• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Dalam dokumen RENCANA TENAGA KERJA NASIONAL (Halaman 50-56)

Bab II KONDISI KETENAGAKERJAAN

2.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

2.3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut golongan umur dari tahun 2009-2011 untuk golongan umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun terlihat cenderung menurun. Penurunan tersebut karena berhasilnya sistem pendidikan yang diprogramkan pemerintah yaitu pendidikan 9 tahun wajib belajar bagi anak-anak untuk memasuki dunia pendidikan. Selain itu juga adanya kesadaran masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dan meningkatnya kemampuan untuk membiayai pendidikan anak. Hal tersebut tampaknya memberikan pengaruh cukup berarti terhadap melambatnya laju pertumbuhan angkatan kerja untuk golongan umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pertambahan jumlah angkatan kerja untuk golongan umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun tersebut pada tahun-tahun berikutnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Dengan adanya program wajib belajar tersebut maka pertambahan jumlah angkatan kerja untuk tahun berikutnya diharapkan akan relatif menurun.

Dilihat perkembangan tahun 2009-2011 TPAK menurut golongan umur 25-29 tahun mengalami kenaikan, kondisi tersebut tidak berbeda jauh dengan rentang golongan umur 30-49 tahun. Dari data ini menggambarkan bahwa golongan umur antara 25-49 tahun merupakan kelompok usia produktif untuk melakukan pekerjaan yang mempunyai hubungan kerja atau berstatus formal. Sedangkan untuk golongan umur 15-19 tahun, masih merupakan usia sekolah sehingga diarahkan agar TPAK nya selalu menurun dan mempunyai dampak mengurangi angkatan kerja memasuki

24

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

pasar kerja. Sedangkan untuk golongan umur 50 tahun keatas, kenaikkan TPAK cukup berfluktuasi.

Tabel 2.6

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Tahun 2009-2011 (Persen) Golongan Umur 2009 2010 2011 15-19 35.33 33.69 35.29 20-24 68.55 68.28 68.22 25-29 74.05 75.50 75.72 30-34 75.69 76.68 77.12 35-39 77.80 78.45 79.53 40-44 80.27 80.65 81.76 45-49 80.39 80.60 81.37 50-54 79.02 78.53 78.99 55-59 73.28 73.67 73.85 60+ 47.85 47.95 47.07 Jumlah 67.23 67.72 68.34

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009,2010,2011

2.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan

Kondisi pendidikan angkatan kerja secara umum menggambarkan relatif sangat rendah karena masih didominasi tamatan sekolah dasar. Untuk mengupayakan meningkatkan agar kualitas pendidikan angkatan kerja dapat meningkat maka pemerintah mengeluarkan kebijakan program pendidikan wajib belajar 9 tahun agar penduduk usia kerja 15-19 tahun dapat berkurang untuk memasuki dunia kerja. Mereka diharapkan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apabila dilihat dari program pendidikan wajib belajar tersebut memberikan dampak positif terhadap meningkatnya kualitas mutu pendidikan angkatan kerja secara keseluruhan yaitu terjadinya pergeseran dari pendidikan sekolah dasar yang meningkat pada pendidikan SMTP ke atas, yang diharapkan siap untuk memasuki lapangan kerja. Apabila dilihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja menurut jenis pendidikan yang ditamatkan dari tahun 2009-2011 menunjukkan

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

25

angkanya cukup berfluktuasi, seperti pada tahun 2009 dimana TPAK lulusan pendidikan maksimum SD sebesar 67,64 persen serta pada tahun 2010 mengalami penurunan menjadi sebesar 67,47 persen dan pada tahun 2011 menjadi 68,49 persen terjadi kenaikan dari tahun sebelumnya. Sementara pada TPAK lulusan pendidikan SMTP dalam tahun yang sama menunjukkan peningkatan, dimana terlihat pada tahun 2009 sebesar 57,08 persen dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 58,21 persen serta pada tahun 2010 berikutnya mengalami kenaikkan menjadi 58,42 persen. Sedangkan untuk TPAK tingkat pendidikan SMTA Umum pada tahun 2009 sebesar 67,86 persen, namun pada tahun 2010 mengalami penurunan menjadi sebesar 68,80 persen serta pada tahun 2011 terjadi peningkatan menjadi sebesar 69,99 persen. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja, maka semakin tinggi pula partisipasi terhadap dunia kerja yang dibutuhkan. Sementara apabila dilihat dari TPAK lulusan SMTA Kejuruan,

Diploma dan Universitas pada tahun 2009, 2010 dan 2011 kondisinya menggambarkan bahwa terjadi fluktuasi. Pada tahun 2009 TPAK lulusan Universitas sebesar 88,81 persen dan tahun 2010 mengalami kenaikkan menjadi sebesar 89,39 persen dan tahun 2011 terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 88,68 persen.

Tabel 2.7

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2009-2011 (Persen) Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 SD 67.64 67.47 68.49 SMTP 57.08 58.21 58.42 SMTA Umum 67.86 68.80 69.99 SMTA Kejuruan 77.95 79.07 78.26 Diploma 83.26 84.28 82.59 Universitas 88.81 89.39 88.68 Jumlah 67.23 67.72 68.34

26

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

2.3.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut jenis kelamin pada jenis kelamin perempuan menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan yaitu pada tahun 2009 sebesar 50,99 persen dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan menjadi sebesar 51,76 persen serta pada tahun 2011 naik menjadi sebesar 52,44 persen, sedangkan untuk TPAK jenis kelamin laki-laki pada tahun 2009 sebesar 83,65 persen dan pada tahun 2010 naik menjadi sebesar 83,76 persen dan selanjutnya pada tahun 2011 mengalami kenaikkan menjadi sebesar 84,30 persen.

Bila dilihat perkembangan TPAK jenis kelamin perempuan lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki, hal tersebut dikarenakan laki-laki mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun demikian TPAK perempuan terlihat mengalami kenaikan tiap tahun. Hal tersebut disebabkan oleh keinginan kaum perempuan untuk berperan ganda, yaitu sebagai pekerja rumah tangga dan juga aktif di pasar kerja untuk menambah penghasilan kebutuhan keluarga. Di sisi lain, kesempatan kerja bagi perempuan terbuka sangat besar untuk memenuhi berbagai sektor lapangan usaha. Di samping itu didukung juga oleh adanya jaminan kerja, perlindungan, pelayanan dan hak perempuan yang semakin diperhatikan.

Tabel 2.8

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009-2011 (Persen)

Jenis Kelamin 2009 2010 2011

Laki-Laki 83.65 83.76 84.30

Perempuan 50.99 51.76 52.44

Jumlah 67.23 67.72 68.34

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

27

2.3.4 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Provinsi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut provinsi pada provinsi Riau menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan yaitu pada tahun 2009 sebesar 62,08 persen dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan menjadi sebesar 63,66 persen serta pada tahun 2011 naik menjadi sebesar 66,38 persen. Untuk provinsi yang mempunyai peningkatan TPAK terbesar kedua adalah provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar 4,20 persen selama tahun 2009-2011, yakni dari sebesar 68,07 persen pada tahun 2009 meningkat menjadi sebesar 72,27 persen pada tahun 2011.

Pada Tahun 2009 TPAK terendah terdapat pada provinsi Sulawesi Utara yakni sebesar 62,05 persen, kemudian disusul dengan provinsi Riau yakni sebesar 62,08 persen, sedangkan pada tahun 2010 dan 2011 TPAK terendah terdapat pada provinsi Jawa Barat yakni sebesar 62,38 persen dan 62,27 persen kemudian disusul oleh provinsi NAD yakni sebesar 63,17 persen dan 63,78 persen.

28

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tabel 2.9

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Provinsi Tahun 2009-2011 (Persen) Provinsi 2009 2010 2011 NAD 62.50 63.17 63.78 Sumatera Utara 69.14 69.51 72.09 Sumatera Barat 64.19 66.36 66.19 R I A U 62.08 63.66 66.38 J A M B I 66.65 65.78 67.67 Sumatera Selatan 68.31 70.23 71.15 Bengkulu 70.18 71.86 73.83 Lampung 67.77 67.95 68.00 Bangka Belitung 65.06 66.53 68.43 Kepulauan Riau 64.58 68.85 67.48 DKI Jakarta 66.60 67.83 69.36 Jawa Barat 62.89 62.38 62.27 Jawa Tengah 69.27 70.60 70.77 D.I. Yogyakarta 70.23 69.76 68.77 Jawa Timur 69.25 69.08 69.49 B A N T E N 63.74 65.34 67.79 B A L I 77.82 77.38 76.45

Nusa Tenggara Barat 68.66 66.63 66.12 Nusa Tenggara Timur 72.09 72.77 71.72 Kalimantan Barat 73.45 73.17 73.93 Kalimantan Tengah 71.22 69.86 72.89 Kalimantan Selatan 71.61 71.26 73.31 Kalimantan Timur 64.41 66.41 68.51 Sulawesi Utara 62.05 63.31 65.32 Sulawesi Tengah 69.27 69.22 73.11 Sulawesi Selatan 62.48 64.14 64.32 Sulawesi Tenggara 70.39 71.86 71.42 GORONTALO 63.77 64.42 64.12 Sulawesi Barat 68.07 71.46 72.27 Maluku 65.44 66.48 69.47 Maluku Utara 64.19 65.11 67.45 Papua Barat 68.52 69.29 70.78 Papua 77.75 80.99 78.45 Jumlah 67.23 67.72 68.34

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

29

Dalam dokumen RENCANA TENAGA KERJA NASIONAL (Halaman 50-56)