini dapat mengklasifikasikan sampel perusahaan lebih dari 50%. Pada perusahaan food and beverage ini tingkat akurasi analisis regresi logistik dalam memprediksi adalah 63,3% artinya kesalahan dalam mengklasifikasi pada masing-masing tahun adalah sebesar 36,7%.
4.4. Pembahasan dan Implikasi Hasil Penelitian 4.4.1. Pembahasan
Menurut Koch (1981) dalam Diana Zuhro (1996:1) yaitu cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial (melalui metode akuntansi) maupun secara riil (melalui transaksi). Motivasi dalam melakukan perataan laba ini biasanya adalah untuk kepuasan dua kelompok yaitu pengguna eksternal (investor dan kreditor) dan pengguna internal informasi akuntansi. Perataan laba dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, dan leverages operasi perusahaan.
Temuan penelitian ini adalah model regresi logistik layak digunakan dan variabel ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, leverage operasi perusahaan secara serentak dan parsial tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Tidak berpengaruhnya variabel ukuran perusahaan
terhadap perataan laba, menunjukkan bahwa kemampuan ketiga variabel tersebut relatif sangat rendah dalam mempengaruhi perataan laba.
Rendahnya pengaruh variabel ukuran perusahaan profitabilitas perusahaan, dan leverage perusahaan terhadap perataan laba, kemungkinan disebabkan tingkat perekonomian bangsa yang tidak stabil ini terlihat dari tingginya suku bunga bank, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi (Juniarti dan corolina, 2005:158).
Berkaitan dengan hal-hal tersebut diatas adanya fenomena tingkat perekonomian bangsa yang tidak stabil yaitu dengan tingginya tingkat suku bunga sangat berpengaruh pada variabel ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, dan leverage perusahaan, yaitu:
1. Pengaruh Variabel Ukuran Perusahaan Terhadap Perataan Laba Variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan Food and Beverage. Hal ini dikarenakan besar kecilnya suatu perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap pendanaannya, besar perusahaan itu bermacam-macam tetapi bukan ukuran yang dipakai untuk menentukan tidak adanya standar ukuran yang berlaku umum, semakin besar suatu perusahaan, maka semakin banyak pula alternatif sumber pem,belanjaan yang dapat dipilih oleh perusahaan tersebut dan ada kecenderungan bahwa semakin besar perusahaan semakin besar pada jumlah utang yang dimiliki. Perusahaan yang timbul pesat cenderung lebih banyak menggunakan utang, pada
72
perusahaan Food and Beverages pada tahun 2007-2009, perusahaan yang besar akan lebih mudah mendapatkan pinjaman dari pihak eksternal dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Moses (1987) bahwa perataan laba dapat dihubungkan dengan ukuran perusahaan, perbedaan antara laba sesungguhnya dengan yang diharapkan dan ada tidaknya rencana kompensasi bonus. Penelitian yang dilakukan oleh Moses bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dihubungkan dengan perataan laba.
2. Pengaruh Variabel Profitabilitas Terhadap Perataan Laba
Berdasarkan hasil pengujian ditemukan bahwa variabel profitabilitas tidak signifikan berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan food and beverages, dengan tidak berpengaruhnya profitabilitas dapat dikarenakan memang profitabilitas hanya menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber daya yang ada, seperti penjualan kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, tidak ada berpengaruh nya terhadap perataan laba, jumlah keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian menganalisa didalam menilai profitabilitas perusahaan. Rasio profitabilitas dapat diukur dengan berdasarkan poerbandingan laba setelah pajak dengan total aktiva perusahaan.
Profitabilitas merupakan ukuran penting untuk menilai sehat tidaknya perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh (Viktor H. avaroom, 1964 dalam Robbins, 2003:229) yang mengatakan bahwa individu mengubah perilaku mereka berdasarkan hasil yang diharapkan dari suatu kejadian. Manfaat yang diturunkan dari suatu hasil yang diharapkan dari suatu kejadian. Manfaat yang diturunkan dari hasil yang diharapkan dapat berupah intrinsic (seperti penghargaan atau harga diri) maupun ektrinsik (upah atau promosi), profitabilitas diduga mempengaruhi perataan laba, karena sesuai dengan teori pengharapan, pihak manajemen berusaha menampilkan suatu tingkat profitabilitas yang tinggi agar kinerja manajemen terlihat baik.
3. Pengaruh Variabel Leverage Terhadap Perataan Laba
Dari hasil pengujian membuktikan bahwa variabel leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan food and beverage, dengan tidak berpengaruhnya leverage terhadap perataan laba, karena memang ini hanya pengguna aktiva atau dana dimana untuk penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap. Perusahaan dengan leverage yang tinggi mempunyai resiko lebih besar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi, sedangkan perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki resiko yang lebih kecil jika kondisi
74
ekonomi sedang menurun, tetapi juga memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomi membaik. Hasil ini tidak sesuai dengan peneliti terdahulu yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz (1998) diperoleh hasil bahwa leverage operasi memiliki pengaruh terhadap praktik perataan laba. Dengan meneliti fakto-faktor yang dapat dikaikan dengan mengambil sampel perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Namun penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dan Soraya bahwa leverage operasi tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.
4.4.2. Implikasi
Dari hasil pengujian hipotensis yang dimiliki maka implikasi dari penelitian ini adalah sebagai berikut dengan tidak ditemukannya pengaruh dari ukuran perusahaan, profitabilitas dan leverage operasi terhadap perataan laba perusahaan khususnya pada perusahaan food and beverages yang terdaftar dibursa efek Indonesia (BEI), karena memang hal ini dikarenakan besar kecilnya suatu perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap pendanaannya, serta variabel tersebut hanya menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan.
Untuk penelitian selanjutnya yang akan dilakukan penelitian dengan tema sejenis atau meneliti mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba perusahaan, peneliti mengharapkan untuk
dapat memperbanyak jumlah sampel dengan cara menambah jumlah maupun jenis perusahaan yang diteliti sehingga hasil penelitian yang diperoleh dapat lebih kuat serta dapat digeneralisasikan serta dengan menambah jumlah variabel yang diteliti, seperti growt, likuiditas, serta periode pengamatan yang diamati hendaknya juga diperpanjang.
4.5.2. Perbedaan Penelitian Yang Dilakukan Terdahulu Dengan Penelitian