BAB II KERANGKA TEORI
2.3 Perilaku Konsumen
2.3.2 Tingkat Keputusan Pembelian Konsumen
Dalam membeli suatu barang atau jasa, seorang konsumen akan melalui suatu proses keputusan pembelian.Ujang Surmawan (2002:292) membedakan tingkat pengambilan keputusan konsumen yang spesifik yaitu:
1. Pemecahan Masalah yang Diperluas
Pada tingkat ini konsumen membutuhkan berbagai informasi untuk menetapkan serangkaian kriteria guna menilai merek-merek tertentu dan banyak informasi yang sesuai mengenai setiap merek yang dipertimbangkan. Pemecahan masalah yang diperluas sama halnya dengan proses keputusan panjang untuk barang-barang seperti rumah, lahan, mobil, kulkas, mesin cuci, dll. Ini adalah tipe pengambilan keputusan yang melalui tahap Stimulus, kebutuhan, mencari info, Evaluasi dan Transaksi.
2. Pemecahan Masalah yang Terbatas
Pada tingkat ini konsumen telah menetapkan kriteria dasar untuk menilai kategori produk dan berbagai merek dalam kategori tersebut.Namun, konsumen belum memilki preferensi tentang merek tertentu. Mereka membutuhkan informasi tambahan untuk melihat perbedaan diantara berbagai merek. Sama dengan proses di atas terapi terjadi secara lebih cepat dan kadang meloncati tahapan. Proses terbatas ini biasanya untuk barang seperti pakaian, hadiah, mobil kedua, atau jasa
3. Pemecahan Masalah Rutin
Pada tingkat ini konsumen sudah mempunyai beberapa pengalaman mengenai kategori produk dan serangkaian kriteria yang ditetapkan denganbaik untuk menilai berbagai merek yang sedang mereka pertimbangkan. Keputusan pembelian yang terjadi secara kebiasaan sehingga proses pembelian sangat singkat saja. Begitu dirasakan ada kebutuhan, langsung dilakukan pembelian, misalnya membeli baterai.
2.3.3 Tahap-Tahap Poses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Gambar 2.2
Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
Sumber: Kotler dan Keller (2009:185) 1. Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembelian menyadari suatu masalah atau kebutuhan dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Dengan rangsangan internal, salah satu diri kebutuhan normal seseorang – rasa lapar, haus, seks – naik ke tingkat maksimum dan menjadi dorongan; atau kebutuhan bisa timbul akibat rangsangan internal. Pemasar harus mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Lalu mereka dapat mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
Terutma untuk pembelian fleksibel seperti barang mewah, paket liburan, dan pilihan hiburan, pemasar mungkin harus meningkatkan motivasi konsumen sehingga pembelian potensial mendapat pertimbangan serius.
Pengenalan
2. Pencarian Informasi
Melalui pengumpulan informasi, konsumen mempelajarin merek pesaing dan fitur mereka. Pemasar harus mengidetifikasi hierarki atribut yang memandu pengambilan keputusan konsumen untuk memahami berbagai kekuatan pesaingan dan bagaimana berbagai kumpulan ini terbentuk.
Hierarki atribut juga dapat mengungkapkan segmen pelanggan.Sebuah perusahan harus menyusun strategi agar mereknya dapat masuk ke dalam kelompok kesadaran, pertimbangan, dan pilihan prospek.
3. Evaluasi Alternatif
Tidak ada proses tunggal yang digunakan oleh semua konsumen, atau oleh seorang konsumen dalam seorang situasi pembelian. Ada beberapa proses, dan sebagian besar model terbaru melihat konsumen membentuk sebagian besar penilaian secara sadar dan rasional. Beberapa konsep dasar yang akan membantu kita memahami proses evaluasi:
a. Pertama, konsumen merasa memuaskan sebuah kebutuhan.
b. Kedua, konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk.
c. Ketiga, konsumen meliat masing–masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai kemampuan menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan ini. Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada artibut yang menhantarkan manfaat yang memenuhi artibut.
4. Keputusan Pembelian
Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk
membeli merek yang paling di sukai. Dalam melaksanakan produk maksud pembelian, konsumen dapat membentuk lima subkeputusan: merek, penyalur, kuantitas, waktu, dan metode pembayaran. Model ekspektansi nilai merupakan model kompensatoris, yatu hal–hal yang di anggap baik untuk sebuah produk dapat membantu menutup hal–hal yang dianggap buruk.Tetapi konsumen sering mengambil “jalan pintas mental” dengan menggunakan aturan (heuristik) pilihan yang sederhana. Heuristic adalah aturan sederhana atau jalan pintas mental dalam proses keputusan. Dengan model nonkompensatoris (monocompensatory model) pilihan konsumen, pertimbangan atribut positif dan negatif tidak selalu sering mengurangi.
Mengevaluasi atribut yang berada dalam isolasi membuat konsumen lebih mudah mengambil keputusan, tetapi juga meningkatan kemungkinan bahwa ia akan mengambil pilihan berbeda jika ia berpikir lebih rinci.
a. Dengan heuristic Konjungtif (conjuctive heuristic), konsumen menetapkan tingkat cut off minimum yang dapat diterima untuk setiap atribut dan memilih alternatif pertama yang memenuhi standar minimum untuk semua atribut.
b. Dengan heuristic leksikografis (lexicographic heuristic), konsumen memilih merek terbaik berdasarkan atribut yang dianggap paling penting.
c. Dengan heuristic eliminasi herdasarkan aspek (elimination – by – aspects heuristic), konsumen membandingkan merek berdasarkan atribut
yang dipilih secara probabilistik – dimana probabilitas pemilihan atribut pemilihan atribut berhubung positif dengan arti pentingnya – dan
menghilangkan merek yang tidak memenuhi batasan minimum yang dapat diterima.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian, konsumen mungkin mengalamin konflik dikarenakan melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal–hal menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Komunikasi pemasaran seharusnya memasok keyakinan atau evaluasi yang memperkuat pilihan konsumen dan membantunya merasa nyaman tentang merek tersebut. Karena itu tugas pemasaran tidak berakhir dengan pembelian. Pemasar harus mengamati kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan penggunaan produk pasca pembelian.
a. Kepuasan Pasca Pembelian
Kepuasan merupakan fungsi kedekatan antara harapan dan kinerja anggapan produk. Semakin besar kesenjangan antara harapan dan kinerja, semakin besar ketidakpuasan yang terjadi
b. Tindakan Pasca Pembelian
Jika konsumen puas, ia mungkin ingin membeli produk itu kembali.
Pelanggan yang puas juga cenderung mengatakan hal–hal baik tentang merek kepada orang lain. Di pihak lain, konsumen yang kecewa mungkin mengabaikan atau mengembalikan produk.
c. Penggunaan dan Penyingkiran Pasca Pembelian
Pemasar juga harus mengamati bagaimana pembeli menggunakan dan menyingkirkan produk. Pendorong kunci frekuensi penjualan adalah
tingkat konsumsi produk – semakin cepat pembeli mengkonsumsi sebuah produk, semakin cepat mereka kembali ke pasar untuk membelinya lagi. Salah satu peluang untuk meningkatkan frekuensi penggunaan produk terjadi ketika persepsi konsumen tentang penggunaan produk mereka berbeda dari kenyataan. Cara termudah untuk meningkatkan penggunaan adalah mempelajari kapan penggunaan aktual kurang dari yang direkomendasikan dan membujuk pelanggan tentang keuntungan penggunaan yang lebih teratur guna menangulangi potensi masalah. Jika konsumen membuang produk, pemasar harus tahu bagaimana mereka membuangnya.
Berdasarkan penjabaran tentang proses tentang pengambilan keputusan pembelian tersebut maka dapat dirumuskan indikator keputusan pembelian konsumen adalah sebagai berikut: pengenalan masalah (pemenuhan kebutuhan), pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, perilaku pasca pembelian.
2.3.4 Peran Dalam Pembelian
Ada 5 (lima) peran yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian menurut Abdullah dan Tantri (2016:124), yaitu:
1. Pencetus ide (initiator), orang yang pertamakali mengusulkan untuk membeli produk atau jasa tertentu.
2. Pemberi pengaruh (influence), orang yang pandangan atau pendapatnya memengaruhi keputusan pembelian.
3. Pengambil keputusan (decider), orang yang memutuskan setiap komponen dalam keputusan pembelian.
4. Pembeli (buyer), orang yang melakukan pembelian aktual.
5. Pemakai, orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang dibeli.
2.4 Kerangka Berpikir
Variabel–variabel yang telah dikelompokkan dalam kajian teori akan dibentuk menjadi salah satu kerangka berpikir sebagai berikut:
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir
Sumber: Diolah Peneliti,2016
Dari skema di atas diperoleh bahwa fokus utama yaitu word of mouth communication (variabel bebas) dan keputusan pembelian (variabel terikat).
Tanda panah lurus menghubungkan antara word of mouth communication dengan keputusan pembelian memiliki arti word of mouth communication memiliki hubungan langsung terhadap terciptanya keputusan pembelian.
2.5 Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu dari penelitian ini adalah:
1. Frans Erwin Simamora (2015), “Pengaruh Word of mouth communication terhadap keputusan pembelian di pasar tradisional pajak usu Medan”. Hasil penelitian ini adalah:
a. Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Word of Mouth Communication terhadap keputusan pembelian dipasar tradisional pajak Variabel Bebas (X)
Word Of Mouth Communication
Variabel Terikat (Y) Keputusan Pembelian
b. Strategi pemasaran Word of mouth communication di pasar tradisional Pajak USU Jammin Ginting Medan dapat dinilai dari kegiatan konsumen yang Membicarakan, Meyakinkan, merekomendasikan dan Memotivasi konsumen lain untuk melakukan keputusan pembelian di pasr tradisional Pajak USU Jamin Ginting Medan.
2. Doanta Samuel Manurung (2016), “Analisis peranan Word of mouth Marketing communication terhadap keputusan pembelian konsumen (studi
pada Grand Kupie Uleekareng dan Gayo Medan)”. Hasil penelitian ini adalah Word of mouth terhadap keputusan pembelian konsumen pada Grand Keude Kupie uleekareng dan Gayo Medan sangat besar dan memiliki pengaruh yanhg positif dan signifikan dengan keputusan konsumen..
3. Fauziah rahmi (2016), “Pengaruh Word of mouth communication terhadap keputusan menggunakan Word of mouthjasa bimbingan belajar narul fikri Jl.
Iskandar muda No. 57 Medan”. Hasil penelitian adalah:
a. Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada 67 orang responden yang merupakan pengguna jasa lembaga bimbingan belajar Nurul Fikri Medan, memperoleh informasi melalui teman.
b. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antar Word of mouth communication dengan terciptanya keputusan penggunaan jasa pada
lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Medan.
4. Irmala Opti (2015), “Pengaruh kualitas layanan, harga, dan Word of mouth terhadap keputusan pembelian paket tour di PT Tritura jaya cabang Medan”.
Hasil penelitian adalah:
a. Variabel kualitas layanan, harga dan Word of mouth secara bersama-sama berpengaruh significant terhadap keputusan pembelian paket tour di Tritura Tour.
b. Variabel Word of mouth tidak berpengaruh terhadap keputusan pemelian.
c. Variabel kualitas layanan dan variabel harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, dan variabel harga memiliki pengaruh paling dominan terhadap keputusan pembelian.
5. Rahmat hidayatullah (2015), “Pengaruh produksi, Faktor sosial, Harga, Iklan, dan Word of mouth terhadap keputusan pembelian Sony Xperia pada mahasiwa Universitas Sumatera Utara”.Hasil penelitian adalah:
a. Variabel produk, faktor sosial, harga, dan iklan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap word of mouth.
b. Variabel yang paling dominan mempengaruhi Word of mouth adalah variabel faktor sosial.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitihan kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Menurut Sugiyono (2012:13), metode penelitihan kuatitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/stastistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan pendekatan asosiatif merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, dalam penelitian ini peneliti bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari variabel word of mouth (X) terhadap keputusan pembelian konsumen (Y).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Medan Napoleon, yang beralamat diJalan Wahid Hasyim No. 46/35 Medan, dan dilaksanakan bulan Februari sampai April 2017.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya
jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu (Sugiyono, 2012:115).
Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Medan Napoleon.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili) (Sugiyono, 2012:166). Dikarenakan ini jumlah
populasi penelitian tidak diketahui secara jelas jumlah nya maka peneliti menggunakan rumus penentuan sempel dari Purba (Sujarweni, 2015:155), yaitu:
n = Z2 4 (𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚)2 Keterangan:
n : Ukuran Sampel
Z : Tingkat distribusi normal pada taraf signifikan 5% = 1,96
moe : Margin of Error Max, yaitu tingkat kesalahan maksimal yang ditolerir sebesar 10%
Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:
n = 1,962 4 (0,1)2
= 96,04 atau 96 responden
Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel 96 responden. Namun, karena ada unsur pembulatan dan untuk memudahkan perhitungan maka peneliti mengambil sebanyak 100 responden.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sempel yang digunakan dalam penelitian menggunakan nonprobality sampling dengan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012:122).
1. Membeli produk kue Medan Napoleon berdasarkan informasi dari aktifitas WOM
2. Berusia diatas 17 tahun 3.4 Hipotesis
Menurut Sugiyono (2012:93), ` merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah peneliti, oleh karena itu rumusan masalah peneliti biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta–fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data jadi hipotesis juga dapat ditandakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah peneliti, belum jawaban yang empiris.
Adapun perumusan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis altenatif menurut Sugiyono (2012:96). Hipotesis alternative adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
Ho : Tidak terdapat pengaruh antara word of mouth communication terhadap keputusan pembelian Medan Napoleon.
Ha : Terdapat pengaruh antara word of mouth communication terhadap
keputusan pembelian Medan Napoleon.
3.5 Defensi konsep
Defenisi konsep merupakan istilah khusus untuk menggambarkan secara tepat fenomena yang diteliti, konsep ini digunakan untuk menggambarkan secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas. Defenisi konsep ini dilakukan agar ada batasan terhadap masalah variabel
yang diteliti dan menyederhanakan pemikiran sehungga tujuan dan arah peneliti jelas dan tidak menyimpang, maka penulis mengemukakan defenisi konsep dari penelitian adalah sebagian berikut:
1. Word of Mouth Communication
Menurut Susanti (2001:156), Word of mouth communication adalah merupakan sarana promosi yang sangat murah bagi pemasar, hal ini berakti word of mouth communication memungkinkan pemasaran untuk tidak
mengeluarkan dana besar untuk melakukan promosi tetapi cukup manfaatkan konsumen yang dimiliki.
2. Keputusan pembelian
Menurut Kotter dan Keller (2009:185), Pengambilan keputusan konsumen adalah konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk membeli merek yang paling di sukai.
3.6 Defenisi Operasional
Menurut Sujarweni (2015:77), defenisi operasional adalah penelitian dimaksudkan untuk memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis instrumen serta sumber pengukuran berasal darimana. Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Word of Mouth Communication (X).
2. Variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi variabel independen dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian (Y)
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
Variabel Defenisi Indikator Teknik
skor dari mulut kemulut dalam memasarkan tentang produk Napoleon
1. Membicarakan
Skala Likert 2. Merekomendasikan
3. Mendorong atau lebih perilaku alternatif danmemilih satu diantaranya.
1. Pengenalan masalah (pemenuhan
kebutuhan)
Skala Likert 2. Pencarian informasi
3. Evaluasi Alternatif 4. Keputusan
Pembelian
5. Perilaku Pasca Pembelian
Sumber: Diolah peneliti, 2016 3.7 Teknik Pengumpulan Data
Adapun jenis dan sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data Primer adalah data yang berasal langsung dari responden (objek penelitian) (Sugiyono, 2012:193). Data responden diperoleh penulis dari kuesioner yang di berikan kepada seluruh responden penelitihan.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui data yang diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan peneliti (Sugiyono, 2012:193). Data sekunder merupakan data mengenai
jurnal,buku-buku, penelitian terdahulu, tulisan-tulisan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti, dan studi dokumentasi.
3.8 Skala Pengukuran Variabel
Skala pengukuran data yang digunakan dalam penelitihan ini adalah skala likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2012:132). Skala yang digunakan untuk mengukur respon subjek ke dalam 5 (lima) poin skala dengan jumlah interval yang sama. Adapun skala pengukuran variabel terhadap jawaban responden yaitu:
Tabel 3.2
Instrumen Skala Likert
No Alternatif Jawaban Skor
1 Sangat Setuju 5
2 Setuju 4
3 Netral 3
4 Tidak Setuju 2
5 Sangat Tidak Setuju 1
Sumber : Sugiyono (2012:133) 3.9 Uji Instrumen Penelitian
Data penelitian yang diperoleh selanjutnya di gunakan untuk menguji instrumen pernyataan pada variabel bebas dan terikat dan tertera pada kuesioner penelitian. Pengujian instrumen penelitian mengunakan uji validitas dan reliabilitas.
3.9.1 Uji Validitas
Validitas atau kesahihan adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur (valid measure if it successfully measure
ukur yang digunakan. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam suatu daftar pertanyaan atau pernyataan dalam mendefenisikan variabel. Langkah selanjutnya adalah secara statistik, angka korelasi yang diperoleh dengan melihat tanda bintang pada hasil skor total, atau membandingkaan dengan angka bebas korelasi nilai r yang menunjukkan valid.
Pada penelitian ini uji validitas akan dilakukan dengan bantuan program SPSS (Statistical Package for Social Sciences). Untuk menentukan nomor-nomor item yang valid dan yang gugur, perlu dilihat dari tabel rcorrected item corelation.
Kriteria penilaian uji validitas adalah :
1. Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner tersebut valid.
2. Apabila r hitung < r tabel, maka dapat dikatakan item kuesioner tidak valid.
3.9.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama pula (Siregar, 2016:173). Untuk mengetahui kuesioner tersebut sudah reliabel akan dilakukanpengujian reliabilitas kuesioner dengan bantuan program SPSS (Statistical Package for Social Sciences). Kriteria penilaian uji reliabilitas adalah:
1. Apabila hasil Cronbach Alpha lebih besar dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut reliabel.
2. Apabila hasil Cronbach Alpha lebih kecil dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut tidak reliabel.
3.10 Uji Asumsi Klasik
Sebelum data penelitian dianalisis secara lebih lanjut, model regresi linier sederhana harus memenuhi syarat asumsi klasik yaitu uji normalitas.
3.10.1 Uji Normalitas
pengujian normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel bebas dan variabel terikat, atau keudanya memiliki distribusi data secara normal atau tidak. Pengujian normalitas pada penelitian ini menggunakan uji p-p plot, uji histrogram, uji kolmogorov smirnov.
3.11 Teknik Analisis Data
3.11.1 Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis kuantitatif dengan metode statistik yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Analisis regresi sederhana adalah suatu analisis yang mengukur pengaruh anatar variabel bebas dan variabel terikat (Siregar,2016:379).
Metode analisis regresi linear sederhana ini dilakukan dengan bantuan program SPSS yang merupakan salah satu paket program komputer yang digunakan dalam mengelola data statistik.
Persamaan regresi linear sederhana yaitu sebagai berikut:
Y = a + bX Dimana :
a = 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝑋𝑋2−𝛴𝛴𝑋𝑋𝛴𝛴𝑋𝑋𝛴𝛴 𝑛𝑛∑𝑋𝑋2–(𝛴𝛴𝑋𝑋2)
b = 𝑛𝑛𝛴𝛴𝑋𝑋𝛴𝛴 −𝛴𝛴𝑋𝑋𝛴𝛴𝛴𝛴 𝑛𝑛𝛴𝛴𝑋𝑋2− (𝛴𝛴𝑋𝑋2)
Keterangan : X = Variabel bebas Y = Variabel Terikat
a = Konstanta (Nilai Y apabila X =0)
b = Konefisien regresi (Nilai peningkatan maupun penurunan) 3.11.2 Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini diuji dengan regeresi linear sederhana. Adapun cara yang digunakan untuk menganalisis yaitu:
1. Uji Signifikan Parsial (Uji - t)
Uji t dalam regresi linier sederhana digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Sujarweni, 2015:54).
Kriteria pengembangan keputusan adalah:
a. Ho diterima Jika t hitung < t tabel pada α = 0.05 b. Ha diterima jika thitung > ttabel pada α = 0.05 2. Koefisien Determinasi (R2)
Analisis R2 (R Square) atau koefisisen determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentase sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Sujarweni, 2015:53). Hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.
Sebaliknya, jika R2 semakin kecil (mendekati nol) maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat (Y) semakin kecil, hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Toko Kue Medan Napoleon 4.1.1 Sejarah Singkat Toko Kue Medan Napoleon
Medan Napoleon adalah kombinasi dari Napoleon cake asal perancis dan bolu gulung khas medan, Medan Napoleon sendiri adalah puff pastry yang berisi aneka rasa, ditambahi selai home made dari chef pastry, dan di balut dengan soft cake. Medan Napoleon merupakan oleh-oleh paten kota medan, yang halal dan
kekinian dari Irwansyah yang menjadi sebuah altermatif oleh-oleh yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Irwansyah menjelaskan asal muasal ide untuk membuka outlet oleh-oleh bernama Medan Napoleon ini. Beliau menjelaskan bahwa dia sangat suka sekali dengan duriaan. Medan Napoleon terletak di Jln.
K.H Wahid Hasyim No. 46/35 kel. Sei Babura, Medan Baru, Sumatera Utara dan didirikan pada tangal 18 september 2016.
4.1.2 Logo Toko Kue Medan Napoleon Gambar 4.1
Logo Toko Kue Medan Napoleon
Sumber: Medannapoleon.com, 2017
4.1.3 Jenis Produk Toko Kue Medan Napoleon Produk Medan Napoleon ada 7 macam rasa kue yaitu:
Tabel 4.1
Daftar Menu Medan Napoleon
No Daftar Menu Daftar Harga
1. Napoleon Extra Cheese Rp. 75.000,- 2. Napoleon Caramel Rp. 55.000,- 3. Napoleon Durian Rp. 65.000,- 4. Napoleon Green Chocolate Rp. 75.000,- 5. Napoleon Cheesse Rp. 65.000,- 6. Napoleon Green Tea Rp. 65.000,- 7. Napoleon Velvet Rp. 75.000,- Sumber: Medan Napoleon, 2017
4.2 Penyajian Data
Setelah dilakukan penelitian dan pengumpulan data di lapangan melalui penyebaran kuesioner maka diperoleh data dari responden mengenai pengaruh word of mouth Communication terhadap keputusan pembelian produk di toko kue
Medan Napoleon pada konsumen Medan Napoleon. Adapun penyajian data terbagi menjadi dua, yaitu pertama berisikan deskripsi data identitas responden dengan tujuan mengetahui spesifikasi yang dimiliki oleh responden. Kemudian yang kedua, berisikan deskripsi data variabel penelitian yang bertujuan untuk menjawab masalah penelitian.
4.2.1 Deskripsi Data Identitas Responden
Kuesioner telah disebarkan kepada 100 orang responden terpilih yang
Kuesioner telah disebarkan kepada 100 orang responden terpilih yang