Tingkat keberdayaan perempuan diukur menggunakan lima variabel yang dikemukakan oleh Longwe (1988) yakni kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, dan kontrol.
Kesejahteraan
Aspek ini dikatakan salah satu aspek yang penting dalam upaya peningkatan pemberdayaan perempuan, karena berkaitan dengan bagaimana perempuan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini kesejahteraan diukur dari keadaan tempat tinggal, fasilitas yang dimiliki di tempat tinggal, kesehatan keluarga, akses pelayanan kesehatan, akses pendidikan, dan akses fasilitas transportasi. Berikut ini adalah data responden menurut tingkat kesejahteraan perempuan:
Tabel 7 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kesejahteraan perempuan, Desa Cikarawang tahun 2015
Kategori n %
Rendah 1 2.8
Sedang 15 41.7
Tinggi 20 55.6
Jumlah 36 100.0
Tabel 7 menunjukkan bahwa kesejahteraan perempuan di Desa Cikarawang sudah cukup baik, yakni sebesar 55.6 persen (20 responden) berada dalam kategori tinggi. Kesejahteraan perempuan dilihat dari keadaan tempat tinggal sudah permanen (tembok), fasilitas yang dimiliki tergolong cukup, kesehatan tergolong baik dan tidak ada yang menderita penyakit parah. Untuk akses rata-rata sudah baik; puskesmas, sekolah, dan transportasi dapat dijangkau. Hal ini seperti yang disampaikan oleh responden sebagai berikut:
“...keadaan tempat tinggal sudah permanen. Fasilitas air minum, wc, alat elektronik sudah ada, lengkap. Kesehatan keluarga juga bagus, jarak rumah ke rumah sakit dekat dan mudah, sekolahan dekat, kendaraan cukup, ada lah...” (Us, 41 tahun)
Hal ini juga didukung oleh responden yang lain.
“...tempat tinggal dinding tembok, lantai ubin biasa. Fasilitas hanya ada tv, wc, dan alat memasak. Tidak ada yang mempunyai penyakit parah. Jarak rumah sakit dekat, cukup membantu, tidak terlalu jauh. Akses pendidikan cukup mudah dan ringan. Transportasi dapat di minimalisir...” (St, 26 tahun)
Akses
Dalam bahasa Longwe (1988), akses diartikan sebagai kemampuan perempuan untuk dapat memperoleh hak/akses terhadap sumberdaya produktif seperti tanah, kredit, pelatihan, fasilitas pemasaran, tenaga kerja, dan semua pelayanan publik yang setara dengan perempuan. Kemampuan perempuan dalam mendapatkan akses dibuktikan dengan data sebagai berikut:
Tabel 8 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat akses perempuan, Desa Cikarawang tahun 2015
Kategori n %
Rendah 9 25.0
Sedang 13 36.1
Tinggi 14 38.9
Jumlah 36 100.0
Tabel 8 menunjukkan bahwa akses perempuan di Desa Cikarawang sudah cukup baik, yakni sebesar 38.9 persen (14 responden) berada dalam kategori tinggi. Akses dilihat dari kemudahan perempuan dalam mendapatkan pelatihan, hak pemanfaatan sumber daya alam, memiliki tenaga kerja, penggunaan alat komunikasi, dan kemudahan dalam mendapatkan informasi. Sebagian besar sudah mendapatkan pelatihan, dalam hal ini pelatihan membuat kue. Kemudian sumber daya alam juga bisa dimanfaatkan oleh perempuan Desa Cikarawang, contohnya jambu kristal, singkong, dan tanaman hortikultura lainnya. Perempuan Desa Cikarawang juga sudah memiliki alat komunikasi sendiri; telepon genggam, televisi. Untuk akses informasi, sebagian besar memanfaatkan televisi sebagai sumber berita. Hal ini seperti diungkapkan oleh salah satu responden sebagai berikut:
“...pernah dapat pelatihan bikin kue, 1 bulan sekali dari mahasiswa IPB. Punya hak pemanfaatan usaha karena punya sendiri, tapi masih sistem pemesanan. Kalau untuk informasi biasa dapat dari koran, televisi, internet, handphone, telepon rumah. Kalau cari sendiri biasanya nyari di internet atau tanya-tanya masyarakat...” (Nm, 42 tahun)
Kesadaran Kritis
Kesadaran kritis adalah pemahaman atas perbedaan peran jenis kelamin dan peran gender dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Kesadaran kritis mencakup pemahaman peran laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, dan keberpihakan terhadap perempuan yang bekerja dan meningkatkan perekonomian keluarga. Berikut ini adalah data responden menurut tingkat kesadaran kritis perempuan:
Tabel 9 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kesadaran kritis perempuan, Desa Cikarawang tahun 2015
Kategori n %
Rendah 0 0.0
Sedang 8 22.2
Tinggi 28 77.8
Jumlah 36 100.0
Tabel 9 menunjukkan bahwa kesadaran kritis di Desa Cikarawang sudah baik, yakni sebesar 77.8 persen (28 responden) berada dalam kategori tinggi. Kesadaran kritis tergolong tinggi karena sebagian besar perempuan sudah memahami pentingnya peran perempuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga (mengakses sumberdaya alam, ikut mengambil keputusan, dll). Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:
“...istri tugasnya mengurus rumah tangga dan anak-anak, suami mencari nafkah. Peran istri penting dalam ekonomi karena istri yang mengatur ekonomi keluarga. Penting juga dalam mencari nafkah agar bisa membantu menambah pendapatan keluarga, setidaknya dapat menjadi pendorong agar suami mau berusaha lebih giat lagi mencari nafkah. Setuju aja kalau perempuan kerja biar mengisi waktu luang di sela kesibukan mengurus rumah tangga dan ada tambahan uang...” (Sy, 40 tahun)
Hal ini juga didukung oleh responden yang lain.
“...lelaki sebagai kepala keluarga. Peran perempuan penting dalam perkembangan ekonomi karena emansipasi wanita dan membantu suami. Kalau istri kerja, kebutuhan sedikit terpenuhi karena dibantu sama istri yang bekerja, meringankan suami...” (Ns, 32 tahun)
Partisipasi
Venhagen (1979) dalam Mardikanto dan Soebiato (2013) menyatakan bahwa partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat. Partisipasi diukur dengan 4 tahap; tahap pengambilan keputusan, tahap pelaksanaan, tahap menikmati hasil, dan tahap evaluasi. Pertama, tahap pengambilan keputusan meliputi keterlibatan dalam struktur Kelompok Wanita Tani (KWT), keterlibatan dalam keputusan untuk mendirikan usaha, dan memberikan kritik dan saran serta solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha. Kedua, tahap pelaksanaan meliputi keikutsertaan dalam melaksanakan suatu program, menyebarkan informasi, mengikuti pelatihan, dan memberikan sumbangan berupa materi dan tenaga. Ketiga, tahap menikmati hasil meliputi pemanfaatan sumber daya. Keempat, tahap evaluasi meliputi keterlibatan
diri dalam evaluasi program kegiatan yang sudah dilaksanakan. Keterlibatan perempuan dalam berpartisipasi dibuktikan dengan data sebagai berikut
Tabel 10 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi perempuan, Desa Cikarawang tahun 2015
Kategori n %
Rendah 2 5.6
Sedang 5 13.9
Tinggi 29 80.6
Jumlah 36 100.0
Tabel 10 menunjukkan bahwa partisipasi perempuan Desa Cikarawang, dari 36 responden terdapat 29 responden (80.6%) yang berpartisipasi tinggi. Sebagian besar responden sudah berpartisipasi dengan baik dalam menjalankan usaha mikro. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:
“...saya terlibat dalam KWT sebagai sekretaris. Saya menjalani usaha karena kebutuhan. Kalau untuk kritik dan saran biasanya terkait dengan modal usaha sama persaingan yang banyak. Kalau program kegiatan yang dijalani, ya sesuai dengan kemampuan aja, lokasi yang strategis. Saya biasa ikut pelatihan untuk menunjang kewirausahaan, pelatihan bikin kue...” (Tm, 40 tahun)
Hal ini juga disampaikan oleh Ibu An yang sudah memiliki jaringan pemasaran usahanya:
“...saya di bendahara KWT. Saya usaha ternak ayam, ada pelatihan cara perakitan kandang ayam, pemisahan ayam biar cepat berkembang biak. Kalau sudah panen, saya jual ke Rumah Makan Galuga. Biasanya ada pertemuan dengan Rumah Makan Galuga...” (An, 46 tahun)
Kemudian bentuk partisipasi juga disampaikan oleh Ibu Ns terkait kebutuhan bagi para pengusaha mikro:
“...kritik dan saran yang dibutuhkan biasanya terkait pengemasan yang bagus dan pemasaran yang baik, dan bagaimana cara mencari jaringan penjualan. Pelatihan yang diikuti itu pelatihan buat kue. Kalau saya libur ada pelatihan dari IPB, saya ikut. Supaya usaha saya dan ibu saya maju. Ibu-ibu harus punya UKM untuk menambah ekonomi keluarga...” (Ns, 30 tahun)
Kontrol
Kontrol merupakan kesetaraan dalam kekuasaan atas faktor produksi, dan distribusi keuntungan sehingga baik perempuan maupun laki-laki berada dalam
posisi yang dominan. Kemampuan perempuan dalam mengontrol usahanya dibuktikan dengan data sebagai berikut
Tabel 11 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kontrol, Desa Cikarawang tahun 2015 Kategori n % Rendah 3 8.3 Sedang 7 19.4 Tinggi 26 72.2 Jumlah 36 100.0
Tabel 11 menunjukkan bahwa kontrol perempuan di Desa Cikarawang sudah baik, yakni sebesar 72.2 persen (26 responden) berada dalam kategori tinggi. Kontrol tergolong tinggi karena sebagian besar usaha yang dijalankan oleh perempuan berasal dari kemauan dan sesuai kemampuan pribadi, sehingga kontrol usaha yang dilakukan dikelola secara pribadi. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:
“...punya kekuasaan wewenang sendiri karena usaha berjalan sendiri, contohnya saat melakukan pemasaran. Memutuskan kebijakan sendiri agar usaha dapat berkembang, contohnya aturan- aturan dalam pembayaran.” (St, 26 tahun)
Tingkat Keberdayaan Perempuan
Tingkat keberdayaan perempuan telah dipaparkan sebelumnya melalui kelima variabel pemberdayaan (kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, dan kontrol). Hasilnya menunjukkan pelaksanaan usaha mikro di Desa Cikarawang sudah efektif. Hal ini dapat ditunjukkan dari persentase setiap variabel pemberdayaan yang berada pada kategori tinggi.
Tabel 12 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat keberdayaan perempuan, Desa Cikarawang tahun 2015
Kategori n %
Rendah 0 0.0
Sedang 5 13.9
Tinggi 31 86.1
Jumlah 36 100.0
Tabel 12 menunjukkan bahwa tingkat keberdayaan perempuan berada pada kategori tinggi yakni 86.1 persen (31 responden). Tingkat keberdayaan ini dilihat dari 5 tingkatan; kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, kontrol. Pada umumnya, perempuan Desa Cikarawang menjalankan usahanya sendiri, dan dengan modalnya sendiri. Setiap usaha tersebut dapat dikontrol langsung dengan mudah. Akan tetapi, masih ada perempuan yang belum mengalami kontrol
sepenuhnya dalam mengembangkan usaha mikro. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:
“...tidak memiliki kuasa atas usaha karena berbagi kegiatan satu sama lain, saling menghargai. Kebijakan-kebijakan juga dilakukan dengan musyawarah...” (Tm, 40 tahun)
Meskipun demikian, pengembangan usaha mikro di Desa Cikarawang termasuk berjalan baik. Hal ini dilihat dari keinginan para perempuan dalam merubah kondisi perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:
“...perempuan penting cari nafkah untuk membantu suami. Soalnya suami hasil petaninya sedikit, makanya dibantu sama usaha...” (Mm, 60 tahun)